Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Organ mata merupakan salah satu organ terpenting bagi manusia, dengan
mata yang normal manusia mampu melihat berbagai hal, termasuk mendapatkan
informasi secara visual. Namun, gangguan pada penglihatan seringkali terjadi, hal
tersebut dapat disebabkan beberapa faktor diantaranya, kontaminasi oleh debu,
bakteri, virus, jamur, atau pun disebabkan alergi tertentu. Gangguan penglihatan
saat ini merupakan masalah penting bagi masyarakat modern, karena di era
teknologi digital, hampir segala hal melibatkan visualisasi, sehingga perlu adanya
penanganan yang tepat pada gangguan tersebut. Penglihatan yang terganggu dapat
menyebabkan kualitas hidup seseorang menurun, hal ini dapat terlihat dari
berkurangnya kemampuan dalam melakukan berbagai aktivitas harian. Selain itu,
masalah yang ditimbulkan adalah pasien akan terisolasi secara sosial, serta resiko
kecelakaan fisik, seperti terjatuh semakin tinggi (Asroruddin, 2014).
Gangguan mata yang paling sering dialami oleh orang Indonesia, menurut
dr. Johan Hatauruk, spesialis mata dari Jakarta Eye Center pada sebuah acara
seminar kesehatan, diantaranya, refraksi, konjungtivitis, pterigium, katarak, dan
glaukoma (National Geographic Indonesia, 2013). Obat mata yang beredar di
masyarakat sebagian besar merupakan obat untuk gangguan jenis konjungtivitis,
yaitu terjadinya peradangan pada konjungtiva (Ilyas, 2010). Penderita
konjungtivitis biasanya mengeluhkan gejala seperti, mata merah, terdapat kotoran
pada mata, mata terasa panas seperti ada benda asing yang masuk, mata berair,
belekan, pseudoptosis (mata susah dibuka karena infiltrat pada otot muller),
penglihatan terganggu, serta mudah menular mengenai kedua mata (Ilyas, 2008).
Obat mata konjungtivitis yang banyak beredar di kalangan masyarakat
Indonesia berupa obat tetes, yaitu suspensi atau larutan steril dengan pH mirip air
mata, digunakan untuk mata, dengan cara meneteskannya pada selaput lendir
disekitar kelopak mata (Andriyani, dkk., 2017). Obat tetes mata yang banyak
diperjual-belikan di Indonesia umumnya memiliki kandungan bahan sintetis kimia
dengan beberapa efek samping. Diantara efek samping yang dapat ditimbulkannya
adalah mata perih, iritasi yang semakin parah, mata berair, timbul rasa sakit pada
tenggorokan, demam, memar dan gatal pada area mata (American Academy of
Ophthalmology, 2011). Karena alasan efek samping tersebut, perlu dikembangkan
obat alternatif bagi penderita gangguan mata.
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman tanaman,
sebagian besar dari tanaman tersebut memiliki manfaat bagi kesehatan, salah satu
tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal adalah lidah buaya. Salah
satu keuntungan dari penggunaan lidah buaya sebagai obat alternatif adalah
tanaman ini mudah dijumpai di Indonesia, sehingga tidak perlu biaya mahal untuk
pengembangannya. Lidah buaya dikenal memiliki kandungan protein, vitamin,
serta senyawa-senyawa aktif seperti aloin dan antrakuinon yang bermanfaat bagi
kesehatan (Hartawan, 2012). Organisasi kesehatan dunia (WHO) menyarankan
penggunaan obat tradisional atau herbal sebagai alternatif untuk pengobatan.
Disamping itu, WHO menyarankan perlu adanya peningkatan keamanan serta
khasiat dari obat herbal tersebut (Sewta, dkk., 2015 .
Lidah buaya dapat digunakan baik secara internal maupun eksternal pada
manusia dalam pengobatan alternatif, sebagaimana pertolongan pertama di rumah,
karena dipercaya aman dan memiliki efek samping yang rendah. Lidah buaya
sendiri telah menunjukkan aktivitas antiinflamasi, immunomodulator, antiparasit,
antioksidan, perlindungan UV, antitumor, dan antidiabetes (Wozniak dan Paduch,
2012). Aksi farmakologi dari ekstrak lidah buaya sangat terkait erat dengan
pemeliharaan jaringan sitokin atau tingkat stabilisasi radikal antara lain pada
jaringan mata. Aktivitasnya sebagai antioksidan dan immunomodulator berkaitan
dengan kemampuannya sebagai obat alternatif herbal bagi gangguan mata
(Wozniak dan Paduch, 2012).
Berdasarkan uraian diatas mengenai efek samping dari obat tetes yang
beredar di masyarakat, serta adanya obat alternatif herbal lidah buaya yang
memiliki beberapa keunggulan seperti, tanaman mudah dijumpai dan
sebagaimana obat herbal pada umumnya yang memiliki efek samping lebih
rendah, maka pada penelitian ini akan dikembangkan obat mata herbal dari
ekstrak lidah buaya.