Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 2, Desember 2016

Hubungan Antara Pola Asuh Orangtua Dengan


Kematangan Emosi Remaja
Farieska Fellasari, Yuliana Intan Lestari

Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau


email:yuliana_intanlestari@yahoo.com

Abstrak
Kematangan emosi dapat diperoleh melalui pola asuh yang diterima remaja ketika
berada pada ruang lingkup keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan
antara pola asuh orangtua dengan kematangan emosi. Pengambilan sampel pada
penelitian ini menggunakan proportionate stratified random sampling dengan sampel
137 orang di SMA N 2 Tambang Kabupaten Kampar. Data dikumpulkan melalui empat
skala, yaitu skala pola asuh orangtua authoritative, authoritarian dan permissive serta
skala kematangan emosi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis multiple re-
gression dan bivariate correlate. Berdasarkan hasil analisis multiple regressiondiketa-
hui bahwa terdapat hubungan antara pola asuh orangtua dengan kematangan emosi
diperoleh R sebesar 0,454 pada taraf signifikansi 0,000 (0,000 0,05). Hasil bivariate
correlate dari masing-masing pola asuh yaitu terdapat hubungan antara pola asuh
authoritative dengan kematangan emosi diperoleh R sebesar 0,420 dengan tarafsig-
nifikansi 0,000 (0,000 0,05) selanjutnya terdapat hubungan antara pola asuh authori-
tarian dengan kematangan emosi diperoleh R sebesar0,331 dengan tarafsignifikansi
0,000 (0,000 0,05) dan tidak terdapat hubungan antara pola asuh permissive dengan
kematangan emosi diperoleh R sebesar 0,149 dengan tarafsignifikan 0,082 (0,082
0,05).

Kata kunci : pola asuh orangtua, kematangan emosi, remaja.

Correlation Between Parenting Style and


Emotional Maturity On Adolescence
Abstract
Emotional Maturity can we get from parenting style which is accepted when ado-
lescence there in their family. The purpose of this study was to find out correlation
between parenting style and emotional maturity. The sample of this research used
proportionate stratified random sampling with 137 students on Senior High School 2
Tambang Kabupaten Kampar. The data was collected through four scale, authoritative
parenting style scale, authoritarian dan permissive and emotional maturity scale. The
analysis methods used multiple regression and bivariate correlate. Based on the result
from multiple regression was noted that there is correlation between parenting style
and emotional maturity with R score 0,454 in significant value 0,000 (0,000 0,05).
Result of bivariate correlate from each of parenting style is there is correlation between
authoritative parenting style with emotional maturity with R score 0,420 with significant
value 0,000 (0,000 0,05). Next, there is correlation between authoritarian parenting
style with emotional maturity with R score 0,331 with significant value 0,000 (0,000
0,05) and there is no correlation between permissive parenting style with emotional
maturity with R score 0,149 with significant value 0,082 (0,082 0,05).

Keywords : parenting style, emotion maturity, adolescence

Pendahuluan dan berakhir pada sekitar usia 18 hingga 22


tahun (Santrock, 2007: 20).
Remaja yang dalam bahasa latin dis- Masa remaja merupakan titik puncak
ebut adolescence yang berarti tumbuh atau emosionalitas, dimana terjadi perkembangan
tumbuh menjadi dewasa. Istilah remaja emosi yang tinggi, salah satunya terdapat
mempunyai arti yang lebih luas mencakup ke- pada pertumbuhan fisik remaja, terutama
matangan emosional, mental, sosial dan fisik, organ-organ seksual yang mempengaruhi
dimana masa remaja merupakan masa tran- berkembangnya emosi atau perasaan-per-
sisi dalam rentang kehidupan manusia yang asaan dan dorongan-dorongan baru yang
menghubungkan masa kanak-kanak dan dialami sebelumnya, seperti perasaan cinta,
masa dewasa (Ali & Asrori, 2010: 9).Masa re- rindu, dan keinginan untuk berkenalan lebih
maja dimulai sekitar usia 10 hingga 13 tahun intim dengan lawan jenis (Yusuf, 2012: 197).

84
Hubungan Antara Pola Asuh Orangtua ......Farieska Fellasari, Yuliana Intan Lestari

Pada masa remaja, perkembangan yang memiliki peranan dalam mengatur dan
fisik yang semakin nyata membuat remaja mendidik seorangremaja untuk memperoleh
seringkali mengalami kesukaran dalam me- kematangan emosi yang baik. Hurlock (1980:
nyesuaikan diri dengan berbagai perubahan. 115) mengatakan bahwa masalah emosi yang
Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung terjadi pada remaja dapat diakibatkan salah
menyendiri sehingga akan merasa teras- satunya oleh pola asuh orangtua.
ing, merasa kurang perhatian dari orang lain, Baumrind (dalam Yusuf, 2012: 51)
atau bahkan merasa tidak ada orang yang mendefinisikan pola asuh sebagai pola sikap
memperdulikannya. Kontrol terhadap dirinya atau perlakuan orangtua terhadap remaja
sangat sulit dan mereka cepat marah den- yang masing-masing mempunyai pengaruh
gan cara-cara yang kurang wajar untuk mey- tersendiri terhadap perilaku remaja antara lain
akinkan dunia sekitarnya. Perilaku ini terjadi terhadap kompetensi emosional, sosial, dan
karena adanya kecemasan terhadap dirinya intelektual. Menurut Baumrind (dalam Yusuf,
sendiri sehingga muncul reaksi yang kadang- 2012: 51) terdapat tiga pola asuh orangtua
kadang tidak wajar. Kecemasan yang ada terhadap remaja dimana masing-masing me-
pada diri remaja akan dapat menampilkan miliki kontribusi yang penting dalam pemben-
perilaku yang menunjukkan bahwa remaja tukan karakter anak. Pola asuh tersebut yaitu
tidak dapat mengontrol emosinya dengan authoritative, authoritarian dan permissive.
baik. Bentuk perilaku kecemasan cender- Orangtua yang authoritative akan me-
ung berbentuk perilaku negatif. Oleh karena miliki sikap acceptance dan kontrol yang
itu, hendaknya seorang remaja telah mampu tinggi terhadap remaja, bersikap responsif
mencapai kematangan emosi pada masa ini terhadap kebutuhan remaja, mendorong re-
(Ali & Asrori, 2010: 68). maja untuk menyatakan pendapat atau per-
Murray (1997 : 1) mendefinisikan tanyaan dan memberikan penjelasan tentang
kematangan emosi sebagai suatu kondisi dampak perbuatan yang baik dan yang buruk
mencapai perkembangan pada diri individu (Baumrind dalam Yusuf, 2012: 52).
dimana individu mampu mengarahkan dan Pola asuh orangtua yang authoritative
mengendalikan emosi yang kuat agar dapat akan berdampak kepada kematangan emosi
diterima oleh diri sendiri maupun orang lain. remaja, hal ini dikarenakan remaja yang dias-
Menurut Murray (dalam Kapri & Rani, 2014: uh dengan pola asuh authoritative akan me-
360) seorang remaja dikatakan telah memi- miliki kemampuan dapat menghindari permu-
liki kematangan emosi bila ia memiliki karak- suhan karena pola asuh orangtua yang selalu
teristik kematangan emosi berikut (1) mu- menjelaskan mengenai dampak perbuatan
dah mengalirkan cinta dan kasih sayang; (2) baik dan buruk kepada dirinya, remaja mudah
mampu untuk menghadapi kenyataan; (3) ke- mengalirkan cinta dan kasih sayang karena si-
mampuan menilai secara positif pengalaman kap responsif dan acceptance yang diterima
hidup; (4) mampu berfikir positif mengenai diri remaja dari kedua orangtuanya, serta remaja
pribadi; (5) penuh harapan; (6) ketertarikan mampu berfikir positif mengenai diri pribadin-
untuk memberi; (7) kemampuan untuk belajar ya. Hal ini sesuai dengan penelitian Baumrind
dari pengalaman; (8) kemampuan menangani (1991: 62) yang mengatakan bahwa remaja
permusuhan konstruktif; (9) berfikir terbuka. yang diasuh menggunakan pola asuh authori-
Berdasarkan uraian di atas, maka tative akan memiliki sikap optimis, berprestasi
dapat dikatakan apabila remaja memiliki ke- di sekolah, bertanggung jawab, serta lebih
matangan emosi dengan baik, maka ia akan berkompeten dibandingkan teman-temannya.
mampu berperilaku sesuai dengan karakter- Sementara itu, orangtua yang authoritarian
istik kematangan emosi tersebut. Sedang- akan memiliki sikap acceptance yang ren-
kan, remaja yang tidak memiliki kematangan dah namun kontrolnya tinggi terhadap re-
emosi akan melakukan perilaku tidak sesuai maja, suka menghukum secara fisik, bersifat
dengan karakteristik dari kematangan emosi mengomando, bersikap kaku (keras), dan
itu sendiri. Intinya remaja yang memiliki ke- cenderung emosional serta bersikap menolak
matangan emosi akan mampu melakukan (Baumrind dalam Yusuf, 2012: 52).
kontrol terhadap emosinya, hal ini sesuai den- Pola asuh authoritarian yang ditera-
gan pendapat De Claire (dalam Paramithasari pkan orangtua akan berdampak kurang baik
& Alfian, 2012: 3) yang menyatakan remaja pada kemampuan remaja dalam melakukan
yang lebih matang secara emosional masih pengontrolan emosi. Hal ini dikarenakan, pola
akan mengalami kesedihan, marah, dan takut asuh yang diterima remaja di rumah cender-
tetapi mereka akan lebih mampu menenang- ung emosional dan keras sehingga remaja
kan diri mereka sendiri, bangkit dari kemurun- akan merasa tidak nyaman, akan mengalami
gan dan dapat melanjutkan kegiatan-kegiatan tekanan, mudah mengalami stres, memiliki si-
produktif dengan baik. kap pencemas, emosi yang tidak stabil, pena-
Pembentukan kematangan emosi kut, pendiam serta tertutup, dan remaja yang
tidak lepas dari peranan pola asuh orang- diasuh menggunakan pola asuh authoritarian
tua, karena orangtua adalah orang pertama lebih mudah terpengaruh untuk melakukan

85
Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 2, Desember 2016

pelanggaran norma sehingga tingkat kema- kan kasih sayang kepada remaja. Dengan
tangan emosi remaja sangatlah rendah. Hal kasih sayang, remaja akan merasa nyaman
ini sesuai dengan penelitian Baumrind (1991: dan jauh dari perilaku negatif. Sebaliknya,
62) yang mengatakan bahwa remaja yang ketidakmatangan emosi terjadi jika orangtua
diasuh menggunakan pola asuh authoritar- bersikap acuh tak acuh dan memaksakan ke-
ian akan susah dalam mengontrol emosinya, hendaknya pada remaja. Hal tersebut akan
kurang memiliki prestasi di sekolah, dan cend- membuat remaja merasa tertekan dan men-
erung terjerumus ke dalam perilaku negatif. jadi mudah marah.
Selain itu, remaja yang diasuh dengan Berdasarkan uraian yang peneliti
gaya pengasuhan authoritarian punya poten- kemukakan di atas maka Ada Hubungan
si untuk tidak mudah mengalirkan cinta serta Antara Pola Asuh Orangtua Dengan Kema-
kasih sayang dikarenakan sikap kaku yang tangan Emosi. Secara rinci hipotesis dalam
diterima remaja dari kedua orangtua. Remaja penelitian ini adalah sebagai berikut (1) Ada
juga kurang dapat mengatur hidupnya untuk hubungan positif antara pola asuh orangtua
masa depan karena masa depan remaja be- yang authoritative dengan kematangan emosi
rada ditangan kedua orangtuaya. remaja; (2) Ada hubungan negatif antara pola
Orangtua yang permissive akan me- asuh orangtua yang authoritarian dengan ke-
miliki sikap acceptance yang tinggi namun matangan emosi remaja; (3) Ada hubungan
kontrolnya rendah terhadap remaja dan negatif antara pola asuh orangtua yang per-
memberikan kebebasan kepada remaja un- missive dengan kematangan emosi remaja.
tuk menyatakan dorongan atau keinginannya
(Baumrind dalam Yusuf, 2012: 52). Metode
Pola asuh permissive yang diterapkan
orangtua akan membuat remaja memiliki kon- Subjek
trol emosi yang rendah dan kecenderungan Subjek dalam penelitian ini adalah re-
memiliki perilaku agresif, hal ini dikarenakan maja yang berada pada Sekolah Menengah
kontrol perilaku orangtua yang rendah terha- Atas (SMA) Negeri 2 Tambang, Kabupaten
dap remaja dan membuat remaja tidak me- Kampar dengan jumlah 137 siswa. Teknik
miliki rasa takut akan melanggar peraturan. pengambilan sampel yang digunakan ada-
Sehingga akan berdampak seringnya remaja lah proportionate stratified random sampling.
mengalami permusuhan baik itu di sekolah, di Proportionate stratified random sampling
rumah maupun di lingkungan masyarakat. adalah teknik untuk menentukan sampel bila
Pola asuh permissive yang diterap- populasi mempunyai anggota yang berstrata
kan orangtua juga membuat remaja menjadi secara proporsional (Sugiyono, 2009: 82).
tidak patuh, manja, kurang mandiri dan mau Pelaksanaan proportionate stratified
menang sendiri. Sehingga, jika remaja di- random sampling dalam penelitian ini adalah
hadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai dengan cara menetapkan jumlah sampel ber-
dengan keinginannya, remaja akan mudah dasarkan strata kelas terlebih dahulu kemu-
memberontak, menangis dan meratapi keny- dian melakukan random untuk memilih kelas
ataan tersebut tanpa dapat menerimanya. Hal yang akan dijadikan sampel penelitian.
ini sesuai dengan penelitian Baumrind (1991: Adapun rincian subjek penelitian yaitu
63) yang mengatakan bahwa remaja yang di- 55 subjek berasal dari kelas X dimana 19 sub-
asuh menggunakan pola asuh yang permis- jek berasal dari kelas X MIA1 dan 36 subjek
sive akan memiliki sikap suka memberontak, berasal dari kelas X IIS1, 41 subjek berasal
memiliki rasa pengendalian diri yang rendah, dari kelas XI dimana 29 subjek berasal dari
tidak jelas arah hidupnya dan kurang percaya kelas XI IIS1 dan 12 subjek berasal dari kelas
diri. XI IIS2 serta 41 subjek berasal dari kelas XII
Berdasarkan ketiga pola asuh orang- dimana 11 subjek berasal dari kelas XII IPA2
tua, yaitu pola asuh orangtua yang authorita- dan 30 subjek berasal dari kelas XII IPS1.
tive, authoritarian, dan permissive. Pola asuh
yang authoritative merupakan pola asuh yang Pengukuran
dapat menimbulkan sikap kematangan emosi Metode pengumpulan data adalah
pada remaja sedangkan pola asuh authori- bagian instrumen pengumpulan data yang
tarian dan permissive merupakan pola asuh menentukan berhasil atau tidaknya suatu pe-
yang kurang dapat menimbulkan sikap kema- nelitian (Bungin, 2005: 119). Peneliti meng-
tangan emosi pada remaja. gunakan metode pengumpulan data dengan
Dengan demikian dapat dikatakan skala dikarenakan penyajiannya praktis dan
bahwa pola asuh yang diterapkan orangtua di cara kerjanya mudah sehingga dapat dikerja-
rumah akan berdampak kepada perilaku yang kan subjek dalam waktu yang relatif singkat
ditimbulkan remaja. Sehingga kondisi ini akan (Azwar, 2010: 3).
mendorong tumbuh dan berkembangnya as- Skala pada penelitian ini terdiri atas
pek kematangan emosi remaja. Kematangan empat skala, yaitu skala pola asuh orang-
emosi dapat diperoleh jika keluarga memberi- tua authoritative, skala pola asuh orangtua

86
Hubungan Antara Pola Asuh Orangtua ......Farieska Fellasari, Yuliana Intan Lestari

authoritarian, dan skala pola asuh orangtua (X2) dan pola asuh orangtua permissive (X3)
permissive, serta skala kematangan emosi. dengan kematangan emosi adalah teknik sim-
Skala disusun dalam bentuk skala Likert den- ple regression. Penghitungan analisis dibantu
gan empat alternatif jawaban yaitu (SS) Untuk dengan menggunakan SPSS (Statistics for-
jawaban Sangat Sesuai, (S) Untuk jawaban Products and Services Solution) versi 17 for
Sesuai. (TS) Untuk jawaban Tidak Sesuai, windows
(STS) Untuk jawaban Sangat Tidak Sesuai.
Hasil
Skala Pola Asuh orangtua authoritative
Skala pola asuh orangtua authorita- Deskripsi Subjek
tive berjumlah 40 aitem pernyataan, yang Sesuai dengan judul penelitian ini, yai-
disusun oleh peneliti berdasarkan aspek teori tu hubungan pola asuh orangtua dengan ke-
Baumrind (dalam Yusuf, 2012: 52), yaitu si- matangan emosi remaja, maka subjek dalam
kap acceptance dan kontrolnya tinggi, ber- penelitian ini ialah siswa Sekolah Menengah
sikap responsif terhadap kebutuhan remaja, Atas (SMA) Negeri 2 Tambang, Kampar.sub-
mendorong remaja untuk menyatakan penda- jek penelitian yang berjenis kelamin laki-laki
pat dan pertanyaan, dan memberikan penje- sebesar 48,2 % (66 orang) dan perempuan
lasan tentang dampak perbuatan yang baik sebesar 51,8 % (71 orang). Kemudian ber-
dan yang buruk. dasarkan usia subjek penelitian, subjek yang
berusia 14-15 tahun yang termasuk kategori
Skala Pola Asuh Orangtua Authoritarian remaja awal (Hurlock, 1980: 206) sebesar
Skala pola asuh orangtua authoritar- 16% (22 orang) dan subjek yang berusia
ian berjumlah 40 aitem pernyataan, yang 16-18 tahun yang termasuk kategori remaja
disusun oleh peneliti berdasarkan aspek te- akhir (Hurlock, 1980: 206) sebesar 84% (115
ori Baumrind (dalam Yusuf, 2012: 52), yaitu orang).
sikap acceptance rendah namun kontrolnya
tinggi, suka menghukum secara fisik, bersi- Hasil Uji Asumsi
kap mengomando, bersikap kaku, dan cend- Uji asumsi yang akan dilakukan dalam
erung emosional dan bersikap menolak. penelitian ini adalah uji normalitas. Uji normal-
itas digunakan sebagai syarat dari analisis
Skala Pola Asuh Orangtua Permissive data multiple regression dan bivariate regres-
Skala pola asuh orangtua permissive sion yang akan dilakukan dalam penelitian ini.
berjumlah 20 aitem pernyataan, yang disusun Pengujian normalitas menggunakan bantuan
oleh peneliti berdasarkan aspek teori Baum- SPSS (statistics for prodcuct and service so-
rind (dalam Yusuf, 2012: 52), yaitu sikap ac- lution) versi 17for windows.Adapun cara yang
ceptance tinggi namun kontrolnya rendah digunakan untuk melihat sebaran data terse-
dan memberikan kebebasan kepada remaja but normal atau tidak normal pada penelitian
untuk menyatakan dorongan atau keinginan- ini adalah dengan menggunakan one sample
nya. kolmogrov-smirnov dengan signifikansi p
0,05 (Usman & Akbar, 2009: 106).
Skala Kematangan Emosi Uji normalitas dalam penelitian ini di-
Skala kematangan emosi berjumlah lakukan pada dua variabel yaitu variabel pola
54 aitem pernyataan, yang disusun oleh pe- asuh orangtua yang terdiri atas pola asuh
neliti berdasarkan aspek teori Murray (dalam orangtua authoritative, authoritarian dan per-
Kapri & Rani, 2014: 360), yaitu mudah men- missive serta variabel kematangan emosi.
galirkan cinta dan kasih sayang, mampu Dari hasil uji normalitas, diketahui signifikansi
untuk menghadapi kenyataan, kemampuan (asymp sig) pola asuh authoritative sebesar
menilai secara positif pengalaman hidup, 0,554, signifikansi (asymp sig)pola asuh au-
mampu berfikir positif mengenai diri pribadi, thoritarian sebesar 0,756, dansignifikansi
penuh harapan, ketertarikan untuk memberi, (asymp sig) pola asuh permissive sebesar
kemampuan untuk belajar dari pengalaman, 0,139 sedangkan signifikansi (asymp sig)
kemampuan menangani permusuhan secara pada kematangan emosi sebesar 0,538. Se-
kontruktif, dan berfikir terbuka. cara keseluruhan semua variable dapat dika-
takan berdistribusi normal.
Analisis data Uji validitas dari 40 aitem skala pola
Teknik analisis data yang digunakan asuh orangtua authoritative yang diujicoba-
dalam penelitian ini adalah analisis multiple kan, terdapat 26 aitem yang valid dengankoe-
regression untuk mengetahui hubungan anta- fisien korelasi aitem total yang berkisar antara
ra pola asuh orangtua dengan kematangan 0,306 0,685. Pada variabel pola asuh or-
emosi. Teknik analisis data yang digunakan angtua authoritarian terdapat 40 aitem yang
untuk mengetahui hubungan antara ketiga diujicobakan, terdapat 17 aitem yang valid
pola asuh yaitu pola asuh orangtua authori- dengan koefisien korelasi aitem total berkisar
tative (X1), pola asuh orangtua authoritarian antara 0,324 0,657.

87
Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 2, Desember 2016

Pada variabel pola asuh orangtuaper- mengendalikan emosinya.


missive terdapat 20 aitem yang diujicobakan, Pada pola asuh authoritarian (X2)
terdapat 10 aitem yang valid dengan koefisien diperoleh hasilanalisisregresi (R) sebesar
korelasi aitem total berkisar antara 0,301 0,331 dengan F hitungsebesar 16,656 padat-
0,582. Pada variabel kematangan emosi ter- araf signifikansi sebesar 0,000, karena proba-
dapat 54 aitem yang diujicobakan validitasn- bilitas (p) 0,000 lebih kecil dari 0,05 (0,000
ya dan terdapat 37 aitem yang valid dengan 0,05), hal ini berarti bahwaterdapat hubungan
koefisien korelasi aitem total berkisar antara negatif antara pola asuh orangtua authoritar-
0,300 0,700. ian dengan kematangan emosi remaja seh-
Berdasarkan hasil uji reliabilitas terha- ingga hipotesis yang diajukan diterima. Dapat
dap aitem yang valid pada skala pola asuh or- diartikan bahwa orangtua yang menerapkan
angtua authoritative (X1) diperoleh koefisien pola asuhauthoritarian kepada remaja akan-
reliabilitas sebesar 0,889. Pada pola asuh or- memilikiremaja yang kurang dapat mengen-
angtua authoritarian(X2) diperoleh koefisien dalikan emosinya.
reliabilitas sebesar 0,836 dan pada pola asuh Sementara itu pola asuh permissive
orangtua permissive (X3) diperoleh koefisien (X3) diperoleh hasilanalisisregresi (R) sebe-
reliablitas sebesar 0,747. Sedangkan pada sar 0,149 dengan F hitungsebesar 3,074
kematangan emosi (Y) diperoleh koefisien re- padataraf signifikansi sebesar 0,082, karena
liabilitas sebesar 0,924. Secara keseluruhan probabilitas (p) 0,082 lebih besar dari 0,05
keempat skala dapat dikatakan reliabel. (0,082 0,05), hal ini berarti terdapat hubun-
gan positif antara pola asuh orangtua permis-
Hasil Uji Hipotesis sive dengan kematangan emosi remaja seh-
Penelitian ini memiliki dua hipotesis ingga hipotesis yang diajukan ditolak. Dapat
yang terdiri atas hipotesis mayor dan minor. diartikan bahwa orangtua yang menerapkan
Hipotesis mayor yaitu ada hubungan antara pola asuhpermissive kepada remajaakan
pola asuh orangtua (X) dengan kematangan memiliki remaja yang dapat mengendalikan
emosi (Y) yang dianalisis menggunakan ana- emosinya.
lisis multiple regression dan hipotesis minor
yang merupakan bagian-bagian dari pola Pembahasan
asuh orangtua, terdiri atas pola asuh orang-
tua authoritative (X1), authoritarian (X2) dan Hasil analisis multiple regression pada
permissive (X3) yang dianalisis mengguna- penelitian ini menghasilkan bahwa terdapat
kan bivariate regression.Analisis data dibantu hubungan antara pola asuh orangtua dengan
dengan program SPSS 17 for windows. kematangan emosi remaja. Pola asuh yang
Hasil analisis multiple regression ter- ditetapkan orangtua di rumah, baik itu pola
hadap pola asuh orangtua (X) dengan kema- asuh authoritative, authoritarian dan permis-
tangan emosi (Y) menunjukkan hasilanalisis sive memiliki hubungan dengan tingkat ke-
regresi (R) sebesar 0,454 dengan F hitung matangan emosi remaja. Penemuan ini men-
sebesar 11.519 pada taraf signifikansi 0,000, dukung penelitian yang dilakukan oleh Miller
karena probabilitas (p) yaitu 0,000 lebih kecil (dalam Rahman, 2008: 78) bahwa ketika or-
dari 0,05 (0,000 0,05). Hasil ini menunjuk- angtua terlibat dalam pengasuhan remaja
kan bahwa pola asuh orangtua yang terdiri dan menerapkan disiplin yang cukup tinggi
atas pola asuh authoritative, authoritarian dan akan mengurangi kecenderungan remaja
permissive memiliki hubungan dengan kema- berperilaku eksternalisasi (marah, bandel,
tangan emosi, maka hipotesis yang diajukan- berperilaku menyimpang).
diterima. Hal yang sama juga diungkapkan
Secara rinci pola asuh orangtua ter- Jadhav (2010: 35) bahwa terdapat hubungan
bagi menjadi tiga macam, yaitu pola asuh yang signifikan antara lingkungan keluarga
orangtua authoritative, authoritarian, dan dengan kematangan emosi baik itu pada re-
permissive. Dari ketiga pola asuh orangtua maja laki-laki maupun perempuan, remaja
tersebut hubungannya dengan kematangan yang bersekolah di desa maupun di kota, sta-
emosi, diketahui bahwa untuk pola asuh au- tus social ekonomi tinggi maupun rendah.
thoritative (X1) diperoleh hasilanalisisregresi Pola asuh orangtua terbagi menjadi
(R) sebesar 0,420 dengan F hitungsebesar tiga, yaitu pola asuh authoritative, pola asuh
28,841 padataraf signifikansi sebesar 0,000, authoritarian dan pola asuh permissive. Hasil
karena probabilitas (p) 0,000 lebih kecil dari uji hipotesis menghasilkan bahwa, terdapat
0,05 (0,000 0,05), hal ini berarti bahwa- hubungan positif antara pola asuh authorita-
terdapat hubungan positif antara pola asuh tive dengan kematangan emosi remaja yang
orangtuaauthoritative dengan kematangan artinya orangtua yang menerapkan pola asuh
emosi remaja sehingga hipotesis yang diaju- authoritative dalam mendidik remaja di rumah
kan diterima. Dapat diartikan bahwa orangtua akanmenimbulkan kematangan emosipada
yang menerapkan pola asuhauthoritative ke- diri remaja.
pada remaja akan memilikiremaja yang dapat

88
Hubungan Antara Pola Asuh Orangtua ......Farieska Fellasari, Yuliana Intan Lestari

Hal ini sesuai dengan penelitian Hu- oleh Jadhav (2010: 35) bahwa pola asuh per-
ver, Otten, Vriesdan Engels mengenaiperson- missive yang diterima remaja memiliki hubun-
ality and parenting style in parent of adoles- gan dengan kematangan emosi remaja.
cents (2010: 399) yang menghasilkan bahwa Penelitian yang dilakukan oleh Tam,
orangtua authoritative akan memiliki tingkat Chong, Kadirvelu & Khoo (2012: 22) meng-
kestabilan emosi yang baik sehingga dapat hasilkan bahwa pola asuh permissive yang
mengontrol perilaku remaja mereka dan men- diterima remaja ketika di rumah akan dapat
garahkan kepada perilaku yang baik. mendorong kemandirian dan kemajuan pada
Jackson (dalamHuver, Otten, Vries, diri remaja. Hal ini dikarenakan, kurangnya
dan Engels, 2010: 399) mengatakan bahwa pengawasan dan kasih sayang orangtua ke-
orangtua authoritative telah terbukti memi- pada remaja membuat remaja melakukan se-
liki pengaruh yang baik pada perkembangan gala sesuatunya sesuai dengan keinginannya
remaja, termasuk perkembangan emosi re- dan remaja juga lebih bertanggung jawab ter-
maja. Hal ini senada dengan teori Baumrind hadap keputusan yang diambilnya.
(dalam Marini & Indriani, 2005: 50) bahwa or- Hal ini sesuai dengan penelitian yang
angtua yang menjalankan pola asuh authori- dilakukan Respati, Yulianto & Widiana (2006:
tative dalam mendidik remaja, akan memiliki 136) yang menghasilkan bahwa pola asuh
perkembangan emosional, sosial dan kognitif permissive yang digunakan orangtua akan
yang positif. dapat meningkatkan kemandirian serta kon-
Hasil uji hipotesis pada pola asuh trol diri remaja. Berbeda dengan penelitian
authoritarian menghasilkan bahwa terdapat yang dilakukan Huver, Otten, Vriesdan En-
hubungan negatif antara pola asuh authoritar- gels mengenai personality and parenting style
ian dengan kematangan emosi remaja yang in parent of adolescents (2010: 401) yang
artinya apabila orangtua menerapkan pola menghasilkan bahwa meskipun orangtua per-
asuh authoritarian kepada remaja, maka akan missive memiliki kestabilan emosi yang cukup
memiliki remaja yang kurang dapat mengen- stabil dalam mendidik, tetapi hal tersebut
dalikan emosinya. Hal ini sesuai dengan pe- tidak memiliki pengaruh terhadap kepribadian
nelitian yang dilakukan oleh Knafo (2003: remaja.
199) orangtua yang menggunakan pola asuh Selain menerapkan ketiga pola asuh
authoritarian lebih mengharapkan remaja di atas, menjadi orang tua juga perlu men-
mereka memiliki kekuatan yang tinggi dan erapkan spiritual parenting berarti mempri-
mengikuti setiap perkataan mereka, sehingga oritaskan kehidupan diri kita sendiri, dimana
remaja yang memperoleh pola asuh authori- Tuhan berada pada urutan tertinggi, sehingga
tarian cenderung memiliki perilaku negatif ke- jiwa orangtua dan jiwa anak menjadi sangat
pada orang lain dikarenakan tuntutan dari or- penting. Spiritual parenting mengimplikasikan
angtua yang mengharuskan mereka memiliki bahwasanya orang tua tidak hanya hadir un-
kekuatan. tuk anak mereka, namun juga untuk diri mere-
Penelitian selanjutnya oleh Hoeve, ka sendiri (Hart, 2004). Seseorang yang lebih
Blokland, dan Dubas (2008: 233) mengenai dulu mengakui diri sendiri sebagai makhluk
trajectories of delinquency and parening style, spiritual, maka seseorang itu dapat men-
menghasilkan bahwa remaja yang berper- didik anak-anak dengan menyadari bahwa
ilaku delinquency lebih dominan berasal dari anak-anak adalah individu yang benar-benar
keluarga yang menggunakan pola asuh au- berketuhanan (Doe,1998).
thoritarian. Hal ini senada dengan penelitian Spiritual parenting menurut Jahja
yang dilakukan oleh Lubis (2011: 4) mengenai (2011) adalah salah satu bentuk pola asuh
pola asuh orangtua dan perilaku delinquency, yang dapat diterapkan orangtua untuk meng-
yang menghasilkan bahwa kebanyakan per- isi jiwa remaja-remaja menjadi individu yang
ilaku delinquency dilakukan oleh remaja yang hangat dan bersemangat dengan nilai-nilai
memperoleh pola asuh authoritarian ketika spiritual. Remaja adalah insan spiritual, be-
di rumah. Perilaku delinquency merupakan gitu pula dengan orangtua. Bersatunya insan
perilaku yang berlandaskan emosi dan hal spiritual semakin membuat kehidupan kelu-
inidapat memperlihatkan bahwa remaja tidak arga menjadi tentram.
memiliki kematangan emosi yang seharusnya Cara paling awal ialah membangkit-
ada pada masa ini. kan rasa ingin tahu remaja terhadap agaman-
Hasil uji hipotesis pada pola asuh per- ya sendiri. Hal ini dapat dilakukan dengan
missive dengan kematangan emosi meng- memberikan contoh pada remaja bagaimana
hasilkan bahwa terdapat hubungan positif orangtua beribadah, sehingga remaja akan
antara pola asuh permissive dengan kema- tertarik untuk mengetahui agama lebih lanjut.
tangan emosi remaja yang artinya bahwa Orang tua juga mampu memenuhi semua
apabila orangtua menerapkan pola asuh per- kebutuhan emosi dan sosial remaja, menjadi
missive kepada remaja, maka akan dapat panutan yang baik dihadapan remaja, menja-
menimbulkan kematangan emosi remaja. Hal di orangtua yang spiritual dengan memimpin
ini senada dengan penelitian yang dilakukan doa saat melakukan berbagai aktivitas bersa

89
Jurnal Psikologi, Volume 12 Nomor 2, Desember 2016

ma, orangtua tidak malu untuk meminta maaf Erlangga.


kepada remaja jika mereka melakukan kes- Huver, R., Otten, R., Vries, H., & Engels, R.
alahan, mengajak remaja mengunjungi ke- (2010). Personality And Parenting
luarga atau tetangga yang tertimpa musibah, Style In Parent Of Adolescent. Journal
dan lain sebagainya. Of Adolescence. 33. 395-402.
Berdasarkan uraian di atas mengenai Jadhav, N. S. (2010). Relationship Between
pola asuh authoritative, authoritarian dan per- Home Environment & Emotional
missive, pola asuh authoritative lebih mem- Maturity Of College Going Student
bawa dampak positif bagi perkembangan Of Belgaum District. International
remaja. Remaja yang memperoleh pola asuh Research Journal. 1. 34-36.
authoritative dari orangtuanya akan memiliki Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan.
perkembangan emosional yang positif, ber- Jakarta: Kencana Prenada Media
sikap bersahabat, memiliki rasa percaya diri, Group
mampu mengendalikan diri, bersikap sopan, Kapri, U. C. Rani, N. (2014). Emotional
mau bekerja sama, berprestasi di sekolah, Maturity: Characteristics And Levels.
bertanggung jawab, dan lebih berkompeten International Journal Of Technological
dibandingkan teman-temannya (Baumrind, Exploration And Leasrning. 3. 1. 359-
1991: 62). 361.
Lubis, R. (2011). Pola Asuh Orang Tua
Kesimpulan Dan Perilaku Delinkuensi. Turats. 7.
2. 1-7.
Berdasarkan hasil analisis dan pem- Marini & Andriani. (2005). Perbedaan
bahasan dalam penelitian ini, dapat ditarik Asertivitas Remaja Ditinjau Dari Pola
kesimpulan sebagai berikut:a) Pola asuh or- Asuh Orang Tua. Psikologia. 1. 2. 46-
angtua berhubungan dengan kematangan 51.
emosi remaja, dalam artian bahwa pola asuh Murray. (1997).Emotional Maturity. http://
yang diterapkan oleh orangtua baik itu au- www.sonic.net~drmurraymaturity.htm.
thoritative, authoritarian dan permissive se- (Diakses Tanggl 26 Maret 2014).
cara bersama-sama berkaitan dengan kema- Paramitasari, R & Alfian, I. (2012).
tangan emosi remaja. b) Penerapan metode Hubungan Antara Kematangan
pengasuhan authoritative di dalam keluarga Emosi Dengan Kecenderungan
memiliki hubungan positif dengan pembentu- Memaafkan Pada Remaja Akhir.
kan kematangan emosi pada remaja, c) Pen- Jurnal Psikologi Pendidikan Dan
erapan metode pengasuhan authoritarian di Perkembangan. 1. 02. 1-7.
dalam keluarga memiliki hubungan negatif Rahman, I. (2008). Hubungan Antara
dengan pembentukan kematangan emosi re- Persepsi Terhadap Pola Asuh
maja dan d) Penerapan metode pengasuhan Demokratis Ayah Dan Ibu Dengan
orangtua yang permissive memiliki hubungan Perilaku Disiplin Remaja. Lentera
positif dengan pembentukan kematangan Pendidikan. 11. 1. 69-82.
emosi remaja. Respati, W., Yulianto, A., Widiana, N. (2006).
Perbedaan Konsep Diri Antara
Daftar pustaka Remaja Akhir Yang Mempersepsi Pola
Asuh Orang Tua Authoritarian,
Ali, M & Asrori, M. (2010). Psikologi Remaja, Permissive, Dan Authoritative. Jurnal
Perkembangan Peserta Didik. Psikologi. 4. 2. 119-138.
Jakarta: Bumi Aksara. Santrock, J. (2007). Remaja, Edisi 11
Azwar, S. (2009). Dasar-Dasar Psikometri. Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sugiyono. (2009). Metode Penelitian
Baumrind, D. (1991). The Influence Of Kuantitatif Kualitatif Dan R & D.
Parenting Style On Adolescent Bandung: Alfabeta.
Competence And Subtance Use. Tam, C., Chong, A., Kadirvelu, A., Khoo, Y.
Journal Of Early Adolescence. 11. 1. (2012). Parenting Style and Self
59-95. Efficacy Of Adolescent: Malaysian
Bungin, B. (2005. Metodologi Penelitian Scenario. Journal Of Human Social
Kuantitatif. Jakarta: Kencana Media Science. 12. 18-25.
Groub. Usman, H., Akbar, P. (2009). Pengantar
Hoeve, M., Blokland, A., &Dubas, J. (2008). Statistik, Edisi Kedua. Jakarta: Bumi
Trajectories Of Delinquency And Aksara.
Parenting Style. J Abnorm Child Yusuf, S. (2012). Psikologi Perkembangan
Psychol. 36. 223-235. Anak & Remaja. Bandung: Remaja
Hurlock, E. B. (1980). Psikologi Rosda Karya
Perkembangan Edisi Kelima. Jakarta:

90