Anda di halaman 1dari 8

Hubungan Dukungan Sosial Keluarga....

Rahayu Sri Utami, Raudatussalamah

Hubungan Dukungan Sosial Keluarga dengan Kepatuhan Berobat


Penderita Hipertensi di Puskesmas Tualang
Rahayu Sri Utami, Raudatussalamah

Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau


email:raudatussalamah@uin-suska.ac.id

Abstrak
Kepatuhan Berobat merupakan aspek utama dalam menjalankan pengobatan hi-
pertensi. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan berobat adalah den-
gan memberikan dukungan sosial keluarga kepada penderita hipertensi.Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan socialkeluarga dengan kepatuhan
berobat penderita hipertensi. Sampel ditentukan dengan menggunakan non random
dengan jumlah 109 penderita hipertensi yang terdiri dari 46 orang penderita laki laki
dan 63 orang perempuan yang berobat di Puskesmas Tualang. Alat ukur yang diguna-
kan yaitu skala kepatuhan berobat dari Horne, Weinman, Barber, Elliott, dan Morgan,
sedangkan skala dukungan sosial dari Sarafino.Berdasarkan hasil analisis korelasi
product moment diperoleh nilai koefisien korelasi dukungansosial keluarga dengan
kepatuhan berobat adalah sebesar r = 0,501 dengan taraf signifikansi sebesar 0.000
(p<0.05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara dukun-
gan sosial keluarga dengan kepatuhan berobat penderita hipertensi di Puskesmas
Tualang. Artinya, semakin tinggi dukungan yang diberikan keluarga terhadap pend-
erita hipertensi maka semakin tinggi pula kepatuhan berobat penderita hipertensi di
Puskesmas Tualang.

Kata Kunci: dukungan sosial keluarga, kepatuhan berobat, hipertensi

Relationship Between Family Social Support With Medical


Treatment Adherence Of Hypertension Sufferers In
Puskesmas Tualang
Abstract

Adherence with medical treatment is a major aspect of the running treatment of


hypertension. One of the factors that may affect adherence with medical treatment is
to provide social support to families of hypertension. This research aims to know the
relationship of family social support and medical treatment adherence of hypertension
sufferers. The sample is determined by using non random technique with total of hy-
pertension sufferers 109 consisted of 46 men and 63 women who seek medical treat-
ment at Tualang Clinics. The measuring instrument used scale treatment adherence
by Horne, Weinman, Barber, Elliott, and Morgan, while social skaladukungan by Sara-
fino. The analysis results of product moment correlation of social support families with
medication adherence is r = 0.501 level of significance 0.000 (p < 0.05). The results of
this research show that there is a relationship betweenfamilies social support with hy-
pertension sufferers seek treatment adherence in Tualang Clinics. That its mean, the
higher the family support is provided towards the sufferers of hypertension the higher
adherence in hypertension sufferers seek treatment Tualang Clinics..

Keywords: family social support, treatment adherence, hypertensio

Pendahuluan Pengobatan untuk penderita hiperten-


si dapat dilakukan secara farmakologis mau-
Hipertensi merupakan salah satu pen- pun non-farmakologis. Pengobatan secara
yakit tidak menular yang terjadi akibat pening- non-farmakologis dapat berupa melakukan
katan tekanan darah. Peningkatan tekanan pola hidup sehat seperti pengendalian berat
darah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor badan, pengendalian stres, pengurangan as-
risiko antara lain meliputi usia, jenis kelamin, upan garam, rendah kolesterol, tidak merokok
riwayat keluarga, obesitas, dan kadar garam dan tidak mengkonsumsi alkohol. Pengobatan
tinggi (Palmer, 2007). Hipertensi merupakan secara farmakologis yaitu dengan rutin meng-
penyakit yang harus diterapi seumur hidup. konsumsi obat anti hipertensi secara teratur
Selain prevalensinya yang tinggi dan cender- setiap hari dan melakukan pengontrolan te-
ung meningkat pada masa yang akan datang, kanan darah sesuai dengan yang dianjurkan
tingkat keganasannya juga tinggi. dokter. Keharusan inilah yang menyebabkan

91
Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 1, Juni 2016

terjadinya ketidakpatuhan keadaan pasien Sehingga dengan adanya dukungan sosial


yang merasa bosan karena harus minum obat keluarga kepatuhan berobat penderita hi-
setiap hari dan juga harus menerapkan per- pertensi juga akan semakin tinggi.
ilaku hidup sehat setiap hari. Dukungan sosial keluarga yang di-
Kepatuhan memiliki beberapa kon- berikan kepada penderita hipertensi dapat
sep, Horne, Weinman, Barber, Elliot, dan berupa dukungan emosional seperti mengin-
Morgan (2006) menyebutkan beberapa istilah gatkan penderita untuk mengkonsumsi obat
menyangkut tentang kepatuhan berobat yai- dengan teratur, memberikan perhatian, kasih
tu: compliance, concordance dan adherence. sayang serta kepedulian terhadap penderita
Pada penelitian ini konsep kepatuhan yang di- hipertensi. Dukungan instrumental seperti
gunakan ialah konsep kepatuhan adherence. dengan memberikan pertolongan langsung
Dalam menjalankan pengobatan hipertensi, kepada penderita hipertensi dengan cara me-
tentu dibutuhkan interaksi antara dokter dan nyediakan transportasi ketika penderita ingin
penderita hipertensi dalam menentukan pen- berobat dan menyediakan biaya pengobatan.
gobatan yang harus dan yang tidak harus Dukungan informasi juga dibutuhkan oleh
dilakukan oleh penderita hipertensi. Inter- penderita hipertensi seperti dengan memberi-
aksi yang dilakukan antara dokter dan pen- kan informasi mengenai kesehatan, pengob-
derita hipertensi bertujuan agar kedua belah atan hipertensi, memberikan saran, nasihat
pihak dapat menyepakati pengobatan yang serta petunjuk yang mengenai pengobatan
harus dijalankan oleh penderita hipertensi. hipertensi.
Berdasarkan konsep kepatuhan adherence Berdasarkan latar belakang di atas
dalam pengambilan keputusan pengobatan maka perlu untuk meneliti tentang hubungan
dibutuhkan adanya kesepakatan antara pen- dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan
derita hipertensi dengan dokter dalam men- berobat penderita hipertensi di Puskesmas
jalankan pengobatan. Adanya kesepakatan Tualang. Adapun Penelitian ini bertujuan un-
pengobatan yang telah disepakati oleh kedua tuk mengetahui kepatuhan berobat penderita
belah pihak dapat membantu penderita hi- hipertensidan untuk mengetahui hubungan
pertensi untuk bertanggung jawab pada diri dukungan sosial keluarga dengan kepatuhan
sendiri dan patuh dalam menjalankan pen- berobat pada penderita hipertensi di Puskes-
gobatan sehingga penderita hipertensi patuh mas Tualang.
dalam berobat baik secara farmakologi mau- Penelitian ini dapat digunakan seba-
pun nonfarmakologi. gai masukan untuk bahan referensi dalam
Kepatuhan berobat merupakan as- mempengaruhi kepatuhan berobat pender-
pek utama dalam proses kesembuhan. Agar ita hipertensi khususnya dalam bidang ilmu
proses kesembuhan tersebut dapat terwu- psikologi kesehatan. Bagi penderita hiperten-
jud, tentu membutuhkan kerjasama antara si, sebagai informasi tambahan untuk pend-
penderita hipertensi dengan keluarga. Se- erita hipertensi untuk lebih rutin mengontrol-
buah penelitian yang dilakukan oleh Trianni kan tekanan darahnya ke Puskesmas sesuai
(2013) menyebutkan bahwa ada hubungan yang telah ditetapkan dokter dan untuk lebih
yang signifikan antara dukungan keluarga rutin melakukan program diet yang dianjurkan
dengan kepatuhan berobat pada penderita hi- dokter. Horne, Weinman, Barber, Elliott, dan
pertensi. Keluarga merupakan orang terdekat Morgan (2005) menyatakan kepatuhan dalam
yang dapat berperan aktif dalam tercapainya konsep adherence merupakan sejauh mana
tingkat kepatuhan dan keberhasilan pengob- perilaku pasien setuju dengan rekomendasi
atan pada penderita hipertensi. Apabila per- dari dokter. Selaras dengan pendapat dari
an keluarga tidak dilaksanakan dengan baik Osterberg (2005) menjelaskan bahwa kon-
maka akan terjadi ketidakpatuhan yang dapat sep adherence lebih banyak digunakan oleh
menyebabkan komplikasi pada penderita hi- penyedia layanan kesehatan, karena konsep
pertensi. dari adherence menunjukkan pasien secara
Sarafino (1990) menyatakan bahwa aktif mengikuti perintah dokter dan rencana
individu yang menerima dukungan dari kelu- pengobatan yang dilakukan dijelaskan dan
arga biasanya cenderung lebih mudah men- ditetapkan antara pasien dan dokter.
erima nasehat medis daripada individu yang Horne, Weinman, Barber, Elliott, dan
tidak menerima dukungan. Artinya, begitu Morgan (2005), menyatakan terdapat tiga
penting dukungan sosial keluarga dalam me- dasar kepatuhan berobat yaitu:
nangani masalah kesehatan. Dengan adanya a. Memori. Daya ingat penderita hipertensi
dukungan yang diberikan keluarga tentu akan dalam menjalankan pengobatan. Daya in-
memberikan dampak positif bagi anggota ke- gat penderita hipertensi dalam penelitian ini
luarganya yang mengalami masalah keseha- dapat berupa mengingat instruksi yang tel-
tan dalam menjalankan pengobatan. Begitu ah dijelaskan oleh dokter ketika melakukan
pula bagi penderita hipertensi yang menerima konsultasi dan juga mengingat kapan jad-
dukungan dari keluarga tentu akan mam- wal berobat yang telah disepakati secara
pu mempengaruhi kepatuhan berobatnya. bersama antara dokter dengan penderita

92
Regulasi Emosi pada Mahasiswa Melayu ......Ahyani Radhiani Fitri, Ikhwanisifa

hipertensi. Berdasarkan faktor-faktor yang telah


Kemampuan. Kemampuan dalam peneli- dijelaskan dapat disimpulkan bahwa kepatu-
tian ini dapat berupa melakukan pola hidup han berobat dapat dipengaruhi dengan adan-
sehat seperti melakukan pengobatan se- ya pendidikan, akomodasi, adanya dukungan
cara nonfarmakologi yang berupa melaku- sosial keluarga, adanya interaksi yang baik
kan diet hipertensi dan melakukan pen- antar dokter dengan penderita hipertensi, dan
gobatan secara farmakologi yang berupa juga dengan merubah model terapi yaitu den-
rutin mengkonsumsi obat anti hipertensi gan cara membuat penderita hipertensi terli-
sesuai yang telah ditetapkan oleh dokter. bat aktif selama melakukan program-program
c. Pengetahuan. Pengetahuan penderita pengobatan yang telah dianjurkan dokter.
hipertensi dapat mempengaruhi sikap Menurut Sarafino (1990) dukungan
patuh berobat penderita hipertensi. Se- sosial mengacu pada kesenangan yang dira-
makin tinggi pengetahuan yang dimiliki sakan, penghargaan akan kepedulian, atau
penderita hipertensi maka semakin tinggi membantu orang-orang yang berada diseke-
pula kesadaran dan keinginan pender- liling individu sehingga dukungan yang dira-
ita hipertensi untuk sembuh dengan cara sakan akan sangat penting. Dukungan dapat
patuh mengontrolkan tekanan darahnya diperoleh dari berbagai macam sumber sep-
dan juga patuh dalam melaksanakan pro- erti dukungan dari keluarga, teman, rekan
gram diet hipertensi. kerja atau komunitas organisasi masyarakat
Berdasarkan penjelasan mengenai yang dimiliki oleh setiap individu. Penelitian
aspek-aspek kepatuhan berobat diatas maka, ini menggunakan sumber dukungan sosial
disimpulkan bahwa kepatuhan berobat dalam keluarga. Spradley dan Allender, 1996 (dalam
penelitian ini diukur melalui tingkat daya ingat Padila, 2012) menjelaskan bahwa keluarga
penderita hipertensi selama melakukan pen- merupakan satu atau lebih individu yang ting-
gobatan secara farmakologi maupun nonfar- gal bersama, sehingga mempunyai ikatan
makologi. emosional dan mengembangkan dalam ika-
Feuer Stein dkk (dalam Niven, 2002) tan sosial, peran dan tugas.
menyampaikan secara umum terdapat em- Aspek dukungan sosial keluarga
pat hal yang dapat mempengaruhi kepatuhan dalam penelitian ini menggunakan konteks
berobat, yaitu: dukungan sosial dari Sarafino, (1990) yaitu:
a. Pendidikan. Tingkat pendidikan setiap in- a. Dukungan Emosional; Jenis dukungan
ini dapat berupa memberikan perhatian,
dividu akan dapat mempengaruhi perilaku- adanya kepedulian dan dapat menjadi pen-
nya. Adanya pendidikan yang tinggi akan dengar yang baik bagi pasien hipertensi.
dapat mempengaruhi kemampuan dan b. Dukungan Instrumental; Jenis dukungan ini
pengetahuan setiap individu dalam me- dapat berupa seperti memberikan dukun-
nerapkan perilaku hidup sehat terutama gan melalui biaya, transportasi ataupun
dalam mencegah penyakit hipertensi. Tri- fasilitas-fasilitas lain yang bertujuan agar
anni (2011) menyatakan bahwa semakin penderita hipertensi dapat langsung me-
tinggi tingkat pendidikan maka semakin nyelesaikan permasalahannya.
tinggi pula kemampuan seseorang dalam c. Dukungan Informasi; Banyak keluarga
menjaga hidupnya agar tetap sehat. masih kurang mengerti mengenai pen-
b. Dukungan dari lingkungan sosial dan ke-
yakit hipertensi dan manfaat pengobatan
luarga. Adanya dukungan sosial dari ke- hipertensi sehingga pasien secara tidak
luarga dapat membantu kepatuhan terha- langsung kurang mendapat dukungan in-
dap program-program pengobatan seperti formasional. Adanya jenis dukungan ini
pengurangan berat badan, berhenti mer- bertujuan agar keluarga dari penderita hi-
okok, pengurangan asupan garam dan pertensi dapat memberikan nasehat-nase-
melakukan olahraga. hat medis yang berkaitan dengan hiperten-
c. Perubahan model terapi. Perubahan model
si, memberikan petunjuk bagaimana cara
terapi dapat dilakukan dengan cara mem- pengobatan hipertensi serta memberikan
buat program-program pengobatan yang saran-saran selama penderita melakukan
membuat penderita hipertensi terlibat aktif pengobatan.
dalam pembuatan program-program pen- d. Dukungan Penghargaan; Jenis dukun-
gobatan selama konsultasi dengan dokter. gan ini bertujuan untuk membangun rasa
d. Meningkatkan interaksi antara dokter den-
harga diri pada setiap individu dan individu
gan pasien. Adanya interaksi yang baik se- tersebut menjadi lebih dihargai oleh orang
lama proses konsultasi akan dapat men- lain. Dukungan yang dapat diberikan da-
ingkatkan kepercayaan pasien sehingga pat berupa dengan memberikan penilaian
pasien percaya dengan menjalankan pen- positif atas usahausaha yang dilakukan
gobatan yang telah dijelaskan oleh dokter oleh pasien selama melakukan pengob-
kesehatannya akan menjadi lebih baik lagi. atan dan atau dengan memberikan pujian.
Sehingga penderita hipertensi akan dapat
meningkatkan kepatuhan berobatnya.

93
Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 2, Desember 2016

Berdasarkan pemaparan di atas ma- 0,30 daya pembedanya dianggap memuas-


kan disusun hipotesis sebagai berikut: ter- kan. Namun apabila jumlah aitem yang lolos
dapat hubungan antara dukungan sosial ke- ternyata masih tidak mencukupi jumlah yang
luarga dengan kepatuhan berobat penderita diinginkan, kita dapat mempertimbangkan un-
hipertensi di Puskesmas Tualang. tuk menurunkan sedikit batas kriteria menjadi
0,25 (Azwar, 2012). Hasil uji daya beda dike-
Metode tahui :
a. Kepatuhan berobat
Subjek Hasil analisis 35 aitem kepatuhan berobat
Populasi dalam penelitian ini ada- (x) yang telah di uji cobakan terdapat 12
lah 187 penderita hipertensi yang berobat di aitem yang gugur dan 23 aitem yang sahih
Puskesmas Tualang (sumber data: Puskes- (valid) dengan koefisien kolerasi aitem total
mas Tualang, 2014). Dalam penelitian ini, berkisar antara 0,257 0,744.
sampel yang digunakan untuk penelitian ada- b. Dukungan sosial keluarga
lah sebanyak 109 penderita hipertensi.Dalam Hasil analisis 41 aitem dukungan keluarga
penelitian ini teknik yang digunakan dalam (y) yang telah di uji cobakan terdapat 13
mengambil subjek secara non random sam- aitem yang gugur dan 28 aitem yang sahih
pling. (valid) dengan koefisien kolerasi aitem total
berkisar antara 0,313 - 0,751.Reliabilitas
Pengukuran skala kepatuhan berobat diperoleh sebesar
Alat ukur yang digunakan untuk men- 0,894, dan reliabilitas untuk skala dukun-
gukur kepatuhan berobat penderita hipertensi gan keluarga diperoleh sebesar 0,917.
ini mengacu pada aspek-aspek kepatuhan
berobat dari Horne, Weinman, Barber, El- Hasil
liott, dan Morgan (2005) yang telah disusun
peneliti untuk mengetahui sejauh mana pen- Uji Hipotesis
derita hipertensi patuh dalam menjalankan Hasil analisis korelasi Pearson Prod-
pengobatan.Skala kepatuhan berobat disu- uct Moment diperolehnilai koefisien kore-
sun berdasarkan aspek-aspek yang dikemu- lasi (r) sebesar 0,501 dengan signifikansi
kakan oleh Horne, Weinman, Barber, Elliott, (p) sebesar 0.000. Maka, hipotesis yang dia-
dan Morgan (2005) dengan menggunakan jukan dalam penelitian ini diterima, artinya
model skala Likert. Alat ukur yang digunakan terdapat hubungan dukungan keluarga den-
untuk mengukur skala dukungan keluarga ini gan kepatuhan berobat penderita hipertensi.
mengacu pada aspek-aspek dukungan ke- Hasil ini menunjukkan bahwa semakin tinggi
luarga dari Sarafino (1984) yaitu, dukungan dukungan keluarga, maka semakin tinggi pula
emosional, dukungan instrumental, dukungan kepatuhan berobat penderita hipertensi.
informasi dan dukungan penghargaan. Ska-
la ini disusun berdasarkan dimensi-dimensi Kategorisasi Subjek Kepatuhan Berobat
yang dikemukakan oleh Sarafino (1990) den- Pada skala kepatuhan berobat terdiri
gan menggunakan model skala Likert. atas 23 aitem dengan demikian skor minimal
yang diperoleh oleh subjek pada skala terse-
Uji Daya Beda Diskriminasi Aitem but adalah Xmin = 23 (yaitu 1x23) dan skor
Indeks daya beda adalah sejauh mana tertingginya Xmaks= 92 (yaitu 4x23). Seh-
aitem mampu membedakan antara individu ingga diperoleh nilai Range adalah 69 (yaitu
atau kelompok yang memiliki dan yang tidak 92-23), rata-rata 57 (yaitu (92+23)/2 = dibu-
memiliki atribut yang diukur.Sebagai kriteria latkan) dengan standar deviasinya 11 (yaitu
pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem 69/6 = dibulatkan). Berikut gambaran data hi-
total, biasanya digunakan batasan koefisien potetik dan data empirik dari variabel kepatu-
korelasi aitem minimal 0,30. Semua aitem han berobat:
yang mencapai koefisien korelasi minimal
Tabel 1 Kepatuhan Berobat

Data N Min Max Range Mean SD

Hipotetik 109 23 92 69 57 11
Empirik 109 55 86 31 73,92 7,06

Berdasarkan hasil perhitungan data kepatuhan berobat sebagai berikut:


tabel 1, didapatkan kategorisasi variabel

94
Hubungan Dukungan Sosial Keluarga....Rahayu Sri Utami, Raudatussalamah

Tabel 2. Kategorisasi kepatuhan berobat

Kategorisasi Nilai Frekuensi Persentase

Sangat Rendah X 63 10 9.17


Rendah 63 < X 70 16 14.67
Sedang 70 < X 77 50 45.87
Tinggi 77 < X 84 29 26.60
Sangat Tinggi 84 X 4 3.66

Total 109 100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa Dukungan Sosial Keluarga


variabel kepatuhan berobat berada pada kat- Pada skala dukungan sosial keluarga
egori sangat tinggi dengan jumlah subjek se- terdiri atas 28 aitem yang setiap aitemnya di-
banyak 4 orang dengan persentase 3.66%, beri respon jawaban berkisar 1,2,3,4 dengan
kategori tinggi sebanyak 29 orang dengan demikian skor minimal yang diperoleh oleh
persentase 26.60%, kategori sedang seban- subjek pada skala tersebut adalah Xmin = 28
yak 50 orang dengan persentase 45.87% dan (yaitu 28x1) dan skor tertingginya Xmaks=
kategori rendah sebanyak 16 orang dengan 112 (yaitu 28x4). Sehingga diperoleh nilai
persentase 14.67%. Hasil ini menunjukkan Range adalah 84 (yaitu 112-28), mean 70
bahwa sebagian dari 109 penderita hipertensi (yaitu (112+28) /2) dengan standar deviasinya
yang berobat di Puskesmas Tualang memiliki 14 (yaitu (112-28) /6). Berikut gambaran data
kepatuhan berobat yang sedang. hipotetik dan data empirik dari variabel dukun-
gan sosial keluarga:

Tabel 3. Dukungan Sosial Keluarga


Data N Min Max Range Mean SD

Hipotetik 109 28 112 84 70 14
Empirik 109 69 106 37 90.09 8.50

Berdasarkan hasil perhitungan data dukungan sosial keluarga sebagai berikut:


tabel 3. didapatkan kategorisasi variabel

Tabel 4. kategorisasi variabel dukungan sosial

Kategorisasi Nilai Frekuensi Persentase

Sangat Rendah X 77 10 9.17


Rendah 77 < X 85 21 19.26
Sedang 85 < X 94 38 34.86
Tinggi 94< X 102 35 32.11
Sangat Tinggi 102 X 5 4.58

Total 109 100

Tabel 4 menunjukkan bahwa vari- bat di Puskesmas Tualang memiliki dukungan


abel dukungan sosial keluarga berada pada keluarga yang sedang.
kategori sangat rendah sebanyak 10 orang
dengan persentase 9.17%, pada kategori ren- Pembahasan
dah sebanyak 21 orang dengan persentase
19.26%, pada kategori sedang sebanyak Kepatuhan berobat penderita hi-
38 orang dengan persentase 34.86%, pada pertensi tidak luput dari adanya dukungan
kategori tinggi sebanyak 35 orang dengan sosial keluarga, dimana dukungan sosial ke-
persentase 32.11% dan pada kategori sangat luarga berupa rasa peduli, perhatian, kasih
tinggi sebanyak 5 orang dengan persentase sayang, semangat serta menjadi pendengar
4.58%. Hasil ini menunjukkan bahwa dukun- yang baik yang dapat mempengaruhi kepatu-
gan yang diberikan kepada pasien yang bero- han berobat penderita hipertensi. Adanya

95
Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 2, Desember 2016

dukungan sosial keluarga yang diberikan ke- Horne, Weinman, Barber, dan El-
pada penderitahipertensi akan membantu liot (2005) menjelaskan kepatuhan berobat
penderita hipertensi untuk patuh dalam men- dalam konsep kepatuhan adherence yaitu
jalankan pengobatannya. Dukungan sosial dalam menjalankan pengobatan diperlukan
keluarga merupakan dukungan sosial yang adanya kesepakatan antara dokter dengan
pertama diterima oleh penderita hipertensi penderita hipertensi. Artinya, dokter juga
dalam masalah kesehatan dimana keluarga mempengaruhi kepatuhan berobat penderita
memiliki pengaruh yang begitu kuat terhadap hipertensi. Feuer Stein et al (dalam Niven,
perkembangan kesehatan pada anggota ke- 2002) menyampaikan bahwa faktor yang da-
luarga yang mengalami hipertensi. Keluarga pat mempengaruhi kepatuhan berobat adalah
juga merupakan orangorang yang terdekat adanya dukungan dari dokter dengan menin-
dengan penderita hipertensi dalam memper- gkatkan interaksi antara dokter dengan pen-
hatikan seluruh kehidupan kesehatan bagi derita hipertensi. Adanya interaksi yang baik
penderita hipertensi dalam menjalankan pen- antara dokter dengan penderita hipertensi
gobatan. Dukungan sosial keluarga sangat ketika melakukan konsultasi pengobatan,
penting bagi penderita hipertensi dalam men- tentu akan dapat mempengaruhi kepatuhan
jalankan pengobatan hipertensi baik secara berobat yang berupa penderita hipertensi
farmakologi maupun secara nonfarmakologi. akan menjadi semakin rutin mengontrolkan
Adanya dukungan sosial keluarga akan mem- tekanan darah sesuai dengan waktu yang
berikan rasa nyaman, rasa diperhatikan, dan telah disepakati antara dokter dengan pen-
rasa diperdulikan dalam menjalankan pengo- derita hipertensi. Berdasarkan analisis kat-
batan hipertensi sehingga, penderita hiperten- egori dukungan sosial keluarga menunjukkan
si patuh dalam menjalankan pengobatan baik bahwa dukungan yang diberikan keluarga
secara farmakologi maupun nonfarmakologi terhadap penderita hipertensi belum maksi-
yaitu seperti tidak pernah lupa dengan obat mal, karena masih ada penderita hipertensi
yang harus dikonsumsi (67.8%), selalu meng- yang belum mendapatkan dukungan sosial
habiskan obat yang diberikan sesuai dengan keluarga sesuai yang diharapkan penderita
anjuran dokter (73%), selalu memperdulikan hipertensi. Sehingga, selama menjalankan
dengan berat badannya (48.7%). proses pengobatan penderita hipertensi ka-
Hasil penelitian ini sejalan dengan dang patuh dan kadang tidak patuh dalam
penelitian yang dilakukan oleh Trianni (2013) berobat seperti penderita hipertensi tidak in-
yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan gat kapan jadwal kontrol yang sudah disepa-
antara dukungan keluarga dengan kepatuhan kati antara dokter dengan penderita hipertensi
berobat pada penderita hipertensi di Puskes- dan penderita hipertensi juga masih lalai un-
mas Ngaliyan Semarang. Sesuai dengan tuk melakukan program diet yang dianjurkan
teori dukungan sosial yang dikemukakan oleh dokter. Feuer Stein et al (dalam Niven,
oleh Sarafino (1990) menjelaskan bahwa 2002) menyatakan bahwa dukungan sosial
dukungan sosial mengacu pada memberikan keluarga dapat mempengaruhi kepatuhan
kenyamanan pada orang lain, merawatnya berobat penderita hipertensi.
atau menghargainya. Artinya, keluarga yang Penderita hipertensi yang menda-
memberikan kenyaman, dapat merawat ser- patkan dukungan dari keluarga akan men-
ta menghargai penderita hipertensi dengan jadi lebih patuh berobat yang berupa rutin
baik, tentunya akan selalu mengingatkan mengkonsumsi obat tepat pada waktunya,
untuk mengkonsumsi obat ketika waktunya rutin melakukan pola hidup sehat dan rutin
minum obat. Kepatuhan berobat yang dilaku- mengontrolkan tekanan darahnya ke Puskes-
kan disebabkan oleh adanya dukungan sosial mas. Dalam penelitian ini, dari empat bentuk
keluarga yang diterima penderita hipertensi. dukungan sosial keluarga yaitu dukungan
Adanya dukungan sosial keluarga, penderita emosional, dukungan instrumental, dukungan
hipertensi merasa dirinya selalu diperhatikan. informasi dan dukungan penghargaan, yang
Menurut Sarafino (1990) individu yang memberikan pengaruh yang lebih besar ter-
mendapatkan perhatian, dan pertolongan hadap kepatuhan berobat adalah dukungan
yang mereka butuhkan dari individu lain, bi- secara emosional sebesar 19%. Berdasarkan
asanya cenderung lebih mudah untuk mengi- hasil analisis data per-aitem pada dukungan
kuti nasehat medis daripada individu yang sosial keluarga, diperoleh dukungan secara
kurang mendapatkan dukungan sosial kelu- emosional memiliki persentase yang lebih
arga. Penderita hipertensi yang memperoleh banyak dibandingkan dukungan instrumental,
dukungan sosial keluarga akan lebih patuh dukungan informasi dan dukungan penghar-
berobat dibandingkan penderita hipertensi gaan. Dukungan secara emosional yang di-
yang tidak memperoleh dukungan antara lain berikan keluarga kepada penderita hipertensi
seperti perhatian, kasih sayang, dukungan berupa keluarga peduli dengan segala kep-
penghargaan positif, dan dukungan secara erluan penderita hipertensi (78.3%), dan ke-
financial. luarga dapat memenuhi kebutuhan penderita
hipertensi (78.3%). Hasil penelitian ini selaras

96
Hubungan Dukungan Sosial Keluarga....Rahayu Sri Utami, Raudatussalamah

dengan hasil penelitian Osamar (2015) yang Rumah Sakit Daerah Surakarta. Jurnal
menjelaskan bahwa individu yang menda- Farmasi Indonesia Vol. 11 No. 2
patkan dukungan dari keluarganya seperti Desember.
memperdulikan penyakitnya, memberikan Niven, N. (2002). Psikologi Kesehatan
perhatian dan kasih sayang, mengingatkan Pengantar Untuk Perawat Dan
untuk berobat dan mengkonsumsi obat akan Professional Kesehatan Lain. Jakarta:
memperoleh kepatuhan berobat yang lebih Buku Kedokteran EGC
baik dibandingkan dengan individu yang tidak Notoadmodjo, S. (2005). Ilmu Kesehatan
menerima dukungan dari keluarga. Masyarakat. Jakarta: EGC
Osamor. P. A. (2015). Social Support and
Kesimpulan Management Of Hypertension In
Sout-West Nigeria. Cardiovascular
Penelitian ini menemukan bahwa ter- Journal Of Africa Volume 26 No 1
dapat hubungan antara dukungan sosial kelu- Osterberg, L & Blaschke, T. (2005). Drug
arga dengan kepatuhan berobat penderita hi- therapy adherence to medication.
pertensi yang berobat di Puskesmas Tualang. New England Journal Medicine 353;5
Artinya, semakin banyak dukungan sosial Padila. (2012). Buku Ajar: Keperawatan
yang diberikan keluarga terhadap anggota Keluarga Dilengkapi Aplikasi Kasus
keluarganya yang menderita hipertensi maka Askep Keluarga Terapi Herbal Dan
akan semakin tinggi pula kepatuhan berobat Terapi Modalitas. Yogyakarta:
penderita hipertensi. nuha medika.
Palmer, A & Williams, B. (2007). Simple Guide,
Daftar Pustaka Tekanan Darah. Erlangga; Jakarta
Prasetyaningrum, Y. I. (2014). Hipertensi
Agrina, Sunarti Swastika Rini, Riyan Bukan Untuk Ditakuti. Jakarta:
Hairitama. (2011). Kepatuhan Lansia FMedia
Penderita Hipertensi Dalam Pratita. (2012). Hubungan Dukungan
Pemenuhan Diet Hipertensi.Vol. 6, Pasangan Dan Health Locus Of
No 1, 46-53. Control Dengan Kepatuhan Dalam
Agung. I. M. (2014). Modul Pelatihan SPSS. Menjalani Proses Pengobatan Pada
Fakultas Psikologi UIN Suska Riau. Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2.
Azwar, S. (2010).Dasar-Dasar Psikometri. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Univ
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Surabaya, 1 (1)
Azwar, S. (2011). Tes Prestasi: Fungsi Pujiyanto.(2008). Faktor Sosio Ekonomi yang
Pengembangan Pengukuran Prestasi Mempengaruhi Kepatuhan Minum
Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Obat Antihipertensi. KESMAS, Jurnal
DiMatteo, M. R. (2004). Social Support and Kesehatan Masyarakat Nasional Vol.
Patient Adherence To Medical 3, No. 3, Desember
Treatment: A Meta-Analysis. Health Sarafino. E.P & Smith. T.W. (1990). Health
Psychology Vol. 23 No. 2, 207-218 Pshycholology Biopsychosocial
Elvida, D., Agung, I. M., Harmaini, Herwanto, Interactions 7th Edition.
J., Husni, D. (2012). Pedoman Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan. PT.
Penulisan Skripsi. Fakultas Psikologi Gramedia Widiasarana Indonesia:
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Jakarta.
Kasim Riau. Sugiharto, A. (2007). Faktor-Faktor Risiko
Horne, R., Weinman, J., Barber, N., Elliot, R., Hipertensi Grade II Pada Masyarakat
& Morgan, M. (2005). Concordance, (Studi Kasus Di Kabupaten
Adherence And Compliance In Karanganyar).Tesis
Medicine Taking: Report For The Sugiyono. (2013). Metode Penelitian
National Co-Ordinating Centre Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
For NHS Service Delivery And Bandung: Alfabeta.
Organization R & D (NCCSDO). Trianni, L. (2013). Hubungan Tingkat
University Of Brighton, Falmer, Pendidikan dan Dukungan Keluarga
Brighton BN1 9PH Terhadap Kepatuhan Berobat Pada
Idrus, M. (2009). Metode Penelitan Ilmu Penderita Hipertensi Di Puskesmas
Sosial. Yogyakarta: Penerbit Ngaliyan Semarang.Jurnal Ilmu
Erlangga. Keperawatan dan Kebidanan Vol. 1
Jahja, Y. (2011). Psikologi Perkembangan. No. 3.
Kencana: Jakarta Tumenggung, I. (2013). Hubungan
Mutmainah, N dan rahmawati, M. (2010). Dukungan Sosial Keluarga Dengan
Hubungan Antara Kepatuhan Kepatuhan Diet Pasien Hipertensi Di
Penggunaan Obat dan Keberhasilan Rsud Toto Kabila Kabupaten
Terapi Pada Pasien Hipertensi Di Bone Bolango.Jurnal Health And

97
Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 2, Desember 2016

Sport. Vol 07. No 01. RS. Baptis Kediri. Jurnal Stikes


WHO. (2003). Adherence to long-term thera RS.Baptisz Kediri Vol 4, No. 1.
pies.Evidence for action. Widhiarso, W. (2001).Berurusan Dengan
WHO. (2010). Library Cataloguing-in- Outliers. Fakultas Psikologi UGM
Publication Data Widhiarso, W. (2001). Menghitung
Wibowo, A., & Wahyuningsih, A. (2011). Sumbangan Efektif Tiap Aspek
Hubungan Kepatuhan Diet Dengan Terhadap Variable Dependen.
Kejadian Komplikasi Pada Penderita Fakultas Psikologi UGM
Hipertensi Di Ruang Rawat Inap Di

98