Anda di halaman 1dari 12

PENGAMATAN KAPANG KELAS BASIDIOMYCETES

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikologi


Yang dibimbing oleh Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd & Sitoresmi
Prabaningtyas, S.Si, M.Si

Oleh
Kelompok I / Offering GHIP-2015
1. Fahrun Nisa (150342605770)
2. Faiza Nur Imawati N. (150342607763)
3. Farhana H. R (150342607533)
4. Siti Nur Khoriatin (150342600290)
5. Uun Rohmawati (150342604651)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
JURUSAN BIOLOGI
November 2017
PENGAMATAN KAPANG KELAS BASIDIOMYCETES
A. Topik
Pengamatan Kapang Kelas Basidiomycetes
B. Tanggal Praktikum
Rabu, 8 November 2017
C. Tujuan
a. Untuk mengetahui ciri-ciri morfologi koloni jamur yang termasuk dalam
kelas Basidiomycetes
b. Untuk mengetahui ciri-ciri sitologi jamur yang termasuk dalam kelas
Basidiomycetes
D. Dasar Teori

Fungi (jamur) merupakan organisme yang bersifat eukariotik, sel-selnya


mempunyai dinding sel yang tersusun dari kitin. Fungi tidak memiliki klorofil
sehingga bersifat heterotrof dengan hidup secara parasit, sporofit dan mutual. Fungi
ada yang uniseluler dan multiseluler. Fungi multiseluler tersusun atas benang-
benang hifa membentuk anyaman yang disebut miselium. Hifa pada fungi ada yang
bersekat (septum) tetapi ada juga yang tidak (aseptum) sehingga mempunyai
banyak inti yang disebut senositik. Miselium dapat dibedakan menjadi Miselium
generatif (untuk menyerap makanan) dan miselium vegetatif (untuk reproduksi).
(Tjitrosoepomo. 1989).
Pada umumnya jamur-jamur yang tergolong dalam kelas Basidiomycetes
mempunyai ukuran yang makroskopik. Jamur-jamur ini mempunyai tubuh buah
relative besar dan tumbuh pada substratnya, Fungi (Basidiomycota) yang berbentuk
seperti payung, terdiri dari bagian yang tegak (batang) dan bagian yang mendatar
atau membulat. Secara teknis biologis, tubuh buah ini disebut basidium. Beberapa
jamur aman dimakan manusia bahkan beberapa dianggap berkhasiat obat, dan
beberapa yang lain beracun (Cooke, 1961).
Jamur makrokopis sering tumbuh di tanah hutan karena terdapat humus yang
berlimpah, namun tidak jarang jamur makro dapat tumbuh di padang rumput, di
bukit pasir, di tanah, atau pada kotoran hewan (Reid, 1980).
Kelas Basidiomycetes menghasilkan spora seksual basidiospora yang yang
dihasilkan oleh basidium, basidium terdapat pada tempat yang disebut basidiokarp.
Basidiomycetes memiliki hifa yang bersekat. Dan membentuk miselium
padat.(Subandi, 2010). Beberapa contoh kelas Basidiomycetes antara lain
Auricularia volytricha (jamur kuping) dan Pleurotus ostreatus (jamur tiram)
(Subandi, 2010)
Auricularia auricula umumnya kita kenal sebagai jamur kuping. Jamur ini
disebut jamur kuping karena bentuk tubuh buahnya melebar seperti daun telinga
manusia (kuping). Jamur kuping merupakan salah satu konsumsi jamur yang
memiliki sifat saat dikeringkan lama, kemudian direndam dengan air dalam waktu
relatif singkat akan kembali seperti bentuk dan ukuran segarnya, sedangkanjamur
tiram merupakan jamur yang makroskopis. Tubuh buah jamur berbentuk seperti
payung dengan tangkai yang letaknya sentral. Tudung jamur tiram berbentuk agak
membulat, lonjong dan melengkung seperti cangkang tiram (Dicky, 2011).
E. Alat dan Bahan
Alat Bahan
- Mikroskop - Jamur Auricula auricularia
- Kaca Benda - Jamur Pleurotus ostreatus
- Kaca Penutup - Aquades
- Pipet - Larutan Laptophenol Cotton
- Silet Blue

F. Prosedur Kerja
Disediakan kaca benda dan kaca penutup besih

Dibuat irisan tipis pada bisidiokarp jamur Aricula auricularia dan


Volvariella volvacea yang kemudian irisan tersebut diletakkan di atas kaca
benda

Diteteskan aquades pada kaca benda tersebut dan kemudian ditutup


menggunakan kaca penutup

Diamati di bawah mikroskop. Jika pengamatan tidak jelas, maka preparat


jamur yang sudah dibuat ditambahkan satu tetes larutan laptophenol cotton
blue

Selain mengamati secara mikroskopis. Dilakukan pengamatan jamur kelas


Basidiomycetes secara morfologi beserta substrat dia tumbuh

Digambar hasil pengamatan morfologi dan mikroskopis serta diberikan


keterangan bagian-bagian jamur tersebut
G. Data Pengamatan
Pengamatan Morfologi Jamur Kelas Basidiomycetes

Jamur Kuping (Auricularia Jamur Tiram ( Pleurotus


No. Ciri Yang Diamati ostreatus)
auricula )
1. Ada tidaknya tudung Ada Ada

Basidiokarp (Tudung)

2. Warna Tudung Coklat Putih

3. Ada tidaknya stipe Ada Ada

Stipe
4. Warna Stipe Coklat Putih

5. Substrat Baglog Baglog

Baglog
Pengamatan Mikroskopis Jamur Kelas Basidiomycets

NO Gambar Pengamatan Gambar Referensi Keterangan

1. Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) 1. Paraphysis


2. Basidium
3. Basidiospora

Sumber : Alexopoulos CJ, Mims CW, Blackwell


M. 1996. Introductory Mycology. 4th ed. John
3
1 Wilay and Sons, New York.
2
Perbesaran : 40 x 10
2. Basidiospora Jamur Tiram (Pleurotus Basidiospora pada
ostreatus) jamur tiram(Pleurotus
ostreatus) terdapat
anulus

Basidiospora

Sumber : Kumar,R., Tapwal,A., Pandey,S.,


Borah, R.K., Borgohain,J. 2013. Macro fungal
Perbesaran : 40 x 10
diversity and nutrient content of some edible
mushrooms of Nagaland, India. India: Forest
Research Institute.
3 Basidiokarp Jamur Kuping 1. Basidiospora
(Auricularia auricula) 2. Basidium

2 Sumber : Kumari,B., Upadhyay,RC., Atri,NS.


2013. Auricularia olivaceus: a new species from
Perbesaran : 40 x 10 Nort India. Punjab : Punjaby University
4. Basidiospora Jamur kuping Basidiospora pada
(Auricularia auricula) jamur kuping
(Auricularia auricula)
tidak terdapat anulus

Perbesaran : 40 x 10
Sumber : Kumar,R., Tapwal,A., Pandey,S.,
Borah, R.K., Borgohain,J. 2013. Macro
fungal diversity and nutrient content of some
edible mushrooms of Nagaland, India. India:
Forest Research Institute.

H. Analisis Data

Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan kapang kelas


Basidiomycetes. Kapang kelas Basidiomycetes yang digunakan dalam praktikum
ini terdiri dari dua macam yaitu jamur kuping (Auricularia auricula) dan jamur
tiram (Pleurotus ostreatus), dimana masing-masing jamur diamati morfologi dan
mikroskopisnya. Berikut ini uraian data yang didapatkan praktikan.

Pada pengamatan secara mikroskopis, masing-masing jamur dibuat preparat


terlebih dahulu dengan cara mengiris setipis mungkin bagian tubuh basidiokarp
yang kemudian diletakkan di atas kaca benda dan diteteskan aquades serta ditutup
dengan kaca penutup. Setelah preparat sudah jadi, dilakukan pengamatan di bawah
mikroskop. Ketika hasil dibawah mikroskop tidak jelas, diteteskan larutan
laptophenol cotton blue di preparat tersebut. Penggunaan Lactophenol cotton blue
dalam memberi warna pada jamur ini, memungkinkan spesimen untuk dapat
dengan mudah divisualisasikan dengan mikroskop. Komposisi dari Lactophenol
cotton blue sendiri yaitu kristal dan cotton blue yang berfungsi untuk memberi
warna pada kapang.

Hasil yang didapatkan dalam pengamatan jamur kuping dengan perbesaran


40x10 ini terlihat adanya trikoma berbentuk seperti rambut-rambut yang tumbuh
pada permukaan luar dari epidermis bagian basidiokarp. Selain itu juga terlihat
adanya basidium dan basidiokarp. Basidium pada jamur kuping ini berbentuk
seperti gada, dimana basidium akan menghasilkan spora yang disebut juga dengan
basidiospora. Pada pengamatan Basidiospora jamur kuping ini terlihat lonjong. Dan
untuk pengamatan secara morfologi jamur kuping ini memiliki tubuh jamur
bewarna coklat tua kemerahan dan berbentuk mirip dengan daun telinga manusia.
Jamur kuping ini bertekstur kenyal yang hidup pada baglog yang sudah berisi
nutrisi dari serbuk pohon.

Dan hasil pengamatan secara morfologi pada jamur tiram yaitu bagian tubuh
terdiri dari akar semu (rhizoid), tangkai (stipe), insan (lamella) dan tudung
(pileus/cap). Jamur tiram ini memliki warna putih pada tubuh buahnya. Tangkai
bercabang dan tudungnya bulat seperti cangkang tiram. Permukaan jamur tiram ini
licin dan bagian tepinya agak bergelombang. Dan pada pengamatan mikroskopis
pada jamur tiram ini bagian yang terlihat hampir sama dengan jamur kuping yaitu
adanya basidium dan basidiospora. Basidium pada jamur tiram juga berbentuk
gada. Pada pengamatan terlihat setiap basidium ada yang hanya terlihat dua
basidiospora dan ada yang empat basidiospora. Bentuk Basidiospora pada jamur
tiram ini berbeda dengan jamur kuping. Pada jamur kuping basidiospora berbentuk
lonjong, sedangkan pada jamur tiram berbentuk bulat dan terlihat adanya anulus.
Dan pada jamur tiram ini tidak ada trikoma seperti pada jamur kuping.

I. Pembahasan

Pada jamur kuping ini terdapat tudung di bagian depan yang berspora dan
lamella di bagian belakang. Permukaan luar licin, agak mengkilat dan berurat,
berwarna cokelat muda sampai cokelat, menjadi kehitaman jika mengering.
Permukaan dalam licin sampai agak berkerut, bergelatin jika basah, berwarna
kuning coklat, coklat keabu-abuan, dan menjadi hitam jika kering, tangkai
menempel pada substrat. Menurut Wiardani (2010), jamur kuping memiliki tangkai
buah yang pendek dan menempel pada substrat. Tangkai pendek atau tidak ada atau
mengalami rudimen(Gunawan, 2008). Spora berwarna putih,terletak di permukaan
dan biasanya pada permukaan bagian bawah, berukuran 12-8 x 4-8 mikron,
berbentuk licin.Pada pengamatan mikroskopis terlihat basidium yang akan
menghasilkan spora yang disebut juga dengan basidiospora. Basidium mempunyai
sekat melintang sebanyak tiga buah (Hendritomo, 2010).Menurut Djarijah (2001),
basidiospora akan tumbuh menjadi miselium yang akan dewasa dan dilengkapi
basidiocarp, jamur kuping mencapai dewasa jika panjang basidiocarpnya mencapai
10 cm.
Jamur kuping dapat tumbuh pada baglog dikarenakan mendapatkan nutrisi
dari serbuk kayu serta faktor nutrisi lain dari lingkungan seperti air, cahaya, suhu
dan kelembapan udara. Enzim mencerna senyawa kayu yang dilubangi sekaligus
menjadi zat makanan bagi jamur (Djarijah, 2001). Jamur akan mengeluarkan enzim
untuk merombak nutrisi dari kayu berupa senyawa kompleks menjadi senyawa
sederhana. Pertumbuhan jamur dalam substrat bergantung pada kandungan air,
apabila air kurang maka jamur tumbuh kurang optimal dan pertumbuhan miselium
sedangkan jika terlalu banyak air menyebabkan busuk pada bagian akar. Menurut
Cahyana (2002), kadar air dalam media tumbuh berkisar antara 50-60 % dengan
penambahan air bersih. Pertumbuhan miselium jamur kuping pada suhu 10-36C,
suhu optimal 20-34C, pembentukan tubuh buah pada suhu 15-28C dan suhu
optimalnya 24-27C (Hendritomo, 2010). Cahaya berfungsi untuk pertumbuhan
spora dari jamur kuping.
Pada jamur tiram memiliki permukaan yang licin, pada bagian tepi
bergelombang memiliki tudung melengkung seperti cangkang tiram dan berwarna
putih, terdapat stipe atau tangkai semu. Pada jamur muda seringkali bergelombang
atau bercuping (Cahyana et al., 2002).Ukuran tangkai dapat mencapai 2-6 cm,
bergantung pada kondisi lingkungan (Djarijah, 2001). Menurut Tjitrosoepomo
(2011),tepi tubuh buah ke tangkai terdapat selaput yang menutupi sisi bawah tubuh
buah yang dinamakan selaput velum partiale. Jika tubuh buah membesar, selaput
ini akan robek dan merupakan suatu cincin atau annulus pada bagian atas tubuh
buah. Basidium pada jamur tiram juga berbentuk gada. Pada pengamatan
mikroskopis basidium ada yang hanya terlihat dua basidiospora dan ada yang empat
basidiospora yang bergantung pada pertumbuhannya, basidiospora pada jamur
tiram ini berbentuk lonjong.Jejak spora putih sampai ungu muda atau abu-abu
keunguan, berukuran 7-9 x 3-4 mikron, berbentuk lonjong, licin (Gunawan, 2008).
Menurut Suriwiria (2004), tubuh buah jamur dewasa akan membentuk spora, spora
yang tumbuh pada bagian basidium disebut basidiospora. Jika sudah dewasa atau
sudah matang, spora akan jatuh dari tubuh buah jamur.
Pertumbuhan jamur tiram dipengaruhi faktor nutrisi dan lingkungan. Jika
kadar air yang terlalu tinggi akan menyebabkan jamur mengalami pembusukan
tetapi apabila kadar air terlalu rendah maka pertumbuhan miselium terhambat.
Kadar air lebih rendah dari 50 % atau lebih tinggi 60 % maka akan menghambat
pertumbuhan miselium (Nurfalakhi, 1999). Cahyana et al.(2002), menyatakan
bahwa keadaan suhu dalam ruangan jamur perlu diperhatikan, suhu yang terlalu
tinggi dan kelembaban yangterlalu rendah akan menyebabkan primordial (bakal
jamur) menjadi kering danmati.Menurut Suriawiria (2004), untuk kehidupan
dan perkembangan jamur memerlukan sumber nutrisi atau makanan dalam
bentuk unsur-unsur sepertinitrogen, fosfor, belerang, kalium, karbon, serta
beberapa unsur lainya.Jamur tiram ditemukan pada batang-batang kayu yang
berada pada lokasi sangat lembab dan terlindungi dari cahaya matahari.
J. Kesimpulan

1. Pada kelas Basidiomycetes spesies jamur kuping (Auricularia auricula)


memiliki struktur tudung (pileus) dan lamella (gills), pada spesies Jamur tiram
(Pleurotus ostreatus) mempunyai ciri-ciri morfologi dibedakan atas tiga bagian
yaitu tudung (pileus), lamella (gills) dan batang (stipe).

2. Pada kelas Basidiomycetes mempunyai ciri-ciri sitology yaitu mempunyai


bagian-bagiannya yang meliputi basidiospora, basidia, sub hymenium,
hymenium, cystidia, dan basidiales.

Jawaban Diskusi

1. Persamaan dari ciri morfologi spesies Auricularia auricula dan Pleurotus


ostreatus kelas Basidiomycetes berdasarkan praktikum kali ini adalah sama-
sama mempunyai tudung akar dan mempunyai stipe dan perbedaannya spesies
Auricularia auricula dan Pleurotus ostreatus adalah warna tudung akar dan
warna stipe.
2. Miselium primer merupakan miselium yang berinti satu sedangkan miselium
sekunder merupakan miselium yang berinti 2 yang merupakan peleburan dari
2 miselium primer, sedangkan miselium tersier merupakan gabungan dari
miselium sekunder dan miseliumnya lebih dari 2.
DAFTAR PUSTAKA

Alexopoulos CJ, Mims CW, Blackwell M. 1996. Introductory Mycology. 4th ed.
John Wilay and Sons, New York.
Cahyana dan Muchroji. 2002. Budidaya Jamur Kuping. Jakarta: Penerbar
Swadaya.

Cooke, W.B. 1961. The genus Schizophyllum. Mycologia 53 : 575-599.

Djarijah Nunung Marlina dan Abbas Siregar. 2001. Budidaya Jamur Kuping
Pembibitan dan Pemeliharaan.Yogyakarta: Kanisius

Gunawan, A.W. 2008. Usaha Pembibitan Jamur. Penebar Swadaya, Jakarta.

Hendritomo, H. I., 2010. Biologi Jamur Pangan. Jakarta: Pusat Pengkajian dan
Penerapan Teknologi Bio Industri.

Kumar,R., Tapwal,A., Pandey,S., Borah, R.K., Borgohain,J. 2013. Macro fungal


diversity and nutrient content of some edible mushrooms of Nagaland, India.
India: Forest Research Institute.

Kumari,B., Upadhyay,RC., Atri,NS. 2013. Auricularia olivaceus: a new species


from Nort India. Punjab : Punjaby University
Nurfalakhi, A. 1999. Budidaya Jamur Edible. BPTP Bedali Lawang.

Reid, D. 1980. Mushrooms and Toadstools. Kingfisher Guides. London.


Subandi. 2010. Mikrobiologi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Suriawaria. H. U. 2004. Sukses Beragrobisnis Jamur Kayu: Shitake, Kuping,
Tiram. Jakarta: Penebar Swadaya.
Tjirosoepomo, gembong. 2011. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Wiardani, isnaen. 2010. Budidaya Jamur Konsumsi. Yogyakarta: Lily publisher.