Anda di halaman 1dari 10

A.

Syarat Tumbuh
Tanaman tebu merupakan tanaman hari pendek yang dapat tumbuh pada ketinggian 0-
1400 m dpl diantara 350 LS 390 LU dengan jumlah curah hujan 1500-3000 mm/th. Tanaman
tebu dapat dipanen saat umur 8-11 bulan di lahan kering dan 14-18 bulan di sawah. Tumbuh di
daerah dataran rendah yang kering. Iklim panas yang lembab dengan suhu antara 25C-28C.
Tanah tidak terlalu masam, pH diatas 6,4.
Ketinggian kurang dari 500 m dpl. Agar tanaman tebu mengandung kadar gula yang
tinggi, harus diperhatikan musim tanamnya. Pada waktu masih muda tanaman tebu
memerlukan banyak air dan ketika mulai tua memerlukan musim kemarau yang panjang.
Daerah penghasil tebu terutama di Jawa, Sumatera Selatan, Sumateran Barat, Lampung dan
Nusa Tenggara.
- Faktor Tanah
Tanah yang terbaik adalah tanah subur dan cukup air tetapi tidak tergenang. Jika
ditanam di tanah sawah dengan irigasi pengairan mudah di atur tetapi jika ditanam di
ladang/tanah kering yang tadah hujan penanaman harus dilakukan di musim hujan. Ketinggian
Tempat yang baik untuk pertumbuhan tebu adalah 5-500 m dpl.
Tanah merupakan faktor fisik yang terpenting bagi pertumbuhan tebu. Tanaman tebu
dapat tumbuh dalam berbagai jenis tanah, namun tanah yang baik untuk pertumbuhan tebu
adalah tanah yang dapat menjamin kecukupan air yang optimal.
Tanah yang baik untuk tebu adalah tanah dengan solum dalam (>60 cm), lempung, baik
yang berpasir dan lempung liat. Derajat keasaman (pH) tanah yang paling sesuai untuk
pertumbuhan tebu berkisar antara 5,5 7,0. Tanah dengan pH di bawah 5,5 kurang baik bagi
tanaman tebu karena dengan keadaan lingkungan tersebut sistem perakaran tidak dapat
menyerap air maupun unsur hara dengan baik, sedangkan tanah dengan pH tinggi (di atas 7,0)
sering mengalami kekurangan unsur P karena mengendap sebagai kapur fosfat, dan tanaman
tebu akan mengalami chlorosis daunnya karena unsur Fe yang diperlukan untuk
pembentukan daun tidak cukup tersedia. Tanaman tebu sangat tidak menghendaki tanah
dengan kandungan Cl tinggi.
- Faktor Iklim
Curah Hujan Tanaman tebu banyak membutuhkan air selama masa pertumbuhan
vegetatifnya, namun menghendaki keadaan kering menjelang berakhirnya masa petumbuhan
vegetatif agar proses pemasakan (pembentukan gula) dapat berlangsung dengan baik.
Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, maka secara ideal curah hujan
yang diperlukan adalah 200 mm per bulan selama 5 6 bulan berturutan, 2 bulan transisi
dengan curah hujan 125 mm per bulan, dan 4 5 bulan berturutan dengan curah hujan kurang
dari 75 mm tiap bulannya. Daerah dataran rendah dengan curah hujan tahunan 1.500 3.000
mm dengan penyebaran hujan yang sesuai dengan pertumbuhan dan kemasakan tebu
merupakan daerah yang sesuai untuk pengembangan tanaman tebu.
- Sinar Matahari
Radiasi sinar matahari sangat diperlukan oleh tanaman tebu untuk pertumbuhan dan
terutama untuk proses fotosintesis yang menghasilkan gula. Jumlah curah hujan dan
penyebarannya di suatu daerah akan menentukan besarnya intensitas radiasi sinar matahari.
Cuaca berawan pada siang maupun malam hari bisa menghambat pembentukan gula. Pada
siang hari, cuaca berawan menghambat proses fotosintesis, sedangkan pada malam hari
menyebabkan naiknya suhu yang bisa mengurangi akumulasi gula karena meningkatnya proses
pernafasan.
- Angin
Angin dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam adalah baik bagi pertumbuhan tebu
karena dapat menurunkan suhu dan kadar CO2 di sekitar tajuk tebu sehingga fotosintesis tetap
berlangsung dengan baik. Kecepatan angin yang lebih dari 10 km/jam disertai hujan lebat, bisa
menyebabkan robohnya tanaman tebu yang sudah tinggi.
- Suhu
Suhu sangat menentukan kecepatan pertumbuhan tanaman tebu, sebab suhu terutama
mempengaruhi pertumbuhan menebal dan memanjang tanaman ini. Suhu siang hari yang
hangat atau panas dan suhu malam hari yang rendah diperlukan untuk proses penimbunan
sukrosa pada batang tebu. Suhu optimal untuk pertumbuhan tebu berkisar antara 24 30 oC,
beda suhu musiman tidak lebih dari 6o, dan beda suhu siang dan malam hari tidak lebih dari
10o.
- Kelembaban
Kelembaban udara tidak banyak berpengaruh pada pertumbuhan tebu asalkan kadar air
cukup tersedia di dalam tanah, optimumnya < 80%.

B. Persiapan Lahan dan Pengolahan Tanah


Pada umumnya budidaya tebu lahan sawah pelaksanaannya sebagian besar secara
manual. Untuk budidaya tebu lahan sawah diperlukan saluran untuk mengatur muka air tanah.
Membuka lahan diawali dengan membuat saluran membujur dan saluran melintang. Luasan
satu hektar dibagi menjadi 10 petak yang dibatasi oleh got malang dan got membujur. Setelah
itu dibuat lubang tanaman (juringan) secara manual dengan ukuran panjang 10 m dan lebar
pusat ke pusat (pkp) 1,10 m dengan kedalaman 40 cm, sehingga dalam 1 hektar dapat diperoleh
1400 lubang tanam. Budidaya tebu pada lahan kering biasanya dilakukan secara mekanisasi
dan pengairannya sangat tergantung pada curah hujan.
Pengolahan lahan diawali dengan pembajakan I yang bertujuan untuk membalik tanah
dan memotong sisa-sisa vegetasi awal yang masih tertinggal. Setelah 3 minggu dilakukan
pembajakan tahap II dengan arah tegak lurus hasil pembajakan I.
Setelah itu lahan dilakukan penggaruan yang bertujuan untuk menghancurkan
bongkahan-bongkahan tanah hasil pembajakan dan meratakan permukaan tanah. Sisa-sisa
vegetasi awal yang muncul saat pengolahan lahan diambil secara manual. Kemudian dibuat
alur tanam untuk memudahkan saat penanaman.
C. Persemaian
Bibit tebu yang digunakan dapat berupa bibit bagal (bibit mentahan) atau bibit
rayungan. Bibit bagal dapat diperoleh dari tanaman tebu yang berumur 0-7 bulan yang dipotong
yang kemudian dibengkokkan tanpa mengklentekkan daun pembungkusnya agar mata-mata
tunas tidak rusak. Sedangkan untuk memperoleh bibit rayungan yaitu dengan memangkas
batang tanaman tebu yang sebelumnya daunnya diklentek.
Hal ini bertujuan agar pertumbuhan mata tunas tidak terhambat. Bibit rayungan
membutuhkan banyak air sehingga pertumbuhannya lebih cepat jika dibandingkan dengan bibit
bagal. Tetapi bibit rayungan mempunyai kelemahan yaitu tunas akan mudah rusak dan daya
simpannya tidak lama. Selain bibit bagal atau rayungan ada pula bibit dederan/ceblok yaitu
bibit yang ditanam dahulu sebelu diceblokkan.
- Biasanya bibit ini digunakan untuk persediaan sulaman. Varietas untuk lahan kering
harus memiliki sifat-sifat tertentu, antara lain:
Mempunyai daya tahan kekeringan
Mudah berkecambah, cepat beranak dan bertunas banyak.
Mempunyai daya tahan kepras yang baik.
Rendemen tinggi Mudah diklentek
Tahan roboh varietas-varietas unggul untuk tebu lahan kering atau tegalan
berdasarkan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh P3GI (1990) diantaranya,
adalah (PS 77-1381, PS 77-1553, PS 78-561, PS 79-1497, PS 80-1070).

D. Penanaman
Umumnya tebu ditanam pada pola monokultur pada bulan Juni-Agustus (di tanah
berpengairan) atau pada akhir musim hujan (di tanah tegalan/sawah tadah hujan). Terdapat dua
cara bertanam tebu yaitu dalam aluran dan pada lubang tanam. Pada cara pertama bibit
diletakkan sepanjang aluran, ditutup tanah setebal 2-3 cm dan disiram. Cara ini banyak
dilakukan dikebun Reynoso.
Cara kedua bibit diletakan melintang sepanjang solokan penanaman dengan jarak 30-
40 cm. Pada kedua cara di atas bibit tebu diletakkan dengan cara direbahkan. Bibit yang
diperlukan dalam 1 ha adalah 20.000 bibit. Bibit yang digunakan di lahan sawah dapat berupa
bibit bagal atau bibit rayungan.
Umumnya digunkaan bibit dengan 2 mata untuk menjaga kepastian tumbuh. Dalam
satu meter juringan ditanam 5 6 stek bibit. Waktu tanam yang ideal untuk tebu sawah adalah
bulan Mei Juni, sehingga pada saat panen bulan Juli September tanaman sudah cukup
masak dan memiliki bobot tebu yang tinggi. Penanaman bibit diusahakan agar mata bibit
menghadap ke samping. Apabila mata bibit menghadap keatas maka tunas akan muncul lebih
dulu pada permukaan tanah daripada mata bibit yang menghadap kebawah. Keadaan tersebut
disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan oleh tunas untuk mencapai permukaan tanah menjadi
dua kali lebih lama, secara perhitungan jaraknya lebih jauh untuk mencapai permukaan tanah
sehingga mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam dan pertumbuhan tunas terganggu.
Pada prinsipnya persiapan bibit yang ditanam di areal lahan kering sama dengan yang
ditanam di sawah. Namun karena kondisi yang terlalu kering dipakai bibit bagal mata empat.
Waktu tanam tebu di lahan kering terdiri dari dua periode, yaitu:
Periode I yaitu menjelang musim kemarau (Mei Agustus) pada daerah daerah basah
dengan 7 bulan basah dan daerah sedang yaitu 5 6 bulan basah, atau pada daerah yang
memiliki tanah lembab. Namun dapat juga diberikan tambahan air untuk periode ini.
Periode II yaitu menjelang musim hujan (Oktober November) pada daerah sedang
dan kering yaitu 3 4 bulan basah. Bibit yang akan ditanam adalah bibit dengan 11 mata
tumbuh per meter juringan. Selain itu juga, untuk menghindari penyulaman yang
membutuhkan biaya besar. Bibit ditanam dengan posisi mata disamping dan disusun secara
end to end (nguntu walang).
Cara penanaman ini bervariasi menurut kondisi lahan dan ketersediaan bibit, pada
umumnya kebutuhan air pada lahan kering tergantung pada turunnya hujan sehingga
kemungkinan tunas mati akan besar. Oleh karena itu, dengan over lapping atau double row,
tunas yang hidup disebelahnya diharapkan dapat menggantikannya. Cara penanaman tebu bisa
dilakukan dengan cara sebagai berikut: bibit yang telah diangkut menggunakan keranjang
diecer pada guludan agar mudah dalam mengambilnya, kemudian bibit ditanam merata pada
juringan/kairan dan ditutup dengan tanah setebal bibit itu sendiri, untuk tanaman pertama pada
lahan kering biasanya cenderung anakannya sedikit berkurang dibandingkan tanah sawah
(reynoso), sehingga jumlah bibit tiap juringan diusahakan lebih bila dibandingkan dengan
lahan sawah ( 80 ku), dan bila pada saat tanam curah terlalu tinggi, diusahakan tanam dengan
cara glatimongup (bibit sedikit terlihat).
E. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman tebu meliputi penyulaman, penyiangan, pengairan atau
penyiraman, pemupukan, klentek, pembumunan, dan perlindungan terhadap hama dan
penyakit. Penyulaman merupakan kegiatan mengganti tanaman yang mati atau tumbuh secara
tidak normal. Pada penyulaman tanaman tebu dilakukan saat 5-7 hari setelah tanam. Dalam
kegiatan penyulaman diikuti dengan penyiraman agar tidak mati.
Penyiraman/pengairan pada waktu tanam tidak boleh berlebihan dan tidak boleh kering
(tidak disiram) selain itu penyiraman juga tidak boleh terlambat. Untuk tebu lahan kering, air
tergantung dari hujan. Sedangkan tebu lahan sawah dari irigasi. Penyiangan pada tanaman tebu
dilakukan saat tanaman berumur 2-6 minggu.
Hal ini karena umur 2-6 minggu merupakan fase kritis untuk pertumbuhan tanaman
tebu sehingga perlu dipelihara sehingga tidak ada faktor-faktor yang menganggu pertumbuhan
tanaman tebu. Pada tebu juga dilakukan pembumbunan.
Sebelum pembubunan tanah harus disirami sampai jenuh agar struktur tanah tidak
rusak.
1) Pembumbunan pertama dilakukan pada waktu umur 3-4 minggu. Tebal
bumbunan tidak boleh lebih dari 5-8 cm secara merata. Ruas bibit harus
tertimbun tanah agar tidak cepat mengering.
2) Pembumbun ke dua dilakukan pada waktu umur 2 bulan.
3) Pembumbuna ke tiga dilakukan pada waktu umur 3 bulan.
4) Perempalan Daun-daun kering harus dilepaskan sehingga ruas-ruas tebu bersih
dari daun tebu kering dan menghindari kebakaran.
Bersamaan dengan pelepasan daun kering, anakan tebu yang tidak tumbuh baik
dibuang. Perempalan pertama dilakukan pada saat 4 bulan setelah tanam dan yang kedua ketika
tebu berumur 6-7 bulan. Pada tebu tidak dilakukan pemangkasan tapi dilakukan klentek yaitu
melepaskan daun kering. Klentek dilakukan pada umur 6-7 bulan agar sinar matahari dapat
masuk ke sela-sela rumpun sehingga mempercepat pengolahan glukosa-sakarosa di dalam
batang tebu. Ini berarti harapan meningkatnya rendemen tebu atau produksi kristal.
Pemupukan pada tanaman tebu dapat dilakukan sebelum tanam maupun setelah tanam.
Pemupukan yang diberikan sebelum tanam yaitu pupuk kandang dan pupuk TSP. Lalu
dilakukan pemupukan 25 hari setelah tanam yaitu setelah penyulaman pertama dengan
menggunakan pupuk ZA. Pemupukan ZA kedua dilakukan saat tanaman berumur 1,5 bulan
dan setelah selesai penyulaman kedua. Pemupukan harus dibarengi dengan penyiraman agar
pupuk dapat larut kedalam tanah dan tidak hilang oleh aliran air permukaan.
Sebelum pemupukan dibuat lubang diantara tanaman lalu pupuk dimasukkan dalam
lubang kemudian lubang ditutup. Pemupukan yang demikian itu biasa disebut dengan Spot
Placement. Kebutuhan pupuk per hektar untuk tebang I 0,5-1 kw/ha dan untuk tebang II 1,5-2
kw/ha.
Perlindungan terhadap hama dan penyakit Hama Hama Penggerek batang bergaris
(Proceras cacchariphagus), penggerek batang berkilat (Chilitrae auricilia), penggerek batang
abu-abu (Eucosma schismacaena), penggerek batang kuning (Chilotraea infuscatella),
penggerek batang jambon (Sesmia inferens).

Gejala
- Daun yang terbuka mengalami khlorosis pada bagian pangkalnya
- Pada serangan hebat, bentuk daun berubah, terdapat titik-titik atau garis-garis
berwarna merah di pangkal daun; sebagian daun tidak dapat tumbuh lagi
- Kadang-kadang batang menjadi busuk dan berbau tidak enak.

Pengendalian dengan suntikan insektisida Furadan 3G (0,5 kg/ha) pada waktu tanaman
berumur 3-5 bulan. Suntikan dilakukan jika terdapat 400 tanaman terserang dalam 1 hektar.
Tikus Pengendalian: dengan gropyokan secara bersama atau pengemposan belerang pada
lubang yang dihuni tikus.
Penyakit :
a) Pokkahbung Penyebab: Gibbrela moniliformis. Bagian yang diserang adalah daun,
pada stadium lanjut dapat menyerang batang. Gejala: terdapat noda merah pada bintik khlorosis
di helai daun, lubang-lubang yang tersebar di daun, sehingga daun dapat robek, daun tidak
membuka (cacat bentuk), garis-garis merah tua di batang, ruas membengkak. Pengendalian:
memakai bibit resisten, insektisida Bulur Bordeaux 1% dan pengembusan tepung kapur
tembaga.
b) Dongkelan Penyebab: jamur Marasnius sach-hari Bagian yang diserang adalah
jaringan tanaman sebelah dalam dan bibit di dederan/persemaian. Gejala: tanaman tua dalam
rumpun mati tiba-tiba, daun tua mengering, kemudian daun muda, warna daun menjadi hijau
kekuningan dan terdapat lapisan jamur seperti kertas di sekeliling batang. Pengendalian: tanah
dijaga agar tetap kering.
c) Noda kuning Penyebab: jamur Cercospora kopkei . Bagian yang diserang daun dan
bagian-bagaian dengan kelembaban tinggi. Gejala: noda kuning pucat pada daun muda yang
berubah menjadi kuning terang. Timbul noda berwarna merah darah tidak teratur; bagian
bawah tertutup lapisan puiih kotor. Helai daun mati berwarna agak kehitaman. Pengendalian:
adalah dengan memangkas dan membakar daun yang terserang. Kemudian menyemprot
dengan tepung belerang ditambah kalium permanganat.
d) Penyakit nanas Penyebab: adalah jamur Ceratocytis paradoxa. Bagian yang diserang
adalah bibit yang telah dipotong. Gejala: warna merah bercampur hitam pada tempat potongan,
bau seperti buah nanas. Pengendalian: luka potongan diberi ter atau desinfeksi dengan 0,25%
fenylraksa asetat.
e) Noda cincin Bagian yang diserang daun, lebih banyak di daerah lembab daripada
daerah kering. Penyebab: jamur Heptosphaeria sacchari, Helmintosporium sachhari,
Phyllsticta saghina. Gejala: noda hijau tua di bawah helai daun, bagian tengah noda menjadi
coklat; pada serangan lanjut, warna coklat menjadi jernih, daun kering. Pengendalian:
mencabut tanaman sakit dan membakarnya.
f) Busuk bibit Bagian yang diserang adalah bibit dengan gejala tanaman kekuningan
dan layu. Penyebab: bakteri. Gejala: bibit yang baru ditanam busuk dan buku berwarna abu-
abu sampai hitam. Pengendalian: menanam bibit sehat, perbaikan sistim pembuangan air yang
baik, serta tanah dijaga tetap kering.
g) Blendok Bagian yang diserang adalah daun tanaman muda berumur 1,5-2 bulan pada
musim kemarau.Penyebab: Xanthomonas albilicans. Gejala: terdapat pada khlorosis pada
daun; pada serangan hebat seluruh daun bergaris hijau dan putih; titik tumbah dan tunas
berwarna merah. Pengendalian: Menanam bibit resisten (2878 POY, 3016 POY), Lakukan
desinfeksi para pemotong bibit, merendam bibit dalam air panas 52,5oC dan lonjoran bibit
dijemur 1-2 hari. h) Virus mozaik Penyebab: Virus. Pengendalian: menjauhkan tanaman inang,
bibit yang sakit dicabut dan dibakar.
F. Panen
Cara Panen
1) Mencangkul tanah di sekitar rumpun tebu sedalam 20 cm.
2) Pangkal tebu dipotong dengan arit jika tanaman akan ditumbuhkan kembali. Batang
dipotong dengan menyisakan 3 buku dari pangkal batang.
3) Mencabut batang tebu sampai ke akarnya jika kebun akan dibongkar.Potong akar
batang dan 3 buku dari permukaan pangkal batang.
4) Pucuk dibuang.
5) Batang tebu diikat menjadi satu (30-50 batang/ikatan) untuk dibawa ke pabrik untuk
segera digiling Panen dilakukan satu kali di akhir musim tanam.

DAFTAR PUSTAKA

Prihandana, R. 2005. Dari Pabrik Gula Menuju Industri Berbasis Tebu.


Proklamasi Publishing House, Jakarta.

Sastrodihardjo, S. R. 1963. Gula dan Tebu Rakjat. Djawatan Pertanian,


Djakarta.

Sutardjo, Edhi. 2005. Budidaya Tanaman Tebu. Bumi Aksara. Jakarta.

Srinuryanti. 2005. Usaha tebu lahan sawah dan tegalan di Yogyakarta dan Jawa
Tengah. Agroekonomika

Bud Chips Teknik bud chips merupakan teknik pembibitan tebu berupa mata tunas yang
diambil dari bibit tebu (Budiarto, 2013). Bud chips adalah teknologi percepatan pembibitan
tebu dengan satu mata tunas yang diperoleh dengan menggunakan alat mesin bor berupa chisel
mortisier (alat pemotong batang tebu). Pusat Penelitian Gula PTPN X telah mengadopsi
teknologi pembibitan tebu ini dari columbia. Dengan menggunakan bud chips diharapkan akan
tumbuh banyak anakan dengan pertumbuhan yang seragam (P3G1 Kediri, 2014). Keunggulan
bibit tebu bud chips adalah setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-
20 anakan. Anakan tersebut akan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun
sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Bibit bud chips juga
memiliki keunggulan Universitas Sumatera Utara dalam pembentukan anakan serempak pada
umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat
kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas
tanam (Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat, 2013). Bibit bud chips dapat berasal dari
batang tebu bagian atas, tengah dan bawah. Bibit bud chips yang berasal dari bagian atas
memiliki daya kecambah lebih tinggi dibandingkan dari batang tebu bagian tengah dan bawah
sehingga bud chips yang berasal dari batang tebu bagian atas akan lebih cepat bertunas. Alat
yang digunakan untuk mengebor bibit adalah mesin bor duduk yang merupakan rancangan dari
Puslit PTPN X. Alat ini memang belum standar tetapi sudah bisa digunakan untuk mengebor
bibit tebu dengan mata tunas satu atau biasa disebut dengan bud chips. Tebu yang digunakan
sebagai benih bud chips biasanya berasal dari hasil kultur jaringan, yang berumur 6 8 bulan.
Bibit yang diambil berupa satu mata tunas dengan posisi mata terletak ditengah tengah dari
panjang stek dan cincin ruas tidak semuanya ikut. Sehingga ruang untuk keluar akar semakin
sedikit, tetapi ketika tanaman dipindah di lapangan akar akan tumbuh dengan subur dan
serentak (BBPPTP, 2014).

2.2 Perbanyakan Tanaman Tebu Penyediaan bibit unggul merupakan salah satu faktor
pendukung keberhasilan pengembangan tanaman tebu. Perbanyakan tanaman secara
konvensional masih dibatasi oleh kemampuan tanaman untuk menghasilkan bibit baru dalam
jumlah banyak, seragam dan dalam waktu singkat. Sampai saat ini tebu banyak diproduksi
dengan dua cara, yaitu dengan menggunakan biji dan stek. Usaha perbanyakan tanaman tebu
menggunakan stek atau biji memiliki kendala, yaitu pada penggunaan biji untuk perbanyakan
tanaman dalam jumlah banyak akan mengurangi jumlah biji sedangkan teknik perbanyakan
melalui stek menghasilkan tanaman dengan jumlah terbatas, dan membutuhkan pohon induk
yang banyak (Rasullah et al., 2013). Pengadaan bibit pada tanaman tebu khususnya yang akan
dieksploitasi secara besar-besaran dalam waktu yang cepat akan sulit dicapai melalui teknik
konvensional. Salah satu teknologi yang banyak dilaporkan dan telah terbukti memberikan
keberhasilan adalah melalui teknik kultur jaringan. Melalui kultur jaringan tanaman tebu dapat
diperbanyak dengan cepat setiap waktu sesuai kebutuhan. Varietas baru yang telah dihasilkan
para pemulia dapat segera dikembangkan melalui kultur jaringan sehingga dapat digunakan
oleh para petani, dan pengguna lainnya. Perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan
khususnya tanaman tebu telah banyak diterapkan di negara lainnya seperti Australia.
Keberhasilan perbanyakan tebu secara cepat, masal, seragam dan tidak mengubah sifat dari
pohon induknya sangat tergantung pada penguasaan protokol 14 perbanyakan terutama
masalah regenerasi yang sangat menentukan kecepatan pengadaan bibit per satuan waktu, per
satuan luas (Mariska dan Rahayu, 2011).

Beri Nilai