Anda di halaman 1dari 16

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dasar dari ilmu pengetahuan dan teknologi produk susu adalah air susu.

Karena air susu adalah bahan baku dari semua produk susu. Sebagian besar susu

digunakan sebagai produk pangan. Dipandang dari segi gizi, susu merupakan

makanan yang hampir sempurna, dimana susu mengandung protein, lemak,

vitamin, mineral dan laktosa (karbohidrat).

Di dalam air susu banyak sekali komponen-komponen penyusun

diantaranya seperti seperti laktosa, yang terdiri dari gabungan antara glukosa dan

galaktosa. Air susu adalah salah satu produk hasil peternakan yang mengandung

nilai gizi yang cukup tinggi dan sangat luas penggunaanya dalam bidang

kehidupan.

Susu merupakan larutan yang bersifat mudah larut dalam air karena

memiliki sifat hidrofil dan bila dilarutkan di dalam air yang memiliki suhu yang

cukup tinggi akan lebih cepat larut. Susu dapat menjadi sumber penyakit bagi

manusia apabila pengolahan terhadap susu tersebut tidak higienis. Sehingga

diperlukan uji-uji tertentu untuk mengetahui apakah susu tersebut layak untuk
dikonsumsi.

1.2 Maksud dan Tujuan

1. Untuk mengetahui macam-macam pengujian susu.

2. Untuk mengetahui mutu susu yang baik untuk dikonsumsi.


2

II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Susu

Susu adalah suatu sekresi kelenjar dari ternak yang sedang laktasi, yang

diperoleh dari pemerahan secara sempurna (tidak termasuk kolostrum), dengan

tanpa penambahan atau pengurangan suatu komponen (Suardana dan Swacita,

2004). Susu segar dan susu murni memiliki definisi yang berbeda, yaitu susu

murni adalah cairan yang berasal dari ambing hewan yang sehat dan bersih, yang

diperoleh dengan cara pemerahan yang benar, yang kandungan alaminya tidak

dikurangi atau ditambahkan sesuatu apapun dan belum mendapatkan perlakuan

apapun, sedangkan susu segar adalah susu murni yang tidak mendapat perlakuan

apapun kecuali proses pendinginan tanpa mempengaruhi kemurniannya. Susu

juga merupakan sumber kalsium, fosfor, dan vitamin A yang sangat baik. Mutu

protein susu sepadan nilainya dengan protein daging dan telur, dan terutama

sangat kaya akan lisin, yaitu salah satu asam amino esensial yang sangat

dibutuhkan tubuh (Widodo, 2002).

2.2 Kandungan Susu

Secara alamiah yang dimaksud dengan susu adalah hasil pemerahan sapi

atau hewan menyusui lainnya, yang dapat dimakan atau dapat digunakan sebagai

bahan makanan, yang aman dan sehat serta tidak dikurangi komponennya atau

ditambah bahan lain. Komponen-komponen susu yang terpenting adalah protein

dan lemak. Terdapat perbedaan komposisi susu dari susu sapi dan susu kambing

yang dapat dilihat pada Tabel 1.


3

Tabel 1. Komposisi susu sapi dan susu kambing (%)

Jenis Bahan Kering Protein Lemak Laktosa Mineral

Sapi 12,83 3,50 3,80 4,90 0,73

Kambing 13,00 3,70 4,00 4,45 0,85

Sumber : Saleh (2004).

Perbedaan komposisi susu pada setiap jenis sapi terutama pada kadar

lemaknya, misalnya kandungan lemak sapi jenis Guernsey adalah 4,70%

sedangkan sapi jenis Jersey kadar lemaknya 5,05%. Akan tetapi, komposisi rata-
rata susu sapi adalah kadar air 87,10%, lemak 3,90%, protein 3,40%, laktosa

4,80%, dan abu 0,72%. Kompisisi rata-rata susu sapi ini tidak jauh berbeda

dengan kompisisi rata-rata susu kambing. Susu kambing mengandung kadar air

87,81%, lemak 4,09%, protein 3,71%, laktosa 4,20%, dan abu 0,79% (Astuti,

1995).

Menurut Dwiari (2008), lemak susu merupakan komponen yang penting

dalam susu. Lemak susu mengandung beberapa macam asam lemak. Sebagian
besar asam-asam lemak tersebut yaitu sekitar 82,7% terdiri dari asam-asam lemak

tidak menguap (non-volatile) dan asam-asam lemak mudah menguap (volatile)

sebanyak kira-kira 17%. Asam-asam lemak ini termasuk asam lemak dengan

ikatan tunggal.

Protein yang ada dalam susu sebagian besar adalah kasein (76%) dan

protein whey (18%) (Susilorini, 2006). Kasein terdiri dari campuran tiga

komponen protein, yaitu protein alpha (40-60%), kasein beta (20-30%), dan

kasein gamma (3-7%).Sesudah kasein dipisahkan dari air susu, sisanya yang

merupakan larutan dinamakan whey. Kira-kira 0,5-0,7% dari bahan protein yang

dapat larut dan tertinggal dalam whey yaitu protein laktoglobulin dan laktalbumin
4

(Astuti, 1995).

Laktosa adalah karbohidrat atau gula susu yang hanya ditemukan di dalam

susu dan hanya dibentuk oleh mamalia. Kandungan laktosa dalam susu bervariasi

tergantung spesiesnya. Kandungan laktosa pada susu sapi sekitar 5%. Laktosa

mudah larut dengan tingkat kemanisan 1/6-1/2 kali glukosa, dimana jika susu

dipanaskan maka laktosa akan membentuk laktulosa yang mudah larut dan

mempunyai rasa agak manis (Susilorini, 2006).

2.3 Syarat dan Karakteristik Kualitas Susu yang Baik

Syarat susu yang baik meliputi banyak faktor, seperti warna, rasa, bau,

berat jenis, kekentalan, titik beku, titik didih, dan tingkat keasaman.

Warna susu bergantung pada beberapa faktor seperti jenis ternak dan

pakannya. Warna susu normal biasanya berkisar dari putih kebiruan hingga

kuning keemasan. Warna putihnya merupakan hasil dispersi cahaya dari butiran-

butiran lemak, protein, dan mineral yang ada di dalam susu. Lemak dan beta

karoten yang larut menciptakan warna kuning, sedangkan apabila kandungan

lemak dalam susu diambil, warna biru akan muncul.

Susu terasa sedikit manis dan asin (gurih) yang disebabkan adanya

kandungan gula laktosa dan garam mineral di dalam susu. Rasa susu sendiri

mudah sekali berubah bila terkena benda-benda tertentu, misalnya makanan

ternak penghasil susu, kerja enzim dalam tubuh ternak, bahkan wadah tempat

menampung susu yang dihasilkan nantinya. Bau susu umumnya sedap, namun

juga sangat mudah berubah bila terkena faktor di atas.

Berat jenis air susu adalah 1,028 kg/L. Penetapan berat jenis susu harus

dilakukan 3 jam setelah susu diperah, sebab berat jenis ini dapat berubah,

dipengaruhi oleh perubahan kondisi lemak susu ataupun karena gas di dalam susu.
5

Viskositas susu biasanya berkisar antara 1,5 sampai 2 cP, yang

dipengaruhi oleh bahan padat susu, lemak, serta temperatur susu.

Titik beku susu di Indonesia adalah -0,520 C, sedangkan titik didihnya

adalah 100,16 C. Titik didih dan titik beku ini akan mengalami perubahan

apabila dilakukan pemalsuan susu dengan penambahan air yang terlalu banyak

karena titik didih dan titik beku air yang berbeda.

Susu segar mempunyai sifat amfoter, artinya dapat berada di antara sifat

asam dan sifat basa. Secara alami pH susu segar berkisar 6,56,7. Bila pH susu

lebih rendah dari 6,5, berarti terdapat kolostrum ataupun aktivitas bakteri.

2.4 Pengujian Mutu Susu

Mutu atau kualitas susu merupakan hubungan sifat-sifat susu yang

mencerminkan tingkat penerimaan susu tersebut oleh konsumen. Sifat-sifat

tersebut meliputi sifat fisik, kimiawi, dan mikrobiologi. Sifat fisik susu

menunjukkan keadaan fisik susu yang dapat diuji dengan peralatan tertentu atau

panca indera. Sifat fisik susu yang dapat diuji dengan alat antara lain berat jenis,

kekentalan. Sedangkan sifat yang dapat diuji dengan pancra indera yaitu bau, rasa,

warna, dan konsistensi. Sifat kimiawi susu menunjukkan komposisi zat gizi

serta kandungan zat kimia tertentu termasuk adanya cemaran. Sifat mikrobiologis

susu menunjukkan jumlah mikroba yang ada didalam susu serta beberapa

parameter lain yang berkaitan dengan pertumbuhan mikroba.

Mutu susu sering disebutkan berdasarkan kelompok sifatnya sehingga

dikenal mutu fisik susu, mutu kimiawi susu, ataupun mutu mikrobiologis susu.

Bahkan dalam menguji mutu susu sering hanya dilakukan terhadap beberapa

atribut yang dianggap penting, misalnya berat jenis, kadar lemak dan total bakteri.

Akan tetapi secara menyeluruh mutu susu harus menggambarkan sifat-sifat susu
6

yang mencakup sifat fisik, kimiawi dan mikrobiologis. Gabungan hasil penilaian
sifat-sifat susu akan mencerminkan nilai atau derajat mutu susu.

2.4.1 Uji Susunan Susu

a. Berat Jenis Susu

Susu lebih berat dari air karena susu merupakan suatu sistem kolodial

kompleks, yaitu air sebagi medium dispersi antara lain mengandung garam-garam

dan gula dalam larutan. Berat jenis atau gravitas spesifik susu rata-rata adalah

1,028 dengan kisaran 1,027-1,035. Berat jenis susu biasanya ditentukan pada

temperatur 600F (15,50C) atau dikoreksi terhadap titik ini. Gravitas spesifik susu

dipengaruhi oleh komponennya yang masing-masing mempunyai gravitas spesifik

yang berbeda, misalnya lemak 0,930, laktosa 1,666, protein 1,346, kasein 1,310

dan garam-garaman 4,120. Rata-rata gravitas spesifik padatan susu tanpa lemak

bervariasai antara 1,6007-1,6380 (Harjadi, 1996).

Gravitas spesifik cairan bervariasi karena temperaturnya. Air mencapai

gravitas spesifik maksimum pada 390F (3,880C). Susu berbeda dengan air, karena

susu tidak akan mencapai gravitas spesifik maksimum hingga temperaturnya

mencapai 31,010F (-0,550C) yaitu titik beku susu. Peningkatan lemak susu akan

menurunkan gravitas spesifik, dan makin besar SNF, susu makin lebih berat.

Gravitas spesifik susu tidak dapat ditentukan sampai kira-kira 1 jam setelah

pemerahan karena kandungan udara dan karbondioksida dalam susu (Harjadi,

1996). Gravitas spesifik atau berat jenis air untuk susu biasanya dilaporkan pada

600F/600F (artinya densitas atau berat jenis pada 600F dibagi dengan densitas air

pada 600F) atau pada 200C/200C(Harjadi, 1996).


7

Persamaan dalam menghitung berat jenis susu yaitu (Abustam, 2008) :


Skala Lacto + FK (Suhu Susu Suhu Tera Lacto)
= 1000 +
1000

Susu mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada air yaitu 1,027

1,035 dengan rata-rata 1,031. Akan tetapi menutut codex susu, berat jenis susu

adalah 1,028. Codex susu adalah suatu daftar satuan yang harus dipenuhi susu

sebagai bahan makanan. Daftar ini telah disepakati oleh para ahli gizi dan

kesehatan sedunia, walaupun di setiap negara atau daerah mempunyai ketentuan-

ketentuan tersendiri ( Saleh, 2004).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan berat jenis pada susu

yaitu butiran-butiran lemak (globula), laktosa, protein dan garam. Susu yang telah

bercampur dengan air maka berat jenisnya akan menurun. Kenaikan berat jenis

susu disebabkan karena adanya pelepasan CO2 dan N2 yang terdapat pada susu

tersebut (Julmiaty, 2002).

b. Kadar Lemak

Penentuan kadar lemak susu dapat dilakukan dengan beberapa metode

menggunakan alat tertentu seperti Babcock, Gerber, Te-sa, Mojonier, Soxhlet dan

Milko-Tester. Prinsip uji kadar lemak susu dengan metode Babcock, Gerber dan

Te Sa adalah memisahkan lemak dengan cara menambahkan asam sulfat ke dalam


susu dan kemudian diikuti pemusingan (sentrifus). Lemak yang terpisah tersebut

ditentukan jumlahnya berdasarkan skala yang ada pada alat. Sebagai contoh,

penentuan kadar lemak susu dengan metode Gerber dilakukan dengan cara

memasukkan 11 ml H2SO4 ke dalam tabung Gerber. Ke dalam tabung tersebut

segera dimasukkan 11 ml susu dan 1 ml amyl alcohol, kemudian tabung ditutup

rapat dan dikocok dengan kuat sehingga terbentuk warna ungu kehitaman. Setelah
itu tabung disentrifuse selama beberapa menit dan selanjutnya dipanaskan dalam
8

penangas air. Dengan cara ini lemak susu akar terpisah dan jumlahnya dapat

ditentukan dari skala pada tabung. Prinsip kerja dari butirometer pada dasarnya

yaitu butir-butir lemak kecil menggumpal menjadi butir-butir besar, dan hal ini

dipercepat oleh amil alkohol dan pemanasan suhu 65 C. Lemak cair ini

mengapung di atas campuran asam belerang, plasma susu dan amil alcohol

(Hadiwiyoto, 1983).

Pemusingan mempercepat atau mempermudah penggumpalan lemak di

dalam butirometer yang mempunyai skala. Angka yang dapat dibaca dalam skala

butirometer yaitu jumlah gram lemak per 100 gram air susu. Warna coklat susu

didalam butirometer disebabkan oleh perubahan laktosa menjadi caramel

(Hadiwiyoto, 1983). Prinsip kerja metode Mojonnier dan Soxhlet adalah

mengekstrak lemak susu menggunakan suatu pelarut seperti petroleum eter, etil

eter atau pelarut lemak lainnya. Selanjutnya dilakukan pemisahan lemak dengan

pelarutnya, sehingga jumlah lemak dapat ditentukan. Pengujian dengan Milko-

tester susu, yang kemudian ditransformasi menjadi energi listrikmenunjukkan

sinyal besarnya kadar lemak. Lemak susu juga dapat dianalisis dengan metode

spetroskopi, misalnya dengan infra merah (IR,infra red atau NIR, near infrared)

dan modifikasinya (Hadiwiyoto, 1983).

c. Bahan Kering Tanpa Lemak

Solid Non Fat (SNF) sering disebut Bahan Kering Tanpa Lemak (BKTL)

atau zat padat bukan lemak adalah kadar bahan kering dikurangi kadar lemak

dalam susu dan terdiri dari laktosa, protein, dan mineral (Amin, 1997). Sebagian

zat yang menyusun SNF disintesa dalam kelenjar susu dari ikatan zat-zat pakan

yang diserap dari darah. Zat tersebut antara lain karbohidrat, protein, vitamin dan

mineral. Korelasi antara SNF sangat nyata dengan berat jenis susu, semakin tinggi

kadar SNF maka berat jenis susu akan semakin besar atau sebaliknya.
9

Bahan kering bukan lemak adalah jumlah persentase semua komponen

penyusun susu dikurangi kadar air dan kadar lemaknya,dan total bahan kering

adalah jumlah semua komponen penyusun susu di kurangi kadar airnya saja

(Amin. 1997).

Umumnya kualitas susu hanya dilihat dari kadar lemak, namun nilai yang

sebenarnya terletak pada kandungan SNF di dalamnya. Kebuntingan pada ternak

mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap produksi dan komposisi susu.

terjadi sedkit peningkatan bahan kering susu selama kebuntingan 4-5 bulan.

Perubahan bahan kering dan protein susu lebih banyak disebabkan oleh pengaruh

pakan yang menyebabkan peningkatan produksi asam propionat dalam rumen

(Sudono, 1983). Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya SNF susu

tergantung dari faktor-faktor yang mempengaruhi kadar bahan kering susu dan

kadar lemak susu.

Tabel 2. Kadar Rata-rata SNF dan Total Solid

Bangsa Kadar SNF Rata-rata % Kadar Total Solid %

Ayshire 8,9 12,9

Brown Swiss 9,3 13,3

Guernsey 9,5 14,5

Holstein 8,9 12,3

Jersey 9,5 14,9

2.4.2 Uji Fisik Susu


a. Uji Warna
Ciri khas susu yang baik dan normal adalah susu tersebut terdiri dari

konversi warna kolostrum yang berwarna kuning dengan warna air susu yaitu

putih, jadi susu normal itu berwarna putih kekuning-kuningan. Kriteria lainnya
adalah jika berwarna biru maka susu telah tercampur air, jika berwarna kuning
10

maka susu mengandung karoten, dan jika berwarna merah maka susu tercampur

dengan darah (Yusuf 2010).

b. Uji Bau

Setelah susu dipanaskan dalam tabung reaksi, maka susu mengeluarkan aroma

yang spesifik dimana bau susu yang dipanaskan lebih tajam daripada susu yang

tidak dipanaskan. Dalam 100% susu terdapat 40 % kadar kemurnian warna susu

dan juga bau susu yang mencirikan untuk susu yang 4 normal, selebihnya 60 %

untuk zat makanan sebagai pelengkap cita rasa yang terdapat di dalam susu

tersebut (Yusuf 2010).

c. Uji Rasa

Susu agak manis diakibatkan karena kandungan karbohidratnya yang

cukup tinggi, khususnya untuk golongan laktosa. Susu dari segi rasa mengandung

susu yang agak manis untuk dikatakan normal selebihnya banyak kelaianan di

dalam susu yang tidak bermanfaat bagi tubuh (Yusuf 2010).

d. Uji Penyaringan (Kebersihan)

Penyaringan susu adalah uji kebersihan yang meliputi warna, bau, rasa,

dan ada tidaknya kotoran dalam susu dengan menggunakan kertas saring. Proses

penyaringan susu bertujuan memisahkan benda-benda pengotor susu yang

terbawa saat proses pemerahan. Penyaringan juga bertujuan untuk menghilangkan

sebagian leukosit dan bakteri yang dapat menyebabkan kerusakan susu selama

penyimpanan. Limbah yang dihasilkan berasal dari tumpahan bahan baku

(Soejoedono 2005)

e. Uji Alkohol

Uji alkohol dilakukan untuk mengetahui adanya susu yang rusak, apabila

terdapat butirbutir susu pada dinding tabung menunjukkan susu tersebut positif

telah rusak. Susu segar yang berkualitas baik tidak akan pecah atau menggumpal
11

bila dipanaskan atau dididihkan. Sebaliknya, susu yang bermutu jelek akan

mengalami penggumpalan bila dipanaskan. Hal itu terjadi karena adanya asam

yang dihasilkan oleh mikroba dari peruraian laktosa. Asam tersebut

mengakibatkan protein susu mudah mengalami denaturasi dan penggumpalan bila

dilakukan pemanasan. Jadi, susu yang telah banyak ditumbuhi mikroba akan

menjadi asam dan mudah pecah bila dipanaskan (Soriah 2010).

Menyatakan bahwa penerikasaaan kesegaran susu terdiri atas veberapa uji

sebagai berikut: 1. Uji sensorik atau uji organoleptik 2. Uji kestabilan protein ( uji

didih dan uji al kohol), 3. Uji ph , uji derahat asam. Jumlah bakteri yang sedikit

merupakn indikatir kualitas kesegaran susu yang baik.

Pada uji alkohol susu yabg tidak baik (misalnya susu asam) akan pecah atau

menggumpal hika ditmbahkan alkohol y70%. Alkohol memiliki daya dehidrasi

yang akan menarik guugs H+ dari ikatan mantel air protein , sehingga protein

dapat melekat satu dengan yang lain akibatnya kestabilan protein yang dinamakan

susu pecah (sudarwanto et al., 2005).

Uji alkohol adalah uji yang cepat dan sederhana yang merupakan

dasardallam kestabilan protein ketika jumlah asam bertambah dalam susu ,

menurut buckle et al., 1987) uji alkohol bertuhuan untuk memeriksa dengan tepat

tingkat keasaman susu. Susu yang mengandung keasaman 0,21% akan

terkoagulan dengan penambahanalkohol 70 % dengan demikian, apabila uji

alkohol menuunjukan hasil positif dimana degan penambahan alkohol 70% sshg

susu rterkoagulan maka susu dalam keadaan tidak baik.

f. Uji Reduktase

Uji reduktase adalah untuk memprediksi jumlah mikroba di dalam susu,

sehingga kualitas susu dapat ditentukan. Pada prinsipnya mikroba di dalam susu

menghasilkan enzim reduktase yang dapat mereduksi zat warna biru. dari "metilen
12

blue" (MB) menjadi tak berwarna. Apabila ke dalam susu dimasukkan sejumlah

tertentu MB, maka susu tersebut berwarna biru dan dalam waktu tertentu warna

biru tersebut berangsur-angsur hilang. Lama waktu hilangnya warna biru atau

waktu reduksi menunjukkan banyak sedikitnya jumlah mikroba di dalam susu.

Semakin banyak mikroba berarti semakin banyak pula enzim reduktase yang

dapat mereduksi warna biru MB, sehingga waktu reduksi menjadi pendek dan

demikian pula sebaliknya.

Enzim reduktase dihasilkan oleh bakteri yang ada didalam susu, semakin

cepat warna biru berubah menjadi putih maka semakin banyak bakteri yang ada

didalam susu (Hidayat, 2006). Riyadh (2003) menyatakan bahwa daya reduktasi

dari susu disebabkan oleh aktivitas enzim tertentu dan juga adanya aktifitaas

bakteri. Terdapat hubungan antara jumlah bakteri dalam susu dengan kecepatan

daya reduktasi.

Perubahan warna biru menjadi warna putih di sebabkan kemampuan

bakteri didalam susu untuk tumbuh dan menggunakan oksigen yang terlarut

sehingga menyebabkan penurunan kekuatan oksidasi-reduksi dari campuran

tersebut. Akibatnya metylen blue akan direduksi menjadi warna putih. Semakin

cepat terjadinya perubahan biru menjadi putih semkain tinggi jumlah bakteri

didalam lsusu pasteurisasi. Semakin cepat waktu (<2 jam ) yang dibutuhkan untuk

menetralkan warna biriu, semakin buruk kualitas mikrobiologis susu segar

(Anderson, dkk., 2011).

g. Uji Derajat Keasaman

Derajat keasaman susu bernilai 0,21%, berarti kondisi susu dalam keadaan

yang baik atau aman dikonsumsi. Menurtu SNI (1998) susu segar umumnya

mempunyai derajat keasaman sekitar 0,18% sampai dengan 0,24 %, penentuan

derajat keasaman dapat dilakukan dengan menggunakan titrasi asam-basa. Nilai


13

derajat keasaman didapatkan dengan mengalikan volume NaOH yang dibutuhkan

untuk mentitrasi susu sampai warnanya pink dikalikan faktor koreksi sebesar

sepuluh.

Prinsip pada uji derajat asam yaitu secara titrasi ditetapkan kadar asam

yang terbentuk dalam susu. Asam yang terbentuk sebagian besar karena

perombakan laktosa menjadi asam akibat kerja mikroorganisme. Susu sebanyak

10 ml masukkan dalam 2 botol Erlenmeyer. Kemudian diteteskan indikator

phenolphtalein sebanyak 0,4 ml ke dalam botol Erlenmeyer pertama, sedangkan

botol Erlenmeyer yang kedua sebagai kontrol. Botol Erlenmeyer pertama dititrasi

dengan NaOH 0,1N setetes demi setetes sambil digoyang-goyangkan

sampaiterbentuk warna merah muda, pada kondisi ini sudah tercapai bagian antara

asam dan basa. Jumlah NaOH 0,1N yang dipakai dikali empat karena jumlah susu

yang dipakai 10 ml, seharusnya 100 ml (Suardana dan Swacita, 2004).


14

III

KESIMPULAN

1. Syarat susu yang baik meliputi banyak faktor, seperti warna, rasa, bau,

berat jenis, kekentalan, titik beku, titik didih, dan tingkat keasaman.

2. Pengujian mutu susu terbagi menjadi 2 yaitu yang pertama uji susunan

susu yang meliputi: uji berat jenis, uji kadar lemak, uji bahan kering tanpa

lemak, dan yang kedua uji fisik susu yang meliputi: uji warna, bau, rasa,

penyaringan (kebersihan), uji alkohol, uji reduktase, dan uji derajat

keasaman.
15

DAFTAR PUSTAKA

Abustam, E. 2008. Penuntun Praktikum Dasar Teknologi Hasil Ternak. Fakultas


Peternakan. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Amin, M. 1997. Pengaruh Penambahan Probiotik Saccharomyces cerevicae pada


Ransum Sapi Perah. Tesis Magister Sains. Program Pasca Sarjana, IPB.
Bogor.

Anderson M, Hinds P, Hurditt S, Miller P, McGrowder D, Alexander-Lindo R.


2011. The Microbial Content of Unexpired Pasteurized Milk From
Selected Supermarkets in a Developing Country. Asian Pac J Trop
Biomed.
Astuti, S. 1995. Bahan Ajar Pengetahuan Bahan Ikan, Susu, dan Telur.
Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Badan Standardisasi Nasional. 1998. SNI 01- 2782-1998. Metoda Pengujian Susu
Segar. BSN. Jakarta.

Buckle, KA., TA.E DWARDS, G.H. Gleet Dan M. Wolton. 1987. Ilmu Pangan.
Terjemahan Hari Purnomo Dan Adiono . Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Dwiari, S. R., Danik, D. A., Nurhayati, Mira, S., Sandi, F. A., dan Ida, B. K.
2008. Teknologi Pangan. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional. Jakarta.

Haidiwiyoto, S. 1994. Teori Dan Rosedur Pengujian Mutu Susu Dan Hasil
Olahannya, Liberty. Yogyakarta.

Harjadi, W. 1996. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia. Jakarta.

Hidayat, H. 2006. Pengaruh Berbagai Konsentrasi Benzaklin untuk Dipping


terhadap Total Bakteri dan H Susu. Skripsi. Fakultas Peternakan Undip.
Semarang

Julmiaty. 2002. Perbandingan Kualitas Fisik Susu Pasteurisasi Konvensional dan


Mikroware Dengan Lama Penyimpanan yang Berbeda. Skripsi. Fakultas
Peternakan. Universitas Hasanuddin. Makassar.
16

Riyadh, S. 2003. Menyingkap Tabir Susu Kuda Liar Sumbawa (studi kasus di
Kabupaten Sumbawa, NTB) [makalah]. Bogor: Program Pascasarjana.
Institut Pertanian Bogor.

Saleh, Eniza. 2004. Dasar Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Laporan
Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

Soejoedono RR, Sanjaya AW, Sudarwanto M, Purnawarman T, Lukman DW,


Latif H. 2005. Penuntun Praktikum Higiene Susu. Bogor: Fakultas
Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.

Soriah, Wahyuningsih. 2010. Hubungan Variasi Pakan terhadap Mutu Susu


Segar di Desa Pasirbuncir Kecamatan Caringin Kabupaten
Bogor. Jurnal. Jurnal Penyuluhan Pertanian volume 5 nomor 1 halaman
67-77.

Suardana, IW. dan I.B.N. Swacita. 2004. Food Hygiene. Petunjuk Laboratorium.
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, Denpasar.

Sudarwanto M,. 2005 Bahan Kuliah Hygiene Makanan (Tidak Diterbitkan).


Bagian Penyakit Hewan Dan Kesehatan Masyarakat Vetreiner FKH IPB.
Bogor

Sudono, A. 1983. Produksi Sapi Perah. Departemen Ilmu Produksi Ternak.


Fakultas Peternakan IPB. Bogor

Susilorini, T.E., dan Sawitri. 2006. Produk Olahan Susu. Penebar Swakarya.
Jakarta.

Yusuf R.2010. Kandungan Protein Susu Sapi Perah Friesian Holstein Akibat
Pemberian Pakan yang Mengandung Tepung Katu (Sauropus androgynus (l.)
Merr) Yang Berbeda. Jurnal. Jurnal Teknologi Pertanian volume 6 nomor 1
halaman 1-6.

Widodo W. 2002. Bioteknologi Fermentasi Susu. Malang. Pusat Pengembangan


Bioteknologi Universitas Muhammadiyah Malang.
susuanakku.com syarat-dan-karakteristik-kualitas-susu-yang-baik (Diakses pada
21/11/17 pukul 20.00)