Anda di halaman 1dari 2

Produk pangan harus tetap dijaga kualitasnya selama penyimpanan dan

distribusi, karena pada tahap ini produk pangan sangat rentan terhadap terjadinya
rekontaminasi, terutama dari mikroba patogen yang berbahaya bagi tubuh
dan mikroba perusak yang dapat meny ebabkan kerusakan pada
makanan.Mikroorganisme dapat dikendalikan secara kimiawi dengan
menggunakan bahan-bahan antiseptik, disinfektan, senyawa antimikroba
(kemoteurapeutik) dari bahan alami maupun sintetik. Senyawa-senyawa
antimikroba tersebut dapat bersifat sidal (mematikan) maupun statik
(menghambat) dengan cara merusak sel,dan menganggu proses metabolisme
seluler.Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut adalah dengan
menambahkan bahan aditif berupa zat antimikroba dalam bentuk rempah-
rempah. Zat antimikroba itu sendiri terdiri dari zat antimikroba alami yang
biasanya berupa rempah-rempah (contoh : bawang meah,kunyit) dan zat
antimikroba buatan (sintetik).
Bahan aditif makanan adalah bahan yang ditambahkan pada makanan untuk
mencegah atau menghambat kerusakan pada produk makanan itu,
terutama kerusakan oleh mikroorganisme. Penggunaan bahan aditifini biasanya
dilakukan produsen makanan yang mudah rusak. Dengan bahanaditif
diharapkan makanan atau produk yang dihasilkan tetap terpelihara
kesegarannya, dan juga mencegah dari kerusakan makanan atau bahan
makanan.(Dianto, 2010)
(https://harisdianto.files.wordpress.com/2010/01/aktivitas-antimikroba.pdf)
Bahan pengawet alami memiliki aktivitas antimikroa dengan spektrum
penghambatan yang sangat bervariasi, oleh karena itu untuk mengetahui
efektivitasnya perlu dilakukan pengujian kekuatan senyawa antimikroba tehadap
mikroba pantogen/kontaminan, lalu dibandingkan dengan senyawa lain yang
sudah dikenal. Salah satu metode pengujian aktivitas antimikroba yang mudah
dilakukan adalh metode filter-paper disc-agar diffusion (dikenal sebagai metode
Kirby-Bauer). (Sumanti, Debby, dkk. 2008.)
Metode metode filter-paper disc-agar diffusion (dikenal sebagai metode
Kirby-Bauer)
Prinsip: Metode ini untuk menentukan aktivitas agen antibakteri. Piringan yang
berisi agen antibakteri diletakkan pada media agar yang telah ditanami bakteri
yang akan berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih mengindikasikan
adanya hambatan pertumbuhan bakteri oleh agen antibakteri pada permukaan
media agar. (Novrioza, Debby, dkk, 2015)
Sensivitas suatu organisme terhadap suatu obat ditentukan berdasarkan
ukuran daerah jernih itu, yang tentunya bergantung pada variabel-variabel seperti:
1. Kemampuan dan kecepatan difusi antibiotik ke dalam media, serta
interaksi antibiotik dengan organisme uji.
2. Jumlah organisme yang diinokulasi
3. Kecepatan pertumbuhan organisme
4. Derajar sensivitas organisme terhadap antibiotik.

DAFTAR PUSTAKA
Dianto, Hasris. 2010. Antimikoba. Availbale online at:
https://harisdianto.files.wordpress.com/2010/01/aktivitas-antimikroba.pdf
(diakses pada tanggal 24 Mei 2016)
Novrioza, Debby, dkk. 2015. Teknik Evaluasi Bioaktivitas Antibekateri.
Available online at:
http://www.academia.edu/12203597/pengujian_antibakteri (diakses pada
tanggal 24 Mei 2016)
Sumanti, Debby, dkk. 2008. Diktat Penuntun Praktikum Mikrobiologi
Pangan.Universitas Padjajaran: Jatinangor.