Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH NANOTEKNOLOGI

LIPOSOM

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 5

FADILAH AYU LESTARI O1A1 14 013


NUR AFNI R. O1A1 14 032
REZKY NAHDIATY O1A1 14 039
WA ODE MAULIDYANTI O1A1 14 063
SITI SUHARTIN O1A1 14 168
SUCI RIZKI DUMARSIH O1A1 14 082
DESI ASRYANI O1A1 14 092
AYU RIA ANDRIYANI O1A1 14 109
NENI RAHMADANI O1A1 14 161
WA ODE FITRIANI F1F1 13 033
ELSA TEZKYANTI F1F1 13 148

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita hadiratkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas

berkat dan rahmat-Nya, makalah untuk tugas Nanoteknologi ini dapat

terselesaikan. Di dalam makalah ini dibahas mengenai liposom.

Ucapan terima kasih diberikan kepada pihak yang telah membantu dari

awal pembuatan makalah ini hingga selesai pembuatannya.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih mempunyai kekurangan.

Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Penyusun berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Kendari, 08 oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL. ............................................. i


KATA PENGANTAR. .. ii
DAFTAR ISI ................................. iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........1
B. Rumusan Masalah.......1
C. Tujuan ............1
D. Manfaat ......1

BAB II PEMBAHASAN
A. Sejarah Liposom .5
B. Indentifikasi 5
C. Macam-macam liposom .9
D. Mekanisme liposom...12
E. Keuntungan Liposom Sebagai Drug Delivery ......16
F. Preparasi liposom ..18

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan.......20
B. Saran.............20

REVIEW JURNAL......21

DAFTAR PUSTAKA...22
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini penelitian mengenai obat-obatan terus dilakukan sehingga


diperoleh obat dengan efikasi yang maksimal. Beberapa obat memiliki
indeks terapi yang sempit dan penggunaannya dibatasi karena memiliki efek
samping. Oleh karena itu, formulasi obat terus dikembangkan untuk
mendapatkan efektivitas terapi yang diharapkan. Beberapa teknik sedang
dikembangkan agar obat dapat mencapai target di tempat yang spesifik tanpa
mempengaruhi jaringan lain sehingga dapat mencegah efek toksik (Biju et
al, 2006).
Banyak senyawa aktif memiliki bioavaibilitas dan kelarutan dalam
air yang rendah sehingga diperlukan suatu sistem pembawa yang cocok
untuk obat hidrofobik. Obat-obat yang kelarutannya kecil dalam air
merupakan suatu permasalahan dalam industri farmasi karena pada
umumnya obat diabsorbsi dari saluran cerna dengan mekanisme difusi pasif
sehingga kecepatan absorbsi obatakan menentukan bioavaibilitas. Salah satu
pendekatan untuk masalah ini adalah menggunakan vesikel yang sudah
populer seperti liposom sebagai penghantar obat. Dan pendekatan lain yaitu
dengan menggunakan metode niosom, transfersom, ethosom, virosom dan
farmakosom.
B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :


1. Jelaskan bagimana sejarah liposom?
2. Bagaimana identifikasi dari liposom?
3. Jelaskan macam-macam liposom?
4. Jelaskan bagaimana mekanisme liposom?
5. Jelaskan keuntungan Liposom Sebagai Drug Delivery?
6. Jelaskan bagaimana cara preparasi liposom?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Liposom

Kata liposom berasal dari bahasa Yunani lipo yang berarti lemak, dan
soma yang berarti kantong. Liposom dapat didefinisikan sebagai kantong
dalam skala mikron yang terdispersi di lingkungan air. Dinding kantong
berupa membran berlapis ganda atau bilayer yang bersifat ampifilik. Sifat
bilayer menjamin pembentukan kompartemen internal aqueous yang dapat
dibedakan dari medium di luarnya.
Liposom pertama kali dijelaskan oleh Dr hematologi Inggris Alec D
Bangham FRS tahun 1961 (diterbitkan 1964), di Institut Babraham, di
Cambridge. Mereka ditemukan saat Bangham dan RW Horne sedang menguji
mikroskop elektron baru lembaga itu dengan menambahkan negatif noda
untuk fosfolipid kering. Kemiripannya dengan plasmalemma itu jelas, dan
gambar-gambar mikroskop menjabat sebagai bukti nyata pertama untuk
membran sel menjadi struktur lipid bilayer.

B. Identifikasi

Etiologi nama liposom berasal dari bahasa Yunani yaitu LIPO yang
berarti lipid/lemak dan SOMA yang berarti tubuh. Dengan demikian, posisi
lipid berada pada bagian badan dari liposom. Liposom merupakan partikel
berbentuk vesikel sferis yang dindingnya tersusun atas molekul lipid
(konstituen utamanya fosfolipid) lapis ganda yang membungkus
kompartemen cairan didalamnya.
Hydrophilic

Hydrophobic

Liposom atau gelembung lemak adalah suatu vesikel berair yang dikelilingi
oleh membran lipid lapis ganda uni lamelar atau multilamelar, dan terbentuk
secara spontan ketika fosfolipid (sumber alam/sintetik) dihidrasi dengan
sejumlah air. Struktur liposom identik dengan membran sel. Selain itu
pengertian dari Liposom adalah gelembung kecil (vesikel), terbuat dari bahan
yang sama sebagai membran sel. Liposom dapat diisi dengan obat-obatan, dan
digunakan untuk memberikan obat untuk kanker dan penyakit lainnya
Komponen utama Liposom adalah : Fosfolipid dan Kolesterol.
Fosfolipid merupakan komponen struktural terbesar penyusun membran
biologis seperti membran sel. Fosfolipid yang paling sering digunakan dalam
pembuatan liposom adalah fosfatidilkolin. Fosfatidilkolin merupakan molekul
amfifatik yang terdiri atas :
a hidrophilic polar head group, fosfokolin
a glycerol bridge
a pair of hidrophobic acyl hidrocarbon chain
Komponen yang paling sering digunakan dalam pembuatan liposom yaitu :

Lipid bermuatan negatif, fosfolipid asam : dipalmitoil-fosfatifilgliserol


(DPPG) dan dipalmitoil-fosfatidilkolin (DPPC),
Lipid bermuatan netral : sfingomielin dan fosfatidiletanolamin
Umum (paling sering) : fosfatidilkolin
Tambahan lain : kolesterol untuk meningkatkan stabilitas,
menurunkan porositas atau kebocoran melalui membran, dan mencegah
agregasi dan fusi liposom.
Di alam, fosfolipid ditemukan di membran yang stabil terdiri dari dua
lapis (lapis a). Dalam keberadaan air, kepala tertarik untuk air dan berbaris
untuk membentuk permukaan yang menghadap air. Ekor yang ditolak oleh air,
dan berbaris untuk membentuk permukaan yang jauh dari air. Dalam sel, satu
lapisan kepala wajah luar sel, tertarik ke air di lingkungan. Lapisan lain kepala
wajah di dalam sel, tertarik oleh air di dalam sel. Ekor hidrokarbon dari satu
wajah lapisan ekor hidrokarbon dari lapisan lain, dan struktur gabungan
bentuk sebuah bilayer.
Ketika fosfolipid membran terganggu, mereka bisa berkumpul kembali diri
menjadi bola kecil, lebih kecil dari sel normal, baik sebagai bilayers atau monolayers.
Struktur bilayer adalah liposom. Struktur monolayer disebut misel.
Lipid di membran plasma terutama fosfolipid seperti phosphatidylethanol
amine dan fosfatidilkolin. Fosfolipid yang amphiphilic dengan ekor hidrokarbon dari
molekul yang hidrofobik; kepala polar hidrofilik. Sebagai membran plasma wajah
solusi berair di kedua sisi, fosfolipid yang mengakomodasi ini dengan membentuk
bilayer fosfolipid dengan ekor hidrofobik saling berhadapan.
Liposom dapat terdiri dari fosfolipid alami yang diturunkan dengan rantai

campuran lipid (seperti telur phosphatidylethanolamine), atau komponen surfaktan

murni seperti DOPE (dioleoylphosphatidylethanolamine). Liposom, biasanya tetapi

tidak menurut definisi, mengandung inti dari larutan berair; lipid bola yang tidak

mengandung bahan berair yang disebut misel, bagaimanapun, misel sebaliknya dapat

dibuat untuk mencakup lingkungan yang berair.


Liposom yang dibentuk dari turunan alami fosfolipid yang dicampur dengan
rantai lemak, misalnya fosfatidiletanolamin atau komponen surfaktan murni seperti
dioleoilfosfatidiletanolamin. Pada pembuatan liposom juga dapat ditambahkan
komponen lainnya seperti kolesterol untuk meningkatkan stabilitasnya. Karena
sifatnya yang seperti membran sel, liposom bersifat biokompatibel karena
biodegradabilitasnya, toksisitas rendah dan tidak memicu respons imun. Liposom
diaplikasikan sebagai mikroreservoir dan bagian dalam sel sesudah pengambilan
endositik.
Penambahan kolesterol pada liposom bilayer membawa perubahan
besar pada preparasi membran.Kolesterol sendiri tidak dapat membentuk
bilayer. Kolesterol berfungsi sebagai buffer fluiditas, dimana dibawah
temperatur fase transisi menyebabkan membran kurang tertata baik serta
kurang permeabel sedang di atas temperatur fase transisi menyebabkan
membran dalam tatanan teratur dan lebih stabil. Kolesterol ditambahakan
dalam konsentrasi tinggi dengan rasio 1:1 hingga 2:1
(kolesterol:fosfatidilkolin). Kolesterol terselip dalam membran dengan gugus
hidroksil berorientasi terhadap permukaan air dan rantai alifatik secara pararel
berorientasi pada rantai asil pada pusat bilayer. Adanya kolesterol
menyebabkan membran lebih rigid.

Lamela adalah struktur menyerupai pelat datar yang muncul pada


awal pembentukan liposom. Fosfolipid bilayer pertama muncul sebagai
lamela sebelum akhirnya terkonversi menjadi bentuk sferis. Beberapa
lamela dari fosfolipid bilayer tersusun menumpuk di atas lamela lain
selama pembentukan liposom membentuk struktur multilamelar.
C. Macam-Macam Liposom
Liposom terbagi menjadi 4 jenis liposom, yaitu :
a. Vesikel Multi Lamelar (MLV)
Liposom MLV dapat dikatakan sebagai bentuk awal liposom.
MLV merupakan liposom multikompartemen dengan ukuran vesikel
100 nm sampai dengan 1000 nm dan setiap vesikel biasanya terdiri atas
lima atau lebih lamela konsentris. Liposom MLV sangat cocok untuk
proses enkapsulasi dari berbagai substansi dan dapat dibuat berbagai
macam komposisi lipid. Keterbatasan MLV adalah mempunyai
kapasitas enkapsulasi
b. Vesikel Unilamelar kecil (SUV)
SUV memiliki variasi ukuran terkecil. Ukuran SUV didasarkan
pada kekuatan ionisasi medium cair dan komposisi lemak pada
membran, yaitu ukuran vesikel 15 nm untuk liposom yang berasal
dari lesitin telur murni pada salin normal dan 25 nm untuk liposom
DPC.
c. Vesikel Unilamelar besar (LUV)
LUV memiliki ukuran lebih besar dari SUV. Liposom ini memiliki
ukuran 500-1000 nm. Vesikel ini dapat dibuat dengan metode injeksi
eter dan fusi liposom jenis SUV dengan diinduksi kalsium.
d. Vesikel Unilamelar intermediet (IUV)
Liposom ini berukuran 100-200 nm. IUV dapat bertahan lebih
lama dalam sirkulasi dan stabilitasnya baik sehingga sangat bermanfaan
dalam penghantaran obat.

Karakteristik MLV

Lebih dari satu layer


Enkapsulasi obat lipofilik cukup besar
Stabil dalam penyimpanan jangka panjang
Cepat dibersihkan oleh RES
Mudah disiapkan
Dibuat dengan metode thin film hydration

Karakteristik LUV

Single bilayer
Rasio airlipid tinggi
Bermanfaat untuk obat-obat hidrofil
Cepat dibersihkan dari retikuloendotelial
Dibuat dengan active loading, injeksi eter, dialisis detergen, reverse phase
evaporation

Karakteristik SUV
Single bilayer
Ukuran homogen
Secara termodinamik kurang stabil
Mudah beragregasi dan bergabung pada muatan yang rendah atau netral
Rasio air:lipid kecil, long circulating
Dibuat dengan mereduksi ukuran MLV dan LUV menggunakan sonikator,
gas extruder, active loading atau solvent injection techniques

Klasifikasi dari Liposom (pada gambar di bawah) :


A. Liposom konvensional dengan lipid lapis ganda dalam lingkungan
berair
B. Imunoliposom yang memiliki target berupa antibody
C. Long-circulating liposome dengan polimer protektif seperti PEG yang
melindungi permukaan liposom dari interaksinya dengan protein
opsonin
D. Long-circulating immunoliposome dengan polimer protektif dan
antibody
E. Liposom generasi baru, dengan berbagai modifikasi seperti partikel
magnetic, polimer stimuli-sensitif, dll dengan tujuan untuk
meningkatkan waktu edar yang lebih lama, memperbaiki stabilitas,
dan meningkatkan efek.
D. Mekanisme Liposom

Liposom digunakan sebagai model untuk sel buatan. Liposom juga


dapat dirancang untuk memberikan obat dengan cara lain. Liposom yang
mengandung rendah (atau tinggi) pH dapat dibangun sedemikian rupa
sehingga obat cair terlarut akan dikenakan biaya dalam solusi (yaitu, pH di
luar kisaran PI obat). Sebagai menetralkan pH alami dalam liposom
(proton dapat melewati beberapa membran), obat tersebut juga akan
dinetralisir, yang memungkinkan untuk secara bebas melewati membran.
Liposom ini bekerja untuk memberikan obat oleh difusi daripada dengan
fusi sel langsung. Strategi lain untuk pengiriman obat liposom adalah
target peristiwa endositosis. Liposom dapat dibuat dalam berbagai ukuran
tertentu yang membuat mereka target yang layak untuk fagositosis
makrofag alami. Ini liposom dapat dicerna sementara di phagosome
makrofag, dengan demikian melepaskan obat nya. Liposom juga dapat
dihiasi dengan opsonins dan ligan untuk mengaktifkan endositosis pada
jenis sel lain.
a) Pemasukan obat ke dalam Liposom
Klasifikasi obat yang dapat dimasukkan ke dalam liposom dilakukan
berdasarkan koefisien partisi minyak/dapar dan oktanol.dapar yaitu :
Senyawa hidrofilik (larut air) dengan harga Kp rendah untuk
minyak/dapar dan oktanol/dapar
Senyawa ampifatik, yaitu Kp rendah untuk minya/dapar dan Kp
sedang sampai tinggi untuk Kp oktanol/dapar
Senyawa lipofilik mempunyai Kp tinggi untuk minyak/dapar.

Metode pemasukan obat ke liposom dapat dilakukan dengan dua cara


yaitu ;

Masuk ke membran liposom

Masuk ke fasa air dalam liposom


b) Pelepasan obat dari liposom
Terdapat beberapa proses pelepasan substansi materi dari liposom.
Pertama, melalui fusi sempurna membran lipid liposom dengan
membran sel target. Melalui cara ini, isi liposom akan terpapar
langsung dengan sitoplasma sel dan tetap diselubungi membran
biologis.

Kedua, liposom melepas isinya ke ruang interstisial untuk


selanjutnya substansi secara aktif diambil oleh sel melalui
transport paraseluler. Dengan demikian, transpor para seluler
substansi aktif dalam liposom dapat berlangsung pada usus halus
melalui dinding usus. Cara ini terjadi pada liposom yang
sensitive pada perubahan temperatur. Jadi, liposom akan pecah
sat terjadi perubahan suhu dan liposom akan melepaskan isinya
ke ruang ekstraseluler.
Untuk obat yang bersifat lipofilik, bentuk MLV merupakan
pilihan utama, karena jumlah iobat yang akan dibawa, yang
terikat pada membran lebih banyak. Untuk yang bersifat
hidrofilik, besarnya vesikel yang umumnya hanya terdiri dari
satu lapis membran menentukan jumlah obat yang dibawa.
Gambar mekanisme perantara intra seluler penghataran obat liposom

Penggunaan liposom adalah sebagai berikut:


Kosmetik
Penghantaran obat
Studi membran
Tumor diagnostic imaging

Aplikasi Liposom Dalam Penghantaran Obat


Formulation aid
Intracellular drug delivery
Sustained release drug delivery
Gene therapy
Site avoidance delivery
Site spesific targetting
Intraperitoneal administration
Immunological adjuvants in vaccine

Penggunaan liposom sebagai pembawa obat digunakan pada terapi


gen, vaksin penyakit seperti herpes simplex dan hepatitis B, obat anti
infeksi patogen intraseluler, dan pengobatan kanker seperti kanker
payudara dan Kaposis sarcoma. Selain itu Penggunaan liposom dalam rias
nano juga memiliki banyak manfaat, termasuk penetrasi meningkat dan
difusi bahan aktif, transportasi selektif bahan aktif, waktu rilis lagi,
stabilitas yang lebih besar yang aktif, pengurangan efek samping yang
tidak diinginkan, dan biokompatibilitas tinggi.
Selain gen dan aplikasi pengiriman obat, liposom dapat digunakan
sebagai pembawa untuk pengiriman pewarna untuk tekstil, pestisida untuk
tanaman, enzim dan suplemen gizi untuk makanan. Di Perancis, Jepang
dan umumnya negara maju, liposom luas digunakan dalam bentuk sediaan
kosmetika, liposom berfungsi sebagai reservoir zat aktif dan melepaskan
agen kosmetik setelah berada di lapisan dermis dan kulit.

Tabel penggunaan liposom dalam terapi gen

E. Keuntungan Liposom Sebagai Drug Delivery


Permukaan mudah dimodifikasi sehingga dapat dikembangkan sebagai
sistem penghantaran tertarget
Mempengaruhi absorbsi dan biodistribusi sehingga efikasi dan toksisitas
berubah
Mengurangi efek samping yang berbahaya dan memberi proteksi pada
obat
Dapat memperpanjang durasi obat sehingga mengurangi frekuensi
pemberian
Memperbaiki solubilitas obat-obat dengan kelarutan rendah

Sebagai pembawa obat, liposom memiliki beberapa kelebihan, diantaranya


sebagai berikut:
Liposom dapat mengarahkan obat pada target tertentu, misalnya pada
long-circulating liposomes yang bekerja pada target selektif area
patologis tertentu
Liposom sebagai reservoir obat yang melepaskan obat secara
perlahansehingga akan meningkatkan efektivitas obat dan
memperpanjang masa edarobat dalam darah
Liposom dapat melindungi obat dari degradasi sebelum mencapai target
Liposom melindungi pasien dari efek samping langsung dari obat yang
terpapar dan melindungi jaringan yang sehat dari obat
Liposom dapat melarutkan obat lipofilik yang sulit diberikan secara
intravena sehingga pemberiannya di kemudian hari akan lebih mudah

Parameter yang Mempengaruhi In Vivo Behaviour Liposom


Bilayer fluidity
Surface charge
Surface hydration
Liposom size

Interaksi liposom dengan sel dapat melalui mekanisme sebagai berikut:


Mekanisme endositosis liposom digambarkan sebagai berikut:

F. Preparasi Liposom

Kekurangan/problem dalam sediaan liposom:


Reprodusibilitas
Sterilisasi
Ukuran partikel
Produksi batch besar
Short circulating

Liposom memiliki keterbatasan sebagai pembawa obat termasuk


kurang stabil secara fisika kimia, problem sterilitas, inkompatibilitas dengan
obat, efek imunologi dan toksikologi.Penggunaan liposom dalam bentuk
suspensi berair menjadi terbatas sehingga formulasi sebaiknya disimpan
dalam bentuk kering dan dihidrasi sebelum digunakan untuk menghasilkan
suspensi berair liposom (PROLIPOSOM). Proliposom merupakan granular
yang free flowing dan pada saat ditambahkan air terdispersi menjadi suspensi
isotonik untuk pemakaian intravenus atau pemberian melalui rute lain.Studi
stabilitas menunjukkan distribusi ukuran proliposom yang terhidrasi tidak
berubah secara signifikan lebih dari 9 bulan pada suhu 20oC.

Karakterisasi Liposom:
a. Sifat fisika dan biologi liposom dipengaruhi oleh:
Ukuran
Permeabilitas membran
Persentasi entrapped solute
Komposisi kimia
Kuantitas dan kemurnian bahan awal

b. Karakterisasi liposom secara fisik meliputi:

Bentuk, ukuran, dan distribusi ukuran


Percentage drug capture
Entrapped volume
Lamellarity
Percentage drug release
c. Karakterisasi secara kimia meliputi :

Estimasi fosfolipid
Oksidasi fosfolipid

Analisis kolesterol
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Liposom merupakan system penghantaran obat yang dapat digunakan


untuk obat-obat larut air maupun yang sukar larut air. Penggunaannya
meningkat karena permukaannya dapat difungsionalisasi agar lebih lama
tersirkulasi serta dapat ditargetkan pada sel spesifik tertentu. Liposom juga
memiliki kelebihan terutama dalam bidang terapi gen dan kosmetik. Liposom
juga memiliki kekurangan tersendiri dan sekarang masih terus dikembangkan
mekanisme liposom ini.

B. Saran

Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan penulis untuk


perbaikan pada makalah-makalah selanjutnya.
REVIEW JURNAL

Characterization of Diclofenac Liposomes Formulated with


Palm Oil Fractions
in Tropical Journal of Pharmaceutical Research
by Bahareh Sabeti, Mohamed Ibrahim bin Noordine, Hamid Akbari Javar,
Ehsan Taghizadeh Davoudi and Ali Kadivar,

A. Pendahuluan
Diklofenak natrium (DS) banyak digunakan untuk mengobati rasa
sakit dan inflamasi moderat termasuk yang berhubungan dengan arthritis
osteo dan rheumatoid dengan menghambat enzim siklooksigenase. Bentuk
sediaan DS yang tersedia saat ini meliputi gel, larutan oftalmik, tablet
pelepasan segera, dan supositoria dan injeksi intramuskular. Bentuk oral
DS adalah yang paling umum di pasaran meskipun biasanya menyebabkan
masalah gastrointestinal seperti kram perut, mual, sembelit, diare dan
ulserasi peptik. Selanjutnya, 40% dari DS yang diberikan secara oral
menjalani metabolisme pertama dan tidak mencapai sirkulasi sistemik.
Karena kelarutannya yang buruk pada media air dan asam di perut, ia
memiliki bioavailabilitas oral yang buruk dan waktu paruh pendek sekitar
dua jam.
Injeksi intramuskular DS menghindari metabolisme firs past dan
mencapai efek terapeutik lebih cepat. Namun, injeksi intramuskular dapat
menyebabkan lesi kulit pada tempat suntikan. Masalah ini dapat diatasi
dengan enkapsulasi DS di liposom dimana kerusakan jaringan lokal dapat
dikurangi dan tingkat pelepasan DS dapat dikendalikan.
Minyak kelapa sawit terutama terdiri dari asam lemak seperti asam
palmitat, stearat, linoleat, oleat dan miristat. Telah banyak diteliti untuk
khasiat gizi dan farmasinya, termasuk aktivitas antioksidan, penurunan
kolesterol, efek antikanker dan perlindungan terhadap aterosklerosis
karena adanya bahan kimia seperti karoten, tocopherols, tocotrienols,
terpenoid, tanin, flavonoid, hidrokarbon dan keton.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh
fraksi minyak kelapa sawit terhadap pembentukan liposom, untuk menilai
stabilitas liposomal DS yang dibuat oleh fraksi minyak kelapa sawit, untuk
mengetahui tingkat pelepasan obat in vitro dari formulasi baru liposomal
DS dan untuk membuat rekomendasi berdasarkan formulasi terbaik dari
liposomal DS yang dibuat dengan fraksi minyak kelapa sawit sebagai
sistem pengiriman obat induk.
B. Eksperimental dan Hasil
a. Bahan
L-alpha-phosphatidylcholine (PC), kolesterol (CH), asam linoleat,
metanol dan kloroform dibeli dari Sigma-Aldrich, Jerman. Diklofenak
natrium (DS) diberikan oleh Epic Ingredients Sdn. Bhd (Malaysia).
Palmetic acid, asam oleat, asam stearat dan asam linoleat yang
diindikasikan sebagai bagian lipid minyak kelapa sawit dibeli dari
Acidchem International Sdn. Bhd (Malaysia). Sodium hydroxide dan
potassium dihydrogen phosphate dibeli dari Merck, Jerman
b. Preparasi liposom

Liposom disiapkan dengan menggunakan metode konvensional


sesuai komposisi pada Tabel 1. Setiap formulasi terdiri dari CH dengan
berbagai tingkat PC dan lemak cids. Komponen lipid dilarutkan dalam
kloroform: campuran metanol (2: 1, v / v) dalam ound labu bawah
Pelarut dihilangkan di bawah vakum menggunakan evaporator
berputar (Rotavapour R-124, BCHI) pada suhu 50 C, 50 rpm.
Setelah film lipid tipis terbentuk di bagian dalam labu, sistem
dibersihkan dengan nitrogen untuk menghilangkan pelarut organik
sepenuhnya. Film lipid dihidrasi dengan larutan 10 ml yang
mengandung DS (20 g / L) dalam larutan garam buffer fosfat (PBS,
pH 7,4). Akhirnya, campuran itu disonikasi selama 15 menit di
sonikator mandi tipe (Sonicor). Liposom diizinkan terbentuk pada suhu
kamar dan disimpan di lemari es dalam semalam. Campuran disaring
melalui semprit filter (0,45 m) 3 kali.
Liposom DS yang diperoleh dalam penelitian ini berukuran
sedang, dengan nilai berkisar antara 300 sampai 439 nm tergantung
pada proporsi PC dalam sistem. Ini mungkin karena adanya interaksi
antara lapisan lipid liposom dengan DS.
c. Studi morfologi
Mikroskopi elektron transmisi (TEM) dan scanning electron
microscopy (SEM) digunakan untuk mengkarakterisasi permukaan dan
struktur liposom. Gambar TEM dan SEM (Gambar 1) menunjukkan
bahwa liposom terbentuk dalam semua formulasi. FI dan FII, yang
mengandung proporsi PC yang lebih tinggi menghasilkan vesikel bulat
yang besar dan terdefinisi dengan baik; Namun, FIII, IV, V dan VI
yang memiliki kandungan fraksi minyak kelapa sawit masing-masing
20, 33,33, 46,67 dan 56,67 menghasilkan vesikel yang lebih kecil dan
sedikit mengalami deformasi. Hasil ini menunjukkan bagaimanapun
ada kemungkinan persiapan sistem pengiriman obat liposomal dengan
produk alami lainnya seperti fraksi minyak kelapa sawit, namun peran
PC dalam formasi, bentuk dan ukuran liposom tidak dapat diabaikan,
perumusan dengan persentase PC yang lebih tinggi menghasilkan
vesikel bulat yang lebih banyak. dalam ukuran lebih besar.
d. Distribusi ukuran partikel dan pengukuran potensial zeta
Potensi Zeta (ZP) mengevaluasi stabilitas sistem koloid. Ini
adalah pengukuran kekuatan repulsif antar partikel. Partikel dengan
kekuatan tulen yang lebih besar cenderung tidak agregat dan akan
lebih stabil. Umumnya, partikel dengan ZP <-30 mV atau> 30 mV
biasanya stabil.

Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 2, ukuran partikel


liposom turun dari FI ke FVI dan nilai ZP mengkonfirmasi stabilitas
sistem. Hasil yang ditunjukkan pada gambar 2 menunjukkan potensi
zeta memiliki hubungan dekat dengan persentase fraksi PC dan kelapa
sawit dalam formulasi. Saat mengganti fraksi kelapa sawit dengan PC,
potensi zeta berubah menjadi -50,7 dari -31,2 mV. Pengenalan 46 dan
56% fraksi minyak kelapa sawit secara signifikan memodifikasi
potensi zeta menjadi -42,8 dan -50,7 mV.
Data ZP menunjukkan bahwa Sebuah ZP <-30 mV dapat
menghasilkan agregasi partikel dan menyebabkan pengeringan dan
pembusukan akhirnya. Dalam hal ini, FII dan III dengan ZP negatif
lebih rendah akan kurang stabil sementara FI, FIV, FV dan FVI lebih
tinggi ZP negatif akan lebih stabil. Sebuah studi sebelumnya
menunjukkan bahwa interaksi DS dengan PC dapat mempengaruhi
struktur dan karenanya stabilitas liposom. Juga diamati bahwa liposom
kurang stabil semakin tinggi proporsi PC, dan semakin stabil semakin
tinggi proporsi fraksi minyak kelapa sawit.
e. Kuva kalibrasi
Larutan DS (dalam buffer fosfat segar, pH = 7,4) dengan
kisaran konsentrasi 10 - 50 g / mL disiapkan. Penyerapan diukur
dengan spektrofotometri UV (UV-1601 Shimadzu) pada panjang
gelombang 300 nm. Berdasarkan kurva kalibrasi DS di PBS,
persamaan regresi yang diperoleh adalah A = 0,0213 x C + 0,056, di
mana A adalah absorbansi pada panjang gelombang 300nm, dan C
adalah konsentrasi natrium Diklofenak (DS); koefisien regresi adalah
R2 = 0,9936.
f. Efisiensi Entrapment
Untuk mempelajari efisiensi entrapment liposom, campuran
disentrifugasi. selama 1,5 jam pada 9000 rpm, supernatan
dikumpulkan, dan absorbansi diukur dengan spektrofotometri UV pada
300 nm. Tabel 2 menunjukkan bahwa formulasi FVI, dengan EE
sebesar 77,8% DS, telah sangat meningkat efisiensy entrapment dan
formulasi FIV dengan 31,0%. Dalam suatu studi menyatakan bahwa
jebakan obat meningkat saat konsentrasi PC meningkat, dan oleh
karena itu jebakan bawah yang ditemukan dalam penelitian ini
mungkin disebabkan oleh tingkat PC yang lebih kecil dalam formulasi.
g. Pelepasan obat in vitro
Untuk mengukur pelepasan DS secara in vitro dari liposom,
100 mg liposom ditambahkan ke dalam kantong dialisis (MW, 12000).
Kantong itu ditutup pada kedua ujungnya dan ditempatkan dalam 50
ml media PBS segar (pH 7,4) pada suhu 37oC pada 60 rpm dalam
kondisi tenggelam, ada interval waktu yang telah ditentukan, 2 mL
media ditarik dan ditentukan dengan menggunakan spektrofotometer
UV. Uji pelepasan dilanjutkan selama 120 jam. diencerkan sesuai
kebutuhan dengan media pelepasan, diukur secara spektrofotometri
pada 300 nm.
Gambar 3 mengilustrasikan pelepasan in vitro melalui106 jam
untuk pelepasan DS total dari liposom. Pelepasan DS untuk FI sekitar
10% sampai 12 jam. Ini sedikit meningkat sampai pelepasan selesai
setelah 106 jam. FII dan FIII mengeluarkan obat hingga 44 dan 46%,
setelah 12 jam masing-masing, dan pelepasan DS untuk keduanya
selesai setelah 72 jam. FIV secara bertahap melepaskan obat dalam 24
jam namun pelepasannya meningkat lebih cepat hingga 85% setelah 80
jam. Terjadi pelepasan FV yang lambat selama 6 jam pertama namun
diikuti oleh kenaikan tajam yang mencapai 91% dalam 48 jam.
Pelepasan DS dari rilis FVI meningkat lebih dari106 jam.
Pelepasan obat yang lebih lambat yang diperoleh dari FV dan
FVI, dibandingkan dengan FII dan FIII, dapat dikaitkan dengan
stabilitasnya yang lebih tinggi.
KESIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan potensi penerapan fraksi minyak kelapa
sawit dalam pembuatan liposomal DS. Karena jumlah minyak sawit dalam
formulasi secara signifikan akan mempengaruhi pemuatan obat dan pelepasan
obat, senyawa ini akan memberi kesempatan untuk mempersiapkan formulasi DS
dengan bioavailabilitas yang diinginkan. Dengan meningkatkan kandungan fraksi
minyak sawit dari 10 menjadi 33%, liposom yang lebih stabil diperoleh.
DAFTAR PUSTAKA

Darmawan, Dian Perdana. Pengembangan Pembawa Obat Polimerik


Berbasis Nanopartikel.
http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/552/jbptitbpp-gdl-dianperdan-27551-
2-2007ta-1.pdf (18 Juni 2012).

Jufri, Mahdi.( 2004, Agustus) Arah dan Perkembangan Liposome Drugs


Delivery System. Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No.2, halaman 59
68.

News-Medical.net - An AZoNetwork Site. What is a Liposome?.


http://www.news-medical.net/health/Liposome-Uses-(Indonesian).aspx
(01 Feb 2011).

Wibowo, Taufik Agung. (2008). Penilaian hasil degradasi liposom EPC-TEL


2,5 pada suspensi hepar mencit 30 menit setelah injeksi intraperitoneal,
halaman 4-16.

Wianarti, Lina. (2012, 24 Desember). Sistem Penghataran Obat:


Nanopartikel, Liposom, dan Drug Targetting, halaman 35-45.
Zamriya, Yani. (2009). Penilaian hasil degradasi tetraeter lipid liposom
EPC-TEL 2,5 oleh hepar mencit C3H menggunakan kromatografi lapis
tipis, halaman 3-23.