Anda di halaman 1dari 16

SKENARIO

EDEMA

Seorang laki-laki, umur 24 tahun berobat ke dokter dengan keluhan kaki dan perut
membengkak sejak 2 bulan yang lalu. Untuk mengurangi bengkak biasanya pasien
menaikkan kedua kakinya, tetapi sekarang tidak membantu. Tidak ada riwayat penyakit berat
lainnya. Pemeriksaan fisik didapatkan adanya asites pada abdomen dan edema pada kedua
tungkai bawah. Hasil pemeriksaan laboraturium: kadar protein albumin di dalam plasma
dalah 2,0 g/L (normal >3,5 g/L), pemeriksaan lain dalam batas normal. Keadaan ini
menyebabkan gangguan tekanan koloid osmotik dan tekanan hidrostatik di dalam tubuh.
Dokter menyarankan pemberian infus albumin.

KATA SULIT

1. Asites: pengumpulan cairan di dalam rongga perut; peningkatan jumlah cairan


intraperitoneal.
2. Edema: penimbunan cairan dalam jumlah besar yang abnormal di ruang intrasel tubuh;
suatu pembengkakkan yang dapat diraba akibat penambahan cairan interstisium.
3. Albumin: protein yang larut dalam air yang dapat dikoagulasi oleh panas dan terdapat di
dalam darah.
4. Abdomen: berhubungan dengan perut antara dada dengan pinggul; bagian tubuh di
antara toraks dan pelvis.
5. Plasma darah: bagian cairan tempat tersuspensinya komponen berbentuk partikel.
6. Tekanan koloid osmotik: disebut juga tekanan onkotik dimana ada suatu gaya akibat
dispersi koloid protein-protein plasma.
7. Tekanan hidrostatik: tekanan yang ditentukan oleh tekanan darah yang semakin perifer
semakin rendah tekanannya; tekanan yang mendorong cairan dari plasma ke interstisial.

BRAINSTORMING

Pertanyaan
1. Mengapa dengan menaikkan kaki bisa mengurangi bengkak?
2. Mengapa kadar albumin rendah dapat menyebabkan gangguan?
3. Apa hubungan tekanan koloid osmotik dan tekanan hidrostatik terhadap edema?
4. Bagaimana mekanisme terjadinya edema?
5. Bagaimana mekanisme tekanan koloid osmotik dan tekanan hidrostatik yang normal?
6. Apa yang menyebabkan protein albumin terganggu?
7. Apa yang menyebabkan terjadinya edema dan asites?
8. Apa saja gejala dari edema?
9. Apa faktor yang mempengaruhi peningkatan cairan dalam tubuh?
10. Bagaimana cara penanganan edema?

1
Jawaban

1. Untuk mengurangi proses sitem renin-angiotensin-aldosteron.


2. Apabila kadar albumin rendah, albumin tidak dapat menarik air ke dalam kapiler
sehingga tekanan osmotik terganggu.
3. Albumin tidak mengalami penarikan air dalam kapiler dan tidak melawan tekanan
filtrasi. Karena edema bisa disebabkan oleh tekanan darah sehingga tekanan hidrostatik
juga terganggu.
4. Underfilling: naiknya tekanan hidrostatis venosa. Overfilling: ekspansi cairan plasma
akibat reabsorpsi
5. Tekanan koloid osmotik: menarik air ke dalam kapiler.
Tekanan hidrostatik: menarik air ke dalam kapiler
6. Terjadi kerusakan hati dan ginjal
7. Edema
-berkurang protein plasma
-meningkatnya tekanan kapiler darah
-meningkatnya permeabilitas kapiler
-retensi air dan natrium
-terjadi sumbatan pembuluh limfa
-alergi dan efek samping obat
Asites: penyakit sirosis hati dan jantung
8. Bengkak dan apabila ditekan tidak kembali seperti semula
9. Usia, aktivitas, kerusakan organ, terlalu banyak asupan air
10. Tirah baring, kurangi asupan garam, olahraga, penggunaan obat diuretik

HIPOTESIS

Edema adalah penimbunan cairan diintrasel yang salah satu penyebabnya adalah kekurangan
albumin yang berpengaruh terhadap tekanan onkotik dan tekanan hidrostatik pada
intravaskular. Gejala ditandai dengan adanya bengkak yang apabila ditekan tidak bisa
kembali seperti semula. Edema dapat diatasi salah satunya dengan pemberian infus albumin.

2
SASARAN BELAJAR

LO 1. Memahami dan Menjelaskan Tentang Sirkulasi Kapiler Darah

.1.1 Definisi Kapiler Darah


Tempat pertukaran bahan antara darah dan sel jaringan, bercabang-cabang secara
ekstensif untuk membawa darah agar dapat dijangkau oleh setiap sel. (Sherwood,2013)
Setiap pembuluh halus yang menghubungkan arteriol dan venul, dindingnya berlaku
sebagai membran permeabel untuk pertukaran berbagai substansi antara darah dan
cairan jaringan. (Dorland, 2014)

.1.2 Fungsi Kapiler Darah


Tempat untuk pertukaran zat antara darah dengan sel jaringan
Oksigen dan zat-zat makanan di masukkan ke dalam sel melalui pembuluh kapiler. Zat-
zat ini digunakan sel untuk memperoleh energi dengan cara pembakaran.
Menghubungkan ujung pembuluh nadi yang terkecil dan berhubungan langsung dengan
sel-sel tubuh.
Mangangkut zat-zat sisa pembakaran (oleh pembuluh kapiler yang berhubungan dengan
pembuluh balik).
Absorbsi nutrisi pada usus.
Filtrasi pada ginjal.
Absorbsi sekret kelenjar.
Menghubungkan arteriol dan venuler.

.1.3 Susunan Sirkulasi Kapiler Darah


Struktur Kapiler Darah
1) Dinding kapiler sangat tipis (ketebalan 1 ; sebagai perbandingan, garis tengah
rambut manusia adalah 100 . Kapiler terdiri dari hanya satu lapisan sel endotel
gepeng. Tidak terdapat otot polos atau jaringan ikat. Sel endotel di topang oleh
membran basal yang tipis , lapisan matrik ekstrasel aseluler di sekitarnya yang
terdiri dari glikoprotein dan kolagen. Materi yang memasuki atau meninggalkan
kapiler berdifusi secara bebas melewati membran basal. Kapiler juga memiliki pori
tempat materi yang terlarut air dapat melewatinya. Ukuran dan jumlah pori kapiler
bervariasi, bergantug pada jaringannya.
2) Setiap kapiler sedemikian sempitnya (garis tengah rata-rata 7) sehingga sel darah
merah (garis tengan 8 ) harus melalui satu per satu, karena itu, plasma dapat
berkontak langsung dengan bagian dalam dinding kapiler atau hanya terpisah oleh
jarak difusi yang pendek.
3) Para peneliti memperkirakan bahwa karena luasnya percabangan kapiler, tidak ada
sel yang letaknya lebih jauh dari 0,1 mm (4/1000 inci) dari sebuah kapiler.
4) Kapiler hanya mengandung 5% dari darah normal yaitu 250 ml dari total 5000 ml.
5) Sel-sel endotel membentuk dinding yang sangat rapat. Sebagian besar kapiler
terdapat celah sempit atau pori kapiler. Pori kapiler berisi air yang memungkinkan

3
lewatnya molekul-molekul kecil larut air. Sedangkan molekul yang larut lemak,
hanya bisa menembus kapiler pada hati.
6) Difusi bergantung pada permeabilitas dinding kapiler
7) Histamin bisa memicu perangkat kontraktil aktin-miosin di dinding sel endotel yang
dapat memperbesar pori-pori kapiler. Akibatnya protein-protein plasma yang tadinya
tertahan dapat lewat ke jaringan sekitar, dan menimbulkan tekanan osmotik.

Proses Sirkulasi Kapiler Darah


Sirkulasi sistemik dan paru masing-
masing terdiri dari sistem pembuluh yang
tertutup. Rangkaian vascular ini masing-masing
terdiri dari rangkaian bersambungan berbagai
jenis pembuluh darah yang berbeda yang
berawal dan berakhir di jantung, seperti yang
akan di jelaskan disini.
Dilihat dari gambar diatas pada sirkulasi
sistemik, arteri, membawa darah dari jantung
ke organ, bercabang membentuk pembuluh
darah yang semakin kecil dengan berbagai
cabang untuk menyalurkan darah ke berbagai
bagian tubuh. Ketika mencapai organ yang
didarahi, arteri kecil bercabang-cabang
membetuk banyak arteriol. volume darah yang
melewati organ tersebut diatur oleh
caliber(diameter internal) arteriol organ
tersebut. Arteriol kemudian bercabang-cabang
di dalam organ menjadi kapiler, tempat
terjadinya pertukaran antar darah dengan sel sekitarnya yang merupakan tujuan utama
dari terjadinya sistem sirkulasi. Kapiler-kapler akan menyatu kembali membentuk
venula kecil, yang lebih lanjut membentuk vena kecilyang keluar dari organ. Vena-
vena kecil menyatu kembali membentukvena besar yang akhirnya mengalirkan isinya
ke jantung. Arteriol,kapiler, dan venula disebut mikrosirkulasi, karena pembuluh-
pembuluh ini hanya dapat dilihat dengan mikroskop yang terletak di organ. Sirkulasi
paru terdiri dari tipe pembuluh yang sama dengan sirkulasi sistemik

Sirkulasi pertukaran darah dan jaringan lewat kapiler

Seperti yang kita bahas diatas bahwa tujuan utama adanya sirkulasi adalah terjadinya
pertukaran antara darah dan jaringan. Dalam pertukaran tersebut saat melewati kapiler
berlangsung dengan dua cara: (1) Difusi pasif menuju konsentrasi, mekanisme
utama untuk pertukaran tiap-tiap zat terlarut; dan (2) Bulk flow, suatu proses yang
mengisi fungsi berbeda dalam menentukan distribusi volume CES antara
kompartemen vascular dan cairan interstisium.

4
1. Difusi
Sebagian besar dinding kapiler tidak memiliki sistem transport yang diperantarai oleh
pembawa, zat-zat terlarut menyebrang terutama dengan difusi mengikuti penurunan
gradient konsentrasi. Organ-organ secara terus menerus menambahkan nutrient dan
O2 dan mengeluarkan CO2. Sementara sel secara terus menerus menyerap pasokan
tersebut dan menghasilkan zat sisa. Sel akan membutuhkan O2 dan glukosa sehingga
darah membawa bahan-bahan tersebut dengan mendorong secara difusi bahan-bahan
dari darah ke sel dan secara bersamaan terjadi difusi neto CO2 dan zat sisa metabolic
dari sel ke darah.
2. Bulk Flow
Protein yang bebas dari plasma saat filtrasi yang bercampur dengan cairan
interstisium akan di reabsorbsi, dan proses tersebut dinamakan bulk flow karena
konstituen cairan cair dan zat terlarut berpindah bersama-sama, atau sebagai suatu
kesatuan, berbeda dengan difusi yang bahan-bahannya di secret masing-masing atau
sendiri-sendiri menuruni gradient konsentrasi.
Dinding kapiler berfungsi sebagai penyaring, dengan cairan mengalir melalui pori
berisi air. ultrafiltrasi terjadi saat tekanan di dalam kapiler melebihi tekanan di luar
sehingga cairan terdorong keluar melalui pori. Sedangkan reabsorbsi terjadi saat
tekanan yang mengarah kedalam melebihi tekanan keluar, terjadi perpindahan neto
cairan masuk dari cairan interstisium ke dalam kapiler melalui pori.

Tekanan osmotik koloid/ tekanan ontotik merupakan tekanan yang ditentukan oleh
dispersi koloid protein plasma, tekanan ini mendorong pergerakan cairan kedalam
kapiler. Tekanan koloid terjadi dari tekanan rendah ke tekanan tinggi.
Tekanan hidrostatik merupakan tekanan cairan yang bekerja dibagian luar dinding
kapiler oleh cairan intertisium, tekanan ini mendorong cairan masuk kedalam kapiler.
Pada ujung arteri dari kapiler tekanan hidrostatik nya lebih tinggi dari tekanan
osmotik koloid darah, air,larutan dan sedikit protein melintasi dinding kapiler.
Pada ujung vena, tekanan hidrostatik lebih rendah dan tekanan osmotik koloid
cenderung menarik air, elektrolit, dan produk katabolisme jaringan kembali ke dalam
darah.

5
.1.4 Mekanisme Tekanan Darah Kapiler, Tekanan Onkotik, Tekanan Hidrostatik
Cairan Interstitium, dan Tekanan Osmotik Koloid Cairan Interstisium

1) Tekanan Hidrostatik Kapiler (HPc) Tekanan cairan atau hidrostatik darah yang
bekerja pada bagian dalam dinding kapiler. Tekanan ini cenderung mendorong
cairan keluar kapiler untuk masuk kedalam cairan interstisium. Secara rata-rata,
tekanan hidrostatik diujung arteriol kapilr jaringan adalah 37 mmHg dan semakin
menurun menjadi 17 mmHg diujung venula. 2.
2) Tekanan Osmitok Kapiler (OPc) Dikenal juga sebagai tekanan onkotik, adalah suatu
gaya yang disebabkan oleh dispersi koloid protein-protein plasma, tekanan ini
mendorong pergerakan cairan dalam kapiler. Plasma memiliki konsentrasi protein
yag lebih besar dan konsentrasi air yang lebih kecil daripada di cairan interstisium.
Perbedaan ini menimbulkan efek osmotik yang cenderung mendorong air dari
daerah dengan konsentrasi air tinggi di cairan interstisium kedaerah dengan
konsentrasi air rendah (atau konsentrasi protein lebih tinggi) di plasma. Tekanan
osmotik koloid plasma rata-rata 25 mmHg
3) Tekana Hidrostatik Cairan Interstisium (HPi) Tekanan cairan yang bekerja di bagian
luar dinding kapiler oleh cairan interstisium. Tekanan ini cenderung mendorong
cairan masuk kedalam kapiler. Tekanan hidrostatik cairan interstisium dianggap 1
mmHg. 4
4) Tekanan Osmotik Cairan Interstisium (OPi) Sebagai kecil protein plasma yang bocor
keluar dinding kapiler dan mesuk ke ruang interstisium dalam keadaan normal
dikembalikan kedarah melalui sistem limfe. Namun, apabila protein plasma secara
patologis bocor kedalam cairan interstisium, misalnya ketika histamin memperlebar
celah antarsel selama cedera jaringan. Protein-protein yang bocor mrnimbulkan efek
osmosis yang cenderung mendorong perpindahan cairan keluar dari kapiler kedalam
cairan interstisium.
Dengan demikian, dua tekanan yang cenderung mendorong cairan keluar
kapiler adalah tekanan darah kapiler dan tekanan osmotik koloid cairan interstisium.
Dua tekanan yang cenderung mendorong cairan masuk kedalam kapiler adalah tekanan
osmotik koloid plasma dan tekanan hidrostatik cairan interstisium.

6
Mekanisme perpindahan neto cairan menembus dinding kapiler dan hubungan dengan
sistem limfe

Gambar Bulk Flow menemus dinding kapiler

Perpindahan bersih di setiap titik menembus dinding kapiler dapat dihitung dengan
persamaan berkut.

Tekanan pertukaran bersih = (Pc + IF) (Pif + p)

Tekanan Ultrafiltrasi akan terjadi jika hasil tekanan pertukaran neto positif (ketika
tekanan keluar melebihi tekanan ke dalam), sedangkan hasil pertukaran neto negative
mencerminkan tekanan reabsorbsi (ketika tekanan masuk melebihi tekanan keluar).
Di ujung arteriol kapiler terjadi ultrafiltrasi sewaktu gradient tekanan keluar
mendorong protein kapiler bebas karena tekanan berjumlah 37mmHg sedangkan tekanan
masuk totalnya 26mmHg sehingga total keluar neto adalah 11mmHg.
Di ujung venula kapiler, tekanan darah telah turun menjadi 17 mmHg sementara
tekanan masuk total tetap 26mmHg sehingga terjadi tekanan masuk bersih (Reabsorbsi)
9mmHg.
Ultrafiltrasi dan reabsorbsi dikenal dengan Bulk Flow yang disebabkan antara gaya-
gaya fisik pasif yang berkerja menembus dinding kapiler.

7
Gambar Hubungan pembuluh limfe dan kapiler darah

Dalam keadaan normal, jumlah cairan yang keluar dari kapiler ke dalam cairan
interstisium(11mmHg) lebih banyak daripada cairan yang di reabsorbsi (9mmHg). Kelebihan
cairan yang tersaring keluar akibat ketidakseimbangan filtrasi-reabsorbsi ini diserap oleh
sistem limfe.

Gambar Susunan sel endotel d pembuluh limfe

Sel-sel endotel yang membentuk dinding pembuluh limfe awal yang tumpang tindih dan tidak
mengikat sel sekitar membentuk lubang mirip katup satu arah di dinding pembuluh. Tekanan
cairan di bagian luar pembuluh mendorong masuk dari tepi tumpang-tindih, menciptakan
celah antar tepi sehingga cairan interstisium bisa masuk.

8
Gambar Sistem Limfe

Setelah masuk ke pembuluh limfe, cairan interstisium dinamai cairan limfe. Tekanan cairan
di bagian dalam mendorong tepi-tepi yang tumpang-tindih saling merekat, menutup katup
sehingga cairan limfe tidak keluar. Lubang pembuluh limfe lebih besar daripada pori di
kapiler darah, sehingga partikel besar di cairan interstisium (misalkan protein plasma dan
bakteri) dapat masuk ke pembuluh limfe tetapi tidak dapat masuk ke kapiler darah.
Pembuluh-pembuluh limfe yang menyatu akan bermuara ke sistem vena di dekat tempat darh
memasuki atrium kanan. Aliran limfe terjadi melalui kontraksi otot polos yang mengelilingi
pembuluh limfe yang dikenal dengan pompa limfe dan kontraksi otot yang memeras limfe
keluar dari pembuluh oleh otot-otot rangka.

Peran Bulk Flow

Bulk flow sangat penting dalam mengatur distribusi CES antara plasma dan cairan
interstisium. Pemeliharaan tekanan darah yang sesuai sebagian bergantung pada volume
darah yang beredar.

Jika volume plasma turun maka tekanan darah ikut turun yang menyebabkan peubahan
keseimbangan dinding-dinding kapiler sehingga terjadi tambahan cairan yang berpindah dari
kompartemen interstisium kedalam plasma akibat kurangnya filtrasi dan bertambahnya
reabsorbsi. Dan sebaliknya, jika volume plasma bertambah berlebihan, maka terjadi
peningkatan tekanan darah kapiler mendorong lebih banyak cairan keluar dari kapiler ke
cairan interstisium sehingga mengurangi penambahan volume plasma dari kelebihan cairan
tersebut dapat dikeluarkan oleh tubuh.

Peran Sistem Limfe

Mengembalikan kelebihan cairan yang terfiltrasi


Pertahanan terhadap penyakit
Transport lemak yang diserap
Pengembalian protein yang tersaring

9
LO 2. Memahami dan Menjelaskan Aspek Biokimia dan Fisiologi Cairan Tubuh
2.1 Metabolisme Air

Cara pengeluaran cairan bisa melalui 4 organ


1) Ginjal: melalui proses pengeluaran urin
yang melibatkan hormon ADH dan aldosteron
2) Kulit: melalui proses pengeluaran
keringat yang diatur oleh saraf simpatis yang
dirangsang oleh temperatur dan aktivitas
3) Paru-paru: meningkatnya cairan yang
hilang sebagai respon terhadap perubahan
kecepatan dan kedalaman napas akibat
pergerakan/demam
4) Gastrointestinal: penyerapan dan
pengeluaran air di pencernaan

Intake (ml) Outake (ml)


Air minum: 1400-1800 Urin: 1400-1800
Makanan: 700-1000 Feses: 100
Hasil Oksidasi: 300-400 Kulit: 300-500
Paru-paru: 600-800
Total: 2400-3200 Total: 2400-3200

2.2 Faktor yang Mempengaruhi


1. Usia : air tubuh menurun sesuai peningkatan usia
2. Jenis kelamin ; pada wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara professional
karena lebih banyak mengandung lemak tubuh
3. Sel-sel lemak mengandung sedikit air, sehingga air tubuh menurun dengan
peningkatan lemak tubuh
4. Iklim: Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban
udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui
keringat. Sedangkan seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat
kehilangan cairan sampai dengan 5 L per hari.
5. Diet: Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elktrolit. Ketika intake
nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan
serum albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat
diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan
edema.

10
2.3 Penyebab dan Koreksi Kelebihan Air

Kelebihan volume ECF dapat terjadi jika Na dan air tertahan dengan proporsi yang
lebih kurang sama seiring dengan terkumpulnya cairan isotonik berlebihan di ECF
(hipervolemia) maka cairan akan berpindah ke kompartemen cairan intersitial > Edema.
Kelebihan cairan volume selalu terjadi sekunder akibat peningkatan kadar Na tubuh total
yang akan menyebabkan terjadinya retensi air. Penyebab volume ECF berlebihan yaitu,
mekanisme pengaturan yang berubah, gagal jantung, sirosis hati, sindrom nefrotik, dan
gagal ginjal.
Overhidrasi terjadi jika asupan cairan lebih besar daripada pengeluaran cairan.
Kelebihan cairan dalam tubuh menyebabkan konsentrasi natrium dalam aliran darah
menjadi sangat kecil. Minum air dalam jumlah banyak biasanya tidak menyebabkan
overhidrasi jika kelenjar hipofisis, ginjal, dan jantung berfungsi secara normal.
Overhidrasi lebih sering terjadi pada orang yang ginjalnya tidak normal.

Koreksi:
Olahraga teratur = mengeluarkan keringat.
Tidur cukup.
Mengatur asupan garam = garam memegang peranan penting dalam keseimbangan air
dalam tubuh.
Minum banyak air = hidrasi yang berlebihan dapat menimbulkan retensi air sehingga
kita harus menjaga keseimbangan asupan air.

2.4 Edema pada Kapiler, Arteri, Venuler, dan Limfa

1) Berkurangnya konsentrasi protein plasma menurunkan tekanan osmotik koloid


plasma. Penurunan tekanan masuk utama ini menyebabkan kelebihan cairan yang
keluar sementara cairan yang direabsorpsi lebih sedikit daripada normal. Karena itu,
kelebihan cairan tersebut tetap berada di ruang interstisium
2) Meningkatnya permeabilitas dinding kapiler memungkinkan lebih banyak protein
plasma yang keluar dari plasma ke dalam cairan interstisium sekitar. Penurunan
tekanan koloid osmotik plasma yang terjadi menurunkan tekanan masuk efektif,
sementara peningkatan tekanan osmotik koloid cairan interstisium yang terjadi akibat
peningkatan protein di cairan interstisium meningkatkan tekanan keluar efektif.
3) Meningkatnya tekanan vena, ketika darah terbendung di vena, menyebabkan
peningkatan tekanan darah kapiler. Karena kapiler mengalirkan isinya ke dalam vena,
pembendungan darah di vena mengarah pada back log darah di dalam kapiler
karena lebih sedikit darah yang keluar dari kapiler menuju vena yang kelebihan
muatan daripada yang masuk ke arteriol. Peningkatan tekanan hidrostatik keluar
melewati dinding kapiler ini berperan besar menyebabkan edema pada gagal jantung
kongestif. Edema regional uga dapat terjadi akibat restriksi lokal aliran balik vena
4) Sumbatan pembuluh limfe menyebabkan edema karena kelebihan cairan filtrasi
tertahan di airan interstisium dan tidak dapat dikembalikan ke darah melalui
pembuluh limfe. Akumulasi protein di cairan interstisium memperparah masalah
melalui efek osmotiknya.

11
LO 3. Memahami dan Menjelaskan Edema

3.1 Definisi Edema


Edema adalah suatu keadaan dimana terjadi akumulasi air dijaringan interstisium
secara berlebihan akibat penambahan volume yang melebihi kapasitas penyerapan
pembuluh limfe. (Gangguan keseimbangan air, FKUI)
Edema adalah adanya cairan dalam jumlah berlebihan diruang jaringan antar sel
tubuh, biasanya merujuk ke jaringan subkutis. Edema dapat bersifat local (obstruksi
vena atau peningkatan permeabilitas vascular) atau bersifat sistemis (gagal jantung
atau ginjal). (Kamus Dorland)
Edema adalah penimbunan cairan secara berlebihan di antara sel-sel tubuh atau di
dalam berbagai rongga tubuh. (IPD)
Edema adalah suatu keadaan dimana terjadi akumulasi air dijaringan interstitium
secara berlebihan akibat penambahan volume yang melebihi kapasitas penyerapan
pembuluh limfe. (Utama, 2013)
Edema adalah pembengkakan jaringan lunak karena ekspansi abnormal volume
cairan interstitial. (Harrison, 2013)

3.2 Klasifikasi Edema


Jenis edema berdasarkan penekanan pada kulit:
1) Edema pitting adalah mengacu pada perpindahan (menyingkirnya) air interstisial
oleh tekanan dari pada kulit yang meninggalkan cekungan. Setelah tekanan dilepas
memerlukan beberapa menit bagi cekungan ini untuk kembali pada keadaan semula.
Edema pitting sering terlihat pada sisi dependen,seperti sokrum pada individu yang
tirah baring,begitu juga dengan tekanan hidrostatik grafitasi meningkatkan akumulasi
cairan di tungkai dan kaki pada individu yang berdiri.
2) Edema Non pitting adalah terlihat pada area lipatan kulit yang longgar,seperti
periorbital pada wajah. Edema non pitting apabila ditekan, bagian yg ditekan itu akan
segera kembali kebentuk semula.
3) Edema intrasel
Ada dua kondisi yang memudahkan terjadinya pembengkakan intrasel:
a. depresi system metabolism jaringan dan
b. tidak adanya nutrisi sel yang adekuat. Contohnya, bila aliran darah ke jaringan
menurun,pengiriman oksigen dan nutrient berkurang. Jika aliran darah menjadi
sangat rendah untuk mempertahankan metabolism jaringan normal,maka pompa
ion membrane sel menjadi tertekan. Bila hal ini terjadi, ion natrium yang biasanya
masuk ke dalam sel tidak dapat lagi dipompa keluar dari sel, dan kelebihan ion
natrium dalam sel menimbulkan osmosis air ke dalam sel. Kadang kadang hal ini
dapat meningkatkan volume intrasel suatu jaringan bahkan pada seluruh tungkai
yang iskemik,contohnya sampai dua atau tiga kali volume normal. Bila hal ini
terjadi, biasanya merupakan awal terjadinya kematian jaringan. Edema intrasel
juga dapat terjadi pada jaringan yang meradang. Peradangan biasanya mempunyai

12
efek langsung pada membrane sel yaitu meningkatnya permeabilitas membrane,
dan memungkinkan natrium dan ion-ion lain berdifusi masuk ke dalam sel, yang
diikuti dengan osmosis air ke dalam sel.
4) Edema ektrasel
Edema ekstrasel terjadi bila ada akumulasi cairan yang berlebihan dalam ruang
ekstrasel. Ada dua penyebab edema ekstrasel yang umum dijumpai :
a. Kebocoran abnormal cairan dari plasma ke ruangan interstisial dengan melintasi
kapiler
b. kegagalan system limfatik untuk mengembalikan cairan dari interstisium ke
dalam darah. Penyebab kliniis akumulasi cairan interstisial yang paling sering
adalah filtrasi cairan kapiler yang berlebihan.

Edema berdasarkan tempat


1) Edema lokalisata (edema lokal)
Hanya tebatas pada organ/pembuluh darah tertentu. Terdiri dari :
Ekstremitas (unilateral), pada vena atau pembuluh darah limfe
Ekstremitas (bilateral), biasanya pada ekstremitas bawah
Muka (facial edema)
Asites (cairan di rongga peritoneal)
Hidrotoraks (cairan di rongga pleura)
2) Edema Generalisata (edema umum)
Pembengkakan yang terjadi pada seluruh tubuh atau sebagian besar tubuh pasien.
Biasanya pada :
Gagal jantung
Sirosis hepatis
Gangguan ekskresi
3) Edema Organ, adalah suatu pembengkakan yang terjadi di dalam organ,
misalnya,hati, jantung, ataupun ginjal. Edema akan terjadi di organ-organ tertentu
sebagai bagian dari peradangan, seperti dalam faringitis, tendonitis atau pancreatitis,
sebagai contoh: Organ-organ tertentu mengembangkan edema melalui mekanisme
jaringan tertentu.

3.3 Penyebab Terjadinya Edema


Alcohol yang dapat menyebabkan sirosis hati
Tekanan darah tinggi
Penyakit ginjal
Kehamilan
Gaya hidup yang jarang melakukan aktifitas fisik
Merokok
Telah melakukan operasi
Perubahan hemodinamik dalam kapiler yang memungkinkan keluarnya cairan
intravaskuler ke jaringan interstitium.

13
Retensi natrium di ginjal.
Kegagalan jantung dalam menjalankan fungsinya.
Kegagalan ginjal dalam menjalankan fungsi ekskresi.
Kegagalan/kelainan sistem pembuluh limfatik.
Gangguan permeabilitas kapiler (syok luka bakar, dengue shock syndrome)
Hipoproteinemia berat yang menyebabkan gangguan tekanan osmotik koloid.

3.4 Manifestasi Klinik


Gejala edema :
- Bengkak, mengkilat, bila ditekan timbul cekungan dan lambat kembali seperti semula
- Berat badan naik, penambahan 2% kelebihan ringan, penambahan 5% kelebihan
sedang, penambahan 8% kelebihan berat.
- Adanya bendungan vena dileher, pemendekan nafas dan dalam, penyokong darah
(pulmonary)
- Perubahan mendadak pada mental dan abnormalitas tanda saraf, penahanan
pernapasan (pada edema cerebral yang berhubungan DKA)
- Nyeri otot yang berkaitan dengan pembengkakan
- Peningkatan tekanan vena (> 11 cm H2O)
- Efusi pleura
- Denyut nadi kuat
- Edema perifer dan periorbita
- Asites

3.5 Pemeriksaan Lab

Pemeriksaan Fisis
Untuk penyebab edema Untuk luasnya edema

Bengkak tungkai Tekanan vena jugularis


Bengkak sacral (JVP)
Asites Tanda penyakit jantung,
Efusi pleura hati, ginjal
Edema paru Pemeriksaan rektal,
vaginal
Limfadenopati

Inspeksi : Pemeriksaan dilakukan dengan melihat pada daerah edema biasanya bentuk
paru seperti kodok (abdomen cekung dan sedikit tegang), variesis di dekat usus ,
variesis di dekat tungkai bawah dan sebagainya
Palpasi : Menekan dengan ibu jari bagian yang bengkak dan di amati waktu
pengembaliannya (Pitting dan Non Pitting)
Derajat 1 : Kedalaman 1-3 mm dengan waktu kembali 3 detik
Derajat 2 : Kedalaman 3-5 mm dengan waktu kembali 5 detik
Derajat 3 : Kedalaman 5-7 mm dengan waktu kembali 7 detik
Derajat 4 : Kedalaman 7 mm dengan waktu kembali 7 detik

14
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan tergantung dari gambaran yang didapat pada
anmnesis dan pemeriksaan fisis. Namun yang biasanya dilakukan adalah pengukuran
kadar albumin serum, kebocoran protein urin, tes fungsi hati, kreatinin, EKG, foto
toraks, dan ekokardiografi.
Penurunan Serum osmolalitas (280 mOsm/kg)
Penurunan serum protein, albumin, ureum , Hb, dan Ht.
Peningkatan tekanan vena sentral

3.6 Pengobatan
1) Tirah baring = mempeerbaiki efektivitas diuretika pada pasien transudar yang
beerhubungan dengan hipertensi porta yang dapat menyebabkan peningkatan
aldosterone. Dengan cara kaki diangkat
2) Diet rendah natriun : <500 mg/hari
3) Stoking suportif dan elevasi kaki
4) Retriksi cairan ; <1500 ml/hari
5) diuretik

15
DAFTAR PUSTAKA

Dorland WA, Newman. 2010. Kamus Kedokteran Dorland edisi 31. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Sherwood, Lauralee. 2014. Fisiologi Manusia dari sel ke system ed.8. Jakarta : EGC

Isselbacher dkk. 2012. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Alih bahasa Asdie
Ahmad H., Edisi 13, Jakarta: EGC

Patofisiologi Sherwood bab 10 pembuluh darah dan tekanan darah

Darwis, darlan.2013.Gangguan Keseimbangan air-elektrolit dan Asam Basa.Jakarta.FKUI.

Utama, Hendra. 2008. Gangguan keseimbangan air-elektrolit dan asam-basa. Jakarta: FKUI

Siti Setiadi, Idrus Alwi, dkk. 2015. Ilmu Penyakit Dalam edisi VI. Jakarta: Interna Publishing

http://www.merckmanuals.com/home/hormonal-and-metabolic-disorders/water-
balance/overhydration#en-US
http://www.aktual.com/dokter-kenali-tanda-overhidrasi-dan-cara-mengobatinya/

16