Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, perumusan masalah,


batasan masalah dan sistematika penulisan dari laporan akhir modul 2 ini.

1.1 Latar Belakang


Proses produksi sebuah produk dari bahan awal sampai menjadi sebuah produk
jadi melewati beberapa langkah. Proses pembuatan produk tersebut dimulai dari
transportasi bahan baku, operasi mesin, pemeriksaan, perakitan, dan penyimpanan.
Operator terkadang sulit memahami metode proses yang berlangsung pada
pembuatan sebuah produk tersebut,karena itu digunakan sebuah bantuan peta kerja.
Peta kerja merupakan alat yang digunakan untuk menganalisa suatu operasi kerja
dengan tujuan mempermudah atau menyederhanakan proses kerja yang ada.
Peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja yang
sistematis dan jelas. Peta kerja juga merupakan akat komunikasi secara luas dan
sekaligus melalui peta-peta kerja ini kita bisa mendapatkan informasi-informasi yang
diperlukan untuk memperbaiki suatu metode kerja. Peta-peta kerja menggambarkan
keseluruhan langkah atau kegiatan yang dialami oleh suatu benda kerja mulai dari
masuk pabrik sampai menjadi produk jadi, baik produk lengkap ataupun bagian dari
suatu produk lengkap.
Topik utama pada praktikum kali ini yaitu tentang peta-peta kerja. Peta-peta
kerja tersebut digunakan dalam proses produksi meja duduk. Dengan mempelajari
tentang peta-peta kerja ini diharapkan dalam pembuatan produk tersebut dapat
digambarkan secara jelas dan sistematis bagaimana produk tersebut diproduksi, selain
itu peta-peta kerja tersebut dapat juga digunakan untuk menganalisis langkah-langkah
kerja yang tidak produktif untuk perbaikan yang lebih baik ke depannya, sehingga
langkah-langkah kerja dalam proses produksi tersebut menjadi sistematis, jelas,
efektif, efisien, optimal dan produktif.
1.2 Perumusan Masalah
Permasalahan yang ada di praktikum modul 2 ini adalah bagaimana cara
menggunakan peta-peta kerja dalam proses produksi meja duduk dan menganalisa
peta-peta kerja tersebut agar langkah-langkah kerja dalam proses produksi tersebut
menjadi sistematis, jelas, efektif, efisieen, optimal dan produktif. Dan penggunaan 7
traditional tools dalam mengidentifikasi masalah terhadap produk yang diproduksi.

1.3 Tujuan Penulisan Laporan


Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah :
1. Mampu memahami konsep peta-peta kerja dalam proses produksi.
2. Mampu menggunakan peta-peta kerja yang telah dirancang dalam proses
produksi.
3. Mampu menganalisis peta-peta kerja yang telah dirancang tersebut untuk
memperbaiki langkah-langkah kerja dalam proses produksi tersebut.
4. Mampu memahami 7 traditional tools dalam mengidentifikasi masalah
dalam yang diproduksi.
5. Mampu menggunakan 7 traditional tools dalam melakukan perbaikan
sistem kerja.

1.4 Batasan Masalah


Batasan masalah yang ada padamodul 2 ini adalah :
1. Produk yang ddibuat adalah mejaa duduk.
2. Peta-peta kerja yang digunakan adalah peta tangan kiri dan tangan kanan,
OPC, AC, peta aliran proses, peta pekerja dan mesin, layout stasiun kerja
setempat, layout sistem kerja keseluruhan, dan diagram aliran sekarang.
3. Pengolahan data hanya dilakukan untuk pengolahan waktu operasi, waktu
set up rata-rata, dan waktu siklus rata-rata yang dibutuhkan dalam proses
produksi meja duduk.
4. Peta tangan kiri dan tangan kanan hanya digunakan saat perakitan
komponen-komponen produk.
5. 7 traditional tools yang digunakan diagram pareto dan diagram fishbone.

1.5 Sistematika Penulisan


Laporan akhir ini terbagi atas enam bab yang tersusun secara sistematis agar
memudahkan dalam membaca dan memahaminya. Adapun sistematika laporan ini
adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang latar belakang dari peta-peta kerja, tujuan
pratikum, perumusan masalah, batasan-baatasan masalah serta sistematika penulisan
laporan.
BAB II LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang teori-teori yang berkaitan dengan peta-peta kerja
yang diambil atau dikutip dari berbagai buku referensi dan jurnal serta penggunaanya
dalam pengolahan dan penyajian data.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menjelaskan tentang langkah-langkah dalam praktikum yang telah
dilaksanakan dalam laaporan ini.
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
Bab ini berisi pengumpulan dan pengolahan data dari seluruh data yang telah
didapat.Pengumpulan data didasarkan padaa masing-masing stasiun kerja dengan
produknya serta data dimensi bahan dasar dan bahan jadi dari produk tersebut.
Pengolahan data didasarkan padaa waktu operasi, waktu set uprata-rata, waktu siklus
rata-ratadan raw material yang dibutuhkan daalaam proses produksi meja duduk.
BAB V ANALISIS
Bab ini menjelaskan tentang analisis terhadap pengolahan data, peta-peta kerja
yang digunakan dalam proses produksi, dan analisis terhadap 7 traditional toolsyang
digunakan daalam mengidentif.

BAB VI PENUTUP
Bab ini berisi tentang kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum yang telah
dilaksanakan yang berdasarkan dari tujuan pembuatan laaporan, serta saran untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik untuk kedepanya yang berdasarkan dari bataasan
masalah.
BAB II
LANDASAN TEORI

Bab ini berisikan teori mengenai hal-hal yang berhubungan dengan


teknik-teknik tata cara kerja, peta-peta kerja dan 7 traditional tools serta 7 new tools.

2.1 Teknik Tata Cara Kerja


Teknik tata cara kerja adalah suatu ilmu yang terdiri dari teknik-teknik dan
prinsip-prinsip untuk mendapatkan rancangan (design) terbaik dari sistem kerja.
Teknik dan prinsip dalam Teknik Tata Cara Kerja ini digunakan untuk mengatur
komponen-komponen sistem kerja yang terdiri dari manusia dengan sifat dan
kemampuanya, bahan, perlengkapan dan peralatan kerja, serta lingkungan kerja
sedemikian rupa sehingga dicapai tingkat efisiensi dan tingkat produktivitas yang
tinggi yang diukur dengan waktu yang dihabiskan, tenaga yang dipakai, serta
akibat-akibat psikologis dan sosiologis yang ditimbulkanya (Sutalaksana, 1979).

2.1.1 Ruang Lingkup Teknik Tata Cara Kerja


Ruang lingkup teknik tata cara kerja dapat dibagi ke dalam dua bagian besar
yaitu (Sutalaksana, 1979).
1. Pengaturan Kerja
Pengaturan kerja berisi prinsip-prinsip mengatur komponen-komponen sistem
kerja untuk mendapatkan alternatif-alternatif sistem kerja terbaik. Disini
komponen-komponen sistem kerja diatur sehingga secara bersama-sama berada
dalam suatu komposisi yang baik yaitu yang dapat memberikan efisiensi dan
produktifitas tertinggi.
2. Pengukuran Kerja
Ada empat kriteria yang dipandang sebagai pengukur yang baik tentan kebaikan
suatu sistem kerja yaitu waktu, tenaga, psikologis dan sosiologis.
Artinya suatu sistem kerja dinilai baik jika sisstem ini memungkinkan waktu
penyelesaian sangat singkat,tenaga yang diperlukan untuk menyelesaikan sangat
sedikit dan akibat-akibat psikologis dan sosiologis yang ditimbulkan sangat
minim.Berdasarkan kriteria-kriteria inilah sistem kerja dibandingkan satu terhadap
lainya.

Gambar 2.1 Ruang Lingkup Teknik Tata Cara Kerja (Sutalaksana,1979)

2.2 Peta-Peta Kerja


Peta-peta kerja merupakan alat sistematis untuk mengumpulkan semua
fakta-fakta,yang kemudian dengan mengemukakan peta-peta kerja tersebut
fakta-fakta ini dikomunikasikan kepada orang lain dengan sistematis dan
jelas.Melalui peta-peta kerja kita bisa melihat semua langkah atau kejadian yang
dialami oleh suatu benda kerja dari mulai masuk pabrik (berbentuk bahan baku)
kemudian menggambarkan semua langkah yang dialaminya, seperti: transportasi,
operasi mesin, pemeriksaan dan perakitan sampai akhirnya produk jadi, baik produk
lengkap atau merupakan bagian dari suatu produk lengkap (sutalaksana,1979).

2.2.1 Lambang-Lambang yang digunakan dalam peta kerja


Peta-peta kerja yang ada sekarang ini dikembangkan oleh Gilberth. Pada saat
itu untuk membuat peta kerja, Gilberth mengusulkan 40 buah lambang yang bisa
dipakai,kemudian pada tahun berikutnya jumlah lambang-lambang tersebut
disederhanakan,kemudian hanya tinggal 4 macam, yaitu(Sutalaksana,1979):

(Operasi)

(Transportasi)

(Pemeriksaan)

(Penyimpanan/Menunggu)

Gambar 2.2 Lambang-Lambang Hasil Penyingkatan dari yang disulkan Gilberth


(Sutalaksana, 1979)
Penyerdehanaan ini memudahkan pembuatan suatu peta kerja, disamping setiap
notasi mempunyai fleksibilitas yang tinggi karena setiap lambang mempunyai
kandungan arti yang sangat luas. Pada tahun 1947, American Siciety of Mechanical
Engineers (ASME) membuat standar lambang yang terdiri dari 5 gambar yaitu
(sutalaksana,1979):
1. Operasi
Suatu kegiatan operasi terjadi apabila benda kerja mengalami perubahan sifat,
baik fisik maupun kimiawi, mengambil informasi maupun memberikan informasi
pada suatu keadaan juga termasuk ke dalam operas. Operasi merupakan kegiatan
yang paling banyak terjadi dalam suatu proses. Dan biasanya terjadi pada suatu
mesin atau stasiun kerja, contohnya: pekerjaan menyerut kayu dengan mesin
serut,pekerjaan mengeraskan logam, dan lain-lain.

Gambar 2.3 Lambang Operasi


(Sutalaksana, 1979)
2. Pemeriksaan
Suatu kegiatan pemeriksaan terjadi apabila benda kerja atau peralatan
mengalami pemeriksaan baik untuk segi kualitas maupun kuantitas.Lambang ini di
gunakan jika kita melakukan pemeriksaan terhadap suatu objek atau
membandingkan objek tertentu dengan suatu standar.

Gambar 2.4 Lambang Pemeriksaan (Sutalaksana, 1979)


3. Transportasi
Kegiatan transportasi terjadi apabila benda kerja,pekerjaan atau perlengkapan
mengalami perpindahan tempat yang bukan merupakan bagian dari suatu operasi.

Gambar 2.5 Lambang Transportasi (Sutalaksana, 1979)

4. Menunggu
Proses menunggu terjadi apabila benda kerja, pekerja atau perlengkapan tidak
mengalami kegiatan apa-apa selain menunggu. Kegiatan ini menunjukkan bahwa
suatu objek ditinggalkan untuk sementara tanpa pencatatan sampai diperlukan
kembali,seperti:
a. Objek menunggu untuk diproses atau diperiksa.
b. Peti menunggu untuk dibongkar.
c. Bahan menunggu untuk diangkut ketempat lain.

Gambar 2.6 Lambang Menunggu


(Sutalaksana, 1979)
5. Menyimpan
Proses penyimpanan terjadi apabila benda kerja disimpan untuk jangka waktu
yang cukup lama.
Contohnya:
a. Dokumen-dokumen yang disimpen dalam brangkas.
b. Bahan baku yang disimpan dalam gudang
Gambar 2.7 Lambang Penyimpanan
(Sutalaksana, 1979)
6. Aktifitas Gabungan
Kegiatan ini terjadi apabila antara aktifitas operasi dan pemeriksaan dilakukan
bersamaan atau dilakukan pada suatu tempat kerja.

Gambar 2.8 Lambang Aktifitas Gabungan (Sutalaksana, 1979)

2.2.2 Macam Macam Peta Kerja


Peta-peta kerja yang ada bisa dibagi dalam dua kelompok besar berdasarkan
kegiatan yaitu (Sutalaksana, 1979):
1. Peta-peta kerja yang digunakan untuk menganalisa kegiatan kerja keseluruhan.
2. Peta-peta kerja yang digunakan untuk menganalisa kegiatan kerja setempat.

2.2.2.1 Peta Kerja Keseluruhan


Peta kerjakeseluruhan adalah peta kerja yang melibatkan sebagian besar atau
semua fasilitas yang diperlukan untuk membuat produk yang bersangkutan
(Sutalaksana, 1979).
Peta kerja keselurahan dapat dibagi kedalam beberapa kelompok, yaitu
(Sutalaksana, 1979):
1. Peta proses operasi
Peta proses operasi merupakan suatu diagram yang menggambarkan
langkah-langkah pproses yang akan dialami bahan mengenai urutan-urutan operasi
pemeriksaan. Sejak dari awal sampai menjadi produk jadi utuh maupun sebagai
komponen, dan juga memuat informasi-informasi yang diperlukan untuk analisis
lebih lanjut, seperti : waktu yang dihabiskan, material yang digunakan, dan tempat
atau alat mesin yang dipakai (Sutalaksana, 1979).
Kegunaan peta proses operasi adalah (Sutalaksana, 1979):
a. Bisa mengetahui kebutuhan akan mesin dan penganggarannya.
b. Bisa memperkirakan kebutuhan akan bahan baku (dengan memperhitungkan
efesiensinya ditiap / pemeriksaan).
c. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan cara kerja yang sedang dipakai.
d. Setiap alat untuk latihan kerja.
Prinsip-prinsip pembuatan peta proses operasi yaitu (Sutalaksana,1979):
a. Pertama-tama pada baris paling atas dinyatakan kepalanyaPeta Proses Operasi
yang diikuti oleh identifikasi lain seperti :nama objek,nama pembuat peta,tanggal
dipetakan,cara lama atau cara sekarang,nomer peta dan nomer gambar.
b. Material yang akan diproses diletakkan di atas garis horizontal,yang menunjukkan
bahwa material tersebut masuk ke dalam proses.
c. Lambang-lambang ditempatkan dalam arah vertical,yang menunjukkan terjadi
perubahan proses.
d. Penonton terhadap suatu kegiatan operasi diberikan secara berurutan sesuai
dengan urutan operasi yang dibutuhkan untuk pembuatan produk tersebut atau
sesuai dengan yang terjadi.
e. Penomoran suatu terhadap kegiatan pemeriksaan diberikan secara tersendiri dan
prinsipnya sama dengan penomoran untuk kegiatan operasi.
Ada empat hal yang perlu diperhatikan agar diperoleh suatu proses kerja yang
baik yaitu (Sutalaksana,1979):
a. Bahan. Kita harus mempertimbangkan semua alternatif dari bahan yang
digunakan, proses penyelesaian dan toleransi bahan.
b. Operasi. Mempertimbangkan mengenai semua alternatif yang mungkin untuk
proses pengolahan, pembuatan, pengerjaan dengan mesin atau metode perakitan
lainya.
c. Pemeriksaan. Harus memiliki standar kualitas terhadap produk yang dibuat.
d. Waktu. Mempertimbangkan semua alternatif mengenai metoda, peralatan dan
tentunya penggunaan perlengkapan-perlengkapan khusus.
2. Peta Aliran Proses
Peta aliran proses merupakan suatu diagram yang menunjukkan urutan-urutan dari
operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu dan penyimpanan yang terjadi selama
satu proses atau prosedur berlangsung. Di dalamya memuat pula informasi-informasi
yang diperlukan untuk analisis seperti waktu yang akan di butuhkan dan jarak
perpindahan. Waktu biasanya dinyatakan dalam meter, walaupun hal ini tidak
terlampau mengikat (Sutalaksana,1979).
Peta aliran proses dapat dibagi kedalam dua kelompok, yaitu
(Sutalaksana,1979):
a. Peta Aliran Proses Bahan. Suatu peta yang menggambarkan kejadian yang dialami
bahan dalam suatu proses atau prosedur operasi.
b. Peta Aliran Proses Orang. Peta yang menggambarkan suatu proses dalam bentuk
aktivitas manusianya.
Kegunaan peta aliran proses adalah (Sutalasana,1979):
a. Bisa digunakan untuk mengetahui aliran bahan atau aktivitas orang mulai awal
masuk dalam suatu proses atau prosedur sampai aktivitas terakhir.
b. Peta ini bisa memberikan informasi mengenai waktu penyelesaian suatu proses
atau prosedur.
c. Bisa diginakan untuk melakukan perbaikan-perbaikan proses atau metode kerja.
d. Bisa dgunakan untuk mengetahui jumlah kegiatan yang dialami bahan atau
dilakukan oleh orang selama proses atau prosedur berlangsung.
e. Sebagai alat untuk melakukan perbaikan-perbaikan proses atau metode kerja.
f. Khusus untuk peta yang hanya menggambarkan aliran yang dialami oleh suatu
komponen atau satu orang,secara lebih lengkap,maka peta ini merupakan suatu
alat yang mempermudah proses analisa untuk mengetahui tempat-tempat dimana
terjadi ketidak efisiensian.
Prinsip- prinsip pembuatan peta aliran proses adalah (Sutalaksana,1979):
a. Judul Peta Aliran Proses dibagikan paling atas kertas, yang kemudian diikuti
dengan pencatatan beberapa identifikasi seperti :nomor/nama komponen yang
dipetakan, nomor gambar, peta orang atau bahan, cara sekarang atau yang
diusulkan, tanggal pembuatan dan nama pembuatan peta.Semua informasi ini
dicatat disebelah kanan atas kertas.
b. Di sebelah kiri atas kertas, berdampingan dengan informasi dicatat ringkasan
mengenai jumlah total dan waktu total dari setiap kegiatan yang terjadi dan total
jarak perpindahan yang dialami orang atau bahan selama proses atau prosedur
berlangsung.
c. Setelah bagian kepala selesai dengan lengkap, kemudian dibagian badan diuraikan
proses yang terjadi lengkap dengan lambang-lambang dan informasi-informasi
mengenai jarak perpindahan, jumlah yang dilayani, waktu yang dibutuhkan dan
kecepatan produksi.
3. Peta Proses Kelompok Kerja
Peta ini bisa digunakan dalam suatu tempat kerja dimana untuk
melaksanakan pekerjaan tersebut memerlukan kerjasama yang baik dari
sekelompok pekerja. Jenis pekerjaan atau tempat kerja yang mungkin memerlukan
analisis melalui peta proses kelompok kerja misalnya pekerjaan, penggudangan,
pemeliharaan atau pekerjaan-pekerjaan mengangkut material. Peta proses
kelompok kerja merupakan kumpulan dari beberapa peta aliran proses dimana tiap
peta aliran proses tersebut dipetakan dalam arah horizontal, sehingga paraalel satu
sama lain, yang satu dibawah atau diatas yang lainya. Kegunaan peta proses
kelompok kerja sebagai alat untuk menganalisis aktivitas suatu kelompok
kerja.tujuan utama analisis tersebut adalah untuk meminimumkan waktu menuggu
(delay) (Sutalaksana, 1979).
4. Diagram aliran
Diagram aliran merupakan suatu gambaran menurut skala dari
susunanlaantai dan gedung, yang menunjukan lokasi dari semua aktifiitas yang
terjadi dalam peta aliran proses (Sutalaksana, 1979).
Kegunaan diagram aliran yaitu (Sutalaksana, 1979):
a. Lebih memperjelas suatu peta aliran proses, apalagi jika arah aliran merupakan
faktor yang penting.
b. Menolong dalam perbaikan tata letak kerja.
Digram aliran dapat menunjukan dimana tempa-tempat penyimpanan,
stasiun pemeriksaan dan tempat-tempat kerja dilaksanakan.

Prinsip-prinsip pembuatpembuatan diagram aliran adalah (Sutalaksana, 1979):


a. Dibuat judul peta, dibagikan kepala ditulis DIAGRAM ALIRAN yang
kemudian diikuti oleh identifikasi lainya seperti : nama pekerjaan yang
dipetakan, caara sekarng atau usulan, nomor peta, dipetakan oleh daan tanggal
pemetaan.
b. Untuk membuat suatu digram aliran, sipenganalisis harus mengidentifikasi
setiap aktifitas dengan lambang dan nomor yang sesuai dengan yang digunakan
dalam peta aliran proses.
c. Arah gerakan dinyatakan oleh panah kecil yang dibuat secara periodic
sepanjang garis aliran.
d. Apabila dalam ruangan tersebut terjadi lintasan lebih dari satu orang atau
bahan, maka tiap lintasan dibedakan dengan warna macam-macam.

2.2.2.2 Peta Kerja Setempat


Suatu kegiatan disebut kegiatan kerja setempat, apabila kegiatan tersebut
terjadi dalaam suatu staasiun kerja yang biasanya hanya melibatkan orang dan
fasilitas dalam jumlah terbatas (Sutalaksana, 1979).
Peta kerja setempat dibagi ke dalam beberapa kelompok yaitu (Sutalaksana, 1979):
1. Peta pekerja dan mesin
Peta pekerja mesin merupakan suatu grafik yang menggambarkan
koordinasi antara waktu bekerja dan waktu menganggur dari kombinasi
antara pekerja dan mesin.
Kegunaan peta pekerja dan mesin adalah (sutalaksana, 1979):
a. Merubah tata letak tempat kerja. Tata letak tempat kerja merupakan
salah satu factor yang menentukan lamanya waktu penyelesaian suatu
pekerjaan.
b. Mengatur kembali gerakan-gerakan kerja. Gerakan-gerakan kerja
merupakan faktor yang menentukan waktu penyelesaian suatu
pekerjaan.
c. Merancang kembali mesin dan peralatan. Keadaan mesin dan peralatan
seringkali perlu dirancang kembali untuk meningkatkan efektifitas
pekerjaan dan mesin.
d. Menambah pekerja bagi sebuah mesin atau sebaliknya menambah mesin
bagi seorang pekerja.
Apabila kita menemukan bahwa efektifitas pekerja yang menangani
sebuah atau beberapa mesin itu rendah, yaitu pekerja banyak menganggur,
sementara di tempat lain banyak terdapat yang menganggur, maka
penambahan tugas bagi pekerja tersebut mungkin dapat meningkatkan
efektifitas.
Prinsip-prinsip pembuatan peta-peta pekerja dan mesin adalah
(sutalaksana, 1979).
a. Nyatakan identifikasi peta yang dibuat. Biasanya dibagian paling atas
kertas dinyatakan PETA PEKERJA DAN MESIN sebagai kepalanya,
kemudian diikuti oleh informasi-informasi pekerja yang meliputi :
nomor peta, nama pekerjaan yang dipetakan, cara sekarang ataau usulan,
nomor peta, dipetakan oleh dan tanggal pemetaan.
b. Menguraikan semua elemen-elemen pekerjaan yang terjadi.
Lambang-lambang yang digunakan dalam petapekerja dan mesin adalah
(sutalaksana, 1979) :
a. Waktu menganggur. Digunakan untuk menyatakan pekerjaan atau mesin
yang sedang menganggur atau satu sedang menunggu yang lain.

Gambar 2.10 Lambang waktu menganggur pada peta pekerja dan


mesin (sutalaksana, 1979)

b. Menunjukkan kerja tak bergantungan


Jika ditinjau dari pekerja, maka keadaan ini menunjukkan seorang
pekerja yang sedang bekerja atau independent dengan mesin dan
pekerjaan lainnya.
Gambar 2.10 Lambang kerja tak bergantungan peta pekerja dan mesin
(sutalaksana, 1979)
c. Menunjukan kerja kombinasi
Lambang ini digunakan apabila diantara operator dan mesin atau dengan
operator lainnya sedang bekerja secara bersama-sama.

Gambar2.11 lambang kerja kombinasi peta pekerja dan mesin


(sutalaksana, 1979)

2. Peta tangan kanan dan tangan kiri


Peta tangan kanan dan tangan kiri merupakan suatu alat dari studi
gerakan untuk menentukan gerakan-gerakan yang efisien, yaitu
gerakan-gerakan yang memang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan.
Peta ini akan menggambarkan semua gerakan ataupun delay yang
dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri secara mendetil sesuai dengan
elemen gerakan therblig yang membentuk gerakan-gerakan tersebut
(sutalaksana, 1979)
Kegunaan peta tangan kanan dan tangan kiri (sutalaksana, 1979)
a. Menyeimbangkan gerakan kedua tangan dan mengurangi kelelahan.
b. Menghilangkan atau mengurangi gerakan-gerakan yang tidak efisien
dan tidak produktif.
c. Sebagai alat untuk menganalisis tata letak stasiun kerja.
d. Sebagai alat untuk melatih pekerjaan baru, dengan cara kerja yang ideal.
Prinsip-prinsip pembuatan peta tangan kiri dan tangan kanan (sutalaksana,
1979):
a. Lembaran kertas dibagi menjadi tiga bagian : kepala, bagan tentang
stasiun kerja, dan bagian-bagian badan.
b. Pada bagian kepala ditulis PETA TANGAN KANAN DAN TANGAN
KIRI dan menyatakan identifikasi lain seperti nama departemen, nomor
peta, cara sekarang atau ususlan, nama pembuat peta dan tanggal
dipetakan.
c. Pada bagian memuat bagan, digambarkan sketsa dari stasiun kerja yang
memperlihatkan tempat-tempat alat dan bahan.
d. Bagian badan dibagi dalam dua pihak. Sebelah kiri digunakan untuk
menggambarkan kegiatan yang dilakukan tangan kiri dan sebaliknya.
e. Perhatikan urutan-urutan gerakan yang dilaksanakan operator.
Kemudian operasi tersebut diuraikan menjadi elemen-elemen gerakan
yang biasanya dibagi menjadi delapan elemen gerakan.

2.3 Teknik Pengendalian Kualitas dan Pemecahan Masalah


Peningkatan kualitas produksi dan jasa dapat dilakukan dengan berbagai alat
bantu. 7 Traditional tools merupakan alat bantu dalam pengolahan data untuk
peningkatan kualitas, dan 7 new tools merupakan alat bantu dalam memetakan
masalah secara terstruktur, guna membantu kelancaran komunikasi pada tim kerja,
dan untuk pengambilan keputusan. (kurniawan, 2011).

2.3.1 7 Traditional Tools


7 tradisional tools adalah alat-alat bantu yang bermanfaat untuk memetakan
lingkup persoalan, menyusun data dalam diagram-diagram agar lebih mudah untuk
dipahami, menelusuri berbagai kemungkinan penyebab persoalan dan memperjelas
kenyataan atau fenomena yang otentik dalam suatu persoalan (kurniawan, 2011).
7 Tradisional tools terdiri dari beberapa jenis yaitu (prajogo, 2011):
1. Diagram pareto
Diagram pareto merupakan gambaran pemisah unsur penyebab yang paling
dominan dari unsur-unsur penyebab lainnya dari suatu masalah. Diagram pareto
pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli ekonomi dari italia, bernama
vilvredo pareto pada tahun 1897 dan kemudian digunakan oleh dr.m.juran dalam
bidang pengendalian mutu.
Alat bantu ini biasa digunakan untuk mengalisa suatu fenomena, agar dapat
diketahui hal-hal prioritas dari fenomena tersebut.pada suatu diagram pareto akan
dapat diketahui, suatu faktor merupakan faktor yang paling prioritas dibandingkan
faktor-faktor lainnya,karena faktor tersebut berada pada urutan terdepan, terbanyak
atau pun tertinggi pada deretan sejumlah faktor yang dianalisa. Melalui dua
diagram paretoyang diperbandingkan, akan dapat dilihat perubahan seluruh atau
sebagian faktor-faktor yang sedang diteliti, pada kondisi yang berbeda. Diagram
pareto juga biasa digunakan untuk dapat menetukan pangkal persoalan,
berdasarkan analisa yang massif, dengan mempertimbangkan beberapa sudut
pandang.
2. Histogram
Histogram merupakan gambar bentuk distribusi karakteristik mutu yang
dihasilkan oleh data yang dikumpulkan melalui check sheet. Dikenal juga sebagai
grafik distribusi frekuensi,salah satu jenis grafik batang yang digunakan untuk
menganalisa mutu dari sekelompok data, dengan menampilkan nilai tengah
sebagai standar mutu produk dan distribusi atau penyebaran datanya. Meski
sekelompok data memiliki standar mutu yang sama, tetapi bila penyebaran data
semakin melebar ke kiri atau ke kanan, maka dapat dikatakan bahwa mutu hasil
produksi pada kelompok tersebut kurang bermutu, sebaliknya semakin sempit
sebara data pada kiri dan kanan nilai tengah, maka hasil produksi dapat dikatakan
lebih bermutu, karena mendekati spect yang telah ditetapkan.
Secara umum, histogram biasa digunakan untuk memantau pengembangan
produk baru, penggunaan alat atau teknologi produksi baru, memprediksi kondisi
pengendalian proses, hasil penjualan, manajemen lingkungan dan lain sebagainya.
3. Check sheet
Check sheet merupakan lembar periksa untuk memudahkan dan
menyederhanakan pencatatan data. Alat bantu ini sangat tepat digunakan sebagai
alat pengumpul data, tetapi tidak cukup memenuhi syarat bila digunakan untuk
menganalisa data, karena semua data yang dikumpulkan adalah data
fenomena/fakta yang sedang terjadi. Itulah sebabnya dikatakan bahwa checksheet
adalah alat bantu digunakan pada saat suatu proses/kegiatan berlangsung. Contoh
penggunaan checksheet adalah pengumpulan score pada pertandingan bulutangkis.
Mengingat bahwa checksheet digunakan pada saat proses berlangsung, maka
hal terpenting yang harus menjadi perhatian adalah kerangka formulir untuk
pengisian data. Hendaknya bagan yang disiapkan sedemikian rupa, agar pengisian
data datat dilakukan dengan mudah dan cepat, tetapi juga mampu memuat seluruh
data yang diperlukan.
4. Fishbone Diagram
Disebut juga dengan diagram sebab akibat. Fishbone digunkan untuk
mencari semua unsur penyebab yang diduga masalah tersebut. Istilah lain dari
fishbone diagram adalah diagram ishikawa, dikembangkan oleh kaoru ishikawa
seorang pakar kendali mutu. Sering kali disebut sebagai fishbone diagram
dikarenakan bentuknya yang menyerupai tulang ikan.
Fishbone diagram lahir karena adanya kebutuhan akan peningkatan mutu
atau kualitas dari barang yang dihasilkan. Sering kali dalam suatu proses produksi
dirasakan hasil akhir yang diperoleh tidak sesuai dengan ekspatasi, misalnya: mutu
barang competitor lebih baik dari barang kita,nasabah lebih tertarik produk
competitor. Dari sinilah timbul pemikiran untuk melakukan analisa dan evaluasi
terhadap proses yang sudah terjadi dalam rangka untuk memperbaiki mutu.
Fishbone diagram merupakan salah satu alat pengendali mutu yang fungsinya
untuk mendeteksi permasalahan yang terjadi dalam suatu proses industri.
Fishbone diagram dalam penerapannya digunakan untuk mengidentifikasi
faktor-faktor yang menjadi penyebab permasalahan. Diagram ini sangat praktis
dilakukan dan dapat mengarahkan satu tim untuk terus menggali sehingga
menemukan penyebab utama atau akar suatu permasalahan. Akar penyebab
terjadinya masalah ini memiliki beragam variabel yang berpotensi menyebabkan
munculnya permasalahan.
5. Scattered diagram / Diagram tebar
Scattered diagram digunakan untuk menentukan korelasi antara penyebab
yang diduga dengan akibat yang timbul dari suatu masalah. Scatter diagram
merupakan cara paling sederhana untuk menentukan hubungan antara sebab dan
akibat dari dua variable atau untuk menentukan korelasi antara penyebab yang
diduga dengan akibat yang timbul dari suatu masalah.
6. Stratifikasi
Stratifikasi merupakan gambaran pengelompokan sekumpulan data atas
dasar karakteristik yang sama.
7. Grafik dan peta kendali (control chart)
Control chart adalah grafik yang digunakan untuk mengkaji perubahan
proses dari waktu ke waktu. Pembuatan control chart bertujuan untuk
mengidentifikasi setiap kondisi didalam proses yang tidak terkendali secara
statistic karena pengendaliannya terhadap proses maka control chart termasuk ke
dalam aktivitas on line quality control.
Dalam proses pembuatan control chart sangat penting memperhatikan jenis
data yang kita miliki untuk menentukan jenis control chart yang tetap, sehingga
dapat memberikan informasi yang tetap terhadap kinerja proses. Kesalahaan
pemilihan jenis control chart dapat berakibat fatal, karena tidak ada informasi yang
bisa tarik dari data yang sudah dikumpulkan bahkan dapat memberikan gambaran
yang salah terhadap kinerja proses.

2.3.2 7 New tools


7 New tools merupakan alat bantu dalam memetakan masalah secara terstruktur,
guna membantu kelancaran komunikasi pada tim kerja, dan untuk pengambilan
keputusan, (kurniawan, 2011)
7 New tools terdiri dari (kurniawan, 2011)
1. Diagram Affinitas (Affinity Diagram)
Diagram afinitas mengatur jumlah besar ide menjadi hubungan alami
mereka. Metode ini membuka kreativitas dan intuisi tim. Ini diciptakan pada tahun
1960-an oleh antropolog jepang jiro kawakita. Kegunaan dari metode ini adalah:
a. Mengenal fakta-fakta.
b. Membentuk ide-ide.
c. Menghindari pendekatan-pendekatan lama.
d. Adaptasi.
e. Mengorganisir sebuah team perencana.
f. Komunikasi total dari kebijakan manajemen
2. Diagram Hubungan (The Relation Diagram)
Diagram hubungan menerangkan interelasi dalam situasi kompleks,
melibatkan berbagai factor interelasi dan membantu untuk menjelaskan hubungan
sebab akibat antara berbagai factor. Metode ini adalah suatu teknik yang efektif
untuk mendapatkan akar permasalahan dan merencanakan solusi karena, pokok
permasalahannya dapat diidentifikasikan lebih jelas, sehingga sebuah konsesus
dapat dihasilkan, serta dapat mengembangkan ide-ide.
3. Diagram Matrik (The Matrix Diagram)
Diagram matrik menunjukan hubungan antara dua, tiga atau empat
kelompok informasi. Terdiri dari sejumlah kolom dan baris, untuk mengetahui
sifat dan kekuatan dari masalah. Ini akan membantu kita untuk sampai pada ide
utama dan menganalisis hubungan atau tidak adanya dipersimpangan dan
menemukan cara yang efektif untuk mengejar metode pemecahaan masalah. Titik
persimpangan juga disebut gagasan konsepsi poin.

4. Diagram pohon
Diagram pohon adalah teknik untuk memetakan lengkap jalur dan
tugas-tugas yang perlu dilakukan dalam rangka untuk mencapai tujuan utama dan
tujuan sub terkait.Diagram ini mengungkapkan secara sederhana besarnya masalah
dan membantu untuk sampai pada metode-metode yang harus dikejar untuk
mencapai hasil.
Diagram pohon dimulai dengan satu item yang cabang menjadi dua atau
lebih, yang masing-masing cabang menjadi dua atau lebih, dan seterusnya.
Kelihatan seperti pohon, dengan banyak batang dan cabang. Hal ini digunakan
untuk memecah kategori luas ke tingkat yang lebih halus dan detail.
Mengembangkan diagram pohon bergerak membantu anda berpikir langkah demi
langkah dari generalisasi ke spesifik.
5. Diagram Panah
Diagram panah menunjukan urutan tugas-tugas yang diperlukan dalam suatu
proyek atau proses, jadwal terbaik untuk seluruh proyek, dan potensi dan sumber
daya penjadwalan masalah dan solusi mereka.
Diagram panah memungkinkan anda menghitung jalur kritis proyek. Ini
adalah langkah penting aliran mana penundaan akan mempengaruhi waktu dari
seluruh proyek dan di mana sumber daya tambahan yang dapat mempercepat
proyek.
6. Metode PDPC (The Process Decision Program Chart Method)
Program keputusan proses bagan sistematis mengidentifikasi apa yang
mungkin terjadi dalam rencana dalam pengembangan. Penanggulangan
dikembangkan untuk mencegah atau mengimbangi masalah tersebut.Dengan
menggunakan PDPC, Anda dapat merevisi rencana untuk menghindari masalah
atau siap dengan respon terbaik ketika sebuah masalah terjadi.
7. Metode Matrik Data Analisis (The Matrix Data Analysis Method)
Matrik data analisis adalah teknik analisis multivariant yang disebut Pricipal
Component Analysis. Teknik ini quatifies dan menyusun data yang disajikan
dalam diagram matrik, untuk menemukan lebih banyak idikator umum yang akan
membedakan dan memberi kejelasan jumlah besar komplek informasi saling
terkait. Ini akan membantu kita untuk mem-visualisasikan dengan baik dan
mendapatkan wawasan tentang situasi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini berisi metodologi penelitian yang terdiri dari flowchart, studi literatur,
perumusan masalah, pengumpulan data, pengolahan data, analisis dan penutup.

3.1 Flowchart
Gambar 3.1 Flowchart metodologi penelitian
3.2 Studi literatur
Studi literatur berisi tentang teori yang mendukung praktikum peta-peta kerja.
Teori tersebut diambil atau bersumber pada buku-buku, jurnal penelitian serta internet
yang berhubungan dengan peta-peta kerja.

3.3 Perumusan masalah


Perumusan masalah berdasarkan dengan cara penggunaan peta kerja dalam
proses produksi meja duduk serta penggunaan peta kerja tangan kanan dan peta kerja
tangan kiri dalam perakitan meja duduk tersebut, apakah peta-peta kerja tersebut telah
menjelaskan tentang proses produksi secara sistematis, jelas, efektif, efisien dan
produktif, serta penggunaan 7 traditional tools dalam mengidentifikasi masalah
terhadap produk yang diproduksi.

3.4 Pengumpulan dan pengolahan data


Pengumpulan dan pengolahan data berdasarkan pada saat melakukan proses
produksi meja duduk yang dilakukan di laboratorium PSKE universitas putera batam
(UPB).
Pengumpulan data didasarkan pada masing-masing stasiun kerja dengan
produknya meliputi:
1. Data dimensi bahan dasar dan bahan jadi.
2. Waktu operasi utama (WOU).
3. Waktu operasi tambahan (WOT).
4. Waktu set-up.
5. Waktu transportasi.
6. Waktu idle.
7. Waktu waktu delay
Pengolahan data didasarkan pada masing-masing stasiun kerja dengan
produknya meliputi:
1. Waktu operasi.
2. Waktu siklus.
3. Waktu set-up rata-rata.
4. Waktu siklus rata-rata.

3.5 Analisis
Analisis dilakukan terhadap pengolahan data yang didapatkan berdasarkan
praktikum peta-peta kerja yang digunakan apakah peta kerja tersebut sudah bisa
menjelaskan langkah-langkah dalam proses produksi secara sistematis, jelas, efektif,
efisien, optimal, dan produktif serta analisis terhadap 7 traditional tools yang
digunakan dalam mengidentifikasi masalah.

3.6 Penutup
Penutup berisi kesimpulan yang didapatkan selama praktikum, pengumpulan
data, pengolahan data, dan analisis yang berdasarkan dari tujuan pembuatan laporan
tersebut serta saran yang berdasarkan pada perumusan dan batasan masalah.
BAB IV
PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

Hasil pengumpulan data yang telah dilakukan kemudian direkapitulasi


berdasarkan masing- masing stasiun kerja. Stasiun Kerja (SK) pada pratikum modul 2
ini ada 3 buah stasiun kerja yang meliputi SK pengukuran, SK pemotongan, SK
perakitan. Dan dilakukan pengolahan untuk menentukan waktu operasi masing-
masing komponen, serta kebutuhan material.

4.1 Rekapitulasi data praktikum per stasiun kerja


Bahan dasar pada stasiun pengukuran diukur dan dicatat waktu kerja utama,
waktu kerja tambahan, waktu transport, waktu delay, waktu idle dari masing-
masing komponen produksi.

4.1.1 Rekapitulasi data praktikum stasiun kerja pengukuran


Bahan dasar pada stasiun pengukuran diukur dan dicatat waktu kerja utama,
waktu kerja tambahan, waktu transport, waktu delay, waktu idle dari masing- masing
komponen produk.

Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Stasiun Kerja Pengukuran Produk Meja Duduk
Wakt
N Nama WOU WOT Waktu Waktu Waktu
u
o Komponen (s) (s) Delay (s) Transpor (s) Idle (s)
Setup
1 Landasan 0 28,2 1,3 0 5,24 0
2 Penyangga 1 0 11,12 1,1 0 3,45 0
3 Penyangga 2 0 11,12 1,1 0 3,45 0
4 Penyangga 3 0 9,48 1,4 0 3,19 0
5 Penyangga 4 0 9,48 1,4 0 3,19 0
6 Kaki 1 0 8,05 1,3 0 4,47 0
7 Kaki 2 0 8,05 1,3 0 4,47 0
8 Kaki 3 0 8,05 1,3 0 4,47 0
9 Kaki 4 0 8,05 1,3 0 4,47 0

4.1.2 Rekapitulasi data praktikum stasiun kerja pemotongan


Bahan dasar pada stasiun pengukuran diukur dan dicatat waktu kerja utama,
waktu kerja tambahan, waktu transpor, waktu delay, waktu idle dari masing- masing
komponen produk.

Tabel 4.2 Rekapitulasi Data Stasiun Kerja Pemotongan Produk

Wakt Waktu Waktu


Nama WO WO Waktu
No u Delay Transpo
Komponen U (s) T (s) Idle (s)
Setup (s) r (s)
1 Landasan 0 112,9 1,2 0 5,43 0
2 Penyangga 1 0 45,37 1,1 0 6,16 0
3 Penyangga 2 0 45,37 1,1 0 6,16 0
4 Penyangga 3 0 51,3 1,3 0 5,84 0
5 Penyangga 4 0 51,3 1,3 0 5,84 0
6 Kaki 1 0 27,58 1,1 0 5,68 0
7 Kaki 2 0 27,58 1,1 0 5,68 0
8 Kaki 3 0 27,58 1,1 0 5,68 0
9 Kaki 4 0 27,58 1,1 0 5,68 0

4.1.3 Rekapitulasi data praktikum stasiun kerja pengamplasan


Bahan dasar pada stasiun pengukuran diukur dan dicatat waktu kerja utama,
waktu kerja tambahan, waktu transport, waktu delay, waktu idle dari masing- masing
komponen produk.
Tabel 4.3 Rekapitulasi Data Stasiun Kerja Pengamplasan

Wakt Waktu Waktu


Nama WO WO Waktu
No u Delay Transpo
Komponen U (s) T (s) Idle (s)
Setup (s) r (s)
1 Landasan 0 48,16 1,3 0 4,18 0
2 Penyangga 1 0 45 1,1 0 4,61 0
3 Penyangga 2 0 45 1,1 0 4,61 0
4 Penyangga 3 0 12,7 1,4 0 5,23 0
5 Penyangga 4 0 12,7 1,4 0 5,23 0
6 Kaki 1 0 15,16 1,3 0 4,89 0
7 Kaki 2 0 15,16 1,3 0 4,89 0
8 Kaki 3 0 15,16 1,3 0 4,89 0
9 Kaki 4 0 15,16 1,3 0 4,89 0

4.2 Pengolahan data


Pengolahan data yang dilakukan meliputi perhitungan waktu operasi, waktu set
up rata- rata dan waktu siklus rata- rata, raw material peta- peta kerja, diagram pareto
serta fishbone diagram dari pratikum yang telah dilakukan.

4.2.1 Pengolahan data untuk waktu operasi


Pengolahan waktu operasi dilakukan pada masing- masing komponen. Waktu
operasi diperoleh dari waktu operasi utama ditambahkan dengan waktu operasi
tambahan per lot komponen.

Tabel 4.4 Waktu operasi pada landasan


N Jenis Waktu Operasi
o Operasi (s)
1 Pengukuran 29,5
2 Pemotongan 114,09
Pengamplasa
49,46
3 n

Contoh Perhitungan :
1. Proses pengukuran
Waktu operasi utama (WOU) : 28,2 detik
Waktu operasi tambahan (WOT) = 1,3 detik
Lot dalam sekali proses = 1
Waktu operasi = (W OU +W OT )
Lot

= (28,2+1,3)
1

= 29,5 detik
2. Proses pemotongan
Waktu operasi utama (WOU) = 112,9 detik
Waktu operasi tambahan (WOT) = 1,2 detik
Lot dalam sekali proses =1
Waktu operasi = (W OU +W OT )
Lot

= (112,9+1,2)
1

= 114,1 detik
3. Proses pengamplasan
Waktu operasi utama (WOU) = 48,16 detik
Waktu operasi tambahan (WOT) = 1,3 detik
Lot dalam sekali proses =1
Waktu operasi = (W OU +W OT )
Lot

= (48,16+1,3)
1

= 49,46 detik

Tabel 4.5 Waktu operasi pada penyangga 1 dan 2


N Jenis Waktu Operasi
o Operasi (s)
1 Pengukuran 12,22
2 Pemotongan 46,47
Pengamplasa
46,1
3 n

Tabel 4.6 Waktu operasi pada penyangga 3 dan 4


N Jenis Waktu Operasi
o Operasi (s)
1 Pengukuran 10,88
2 Pemotongan 52,6
Pengamplasa
14,1
3 n

Tabel 4.7 Waktu operasi pada kaki 1, 2, 3, 4


N Jenis Waktu Operasi
o Operasi (s)
1 Pengukuran 9,35
2 Pemotongan 28,68
Pengamplasa
16,46
3 n

4.2.2 Perhitungan waktu set-up rata-rata dan waktu siklus


Perhitungan waktu set up rata- rata dan waktu siklus rata- rata menggunakan
rumus:
Waktu siklus = waktu set up + waktu operasi
waktu set up ratarata
Waktu set up rata- rata =
k omponen

waktu siklus ratarata


Waktu siklus rata- rata =
k omponen

Contoh perhitungan:
Stasiun kerja pengukuran untuk komponen landasan
a. Waktu siklus = waktu set up + waktu operasi
= (15 + 28, 2) = 43,2 s
waktu set up ratarata
b. Waktu set up rata- rata =
k omponen

= 15
9 = 1,67 s

waktu siklus ratarata


c. Waktu siklus rata- rata =
k omponen

= 43,2
9
= 4,80 s
Tabel 4.8 Perhitungan waktu set up, waktu set up rata- rata, waktu siklus rata- rata
stasiun kerja pengukuran.
Waktu
Waktu Rata-rata
Jumlah Pengukuran Waktu
N Nama
Kompone Waktu Waktu Siklus Waktu Waktu
o Komponen
n Setup Operas (s) Setup Siklus
(s) i (s) (s) (s)
1 Landasan 15 28,2 43,2 1,67 4,80
2 Penyangga 1 15 11,12 26,12 1,67 2,90
3 Penyangga 2 15 11,12 26,12 1,67 2,90
4 Penyangga 3 15 9,48 24,48 1,67 2,72
5 Penyangga 4 9 15 9,48 24,48 1,67 2,72
6 Kaki 1 15 8,05 23,05 1,67 2,56
7 Kaki 2 15 8,05 23,05 1,67 2,56
8 Kaki 3 15 8,05 23,05 1,67 2,56
9 Kaki 4 15 8,05 23,05 1,67 2,56

Tabel 4.9 Perhitungan waktu set up, waktu set up rata- rata, waktu siklus rata- rata
stasiun kerja pemotongan.
Waktu
Waktu Rata-rata
Jumlah Pengukuran Waktu
N Nama
Kompone Waktu Waktu Siklus Waktu Waktu
o Komponen
n Setup Operas (s) Setup Siklus
(s) i (s) (s) (s)
1 Landasan 18 112,89 130,89 2,00 14,54
2 Penyangga 1 18 45,37 63,37 2,00 7,04
3 Penyangga 2 18 45,37 63,37 2,00 7,04
4 Penyangga 3 18 51,3 69,3 2,00 7,70
5 Penyangga 4 9 18 51,3 69,3 2,00 7,70
6 Kaki 1 18 27,58 45,58 2,00 5,06
7 Kaki 2 18 27,58 45,58 2,00 5,06
8 Kaki 3 18 27,58 45,58 2,00 5,06
9 Kaki 4 18 27,58 45,58 2,00 5,06
Tabel 4.10 Perhitungan waktu set up, waktu set up rata- rata, waktu siklus rata- rata
stasiun kerja pengamplasan.
Waktu
Waktu Rata-rata
Jumlah Pengukuran Waktu
N Nama
Kompone Waktu Waktu Siklus Waktu Waktu
o Komponen
n Setup Operas (s) Setup Siklus
(s) i (s) (s) (s)
1 Landasan 15 48,16 63,16 1,67 7,02
2 Penyangga 1 15 45 60 1,67 6,67
3 Penyangga 2 15 45 60 1,67 6,67
4 Penyangga 3 15 12,7 27,7 1,67 3,08
5 Penyangga 4 9 15 12,7 27,7 1,67 3,08
6 Kaki 1 15 15,16 30,16 1,67 3,35
7 Kaki 2 15 15,16 30,16 1,67 3,35
8 Kaki 3 15 15,16 30,16 1,67 3,35
9 Kaki 4 15 15,16 30,16 1,67 3,35

4.3 Peta-peta kerja


Peta- peta kerja merupakan alat sistematis untuk mengumpulkan semua fakta-
fakta, yang kemudian mengemukakan peta- peta kerja tersebut. Fakta- fakta ini
dikomunikasikan kepada orang lain dengan sistematis dan jelas. Peta kerja yang
digunakan pada praktikum dan pembuatan laporan ini adalah peta tangan kanan dan
tangan kiri, peta proses operasi, AC ( Assembly Chart), peta aliran proses, peta
pekerja dan mesin, layout stasiun kerja setempat, layout stasiun kerja keseluruhan,
diagram aliran sekarang.

4.3.1 Peta tangan kanan dan tangan kiri


Peta tangan kanan dan tangan kiri merupakan suatu alat dari studi gerakan
untuk menentukan gerakan- gerakan yang efisien, yaitu gerakan- gerakan yang
memang diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Peta ini akan
menggambarkan semua gerakan ataupun delay yang dilakukan oleh tangan kanan dan
tangan kiri secara mendetil sesuai dengan elemen gerakan therblig yang membentuk
gerakan- gerakan tersebut. Pada pratikum kali ini produk yang dibuat adalah meja
duduk. Dimana tangan kanan dan tangan kiri berfungsi sebagai pedoman dasar dalam
proses perakitan produk meja duduk. Dengan berpedoman kepada peta tangan dan
tangan kiri, waktu yang dibutuhkan tangan kanan untuk membuat meja duduk adalah
381,81 detik sedangkan untuk tangan kiri adalah 382,91 detik.

4.3.2 Peta proses operasi


Peta proses operasi merupakan suatu diagram yang menggambarkan langkah-
langkah proses yang akan dialami bahan mengenai urutan-urutan operasi dan
pemeriksaan. Dalam pembuatan meja duduk bahan utama yang digunakan yaitu kayu
akan mengalami berbagai macam proses operasi seperti: pengukuran, pemotongan
dan pengamplasan. Dimana setiap stasiun kerja akan dilaksanakan pemeriksaan
terhadap produk yang dibuat.

4.3.3 Assembly chart


Peta assembly chart menjelaskan tentang proses perakitan pembuatan produk
meja duduk. Proses perakitan dilakukan secara sistematis dan beruntun yang proses
pembuatannya mengacu kepada peta proses operasi dan peta tangan kanan dan tangan
kiri.

4.3.4 Peta aliran proses


Peta aliran proses merupakan suatu diagram yang menunjukkan urutan- urutan
dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu dan penyampaian yang terjadi
selama satu proses atau prosedur berlangsung. Dengan menggunakan peta aliran
proses dalam pembuatan meja duduk, kita akan mengetahui proses apa saja yang
terjadi ketika pembuatan produk ini. Di dalam peta aliran proses terdapat waktu yang
dibutuhkan pembuatan dan jarak antar setiap stasiun kerja.
4.3.5 Peta kerja dan mesin
Peta pekerja mesin merupakan suatu grafik yang menggambarkan koordinasi
antara waktu bekerja dan waktu menganggur dari kombinasi antara pekerja dan
mesin.

4.3.6 Layout stasiun kerja setempat


Layout stasiun kerja setempat berkaitan dengan tata letak dari setiap stasiun
kerja yang dibutuhkan dalam pembuatan produk meja duduk seperti: stasiun kerja
pengukuran, pemotongan dan pengamplasan. Di dalam layout stasiun kerja setempat
kita dapat mengetahui luas stasiun kerja, jarak operator dengan mesin yang
digunakan, dan jarak operator dengan bahan dan produk hasil dari setiap stasiun
kerja.

4.3.7 Layout stasiun kerja keseluruhan


Layout stasiun kerja keseluruhan berkaitan dengan tata letak dari stasiun kerja
yang dibutuhkan dalam pembuatan produk meja duduk. Di dalam layout stasiun kerja
keseluruhan terdapat hal- hal yang berhubungan dengan jarak antar stasiun kerja
dalam proses pembuatan produk.

4.3.8 Diagram alir


Diagram aliran merupakan suatu gambaran menurut skala dari susunan lantai
dan gudang, yang menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi dalam peta
aliran proses. Dimana dalam diagram aliran pembuatan meja duduk dijelaskan
langkah runtun mulai dari bahan dibawa dari gudang, bahan mengalami proses
tertentu sampai bahan selesai dirakit (meja duduk).
BAB V
ANALISIS

Analisa dilakukan pada pengolahan data yang telah dilakukan yang meliputi
perhitungan data waktu operasi dan waktu set up serta waktu siklus rata- rata. Analisa
juga dilakukan pada peta- peta kerja.

5.1 Analisis pengolahan data


Pengolahan data yang dilakukan terdiri dari perhitungan waktu operasi
permasing- masing stasiun kerja, waktu set up rata- rata dan waktu siklus rata- rata.

5.1.1 Analisis perhitungan waktu operasi


Analisis dari masing- masing komponen dilakukan untuk menunjukkan waktu
yang dibutuhkan untuk pembuatan masing- masing komponen. Dengan begitu dapat
mengatur perencanaan yang lebih baik untuk tiap- tiap komponen yang terlibat.
1. Perhitungan waktu operasi pada stasiun kerja pengukuran dilakukan dengan
menjumlahkan waktu kerja utama dan waktu kerja tambahan. Total waktu yang
dibutuhkan adalah 113,1 detik.
2. Perhitungan waktu operasi pada stasiun kerja pemotongan dilakukan dengan
menjumlahkan waktu kerja utama dan waktu kerja tambahan. Total waktu yang
dibutuhkan adalah 427detik.
3. Perhitungan waktu operasi pada stasiun kerja pengamplasan dilakukan dengan
menjumlahkan waktu kerja utama dan waktu kerja tambahan. Total waktu yang
dibutuhkan adalah 235,7 detik.

5.1.2 Analisis perhitungan waktu set-up dan waktu siklus rata-rata


Analisis pada waktu set up dan waktu siklus dilakukan pada masing- masing
stasiun kerja. Waktu set up dibutuhkan hanya untuk stasiun kerja yang melibatkan
penggunaan alat sedangkan kerja yang tidak memakai alat maka waktu set up sama
dengan nol.
1. Waktu set up rata-rata pada stasiun kerja pengukuran adalah 1,67 detik.
2. Waktu set up rata-rata pada stasiun kerja pemotongan adalah 2 detik.
3. Waktu set up rata-rata pada stasiun kerja pengamplasan adalah 1,67 detik.
4. Waktu siklus rata-rata pada stasiun kerja pengukuran adalah 26,29 detik.
5. Waktu siklus rata-rata pada stasiun kerja pemotongan adalah 64,28 detik.
6. Waktu siklus rata-rata pada stasiun kerja pengamplasan adalah 39,91 detik.

5.2 Peta-peta kerja


Pembuatan peta kerja pada praktikum kali ini berguna untuk memudahkan
dalam pemahaman mengenai urutan proses dalam pembuatan produk meja duduk.
Peta kerja yang digunakan pada praktikum kali ini terdiri dari peta kerja keseluruhan
dan peta kerja setempat.

5.2.1 Peta kerja setempat


Peta kerja setempat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah Peta tangan
kanan dan tangan kiri
Peta tangan kanan dan tangan kiri merupakan suatu alat dari studi gerakan yang
digunakan untuk menentukan gerakan- gerakan yang efisien, yaitu gerakan- gerakan
yang memang diperlukan untuk melaksanakan suatu pekerjaan. Peta ini
menggambarkan semua gerakan yang dilakukan oleh tangan kanan dan tangan kiri
dalam proses pembuatan produk meja duduk. Kegiatan yang berpedoman kepada peta
tangan dan tangan kiri, waktu yang dibutuhkan tangan kanan untuk membuat meja
duduk adalah 381,81 detik sedangkan untuk tangan kiri adalah 382,91 detik.

5.2.2 Peta kerja keseluruhan


Peta kerja keseluruhan yang menggunakan sebagian besar (keseluruhan)
fasilitas yang digunakan untuk pembuatan produk. Produk yang dibuat pada
praktikum kali ini adalah:
1. Peta proses operasi
Peta proses operasi merupakan suatu diagram yang menggambarkan
langkah- langkah proses operasi yang akan dialami bahan yang berkaitan dengan
operasi dan pemeriksaan. Dalam pembuatan peta proses operasi mengenai
pembuatan produk meja duduk., hal- hal yang perlu diperhatikan adalah urutan
langkah kerja dari proses pembuatan produk. Mulai dari produk diukur sampai
produk selesai dirakit. Operasi yang dilakukan terdiri dari: pengukuran,
pemotongan, dan pengamplasan. Dalam peta proses operasi disertai dengan waktu
pembuatan setiap komponen produk. Dalam stasiun kerja pengukuran dibutuhkan
waktu 113,1 detik, pemotongan dibutuhkan waktu 427 detik, dan pengamplasan
dibutuhkan waktu 235,7 detik.
2. Assembly chart
Peta assembly chart menjelaskan tentang proses perakitan pembuatan produk
meja duduk. Proses perakitan dilakukan secara sistematis dan beruntun dan proses
pembuatannya mengacu kepada peta proses operasi dan peta tangan kanan dan
tangan kiri. Proses perakitan dibuat secara sistematis dan jelas agar pembacaan
petanya dapat dengan mudah dipahami.
3. Peta aliran proses
Peta aliran proses merupakan suatu diagram yang menunjukkan urutan-
urutan dari keseluruhan kegiatan dalam pembuatan produk meja duduk. Terdiri
dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu dan penyimpanan yang terjadi
selama satu proses atau prosedur berlangsung. Pembuatan peta aliran proses dalam
pembuatan meja duduk, kita akan mengetahui proses apa saja yang terjadi ketika
pembuatan produk ini. Pembuatan peta aliran proses disertai dengan pembuatan
waktu dan jarak yang dibutuhkan dalam penyelesaian produk.
4. Diagram aliran
Diagram aliran merupakan suatu gambaran menurut skala dari susunan
lantai dan gedung, yang menunjukkan lokasi dari semua aktivitas yang terjadi
dalam peta aliran proses. Diagram aliran pembuatan meja duduk menjelaskan
mengenai runtutan proses pembuatan produk. Dimulai dari bahan dibawa dari
gedung operasi apa saja yang dilaluinya sampai produk selesai dirakit. Operasi
yang dilakukan terdiri dari pengukuran, pemotongan dan pengamplasan.
BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Setelah melakukan pengolahan data dan analisis data dari hasil praktikum,
maka didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja yang
sistematis dan jelas.
2. Peta- peta kerja yang digunakan adalah peta tangan kiri dan tangan kanan
untuk menggambarkan dan menganalisa gerakan- gerakan atau delay tangan
operator pada saat perakitan komponen produk menjadi produk utuh, OPC
menggambarkan langkah- langkah proses yang dialami oleh komponen
mengenai urutan- urutan dari operasi, pemeriksaan, transportasi, menunggu
dan penyimpanan yang dialami oleh masing- masing komponen produk
dalam proses produksi yang terjad, layout stasiun kerja setempat
menggambarkan bagaimana suatu proses produksi berlangsung pada tiap
stasiun kerja, layout sistem kerja keseluruhan menggambarkan bagaimana
untuk menggambarkan susunan lantai yang menunjukkan lokasi dari semua
aktivitas yang terjadi dalam peta aliran proses.
3. Peta- peta kerja dapat juga digunakan untuk menganalisis langkah- langkah
kerja yang tidak produktif untuk perbaikan yang lebih baik ke depannya,
sehingga langkah- langkah kerja dalam proses produksi tersebut menjadi
sistematis, jelas, efektif, efisien, optimal dan produktif.

6.2 Saran
1. Sebaiknya alat-alat dan material sudah disediakan dilaboratorium.
2. Produk yang dibuat pada saat praktikum selanjutnya sebaiknya adalah kursi
khusus praktikum sehingga proses praktimum bisa berjalan lebih optimal.