Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Negara Indonesia yang terletak pada daerah tropis menyimpan
keragaman hayati yang tinggi, termasuk keragaman ikan hias air tawar.
Komuditas ikan hias air tawar merupakan komuditas unggulan yang paling
banyak diminati masyarakat. Bahkan beberapa masyarakat menjadikan
komuditas-komuditas air tawar sebagai andalan perekonomian keluarga
dengan cara membudidayakannya dan dipasarkan untuk pemenuhan
kebutuhan sehari-hari. Oleh karna itu, berbagai usaha yang dilakukan oleh
pembudidaya ikan seperti kegiatan pemijahan, pendederan, pembesaran dan
sebagainya menjadikan sumberdaya air tawar ini faktor utama dalam
keberhasilan dalam membudidayakan.
Ikan hias merupakan salah satu komoditas perikanan yang banyak
diminati oleh berbagai lapisan masyarakat di dalam negeri maupun di luar
negeri karena komposisi warna yang dimilikinya. Salah satu jenis ikan hias
air tawar yang digemari oleh masyarakat adalah ikan koi (Cyprinus carpio)
yang tergolong dalam salah satu strain ikan mas (Cyprinus carpio). Para
penggemar ikan koi (Cyprinus carpio) atau hobbies di Indonesia tidak hanya
memelihara ikan koi (Cyprinus carpio) di kolam, tetapi juga
diikutsertakankan dalam kontes koi sehingga dapat menaikkan gengsi bagi
pemiliknya (Yulisti & Triyanti, 2012).
Permintaan benih ikan hias hingga saat ini belum belum dapat
dipenuhi oleh produsen benih ikan karna produksinya relatif terbatas,
padahal potensi produksi petani sangatlah besar, namun karna adanya
berbagai kendala baik teknologi maupun alam, potensi produksipun belum
tercapai. Tersedianya teknologi pembenihan yang murah dan mudah
diterapkan oleh petani ikan akan mendorong dihasilkannya pembenihan
yang berkualitas dan menjamin kontinuitas pasokan benih sesuai permintaan
(Sudarti & Rawung, 2014)

1
Permasalahan diatas sangat dipengaruhi oleh aspek budidaya ikan
koi (Cyprinus carpio) yang dilakukan oleh pembudidaya ikan baik skala
rumah tangga maupun balai benih milik pemerintah sendiri. Penguasaan
teknik tersebut menjadi mutlak dalam pengembangan usaha budidaya
khususnya ikan koi (Cyprinus carpio), sehingga diperlukan dasar
pengetahuan, wawasan maupun keterampilan untuk melakukannya. Oleh
karna itu penulis mengambil judul Teknik Pemijahan dan Perawatan Larva
Ikan Koi (Cyprinus carpio) Di Kolam Budidaya Air Tawar Telaga Mandiri
Di Desa Wairterang Kecamatan Waigete Kabupaten Sikka

1.2 Tujuan
Praktek Kerja Lapang ini difokuskan dengan melakukan pemijahan
dan pemeliharaan larva terhadap ikan koi (Cyprinus carpio) dengan tujuan
sebagai berikut :
1. Mengetahui dan memahami teknik pemijahan hingga perawatan
larva ikan koi (Cyprinus carpio) secara tepat untuk meningkatkan
produktivitas ikan koi (Cyprinus carpio) secara maksimal.
2. Mengetahui berbagai aspek yang berhubungan dengan pemijahan
ikan koi (Cyprinus carpio) seperti pemilihan induk yang baik,
persiapan kolam pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva,
manajemen pemberian pakan dan pengelolaan kualitas serta
penanggulangan hama dan penyakit.
3. Mengetahui berbagai permasalahan yang muncul dalam kegiatan
pemijahan ikan koi (Cyprinus carpio).

1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari Praktek Kerja Lapang (PKL) ini adalah sebagai
berikut :
1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang teknik pemijahan dan
pemeliharaan larva ikan koi (Cyprinus carpio) secara tepat.

2
2. Sebagai informasi kepada pembudidaya dan penggemar ikan hias
dalam memahami teknik pemijahan dan perawatan larva ikan koi
(Cyprinus carpio).
3. Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang akan melaksanakan
pemijahan dan perawatan ikan koi (Cyprinus carpio).

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Koi (Cyprinus carpio)


Menurut Redaksi PS (2008), klasifikasi ikan koi (Cyprinus carpio)
adalah sebagai berikut :
Kingdo : Animalia
Filum : Chordata
Class : Osteichthyes
Ordo : Cypiriformes
Sub ordo : Cyprinoidea
Family : Cypridae
Sub family : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio

Gambar 1. Morfologi Ikan Koi (Cyprinus carpio).

Menurut Susanto (2008) Ikan koi (Cyprinus carpio) memiliki badan


yang berbentuk seperti torpedo dengan menggunakan sirip sebagai alat
geraknya, sirip-sirip yang melengkapi sebagai morfologi ikan koi tersebut
adalah sepasang sirip dada, sepasang sirip perut, sebuah sirip anus, dan
sebuah sirip ekor, untuk bisa berfungsi sebagai alat bergerak, sirip ini terdiri
atas jari-jari keras, jari-jari lunak, dan selaput sirip. Selaput sirip merupakan
4
"sayap" yang memungkinkan ikan koi (Cyprinus carpio) mempunyai tenaga
dorong yang lebih kuat apabila berenang.. Sirip dada dan sirip ekor hanya
mempunyai jari-jari lunak. Sirip punggung mempunyai 3 jari-jari keras dan
20 jari-jari lunak, sirip perut hanya terdiri dari jari-jari lunak, sebanyak 9
buah, sirip anus mempunyai 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak.
Morfologi koi tidak jauh berbeda dengan ikan species lainnya, badan
koi ditutupi oleh dua lapisan kulit, yaitu kulit luar (epidermis) dan kulit
dalam (dermis). Epidermis berguna untuk melindungi kulit dari lingkungan
luar atau sebagai proteksi seperti benturan, kotoran, dan hama penyakit
(Bachtiar, 2002 disitasi Kismiyati et al,. 2013).

2.2 Fisiologi Ikan Koi (Cyprinus carpio)


Menurut Redaksi PS (2008) Fisiologi ikan koi (Cyprinus carpio)
adalah sebagai berikut :
1. Sistem Pernafasan
Ikan koi (Cyprinus carpio) bernafas dengan ingsan (Gill)
yang terletak disisi kanan dan kiri, tertutup penutup insang
(Operculum). Air yang masuk melalui insang membawah oksigen
(O2), kemudian O2 diikat oleh selaput tipis (Gill filament) di insang,
sedangkan CO2 dikeluarkan melewati insang pula.
2. Sistem Peredaran Darah
Ikan koi (Cyprinus carpio) merupakan binatang berdarah
dingin, artinya temperatur suhunya sangat dipengaruhi pada
temperaturan air dan akan berubah sesuai dengan temperature
lingkungan. Ikan koi (Cyprinus carpio) tidak mampu menyesuaikan
produksi panas metabolismenya atau mengendalikan kehilangan
panas tubuhnya melalui mekanisme fisiologi. Oleh karna itu,
temperature tubuh tidak bisa konstan dan akan berubah mengikuti
perubahan temperature tubuhnya melalui penyesuaian tingka
lakunya.

5
3. Sistem Pencernaan
Pakan bersama air yang masuk ke dalam mulut langsung
ditelan, air keluar melalui lubang insane setelah keping ingsang (Gill
rakers) menyerap oksigen. Dari kerongkongan, pakan masuk ke usus
yang panjangnya sekitar lima kali panjang tubuhnya. Di usus inilah
pakan dicerna, bagian yang tidak di serap oleh tubuh di keluarkan
melalui anus berupa Faces. Sementara nutrisi pakan akan diserap
tubuh kemudian digunakan untuk krbutuhan hidup pokok (bernafas,
berenang, metabolism, dan lainnya) serta sisanya digunakan untuk
pertumbuhan dan reproduksi.

2.3 Siklus Hidup


Amri dan Khairum (2002), menyatakan bahwa ikan mas dan ikan koi
(Cyprinus carpio) adalah ikan jenis air tawar yang berkerabat sangat dekat
karna merupakan spesies yang sama tetapi berbeda ras, begitu juga dalam
siklus hidupnya, ikan koi (Cyprinus carpio) sama dengan ikan mas.
Perkembangan di dalam gonad yakni ovarium pada ikan betina yang
menghasilkan telur, dan testis pada ikan jantan yang menghasilkan sperma.
Embrio akan tumbuh dalam telur yang telah dibuahi spermatozoa. Dua
sampai tiga hari telur akan menetas dan tumbuh menjadi larva dengan
ukuran berkisar 0,5-0,6 mm dengan bobot antara 18-20 mg. Larva kemudia
berubah menjadi kabul (larva stadia akhir) waktu 4-5 hari, 2-3 minggu kabul
akan menjadi burayak (stadia benih) yang mempunyai ukuran panjang 1-3
cm dan bobot 0,1-0,5 gram. Dalam waktu 2-3 minggu kemudian, burayak
menjadi benih besar yang mempunya ukuran panjang 3-5 cm dengan bobot
0,5-2,5 gram, dan dalam waktu tiga bulan akan menjadi gelondongan yang
mempunyai bobot 100 gram dan gelondongan tersebut akan tumbuh terus
sampai menjadi induk.

6
2.4 Jenis-Jenis Ikan Koi (Cyprinus carpio)
Menurut Susanto (2008), terdapat beberapa jenis ikan koi (Cyprinus
carpio) diantaranya adalah :
1. Kohaku adalah varictas koi berwarna putih dengan bercak merah
dibadannya.

Gambar 2. Kohaku.

2. Show-sanke adalah koi berwarna hitam dengan bercakak putih dan


merah dibadannya.

Gambar 3. Show-sanke.

3. Taisho-sanke adalah varietas koi mempunyai warna badan putih


dengan bercak merah pada bagian badannya.

Gambar 4. Taisho-sanke.

7
4. Utsurimono varietas koi yang mempunyai warna hitam dengan
bercak warna putih berbentuk kerucut di bagian badannya.

Gambar 5. Utsurimono.

5. Bekko adalah varietas koi yang mempunyai warnah putih, merah dan
kuning.

Gambar 6. Bekko.

6. Asagi adalah varietas koi yang mempunyai badan berwarna biru atau
kuning kebiruan.

Gambar 7. Asagi.

8
7. Shusi adalah koi yang mempunyai sisik besar, kulitnya lembut dan
mempunyai tanda merah ditubuhnya.

Gambar 8. Shusi.
8. Koromo adalah koi yang mempunyai warna hitam.

Gambar 9. Koromo.
9. Kawarimono adalah koi mempunyai warna hitam, kuning, hitam
putih dan kuning.

Gambar 10. Kawarimono.

9
10. Ogon adalah koi yang badannya berwarna emas.

Gambar 11. Ogon.

11. Hikarimoyo adalah koi yang mempunyai kombinasi 2 atau lebih.

Gambar 12. Hikarimoyo.

12. Kin gin rin adalah koi yang mempunyai tanda perak dibadannya.

Gambar 13. Kin gin rin.

10
13. Tanco adalah koi yang mempunyai warna putih dengan tanda merah
hanya pada bagian kepalanya.

Gambar 14. Tanco.

2.5 Habitat dan Daerah Penyebarannya


Ikan koi (Cyprinus carpio) hidup ada iklim sedang di perairan tawar,
ikan ini dapat hidup pada suhu 8-30C sehingga bias dipelihara di daerah
dataran tinggi atau rendah (150-600 m dpl). Ikan koi (Cyprinus carpio)
tidak tahan mengalami goncangan penurunan suhu yang drastis dan tiba-
tiba, penurunan suhu hingga 5C dalam tempo yang singkat dapat
menyebabkan ikan koi (Cyprinus carpio) stres. Pada suhu rendah, 7C ikan
koi (Cyprinus carpio) akan bergerak dengan lambat dan cenderung berada di
dasar air. Meskipun termasuk hewan air tawar, tetapi ikan koi (Cyprinus
carpio) masih bisa bertahan di perairan air payau dengan kadar garam 20-30
ppm. Nenek moyang ikan koi (Cyprinus carpio) adalah ikan mas atau carp
yang berasal dari Asia Timur. Ikan koi (Cyprinus carpio) ditemukan pada
zaman Dinasti Cina pada tahun 265-315 sebelum Masehi di Cina, kemudian
diperkenalkan ke Jepang (Redaksi PS, 2008).
Pusat pembenihan ikan koi (Cyprinus carpio) di Jepang berada di
daerah penggunungan Ojiya, Nigata. Di Indonesia pada tahun 1975, ikan
koi (Cyprinus carpio) sudah dikenal sebagai ikan hias yang diusahakan oleh
para petani ikan mas Cisaat Sukabumi Jawa Barat. Hanya saja, ikan koi
(Cyprinus carpio) masih ikan seleksi dari ikan mas yang digunakan untuk
lauk. Sejalan dengan perkembangan zaman, kini sudah banyak anggota
masyarakat yang secara khusus membudidayakan ikan koi (Cyprinus
11
carpio) dan tidak lagi didominasi petani ikan di salah satu wilayah, tetapi
sudah menyebar keseluruh wilayah (Susanto, 2008).

2.6 Pakan dan Kebiasaan Makan


Di dalam air, ikan koi (Cyprinus carpio) dapat mengenali pakannya,
bahkan mencarinya diantara lumpur dan kotoran karena ikan koi (Cyprinus
carpio) mempunyai organ penciuman yang sangat tajam. Organ
penciumman ini berupa dua pasang kumis yang berada disekitar mulutnya
(Susanto, 2008).
Ikan koi (Cyprinus carpio) termasuk omnivore (pemakan sagalanya),
ketika kecil, ikan koi (Cyprinus carpio) menyantap udang-udangan renik
serta dapnia dan setelah ikan koi (Cyprinus carpio) menjadi dewasa akan
memakan serangga air, jentik nyamuk, lumut yang menempel di batu serta
daun. Untuk mendapatkan makanan, ikan koi (Cyprinus carpio) sering
mengaduk-aduk lumpur yang biasanya dihuni cacing dan binatang kecil
lainnya. Ikan koi (Cyprinus carpio) tidak mempunyai gigi rahang, sehingga
mangandalakan gigi taring yang ada di rongga mulutnya (Redaksi PS,
2008).

2.7 Proses Pemijahan Ikan Koi ( C y p r i n u s c a r p i o )


Menurut Nugroho & Kristanto (2008), ada dua teknik pemijahan
yang sering dilakukan adalah :
1. Pemijahan alami yaitu : pemijahan ikan yang terjadi secara alami
tanpa adanya pemberian rangsangan hormonal maupun perlakuan
lainnya.
2. Pemijahan buatan yaitu : pemijahan yang dilakukan dengan cara
pemberian rangsangan hormonal untuk mempercepat proses
reproduksi, baik dari induk ikan jantan (menghasilakan sperma)
maupun betina (menghasilkan sel telur).

12
2.7.1. Persiapan Kolam Pemijahan
Pertama kali yang harus dipersiapkan untuk pemijahan adalah
kolam. Kolam di keringkan di bawah terik matahari. Pintu
pemasukan dipasang saringan untuk mencegah telur yang mungkin
hanyut. Telur ikan menempel (adesif) sifatnya, penempel telur bisa
menggunakan kakaban, yang dipakai untuk memijahkan ikan koi
(Cyprinus carpio). Kakaban dibuat dari ijuk yang dijepit dengan
bilah bambu dan dipaku. Kakaban yang baik terbuat dari ijuk yang
panjang dan rata, panjang 120 cm dan lebar 40 cm. Jumlah kakaban
yang diperlukan disesuaikan dengan besar induk betina, biasanya 4-
6 buah untuk setiap 1 kg induk betina. Agar bisa mengapung,
kakaban disusun di atas sepotong bambu yang masih utuh. Diatas
kakaban diberi bambu dan diikat agar kumpulan kakaban tidak
tercerai-berai ketika pasangan induk memijah. Sebelum dipasang,
kakaban dibersihkan, dicuci dan dibilas agar terbebas dari lumpur.
Kakaban dipasang setelah kolam diisi air. Air selalu mengalir ke
kolam pemijahan untuk merangsang pasangan koi yang akan
memijah. Selain kakaban, tempat menempel telur bisa juga
menggunakan tanaman Hydrilla yang disusun atau potongan tali
raffia sebagai pengganti ijuk ( Susanto, 2008 ).

2.7.2. Seleksi Induk


Menurut Susanto (2008) Umur ikan untuk dipijahkan berkisar
antara 2-3 tahun. Seleksi induk harus dilakukan dengan hati-hati
yaitu yang sudah matang kelamin dan matang tubuh. Matang
kelamin artinya induk jantan sudah menghailkan sperma dan induk
betina sudah menghasilkan telur yang matang. Sementara matang
tubuh artinya secara fisik calon induk sudah siap menjadi induk-
induk produktif. Ikan koi (Cyprinus carpio) yang mengalami
gangguan fisik atau psikis akan menjadi stres sehingga ikan tidak
akan memijah. Pemijahan ikan koi (Cyprinus carpio) dilakukan pada
induk-induk yang baik dan sehat.
13
Dalam penyeleksian induk ini, ada hal penting yang harus
diperhatikan terutama bagi para pembudidaya pemula atau
penggemar ikan koi (Cyprinus carpio) agar tidak salah dalam
menentukan induk jantan dengan induk betina. Ada berapa
perbedaan antara ikan koi (Cyprinus carpio) Menurut Redaksi SP
(2008) dapat dilihat pada table 1 :
Tabel 1. Perbedaan Spesifik Ikan Koi (Cyprinus carpio) Jantan dan
Betina.
No Ciri-ciri Jantan Betina
1 Tubuh Ramping Gendut
2 Perut Mengecil Membesar
3 Anus Menonjol Cekung Kedalam
4 Bagian perut ke Bila dipijat akan Bila dipijat keluar
anus mengeluarkan cairan bening
seperti susu kekuningan

5 Gerakan Gesit Lamban


Berenang
6 Pertumbuhan Lebih cepat Lamban

2.7.3 Pemijahan
Menurut Takano (2003) induk terpilih yang sudah betul-betul
matang dilepaskan kedalam kolam atau bak pemijahan yang sudah
dipersiapkan. Pemijahan dilakukan dalam bak yang terbuat dari
semen, sebelum bak digunakan dilakukan pencucian, pengeringan
selama 2 hari, kemudian dilanjutkan dengan pengisian air dengan
ketinggian 100 cm. Adapun teknologi dalam pemijahan ikan koi
(Cyprinus carpio) dapat dilakukan dimulai dari persiapan kakaban,
kemudian induk betina dimasukkan terlebih dahulu kedalam kolam
agar induk betina melakukan adaptasi yang cukup sehingga induk
tidak stres. Dengan demikian telur yang di keluarkan dapat banyak
dan berkualitas.

14
Pemijahan ikan dilakukan dengan cara memasangkan induk
ikan mas jantan dan betina di dalam kolam pemijahan ikan dengan
perbandingan jantan dan betina adalah 3:1. Selanjutnya ikan mas
akan melakukan perkawinan secara alami dan biasanya baru
berlangsung pada malam hari (tengah malam) dengan selang waktu
11-18 jam setelah dipasangkan. Ikan jantan yang siap memijah
dilihat dari aktifnya mengejar ikan betina dan membawa ikan betina
kesekitar substrat yang telah disisapkan dan melepas sperma setelah
ikan betina melepaskan telur di sekitar substrat. ikan betinah
memijah dengan cara melepaskan telurnya di substrat yang telah
disediakan sehingga telur menempel pada substrat (Sriati et al,.
2012)

2.7.4 Penetasan Telur


Pada waktu akan terjadi penetasan, embrio sering mengubah
posisinya karena kekurangan ruang di dalam cangkangnya. Dengan
pergerakanpergerakan tersebut bagian cangkang telur yang lembek
akan pecah. Dengan dua atau tiga kali pembetulan posisinya embryo
itu mengatur dirinya lagi. Biasanya pada bagian cangkang yang
pecah ujung ekor embryo dikeluarkan terlebih dahulu sambil
digerakkan. Kepalanya dikeluarkan terakhir karena ukurannya lebih
besar dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya, tetapi banyak juga
didapatkan kepala yang dikeluarkan terlebih dahulu. Ada beberapa
telur yang mati, hal ini menunjukkan bahwa tidak semua telur yang
terbuahi (fertil) akan menetas menjadi larva. Telur tidak menetas ini
dapat disebabkan oleh kualitas telur yang kurang baik ditandai
dengan adanya campuran air pada saat pengambilan telur. Penyebab
lainnya adalah kondisi telur yang saling tempel atau saling tindih
pada saat penyebaran di saringan penetasan sehingga sirkulasi
oksigen terganggu akibatnya telurtelur tersebut kekurangan oksigen
dan diikuti kematian. Telur-telur yang mati akan berpotensi
ditumbuhi oleh jamur Saprolegnea sp . dan jika arak telur mati yang
15
terinfeksi jamur berdekatan dengan telur fertil maka akan terjadi
penularan jamur (Setyono, 2009).

2.7.5 Pemeliharaan Larva


Kelangsungan hidup terutama pada larva sangat ditentukan
oleh pakan. Larva akan mengalami kematian jika dalam waktu
singkat tidak mendapatkan makan. Pemberian pakan yang optimal,
baik kualitas mapun kuantitasnya dapat meningkatkan kelangsungan
hidup (Purbomartono & Suwarsito, 2016). Tingginya sintasan benih
ikan mas ini tidak lepas dari perawatan yang diberikan. Dalam tahap
awal dari daur hidup ikan terutama dalam stadia larva terdapat masa
kritis yang terletak pada saat, sebelum dan sesudah penghisapan
kuning telur dan masa transisi mulai mengambil makanan dari luar.
Sehubungan dengan hal ini, pergerakan larva atau tingkah laku larva
untuk mendapatkan makanan, juga kepadatan persediaan makanan
yang baik merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan hidup
(Setyono, 2009)
Pakan untuk larva tersebut selama masih mempunyai
cadangan makanan kuning telur ditambahkan Artemia dan diseling
dengan Moina sampai larva dipindah pada kolam pendederan. Larva
yang telah berumur satu minggu langsung ditebar pada kolam
pendederan yang telah disiapkan. Pendederan dalam kolam bertujuan
untuk membesarkan benih yang masih berukuran kecil. Pemindahan
larva ke kolam pendederan dilakukan pada pagi hari atau sore hari
untuk menghindari suhu yang terlalu tinggi yang dapat mematikan
benih ikan. Sebelum benih ditebar, pastikan ketinggian air sudah
mencapai 40 cm atau lebih agar fluktuasi suhu kisarannya tidak
terlalu lebar. Pakan yang diberikan selain pakan alami yang telah
tersedia pada kolam tanah tersebut, juga ditambahkan dengan cacing
sutera. Hal ini dimaksudkan untuk mengantisipasi apabila pakan
alami yang tersedia di kolam tidak mencukupi untuk kebutuhan
larva, mengingat jumlah larva yang banyak ( Prasetio et al., 2015)
16
2.8 Pemberian Pakan
Peranan pakan ikan dalam suatu budidaya dapat ditinjau dari
beberapa aspek, dari aspek biologis, pakan ikan sangat dibutuhkan untuk
kehidupan, pertumbuhan, dan reproduksi. Jenis pakan yang digunakan
dalam usaha budidaya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pakan buatan dan
pakan alami. Pakan alami biasanya diberikan pada masa awal pemeliharaan,
sedangkan pakan buatan diberikan pada pembesaran ikan. Pakan alami yang
umum digunakan adalah artemia, moina, daphnia, kutu air dan cacing,
sedangkan padakan buatan berupa pelet (Nugroho & Kristanto, 2008)
Koi yang tetap cantik dan sehat salah satunya dipengaruhi oleh
pakan yang dikonsumsinya. Pada dasarnya ikan koi (Cyprinus carpio)
mebutuhkan pakan yang spesifik, terutama keseimbangan nutrisi. Pakan
sebaiknya diberikan dalam jumlah sedikit, tetapi sering, pakan dapat
diberikan 2-4 kali sehari yaitu pagi, siang, sore, dan malam. Adapun jumlah
pakan yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada koi yaitu
disesuaikan dengan bobot tubuh ikan (Redaksi PS, 2008)

2.9 Parameter Kualitas Air


Air merupakan media paling penting bagi kehidupan ikan. Selain
jumlahnya, kualitas air yang memenuhi syarat merupakan salah satu kunci
keberhasilan dalam budidaya. Beberapa parameter kualitas air perlu
diperhatikan, menurut Lasmana et al,.(2016) diantaranya adalah sebagai
berikut :
A. Suhu
Suhu dapat mempengaruhi aktivitas penting ikan seperti
pernapasan, pertumbuhan dan reproduksi. Suhu yang tinggi dapat
mengurangi oksigen terlarut dan selera makan ikan, ikan koi dapat
hidup pada kisaran suhu 2530C.

17
B. Derajat keasaman (pH)
pH air mengekspresikan intensitas asam maupun basa
perairan. Bentuk persamaan pH adalah logaritma negatif dari
aktivitas ion hidrogen. Skala pH berkisar antara 014 dan pH yang
baik untuk pemeliharaan ikan koi berkisar antara 7,2 7,4.
C. Kelarutan oksigen (O2)
Oksigen terlarut merupakan oksigen dalam bentuk terlarut
dalam air karena ikan tidak dapat mengambil oksigen dalam
perairan secara difusi langsung dari udara, kadar oksigen terlarut
yang menunjang pertumbuhan dan proses pemeliharaan ikan koi
lebih yaitu > 3 ppm.
D. Kecerahan
kecerahan yang baik bagi usaha budidaya budidaya ikan dan
biota lainnya berkisar 30 40 cm. Bila kecerahan sudah mencapai
kedalaman kurang dari 25 cm, berarti akan terjadi penurunan
oksigen terlarut secara dratis (Arfiati et al,. 2016)

2.10 Hama dan Penyakit


Kesehatan ikan koi (Cyprinus carpio) sangat berpengaruh pada
penampilannya. Ikan koi (Cyprinus carpio) sehat memiliki warna yang
cantik karna tubuhnya tampak bersih. Namun karna sebab tertentu, koi
menjadi sakit, faktor pemicunya adalah pemeliharaan yang kurang baik, bila
tidak ditangani secara cepat ikan koi (Cyprinus carpio) akan mati (Redaksi
SP, 2008).
A. Hama
Jenis hama yang memangsa ikan koi (Cyprinus carpio) yaitu
berupa kucing, musang, burung elang, kodok dan ular. Hail ini
terjadi karena ikan koi (Cyprinus carpio) mempunyai sifat jinak dan
bias berenang dipermukaan kolam, sehingga sangat mudah bagi
predator untuk memangsanya, terutama pada waktu ditebar dikolam
dengan ukuran tubuh yang masih sangat kecil (Susanto, 2008).

18
B. Penyakit
Penyakit yang umumnya menyerang ikan koi (Cyprinus
carpio) menurut Susanto (2008) adalah sebagai berikut :
1. Bintik putih (white spot)
White spot atau juga disebut penyakit bintik putih,
adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Ichthyophirus
gejala yang ditimbulkan yaitu dengan adanya bintik putih
dipermukaan tubuh. Pada awalnya bintik putih tersebut
muncul dipermukaan badan kemudian menyebar keseluruh
bagian badan.
2. Jamur
Gejala yang di yang ditimbulkan ikan koi (Cyprinus
carpio) yang terserang jamur adalah tubuhnya kelihatan
seperti lapisan kapas tipis. Jamur tersebut menyerang ketika
air dalam kolam kotor.
3. Harpes
Penyakit ini disebabkan oleh virus herpes koi (KHV)
dan gejala yang muncul saat terkena adalah insangnya
berwarna coklat, terdapat bercak putih dan berlubang-lubang.
4. Cacing jangkar (learnea)
Parasit learnea biasanya menempel bagian tubuh
ikan atau insang. Learnea akan mengisap cairan dalam tubuh,
sehingga badan ikan koi (Cyprinus carpio) akan lemah dan
bentuk tubuhnya tidak bagus yang tentu sangat
membahayakan kelangsungan hidup ikan koi (Cyprinus
carpio).

19
BAB III
METEDOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu


Praktek Kerja Lapang (PKL) dilaksanakan di Kolam Budidaya Air
Tawar Telaga Mandiri, Desa Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten
Sikka, Selama 1 (satu) bulan dari Tanggal 14 Agustus Tanggal 2017 sampai
14 september 2017.

3.2 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam melakukan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) ini adalah :
Tabel 2. Nama dan Fungsi Alat yang Digunakan selama Praktek Kerja
Lapang
No Alat Spesifikasi Keterangan Fungsi
1 Buku - 1 Buah Mengisi Kegiatan
2 Bolpoin - 1 Buah Mencatat Kegiatan
3 Kamera 13 Mega Pixel 1 Buah Mendokumentasi
Kegiatan
4 Kolam Induk 3x5 m 2 Buah Wadah
Pemeliharaan Induk
5 Kolam 2x2 m 1 Buah Wadah Pemijahan
Pemijahan Ikan Koi
6 Kolam Larva 3x5 m 1 Buah Wadah
Pemeliharaan larva
Ikan Koi
7 Serok 1 Inci 2 Buah Mengambil Induk
Ikan Koi
8 Kakaban 1m 5 Buah Menempelnya Telur
Ikan Koi
9 Kepingan CD - 1 Buah Mengukur
Kecerahan Air
10 Kertas - 1 Buah Mengukur Derajat
Lakmus Asam Air
11 Literan 1L 1 Buah Mengukur Debit Air
Kolam
(Sumber : Data Primer)

20
Tabel 3. Nama dan Fungsi Bahan yang Digunakan selama Praktek Kerja
Lapang
No Bahan Spesifikasi Keterangan Fungsi
1 Pelet/Pakan Pelet terapung 5 Bungkus Pakan sadi siap
Buatan yang dikonsumsi
disesuaikan
dengan bukaan
mulut ikan
2 Pakan Keong dan 2 Kali Sehari Pakan yang
Buatan/Alami Tepung serta diolah sendiri
Kuning Telur
3 Induk Koi 8 Ekor 4 ekor/Kolam Induk ikan koi
(Cyprinus
carpio) yang
akan dipijah
(Sumber : Data Primer)

3.3 Metode Pengumpulan Data


Pada kegiatan praktek kerja lapang ini adapun metode yang
digunakan dalam proses pengumulan data adalah :
1. Partisipasi langsung merupakan bagian dari kegiatan praktek kerja
lapang, dengan mengikuti secara aktif kegiatan yang berkaitan
dengan teknik pemijahan hingga perawatan larva ikan koi (Cyprinus
carpio) .
2. Observasi, yaitu melakukan pengamatan secara langsung di tempat
praktek kerja lapangan.
3. Melakukan wawancara langsung kepada pembudidaya guna
mendapatkan data yang akurat.
4. Sumber Data
Untuk sumber data yang dikumpulkan dalam praktek kerja lapang
(PKL) ini, seperti data perimer dan sekunder, antara lain :
1. Data Perimer
Data perimer adalah data yang langsung dikumpulkan
oleh peneliti dari sumber.

21
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dari
berbagai sumber yang berkaitan dengan praktek kerja lapangan
(PKL) ini.

3.4 Metode Analisis Data


Data yang diperoleh dalam Praktek Kerja Lapang (PKL) ini, baik
berupa data Primer maupun Sekunder dibahas secara deskriptif komperatif
yaitu dengan menggambarkan dan menguraikan tentang teknik pemijahan
ikan koi (Cyprinus carpio) yang dilakukan di kolam budidya ikan air tawar
Telaga Mandiri yang berada di Desa Wairterang, Serta menjelaskan semua
data yang diperoleh selama mengikuti kegiatan praktek dengan
membandingkan data dari hasil praktek dan materi atau literatur yang ada.

22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Keadaan Umum Lokasi


4.1.1 Lokasi Kawasan Perkolaman Ikan
Kolam ikan koi (Cyprinus carpio) terletak di Desa
Wairterang, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka.
Batas-batas wilayah Desa Wairterang adalah :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Natakoli Kecamatan
Mapitara
3. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Runut Kecamatan
Waigete
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Nangatobong Kecamatan
Waigete

Gambar 15. Lokasi Budidaya Air Tawar Telaga Mandiri

4.1.2 Sejarah Berdirinya Kolam Budiday Air Tawar Telaga Mandiri


Kolam ikan budidaya air tawar Telaga Mandiri yang
berlokasi di Desa Wairterang, Kecamatan Waigete merupakan
pemilik dari Bapak Kornelius Kapo. Tempat ini sebelumnya adalah
tempat tinggl dari Bapak Kornelis Kapo, karna ketertarikan bapak
tersebut terhadap ikan serta letaknya yang strategis serta didukung
23
oleh keadaan alam seperti dektanya sumber air (mata air), maka
bapak Kornelius Kapo membuat satu kolam ikan di samping
rumahnya. Awalnya bapak Kornelis Kapo memelihara ikan nila.
Setelah beberapa bulan kemudian ia memelihara lagi ikan koi dan
ikan lele.
Pada tahun 1983 bapak Kornelis Kapo menikuti pelatihan
tentang budidaya ikan di Bogor selama 5 bulan dan pada tahun 1990
Bapak Kornelis Kapo dikirim oleh Yayasan Bina Daya selama tiga
bulan untuk mengikuti pelatihan tentang pengembangan budidaya
ikan dan pupuk organik utuk budidaya ikan air tawar di Bali, dan
saat ini Bapak Kornelis Kapo sudah memiliki beberapa kolam
budidaya ikan air tawar. Pada kolam ikan ini dapat dijadikan salah
satu tempat praktek untuk kegiatan budidaya ikan air tawar pada
perikanan budidaya.

4.1.3 Sarana dan Prasarana


Kolam budidaya ikan air tawar Telaga Mandiri di Desa
Wairterang dilengkapi berbagai sarana dan prasarana untuk
mendukung semua kegiatan budidaya, yang meliputi kegiatan
budidaya ikan lele, ikan nila, ikan koi, ikan comet dan keong untuk
pakan alami, mulai dari kolam pemijahan, larva, pembenihan dan
pembesaran.
Terdapat sarana prasarana yang menunjang proses budidaya
dalam kegiatan pemeliharaan ikan air tawar serta kesehatan ikan dan
lingkungan tempat tinggalnya, serana prasarana yang tersedia antara
lain:

24
Kolam Semi Insentif :
Kolam semi insentif adalah kolam yang bagian dinding
dan pematangnya terbuat dari tembok, biasanya tembok beton
dan batu bata, sedangkan dasar kolamnya terbuat dari tanah. Di
kolam budidaya air tawar telaga mandiri, bagian dinding dan
pematangnya terbuat dari batu bata.
1. 2 kolam induk yang masing-masing berukuran 3 X 5 m
untuk ikan koi.

Gambar 16. Kolam Induk Betina Ikan Koi

Gambar 17. Kolam Induk Jantan Ikan Koi

25
2. 3 kolam pembesaran yang masing-masing berukuran 5 X 12
m untuk ikan nila, ikan koi, dan ikan lele.

Gambar 18. Kolam Pembesaran Ikan Nila

Gambar 19. Kolam Pembesaan Ikan Koi

Gambar 20. Kolam Pembesaran Ikan Lele

26
3. 1 kolam induk jantan ikan comet yang berukuran 3 X 5 m

Gambar 21. Kolam Induk Jantan Ikan Comet

Kolam insentif :
Kolam insentif adalah kolam yang keseluruhan
bagiannya terbuat dari tembok beton atau batu bata dari mulai
dari pembatas kolam sampai dasar kolam semuanya dari tembok
beton atau bata. Di kolam budidaya air tawar telaga mandiri
keseluruhan bagiannya terbuat dari batu bata.
1. 4 kolam pembenihan yang masing-masing berukuran 3 X 5
m untuk ikan nila, ikan koi, dan ikan comet serta keong.

Gambar 22. Kolam Pembenihan Ikan Nila, Ikan Koi,


Ikan Comet Serta Keong.

27
2. 2 kolam pemijahan yang mana berukuran 2 X 2 m dan 2 X
1 m

Gambar 23. Kolam Pemijahan yang Pertama.

Gambar 24. Kolam Pemijahan yang Kedua.

3. 1 kolam pemeliharaan induk betina ikan comet yang


berukuran 1 X 1 m

Gambar 25. Kolam Pemeliharaan Induk Betina Ikan Comet

28
4. 1 kolam pemeliharaan induk ikan lele yang berukuran 1 X
1 m

Gambar 26. Kolam Pemeliharaan Induk Ikan Lele.

4.2 Pelaksanaan Kegiatan


Pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapangan Teknik Pemijahan dan
Perawatan Larva Ikan Koi (Cyprinus carpio) di kolam budidaya ikan air
tawar Telaga Mandiri Desa Wairterang adalah sebagai berikut :

4.2.1 Manajemen Pemeliharaan Induk Ikan Koi (Cyprinus carpio)


Manajemen pemeliharaan induk sangat penting peranannya
dalam kegiatan pemijahan ikan koi (Cyprinus carpio). Induk yang
baik merupakan salah satu faktor penunjang untuk mendapatkan
keberhasilan dalam pemijahan. Pemeliharaan induk ikan koi
(Cyprinus carpio) dilakukan di 2 kolam semi intensif dengan ukuran
yang sama yaitu 3 X 5 m dengan kedalamanya 70 cm. Induk ikan
koi (Cyprinus carpio) yang dipelihara adalah 2 jenis Ogon, 2 jenis
Kohaku, dan 2 jenis Bekko.
Pada pemeliharaan induk ikan koi (Cyprinus carpio) yang
perlu diperhatikan adalah pemberi pakan, yang berupa pakan buatan
dan pakan alami yaitu pelet dan keong yang diberikan 3 kali sehari
dengan takarannya disesuaikan jumlah induk dalam 1 kolam, yaitu
keong yang di hancurkan pada kaleng yang berukuran 100 gram
untuk 3 induk dalam 1 kolam dan 2 tebaran pelet dalam 1 kali
29
pemberian pakan. Selain pemberian pakan, yang perlu diperhatikan
dalam pemeliharaan induk adalah parameter kualitas air, yang diukur
saat melakukan prakter kerja lapang adalah pH airnya menggunakan
kertas lakmus, dan menunjukan bahwa pH air pada kolam induk
relatif normal dengan adanya perubahan warna dari biru menjadi
kehijauan yang terjadi pada kertas lakmus, selain pH kecerahan air
juga diukur menggunakan kepingan CD, yang menunjukan
kecerahan air pada kolam induk ini, karna pada kedalaman 40 cm
kepingan CD masih terlihat jelas. Semua hal diperhatikan dengan
tujuan agar mendapatkan kualitas telur yang baik.

4.2.2 Teknik Pemijahan


Pemijahan ikan koi (Cyprinus carpio) di kolam pemijahan
Telaga Mandiri dilakukan dikolam Intensif air mengalir dengan
ukuran 2X2 m dengan kedalamannya 40 cm yang telah disediakan.
Sebelum melakukan kegiatan pemijahan perlu diadakan persiapan-
persiapan untuk memaksimalkan proses pemijahan. Persiapan yang
dimaksud adalah :
1. Persiapan kolam pemijahan.
Melakukan persiapan kolam untuk pemijahan ikan koi
(Cyprinus carpio) ini dimaksudkan untuk memaksimalkan proses
pemijahan sehingga dapat menghasilkan telur yang baik.
Persiapan kolam untuk kegiatan pemijahan ikan koi (Cyprinus
carpio) antara lain membersihkan kolam, mengeringkan kolam
dan menutup pintu pengeluaran air dengan menyumbat pipa
pengeluaran, pengisihan air, serta memeriksa dan menyiapkan
fasilitas penunjang seperti serok untuk memindahkan induk ikan
koi (Cyprinus carpio) dan kakaban yang berfungsi sebagai
tempat menempelnya telur serta ditebar daun kering pohon
ketapang untuk mencegah adanya jamur dan bakteri yang
menyerang larva, selain daun kering pohon ketapang, diberikan

30
juga pohon cemarah air yang dapat mencegah adanya udara
beracun pada air di kolam larva serta menjernihkan air.
2. Seleksi induk.
Seleksi induk harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak
menimbulkan gangguan fisik dan membuat ikan menjadi stres.
Ikan koi (Cyprinus carpio) yang mengalami gangguan fisik dan
stres dapat menyebabkan ikan tidak akan memijah. Dalam
seleksi induk yang dilakukan di kolam budidaya Telaga Mandiri
meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
A. Seleksi induk jantan dan betina
Perbedaan induk jantan dan betina ikan koi (Cyprinus
carpio) dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 4. Perbedaan Induk Jantan dan Betina
Jantan Betina
Alat kelamin berupa Alat kelamin berupa tonjolan
tonjolan di belakang dibelakang anus, pada
lubang anus. Pada tonjolan tonjolan tersebut terdapat dua
itu terdapat satu lubang lubang. Lubang pertama
untuk mengeluarkan terletak didekat anus, yang
sperma dan urine berfungsi sebagai tempat
keluarnya telur, lubang yang
kedua terletak dibelakangnya
yang berfungsi sebagai
keluarnya urine
Sumber : Data Primer
B. Seleksi induk yang matang gonad
Memilih induk ikan koi (Cyprinus carpio) cermat dan
teliti agar memperoleh induk yang baik dan sehat. Melakukan
pemijahan haruslah dilakukan seleksi induk yang baik, yaitu :
Tabel 5. Ciri-Ciri Induk Matang Gonad.
Ciri-Ciri Induk Jantan Ciri-Ciri Induk Betina
Tidak cacat, sirip dan Tidak cacat, sirip dan sisiknya
sisiknya lengkap lengkap
Jika perutnya diurut akan Jika perut diraba akan terasa
keluar cairan berwarnah lembek dan jika diurut akan
putih keluar cairan kuning dan
terlihat telur
Sumber : Data Primer
31
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam tahapan
seleksi induk ikan koi (Cyprinus carpio) saat melakukan
Praktek Kerja Lapang (PKL) :
1. Seleksi induk dilakukan pada pagi hari, karna pada saat
itu dianggap kondisi perairnya, mulai dari suhu, pH ,
kecerahan serta Do berada pada kondisi setabil agar induk
tidak mudah stres.
2. Menangkap induk menggunakan serok yang berukuran
besar dengan sizenya 2 cm, tidak dengan tangan karna
dapat melukai ikan dan menghindari penangkapan induk
yang kurang baik.
3. Mengamati ciri-ciri kematangan gonad pada ikan secara
visual yaitu dengan melihat kondisi tubuh induk apakah
kondisinya baik dan sehat, tidak catat serta sisik dan
siripnya masih lengkap.
4. Untuk mengetahui induk yang siap matang gonad, maka
dilakukan kegiatan Stripping (Pengurutan) secara hati-
hati guna mengurangi stres pada ikan. Jika saat dilakukan
pengurutan pada induk dan mengeluarkan cairan
berwarna putih susu, maka itu adalah induk jantan yang
siap untuk memijah. Demikian juga pada induk betinah,
jika mengeluarkan sel telur berwarna kekuning-kuningan,
maka induk betina tersebut sudah siap dipijahkan.
5. Induk yang sudah diseleksi segera dibawah ke kolam
pemijahan.

4.2.3 Pemijahan
Pemijahan merupakan proses pertemuan sperma yang
dihasilkan oleh induk jantan dengan telur yang dihasilkan oleh induk
betina untuk menghasilkan pembuahan. Penebaran induk ikan koi
(Cyprinus carpio) yang dilakukan di kolam budidaya air tawar
Telaga Mandiri dilakukan pada pagi hari, pada jam 10.00 WIT, karna
32
dianggap kondisi suhu pada air kolamnya stabil. Pemijahan yang
dilakukan saat praktek kerja lapangan sebanyak 1 kali. Perbandingan
antara induk jantan dan betina yang dipijahkan yaitu 3 ekor : 3 ekor.
Metode pemijahan yang digunakan merupakan metode secara
alami dengan cara menempatkan induk jantan dan betina pada satu
kolam, induk betina melepas telur, selanjutnya dengan capat induk
jantan membuahi telur tersebut dengan menyemprotkan spermanya.
Butuh waktu 1 malam untuk ikan koi (Cyprinus carpio) memijah,
dan waktu memijahnya adalah pagi hari pada jam 04.00-07.00 WIT,
karna butuh waktu sekitar 18-24 jam untuk ikan koi (Cyprinus
carpio) bertelur.

4.2.4 Penetasan Telur


Setelah melakukan pemijahan, telur yang telah dibuahi akan
menempel pada kakaban yang disiapkan, kemudian induk jantan dan
betinah dipindahkan kembali pada kolam induk. Pada kolam akan
ditebar daun kering pohon ketapang, dengan tujuan pencegahan
adanya jamur yang dapat merusak telur ikan koi (Cyprinus carpio).
Telur yang dibuahi dianggap baik apabila berwarnah kuning
terang karna telur ikan yang berwarna kuning terang memiliki
embrio, sedangkan telur yang berwarna putih pucat merupakan telur
yang rusak atau tidak dapat untuk menetas. Waktu yang diperlukan
untuk penetasan telur ikan koi (Cyprinus carpio) di kolam budidaya
air tawar Telaga Mandiri adalah selama 2 hari.

4.2.5 Perawatan Larva


Perawatan larva ikan koi (Cyprinus carpio) dilakukan setelah
telur menetas. Selama 3 hari larva tidak diberi makan karna masih
memiliki pakan alaminya sendiri berupa kuning telur. Setelah 3 hari,
larva kemudian dengan sendirinya berpindah ke kolam yang
berukuran 3X5 m dengan kedalaman 40 cm melalui pipa

33
pengeluaran air yang mana dirancang agar langsung dialirkan pada
kolam perawatan larva.
Setelah larva ikan koi (Cyprinus carpio) berada pada kolam
perawatan larva, maka larva ikan diberi pakan, dimana pakan yang
diberikan berupa tepung yang dicampur kuning telur dan keong yang
dihancurkan atau dihaluskan kemudian diberikan dengan cara
menggunakan serokan yang berukuran paling kecil sehingga pakan
yang diberikan bisa diterima larva karna pakan yang diberikan
sangatlah halus dengan takaran 2 kali sehari dengan pemberian 2
ekor keong yang dihaluskan dalam sekali pemberian pakan.
Selain pemberian pakan, yang harus diperhatikan adalah
hama dan penyakit yang dapat menyerang larva ikan koi (Cyprinus
carpio) yang masih sangat rentan. Kolam larva kemudian ditebar
daun kering pohon ketapang untuk mencegah adanya jamur dan
bakteri yang menyerang larva karna ketapang kering dapat
melepaskan asam organik seperti humic dan tannin, yang dapat
menurunkan pH air dan menyerap bahan kimia berbahaya serta
memberikan kondisi air yang nyaman bagi ikan, selain daun kering
pohon ketapang, diberikan juga pohon cemarah air yang dapat
mencegah adanya udara beracun pada air di kolam larva serta
menjernihkan airkarna pohon ketapang air dapat memproduksi
oksigen yang berguna bagi kualitas air.
Pengontrolan selalu dilakukan pada kolam larva, karna takut
adanya gangguan serangga dari luar kolam, selain parameter kualitas
air juga dilakukan, yang diukur adalah pH airnya menggunakan
kertas lakmus, dan menunjukan bahwa pH air pada kolam larva
relatif normal dengan adanya perubahan warna dari biru menjadi
kehijauan yang terjadi pada kertas lakmus, artinya bahwa pH air
pada kolam berada pada kisaran normal yaitu 6-9 dan layak untuk
dilakukannya budidaya ikan air tawar, kecerahan air juga diukur
menggunakan kepingan CD, yang menunjukan kecerahan air pada

34
kolam induk ini, karena pada kedalaman 40 cm kepingan CD masih
terlihat jelas.

4.3 Kualitas Air


Faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan
hidup ikan koi (Cyprinus carpio) selain pakan adalah kualitas air. Secara
fisisk, air harus bersih dan tidak keruh, kondisi air jernih akan membuat
kulit koi menjadi halus. Selain itu, air harus terbebas dari cemaran dan
sebaiknya air memiliki seluru elemen yang dibutuuhkan ikan koi (Cyprinus
carpio) mulai dari Suhu air yang ideal bagi pertumbuhan ikan koi
(Cyprinus carpio) adalah suhu 2530C, pH yang baik untuk pemeliharaan
ikan koi (Cyprinus carpio) berkisar antara 7,2 7,4 kadar oksigen terlarut
yang menunjang pertumbuhan dan proses pemeliharaan ikan koi lebih yaitu
> 3 ppm dan kecerahan yang baik bagi usaha budidaya budidaya ikan dan
biota lainnya berkisar 30 40 cm.
Pada kolam budidaya air tawar telaga mandiri yang berada di Desa
Wairterang kualitas airnya terjaga dengan baik, dinyatakan dengan
pengukuran pH membuktikan bahwa air pada kolam derajat keasamannya
terjaga serta kecerahan air kolam, selain itu perawatan kolam dengan
alternatif daun ketapang dan pohon cemara air demi menjaga kesetabilan
kualitas air terbukti dengan keberhasilan yang diperoleh melalui kegiatan
pemijahan dan perawatan larva ikan koi (Cyprinus carpio).

35
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari hasil Praktek Kerja Lapang (PKL) ini dapat diambil beberapa
kesimpulan, antara lain :
1. Dalam melakukan pemijahan ikan koi (Cyprinus carpio) terdapat
beberapa tahapan atau langkah-langkah yang perlu diperhatikan.
2. Salah satu faktor pendukung keberhasilan suatu pemijahan adalah
dengan mengetahui langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan
dalam membudidayakan ikan koi (Cyprinus carpio)
3. Saat melakukan pemijahan ikan koi (Cyprinus carpio) ada beberapa
kendala yang muncul.
5.2 Saran
Dari hasil Praktek Kerja Lapang (PKL) yang telah dilakukan, penulis
dapat memberikan saran sebagai berikut :
1. Pengelolaan kualitas air sebaiknyam tetap dikontrol dan dilakukan
pembersihan secara teratur.
2. Pemberian pakan yang teratur, yang mana merupakan salah satu
keberhasilan dalam budidaya ikan koi (Cyprinus carpio).
3. Kepada pembudidaya ikan koi (Cyprinus carpio) agar lebih
memperhatikan perawatan larva, karna pada saat larva masih terjadi
masa keritis.

36
DAFTAR PUSTAKA

Amri, K dan Khairuman. 2002. Menanggulangi Penyakit Pada Ikan Mas dan Koi.
Jakarta.

Arfianti, D, Zulfa R., dan Uun Y. 2016. Analisis Histopatologi Otot Ikan Mas
(Cyprinus carpio) Yang Terinfeksi Koi Herpes Virus (KHV) Pada Kolam
Pemeliharaan Ikan Mas. Prosending Seminar Nasional Kelautan. Program
Studi Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan Universitas Brawijaya.

Krismiyati, Novy P., dan Sri S. 2013. Prevelensi Ektoparasit Yang Menyerang
Benih Ikan Koi (Cyprianus corpio) di Bursa Ikan Hias Surabaya. Jurnal
Ilmiah dan Kelautan. Vol. 5, No. 1. Fakultas Perikanan dan Kelautan
Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo. Surabaya

Lasmana, I, Emaliana dan Syammaun. 2016. Pengaruh Perbedaan Suhu


Terhadapa Pertumbuhan Benih Ikan Mas Koi (Cyprinus carpio). Program
Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas
Sumatera Utara.

Nugroho, E dan Anang H. K. 2008. Panduan Lengka Ikan Konsumsi Air Tawar
Populer. Penebar Swadaya. Jakarta.

Prasetio, A.B., Emi K., dan Sawung C. 2015. Pengembangan Budidaya Ikan Hias
Koi(Cyprinus carpio) Lokal Di Balai Penelitian dan Pengembangan
Budidaya Ikan Hias Depok. Media Akuakultur. Vol. 7, No. 2. 71-78. Balai
Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias.

PS, Redaksi. 2008. Koi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Setyoro, B. 2009. Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Bahan Pada Pengencer


Sperma Ikan Skim Kuning Telur Terhadap Laju Fertilisasi, Laju
Penetasan dan Sintasan Ikan Mas (Cyprianus Carpio). Fakultas Pertanian
dan Peternakan Universitas Muhamadiyah Malang.

Sriati, Chaerul N. F., dan Ibnu Dwi B. 2012. Penambahan Ekstrat Tauge Dalam
Pakan Untuk Menigkatkan Keberhasilan Penijahan Ikan Mas Koki
(Carassius auratus). Jurnal Perikanan dan Kelautan. ISSN 2088-3137.
Vol. 3, No. 3. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD.

Sudarty, Zulkifli M., dan J.B.M. Rawung. 2004. Pembenihan Ikan Mas Yang
Efektif dan Efisien. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 23, No. 2. Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Utara.

Susanto, H. 2002. Koi . Penebar Swadaya. Jakarta.


Takano. 2003. Pemijahan ikan koi. Balai Budidaya Air Tawar Jambi. Jambi.
37
Yulisti, M., dan Riesti T. 2012. Rantai Pemasaran Ikan Koi (Cyprinus carpio) Di
Kabupaten Belitar Jawa Timur. Balai Besar Penelitian Sosial Ekonomi
Kelautan dan Perikanan. Jakarta.

Widiastuti, I.M. 2009. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup (Survival Rate)


Ikan Mas (Cyprinus carpio) Yang Dipelihara Dalam Wadah Terkontrol
Dengan Padat Penebaran Yang Berbeda. Media Litbang Sulteng. ISSN
1979-5971. Vol. 2, No. 2. 126-130. Universitas Tadulako.

38
LAMPIRAN

39
Lampiran 1. Kolam Pemijahan

Lampiran 2. Pemindahan Induk Ikan Koi (Cyprinus carpio)

40
Lampiran 3. Pengecekan Induk Jantan dan Betina Ikan Koi(Cyprinus carpio)

Lampiran 4. Telur Hasil Pemijahan Ikan Koi (Cyprinus carpio)

41
Lampiran 5. Pemberian Pakan

Keong Sebagai Pakan Alami

Pemberian Pakan Menggunakan Serok

Campuran Telur dan Terigu Sebagai Pakan Buatan

42
Lampiran 6. Pengukuran Kualitas Air

Pengukuran pH Menggunakan Kertas Lakmus

Pengukuran Kecerahan Air Menggunakan Kepingan CD

43

Anda mungkin juga menyukai