Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyuluhan Gizi


2.1.1 Definisi Penyuluhan Gizi
Penyuluhan gizi merupakan proses belajar untuk
mengembangkan pengertian dan sikap yang positif terhadap gizi
agar yang bersangkutan dapat memiliki dan membentuk kebiasaan
makan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Penyuluhan gizi
secara singkat merupakan proses membantu orang lain membentuk
dan memiliki kebiasaan makan yang baik. Pendekatan penyuluhan
gizi umumnya merupakan pendekatan kelompok. ( Dep Kes RI
1991 ).
2.1.2 Tujuan Penyuluhan Gizi
1. Penyuluhan gizi secara umum tujuannya adalahsuatu usaha
untuk meningkatkan status gizi masyarakat dengan cara
mengubah perilaku masyarakat ke arah yang baik sesuai
dengan prinsip ilmu gizi.
2. Penyuluhan gizi secara khusus yaitu meningkatkan kesadaran
gizi masyarakat melalui peningkatan pengetahuan gizi dan
makanan yang menyehatkan.
3. Menyebarkan konsep baru tentang informasi gizi kepada
masyarakat.
4. Membantu individu, keluarga, dan masyarakat secara
keseluruhan berperilaku positif sehubungan dengan pangan dan
gizi.
5. Mengubah perilaku konsumsi makanan yang sesuai dengan
tingkat kebutuhan gizi, sehingga pada akhirnya tercapai status
gizi yang baik (Supariasa, 2012).
Psikolog memandang perilaku manusia (human behavior)
sebagai reaksi yang dapat bersifat sederhana maupun bersifat
kompleks.Salah satu karakteristik reaksi perilaku manusia yang
menarik adalah sifat diferensialnya. Maksudnya satu stimulus
dapat menimbulkan lebih dari satu respons yang berbeda dan
beberapa stimulus yang berbeda ddapat saja menimbulkan satu
respons yang sama. Sikap terhadap suatu perilaku dipengaruhi oleh
keyakinan bahwa perilaku tersebut akan membawa kepada hasil
yang diinginkan atau tidak diinginkan. Keyakinan mengenai
perilaku apa yang bersifat normatif (yang diharapkan oleh orang
lain) dan motivasi untuk bertindak sesuai dengan harapan normatif
tersebut membentuk norma subjektif dalam diri individu
(Notoatmodjo, 2000).
Edukasi Diabetes Melitus pada dasarnya adalah perawatan
mandiri sehingga seakan-akan pasien menjadi dokternya sendiri
dan juga mengetahui kapan pasien harus pergi ke dokter atau ahli
gizi untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut. Edukasi yang
cukup akan menghasilkan kontrol diabetes yang baik dan
mencegah perawatan di rumah sakit. Sebaiknya juga melakukan
analisa mengenai pengetahuan pasien mengenai diabetes, sikap dan
keterampilannya. Demikian juga dengan mengetahui latar belakang
sosial, kebiasaan makan dan pendidikannya, edukasi akan lebih
terarah dan akan lebih mudah berhasil. (Haznam, 1996).
2.2 Perilaku Konsumsi Pangan
Perilaku merupakan diterminan kesehatan yang menjadi sasaran dari
promosi atau pendidikan kesehatan.Promosi atau pendidikan kesehatan
bertujuan untuk mengubah perilaku (behavior change).Perubahan perilaku
kesehatan sebagai tujuan dari promosi atau pendidikan kesehatan. Dimensi
promosi atau pendidikan kesehatan antara lain :
a. Mengubah perilaku negatif (tidak sehat) menjadi perilaku positif
(sesuai dengan nilai-nilai kesehatan).
b. Mengembangkan perilaku positif (pembentukan atau pengembangan
perilaku sehat).
c. Memelihara perilaku yang sudah positif atau perilaku yang sudah
sesuai dengan norma/nilai kesehatan (perilaku sehat). Dengan
perkataan lain mempertahankan perilaku sehat yang sudah ada
(Notoadmodjo, Wuryaningsih, 2000).
2.2.1 Teori teori Perubahan Perilaku
1) Teori Stimulus Organisme ( SOR ). Teori ini didasarkan pada
asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku
tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang
berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber
komunikasi. Misalnya kredibilitas kepemimpinan, dan gaya
berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku
seseorang, kelompok atau masyarakat.
2) Teori Fungsi (Katz, 1960). Teori ini berdasarkan anggapan
bahwa perubahan perilaku individu tergantung pada kebutuhan.
Menurut Katz perilaku dilatarbelakangi oleh kebutuhan
individu yang bersangkutan bahwa :
a. Perilaku memiliki fungsi instrumental artinya dapat
berfungsi dan memberikan pelayanan terhadap kebutuhan.
b. Perilaku berfungsi sebagai defence mechanism atau
sebagai pertahanan diri dalam menghadapi lingkungannya.
Artinya dengan perilakunya, tindakan-tindakannya
manusia dapat melindungi ancaman-ancaman yang datang
dari luar.
c. Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan pemberi
arti. Dalam perannya dengan tindakan itu seseorang
senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
d. Perilaku berfungsi sebagai nilai e
e. kspresif dari diri seseorang dalam menjawab suatu situasi.
Nilai ekspresif ini berasal dari konsep diri seseorang dan
merupakan pencerminan dari hati sanubari (Notoatmodjo,
Wuryaningsih, 2000).
2.2.2 Bentuk Perubahan Perilaku
1) Perubahan alamiah (Natural Change). Perilaku manusia selalu
berubah. Sebagian perubahan itu disebabkan karena kejadian
alamiah.
2) Perubahan terencana (Readinnes to Change). Apabila terjadi
suatu inovasi atau program pembangunan di dalam masyarakat,
maka yang sering terjadi adalah sebagian orang sangat cepat
untuk menerima inovasi atau perubahan tersebut ( berubah
perilakunya ) dan sebagian orang lagi sangat lambat untuk
menerima inovasi atau perubahan tersebut. Hal ini disebabkan
setiap orang mempuyai kesediaan untuk berubah (readiness to
change) yang berbeda-beda. (Notoatmodjo, Wuryaningsih,
2000).
2.2.3 Strategi Perubahan Perilaku
1) Menggunakan kekuatan (Enforcement). Perubahan perilaku
dipaksakan kepada sasaran atau masyarakat sehingga ia mau
melakukan (berperilaku) seperti yang diharapkan.
2) Menggunakan kekuatan peraturan atau hukum (Regulation).
Masyarakat diharapkan berperliaku, diatur melalui peraturan
atau undang-undang secara tertulis.
3) Pendidikan (Education). Perubahan perilaku kesehatan melaui
cara pendidikan atau promosi kesehatan diawali dengan cara
pemberian informasi-informasi kesehatan.
Intervensi terhadap faktor perilaku (Blum: 1974) secara garis
besar dilakukan melalui dua upaya yang saling bertentangan, dan
masing-masing upaya tersebut ada kelebihan dan kekurangannya.
Kedua upaya tersebut dilakukan melalui:
a. Tekanan (enforcement) adalah upaya agar masyarakat merubah
perilaku atau mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara-cara
tekanan, paksaan. Upaya enforcement dalam bentuk undang-
undang atau peraturan-peraturan, instruksi-instruksi, tekanan
fisik atau non fisik, sanksi-sanksi, dan sebagainya. Pendekatan
atau cara ini dampaknya terhadap perubahan perilaku lebih
cepat. Tetapi pada umumnya perubahan atau perilaku baru ini
tidak langgeng karena perubahan perilaku yang dihasilkan
dengan cara ini tidak didasari oleh pengertian dan kesadaran
yang tinggi terhadap tujuan atau untuk apa perilaku tersebut
dilaksanakan.
b. Edukasi adalah upaya agar masyarakat berperilaku atau
mengadopsi perilaku kesehatan dengan cara persuasi, bujukan,
himbauan, ajakan, memberikan informasi, memberikan
kesadaran, dan sebagainya melalui kegiatan yang disebut
pendidikan atau penyuluhan kesehatan. Perubahan perilaku
masyarakat akan berlangsung lama. Namun demikian bila
perilaku tersebut berhasil diadopsi masyarakat maka akan
langgeng bahkan selama hidup dilakukan. (Notoatmodjo,
Wuryaningsih, 2000).
2.2.4 Faktor Perilaku (Lawrence Green, 1980)
1) Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors) mencakup
pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi
dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan
dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat
pendidikan, tingkat sosial ekonomi, dan sebagainya. Faktor-
faktor ini terutama yang positif mempermudah terwujudnya
perilaku, maka sering disebut faktor pemudah.
2) Faktor-faktor pemungkin (enabling factors) mencakup
katersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi
masyarakat. Fasilitas kesehatan mendukung terwujudnya
perilaku kesehatan, maka faktor-faktor ini disebut faktor
pendukung.
3) Faktor-faktor penguat (reinforcing factors) meliputi sikap dan
perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, para petugas
kesehatan. Termasuk juga undang-undang, peraturan-peraturan,
baik dari pusat maupun dari pemerintah daerah yang terkait
dengan kesehatan (Notoatmodjo, Wuryaningsih, 2000 )
2.2.5 Batasan Pendidikan Kesehatan
Dari batasan ini tersirat unsur-unsur pendidikan yakni:
1. Input adalah sasaran pendidikan (individu, kelompok,
masyarakat) dan pendidik (pelaku pendidikan).
2. Proses adalah upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi
orang lain.
3. Output adalah melakukan apa yang diharapkan atau perilaku.
Output yang diharapkan dari suatu pendidikan kesehatan disini
adalah perilaku kesehatan, atau perilaku untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan atau dapat dikaitkan perilaku yang
kondusif. Perubahan perilaku yang belum atau tidak kondusif
ke perilaku yang kondusif ini mengandung berbagai dimensi :
a. Perubahan perilaku adalah merubah perilaku-perilaku
masyarakat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesehatan
menjadi perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan,
atau dari perilaku negatif ke perilaku yang positif.
b. Pembinaan perilaku disini ditujukan utamanya kepada
perilaku masyarakat yang sudah sehat agar dipertahankan.
c. Pengembangan perilaku sehat ini ditujukan kepada
membiasakan hidup sehat bagi anak-anak. Perilaku sehat
bagi anak seyogyanya dimulai sedini mungkin, karena
kebiasaan perawatan terhadap anak termasuk kesehatan
yang diberikan oleh orang tua akan langsung berpengaruh
kepada perilaku sehat anak selanjutnya.
(Notoatmodjo,Wuryaningsih, 2000).
2.3 Diabetes Melitus
2.3.1 Definisi Diabetes Melitus
Diabetes Melitus ( DM ) merupakan suatu kelompok
penyakit metabolik dengan karakteristik Hiperglikemia yang
terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedu-
duanya. Epidemiologik diabetes melitus seringkali tidak terdeteksi
dan dikatakan onset atau mulai terjadinya diabetes mellitus adalah
7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan
mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi ini
( Puranamasari, 2009 ).
Diabetes Melitus sangat erat kaitannya dengan mekanisme
pengaturan gula normal. Pada kondisi normal, kadar gula tubuh
akan selalu terkendali, berkisar 70-110 mg/dl, oleh pengaruh kerja
hormon insulin yang diproduksi oleh kelenjar pankreas. Setiap
sehabis makan, terjadi penyerapan makanan seperti tepung-
tepungan (karbohidrat) di usus dan kadar gula darah akan
meningkat. Peningkatan kadar gula darah ini akan memicu
produksi hormon insulin oleh kelenjar pankreas. Berkat pengaruh
hormon insulin ini, gula dalam darah sebagian besar akan masuk
kedalam berbagai macam sel tubuh (terbanyak sel otot) dan akan
digunakan sebagai bahan energi dalam sel tersebut. Sel otot
kemudian menggunakan gula untuk beberapa keperluan yakni
sebagai energi, sebagian disimpan sebagai glikogen dan jika masih
ada sisa, sisa sebagian tersebut diubah menjadi lemak dan protein
(Tjokoprawiro,2001).
2.3.2 Patofisiologi Diabetes Melitus
Pankreas disebut kelenjar ludah perut, adalah kelenjar
penghasil insulin terletak di belakang lambung. Pankreas terdapat
kumpulan sel yang berbentuk seperti pulau pada peta, karena itu
disebut pulau-pulau Langerhans yang berisi sel beta yang
mengeluarkan 3 hormon insulin yang sangat berperan dalam
mengatur kadar glukosa darah. Insulin dikeluarkan oleh sel beta
tadi dapat diibaratkan sebagai anak kunci yang dapat membuka
pintu masuknya glukosa ke dalam sel, kemudian di dalam sel
glukosa tersebut dimetabolisasikan menjadi tenaga. Bila insulin
tidak ada, maka glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam
sel, akibatnya kadar glukosa dalam darah meningkat. Keadaan
inilah yang terjadi pada Diabetes Melitus tipe I(Tjokoprawiro,
2001).
2.3.3 Penyebab Diabetes Melitus
Penyebab diabetes adalah pankreas yang tidak dapat
menghasilkan insulin sesuai dengan kebutuhan tubuh (Charles dan
Anne, 2010). Insulin berperan utama dalam mengatur kadar
glukosa dalam darah, yaitu 60-120 mg/dl waktu puasa dan dibawah
140 mg/dl pada dua jam sesudah makan (orang normal)
(Tjokroprawiro, 2006).
Insulin berfungsi untuk mengatur kadar gula (sumber energi
dalam tubuh) dalam darah guna menjamin kecukupan gula yang
disediakan setiap saat bagi seluruh jaringan dan organ, sehingga
proses proses kehidupan utama bisa berkesinambungan.
Insulin memiliki aktivitas jangka pendek (metabolisme) dan juga
jangka panjang di dalam tubuh, di mana keduanya mempengaruhi
proses lain yang penting bagi kesehatan (Bogdan McWright,
2008).
Faktor-faktor yang bisa dianggap sebagai kemungkinan
penyebab diabetes mellitus antara lain :
1. Kelainan sel beta penkreas, berkisar dari hilangnya sel beta
sampai kegagalan sel beta melepas insulin.
2. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta antara
lain agen yang dapat menimbulkan infeksi, diet di mana
pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara
berlebihan, obesitas, dan kehamilan.
3. Gangguan sistem imunitas. Sistem ini dapat dilakukan oleh
autoimunitas yang disertai pembentukan sel-sel antibody
antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel-sel yang
melakukan sekresi insulin, kemudian peningkatan kepekaansel
beta oleh virus.
4. Kelainan insulin. Pada pasien obesitas, terjadi gangguan
kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor
insulin yang terdapat pada membrane sel yang merespons
insulin. Patologis dari diabetes mellitus sebagai salah satu efek
utama akibat kurangnya insulin, adalah berkurangnya
pemakaian glukosa oleh sel-sel tubuh yang mengakibatkan
naiknya konsentrasi glukosa darah. Peningkatan mobilisasi
lemak dari daerah penyimpanan lemak yang abnormal disertai
endapan kolesterol pada dinding pembuluh darah.
Berkurangnya protein dalam jaringan tubuh.
5. Usia yang bertambah, kemungkinan terkena diabetes semakin
besar terutama ditemukan pada orang yang berusia di atas 40
tahun.
6. Olah raga yang kurang dan kebiasaan makan banyak kalori.
Kebiasaan hidup santai, banyak mengonsumsi makanan
berkalori tinggi, akan menimbulkan obesitas serta memicu
timbulnya diabetes melitus.
7. Riwayat diabetes mellitus dalam keluarga, bila ada kakek,
nenek, ibu, ayah atau sanak saudara yang mengidap diabetes
mellitus risiko terkena diabetes mellitus semakin bertambah
besar.
8. Riwayat diabetes gestasional terdahulu, misalnya melahirkan
anak dengan berat badan lebih dari 4 kg. (Nabyl, 2012).
2.3.4 Gejala dan Pencegahan Diabetes Melitus
1. Gejala Akut Diabetes Melitus
Tiga gejala permulaan yang ditujukan adalah poliuria
(peningkatan pengeluaran urine), polifagia (peningkatan rasa
lapar), polidipsia (peningkatan rasa haus) akibat volume urin
yang sangat besar dan keluarnya air menyebabkan dehidrasi
ekstrasel. Dehidrasi intrasel mengikuti dehidrasi ekstrasel
karena air intrasel akan berdifusi keluar sel mengikuti
penurunan gradien konsentrasi ke plasma yang hipertonik
(sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran
ADH (Anti Diuretik Hormone) dan menimbulkan rasa haus
(Riyadi, 2007).
2. Gejala Kronik Diabetes Melitus
Peningkatan angka infeksi akibat penurunan protein
sebagai bahan pembentukan antibodi, peningkatan konsentrasi
glukosa disekresi mukus, gangguan fungsi imun, dan
penurunan aliran darah pada penderita diabetes kronik (Riyadi,
2007).
Penderita penyakit Diabetes Melitus tidak menunjukkan
gejala akut (mendadak), tetapi penderita tersebut baru
menunjukkan gejala sudah bebarapa bulan atau beberapa tahun
mengidap penyakit diabetes melitus. Gejala kronik yang sering
timbul adalah kesemutan, kulit terasa panas atau seperti
tertusuk-tusuk jarum, rasa tebal di kulit, sehingga kalau
berjalan seperti di atas bantal atau kasur, kram, capai, mudah
mengantuk, mata kabur, gatal disekitar kemaluan terutama
wanita, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan
seksual menurun bahkan impoten (Tjokroprawiro, 2006).
3. Pencegahan Diabetes Melitus
Menurut WHO 1994, upaya pencegahan diabetess
mellitus ada tiga jenis atau tahap yaitu :
a. Pencegahan primer
Semua aktivitas yang ditujukan untuk timbulnya
hiperglikemia pada individu yang beresiko untuk jadi
diabetes mellitus atau pada populasi umum (Atun, 2009).
b. Pencegahan sekunder
Menentukan pengidap diabetes mellitus sedini mungkin,
misalnya dengan tes penyaringan terutama pada populasi
resiko tinggi, dengan demikian pasien diabetes mellitus
yang sebelumnya tidak tediagnosis dapat terjaring, hingga
dengan demikian dapat dilakukan upaya untuk mencegah
komplikasi atau kalaupun sudah ada komplikasi masih
refersibel (Atun, 2009).
c. Pencegahan tersier
Semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan
akibat komplikasi itu. Usaha ini meliputi mencegah
timbulnya komplikasi, mencegah progresi daripada
komplikasi itu supaya tidak menjadi kegagalan organ,
mencegah kecacatan tubuh (Atun, 2009).
2.3.5 Diagnosis Diabetes Mellitus
Keluhan dan gejala yang khas ditambah hasil pemeriksaan
glukosa darah sewaktu >200 mg/dl, glukosa darah puasa >126
mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Untuk
diagnosis DM dan gangguan toleransi glukosa lainnya diperiksa
glukosa darah 2 jam setelah beban glukosa. Sekurang-kurangnya
diperlukan kadar glukosa darah 2 kali abnormal untuk konfirmasi
diagnosis DM pada hari yang lain atau Tes Toleransi Glukosa Oral
(TTGO) yang abnormal. Konfirmasi tidak diperlukan pada keadaan
khas hiperglikemia dengan dekompensasi metabolik akut, seperti
ketoasidosis, berat badan yang menurun cepat, dll.Ada perbedaan
antara uji diagnostik DM dan pemeriksaan penyaring. Uji
diagnostik dilakukan untuk menunjukan gejala DM, sedangkan
pemeriksaan penyaring bertujuan untuk mengidentifikasiyang tidak
bergejala, tapi punya resiko DM (usia>45 tahun, berat badan lebih,
hipertensi, riwayat keluarga DM, riwayat abortus berulang,
melahirkan bayi >4000 gr, kolesterol HDL <= 35 mg/dl, atau
trigliserida >= 250 mg/dl) (Budiyanto, 2009).
Glukosa Darah
1) Pengertian
Glukosa merupakan bentuk paling sederhana dari
molekul gula, yang merupakan produk akhir dari pencernaan
karbohidrat dan bentuk dimana karbohidrat diserap dari usus
kedalam aliran darah. Terkadang orang menyebutnya gula
anggur ataupun dekstrosa. Banyak dijumpai dialam, terutama
pada buah-buahan, sayur-sayuran, madu, sirup, jagung dan
tetes tebu. Di dalam tubuh glukosa didapat dari hasil akhir
pencernaan amilum, sukrosa, maltosa dan laktosa (Erliensty,
2009).
2) Mekanisme Pengaturan Gula Darah
Tingkat gula darah diatur melalui umpan balik negatif untuk
mempertahankana keseimbangan didalam tubuh. Level glukosa
didalam darah dimonitor oleh pankreas. Bila konsentrasi
glukosa menurun, karena dikonsumsi untuk memenuhi
kebutuhan energi tubuh, pankreas melepaskan glukagon,
hormon yang menargetkan sel-sel di lever (hati). Kemudian
sel-sel ini mengubah glikogen menjadi glukosa (proses ini
disebut glikogenolisis). Glukosa dilepaskan kedalam aliran
darah, hingga meningktakan level gula darah (HermX, 2009).
Apabila level gula darah meningkat, entah karena perubahan
glikogen atau karena pencernaan makanan, hormon yang lain
dilepaskan dari butir-butir sel yang terdapat didalam pankreas.
Hormon ini yang disebut insulin, menyebabkan hhati
mengubah lebih banyak glukosa menjadi glikogen (proses ini
disebut glikogenosis) yang mengurangi level gula (HermX,
2009).
2.3.6 Diit Diabetes Melitus
2.3.6.1 Prinsip Diit Diabetes Melitus
Prinsip diit Diabetes Melitus adalah mengurangi dan
mengatur koonsumsi karbohidrat sehingga tidak menjadi
beban bagi mekanisme pengaturan kadar gula darah dengan
anjuran mengonsumsi karbohidrat komplek dan makanan
yang mengandung serat (Almatsier, 2008).
2.3.6.2 Tujuan Diit
1) Mempertahankan kadar glukosa darah supaya
mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan
makanan dengan insulin dengan obat penurun glukosa
oral dan aktivitas fisik.
2) Mencapai dan mempertahankan kadar lipida serum
normal.
3) Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau
mencapai berat badan normal.
4) Menghindari atau menanganni komplikasi akut pasien
Diabetes Melitus yang menggunakan insulin seperti
hipoglikemia, komplikasi jangka pendek, dan jangka
lama serta masalah yang berhubungan dengan latihan
jasmani.
5) Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan
melalui gizi yang optimal (Almatsier, 2008).
2.3.6.3 Syarat Diit
1) Energi cukup untuk mencapai dan mempertahankan
berat badan normal. Makanan dibagi dalam 3 porsi
besar, yaitu makan pagi (20%), siang (30%), dan sore
(25%), serta 2-3 porsi kecil untuk makanan selingan
(masing-masing 10-15%).
2) Kebutuhan protein normal, yaitu 10-15% dari
kebutuhan energi total.
3) Kebutuhan lemak sedang, yaitu 20-25% dari kebutuhan
energi total, dalam bentuk <10% dari kebutuhan energi
total berasal dari lemak jenuh, 10% dari lemak tidak
jenuh ganda, sedangkan sisanya dari lemak tidak jenuh
tunggal. Asupan makanan kolesterol dibatasi, yaitu
300 mg per hari.
4) Kebutuhan karbohidrat adalah sisa dari kebutuhan
energi total, yaitu 60-70%.
5) Pengguanaan gula murni dalam minuman dan makanan
tidak diperbolehkan kecuali jumlahnya sedikit sebagai
bumbu. Bila kadar glukosa darah sudah terkendali,
diperbolehkan mengonsumsi gula murni sampai 5%
dari kebutuhan energi total.
6) Pengguanan gula alternatif dalam jumlah terbatas.
7) Asupan serat dianjurkan 25 gr per hari dengan
mengutamakan serat larut air yang terdapat didalam
sayur dan buah.
8) Cukup vitamin dan mineral (Almatsier, 2008)
2.4 Kerangka Teori

Faktor predisposisi
- Pengetahuan dan sikap masyarakat
- Tradisi dan kepercayaan
- Sistem nilai yang dianut masyarakat
- Tingkat pendidikan / penyuluhan
- Tingkat sosial ekonomi

Faktor Pemungkin Perubahan perilaku


- Ketersediaan sarana dan prasarana konsumsi pangan
- Fasilitas kesehatan

Faktor Penguat
- Sikap dan perilaku Toma, Toga,
Petugas

Gambar 2.1 Faktor yang mempengaruhi pola konsumsi pangan


Sumber : Pendidikan Promosi dan Perilaku Kesehatan dari Prof. Dr.
Soekidjo Notoatmodjo (2000)
2.5 Kerangka Konsep

Penyuluhan gizi Perubahan perilaku


konsumsi pangan

Gambar 2.2 Kerangka Konsep


2.6 Hipotesis
1. Ada perbedaan jenis makanan yang dikonsumsi sebelum dan sesudah
penyuluhan
2. Ada perbedaan asupan karbohidrat yang dikonsumsi sebelum dan
sesudah penyuluhan
3. Ada perbedaan asupan protein yang dikonsumsi sebelum dan sesudah
penyuluhan