Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN TAHUNAN

PROGRAM P2 ISPA UPTD PUSKESMAS PURABAYA


TAHUN 2015

Disusun Oleh :
Pemegang Program ISPA UPTD Puskesmas Purabaya

DINAS KESEHATAN KABUPATEN SUKABUMI


UPTD PUSKESMAS PURABAYA
KECAMATAN PURABAYA
KABUPATEN SUKABUMI
TAHUN 2015
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Bismillahirrohmaanirrohiim
Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan manusia dengan fitrah
yang baik yang akan menjadi tenang dan tentram apabila senantiasa mengingat
Allah SWT dan selalu lapang apabila mengerjakan amal saleh, berkat Rahmat dan
Karunia-Nya penyusun dapat menyelesaikan Laporan Tahunan dan Rencana
Tahunan Program P2 Ispa di UPTD Puskesmas Purabaya Kabupaten Sukabumi Tahun
2014.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjunan kita Nabi
Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya dan pengikut setianya sampai kiamat
nanti.
Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan Laporan Tahunan ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu penyusun senantiasa menerima dengan tangan
terbuka saran dan kritik yang bersifat membangun untuk kesempurnaan
pembuatan Laporan Tahunan Ini.
Akhir kata penyusun ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam membuat Laporan Tahunan ini. Semoga amal soleh dan
kebaikannya dibalas oleh Allah SWT.

Purabaya, Januari 2016

Penyusun

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB I Pendahuluan ..................................................................................... 1


A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Tujuan ............................................................................................. 3
1. Tujuan Umum ........................................................................... 3
2. Tujuan Khusus .......................................................................... 3
BAB II Gambaran Umum ........................................................................... 4
A. Gambaran Umum Kecamatan Purabaya ........................................ 4
B. Gambaran Umum Puskesmas Purabaya ........................................ 6
BAB III Hasil Kegiatan Program ISPA .......................................................... 8
A. Pengertian ISPA ............................................................................... 8
B. Upaya Kegiatan Program ISPA ........................................................ 9
1) Pencegahan ISPA ....................................................................... 9
2) Pengobatan ISPA......................................................................... 10
3) Penyuluhan,Pelacakan Kasus Pneumonia, Kunjungan
Rumah dan Pemantauan Kasus Pneumonia .................................. 11
C. Tabel Kasus Kematian Bayi akibat Pneumonia ............................... 11
D. Grafik Pencapaian Program ISPA .................................................... 12
E. Tabel Penemuan Kasus Pneumonia Balita Menurut Puskesmas
Dan Desa ......................................................................................... 16
F. Tabel klasifikasi ISPA berdaarkan Umur.......................................... 17
BAB IV Rencana Kegiatan yang Akan Dilakasanakan ................................. 19

BAB V Penutup ........................................................................................... 20


A. Kesimpulan ..................................................................................... 20
B. Saran ............................................................................................... 20

Lampiran Lampiran .................................................................................. 22

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| ii


Laporan Tahunan Program Ispa 2015| iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Latar Belakang Pembangunan dibidang kesehatan sebagai bagian dari
pembangunan nasional yang ditata dalam Sistem Kesehatan Nasional diarahkan
untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal dan produktif sebagai
perwujudan dari kesejahteraan umum seperti yang dimaksud dalam
pembukaan undang-undang dasar 1945 dan undang-undang nomor 36 tahun
2009 tentang kesehatan. Untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal bagi
setiap penduduk, pelayanan kesehatan harus dilaksanakan secara menyeluruh
dan terpadu dalam pelayanan kesehatan perorangan, pelayanan kesehatan
keluaraga maupun pelayanan kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2006). Usaha
peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah mudah seperti
membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah kompleks,
dimana penyakit yang terbanyak diderita oleh masyarakat terutama pada yang
paling rawan yaitu ibu dan anak, ibu hamil dan ibu meneteki serta anak bawah
lima tahun (Rasmaliah, 2008: ). Sebagai upaya mewujudkan Visi Indonesia
Sehat 2010, pemerintah telah menyusun berbagai program pembangunan
dalam bidang kesehatan antara lain kegiatan Pemberantasan Penyakit Menular
(P2M) baik yang bersifat promotif preventif, kuratif dan rehabilatif di semua
aspek lingkungan kegiatan pelayanan kesehatan (WHO, 2003). Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian yang paling
banyak terjadi pada anak di negara sedang berkembang. Infeksi Saluran
Pernapasan Akut ini menyebabkan 4 dari 15 juta perkiraan kematian pada anak
berusia di bawah 5 tahun pada setiap tahunnya sebanyak dua pertiga kematian
tersebut adalah bayi (WHO, 2003). Penyakit saluran pernapasan pada masa
bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa.
dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya Chronic obstructive
pulmonary disease (WHO, 2003). Infeksi saluran Pernapasan Atas (ISPA) dapat
menyebabkan demam, batuk, pilek dan sakit tenggorokan (Bidulh, 2002). Salah
satu penyakit yang diderita oleh masyarakat terutama adalah ISPA (Infeksi
Saluran Pernapasan Akut) yaitu meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 1


atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah. ISPA adalah suatu
penyakit yang terbanyak diderita oleh anak- anak, baik dinegara berkembang
maupun dinegara maju (WHO, 2003 ).
Di Indonesia terjadi lima kasus diantara 1000 bayi atau Balita, ISPA
mengakibatkan 150.000 bayi atau Balita meninggal tiap tahun atau 12.500
korban perbulan atau 416 kasus perhari, atau 17 anak perjam atau seorang bayi
tiap lima menit (Siswono, 2007). Faktor-faktor yang bisa menjadi penyebab
penyakit ISPA yaitu antara lain: Umur, Jenis Kelamin, Keadaan Gizi, Kekebalan,
Lingkungan, Imunisasi Yang Tidak Lengkap dan Pemberian Asi Ekslusif yang
tidak sesuai (Depkes, 2002). Kurangnya pengetahuan ibu tentang Imunisasi
pertusis menyebapkan banyaknya balita terkena ISPA, Imunisasi pertusis yakni
imunisasi yang diberikan agar balita tidak rentan terkena Infeksi Saluran
Pernapasan. Diperkirakan kasus pertusis sejumlah 51 juta dengan kematian
lebih dari 600.000 orang, namun hanya 1,1 juta penderita dilaporkan dari 163
negara dalam tahun 1983. Hampir 80 % anak- anak yang tidak di imunisasi
menderita sakit pertusis sebelum umur 5 tahun. Kematian karena pertusis, 50
% terjadi pada bayi (umur < 1 tahun). Anak berumur di bawah 2 tahun
mempunyai risiko terserang Infeksi Saluran Pernafasan Akut lebih besar dari
pada anak di atas 2 tahun sampai 5 tahun, keadaan ini karena pada anak di
bawah umur 2 tahun imunitasnya belum sempurna dan lumen saluran nafasnya
relatif sempit (Daulay, 2008).
Program P2 Ispa bertujuan untuk menurukan angka kesakitan dan
kematian yang disebabkan oleh penyakit pneumonia.Strategi dalam
penanggulangan pneumonia adalah penemuan dini dan tatalaksana anak batuk
dan atau kesukaran bernafas yang tepat.
Sejak 1990 Departemen Kesehatan telah mengadaptasi, menggunakan
dan menyebarluaskan pedoman tatalaksana pneumonia balita yang bertujuan
untuk menurunkan angka kematian balita karena pneumonia. Saat ini
pelaksanaan program P2 Ispa dalam upaya penanggulangan pneumonia akan
lebih ditingkatkan sehingga cakupan penemuan dini dan tatalaksana
pneumonia balita akan lebih dapat berhasil mencapai sasarannya.

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 2


Puskesmas merupakan pusat pengembangan pembinaan dan
pelayanan kesehatan masyarakat dan merupakan pos terdepan dalam
pembangunan kesehatan masyarakat.
Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh
Puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan
nasional, yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk
hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya agar
terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Untuk melihat sejauh mana upaya yang dilaksanakan Puskesmas dalam
memberikan pelayanan kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya dan tingkat
keberhasilan program-program kegiatan puskesmas, maka diperlukan evaluasi
atas kegiatan setiap bulan.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengevaluasi sejauh mana program P2 Ispa yang dilaksanakan
di Puskesmas Purabaya dapat berjalan sesuai target yang telah ditetapkan
dan mengetahui perencanaan program P2 Ispa pada tahun 2016.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengevaluasi angka kematian pneumonia balita di UPTD
Puskesmas Purabaya
b. Untuk mengevaluasi angka kesakitan pneumonia balita di UPTD
Puskesmas Purabaya
c. Untuk mengetahui faktor penghambat dan penunjang dari program Ispa
di UPTD Puskesmas Purabaya
d. Untuk mengetahui permasalahan yang ada di UPTD Puskesmas
Purabaya tahun 2015 untuk perbaikan di tahun berikutnya
e. Mengetahui sasaran desa yang sudah mencapai target
f. Mengetahui rencana kegiatan program Ispa di UPTD Puskesmas
Purabaya pada tahun 2016
g. Untuk melaksanakan pertanggung jawaban di bidang administrasi dalam
bentuk pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 3


BAB II
GAMBARAN UMUM

A. Gambaran Umum Kecamatan Purabaya

1. Geografis

Peta Wilayah Kerja


UPTD Puskesmas Purabaya Kecamatan Purabaya

Keterangan :
Jalan Propinsi
Jalan Kabupaten
Jalan Desa

Luas Wilayah 10.500 Ha yang terdiri dari 7 Desa yaitu :


1. Desa Purabaya : 1.376 Ha
2. Desa Cimerang : 1.308 Ha
3. Desa Citamiang : 1.001 Ha
4. Desa Margaluyu : 1.291 Ha
5. Desa Cicukang : 1.775 Ha
6. Desa Pagelaran : 1.017 Ha
7. Desa Neglasari : 2.732 Ha

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 4


Batas wilayah kerja Puskesmas Purabaya Kecamatan Purabaya Kabupaten
Sukabumi Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Purabaya
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Sagaranten dan Kecamatan
Curugkembar
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Cianjur
Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Jampangtengah dan
Kecamatan Lengkong

Distribusi tanah menurut luas sawah dan darat :


1. Sawah : 1.357,81 Ha
2. Darat : 9.137,97 Ha
3. Tanah Kehutanan : 1.699 Ha
4. Perkebunan : 2.813,29 Ha
5. Tanah Milik : 5.494,68 Ha
6. Lain-lain : 165,23 Ha

Jarak dari Kota Sukabumi 36 km, jarak dengan Ibu Kota Kabupaten
Sukabumi yang berlokasi di Pelabuhan Ratu 90 km. kondisi jalan dari
Puskesmas ke desa bervariasi, ada yang sudah di aspal, ada yang sudah di
aspal tapi saat ini kondisinya rusak berat, disamping itu ada yang baru taraf
pengerasan (belum di aspal). Kendati demikian secara umum jalan menuju ke
pusat pemerintahan desa (balai desa) dapat ditempuh dengan kendaraan
roda dua atau empat. Rata-rata waktu tempuh dari Puskesmas ke ibu kota
desa berkisar 5-80 menit dengan kondisi keterjangkauan rata-rata terjangkau
walau dengan kondisi jalan yang sulit seperti yang telah diuraikan diatas.
Kondisi tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
cakupan program puskesmas dan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan yang tersedia baik puskesmas induk, puskesmas pembantu,
maupun posyandu.

Jarak terjauh ke fasilitas pelayanan kesehatan Kecamatan adalah Desa


Cicukang sejauh 10 Km dengan waktu kurang lebih 75 menit dengan kondisi
keterjangkauan desa sukar transportasi.

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 5


Tabel 01
Kategori Desa Di Puskesmas Purabaya Tahun 2015

Jarak Terjauh Ke Kondisi


Jumlah Rata-Rata Waktu
No Desa Kategori Fasilitas Kesehatan Keterjangkauan
RT/RW Tempuh Ke PKM
(PKM) Desa

1 Purabaya Swasembada 39/10 0,5 Km 10 menit Mudah

2 Cimerang Swasembada 35/8 5 Km 30 menit Mudah

3 Citamiang Swasembada 31/6 7 Km 45 menit Sukar

4 Margaluyu Swasembada 17/4 8 Km 60 menit Sukar

5 Cicukang Swasembada 30/7 10 Km 75 menit Sukar

6 Pagelaran Swasembada 22/4 4 Km 30 menit Mudah

7 Neglasari Swasembada 48/7 4 Km 30 menit Sukar

2. Topografi
Puskesmas Purabaya berada di Kecamatan Purabaya Kabupaten
Sukabumi. Kecamatan Purabaya berada di sebelah timur Kabupaten Sukabumi
atau selatan dari Kota Sukabumi, sebagian besar wilayahnya merupakan
perbukitan dan pegunungan, wilayahnya relatif bergelombang yang terdiri
dari perbukitan dan lembah yang cukup terjal dan curam dengan ketinggian
925 di atas permukaan laut. Wilayahnya rawan longsor. Suhu berkisar antara
18-26o C dengan curah hujan dan kelembaban udara yang cukup tinggi serta
sering berkabut.

B. Gambaran Umum Puskesmas Purabaya


Terletak 40 Km dari Kabupaten Sukabumi, tepatnya Jalan Raya Sagaranten
Km 39 Sukabumi Telp. ( 0266 ) 340085, letak puskesmas di Desa Purabaya ,
mudah terjangkau dari 7 desa yang ada karena terletak berada di tengah
tengah wilayah Kecamatan Purabaya
Luas Tanah 1200 m2 dan Luas Bangunan 200 m2
Puskesmas Pembantu 4 buah :
Pukesmas pembantu Cimerang
Puskesmas pembantu Citamiang
Puskesmas pembantu margaluyu
Puskesmas pembantu Cicukang
Kendaraan Operasional

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 6


1 buah Pusling
7 buah sepeda motor
Jumlah Karyawan 44 Orang
1 Magister Kesehatan Masyarakat
1 Dokter umum
1 Dokter gigi
2 Sarjana Kesehatan Masyarakat
2 Sarjana Keperawatan
1 Sarjana Ilmu Pemerintahan
18 D III Kebidanan
9 D III Keperawatan
1 D III Kesehatan Gigi
1 Kesehatan Lingkungan
1 Sarjana Farmasi
2 D III Management
2 Petugas Kebersihan
1 Petugas Keamanan
1 Petugas Obat
Keterangan : 8 PNS, 5 PTT, 9 PHL, 12 BHL Pemda, 4 BHL PNPM,10 TKS

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 7


BAB III
HASIL KEGIATAN PROGRAM ISPA
A. Pengertian ISPA
Menurut Depkes (2004) infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan
istilah yang diadaptasi dari istilah bahasa inggris Acute Respiratory Infections (ARI).
Istilah ISPA meliputi tiga unsur penting yaitu infeksi, saluran pernafasan, dan akut.
Dengan pengertian sebagai berikut: Infeksi adalah masuknya kuman atau
mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga
menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan adalah organ mulai dari hidung
hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah
dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai 14 hari.
Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk
beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat berlangsung
lebih dari 14 hari.

Berdasarkan pengertian diatas, maka ISPA adalah infeksi saluran pernafasan


yang berlangsung selama 14 hari. Saluran nafas yang dimaksud adalah organ mulai
dari hidung sampai alveoli paru beserta organ adneksanya seperti sinus, ruang
telinga tengah, dan pleura (Habeahan, 2009).
Menurut Depkes RI (1996) istilah ISPA mengandung tiga unsur, yaitu infeksi,
saluran pernafasan dan akut. Pengertian atau batasan masing-masing unsur adalah
sebagai berikut:
1. Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

2. Saluran pernapasan adalah organ yang mulai dari hidung hingga alveoli
beserta organ adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.
Dengan demikian ISPA secara otomatis mencakup saluran pernafasan bagian atas,
saluran pernafasan bagian bawah (termasuk jaringan paru-paru) dan organ adneksa
saluran pernafasan. Dengan batasan ini maka jaringan paru-paru termasuk dalam
saluran pernafasan (respiratory tract)

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 8


B. Upaya Kegiatan Program ISPA
1) Pencegahan ISPA
Pencegahan ISPA yang dilakukan adalah upaya yang dimaksudkan agar
seseorang terutama anak-anak dapat terhindar baik itu infeksinya, maupun
melawan dengan sistem kekebalan tubuh, karena vektor penyakit ISPA
telah sangat meluas di dunia, sehingga perlu kewaspadaan diri untuk
menghadapi serangan infeksi, bukan hanya dalam hal pengobatan ISPA.

Sebagaimana yang telah di sebutkan tadi, hal-hal yang dapat kita


lakukan untuk melindungi diri dalam rangka pencegahan ISPA adalah
dengan mempertahankan sistem kekebalan tubuh. Hal inimenjadi sangat
sulit bagi anak-anak karena perlu pengawasan yang baik serta memberikan
kesadaran kepada mereka. Keadaan gizi dan keadaan lingkungan
merupakan hal yang penting bagi pencegahan penyakit ISPA. Beberapa hal
yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA antara lain dengan memberikan
gizi yang cukup kepada anak atau dapat juga dengan melakukan imunisasi
untuk menjaga kekebalan tubuh.

Usaha untuk memberikan gizi yang baik mungkin akan mudah bagi
orang dewasa yang telah mengerti, namun bagi bayi yang masih dalam
kontrol orang tua harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah
makanan yang paling baik untuk bayi. Berikan anak makanan padat sesuai
kebutuhannya. Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk
mengetahui apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa
apakah ada penyakit yang menghambat pertumbuhan.

Agar anak memperoleh kekebalan dalam tubuhnya anak perlu


mendapatkan yang dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang
salah satu gejalanya adalah infeksi saluran nafas. Selain itu, perilaku hidup
bersih dan sehat merupakan modal utama bagi pencegahan ISPA,
sebaliknya perilaku yang tidak mencerminkan hidup sehat akan
menimbulkan berbagai penyakit.

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 9


Selain dengan mempertahankan sistem kekebalan tubuh dari
puskesmas purabaya juga melakukan pencegahan terhadap penyakit ISPA
yaitu dengan melakukan penyuluhan ISPA Di posyandu-posyandu dan
melakukan kunjungan rumah pada pasien pneumonia yang ada diwilayah
kerja UPTD Puskesmas Purabaya. Untuk hasil kegiatan ISPA dapat dilihat
pada lampiran lampiran.

2) Pengobatan ISPA
Pengobatan ISPA biasanya di fokuskan kepada mereka yang memiliki
sistem kekebalan tubuh yang rendah. ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan
Akut sangat rentan kepada anak-anak, itulah mengapa kasus ISPA sebagai
penyakit dengan prevalensi sangat tinggi di dunia juga menunjukkan angka
kematian anak yang sangat tinggi dibandingkan penyakit lainnya.
Berdasarkan jenisnya pengobatan ISPA dapat diklasifikasikan berdasarkan :
o Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik
parenteral, oksigendan sebagainya.
o Pneumonia: diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita
tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat
antibiotik pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
o Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan
perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk
tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang
merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila
demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita
dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat
adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah
bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman
streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 10


3). Penyuluhan ISPA dan Pneumonia, Kunjungan rumah Pasien
Pneumonia, Pelacakan kasus Pneumonia, serta Pemantauan
Kasus Pneumonia
Penyuluhan ISPA dan Pneumonia yang dilaksanakan oleh petugas ISPA
Puskesmas yaitu di 7 Desa yaitu di Di posyandu desa purabaya pada tanggal
06 april 2015, di posyandu desa cimerang pada tanggal 10 april 2015, di
posyandu desa citamiang pada tanggal 13 april 2015, diposyandu desa
margaluyu pada tanggal 14 april, di posyandu desa cicukang pada tanggal 17
april, diposyandu desa pagelaran pada tanggal 18 april dan diposyandu desa
neglasari pada tanggal 21 april 2015, untuk data hasil kegiatan penyuluhan
dapat di lihat pada lampiran- lampiran.
Untuk kegiatan Pemantauan kasus Pneumonia, Pelacakan kasus
Pneumonia dan Kunjungan rumah Pneumonia yaitu dilaksanakan di 7 desa
untuk data dan hasil kegiatan dapat di lihat pada lampiran-lampiran.
Untuk kasus Pneumonia yang meninggal pada tahun 2015 dapat dilihat
pada table 1.1
C. Kasus kematian pada bayi akibat Pneumonia
Table 1.1
Kasus kematian pada bayi akibat Pneumonia tahun 2015

No / Nama bayi Umur Orang tua Alamat Keterangan


tanggal
1/ juni 15 By. Siti 12 hari Siti Fatimah / Kp. Cinangka Rt Bayi meninggal di
Fatimah ridwan 11/ 02 desa rumah sakit,
citamiang dirawat selama 5
hari
2/ By. Rani 7 hari Rani / nurdin Kp. Jamatan Bayi dirujuk
November hideung desa kerumah sakit
15 Purabaya dirawat selama 1
hari keluarga
meminta pulang
paksa alasan
karna biaya,bayi
meninggal di
rumahnya 3 hari
pulang dari
rumah sakit.

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 11


D. Grafik Pencapaian Program ISPA 2015
1. Grafik Cakupan Program ISPA Tahun 2015

411
500 333
400
300
200 81%
100
0
Target Pencapaian Pesentase

2. Grafik Pencapaian Pneumonia

411
500
400
300
200 65
15,8%
100
0
Target Pencapaian Pesentase

3. Grafik kunjungan ISPA bukan pneumonia usia 0-4 tahun

60

50
49
47
45
40 42
40
37
30 34
32
27 28
20
20 19
10

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 12


4. Grafik kunjungan ISPA Bukan Pneumonia usia > 5 tahun

35

30
29
25

20
19
15 17 17

13 13 13
10 12
11
9
5 7
5
0

5. Grafik hasil Penemuan Kasus Pneumonia perbulan menurut


desa dan puskesmas tahun 2015

16

14
14
12

10
10
8
8
6
6 6
4 5
4 4 4
2
0 1 1
0

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 13


Jumlah penderita pneumonia pada tahun 2015 sebanyak 65 kasus dari
perkiraan penderita 411 kasus. Dari 65 kasus yang ditemukan semuanya
ditangani. Dan 2 meninggal di rumah sakit data terlampir pada tabel 1.1

6. Grafik Cakupan Program ISPA ( Bukan Pneumonia ) usia 0-4 thn

100
411 103
90
80
70
60
50
40 25 %
30
20
10
0
Target Pencapaian Persentase

7. Grafik penderita ISPA ( Bukan Pneumonia ) Menurut Desa usia


0-4 Tahun

100
90 82
80
70
56.6
60
50
40
30
20
5 3.4 6 4.1 4 2.8
10 2 1.4 2 1.4 2 1.4
-

Jml Penderita Persentase Pencapaian

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 14


8. Grafik Cakupan Program ISPA (Bukan Pneumonia) usia > 5
Tahun

411 165
100

90

80

70

60

50 40 %
40

30

20

10

0
Target Pencapaian Persentase
9. Grafik Cakupan Program ISPA (Bukan Pneumonia) usia > 5
Tahun

165
100

90

80

70
58
60

50
40.0 40.1
40
27 29
30
18.6 19 20.0
20 13.1 14
9.7 8 10
5.5 6.9
10

Jml Penderita Persentase Pencapaian

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 15


10.Grafik penderita Pneumonia Menurut Desa dan Puskesmas
usia 0-4 Tahun 2015

100

90

80

70 65

60

50 44.8

40

30
21
20 15 14.5
10.3 9
10
7 6 6.2
4.8 4 2.8 4.1
3 2.1
-

Jml Penderita Persentase Pencapaian

E. Tabel Penemuan Kasus Pneumonia Menurut Puskesmas dan Desa


Tabel 1.2
Penemuan Kasus Pneumonia Balita Menurut Puskesmas Dan Desa
Di Puskesmas Purabaya Tahun 2015
Pneumonia Pada Balita

Penderita
Puskesmas Desa Sasaran
Target Ditemukan Dan Ditangani

Jumlah %
Purabaya Purabaya 75 75 7 9,3

Cimerang 66 66 15 22,7

Citamiang 47 47 21 40,4

Margaluyu 36 36 4 8,3

Cicukang 60 60 3 6,6

Pagelaran 35 35 6 17,1

Neglasari 92 92 9 9,7

Jumlah 411 411 65 15,8 %

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 16


F. KLASIFIKASI ISPA BERDASARKAN UMUR
Umur
< 2 bulan
No Desa Pneumonia berat Pneumonia Batuk bukan Pneumonia
1. Purabaya 1 - 12
2. Cimerang - - 1
3. Citamiang 1 - 1
4. Margaluyu - - -
5. Cicukang - - -
6. Pagelaran - - 1
7. Neglasari - - -
Jumlah 2 15

Umur
2 bulan - < 1 tahun
No Desa Pneumonia berat Pneumonia Batuk bukan Pneumonia
1. Purabaya 5 43
2. Cimerang 7 2
3. Citamiang 11 2
4. Margaluyu 1 -
5. Cicukang 1 1
6. Pagelaran 3 -
7. Neglasari 5 1
Jumlah 33 49

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 17


Umur
1 tahun 5 tahun
No Desa Pneumonia berat Pneumonia Batuk bukan Pneumonia
1. Purabaya 2 27
2. Cimerang 8 2
3. Citamiang 10 3
4. Margaluyu 3 2
5. Cicukang 2 1
6. Pagelaran 3 1
7. Neglasari 4 3
Jumlah 32 39

Umur
>5 tahun
No Desa Pneumonia berat Pneumonia Batuk bukan Pneumonia
1. Purabaya 27
2. Cimerang 19
3. Citamiang 14
4. Margaluyu 8
5. Cicukang 58
6. Pagelaran 10
7. Neglasari 29
Jumlah 165

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 18


BAB IV
RENCANA KEGIATAN YANG AKAN DILAKSANAKAN

Biaya Waktu
No Kegiatan Tujuan Pelaksana Lokasi Sasaran Target Logistik
(Rp) J F M A M J J A S O N D
1 Penyuluhan ISPA Dan Untuk meningkatkan P2 Ispa 7 Desa Penderita 100% 1.050.000 Transport
Pneumonia didesa pengetahuan masyarakat dan (BOK)
tentang penyakit ISPA masyarakat
2 Pelacakan kasus Untuk mencari penderita P2 ISPA 7 desa Balita yang Penemuan 1.400.000 Transport
Pneumonia di posyandu- pneumonia pada bayi yang hadir kasus (BOK)
posyandu hadir di posyandu diposyandu pneumonia

balita
diposyandu
100 %
3 Kunjungan rumah kasus Untuk mengetahui sejauh P2 ISPA 7 Desa Balita yang 100% 1.050.000 Transport
Pneumonia mana perkembangan bayi menderita (BOK)
pneumonia yg sudah pneumonia
ditangani di puskesmas atau
rumah sakit

Purabaya, Januari 2016


Mengetahui :
Kepala Puskesmas Purabaya, Pelaksana Program Ispa,

H.MUDRIKAH,SKM Sopandi,S.Kep
NIP. 19690114.199503.1.002

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 19


BAB V
PENUTUP
Setelah penulis selesai dalam membuat dan menyusun laporan tahunan P2
ISPA UPTD Puskesmas Purabaya Kecamatan Purabaya Kabupaten Sukabumi Tahun
2015, kami dapat menarik kesimpulan dan saran sebagai berikut:
A. Kesimpulan
1. Laporan tahunan P2 ISPA ini dirasakan sangat bermanfaat bagi
Puskesmas, khusunya dalam rangka mewujudkan Akuntabilitas kinerja
instansi pemerintah/puskesmas kepada masyarakat, dimana laporan
tahunan P2 ISPA ini dapat dijadikan pedoman dan acuan kerja bagi
puskesmas dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pos
terdepan dalam system pelayanan yang prima kepada masyarakat yang
dilayani.
2. Keberhasilan sesuatu kegiatan atau program tergantung dari bagaimana
perencanaan suatu kegiatan atau program itu dibuat, karena sangat
terkait dengan fungsi fungsinya manajemen selanjutnya.
3. Tingkat kepedulian masyarakat kepada masalah kesehatan yang sangat
bervariasi antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok
masyarakat lain.
4. Penyakit ISPA adalah salah satu penyakit yang banyak diderita bayi dan
anak-anak, penyebab kematian dari ISPA yang terbanyak karena
Pneumonia. Klasifikasi penyakit ISPA tergantung kepada pemeriksaan
dan tanda-tanda bahaya yang diperlihatkan penderita, Penatalaksanaan
dan pemberantasan kasus ISPA diperlukan kerjasama semua pihak, yaitu
peranserta masyarakat terutama ibu-ibu, dokter, para medis dam kader
kesehatan untuk menunjang keberhasilan menurunkan angka, kematian
dan angka kesakitan sesuai harapan pembangunan nasional.

B. Saran
1. Karena yang terbanyak penyebab kematian dari ISPA adalah karena
pneumonia, maka diharapkan penyakit saluran pernapasan
penanganannya dapat diprioritaskan.

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 20


2. Disamping itu penyuluhan kepada ibu-ibu tentang penyakit ISPA perlu
ditingkatkan dan dilaksanakan secara berkesinambungan, serta
penatalaksanaan dan pemberantasan kasus ISPA yang sudah
dilaksanakan sekarang ini, diharapkan lebih ditingkatkan lagi.
3. Dimasa yang akan datang hendaknya waktu yang digunakan atau
yang diberikan Puskesmas dalam penyusunan laporan Tahunan P2
ISPA ini lebih banyak lagi, oleh Karena mencari data dan informasi
dilapangan sangat sulit dan perlu waktu yang lama karena petugas
merangkap program lain.

Purabaya, Januari 2016


Kepala UPTD Puskesmas Purabaya, Pelaksana Program Ispa,

H. MUDRIKAH, SKM Sopandi,S.Kep


NIP. 19690114.199503.1.002

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 21


Lampiran - lampiran

Laporan Tahunan Program Ispa 2015| 22

Anda mungkin juga menyukai