Anda di halaman 1dari 33

REFERAT

GAMBARAN RADIOLOGI TULANG PADA TUNNEL SYNDROME

Disusun Oleh :

Rogayyah, S.Ked

NIM : 71 2015 034

Pembimbing :

dr. M. Salim, Sp.RAD

SMF ILMU RADIOLOGI

RUMAH SAKIT UMUM BHAYANGKARA PALEMBANG

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Carpal tunnel (terowongan karpal) terletak di bagianbawah pergelangan


tangan yang terdiri dari tulang-tulang carpal di median, dorsal, dan sisi lateral dan
terselubungi secara ventral oleh flexor retinaculum. Carpal tunnel syndrome
(CTS) atau disebut juga entrapment neuropathy adalah keadaan dimana nervus
medianus tertekan di daerah pergelangan tangan sehingga menimbulkan rasa
nyeri, parastesia, dan kelemahan pada pergelangan tangan. Hal ini berkaitan
dengan penggunaan tangan yang eksesif tak terbatas dan trauma repetitif akibat
paparan okupasi berkelanjutan 1. Beberapa penyebabnya telah diketahui seperti
trauma, infeksi, gangguan endokrin dan lain-lain, tetapi sebagian tetap tidak
diketahui penyebabnya. CTS lebih umum dijumpai pada wanita, dengan puncak
usia 42 tahun (40-60 tahun). Resiko untuk menderita CTS sekitar 10% pada usia
dewasa. Sindrom ini biasanya timbul pada orang-orang yang sering bekerja
menggunakan tangan (memanipulasi tangan), seperti memeras baju, orang yang
sering bertepuk (guru TK), pengendara motor, mengetik, olahraga taichi, sering
bermain game. Ras kaukasia memiliki resiko tertinggi terkena CTS jika
dibandingkan dengan ras yang lain. Perempuan beresiko lebih tinggi
dibandingkan laki laki dengan tingkat perbandingan sebesar 3:1 pada usia antara
45 60 tahun. Hanya sebesar 10% kasus CTS yang dilaporkan ditemukan pada
usia yang lebih muda di usia 30-an tahun. Kaum perempuan diduga memiliki
ukurang canalis carpi yang lebih kecil dibandingkan kaum laki laki.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Radiologi Tulang


Biasanya mengikuti rule of two:
a. Foto diambil dua posisi (AP dan Lateral)
b. Foto diambil bagian ekstremitas kiri dan kanan
c. Foto diambil dua persendian

Gambar 2.1 Gambaran Tulang Panjang

- Pada gambaran radiologis foto polos AP dan lateral atau dua proyeksi tampak
gambaran diskontinuetas tulang (bisa berupa garis fraktur yang lusen) pada
struktur tulang normal, utuh, padat, dan tidak porotik, periosteumnya pun licin.
Apabila terjadi fracture, terjadi soft tissue swelling
Fraktur Collum
anatomicum

Soft Tissue
Swelling

Gambar 2.2 X-Ray Humerus

- Ekspertise Menentukan ABC


o A Aligment Garis Tulang apakah baik atau tidak
o B Bone Struktur Adakah garis fraktur, sklerotik, destruksi, dll
o C Connective Tissue Adakah swelling atau pembengkakan
jaringan lunak di sekitarya

- Fraktur sendiri dibagi berdasarkan beberapa tipe:


a. Berdarkan garis patahnya ada fraktur simple dengan pola garis patah
transversal, oblique atau spiral. Bila terdiri dari dua segmen atau lebih maka
disebut fraktur kominutif. Fraktur kominuftif dengan fragmen di antara
fragmen proximal dan distal disebut dengan fraktur segmental
Gambar 2.3 Jenis Fraktur
Gambar 2.3 Jenis Fraktur-X Ray

b. Berdasarkan lokasinya, ada fraktur yang mengenai bagian distal, diaphyseal,


maupun proximal.

Beberapa gambaran fraktur yang khas


Fraktur Colles berbentuk bayinet atau garpu, merupakan fraktur radius bagian
distal dengan angulasi fragmen distal ke posterior, dapat bersifat communitif dan
disertai fraktur processus styloideus ulnae
Gambar 2.4. Fraltur Colles- Dinner Fork

Fraktur Smith
Fraktur yang berbentuk sekop kebun, ,merupakan fraktur radius bagian distal
dengan angulasi atau dis;plaso fragmen distal ke volar
Gambar 2.5. Garden Spade-Fraktur Smith

Fraktur Physeal
Fraktur yang mengenai epihyseal growth plate, dibagi oleh Salter dan Haris jadi 6
tipe yaitu
- Tipe 1: Ephypisis terpisah seluruhnya dari metaphysis. Gambaran
radiologinya terlihat garis diskontinuitas tulang (Garis fraktur yang lusen)
pada ujung tulang yang memisahkan epifisis sepenuhnya dari methapysis

Garis
Fraktur

Gambar 2.6. Salter-Haris Tipe 1

- Tipe 2: Ephypisis terpisah seluruhnya dari metaphusis disertai dengan


adanya fraktur pada metaphysis. Gambaran radiologisnya tampak garis
diskontinuitas tulang (garis fraktur yang lusen) pada ujung tulang panjang
yang memisahkan epifisis seluruhnya dan sebagian fragmen tulang Di
sekitarnya dapat dijumpai soft tissue swelling
Gambar 2.7. Salter-Harris Tipe 2

- Tipe 3: Fraktur ephupisis dan memisahkan sebagian ephipisis dari


metaphysis. Gambaran radiologisnya tampak garis diskontinuitas (garis
fraktur lusen) pada ujung tulang panjang yang memisahkan sebagian epifisis
dari ujung tulang. Dapat ditemukan soft tissue swelling di sekitar fraktur

Gambar 2.8 Salter-Harris Tipe 3


- Tipe 4: Fraktur berjalan dari ephypisis melalui growth plate hingga ke
metaphysis. Mirip dengan tipe 3 dengan tambahan metaphysis yang ikut
patah. Gambaran radiologisnya, biasanya tampak gambaran garis
diskontinuitas tulang (garis fraktur lusen) yang memisahkan sebagian epifisis
serta metaphysisnya.
Gambar 2.9. Salter-Harris Tipe 4
- Tipe 5: Terjadi kompresi pada ujung tulang sehingga epihypeseal plate
mengalami crush fracture. Pada gambaran radiologisnya tampak
penyempitan celah antara metaphisis dan ephypsisis

Gambar 2.10 Salter Harris Tipe 5

1. OSTEOMYELITIS
Osteomyelitis adalah infeksi atau radang pada tulang dan medulla spinalis. Dapat
dibagi menjadi dua jenis yaitu OM Akut dan OM Kronik.
Pada gambaran radiologis untuk Osteomyelitis Akut tampak Soft Tissue Swelling,
Pergeseran jaringan lunak subkutis, densitas tulang yang berkurang
(rarefaction)/batas kabur. Awalnya terjadi kerusakan di dekat metafise kemudian
meluas ke diafis dan menyerang korteks sehingga menyebabkan elevasi
periosteal, dan terdapat fokus destruksi yang kecil-kecil. Pada fase akut tidak
ditemukan sklerotik.

Rarefraction

Gambar 3.1 Ostemyelitis Akut

Pada gambaran radiologis Osteomyelitis Kronis terjadi destruksi tulang yang


menimbulkan sekuesterum berupa bangunan dense yang dikelilingi lusen, adanya
pembentukan tulang baru di sekitar tulang yang mengalami destruksi (involcrum).,
korteks menebal/sklerotik dan berkelok-kelok, kanalis medularis menyempit
sehingga gambaran medulla menghilang. Tidak dijumpai soft tissue swelling

Gambar 3.2. Osteomielitis Kronis


PERBEDAAN OM ACUTE-OM KRONIK

Akut Kronik

Sklerotik (-) Sklerotik (+)


Soft Tissue Swelling (+) Soft Tissue Swelling (-)
Korteks masih tetap Korteks menebal
Hanya terlihat destruksi ringan Destruksi berat +Terbentuknya tulang baru
(involucrum)

2. OSTEOARTHRITIS
Penyakit degeneratif yang umum dan terjadi pada sendi dengan ciri khas hilangnya
kartilago sendi dan pembentukan formasi tulang baru. Gambaran radiologisnya
sendiri adalah:
- Ditemukannya penyempitan celah sendi (tergantung beban yang diterima
tulang)
- Tulang menjadi porotik yang ditandai dengan corpus yang semakin pipih
- Biasanya timbul osteofit atau spurs formation (pertulangan baru), terdapat
bridging (penyambungan) dari satu osteofit ke osteofit lain.
- Terlihat adanya sklerosis pada sendi dan deformitas pada tulang, serta erosi
sebagian tulang rawan
- Bila sudah fase yang berat (Grade 4) dapat timbul kista

Tabel 4.1. Grade Osteoarhtritis dan gambaran radiologisnya

Grade Gambaran

I Spurs Formation (osteofit), penyempitan celah sendi (-)

II Spurs Formation + Penyempitan celah sendi (+)

III Spurs Formation + Penyempitan Celah Sendi + Sklerosis

IV Spurs Formation + Penyempitan Celah + Sklerosis + Kista + Deformitas


Gambar 4.1. Osteoarthritis Grade 1-4

3. OSTEOCHONDROMA
Osteochondroma merupakan tumor bersifat jinak yang berasal dari komponen tulang
(osteosit) dan komponen tulang rawan (kondrosit). Gambaran radiologisnya sendiri
adalah penonjolan tulang yang menjauhi sendi dengan korteks dan spongiosa normal.
Penonjolan ini berbentuk seperti cauliflower (bunga kol). Densitas penonjolan tulang
inhomogen dan bisa tampak kalsifikasi berupa bercak opak.

Caulifl
ower

Gambar 5.1 Osteochondroma

4. OSTEOSARKOMA
Merupakan tumor ganas primer asal mesenkimal tulang berupa penumbuhan tidak
terkendali dari osteoclast dan osteoblast. Pada gambaran radiologis, osteosarkoma
dibagi menjadi bentuk osteolitik (osteoklastik) dan osteogenik (osteoblastik).
Gambaran radiologisnya adalah:
- Osteolitik
Tumor tumbuh dari metaphisis ke diaphisis, reaksi periosteal (+) dan terjadi
destruksi korteks. Adanya gambaran spikula dan Codmann Triangless
(segitiga codmann) yang di dalamnya dapat terjadi klasifikasi dan
pembengkakan

Gambar 6.1 Ostesarcoma-Codman Triangle

- Osteogenik
Tumor tampak lebih putih dengan batas irreguler, dan dapat terjadi
kalsifikasi jaringan lunaksehingga menyebabkan peningkatan densitas. Dapat
dilihat adanya gambaran reaksi periosteal berupa sunray dan sunburst
appearance (seperti sinar matahari).

Gambar 6.2 Osteosarcoma-Sunray/Sunburst Appearence

5. METASTASE TULANG
Metastasis tulang merupakan penyebaran sel kanker dari kanker primernya ke tulang.
Gambaran radiologisnya sendiri terdapat beberapa bentuk osteolitik, osteosklerotik,
maupun kombinasi antara keduanya. Ada beberapa tipe sklerotik yang gambarannya
radioopak berbatas tidak tegas (irregular). Untuk mengetahui metastase berasal
darimana tanyakan dan perhatikan terlebih dahulu keluhan dan hasil pemeriksaan
pasien

Gambar 7.2 Metastasis Ca Paru ke Tulang

6. GIANT CELL TUMOR (OSTEOCLASTOMA)


Suatu neoplasma yang terbentuk sebagai akibat proliferasi sel stromal mononuklear
Pada gambaran radiologisnya tampak lesi radiolusen (litik) pada ujung tulang panjang
dengan batas tidak tegas dan hilangnya trabecula, selain itu terdapat juga septa di
dalamnya. Bisa terdapat multinucleated giant cell (foam like appearance).

Lesi Radiolusen
Giant Cell

Gambar 8.1 Osteclastoma


7. BONE CYST
Kista tulang bukan merupakan neoplasma, namun gambaran radiologisnya tampak
seperti tumor jinak Gambaran radiologisnya adalah tampak bayangan radiolusen
pada tulang dengan batas tegas dan tepi sklerotik. Korteks menipis dan kadang
mengembung keluar. Lesi dapat unilokuler atau multilokuler
Gambar 9.1 Bone Cyst

2.2 Tunnel Syndrome


A. Anatomi
Secara anatomis, canalis carpi (carpal tunnel) berada di dalam dasar
pergelangan tangan. Sembilan ruas tendon fleksor dan N. Medianus
berjalan di dalam canalis carpi yang dikelilingi dan dibentuk oleh tiga sisi
dari tulang tulang carpal. Nervus dan tendon memberikan fungsi,
sensibilitas dan pergerakan pada jari jari tangan. Jari tangan dan otot
otot fleksor pada pergelangan tangan beserta tendon tendonnya berorigo
pada epicondilus medial pada regio cubiti dan berinsersi pada tulang
tulang metaphalangeal, interphalangeal proksimal dan interphalangeal
distal yang membentuk jari tangan dan jempol. Canalis carpi berukuran
hampir sebesar ruas jari jempol dan terletak di bagian distal lekukan dalam
pergelangan tangan dan berlanjut ke bagian lengan bawah di regio cubiti
sekitar 3 cm.
Tertekannya N. Medianus dapat disebabkan oleh berkurangnya ukuran
canalis carpi, membesarnya ukuran alat yang masuk di dalamnya
(pembengkakan jaringan lubrikasi pada tendon tendon fleksor) atau
keduanya. Gerakan fleksi dengan sudut 90 derajat dapat mengecilkan
ukuran canalis.
Penekanan terhadap N. Medianus yang menyebabkannya semakin
masuk di dalam ligamentum carpi transversum dapat menyebabkan atrofi
eminensia thenar, kelemahan pada otot fleksor pollicis brevis, otot
opponens pollicis dan otot abductor pollicis brevis yang diikuti dengan
hilangnya kemampuan sensorik ligametum carpi transversum yang
dipersarafi oleh bagian distal N. Medianus.
Cabang sensorik superfisial dari N. Medianus yang mempercabangkan
persarafan proksimal ligamentum carpi transversum yang berlanjut
mempersarafi bagian telapak tangan dan ibu jari.
CT dibentuk oleh :
1. Atas : ligamentum carpi transversum (bagian dari. flexor
retinaculum yang membentang dari Os. Scapoideum dan
trapezoideum ke arah medial menuju Os. Piriformis & hamatum)
2. Lateral (radial) : Os naviculare dan tuberculum os trapezium.
3. Medial (ulnar) dibatasi oleh : Os. pisiformis dan os hamatum.
CT berisi :
1. 4 Mm Fleksor Digitorum Superfisialis,
2. 4 Mm Fleksor Digitorum Profundus,
3. 1 M Fleksor Carpi Radialis,
4. 1 N Medianus.

Anatomi Nervus Medianus


Serabut - serabut saraf yg membentuk N. medianus berasal dari saraf
spinal C5-C8 dan Th 1 dari pleksus brakhialis, dibentuk oleh cabang
lateralis fasciculus medialis dan cabang medial dari fasciculus lateralis
dimana kedua cabang tersebut bersatu pada tepi bawah M. Pectoralis
minor.

Serabut motorik N. medianus mempersyarafi otot lengan bawah:


1. M. Pronator teres
2. M. Palmaris longus
3. M. Fleksor Carpi Radialis
4. M. Fleksor digitorum superficialis
5. M. Fleksor digitorum profundus
6. M. Pronator kuadratus
7. M. Fleksor Polisis longus
Serabut motorik N. Medianus yg mempersyarafi otot otot tangan M.
Fleksor polisis brevis, M. Oponen polisis, M. abductor polisis brevis,
Mm. Lumbricalis I dan II
Serabut sensorik N. Medianus:
1. Bagian Palmar ibu jari, jari telunjuk, jari tengah, dan bagian radial jari
manis, serta ujung ujung distal dari jari yang sama.
2. Bagian dorsal tangan sampai dengan Phalang kedua jari telunjuk, jari
tengah dan setengah dari jari manis.
Di dalam CT tersebut N. Medianus terletak langsung di bawah ligamentum
karpi transversum dan sebelumnya terletak di belakang dari tenson
palmaris longus.

B. Definisi CTS
Sindroma Carpal Tunnel merupakan suatu kumpulan gejala yang
disebabkan karena tekanan pada nervus medianus dan nervus ulnaris di
Carpal Tunnel. Adapun definisi lain yaitu neuropati tekanan atau jeratan
terhadap nervus medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan
tangan, tepatnya di bawah fleksor retinakulum. Dulu, sindroma ini juga
disebut dengan nama acroparesthesia, median thenar neuritis atau partial
thenar atrophy.
Terowongan karpal terdapat di bagian sentral dari pergelangan tangan
di mana tulang dan ligamentum membentuk suatu terowongan sempit
yang dilalui oleh beberapa tendon dan nervus medianus. Tulang-tulang
karpalia membentuk dasar dan sisi-sisi terowongan yang keras dan kaku
sedangkan atapnya dibentuk oleh fleksor retinakulum (transverse carpal
ligament dan palmar carpal ligament) yang kuat dan melengkung di atas
tulang-tulang karpalia tersebut. Setiap perubahan yang mempersempit
terowongan ini akan menyebabkan tekanan pada struktur yang paling
rentan di dalamnya yaitu nervus medianus.2

C. Epidemiologi
Menurut penelitian CTS lebih sering terjadi pada wanita. CTS adalah
entrapment neuropathy yang paling sering dijumpai 1.5-11. Nervus
medianus mengalami tekanan pada saat berjalan melalui terowongan
karpal di pergelangan tangan menuju ke tangan. Penyakit ini biasanya
timbul pada usia pertengahan. Umumnya pada keadaan awal bersifat
unila~ral tetapi kemudian bisa juga bilateral. Biasanya lebih berat pada
tangan yang dominan. Pada beberapa keadaan tertentu, misalnya pada
kehamilan, prevalensinya sedikit bertambah.2
Prevalensi CTS bervariasi. Di Mayo Clinic, pada tahun 1976-1980
insidensnya 173 per 100.000 pasien wanita/tahun dan 68 per 100.000
pasien pria/tahun. Di Maastricht, Belanda, 16% wanita dan 8 % pria
dilaporkan terbangun dari tidurnya akibat parestesi jari-jari. 45% wanita
dan 8% pria yang mengalami gejala ini terbukti menderita CTS setelah
dikonfirmasi dengan pemeriksaan elektrodiagnostik 1. Pada populasi
Rochester, Minnesota, ditemukan rata-rata 99 kasus per 100.000 penduduk
per tahun. Sedangkan Hudson dkk menemukan bahwa 62% entrapment
neuropathy adalah CTS.

D. Diagnosa
Diagnosa STK ditegakkan selain berdasarkan gejala-gejala di atas juga
didukung oleh beberapa pemeriksaan yaitu :
1. Pemeriksaan fisik
Harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita dengan
perhatian khusus pada fungsi, motorik, sensorik dan otonom tangan.
Beberapa pemeriksaan dan tes provokasi yang dapat membantu
menegakkan diagnosa CTS adalah 4 :
a. Flick's sign. Penderita diminta mengibas-ibaskan tangan atau
menggerak-gerakkan jari-jarinya. Bila keluhan berkurang atau
menghilang akan menyokong diagnosa CTS. Harus diingat bahwa
tanda ini juga dapat dijumpai pada penyakit Raynaud.
b. Thenar wasting. Pada inspeksi dan palpasi dapat ditemukan
adanya atrofi otot-otot thenar.
c. Menilai kekuatan dan ketrampilan serta kekuatan otot secara
manual maupun dengan alat dinamometer. Penderita diminta
untuk melakukan abduksi maksimal palmar lalu ujung jari
dipertemukan dengan ujung jari lainnya. Di nilai juga kekuatan
jepitan pada ujung jari-jari tersebut. Ketrampilan/ketepatan dinilai
dengan meminta penderita melakukan gerakan yang rumit seperti
menulis atau menyulam.
d. Wrist extension test. Penderita melakukan ekstensi tangan secara
maksimal, sebaiknya dilakukan serentak pada kedua tangan
sehingga dapat dibandingkan. Bila dalam 60 detik timbul gejala-
gejala seperti CTS, maka tes ini menyokong diagnosa CTS.
e. Phalen's test. Penderita melakukan fleksi tangan secara maksimal.
Bila dalam waktu 60 detik timbul gejala seperti CTS, tes ini
menyokong diagnosa. Beberapa penulis berpendapat bahwa tes ini
sangat sensitif untuk menegakkan diagnosa CTS.
f. Torniquet test. Dilakukan pemasangan torniquet dengan
menggunakan tensimeter di atas siku dengan tekanan sedikit di
atas tekanan sistolik. Bila dalam 1 menit timbul gejala seperti
CTS, tes ini menyokong diagnosa.
g. Tinel's sign. Tes ini mendukung diagnosa hila timbul parestesia
atau nyeri pada daerah distribusi nervus medianus kalau dilakukan
perkusi pada terowongan karpal dengan posisi tangan sedikit
dorsofleksi.
h. Luthy's sign (bottle's sign). Penderita diminta melingkarkan ibu
jari dan jari telunjuknya pada botol atau gelas. Bila kulit tangan
penderita tidak dapat menyentuh dindingnya dengan rapat, tes
dinyatakan positif dan mendukung diagnosa.
i. Pemeriksaan sensibilitas. Bila penderita tidak dapat membedakan
dua titik (two-point discrimination) pada jarak lebih dari 6 mm di
daerah nervus medianus, tes dianggap positif dan menyokong
diagnosa.

2. Pemeriksaan neurofisiologi (elektrodiagnostik)


a. Pemeriksaan EMG dapat menunjukkan adanya fibrilasi, polifasik,
gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otot-
otot thenar. Pada beberapa kasus tidak dijumpai kelainan pada otot-
otot lumbrikal. EMG bisa normal pada 31 % kasus CTS. 4
b. Kecepatan Hantar Saraf (KHS). Pada 15-25% kasus, KHS bisa
normal. Pada yang lainnya KHS akan menurun dan masa laten
distal (distal latency) memanjang, menunjukkan adanya gangguan
pada konduksi safar di pergelangan tangan. Masa laten sensorik
lebih sensitif dari masa laten motorik. 4

E. Pemeriksaan radiologis.
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu
Elektromyographic (EMG) dan nerve conduction
yang direkomendasikan. Pemeriksaan ini untuk mengevaluasi
penyebab dari tarsal tunnel syndrome dan untuk memastikan
adanya neuropathy. Pemeriksaan EMG menunjukkan fungsi dari
saraf tibialis posterior bagian distal sampai ke otot dari abductor
hallicus . intrepretasi dari pemeriksaan ini yaitu (1) pemanjangan
dari masa laten dari bagian distal motoric : terminal latensi dari otot
abductor diqiti quinti (saraf medial lateral) yang lebih dari 7 ms
adalah abnormal, (2) terminal latensi dari otot abductor hallicus
(saraf medial plantar) lebih dari 6,2 ms adalah abnormal, (3) adanya
fibrilasi dari otot abductor hallicus juga dapat ditemukan.
Untuk pemeriksaan radiologi, yaitu plain X-ray untuk
menilai abnormalitas dari tulang pada terowongan karpal. MRI
(Magnetic Resonance Imaging) efektif untuk menilai isi dari
terowongan karpal

USG antenatal
a. higroma kistik: mungkin tampak septasi; salah satu fitur paling
khas dari sindrom Turner
b. ketebalan nuchal meningkat
c. meningkatkan tembus pandang nuchal
d. koarktasio aorta: 15-20%
e. katup aorta bikuspid
f. ginjal tapal ginjal / ginjal panggul
g. IUGR ringan
h. fitur yang berkaitan dengan penyulit hydrops fetalis
i. anggota badan janin pendek

Fitur pascapersalinan-ke-dewasa
Musculoskeletal
a. Skoliosis
b. Metacarpal 4 singkat: tanda metakarpal positif
Gambar 1. Xray tangan seorang gadis dengan sindrom Turner,
menunjukkan temuan karakteristik metakararpum keempat yang
pendek dengan tanda metakarpal positif. Perhatikan juga deformitas
Madelung. Dalam tanda metakarpal, garis yang ditarik di sepanjang
kepala metakarpal ke-4 dan ke-5 akan memotong kepala metacarpal
ke-3 jika memperpendek ada. The metacarpal ke-4 dipersingkat adalah
kunci tanda.

c. Menyempitkan sudut scapholunate: tanda karpal positif


d. kondilus femoralis medial abnormal
e. Penurunan sudut karpal: kelainan bentuk Madelung
f. Perawakan pendek
g. leher berselaput
h. kelainan valgus siku: sudut pembawa yang meningkat (cubitus
valgus)
Ultrasound panggul
a. rahim bergaris
b. streak indung telur
MRI adalah alat pencitraan penting untuk menetapkan
diagnosis sindrom Pendarahan-Turner. Selain tidak memasukkan
penyebab nyeri bahu yang lebih umum seperti manset rotator manset,
sindrom pelampiasan, atau robekan labral, MRI sensitif untuk
mendeteksi sinyal normal pada otot korset bahu yang berhubungan
dengan denervasi. MRI juga memberikan keuntungan untuk
menyingkirkan ketidakstabilan struktural yang dapat menyebabkan
perubahan denervasi serupa pada otot manset rotator seperti manset
rotator atau massa spinoglenoid dan supraskapular. Dalam rangkaian
kami, penemuan MRI mencakup berbagai macam kelainan sinyal T1
dan T2.
Perubahan intramuskular yang diamati pada pasien dengan
sindrom Parsonage-Turner mencerminkan perubahan denervasi dan
bervariasi dengan stadium penyakit . Kami menggunakan dua protokol
pencitraan dalam sekejap karena indikasi pencitraan pleksus brakialis
atau bahu bervariasi. Oleh karena itu, kami memiliki beberapa
keterbatasan saat membandingkan pasien yang dicitrakan dengan
pleksus brakialis versus yang dicitrakan dengan protokol bahu. FOV
lebih besar untuk protokol pleksus brakialis dan mencakup lebih
banyak kelompok otot daripada FOV yang lebih kecil yang digunakan
untuk protokol bahu. Selain itu, edema otot dievaluasi dengan
menggunakan rangkaian inversi reklamasi dalam protokol pleksus
brakialis dan menggunakan rangkaian spin-echo cepat T2 tertimbang
dengan saturasi lemak pada bahu pro- tocol. Meskipun perbedaan
dalam protokol ini menghasilkan sedikit perbedaan sensitivitas untuk
mendeteksi intensitas sinyal intramuskular yang berubah, kami tidak
menganggapnya sebagai batasan yang signifikan dari penelitian ini.
Kedua urutan sensitif mendeteksi edema intramuskular, dan gambar
dievaluasi hanya untuk kejadian atau tidak adanya edema.
Penilaian infiltrasi lemak pada otot juga bervariasi antara dua
proto- cols karena gambar tertimbang T1 digunakan dalam
pemeriksaan pleksus brakialis dan gambar kepadatan proton T2 tanpa
saturasi lemak digunakan pada protokol bahu. Namun, ini tidak
membatasi analisis citra karena infiltrasi lemak dapat dinilai secara
tepat dengan membandingkan gambar kepadatan kepadatan T2 tanpa
saturasi lemak dengan gambar spin-echo tertimbang T2 yang sesuai
dengan saturasi lemak.
Mekanisme dan waktu dari perubahan intensitas sinyal MRI
pada otot skelet yang dibedakan tidak sepenuhnya dipahami. Pada fase
akut denervasi, intensitas sinyal otot mungkin normal dengan MRI.
Perubahan terdeteksi paling awal

A B
Gambar 2-38 tahun pria dengan nyeri ringan dan paresthesia sepanjang
sisi lateral lengan.A.gambar spin-echo bergantian Aksial T2 dengan
saturasi lemak bahu kanan menunjukkan sinyal T2 meningkat (panah)
di sepanjang otot infraspinatus yang kompatibel dengan edema.
B.gambar spin-echo bergantian Aksial T1 menunjukkan tidak ada
atrofi yang terdeteksi atau infiltrasi lemak otot infraspinatus (panah)

A B
Gambar 3- Pria berusia 3-39 tahun dengan rasa sakit dan parestesia di
bahu kanan dan ekstremitas atas. A. gambar spin-echo bergantian
Axial T2 dengan bahu kanan dengan saturasi lemak menunjukkan
sinyal T2 meningkat sepanjang infraspinatus (I), subskapularis (S), dan
bagian deltoid (D) otot yang kompatibel dengan edema. B. gambar
spin-echo bertipe T1 tertimbang langsung menunjukkan atrofi ringan
dan infiltrasi lemak pada otot yang terkena: otot-otot infraspinatus (I),
subskapularis (S), dan deltoid (D).

Pada otot yang dibedakan adalah sinyal berbobot T2 yang


difusif (karena edema), yang mungkin terjadi tanpa perubahan sinyal
tertimbang T1. Pada fase subakut dan kronis denervasi, kelainan sinyal
tertimbang T2 bertahan dan otot otot dapat berkembang. Perubahan
atrofi pada otot tercermin dari penurunan massa otot dan peningkatan
sinyal intramuskular, linear, T1-weighted karena infiltrasi lemak.
Perubahan sinyal intramuskular MRI dan gejala klinis dapat kembali
normal dalam beberapa bulan setelah fase kronis.
Perubahan sinyal MRI untuk pasien dengan sindroma Parson-
Turner telah dijelaskan dalam beberapa penelitian dengan
menggunakan rangkaian pasien kecil. Helms dkk. melaporkan
peningkatan sinyal tertimbang T2 pada supraspinatus, in- fraspinatus,
dan otot deltoid pada awal pemberian tiga pasien dengan sindrom
Parsonage Turner. Perubahan tertimbang T1 pada atrofi tanpa infiltrasi
lemak selama follow-up juga dijelaskan. Sampai saat ini, tidak ada
penelitian besar yang melaporkan fitur MRI pasien dengan sindrom
Parsonage-Turner telah dipublikasikan, sepengetahuan kami.
Bertepatan dengan penelitian kami, Gaskin dan Helms melaporkan
temuan MRI terhadap 27 pasien dengan sindrom Parsonage-Turner;
Sepengetahuan kami, penelitian mereka adalah rangkaian terbitan
terbesar sampai saat ini
A B

C
Gambar 4-18 tahun pria dengan nyeri bahu dan kelemahan ekstrem kiri atas
yang progresif. Gambar A dan B, Oblique sagittal (A) dan aksial (B) T2
dengan saturasi lemak menunjukkan peningkatan sinyal T2 pada otot
supraspinatus (S) dan infraspinatus (I). C, gambar tertimbang aksial T1
menunjukkan atrofi otot infraspinatus (kepala panah)

4. Pemeriksaan laboratorium. Bila etiologi CTS belum jelas, misalnya pada


penderita usia muda tanpa adanya gerakan tangan yang repetitif, dapat dilakukan
beberapa pemeriksaan seperti kadar hormon tiroid ataupun darah lengkap.

BAB III

KESIMPULAN

Carpal Tunnel Syndrome (CTS) terjadi akibat penekanan nervus medianus


di dalam terowongan karpal. Sindrom ini sering terjadi pada gerakan mencuci
pakaian, mengepel lantai, kehamilan (bilateral), dll. Gejala yang ditimbulkan
adalah rasa baal dan kesemutan, nyeri yang menjalar atau meluas dari pergelangan
tangan ke bahu atau turun ke telapak tangan. Beberapa kondisi yang dapat
memicu timbulnya carpal tunnel syndrome, antara lain: obesitas, hipotiroidisme,
arthritis, diabetes dan trauma.
Secara klinis CTS didiagnosis dengan kriteria yaitu rasa nyeri yang berupa
kesemutan, rasa terbakar dan baal pada jari I, II, III dan setengah bagian lateral
jari IV dengan onset terjadi di waktu malam hari atau dini hari. Pada keadaan
yang berat, rasa nyeri dapat menjalar hingga ke lengan atas dan terdapat atrofi
pada otot thenar. Penegakan diagnosis baru dilakukan jika telah dilakukan tes
provokasi berupa Tes Phalen dan tes Tinel.

Untuk mencegah terjadinya carpal tunnel syndrome akibat aktivitas


repetitif yang menimbulkan rasa baal dan nyeri, perlu dilakukan gerakan
meregang pergelangan tangan, tangan dan jari tangan. Selain itu, pengobatan yang
efektif bagi penderita carpal tunnel syndrome dengan menggunakan splint (balut
tangan), injeksi kortikosteroid dan pembedahan.
DAFTAR PUSTAKA

1. M Brust, John C. Current Diagnosis and Treatment Neurology. Edisi


kedua. Lange. 2012;h.296-297

2. Rambe, Aldy S. Sindrom Terowongan Karpal (Carpal Tunnel Syndrome).


Available at :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3459/1/penysaraf-
aldi2.pdf. Accesed on : 19 April 2013

3. Misbach, Jusuf. Sitorus, Freddy. AS Ranakusuma, Teguh, et al. Panduan


Pelayanan Medis Departemen Neurologi RSCM. 2007;h.76

4. George, Dewanto. Riyanto, Budi. Turana, Yuda, et al. Panduan Praktis


Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Saraf. 2009;h.120-123

5. Tana, Lusianawaty. Sindrom terowongan karpal pada pekerja: pencegahan


dan pengobatannya. J Kedokter Trisakti. September-Desember 2003, Vol
22 No.3