Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

KEBUTUHAN CAIRAN PADA ANAK

OLEH : KELOMPOK V
NAMA : 1. ARIS NOVEN
2. JUPRIANTO
3. UDI IRAWAN
4. RINA ANGGRAINI
5. NANI INDRIANI
6. CYNTIA CHRISTINA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


EKA HARAP PALANGKA RAYA
2015
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
KEBUTUHAN CAIRAN PADA ANAK

Hari / Tanggal : Rabu, 06 Desember 2016


Waktu : 30 menit
Pokok Bahasan : Pemenuhan Kebutuhan Cairan pada Anak
Sasaran : Orangtua dan Anak
Penyuluh : Mahasiswa S1 Keperawatan Tingkat III.B Stikes
Eka Harap Palangka Raya
Tempat :Ruang Flamboyant BLUD RSUD Dr. Doris
Sylvanus Palangka Raya

I. Identifikasi Masalah
Kehamilan merupakan kondisi alamiah yang unik karena meskipun bukan
penyakit, tetapi seringkali menyebabkan komplikasi akibat berbagai perubahan
fisiologik yang terjadi adalah perubahan haemodinamik. Selain itu, darah yang
terdiri atas cairan dan sel sel darah berpotensi menyebabkan komplikasi
perdarahan dan thrombosis (Sarwono,2009)
Suatu penelitian memperlihatkan perubahan konsentrasi Hb sesuai dengan
bertambahnya usia kehamilan. Pada trimester pertama, konsentrasi Hb tampak
menurun, kecuali pada perempuan yang telah memiliki kadar Hb rendah (< 11,5
g/dl). Konsentrasi Hb paling rendah didapatkan pada trimester kedua, yaitu pada
usia kehamilan 30 minggu. Pada trimester ketiga terjadi sedikit peningkatan Hb,
kecuali pada perempuan yang sudah mempunyai kadar Hb yang tinggi (> 14,5
g/dl) pada pemeriksaan pertama. (Sarwono,2014).

II. Tujuan Umum


1.Tujuan Umum
Setelah mengikuti penatalaksanaan ini, orangtua anak mampu memahami
pentingnya kebutuhan cairan pada anak.
2.Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan ini, orangtua anak diharapkan:
1) Mampu mengetahui bagaimana cara memenuhi kebutuhan cairan pada
anaknya.
2) Mampu mengetahui apa dampak jika anaknya kelebihan maupun
kekurangan cairan.

III. Materi
Terlampir

IV. Metode
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

V. Media
1. Leaflet

VI. Kegiatan Pembelajaran


No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta
1 5 menit Pembukaan Menjawab salam,
a. Mengucapkan salam dan terima mendengarkan dengan
kasih atas kedatangan para peserta. seksama
b. Memperkenalkan diri dan
Menjelaskan tujuan penyuluhan
c. Menyebutkan materi/ pokok bahasan
yang akan disampaikan
2 15 menit Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan: Menyimak dan
1) Menanyakan kepada orangtua anak memperhatikan
apa pentingnya cairan bagi tubuh
2) Menanyakan kepada orangtua
bagaimana cara memenuhi kebutuhan
cairan pada anaknya.
3) Menanyakan kepada orangtua apa
dampak jika anaknya kelebihan
maupun kekurangan cairan
3 10 menit Penutup: 1) Peserta memperhatikan
1) Orangtua memahami pengertian dan memberikan
cairan. pertanyaan jika ada yang
2) Orangtua memahami bagaimana cara belum jelas serta
memenuhi cairan pada anaknya. menjawab pertanyaan
3) Orangtua memahami dampak dari yang diajukan oleh
kelebiha maupun kekurangan cairan peserta.
4) Memberikan kesempatan pada peserta 2) Menjawab salam
untuk bertanya jika terdapat hal-hal
yang belum jelas.
5) Menyimpulkan atau merangkum hasil
penyuluhan
6) Mengevaluasi hasil kegiatan dan
meminta salah satu dari peserta untuk
mengulangi cara meminum tablet zat
besi yang benar.
7) Memberi salam dan meminta maaf
bila ada kesalahan
MATERI
KEBUTUHAN CAIRAN PADA ANAK

A. Pengertian Cairan
Cairan adalah volume air bisa berupa kekurangan atau kelebihan air. Air tubuh
lebih banyak meningkat tonisitus adalah terminologi guna perbandingan
osmolalitas dari salah satu cairan tubuh yang normal. Cairan tubuh terdiri dari
cairan eksternal dan cairan internal. Volume cairan intrasel tidak dapat diukur
secara langsung dengan prinsip difusi oleh karena tidak ada bahan yang hanya
terdapat dalam cairan intrasel. Volume cairan intrasel dapat diketahui dengan
mengurangi jumlah cairan ekternal, terdiri dari cairan tubuh tota (Saifuddin,
2014).

B. Cairan Eksternal terdiri dari cairan tubuh total:


1) Cairan Interstitiel: bagian cairan ekstra sel yang ada diluar pembuluh darah.
2) Cairan Transeluler, cairan yang terdapat pada rongga khusus seperti dalam
pleura, perikardium, cairan sendi, cairan serebrospinalis.
Merupakan suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan
perubahan yang tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologis dan lingkungan.
Cairan dan elektrolit saling berhubungan, ketidakseimbangan yang berdiri sendiri
jarang terjadi dalam bentuk kelebihan atau kekurangan. Kebutuhan cairan dan
elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan
perubahann yang tetap dalam berespons terhadap stressor fisiologis dan
lingkungan

C. Klasifikasi Cairan
1. Volume dan Distribusi Cairan Tubuh
1) Volume cairan
Total jumlah volume cairan tubuh (Total Body Water = TBW) kira2
60% dari BB pria dan 50% dari BB wanita. Usia juga berpengaruh
terhadap TBW di mana makin tua usia maka sedikit kandungan airnya.
Jadi jumlah volume ini tergantung pada kandungan lemak badan dan
usia. Contoh: BBL-TBW nya 70-80 %, usia pubertas sampai dengan 39
th untuk pria 60% dari BB dan untuk wanita 52 % dari BB. Usia 45-60
th untuk pria usia 55% dari BB dan wanita 47 % dari BB. Usia diatas 60
tahun untuk pria 52 % dari BB dan wanita 46 % dari BB. Lemak
jaringan sangat sedikit meyimpan cairan, dimana lemak pada wanita
lebih banyak daripada pria sehingga volume cairan lebih rendah dari
pria.
2) Distribusi cairan
Cairan tubuh didistribusikan diantara 2 kompartemen yaitu pada intra
seluler dan ekstraselular. Cairan Intraseluler (CIS) kira-kira 2/3 atau 40%
dari BB, sedangkan Cairan Ekstraseluler (CES) 20% dari BB. Cairan ini
terdiri atas plasma (Cairan Intravaskuler) 5%, Cairan Interstisial CIT
(Cairan disekitar tubuh seperti limfe) 10-15 % dan Cairan Transeluler
(CTS) (misalnya cairan cerebrospinalis, sinovial, cairan dalam
peritoneum, cairan dalam rongga mata, dan lain-lain) 1-3 %.
2. Fungsi Cairan
1) Mempertahankan panas tubuh dan pengaturan temperature tubuh.
2) Transport nutrient ke sel
3) Transport hasil sisa metabolism
4) Transport hormon
5) Pelumas antar organ
6) Memperthanakan tekanan hidrostatik dalam system kardiovaskuler

3. Keseimbangan Cairan
Keseimbangan cairan ditentukan oleh intake dan output cairan. Intake
cairan berasal dari minuman dan makanan. Kebutuhan cairan setiap hari
antara 1.800 2.500 ml/hari. Sekitar 1.200ml berasal dari minuman dan
1.000 ml dari makanan. Sedangkan pengeluaran cairan melalui ginjal
dalambentuk urine 1.200-1.500 ml/hari, paru-paru 300-500 ml, dan kulit
600-800 ml.
4. Pergerakan Cairan Tubuh
Mekanisme pergerakan cairan tubuh melalui 3 proses yaitu:
a) Difusi
Merupakan proses dimana partikel yang terdapat dala cairan bergerak rai
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah sampai terjadi keseimbangan.
Cairan dan elektrolit didisfusikan menembus membrane sel. Kecepatan
difusi dipengaruhi oleh ukuran moleku, konsentrasi larutan, dan
temperature.
b) Osmosis
Merupakan bergeraknya pelarut bersih seperti air, melalui membrane
semipermeabel dari larutan yang berkonsentrasi lebih rendah ke
kkonsentrasi yang lebih tinggi yang sifatnya menarik.
c) Transpor aktif
Merupakan proses partikel bergerak dari konsentrasi rendah ke tinggi
karena adanya daya aktif dari tubuh seperti pompa jantung.
5. Pengaturan Keseimbangan Cairan
1) Rasa dahaga
Mekanisme rasa dahaga : Penurunan fungsi ginjal merangsang pelepasan
renin, yang pada akhirnya menimbulkan produksi angiotensin II yang
dapat merangsang hipotalamus untuk melepaskan substrat neuron yang
bertanggungjawab terhadap sensasi haus.
2) Osmoreseptor di hipotalamus mendeteksi penigkatan tekanan osmotic
dan mengaktivasi jaringan saraf yang dapat mengakibatkan sensasi rasa
dahaga.
3) Anti Diuretik Hormon (ADH): ADH dibentuk di hipotalamus dan
disimpan dalam neurohipofisisi dari hipofisis posterior. Stimuli utama
untuk sekresi ADH adalah peningkatan osmolaritas dan penurunan
cairan ekstrasel. Hormone ini meningkatkan rearbsorbsi air pada duktus
koligentes, dengan demikian dapat menghemat air.
4) Aldosteron: Hormone ini disekresi oleh kelenjar adrenal yang bekerja
pada tubulus ginjal untuk meningkatkan absrsorsi natrium. Pelepasan
aldosteron dirangsang konsentrasi kalium, natrium serum dan system
angiotensin rennin serta sangat efektif dalam mengendalikan
hiperkalemia.
5) Prostaglandin adalah asam lemak alami yang terdapat dalam banyak
jaringan dan berfungsi dalam merespn radang, pengendalian tekanan
darah, kontraksi uterus dan mobilitas gastro intestinal. Dalam ginjal,
prostaglandin bereran mengatur sirkulasi ginjal, respons natrium dan
efek ginjal pada ADH.
6) Glukokortikoid: Meningkatkan rearbsorbsi natrium dan air, sehingga
volume darah naik dan terjadi retensi natrium. Perubahan kadar
glukokortikoid menyebabkan perubahan pada keseimbangan cairan
(volume darah).
6. Cara Pengeluaran Cairan
Pengeluaran cairan terjadi melalui organ-organ seperti:
1) Ginjal: Merupakan pengatur utama keseimbangan cairan yang menerima
170 liter darah untuk disaring setiap hari. Produksi urine untuk semua
usia 1 ml/kg/jam. Pada orang dewaasa produksi urine sekitar 1,5
liter/hari. Jumlah urine yang dipprosuksi oleh ADH dan Aldosteron.
2) Kulit: Hilangnya cairan melalui kulit diatur oleh saraf simpatis yang
menerima rangsang aktivitas kelenjar keringat. Rangsangan kelenjar
keringat dapat dihasilkan dari aktivitas otot, temperature lingkungan
yang meningkat dan demam. Disebut Insensible Water Loss (IWL)
sekitar 15 20 ml/24 jam.
3) Paru-paru: Menghasilkan IWL sekitar 400 ml/hari. Meningkatkan cairan
yang hilang sebagai respon terhadap perubahan kecepatan dan
kedalaman nafas akibat pergerakan atau demam.
4) Gastrointestinal: Dalam kondisi normal cairan yang hilang dari
gastrointestinal setiap hari sekitar 100 200 ml. Perhitungan IWL secara
keseluruhan adalah 10 15 cc/kg BB/24 jam, dengan kenaikan 10 %
dari IWL pada setiap kenaikan suhu 10C.
7. Masalah keseimbangan cairan
1) Hipovolemik adalah kondisi akibat kekurangan volume Cairan
Ekstraseluler (CES), dan dapat terjadi kehilangan melalui kulit, ginjal,
gastrointestinal, pendarahan sehingga menimbulkan syok hipovolemik.
Mekanisme kompensasi pada hipovolemik adalah peningkatan
rangsangan saraf simpatis (peningkatan frekuensi jantung, kontraksi
jantung, dan tekanan vaskuler), rassa haus, pelepasan hormone ADH
dan aldosteron. Hipovolemik yang berlangsung lama dapat
menimbulkan gagal ginjal akut.
Gejala: pusing, lemah, letih, anoreksia, mual, muntah, rasa haus,
gangguan mental, konstipasi dan oliguri, penurunan tekanan darah,
suhu meningkat, turgor kulit menurun, lidah kering dan kasar, mukosa
mulut kering. Tanda tanda penurunan brat badan akut, mata cekung
pengosongan vena jugularis. Pada bayi dan anak-anak adanya
penurunan jumlah air mata.
2) Hipervolemia adalah penambahan/kelebihan volume cairan CES dapat
terjadi pada saat:
(1) Stimulasi kronis ginjal untuk menahan natrium dan air
(2) Fungsi ginjal abnormal, dengan penurunan ekskresi natrium dan air
(3) Kelebihan pembarian cairan
(4) Perpindaha CIT ke plasma.
Gejala: sesak nafas, peningkatan dan penurunan tekana darah, nadi
kuat, asietes, edema, adanya ronchi, kulit lembab, distensi vena leher
dan irama gallop.
8. Ketidakseimbangan asam basa
1) Asidosis respiratorik: Disebabkan karena kegagalan system pernafasan
dalam membuang CO2 dari cairan tubuh. Kerusakan pernafasan,
peningkatan PCO2 arteri diatas 45 mmHg dengan penurunan pH < 7,35.
Penyebab : penyakit obstruksi, retraksi paru polimielitis, penurunan
aktivitas pusat pernafasan (trauma kepala, pendarahan, narkotik,
anestesi, dan lain-lain).
2) Alkalosis respiratorik: Disebabkan karena kehilangan CO2 dari paru-
paru pada kecepatan yang lebih tinggi dari produksinya dalam jaringan.
Hal ini menimbulkan PCO2 arteri <35 mmHg, pH >7,45. Penyebab :
hiperventilasi alveolar, anxietas, demam, meningitis, keracunan aspirin,
pneumonia dan emboli paru.
3) Asidosis metabolik: Terjadi akibat akumulasi abnormal fixed acid atau
kehilangan basa. pH arteri <7,35, HCO3 menurun diawah 22 mEq/lt.
Gejala: pernafasan kusmaul (dalam dan cepat), disorientasi dan koma.
4) Alkalosis metabolik: Disebabkan oleh kehilangan ion hidrigen atau
penambahan basa pada cairan tubuh. Bikarbonat plasma meningkat >26
mEq/ltd an pH arteri >7,45. Penyebab : mencerna sebagian besar basa
(missal: BaHCO3 antasid, soda kue) untuk mengatasi ulkus
peptikumatau rasa kembung. Gejala: apatis, lemah, gengguan mental,
kram dan pusing.
9. Kebutuhan Cairan Menurut Umur dan Berat Badan
No. Umur BB (Kg) CAIRAN (ML24 JAM)
1. 3 hari 3,0 kg 250-300 ml
2. 1 tahun 9,5 kg 1150-1300 ml
3. 2 tahun 11,8 kg 1350-1500 ml
4. 6 tahun 20 kg 1800-2000 ml
5. 10 tahun 28,7 kg 2000-2500 ml
6. 14 tahun 45 kg 2200-2700 ml
7. 18 tahun (Adult) 54 kg 2200-2700

D. Konsep Elektrolit
1. Pengertian Elektrolit
Elektrolit adalah substansi yang menyebabkan ion kation (+) dan anion (-).
Ada tiga cairan elektrolit yang paling esensial yaitu:
1) Natrium (sodium)
Merupakan kation paling banyak yang terdapa pada Cairan Ekstrasel
(CES). Na+ mempengaruhi keseimbangan air, hantaran implus saraf dan
kontraksi otot. Sodium diatur oleh intake garam aldosteron, dan
pengeluaran urine. Normalnya sekitar 135-148 mEq/lt.
2) Kalium (potassium)
Merupakan kation utama dalam CIS. Berfungsi sebagai excitability
neuromuskuler dan kontraksi otot. Diperlukan untuk pembentukan
glikkogen, sintesa protein, pengaturan keseibangan asam basa, karena ion
K+ dapat diubah menjadi ion H+ Nilai normalnya sekitar 3,5-5,5 mEq/lt.
3) Kalsium
Berguna untuk integritas kulit dan struktur sel, kondusi jantung, pembekuan
darah serta pembentukan tulang dan gigi. Kalsium dalam cairan ekstrasel
diatur oleh kelenjar paratiroid dan tiroid. Hormone paratiroid mengarbsobsi
kalsium melalui gastrointestinal, sekresi melalui ginjal. Hormon
thirocaltitonim menghambat penyerapan Ca +tulang.
4) Magnesium
Merupakan kation terbanyak kedua pada cairan intrasel. Sangat penting
untuk aktivitas enzim, neurocemia, dn muscular excibility. Nilai normalnya
1,5-2,5 mEq/lt.
5) Klorida
Terdapat pada CES dan CIS, normalnya 95-105 mEqlt. Bikarbinat HCO3
adalh buffer kimia utama dalam tubuh dan terdapat pada cairan CES dan
CIS. Bikarbonat diatur oleh ginjal.
6) Fosfat
Merupakan anion buffer dalam CIS dan CES. Berfungsi untuk
meningkatkan kegiatan neuromuskuler, metabolism karbohidrat, dan
pengaturan asam basa. Pengaturan oleh hormone paratiroid.
2. Gejala klinis kekurangan elektrolit :
1) Haus
2) Anoreksia
3) Perubahan tanda-tanda vital
4) Lemas atau pucat
5) Anak rewel
6) Kejang-kejang
7) Kulit dingin
8) Rasa malas
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
1) Usia: Variasi usia berkaitan dengan luas perkembangan tubuh,
metabolisme yang diperlukan dan berat badan.
2) Temperature lingkungan: Panas yang berlebihan menyebabkan
berkeringat. Seseorang dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak
15-30 g/hari.
3) Diet: Pada saat tubuh kekurangan niutrisi, tubuh akan memecah
cadangan energi, proses ini menimblkan pergerakan carian dari
interstitial ke intraseluler.
4) Stres: Stres dapat menimbulkan paningkatan metabolism sel, konsentrasi
darah dan glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi
sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan
menurunkan produksi urine.
5) Sakit: Keadaan pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjaldan
jantung, gangguan hormone akan mengganggu keseimbangan cairan.
DAFTAR PUSTAKA

Hanifa, Wikiysastro. 2013. Faal Tubuh. Yayasan Bina Pustaka Sarwono


Prawiroharjo: Jakarta.
Mahsjoer, arif, kk. 2013. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.
Moore, lisa. 2015. Keseimbangan Cairan Tubuh. www.e.medicine.com. Di akses
pada tanggal 03 desember 2016, pukul: 14. 15 WIB