Anda di halaman 1dari 3

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Burung merpati (Columba livia) merupakan salah satu unggas yang akrab

dengan manusia. Di Indonesia, burung merpati sangat umum dipelihara sebagai

hewan kesayangan dan hobi untuk diperlombakan. Burung merpati juga

diternakan untuk dimanfaatkan dagingnya sebagai salah satu sumber protein

hewani. Makanan dan perawatannya tidak sulit, sehingga cukup mudah

dikembangbiakkan. Dalam perkembangannya melalui proses domestikasi dan

perkawinan silang, Columba livia berubah menjadi berbagai macam merpati

domestik (Columbia domestica). Merpati ini dikenal sebagai merpati jinak,

kemudian berkembang menjadi merpati balap, merpati potong, dan merpati hias

(Haryoto ,1996).

Peternakan burung merpati menghadapi berbagai kendala dan

permasalahan diantaranya penyakit. Penyakit yang umum dijumpai pada

peternakan burung merpati adalah trichomoniasis yang disebabkan oleh parasit

protozoa Trichomonas spp. Trichomoniasis merupakan penyakit yang umum pada

hewan dan sering menyerang pada burung merpati. Penyakit ini disebabkan oleh

protozoa berflagella yang disebut Trichomonas gallinae (Priosoeryanto dkk.,

2005), merpati domestik merupakan hospes utama Trichomonas gallinae

(Levine,1995).

Kerugian trichomoniasis pada burung merpati menyebabkan angka

mortalitas yang lebih besar dari 50% (Saif, 2008). Strain Trichomonas gallinae
1
2

yang virulen pada burung merpati balap dapat menurunkan perfoman dan pada

burung merpati hias dapat mengganggu keindahan. Merpat terinfeksi T. gallinae

akan mengalami gejala klinis seperti penurunan berat badan, kelemahan, depresi

dengan lesi pada saluran pencernaan bagian atas, yang disebut kanker dengan

gambaran patologi adanya nekrosis kaseosa oleh reaksi keradangan purulenta

(Tabu, 2002), sehingga dari segi ekonomi diperlukan biaya yang lebih untuk

pengobatan dan perawatan.

Trichomoniasis pada merpati telah banyak diteliti di Eropa missal di

Spanyol (Villanua dkk., 2006) dan China (Qiu dkk., 2012), serta USA (Franson

dan Friend, 1999). Sedangkan di Indonesia, data dan gambaran penyakit yang

disebabkan Trichomonas gallinae pada merpati masih sangat minim, oleh karena

itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat infeksi penyakit

trichomoniasis pada merpati di Yogyakarta.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kejadian trichomoniasis pada

populasi merpati di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Dongkelan, Yogyakarta serta

mengetahui gambaran esofagus burung merpati yang terinfeksi Trichomonas sp.

Manfaat penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat menambah mengetahuan tentang

infeskivitas dan gambaran histopatologi yang di sebabkan oleh penyakit

trichomoniasis sehingga dapat dijadikan acuan untuk mengontrol penyakit

trichomoniasis
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Trichomoniasis

Etiologi

Trichomoniasis adalah penyakit yang diakibatkan oleh protozoa

Trichomonas gallinae. Penyakit ini umumnya menyerang sistem digesti dan

respirasi dari genus columbiform, psitaciformes, dan beberapa genus burung

lainnya. Pertama kali di laporkan oleh Rivolta pada tahun 1878 di Italia yang

menyatakan bahwa T. gallinae merupakan organisme yang berada di saluran

pencernaan bagian atas dan hati pada pigeon rock (Columba liva) (Atkinson dkk.,

2008). Trichomoniasis juga disebut frounce pada burung elang, cancer, roup pada

merpati dan burung lainnya. Istilah tersebut telah umum digunakan untuk merujuk

pada penyakit yang disebabkan oleh T. gallinae (Atkinson dkk., 2008 ; Friend dan

Franson, 1999).

Taksonomi T.gallinae menurut Cavalier-Smith (2004), termasuk dalam

Domain Eukaryota, Kingdom Protozoa, Subkingdom Biciliata, Infrakingdom

Excavata, Phylum Matamonada, Superclass Parabasalia, Class Trichomonodea,

Ordo Trichomonadida, Family Trichomonadidae, Genus Trichomonas, dan

Species Trichomonas gallinae. Selain itu T. gallinae juga memiliki beberapa

sinonim yaitu Ceromonas gallinae, C. hepaticum, T. columbae, T.disvera, T. halli

(Levine, 1995).

Morfologi T. gallinae dapat dilihat pada gambar 1. Trichomonas gallinae

memiliki bentuk piriformis (Soulsby, 1982) atau berbentuk seperti buah pir