Anda di halaman 1dari 3

Imam Khomeini Dalam Penuturan Hujjatul Islam wal

Muslimin Ali Akbar Ashtiyani (4)


Imam Khomeini ra

Menurut keyakinan saya, kesederhanaan Imam Khomeini, luar biasa dan contoh kehidupan
beliau harus dicari di antara para Imam Maksum as.

Selama sepuluh tahu saya menyaksikan kehidupan beliau dari dekat, saya memahami bahwa
salah satu poin yang benar-benar dianggap penting oleh beliau adalah hidup sederhana dan tidak
bersikap boros. Berkali-kali saya menyaksikan Imam Khomeini bangkit dari tempatnya dan
menuju ke tempat lain. Ternyata beliau mematikan lampu yang menyala tanpa ada gunanya.
Demikian juga terkait dengan telpon di kantor, beliau berkata:

Bapak-bapak! Usahakan tidak melakukan pekerjaan yang sifatnya berulang-ulang dan


boros dan hindarilah sikap berlebih-lebihan.

Ketika beliau meminum air di gelas dan airnya masih setengah, maka beliau meletakkan
sepotong kertas untuk menutupinya dan menyisihkan sisanya untuk diminum ketika haus pada
kesempatan berikutnya. Atau ketika badannya luka maka beliau merobek tisu menjadi beberapa
bagian dan menggunakan satu bagian darinya.

Imam Khomeini dengan segala kesibukannya mengontrol sendiri semua biaya yang dikeluarkan
di rumahnya. Pengurus keuangan yang ingin berbelanja harus menunjukkan list barang-barang
yang mau dibeli kepada Imam Khomeini.

Poin lainnya yang saya ingat adalah keteraturan pekerjaan Imam Khomeini. Imam Khomeini
dalam sehari semalam memiliki acara khusus. Sehingga mutalaah [membaca], ibadah dan
munajat, menyelesaikan urusan umat Islam dan pemerintahan Isalam, tidur dan urusan pribadi
beliau memiliki acara dan waktu tertentu. Oleh karena itulah beliau berhasil menggunakan
semua umurnya dengan sebaik-baiknya dan berjiwa yang tinggi dan tidak perlu diceritakan.
Imam Khomeini mengerjakan salatnya di awal waktu dengan khusyuk. Sebelum tiba waktunya
salat Imam Khomeini membaca al-Quran. Setelah mengerjakan salat Maghrib dan Isya, beliau
menuju ke halaman rumah dan berdiri menghadap kiblat. Kemudian sambil jarinya menunjuk ke
arah kiblat, beliau mengucapkan zikir. Orang yang dipercaya menukil bahwa Imam Khomeini
mengucapkan zikir berikut ini:

Selain itu, dinukil dari Imam Khomeini bahwa zikir berikut ini dibaca tujuh kali di saat-saat
terakhir hari Jumat:

Imam Khomeini tidak pernah meninggalkan salat tahajud. Oleh karena itu di saat-saat sebelum
Subuh beliau selalu bangun dan melakukan salat sunnah. Bila masih tersisa waktunya, beliau
membaca berbagai buletin berita.

Imam Khomeini rajin mendengarkan berita dari radio-radio asing dan beliau senantiasa
mendengarkan radio-radio ini. Umat Islam juga menyaksikan dari tv Republik Islam Iran, meski
Imam Khomeini dalam kondisi opname di rumah sakit, beliau tidak pernah meninggalkan salat
tahajud dan menggunakan radio untuk mengetahui kabar. Bahkan tiga hari setelah dioperasi dan
masa penyembuhan, beliau memerintahkan untuk dibawakan tv dan menggunakannya.

Ketika Qotbzadeh sebagai ketua IRIB, Imam Khomeini menulis surat karena tidak suka dengan
acara yang ditayangkan yang bertentangan dengan Islam dan sebagian dari isi surat itu demikian:

...katakan kepada Bapak Qotbzadeh, memangnya Anda tidak diwajibkan untuk menjaga
masalah Islam? Memangnya Anda tidak komitmen pada al-Quran? Revolusi kita adalah
Revolusi Islam. Mengapa acara-acara yang bertentangan dengan Islam harus ditayangkan
dari IRIB?

Sepertinya, ketika surat itu sampai kepada Qotbzadeh, dia tidak suka. Tapi setelah itu ketahuan
bahwa Qotbzadeh tidak memiliki kecenderungan kepada Islam dan hanya menampakkan saja
bahwa dia komitmen pada Islam.

Saya masih ingat ketika Hujjatul Islam wal Muslimin Mohtashami menjabat di IRIB, suatu hari
dia datang kepada Imam untuk memberikan laporan. Setelah Imam Khomeini mendengarkan
ucapan dia, beliau berkata:

Anda harus lebih banyak mengontrol acara-acara yang disiarkan dari radio.

Kemudian berkata:

Setelah azan Subuh dan setelah disiarkannya doa-doa, ada lagu-lagu yang mungkin tidak
tepat untuk disiarkan.
Bapak Mohtashami setelah keluar dari ruangan Imam Khomeini, dia benar-benar takjub;
bagaimana mungkin seorang pemimpin revolusi yang benar-benar sibuk, dengan teliti mengikuti
acara radio dan televisi?

Alhasil, alhamdulillah...dengan bimbingan Imam Khomeini yang mulia, radio dan televisi
Republik Islam Iran mengalami perubahan yang dalam. Jerih payah para staf dalam
menyodorkan acara-acara yang membangun dan islami, kini perlu dihargai.

---

Imam Khomeini tidak rela sama sekali memiliki kehidupan yang berbeda dengan kehidupan
kalangan miskin. Hari-hari sulit perang yang dipaksakan dan musuh menyerang kota-kota yang
tidak punya perlawanan dengan serangan udara dan rudal. Orang-orang kaya menyelamatkan
dirinya di tempat-tempat yang aman dari serangan musuh. Tapi orang-orang miskin tetap tinggal
di daerahnya dan bertahan. Pada saat itu rencananya akan dibuatkan tempat perlidungan untuk
Imam Khomeini. Sehingga ketika ada serangan udara, jiwa beliau yang merupakan jiwa umat
dalam keamanan. Ketika Imam Khomeini mengetahui masalahnya, beliau berkata:

Saya tidak akan pergi ke sana.

Sudah dibangun tempat perlindungan. Tapi Imam Khomeini tidak pernah melihat tempat
perlindungan ini sampai detik terakhir kehidupannya yang penuh berkah. Padahal semua pejabat
negara meminta Imam Khomeini untuk menggunakan tempat perlindungan itu. tapi beliau tetap
bersikukuh dengan pendapatnya.

Sekali beliau mengatakan kepada sebagian pejabat yang meminta beliau untuk menggunakan
tempat perlindungan itu:

Apa bedanya, antara aku dan seorang pasdar yang melakukan penjagaan di sini dan
menjaga aku dan keluargaku? Aku tidak akan meninggalkan tempatku dan biarkan rudal
mengena kepalaku dan aku menjadi syahid.

Untuk menjadikan Imam Khomeini pada posisi di hadapan pekerjaan yang telah dilakukan,
dibangunlah sebuah tempat perlindungan antara kamar beliau dan huseiniyeh. Tapi Imam
Khomeini tidak pernah sama sekali ke sana. Ketika beliau sampai di situ, beliau mengubah arah
jalannya dan melewati sampingnya. (Emi Nur Hayati)

Dikutip dari penuturan Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Akbar Ashtiyani, Pengurus Kantor
Imam Khomeini

Sumber: Pa be Pa-ye Aftab II; Gofteh-ha va Nagofteh-ha az Zendegi Imam Khomeini ra,
1387, cetakan 6, Moasseseh Nashr-e Panjereh