Anda di halaman 1dari 72

Laporan Praktikum

METEOROLOGI DAN KLIMATOLOGI

OLEH

NAMA : YASRIN KARIM

NIM : 451 409 057

KELAS : GEOGRAFI B

KELOMPOK : 3 (Tiga)

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM STUDI GEOGRAFI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN IPA
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2008-2009
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena hanya dengan rahmat, hidayah, dan
kesehatan yang dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
praktikum Meteorologi ini tepat pada waktunya.

Laporan ini kami dimaksudkan untuk mengembangkan minat dan wawasan


mahasiswa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan Geografi. Sehingga nantinya
dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah


membantu dalam penyusunan laporan ini. Khususnya kepada Dosen pembimbing
yang telah banyak membantu kami.

Permohonan maaf yang tidak terkira kami haturkan kepada semua pihak
apabila dalam penulisan laporan ini banyak terdapat kesalahan dan jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat
diharapkan dari semua pihak demi lengkap dan sempurnanya laporan ini.

Akhir kata, semoga laporan ini dapat menambah wawasan kita sebagai
mahasiswa walaupun hanya sebagian kecil dari ilmu Geografi.

Nuun wal Qalami wamaa yasthuruun

Sekian dan terimakasih..

Gorontalo, 20 Agustus 2010

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................i

DAFTAR ISI...ii

DAFTAR GAMBAR DAN TABELiv

DAFTAR PESERTA KELOMPOKv

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.1


1.2 Permasalahan2
1.3 Tujuan...2
1.4 Manfaat....3
BAB II KAJIAN TEORI

2.1 Evaporasi dan Tarnspirasi4

2.2 Arah dan Kecepatan Angin serta Intensitas Radiasi Matahari12

2.3 Kelembaban, Suhu dan Tekanan...18

2.4 Intensitas Curah Hujan..22

2.5 Ketinggian Tempat dan Jenis-Jenis Awan25

BAB III METODE PENGUKURAN

3.1 Evaporasi...32

3.2 Arah dan Kecepatan Angin serta Intensitas Radiasi Matahari...34

3.3 Kelembaban, Suhu dan Tekanan...37

3.4 Intensitas Curah Hujan.45

3.5 Ketinggian Tempat dan Jenis-Jenis Awan............49

ii
BAB IV HASIL PENGUKURAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengukuran

4.1.1 Evaporasi.51

4.1.2 Arah dan Kacepatan angin serta Intensitas Radiasi Matahari.............57

4.1.3 Intensitas Curah Hujan....59

4.2 Pembahasan
4.2.1 Evaporasi dan Transpirasi61
4.2.2 Arah dan Kacepatan angin serta Intensitas Radiasi Matahari.61
4.2.3 Kelembaban, Suhu, dan Tekanan62
4.2.4 Intensitas Curah Hujan63
4.2.5 Ketinggian Suatu Tempat dan Jenis-Jenis Awan64

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan66
5.2 Saran..66

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL

Gambar 1. Van Evaporimeter.33

Gambar 2. Termometer Apung..33

Gambar 3. Cup Counter Dan Wind Vane Anemometer34

Gambar 4. Anemometer 10 meter..35

Gambar 5. Pengukur radiasi matahari jenis Campble Stokes36

Gambar 6. Psychometer dalam sangkar meteorologi.37

Gambar 7. Higrometer rambut....39

Gambar 8. Thermometer maksimum..40

Gambar 9. Thermometer minimum41

Gambar 10. Thermohygrograph.42

Gambar 11. Barometer air raksa.43

Gambar 12. Barograf.44

Gambar 13. Penakar hujan biasa45

Gambar 14. Penakar Hujan Jenis Hellman.46

Gambar 15. Penakar Hujan OBS47

Gambar 16. Penakar Hujan Jenis Tipping Bucket.48

Gambar 17. Altimeter.49

Tabel 1. Perbedaan Transpirasi dan Evaporasi..12

Tabel 2. Intensitas Penguapan dalam Satu Tahun..51

iv
DAFTAR PESERTA KELOMPOK

Big Family in the Five Group :

1. Nama : Meiriana Kartika Sari

NIM : 451 409 044

Angkatan : 2009

2. Nama : Yasrin Karim

NIM : 451 409 057

Angkatan : 2009

3. Nama : Hasrul Gilalom

NIM : 451 409 020

Angkatan : 2009

4. Nama : Wisra Anuba

NIM : 451 409 066

Angkatan : 2009

5. Nama : Febriana Trifeni Rahayu

NIM : 451 409 037

Angkatan : 2009

6. Nama : Risnarti Ali

NIM : 451 408 110

Angkatan : 2008

7. Nama : Irawati

NIM : 451 409 056

Angkatan : 2008

v
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Klimatologi (Yunani: , Klima, "wilayah, zona"; dan-,-logia) adalah


studi iklim, secara ilmiah didefinisikan sebagai kondisi cuaca rata-rata selama periode
waktu tertentu, dan merupakan cabang dari ilmu atmosfer. Pendekatan klimatologi
dapat dilakukan dengan berbagai cara. Paleoklimatologi berusaha untuk
merekonstruksi masa lalu dengan memeriksa catatan iklim seperti inti es dan
lingkaran pada pohon (dendroclimatology). Paleotempestology menggunakan catatan
yang sama ini untuk membantu menentukan frekuensi badai selama ribuan tahun.
Para ilmuwan menggunakan indeks iklim dalam usaha mereka untuk ciri dan
memahami berbagai mekanisme iklim yang berujung pada cuaca sehari-hari kita.

Berbeda dengan meteorologi, yang berfokus hanya pada sistem cuaca jangka
pendek yang berlangsung hingga beberapa minggu, klimatologi mempelajari
frekuensi dan kecenderungan sistem tersebut. Ini mempelajari periodisitas peristiwa
cuaca selama bertahun-tahun untuk milenium, serta perubahan dalam jangka panjang
pola cuaca rata-rata, dalam hubungannya dengan kondisi atmosfer. Perubahan unsur-
unsur cuaca dapat berpengaruh pada perubahan iklim. Akibat dari perubahan iklim
tersebut berdampak pada berbagai sektor kehidupan, baik dampak positif maupun
negatif.

Begitulah ruang lingkup yang menggambarkan mengenai pentingnya


memahami dan mengetahui siklus hidrologi yang termasuk didalamnya yaitu
evaporasi, transpirasi, arah dan kecepatan angin, intensitas radiasi
matahari,kelembaban udara, suhu, tekanan, presipitasi, dan letak geografis. Dimana
untuk mengetahui kondisi dari unsur-unsur siklus hidrologi tersebut perlu dilakukan
suatu pengukuran. Sehingga berdasarkan alasan tersebut, praktikum pengukuran ini

1
dilaksanakan guna mengetahui bagaimana tekhnik pengukuran unsur-unsur
meteorologi tersebut secara benar.

1.2 Permasalahan

Dalam pelaksanaan pengukuran parameter-parameter Meteorologi, ada


beberapa hal yang menjadi permasalahan, dalam hal ini adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana dan apa alat yang digunakan untuk mengukur laju evaporasi ?
b. Bagaimana dan apa alat yang digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan
angin serta intensitas radiasi matahari ?
c. Bagaimana dan apa alat yang digunakan dalam mengukur kelembaban, suhu
serta tekanan udara ?
d. Bagaimana dan apa alat yang digunakan dalam mengukur intensitas curah
hujan ?
e. Bagaimana dan apa alat yang digunakan dalam mengukur suatu ketinggian
tempat ?
f. Bagaimana awan bisa terbentuk ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan yang akan dicapai dari pengukuran ini adalah sebagai berikut :

a. Mengetahui dan memahami penggunaan alat-alat ukur dalam Meteorologi dan


Klimatologi
b. Mengetahui dan memahami bagaimana proses dan tekhnik pengukuran serta
faktor-faktor yang mempengaruhi evaporasi dan transpirasi
c. Mengetahui dan memahami bagaimana tekhnik pengukuran kecepatan angin
dan radiasi matahari serta faktor-faktor yang mempengaruhinya
d. Mengetahui dan memahami bagaimana tekhnik pengukuran kelembaban
udara, suhu, dan tekanan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya

2
e. Mengetahui dan memahami bagaimana tekhnik pengukuran curah hujan,
jenis-jenisnya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya
f. Mengetahui dan memahami bagaimana tekhnik pengukuran ketinggian suatu
tempat
g. Mengetahui jenis-jenis awan
h. Mengetahui Konsistensi uap air di udara
i. Mengetahui bagaimana keadaan iklim di kota Gorontal

1.4 Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari pengukuran ini adalah sebagai berikut :

a. Sebagai acuan bagi mahasiswa dalam meningkatkan pengetahuan dan


wawasan di bidang ilmu Geografi, khususnya pada ilmu Meteorologi dan
Klimatologi.
b. Sebagai media untuk menambah pengetahuan mengenai tata cara penggunaan
alat ukur yang digunakan pada Meteorologi dan Klimatologi.
c. Sebagai bahan untuk dapat memahami aspek-aspek yang dipelajari dalam
Meteorologi dan Klimatologi seperti kelembaban udara, curah hujan, suhu,
evaporasi, dan sebagainya.
d. Menjalin hubungan kerjasama dan mengukuhkan tali persaudaraan antara
teman-teman sejurusan serta Bapak maupun Ibu dosen.
e. Sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas mahasiswa khususnya untuk
mahasiswa jurusan Geografi.

3
BAB II

KAJIAN TEORI

2.6 Evaporasi dan Tarnspirasi

2.1.1 Evaporasi

Evaporasi merupakan proses pertukaran molekul air (liqui/solid) dipermukaan


menjadi molekul uap air (gas) diatmosfer melalui kekuatan panas. Evaporasi dapat
terjadi pada sungai, danau, laut, reservoir (permukaan air bebas), serta permukaan
tanah. Evaporasi dapat menyebabkan perubahan fisik dan kimia dari bahan pangan
baik berupa perubahan yang tak diinginkan maupun perubahan yang memang
diinginkan. Untuk dapat menyebabkan perubahan perubahan tersebut, evaporasi
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah besarnya suhu, lama evaporasi
dan tekanan yang digunakan. Evaporsi (penguapan) tidak terjadi dengan kecepatan
yang konstant dan tidak tergantung pada persediaan air yang ada. Berbagai faktor
yang menghambat dan mempercepat kecepatan dan jumlah penguapan (Hasan, 1970),
diantaranya suhu, angin, susunan air, kelembaban udara, luas permukaan, tekanan
udara dan panas laten penguapan.

Evaporasi merupakan salah satu proses yang ada dalam siklus hidrolologi,
dimana proses evaporasi sangat berperan, karena evaporasi atau penguapan adalah
bagian esensial dari siklus air. Energi surya menggerakkan penguapan air dari
samudera, danau, embun dan sumber air lainnya. Air pada sungai akan berevaporasi
secara langsung ke atmosfer atau mengalir kembali ke dalam laut dan selanjutnya
berevaporasi. Kemudian, air ini akan kembali pada permukaan bumi sebagai
presipitasi.

Dalam prosesnya ada beberapa faktor yang menghambat dan mempercepat


kecepatan dan jumlah penguapan (Hasan, 1970), yaitu :

1
Suhu

Kecepatan penguapan berubah-ubah langsung terhadap suhu air. Dengan


kenaikan suhu air dan tekanan uap air, kemampuan titik-titik air untuk menguap ke
udara mengalami kenaikan dengan cepat. Hal ini identik dengan kenyataan bahwa air
panas akan mengalami penguapan lebih cepat daripada air dingin.

Kelembaban nisbi (kelembaban udara)

Kelembaban udara dipengaruhi oleh jumlah uap air di udara. Penguapan akan
lebih besar apabila kelembaban nisbi rendah.

Angin

Angin sangat mempercepat terjadinya penguapan, karena angin mengganti


udara basah dekat permukaan air dengan udara kering. Untuk lautan, biasanya angin
hanya menggerakan udara basah tanpa membawa udara kering dari atas permukaan
laut.

Susunan air

Penguapan berubah-ubah secara kebalikan dengan kadar garam pada air,


sehingga penguapan lebih tinggi pada air tawar dari pada air asin. Dalam keadaan
yang ekuivalen air laut akan menguap lebih lama 5% dari air tawar.

Wilayah penguapan (luas permukaan)

Penguapan akan lebih besar pada daerah yang memiliki permukaan yang luas
daripada daerah yang memiliki permukaan yang kecil.

2
Tekanan udara

Pada umumnya, jika tekanan udara lebih rendah di atas permukaan air,
penguapannya lebih besar. Pengaruh tekanan udara yang rendah tersebut bisa
diabaikan dengan faktor-faktor lain, misalnya kelembaban nisbi yang tinggi.

Panas laten penguapan

Penguapan terjadi apabila adanya transfer energi panas (matahari). Energi


panas ini dibutuhkan untuk mengubah sifat benda (wujud benda) dari cair menjadi
uap. Oleh karena panas ini hanya dipakai untuk mempengaruhi peralihan dari cair
menjadi uap, dan tidak mempunyai efek terhadap suhu cairan maupun uapnya, maka
dinamakan panas laten.

Pada waktu pengukuran evaporasi, kondisi atau keadaan ketika itu harus
diperhatikan, mengingat faktor itu sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan.
Kondisi-kondisi ini tidak merata untuk seluruh daerah. Umpamanya, di bagian yang
satu disinari matahari, di bagian yang lain berawan. Oleh karena itu, pengukuran
evaporasi harus dilakukan untuk keseluruhan daerah tersebut, sehingga harga
evaporasi yang diperoleh tidak menyimpang.

Didalam analisa mendapatkan besarnya evaporasi, dibedakan menjadi dua


cara, yaitu evaporasi dari permukaan air bebas dan evaporasi dari permukaan tanah.

Evaporasi dari permukaan air bebas

Perumusan dasarnya (Dalton) adalah sebagai berikut :

E = C (ew ea) f (u)

dimana :

E = evaporasi dari permukaan air (open water)

C = koefisien tergantung dari tekanan barometer

3
u = kecepatan angin

ew = tekanan uap jenuh muka air danau

ea = tekanan uap udara di atasnya

Kedalaman air juga mempengaruhi evaporasi, karena untuk menaikkan


temperatur air yang mempunyai lapisan tebal (dalam) lebih banyak diperlukan panas
dari pada yang mempunyai lapisan tipis (dangkal). Untuk penyinaran matahari yang
sama maka akan lebih banyak menaikkan temperatur air yang dangkal dari pada yang
dalam, hingga evaporasi pada air yang dangkal lebih banyak.

Ada beberapa cara untuk menghitung besarnya evaporasi dari permukaan air
bebas diantaranya sebagai berikut:

o Persamaan Empiris

Seperti disebutkan di atas bahwa besarnya evaporasi sangat dipengaruhi oleh


kecepatan angin, maka untuk evaporasi permukaan air bebas perumusan empirisnya
(Bila temperatur permukaan air sama dengan temperatur udara)yaitu :

Ea = C (es ea) f (u)

dimana :

Ea = evaporasi dari muka air (open water) untuk temperature udara dan air
yang sama tC dalam mm/hari

C = konstanta empiris

es = tekanan uap jenuh udara pada t C (mmHg)

ea = tekanan uap sesungguhnya udara di atasnya (mmHg)

u = kecepatan angin pada ketinggian standard

4
o Neraca Air (water Budget)

Perhitungan evaporasi dengan cara ini disebut juga dengan storage equation
approach, yaitu dengan menarik suatu keseimbangan yang tetap pada semua air yang
masuk dan meninggalkan daerah aliran (catchmen, drainage basin). Bila hujan jatuh
di daerah aliran dan dapat diukur, kemudian aliran yang terjadi akibat hujan tersebut
pada suatu titik pengamatan (check point/out let) juga dapat diukur, maka yang
menyebabkan tidak sama antara besarnya hujan yang jatuh dengan besarnya aliran
yang terjadi ada tiga, yaitu :

Perubahan storage dalam daerah aliran, salah satunya adalah danau


atau air tanah (aquifer).

Perbedaan dalam aliran air tanah yang masuk dan keluar dari daerah
aliran.

Karena evaporasi dan transpirasi.

o Pemakaian alat di lapangan

` Besarnya evaporasi dapat diukur dilapangan dengan memasang alat pengukur


evaporasi yaitu atmometer atau pan evaporasi. Atmometer adalah alat pengukuran
evaporasi yang kecil yang biasa dipakai dalam stasiun meteorologi. Hasilnya bukan
data evaluasi absolut, akan tetapi memberikan perbandingan.

Evaporasi dari permukaan tanah

Besar evaporasi dari permukaan tanah berbeda dengan permukaan air bebas,
karena tergantung dari jenis (lapisan) permukaan tanahnya. Untuk permukaan tanah
yang jenuh, besarnya evaporasi kira-kira sama dengan evaporasi dari permukaan air
disekitarnya yang mempunyai temperatur sama.

Ada berbagai cara untuk menentukan evaporasi dari permukaan tanah,


diantaranya :

5
o Dengan membandingkan evaporasi permukaan air bebas

o Pengukuran dengan Lysimeter .

2.1.2 Transpirasi

Secara alamiah tumbuhan mengalami kehilangan air melalui penguapan.


Proses kehilangan air pada tumbuhan ini disebut transpirasi. Pada transpirasi, hal
yang penting adalah difusi uap air dari udara yang lembab di dalam daun ke udara
kering di luar daun. Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk
menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem
pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Ada banyak langkah
dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya.
Besarnya uap air yang ditranspirasikan dipengaruhi faktor eksternal dan faktor
internal.

Faktor-faktor eksternal yang yang mempengaruhi transpirasi :

a. Suhu

Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F cenderung untuk meningkatkan


penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama
dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 100
200F lebih tinggi dari pada suhu udara.

b. Kelembaban

Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air
yang hilang, dengan demikian seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan
menurun dengan meningkatnya kelembaban udara.

c. Cahaya

6
Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi
(menyerap) energi radiasi matahari. Cahaya tidak usah selalu berbentuk cahaya
langsung dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap muka
daun.

d. Kandungan air tanah

Jika kandungan air tanah menurun, sebagai akibat penyerapan oleh akar,
gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung
untuk meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih
lanjut.

e. Angin

Angin cenderung meningkatkan laju transpirasi, baik didalam naungan


cahaya, ataupun melalui penyapuan uap air. Akan tetapi di bawah sinar matahari,
pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun, dengan demikian terhadap penurunan
laju transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruhnya terhadap
penyingkiran uap air.

Faktor-faktor internal yang mempengaruhi transpirasi :

a. Penutupan stomata

Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara


relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata
tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air tetapi
peningkatan kehilangan air ini lebih sedikit untuk mesing-mesing satuan penambahan
lebar stomata Faktor utama yang mempengaruhi pembukaan dan penutupan stomata
dalam kondisi lapangan ialah tingkat cahaya dan kelembapan.

b. Jumlah dan ukuran stomata

7
Jumlah dan ukuran stomata, dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan
mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada
pembukaan dan penutupan stomata.

c. Jumlah daun

Makin luas daerah permukaan daun, makin besar transpirasi.

Proses transpirasi

Air diserap dari akar rambut tumbuhan dan air itu kemudian diangkut melalui
xilem ke semua bagian tumbuhan khususnya daun. Air yang berlebihan akan
disingkirkan melalui proses transpirasi. Jika kadar kehilangan air melalui transpirasi
melebihi kadar pengambilan air tumbuhan tersebut, pertumbuhan pokok akan
terhalang.

Ketika air menguap dari sel mesofil, maka cairan dalam sel mesofil akan
menjadi semakin jenuh. Sel-sel ini akan menarik air melalui osmosis dari sel-sel yang
berada lebih dalam di daun. Sel-sel ini pada akhirnya akan menarik air yang
diperlukan dari jaringan xylem yang merupakan kolom berkelanjutan dari akar ke
daun. Oleh karena itu, air kemudian dapat terus dibawa dari akar ke daun melalui
arah gaya gravitasi, sehingga proses ini terus menerus berlanjut. Proses penguapan air
dari sel mesofil daun biasa kita sebut dengan proses transpirasi. Oleh itu,
pengambilan air dengan cara ini biasa kita sebut dengan proses tarikan transpirasi dan
selama akar terus menerus menyerap air dari dalam tanah dan transpirasi terus terjadi,
air akan terus dapat diangkut ke bagian atas sebuah tanaman. Proses transpirasi ini
selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat
mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka
tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena melalui
proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan
suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus

8
mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan
hidup tanaman dapat terus terjamin.

Adapun perbedaan antara transpirasi dengan evaporasi adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Perbedaan Transpirasi dan Evaporasi

Transpirasi Evaporasi

proses fisiologis atau fisika yang proses fisika murni


termodifikasi

diatur bukaan stomata tidak diatur bukaan stomata

diatur beberapa macam tekanan tidak diatur oleh tekanan

terjadi di jaringan hidup tidak terbatas pada jaringan hidup

permukaan sel basah permukaan yang menjalankannya


menjadi kering

2.2 Arah dan Kecepatan Angin serta Intensitas Radiasi Matahari

2.2.1 Arah dan Kecepatan angin

Angin adalah udara yang bergerak akibat adanya perbedaan tekanan udara
dengan arah aliran angin dari tempat yang memiliki tekanan tinggi ke tempat yang
bertekanan rendah atau dari daerah yang memiliki suhu/temperatur rendah ke wilayah
bersuhu tinggi. Dengan adanya pergerakan udara di atmosfer ini, maka terjadilah
distribusi partikel-partikel di udara, baik partikel kering (debu, asap, dsb) maupun
partikel basah seperti uap air. Pengukuran angin permukaan merupakan pengukuran
arah dan kecepatan angin yang terjadi dipermukaan bumi dengan ketinggian antara
0.5 sampai 10 meter.

9
Angin memiliki hubungan yang erat dengan sinar matahari karena daerah
yang terkena banyak paparan sinar matahari akan memiliki suhu yang lebih tinggi
serta tekanan udara yang lebih rendah dari daerah lain di sekitarnya sehingga
menyebabkan terjadinya aliran udara. Angin juga dapat disebabkan oleh pergerakan
benda sehingga mendorong udara di sekitarnya untuk bergerak ke tempat lain.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhikecepatan angin, yaitu :

Gradien barometri

Bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari dua isobar yang
jaraknya 111 km. Makin besar gradien barometrisnya, makin cepat tiupan angin.

Lokasi

Kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat daripada angin yang jauh
dari garis khatulistiwa.

Tinggi Lokasi

Semakin tinggi lokasinya, semakin kencang pula angin yang bertiup. Hal ini
disebabkan oleh pengaruh gaya gesekan yang menghambat laju udara. Di permukaan
bumi, gunung, pohon, dan topografi yang tidak rata lainnya memberikan gaya
gesekan yang besar. Semakin tinggi suatu tempat, gaya gesekan ini semakin kecil.

Waktu

Angin bergerak lebih cepat pada siang hari, dan sebaliknya pada malam hari.

Dalam pergerakannya, ada angin yang dalam satu harinya bergerak berubah
arah, yaitu angin darat dan angin laut. Sesuai namanya, angin darat berarti bertip dari
daratan menuju laut, dan begitu juga sebaliknya dengan angin laut, yang bertiup dari
laut menuju darat.

Angin laut ( the sea breeze)

10
Angin laut terjadi ketika pada pagi hingga menjelang sore hari, daratan
menyerap energi panas lebih cepat dari lautan sehingga suhu udara di darat lebih
panas daripada di laut. Akibatnya udara panas di daratan akan naik dan digantikan
udara dingin dari lautan. Maka terjadilah aliran udara dari laut ke darat.

Angin darat ( the land breeze)

Angin darat terjadi ketika pada malam hari energi panas yang diserap
permukaan bumi sepanjang hari akan dilepaskan lebih cepat oleh daratan (udara
dingin). Sementara itu di lautan energi panas sedang dalam proses dilepaskan ke
udara. Gerakan konvektif tersebut menyebabkan udara dingin dari daratan bergerak
menggantikan udara yang naik di lautan sehingga terjadi aliran udara dari darat ke
laut.

Alat-alat pengukur kecepatan angin di bagi dalam 3 bagian :

a. Anemometer Cup dan Vane, alat ini mengukur banyaknya udara yang melalui
alat per satuan waktu.
b. Pressure Tube Anemometer, alat ini bekerja disebabkan oleh tekanan dari
aliran udara yang melalui pipa-pipanya.
c. Pressure Plate Anemometer, lembaran logam tertentu, ditempatkan tegak
lupus angin. Lembaran logam ini akan berputar pada salah satu sisinya
sebagai sumbu. Besar penyimpangan (sudut) menjadi kecepatan angin.

2.2.2 Intensitas Radiasi Matahari

Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses


thermonuklir yang terjadi di matahari. Energi radiasi matahari berbentuk sinar dan
gelombang elektromagnetik. Spektrum radiasi matahari sendiri terdiri dari dua yaitu,

11
sinar bergelombang pendek dan sinar bergelombang panjang. Sinar yang termasuk
gelombang pendek adalah sinar x, sinar gamma, sinar ultra violet, sedangkan sinar
gelombang panjang adalah sinar infra merah. Jumlah total radiasi yang diterima di
permukaan bumi tergantung 4 (empat) faktor, yaitu :

o Jarak matahari, Setiap perubahan jarak bumi dan matahari menimbulkan


variasi terhadap penerimaan energi matahari

o Intensitas radiasi matahari yaitu besar kecilnya sudut datang sinar matahari
pada permukaan bumi. Jumlah yang diterima berbanding lurus dengan sudut
besarnya sudut datang. Sinar dengan sudut datang yang miring kurang
memberikan energi pada permukaan bumi disebabkan karena energinya
tersebar pada permukaan yang luas dan juga karena sinar tersebut harus
menempuh lapisan atmosphir yang lebih jauh ketimbang jika sinar dengan
sudut datang yang tegak lurus.

o Panjang hari (sun duration), yaitu jarak dan lamanya antara matahari terbit
dan matahari terbenam.

o Pengaruh atmosfer, Sinar yang melalui atmosfer sebagian akan diadsorbsi


oleh gas-gas, debu dan uap air, dipantulkan kembali, dipancarkan dan sisanya
diteruskan ke permukaan bumi.

Radiasi matahari yang diterima oleh bumi kita (energi matahari) akan diterima
dengan cara sebagai berikut :

Diserap oleh aerosol & awan di atmosfer bumi yang akhirnya menjadi panas.
Radiasi yang terserap ini menyebabkan naiknya temperatur gas-gas dan
aerosol-aerosol. Aerosol sama dengan kumpulan cairan kecil atau partikel-
partikel solid yang menyebar dalam suatu gas, seperti uap air di atmosfir,
debu-debu angkasa dan lain-lain.

12
Ditangkis oleh atmosfer (oleh gas2 dan aerosol-aerosol), dalam hal ini radiasi
ditangkis dan disebarkan ke segala penjuru. Sebagian radiasi menuju kembali
ke angkasa, sebagian sampai ke permukaan bumi. Penangkisan dan
penyerapan radiasi bisa terjadi di segala lapisan atmosfir, yang paling sering
lapisan bawah di mana massa atmosfir lebih terkonsentrasi.

Radiasi yang tidak tertangkis maupun terserap oleh atmosfir, sampai ke


permukaan bumi. Karena bumi sangat padat, maka radiasi ini bukan ditangkis,
melainkan dikembalikan satu arah ke atmosfir (proses ini biasa disebut
refleksi - walaupun sebenarnya sama saja dengan tangkisan). Es dan salju
merefleksi hampir kebanyakan dari radiasi solar yang sampai ke permukaan
bumi, sedangkan laut, merefleksi sangat sedikit.

Radiasi yang sampai ke permukaan bumi yang tidak direfleksi, akan diserap
oleh bumi. Di lautan, penyerapan ini sampai pada puluhan meter dari
permukaan laut, sedangkan di daratan, hanya pada level yang lebih tipis.
Seperti halnya yang terjadi pada atmosfir, penyerapan radiasi di permukaan
bumi menyebabkan naiknya temperatur permukaan tersebut.

Pengukuran lamanya sinar matahari bersinar dimaksudkan untuk mengetahui


intensitas dan berapa lama/jam matahari bersinar mulai terbit hingga terbenam.
Matahari dihitung bersinar terang jika sinarnya dapat membakar pias Campble stokes.
Lamanya matahari bersinar dapat dinyatakan dalam presentase atau jam. Untuk
keperluan pemasangan dan pengamatan perlu diketahui hal-hal yang menyangkut
waktu lokal dan waktu rata-rata lokal. True Solar Day yaitu waktu antara dua gerakan
matahari melintasi meridian. Waktu yang didasarkan panjang hari ini disebut
apparent solartime atau waktu semu lokal. Waktu ini dapat ditunjukkan oleh sunshine
recorder. Waktu semu lokal ialah waktu yang ditentukan oleh gerakan relatif matahari
terhadap horizon. Sepanjang tahun lamanya (panjangnya) True Solar Day berbeda-
beda. Untuk memudahkan perhitungan dibayangkan adanya matahari fiktif yang
beredar mengelilingi bumi dengan kecepatan tetap selama setahun.

13
Untuk mengetahui intensitas radiasi yang jatuh pada permukaan bumi baik
yang langsung maupun yang dibaurkan oleh atmosfer dapat dilakukan suatu
pengukuran. Intensitas radiasi matahari ialah jumlah energi yang jatuh pada suatu
bidang persatuan luas dalam satu satuan waktu. Dalam atmosfer bumi terdapat
bermacam-macam radiasi seperti :

o Direct Solar Radiation (S) yaitu radiasi langsung dari matahari yang
sampai ke permukaan bumi.
o Radiation Difus (D) yang berasal dari pantulan-pantulan oleh awan
dan pembauran-pembauran oleh partikel-partikel atmosfer.
o Surface Raflectivity (r) yaitu radiasi yang berasal dari pantulan-
pantulan oleh permukaan bumi.
o Out Going Terrestial radiation (O), yaitu radiasi yang berasal dari
bumi yang berupa gelombang panjang.
o Back Radiation (B) yaitu radiasi yang berasal dari awan-awan dan
butir-butir uap air dan CO2 yang terdapat dalam atmosfer.
o Global (total) Radiation (Q)
o Net Radiation (R)

Dengan banyaknya jenis radiasi yang terdapat didalam atmosfer berarti


banyak pula alat-alat yang diperlukan untuk mengukur radiasi langsung (S).
Misalnya :

o Pyrheliometer untuk mengukur radiasi langsung (S)


o Solarimeter dan Pyranometer untuk radiasi total (Q)
o Pyrgeometer untuk mengukur radiasi bumi (O)
o Net Pyrradiometer untuk mengukur radiasi total (R)
2.3 Kelembaban, Suhu dan Tekanan

2.3.1 Kelembaban

14
Kelembaban adalah kadar air dalam udara, sehingga, logikanya semakin
tinggi kelembaban udara otomatis curah hujan akan semakin tinggi. Tetapi hal ini
masih dipengaruhi oleh suhu/temperatur, apabila temperaturnya tinggi tidak akan
terjadi kondensasi air/ pengembunan air. Sedangkan apabila suhunya rendah
(misalnya kurang dari 10 derajat celsius) akan mudah terjadi kondensasi dan terjadi
hujan.

Kelembaban udara merupakan tingkat kebasahan udara, karena dalam udara


selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih
banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara yang banyak
mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak dapat menahan
lagi uap air sebanyak itu. Maka uap air akan berubah menjadi titik-titik air. Udara yan
mengandung uap air sebanyak yang dapat dikandungnya disebut udara jenuh.

Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat


dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit
tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan
dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volum. Kelembaban nisbi
membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya
atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air. Kapasitas udara untuk
menampung uap air tersebut (pada keadaan jenuh) ditentukan oleh suhu udara.
Sedangkan defisit tekanan uap air adalah selisih antara tekanan uap jenuh dan tekanan
uap aktual. Masing-masing pernyataan kelembaban udara tersebut mempunyai arti
dan fungsi tertentu dikaitkan dengan masalah yang dibahas (Handoko, 1994).

Kelembaban udara dalam ruang tertutup dapat diatur sesuai dengan keinginan.
Pengaturan kelembaban udara ini didasarkan atas prinsip kesetaraan potensi air antara
udara dengan larutan atau dengan bahan padat tertentu. Jika ke dalam suatu ruang
tertutup dimasukkan larutan, maka air dari larutan tersebut akan menguap sampai
terjadi keseimbangan antara potensi air pada udara dengan potensi air larutan.
Demikian pula halnya jika hidrat kristal garam-garam (salt cristal bydrate) tertentu

15
dimasukkan dalam ruang tertutup maka air dari hidrat kristal garam akan menguap
sampai terjadi keseimbangan potensi air (Lakitan, 1994).

a. Ukuran Kelembaban Udara

Kandungan uap air dalam atmosfer dinyatakan dalam beberapa cara :

o Tekanan uap merupakan bagian dari tekanan atmosfer yang


disebabkan oleh uap air. Dinyatakan dalam ukuran yang sama dengan
tekanan udara total misalnya atm, milibar, cm/mmHg
o Kelembaban spesifik dinyatakan dengan berat uap air per satuan berat
udara. Biasanya dinyatakan dalam gram uap air per kg udara
o Kelembaban absolut dinyatakan dengan berat uap air per satuan
volume udara. Dinyatakan dalam satuan gram/m3
o Kelembaban relatif merupakan perbandingan uap air yang benar-benar
ada di udara dengan jumlah uap air pada udara tersebut jika pada
temperatur dan tekanan yang sama jenuh dengan uap air.
o jika udara pada temperatur 34C untuk mencapai kejenuhan harus ada
8 gram uap air dan ternyata hanya mengandung 6 gram, berarti
kelembaban relatifnya adalah :6/8 X 100 % = 75 %

b. Sebaran Kelembaban:

o Sebaran Vertikal, karena sumber kelembaban adalah permukaan bumi,


maka sebagian besar uap air akan berkumpul di lapisan yang bawah.
Jumlah uap air akan turun dengan naiknya temperatur

o Sebaran Horisontal, uap air dalam udara yang dinyatakan dalam


kelembaban spesifik atau tekanan uap mempunyai harga tertinggi di
katulistiwa dan terendah di kutub.

2.3.2 Suhu dan Tekanan

16
Suhu (temperatur) merupakan suatu besaran panas yang dirasakan oleh
manusia. Satuan suhu yang biasa digunakan di Indonesia adalah derajat Celcius (0C).
Mengingat pentingnya faktor suhu terhadap kehidupan dan aktifitas manusia
menyebabkan pengamatan suhu udara yang dilakukan oleh stasiun meteorologi dan
klimatologi memiliki beberapa kriteria diantaranya:

o Suhu udara permukaan (suhu udara aktual, rata-rata, maksimum dan


minimum).
o Suhu udara di beberapa ketinggian/ lapisan atmosfer (hingga ketinggian 35
Km).
o Suhu tanah di beberapa kedalaman tanah (hingga kedalaman 1 m).
o Suhu permukaan air dan suhu permukaan laut.

Sedangkan tekanan udara merupakan tenaga yang bekerja untuk


menggerakkan massa udara dalam setiap satuan luas tertentu. Diukur dengan
menggunakan barometer. Satuan tekanan udara adalah milibar (mb).

Tekanan udara dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya pada tempat dan waktu
yang berbeda, besarnya juga berbeda. Tekanan udara secara vertikal yaitu makin ke
atas semakin menurun. Hal ini dipengaruhi oleh:

Komposisi gas penyusunnya makin ke atas makin berkurang.


Sifat udara yang dapat dimampatkan, kekuatan gravitasi makin ke atas makin
lemah.
Adanya variasi suhu secara vertikal di atas troposfer (>32 km) sehingga
makin tinggi tempat suhu makin naik.

Sedangkan tekanan udara secara horizontal yaitu variasi tekanan udara


dipengaruhi suhu udara, bahwa daerah yang suhu udaranya tinggi akan bertekanan
rendah dan daerah yang bersuhu udara rendah tekanannya tinggi. Pola penyebaran
tekanan udara horizontal dipengaruhi:

17
Lintang tempat.
Penyebaran daratan dan lautan.
Pergeseran posisi matahari tahunan.

Tekanan udara pada suatau tempat berubah sepanjang hari. Hal ini tergambar
pada barogarf. Barograf merupakan alat pencatat tekanan udara. Tekanan udara
tinggi terjadi pada jam 10 pagi dan jam 10 malam serta tekanan rendah pada jam 4
pagi dan jam 4 sore.

Suatu daerah yang mempunyai suhu rendah atau dingin mempunyai tekanan
udara yang maksimum, sedang daerah yang mempunyai suhu yang tinggi
menyebabkan tekanan udaranya rendah karena udara mengembang. Hal ini
menyebabkan terjadinya angin, karena udara bertekanan maksimum bergerak menuju
daerah yang tekanan udaranya minimum.

Tekanan udara adalah gaya berat/gaya tekan udara pada suatu luasan tertentu.
Persamaan fisis untuk mengetahui tekanan udara adalah :

Perhitungan dilakukan dengan metode pipa U, dimana tekanan pada pipa A


akan sama dengan tekanan di pipa B, sehingga bila kolom udara pada salah satu
kolom difakumkan dan massa fluida (m) serta konstanta grafitasi (g) diketahui maka
tekanan pada pipa terbuka (identik dengan tekanan udara lingkungan) akan diketahui
:

18
(A) Prinsip Bejana Pipa U (B) Prinsip Barometer Air Raksa (C)Bentuk Fisik Barometer Air Raksa

2.4 Intensitas Curah Hujan

Hujan merupakan satu bentuk presipitasi yang berwujud cairan. Presipitasi


sendiri dapat berwujud padat (misalnya salju dan hujan es) atau aerosol
(seperti embun dan kabut). Hujan terbentuk apabila titik air yang terpisah jatuh
ke bumi dari awan. Tidak semua air hujan sampai ke permukaan bumi karena
sebagian menguap ketika jatuh melalui udara kering. Hujan jenis ini disebut sebagai
virga.

Hujan memainkan peranan penting dalam siklus hidrologi. Lembaban


dari laut menguap, berubah menjadi awan, terkumpul menjadi awan mendung, lalu
turun kembali ke bumi sebagi hujan, dan akhirnya kembali ke laut melalui sungai dan
anak sungai untuk mengulangi daur ulang itu semula.
Dua per tiga dari bumi kita ini mengandung air dan sisanya adalah daratan.
Air itu tersimpan dalam banyak wadah seperti samudera, lautan, sungai dan danau.
Air yang terdapat di berbagai wadah tersebut akan mengalami penguapan
atau evaporasi dengan bantuan matahari. Air yang ada di daun tumbuhan ataupun
permukaan tanah. Proses penguapan air dari tumbuh-tumbuhan itu dinamakan
transpirasi. Kemudian uap-uap air tersebut akan mengalami proses kondensasi atau
pemadatan yang akhirnya menjadi awan. Awan-awan itu akan bergerak ke tempat
yang berbeda dengan bantuan hembusan angin baik secara vertikal maupun

19
horizontal. Gerakan angin vertikal ke atas menyebabkan awan bergumpal. Gerakan
angin tersebut menyebabkan gumpalan awan semakin membesar dan saling bertindih-
tindih. Akhirnya gumpalan awan berhasil mencapai atmosfer yang bersuhu lebih
dingin. Di sinilah butiran-butiran air dan es mulai terbentuk. Lama-kelamaan angin
tidak dapat lagi menopang beratnya awan dan akhirnya awan yang sudah berisi air ini
mengalami presipitasi atau proses jatuhnya hujan air, hujan es dan sebagainya ke
bumi. Seperti itulah proses terjadinya hujan.
Ada dua teori pembentukan hujan yaitu teori bergeron dan teori tumbukan dan
penyatuan.
o Teori Bergeron
Teori ini berlaku untuk awan dingin (di bawah 0 0C) yang terdiri dari kristal
es dan air lewat dingin (air yang suhunya di bawah 0 0C tapi belum membeku).
Peristiwa ini sering terjadi pada awan cumulus yang tumbuh menjadi cumulonimbus
dengan puncak awan berada dibawah titik beku.
o Teori Tumbukan dan Penyatuan
Menurut teori ini, butir-butir awan hanya terjadi dari air. Hujan terjadi
berdasarkan perbedaan kecepatan jatuh antara butir-butir curah hujan yang berbeda
ukurannya. Butir air yang lebih besar akan memiliki kecepatan jatuh lebih cepat
daripada butir-butir kecil. Banyak terjadi di daerah tropis yang berawan panas dengan
perkembangan yang cepat.

Terjadinya presipitasi disebabkan oleh beberapa faktor. Adapun faktor-faktor


yang mempengaruhi terjadinya presipitasi adalah sebagai berikut :
o Adanya uap air di atmosphere
o Faktor-faktor meteorologis
o Lokasi daerah
o Adanya rintangan misal adanya gunung.

Pada prinsipnya, presipitasi diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu


berdasarkan bentuknya dan berdasarkan proses terjadinya.

20
Berdasarkan Bentuk
Berdasarkan bentuknya presipitasi dibagi menjadi tiga, yaitu :
o Hujan (rain), merupakan presipitasi dalam bentuk cair. Tetesan-tetesan
air yang jatuh pada presipitasi jenis ini mempunyai diameter yang
bervariasi dari 0,5-4mm.
o Salju (snow), terjadi karena sublimasi uap air pada temperatur di
bawah titik beku. Presipitasi berbentuk salju ini dapat terjadi jika dari
tempat terjadinya awan sampai dengan permukaan tanah
temperaturnya lebih kecil dari 00C. Jika terdapat lapisan udara yang
temperaturnya masih di atas titik beku, maka pada waktu kristal-kristal
es melewati lapisan tersebut akan mencair sehingga yang sampai ke
permukaan tanah bukan salju melainkan hujan.
o Hujan es (hail stone), terdiri dari bongkah-bongkah es dengan
diameter antara 5-10 mm. Hujan es jatuh pada saat ada guntur dari
awan cumulonimbus. Di dalam awan terdapat konveksi dari udara
panas dan lembab. Dalam udara panas dan lembab yang naik secara
konveksi, kondensasi mulai sebagian hujan , tetapi butir-butirnya
terangkat ke tempat dimana temperatur berada di bawah titik beku.
Akhirnya terjadilah bongkah-bongkahan es.

Berdasarkan proses terjadinya


Berdasarkan proses terjadinya, presipitasi dibagi menjadi empat, yaitu :
o Hujan konveksi, presipitasi yang terjadi dari awan yang terbentuk
karena adanya konveksi. Hujan konveksi ini umumnya cukup lebat.
o Hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi karena angin yang
mengandung uap air yang bergerak horisontal. Angin tersebut naik
menuju pegunungan, suhu udara menjadi dingin sehingga terjadi
kondensasi. Terjadilah hujan di sekitar pegunungan.
o Hujan frontal, yaitu hujan yang terjadi apabila massa udara yang
dingin bertemu dengan massa udara yang panas. Tempat pertemuan

21
antara kedua massa itu disebut bidang front. Karena lebih berat massa
udara dingin lebih berada di bawah. Di sekitar bidang front inilah
sering terjadi hujan lebat yang disebut hujan frontal.
o Hujan konvergen, presipitasi yang terjadi dari awan yang terbentuk
karena adanya konvergen. Hujan ini biasanya cukup lebat.

a. Unsur-unsur hujan
Hujan mempunyai susunan kimia yang cukup kompleks dan bervariasi dari
satu tempat ke tempat yang lain, dari musim ke musim pada tempat yang sama dan
dari waktu hujan yang berbeda. Air hujan terdiri atas ion-ion Natrium, kalium, khlor,
bikarbonat, dan sulfat yang seluruhnya merupakan jumlah terbesar. Selain itu hujan
juga tersusun atas amonia, nitrat, nitrit, nitrogen,dan susunan nitrogen lainnya yang
semuanya tersedia dalam jumlah yang kecil. Adapun unsur-unsur tersebut berasal dari
lautan, sungai, danau, permukaan tanah, vegetasi, industri dan gunung berapi. Pada
umumnya PH air hujan berkisar 3,0-9,8.

2.5 Ketinggian Tempat dan Jenis-Jenis Awan

2.5.1 Ketinggian Tempat

Kadangkala kita dihadapkan pada kondisi dimana kita harus dapat


menentukan ketinggian suatu tempat, akan tetapi kita tidak mempunyai alat untuk
menentukan ketinggian (altimeter), hal itu dapat diatasi dengan cara :

o Lihat terlebih dahulu interval peta, lalu hitung ketinggian tempat yang
ingin kita ketahui, memang ada rumusan umum interval kontur =
1/2000 skala peta. Tetapi rumus ini tidak selalu benar, beberapa peta
topografi keluaran Direktorat Geologi Bandung aslinya berskala
1:50.000 (interval kontur 25 m), tetapi kemudian diperbesar menjadi
berskala 1:25.000 dengan interval kontur tetap 25 meter.

22
o Pada suatu kondisi tertentu yang mendesak, misalnya SAR gunung
hutan, sering kali peta diperbanyak dengan cara di foto kopi. Untuk
itu, interval kontur peta tersebut harus tetap ditulis. Peta keluaran
Bakosurtanal (1:50.000) membuat kontur tebal untuk setiap kelipatan
250 meter, atau setiap selang 10 kontur. Seri peta keluaran AMS
(skala 1:50.000) membuat garis kontur tebal untuk setiap kelipatan
100 meter. peta keluaran Direktorat Geologi Bandung tidak seragam
ketentuan ketebalan garis konturnya. Dengan demikian tidak ada
ketentuan khusus dan seragam untuk penentuan garis kontur tebal.

Titik Triangulasi

Selain dari garis kontur, Kita dapat dapat mengetahui tinggi suatu tempat
dengan bantuan titk ketinggian. Titik ketinggian ini biasanya titik Triangulasi, yaitu
suatu titik atau benda berupa pilar/tonggak yang menyatakn tinggi mutlak suatu
tempat dari permukaan laut. Titik triangulasi digunakan oleh jawatan-jawatan
topografi untuk menentukan suatu ketinggian tempat dalam pengukuran ilmu pasti
pada waktu pembuatan peta. Macam titik triangulasi :

o Primer : P.14/3120 Kuarter : Q.20/1350

o Sekunder : S.75/1750 Tersier : T.16/975

Pada umumnya satuan ketinggian tempat adalah meter di atas permukaan laut.
Hal ini karena Pencarian titik terendah daratan, diatas tanah, akan sulit dilakukan,
karena akan banyak permukaan tanah yang dijadikan sebagai patokan, tetapi
permukaan laut itu sudah merupakan sesuatu yang baku, karena bentuk permukaan
air akan selalu flat, sedangkan tanah daratan tak selamanya flat dan akan terlalu
banyak patokan untuk ditetapkan sebagai standarnya.

2.5.2 Awan

23
Awan merupakan kumpulan dari titik-titik air atau kristak es yang melayang-
layang di angkasa dan terbentuk karena adanya proses kondensasai maupun
sublimasi. Berdasarkan konsensus internasional, awan dikelompokkan menjadi empat
golongan, yaitu sebagai berikut :

Golongan awan tinggi, jenis awan yang berada pada ketinggian di atas 6.000
meter. Yang termasuk jenis awan ini adalah sebagai berikut :

o Cirrus (Ci), awan yang halus, berserat seperti bulu burung.

o Cirrostratus (Cs), awan putih yang halus seperti kelambu, menutup


seluruh angkasa (sering menimbulkan halo matahari dan halo bulan).

o Cirrocumulus (Cc), awan ini berbentuk seperti gerombolan domba,


yang menyebabkan adanya sedikit bayangan atau tidak sama sekali.

24
Golongan awan sedang, awan yang berada pada ketinggian antara 2.000-6.000
meter. Yang termasuk jenis awan ini adalah sebagai berikut :

o Altostratus (As), berbentuk seperti selendang tebal, pada bagian yang


menghadap bulan atau matahari nampak lebih terang.

o Altocumulus (Ac), berbentuk bagai bola-bola yang tebal dan putih


pucat dengan berbagai warna kelabu karena kurang mendapat sinar.

Golongan awan rendah, awan yang berada pada ketinggian 0-2.000 meter.
Yang termasuk jenis awan ini adalah sebagai berikut :

o Stratocumulus (Sc), berbentuk gelombang yang menutupi angkasa,


sering nampak seperti gelombang lautan.

25
o Stratus (St), awan yang melebar seperti kabut, tetapi tidak sampai ke
permukaan tanah.

o Nimbostratus (Ns), awan tebal dengan bentuk tidak teratur, jenis awan
ini banyak menimbulkan hujan.

Golongan awan dengan perkembangan vertikal, wan yang memiliki titik


tertinggi sama dengan Cirrus dan terendah antara 5.00-2.000 meter. Yang
termasuk jenis awan ini adalah sebagai berikut :

o Cumulus (Cu), awan tebal dengan puncak bermacam-macam.


Terbentuk pada siang hari di saat udara naik. Bagian yang berhadapan
dengan matahari tampak terang.

26
o Cumulonimbus (Cb), awan yang bervolume sangat besar, berbantuk
menara, gunung atau puncaknya melebar. Jenis awan ini biasanya
menimbulkan hujan disertai kilat dan guntur.

a. Proses Terbentuknya Awan

Dalam atmosfer tetes awan terbentuk pada aerosol yang berfungsi sebagai inti
kondensasi atau inti pengembunan. Kecepatan pembentukan tetes tersebut ditentukan
oleh banyaknya inti kondensasi. Proses dimana tetes air dari fasa uap terbentuk pada
inti kondensasi disebut pengintian heterogen. Adapun pembentukan tetes air dari fasa
uap dalam suatu lingkungan murni yang memerlukan kondisi sangat jenuh
(supersaturation) disebut pengintian homogen. Pengintian homogen yaitu pembekuan
pada air murni hanya akan terjadi pada suhu dibawah -40 00C. Akan tetapi dengan
keberadaan aerosol sebagai inti kondensasi maka pembekuan dapat terjadi pada suhu
hanya beberapa derajat dibawah 00C.

Inti kondensasi adalah partikel padat atau cair yang dapat berupa debu, asap,
belerang dioksida, garam laut (NaCl) atau benda mikroskopik lainnya yang bersifat
higroskopis, dengan ukuran 0,001 10 mikrometer.

o Secara singkat proses kondensasi dalam pembentukan awan adalah sebagai


berikut :
Udara yang bergerak ke atas akan mengalami pendinginan secara adiabatik
sehingga kelembaban nisbinya (RH) akan bertambah, tetapi sebelum RH
mencapai 100 %, yaitu sekitar 78 % kondensasi telah dimulai pada inti

27
kondensasi yang lebih besar dan aktif. Perubahan RH terjadi karena adanya
penambahan uap air oleh penguapan atau penurunan tekanan uap jenuh
melalui pendinginan.

o Tetes air kemudian mulai tumbuh menjadi tetes awan pada saat RH mendekati
100 %. Karena uap air telah digunakan oleh inti-inti yang lebih besar dan inti
yang lebih kecil kurang aktif tidak berperan maka volume tetes awan yang
terbentuk jauh lebih kecil dari jumlah inti kondensasi.

o Tetes awan yang terbentuk umumnya mempunyai jari-jari 5 20 mm. Tetes


dengan ukuran ini akan jatuh dengan kecepatan 0,01 5 cm/s sedang
kecepatan aliran udara ke atas jauh lebih besar sehingga tetes awan tersebut
tidak akan jatuh ke bumi. Bahkan jika kelembaban udara kurang dari 90 %
maka tetes tersebut akan menguap. Untuk dapat jatuh ke bumi tanpa menguap
maka diperlukan suatu tetes yang lebih besar yaitu sekitar 1 mm (1000
mikrometer), karena hanya dengan ukuran demikian tetes tersebut dapat
mengalahkan gerakan udara ke atas (Neiburger, et. al., 1995).

o Jadi perbedaan antara tetes awan dan tetes hujan adalah pada ukurannya.
Jika sebuah awan tumbuh secara kontinu, maka puncak awan akan melewati
isoterm 0 C. Tetapi sebagian tetes-tetes awan masih berbentuk cair dan
sebagian lagi berbentuk padat atau kristal-kristal es jika terdapat inti
pembekuan. Jika tidak terdapat inti pembekuan, maka tetes-tetes awan tetap
berbentuk cair hingga mencapai suhu -40 C bahkan lebih rendah lagi.

28
BAB III

METODE PENGUKURAN

3.1 Mengukur Evaporasi

a. Evaporasi

Peristiwa penguapan atau evaporasi sangat bergantung pada tekanan luar


(contohnya tekanan suhu), Jika tekanan disekelilingnya rendah, maka uap air akan
mudah untuk melepaskan diri. Untuk dapat mengetahui tinggi rendahnya proses
evaporasi dapat dilakukan dengan melakukan suatu pengukuran evaporasi
(penguapan). Alat yang digunakan untuk mengukur Evaporasi disebut Evaporimeter,
yaitu jenis Evaporimeter panci terbuka. Makin luas permukaan panci, makin
representatif atau makin mendekati penguapan yang sebenarnya terjadi pada
permukaan danau, waduk, sungai, dll. Pengukuran menggunakan Evaporimeter panci
terbuka dilengkapi dengan thermometer apung. Hal ini dimaksudkan agar diketahui
perbedaan suhu udara pada saat terjadinya penguapan setiap satuan waktu.

Adapun pengukuran evaporasi dengan menggunakan evaporimeter


memerlukan perlengkapan sbb:

Panci bundar besar


Hook Gauge yaitu suatu alat untuk mengukur perubahan tinggi permukaan air
dalam panci. Hook Gauge menpunyai bermacam-macam bentuk, sehingga
cara pembacaannya berlainan.
Still well ialah bejana terbuat dari logam (kuningan) yang berbentuk silinder
dan mempunyai 3 buah kaki.
Termometer air dan termometer maksimum/minimum.
Cup counter anemometer.
Pondasi alas.
Penakar hujan biasa.

29
Gambar 1. Pan Evaporasi (Evaporimeter panci terbuka)

Gambar 2. Thermometer Apung

Seperti yang telah disinggung di atas, thermometer ini merupakan


bagian/kelengkapan dari alat evaporasi panci terbuka. Alat berfungsi untuk
mengetahui suhu permukaan air yang terjadi di permukaan bumi/tanah. Terdiri dari
thermometer maksimum (thermometer air raksa) dan thermometer minimum
(thermometer alcohol). Suhu rata-rata air didapat dengan menambahkan suhu
makimum dan minimum, kemudian dibagi dua. Letak thermometer harus terapung
tepat di permukaan air, sehingga dilengkapi dengan pelampung dibagian depan dan
melakang yang terbuat dari bahan yang tahan air/karat (biasanya almunium). Setelah
dilakukan pembacaan, posisi indek pada thermometer minimum harus dikembalikan
ke suhu aktual dengan memiringkannya. Sedangkan untuk thermometer maksimum,
tinggi air raksa juga dikembalikan pada suhu aktual dengan menggunakan magnet.

30
3.2 MengukurArah dan Kacepatan angin serta Intensitas Radiasi
Matahari

a. Arah dan kecepatan angin

Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan
angin. Satuan meteorologi dari kecepatan angin adalah Knots (Skala Beaufort).
Sedangkan satuan meteorologi dari arah angin adalah 0o360o dan arah mata angin.
Pada saat tertiup angin, baling-baling yang terdapat pada anemometer akan bergerak
sesuai arah angin. Di dalam anemometer terdapat alat pencatat yang akan menghitung
kecepatan angin. Hasil yang diperoleh alat akan dicatat, kemudian dicocokkan
dengan Skala Beaufort. Selain menggunakan anemometer, untuk mengetahui arah
mata angin, kita dapat menggunakan bendera angin. Anak panah pada baling-baling
bendera angin akan menunjukkan ke arah mana angin bertiup. Cara lainnya dengan
membuat kantong angin dan diletakkan di tempat terbuka.

Gambar 3. Cup Counter Dan Wind Vane Anemometer

Pergerakan udara atau angin umumnya diukur dengan alat cup counter
anemometer, yang didalamnya terdapat dua sensor, yaitu: cuppropeller sensor
untuk kecepatan angin dan vane/ weather cock sensor untuk arah angin. Untuk
pengamatan angin permukaan, Anemometer dipasang dengan ketinggian 10 meter
dan berada di tempat terbuka yang memiliki jarak dari penghalang sejauh 10 kali dari

31
tinggi penghalang (pohon, gedung atau sesuatu yang menjulang tinggi). Tiang
anemometer dipasang menggunakan 3 buah labrang/kawat penahan tiang, dimana
salah satu kawat/labrang berada pada arah utara dari tiang anemometer dan antar
labrang membentuk sudut 1200. Pemasangan penangkal petir pada tiang anemometer
merupakan faktor terpenting terutama untuk daerah rawan petir. Hal ini mengingat
tiang anemometer memiliki ketinggian 10 meter dengan ujung-ujung runcing yang
membuatnya rawan terhadap sambaran petir.

Gambar 4. Anemometer 10m

Fungsi alat : Pencatat Arah dan Kecepatan Angin Sesaat

Satuan : Arah Angin ( 8 mata angin )

Kecepatan Angin : Knots. ( 1 Knots = 1.8 Km/Jam )

Keterangan : Yang dimaksud arah angin yaitu Arah dari mana angin
berhembus.

32
b. Radiasi matahari

Berikut ini merupakan salah satu alat yang digunakan oleh BMKG Gorontalo
dalam mengukur Sinar Matahari.

Gambar 5. Pengukur radiasi matahari jenis Campble Stokes

Lamanya penyinaran sinar matahari dicatat dengan jalan memusatkan


(memfokuskan) sinar matahari melalui bola gelas hingga fokus sinar matahari
tersebut tepat mengenai pias yang khusus dibuat untuk alat ini dan meninggalkan
pada jejak pias. Dipergunakannya bola gelas dimaksudkan agar alat tersebut dapat
dipergunakan untuk memfokuskan sinar matahari secara terus menerus tanpa
terpengaruh oleh posisi matahari. Pias ditempatkan pada kerangka cekung yang
konsentrik dengan bola gelas dan sinar yang difokuskan tepat mengenai pias. Jika
matahari bersinar sepanjang hari dan mengenai alat ini, maka akan diperoleh jejak
pias terbakar yang tak terputus. Tetapi jika matahari bersinar terputus-putus, maka
jejak dipiaspun akan terputus-putus. Dengan menjumlahkan waktu dari bagian-bagian
terbakar yang terputus-putus akan diperoleh lamanya penyinaran matahari.

33
3.3 Mengukur Kelembaban, Suhu, dan Tekanan

o Kelembaban

Alat-alat untuk mengukur Relative Humidity (kelembaban) dinamakan


Psychrometer atau Hygrometer. Dengan Hygrometer, Relative Humidity dapat
langsung dibaca. Psychometer yang digunakan merupakan psychometer standar yang
terdiri dari empat buah termometer, yaitu thermometer bola basah (mengetahui
kelembaban udara) dan bola kering (mengetahui suhu udara), serta thermometer
maksimum (mengetahui suhu maksimum dalam satu hari) dan thermometer minimum
(mengetahui suhu minimum dalam satu hari). Psychometer ini diletakkan dalam
sebuah sangkar meteorologi yang dicat berwarna putih, tujuannya yaitu agar
terlindung dari hujan dan warna sangkar putih bertujuan agar memantulkan cahaya
yang merupakan konversi dari WMO (Wolrd Meteorogical Organitation). Sangkar ini
juga dibuat berfentilasi agar udara mudah untuk keluar masuk.

Gambar 6. Psychometer dalam sangkar meteorologi

34
Psychrometer Bola Basah Dan Bola Kering

Psychrometer ini terdiri dari dua buah thermometer air raksa, yaitu :
o Thermometer Bola Kering: tabung air raksa dibiarkan kering sehingga
akan mengukur suhu udara sebenarnya.

o Thermometer Bola Basah: tabung air raksa dibasahi agar suhu yang
terukur adalah suhu saturasi/ titik jenuh, yaitu; suhu yang diperlukan
agar uap air dapat berkondensasi. Thermometer Bola Basah, bola air
raksa harus selalu basah dengan menggunakan Kain muslin yang
selalu basah oleh air murni

Suhu udara didapat dari suhu pada termometer bola kering, sedangkan RH
(kelembaban udara) didapat dengan perhitungan:

Untuk penjelasan mengenai Thermometer Maksimum dan Minimum akan


dijelaskan pada pkok bahasan mengenai suhu udara.

Adapun beberapa hal yang sangat mempengaruhi ketelitian pengukuran


kelembaban dengan mempergunakan Psychrometer ialah :

o Sifat peka, teliti dan cara membaca thermometer-thermometer

o Kecepatan udara melalui Thermometer bola basah

o Ukuran, bentuk, bahan dan cara membasahi kain

35
o Letak bola kering atau bola basah

o Suhu dan murninya air yang dipakai untuk membasahi kain.

Hygrometer

Higrometer terdapat dua skala, yang satu menunjukkan kelembaban yang satu
menunjukkan temperatur. Cara penggunaannya dengan meletakkan di tempat yang
akan diukur kelembabannya, kemudian tunggu dan bacalah skalanya. skala
kelembaban biasanya ditandai dengan huruf h dan kalau suhu dengan derajat celcius
(C).

Perlu diperhatikan pada saat pengukuran dengan hygrometer selama


pembacaan haruslah diberi aliran udara yang berhembus kearah alat tersebut, ini
dapat dilakukan dengan mengipasi alat tersebut dengan secarik kertas atau kipas.
Sedangkan pada slink, alatnya harus diputar.
Misal Cara kerja dan prinsip dari Higrometer rambut adalah bila udara
lembab, rambut akan mengembang, menggerakan engsel, kemudian diteruskan ke
tangkai pena. Akibatnya, tangkai pena naik. Begitu juga jika udara kering, rambut
akan munyusut, menggerakan engsel kemudian diteruskan ke tangkai pena.
Pergerakan itu dapat terlihat melalui pengukuran skala kelembaan nisbi yang tercatat
oleh pena.

Gambar 7. Higrometer Rambut

Hygrometer rambut ada yang bersifat non recording dan recording (Hygrograph).

36
o Suhu dan tekanan

Alat-alat untuk mengukur Suhu dinamakan Termometer. Pada umumnya


Termometer di bedakan menjadi beberapa macam berdasarkan fungsinya. Dengan
termometer, suhu dapat langsung di ukur. Seperti halnya alat pengukur kelembaban
udara, jenis termometer ada juga yang bersifat non-recording maupun yang bersifat
recording. Dalam prakteknya, thermometer yang sering digunakan untuk mengukur
suhu udara yaitu thermometer Maksimum dan thermometer minimum serta
thermometer bola kering. Untuk thermometer bola kering telah dijelaskan pada
bahasan mengenai kelembaban.

Thermometer Maksimum

Thermometer air raksa ini memiliki pipa kapiler kecil (pembuluh) didekat
tempat/tabung air raksanya, sehingga air raksa hanya bisa naik bila suhu udara
meningkat, tapi tidak dapat turun kembali pada saat suhu udara mendingin. Untuk
mengembalikan air raksa ketempat semula, thermometer ini harus dihentakan berkali-
kali atau diarahkan dengan menggunakan magnet.

Gambar 8. Thermometer maksimum

Dari gambar tersebut dapat diilustrasikan bahwa apabila temperatur naik dan
kolom air raksa tidak terputus, maka air raksa terdesak melalui bagian yang sempit.
Ujung kolom menunjukkan temperatur udara. Apabila suhu turun, kolom air raksa
terputus pada bagian yang sempit setelah air raksa dalam bola temperatur menyusut.
Ujung lain dari kolom air raksa tetap pada tempatnya.

37
Untuk pengamatan suhu udara ujung kolom ini menunjukkan suhu udara
karena penyusutan air raksa kecil sekali dan dapat diabaikan. Jadi Thermometer
menunjukkan suhu udara tertinggi setelah terakhir dikembalikan. Thermometer
dikembalikan setelah dibaca. Termometer jenis ini pada dasarnya bersifat non-
recording.

Thermometer Minimum

Thermometer minimum biasanya menggunakan alkohol untuk pendeteksi


suhu udara yang terjadi. Hal ini dikarenakan alkohol memiliki titik beku lebih tinggi
dibanding air raksa, sehingga cocok untuk pengukuran suhu minimum. Prinsip kerja
thermometer minimum adalah dengan menggunakan sebuah penghalang (indeks)
pada pipa alkohol, sehingga apabila suhu menurun akan menyebabkan indeks ikut
tertarik kebawah, namun bila suhu meningkat maka indek akan tetap pada posisi
dibawah. Selain itu peletakan thermometer harus miring sekitar 20-30 derajat, dengan
posisi tabung alkohol berada di bawah. Hal ini juga dimaksudkan untuk
mempertahankan agar indek tidak dapat naik kembali bila sudah berada diposisi
bawah (suhu minimum).

Gambar 9. Thermometer Minimum

Untuk mengembalikan posisi indeks ke posisi aktual dapat dilakukan dengan


memiringkan/membalikkan posisi thermometer hingga indek bergerak ke ujung dari
alkohol (posisi suhu aktual). Termometer jenis ini bersifat seperti halnya termometer
maksimum.

38
Thermohygrograph

Alat ini berfungsi sebagai Pencatat Suhu udara dan Kelembaban Udara
(Nisbi). Dengan satuan Derajat Calcius (suhu) & Prosentase % (kelembaban). Alat
ini dalam sistemnya menggunakan pias harian atau mingguan. Sensor Suhu terbuat
dari logam, apabila udara panas logam akan memuai dan menggerakan pena keatas,
sedangkan bila udara dingin, logam mengkerut dan menggerakkan pena turun. Sensor
Kelembaban udara terbuat dari rambut manusia, bila udara basah Rambut memanjang
dan bila udara kering rambut memendek.

Gambar 10. Thermohygrograph

o Barometer Air Raksa

Alat ini berfungsi membandingkan perbedaan tinggi air raksa dalam tabung
gelas dan di dalam bejana. Barometer air raksa berfungsi untuk mengukur tekanan
udara. Terdiri dari tabung gelas berisi air raksa, bagian atasnya tertutup dan bagian
bawahnya terbuka dimasukkan ke dalam bejana air raksa.

39
Gambar 11. Barometer Air Raksa

Syarat penempatan :

o Ditempatkan pada ruangan yang mempunyai suhu tetap (Homogen)

o Tidak boleh kena sinar matahari langsung

o Tidak boleh kena angin langsung

o Tidak boleh dekat lalu-lintas orang

o Tidak boleh dekat meja kerja

o Penerangan jangan terlalu besar, maximum 25 watts

Cara pemasangan :

o Dipasang tegak lurus pada dinding yang kuat

o Tinggi bejana + 1 m dari lantai

o Sebaiknya dipasang di lemari kaca

o Latar belakang yang putih untuk memudahkan pembacaan

Cara membaca :

o Baca suhu yang menempel pada Barometer

o Naikkan air raksa dalam bejana, sehingga menyinggung jarum taji

o Skala Nonius (Vernier) sehingga menyinggung permukaan air raksa

o Baca skala Barometer dan skala Nonius

o Gunakan koreksi yang telah disediakan

40
Cara membawa (Transport) :

o Barometer dibalik pelan-pelan sehingga bejana berada di atas.

o Masukkan dalam kotak transport, dengan bejana tetap diatas

o Membawanya bejana harus tetap berada diatas

BAROGRAPH

Barograph adalah istilah lain untuk barometer yang dapat merekam sendiri
hasil pengukurannya. Barograph umumnya menggunakan prinsip Barometer Aneroid,
dengan menghubungkan beberapa kapsul/cell aneroid dengan sebuah pena untuk
membuat track pada kerta pias yang diletakkan pada tabung yang berputar 24 jam per
rotasi. Pada pias terdapat garis-garis tegak menunjukkan waktu dan garis mendatar
menunjukkan tekanan udara. Tingkat keakuratan dari barograph, salah satunya
ditentukan oleh jumlah kapsul/cell aneroid yang digunakan. Semakin banyak kapsul
aneroid yang digunakan maka semakin peka barograph tersebut terhadap perubahan
tekanan udara.

Gambar 12. Barograph

3.4 Mengukur Intensitas Curah Hujan

41
Untuk mengetahui seberapa besar intensitas curah hujan pada suatu saat dan
tempat, diperlukan suatu pengukuran. Adapun alat-alat yang dapat digunakan dalam
pengukuran intensitas curah hujan tersebut adalah sebagai berikut :

Penakar Curah Hujan Biasa

Penakar hujan ini termasuk jenis penakar hujan non-recording atau tidak dapat
mencatat sendiri. Bentuknya sederhana, terdiri dari :

o Sebuah corong yang dapat dilepas dari bagian badan alat.


o Bak tempat penampungan air hujan.
o Kaki yang berbentuk tabung silinder.
o Gelas penakar hujan.

Gambar 13. Penakar Hujan Biasa

Penakar Hujan Jenis Hellman

42
Gambar 14. Penakar Hujan Jenis Hellman

Penakar hujan jenis Hellman termasuk penakar hujan yang dapat mencatat
sendiri. Jika hujan turun, air hujan masuk melalui corong, kemudian terkumpul dalam
tabung tempat pelampung. Air ini menyebabkan pelampung serta tangkainya
terangkat (naik keatas). Pada tangkai pelampung terdapat tongkat pena yang
gerakkannya selalu mengikuti tangkai pelampung. Gerakkan pena dicatat pada pias
yang ditakkan/digulung pada silinder jam yang dapat berputar dengan bantuan tenaga
per. Jika air dalam tabung hampir penuh, pena akan mencapai tempat teratas pada
pias. Setelah air mencapai atau melewati puncak lengkungan selang gelas, air dalam
tabung akan keluar sampai ketinggian ujung selang dalam tabung dan tangki
pelampung dan pena turun dan pencatatannya pada pias merupakan garis lurus
vertikal. Dengan demikian jumlah curah hujan dapat dhitung/ditentukan dengan
menghitung jumlah garis-garis vertikal yang terdapat pada pias.

Penakar hujan OBS

Gambar 15. Penakar Hujan OBS

43
Penakar hujan OBS merupakan penakar hujan biasa tanah dimaksudkan untuk
mendapatkan jumlah curah hujan yang jatuh pada tanah. Pada bagian tanah reservoir,
terdapat tangaki yang digunakan untuk mengangkat penakar hujan jika akan
dilakukan pembacaan. Tepat disekitar corong penakar hujan terdapat lapisan ijuk
yang disusun pada lapisan kayu yang berbentuk lingkaran yang dimaksudkan untuk
mengurangi percikkan air hujan. Selain itu terdapat jaringan kawat/ besi yang
berbentuk bujur sangakar dan digunakan sebagai tempat berpijak ketika akan
mengangkat lapisan ijuk dan penakar hujan. Pada kedua tepi/ lapisan ijuk terdapat
dua kaitan/ pegangan untuk memudahkan mengangkatnya. Cara kerja penakar hujan
biasa : apabila terjadi hujan, air hujan akan masuk melalui corong berbentuk cincin
(lingkaran) dengan luas 100 cm2 yang terletak di atas penakar tersebut. Kemudian air
hujan akan tertampung dalam bak penampungan air hujan yang terhubung dengan
stop kran. Pada waktu hendak melakukan penakaran dengangelas ukur yang berskala
mm tinggal membuka stop kran dan akan didapat berapa besar curah hujan yang
terjadi.

Penakar Hujan Jenis Tipping Bucket

Gambar 16. Penakar Hujan Jenis Tipping Bucket

Penakar hujan jenis ini bertujuan untuk mendapatkan jumlah curah hujan yang
jatuh pada periode dan tempat-tempat tertentu. Pada bagian muka terdapat sebuah
pintu untuk mengeluarkan alat pencatat, silinder jam dan ember penampung air hujan.
Jika dilihat dari atas, ditengah-tengah dasar corong terdapat saringan kawat untuk
mencegah benda-benda memasuki ember (bucket).

44
Pada prinsipnya jika hujan turun, air masuk melalui corong besar dan corong
kecil, kemudian terkumpul dalam ember (bucket) bagian atas (kanan). Jika air yang
tertampung cukup banyak menyebabkan ember bertambah berat, sehingga dapat
menggulingkan ember kekanan atau kekiri, tergantung dari letak ember tersebut. Pada
waktu ember terguling, penahan ember ikut bergerak turun naik. Penahan ember
mempunyai dua buah tangkai yang berhubungan dengan roda bergigi. Gerakan turun
naik penahan ember menyebabkan kedua tangkainya bergerak pula dan bentuknya
yang khusus dapat memutar roda bergigi berlawanan dengan arah perputaran jarum
jam. Perputaran roda bergigi diteruskan ke roda berbentuk jantung. Roda yang
berbentuk jantung mempunyai sebuah per yang menghubungkan kedua pengatur
kedudukan pena yang letak ujungnya selalu bersinggungan dengan tepi roda.
Perputaran roda berbentuk jantung akan menyebabkan kedudukan pena bergerak
sepanjang tepi roda.

3.4 Mengukur Ketinggian Suatu Tempat dan Jenis-Jenis Awan

a. Ketinggian tempat

Untuk mengetahui seberapa tinggi suatu tempat, diperlukan suatu pengukuran.


Adapun alat dapat digunakan dalam pengukuran ketinggian tempat tersebut adalah
sebagai berikut :

Altimeter

Altimeter merupakan alat pengukur ketinggian yang bisa membantu dalam


menentukan posisi. Pada medan yang bergunung tinggi, resection dengan
menggunakan kompas sering tidak banyak membantu, disini altimeter lebih
bermanfaat. Dengan menyusuri punggungan-punggungan yang mudah dikenali di

45
peta, altimeter akan lebih berperan dalam perjalanan, yang harus diperhatikan dalam
pemakaian altimeter :

o setiap altimeter yang dipakai harus dikalibrasi. Periksa ketelitian


altimeter di titik-titik ketinggian yang pasti.

o Altimeter sangat peka terhadap guncangan, perubahan cuaca, dan


perubahan temperatur.

Gambar 17. Altimeter

Altimeter sebenarnya adalah barometer aneroid yang skala penunjukkannya


telah dikonversi terhadap ketinggian. Sebagaimana kita ketahui bahwa 1 mb
sebanding dengan 30 feet (9 meter) atau dapat dicari dengan pendekatan rumus:

H = 221.15 Tm log (Po / P)

46
BAB IV

HASIL PENGUKURAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengukuran

a. Evaporasi

Adapun data penguapan pada tahun 2007 daerah gorontalo.

Tahun : 2007

Tempat pemeriksaan : Jalaluddin

Pemeriksaan penguapan tiap pagi jam : 07.00

Kecamatan : Tibawa

Jika tak ada hujan kolom hujan di isi :0

Kabupaten : Gorontalo

Provinsi : Gorontalo

Tabel. 2 Intensitas Penguapan dalam Satu Tahun

Tanggal Bulan Beda tinggi H Hujan P Penguapaan


pengukuran pengukuran dalam mm dalam mm dalam mm
1-15 Januari -69,8 126,4 56,6
16-31 -37,4 103,8 66,4
1-15 Pebruari 14,1 34,4 48,5
16-31 15,4 38,8 54,2
1-15 Maret 72,2 0,1 72,3
16-31 -13,2 75,9 62,7
1-15 April 74,3 8,0 82,3
16-31 -66,6 121,6 55,0
1-15 Mei -123,2 222,7 45,8

1
16-31 55,5 26,5 82,0
1-15 Juni -22,6 84,6 62,0
16-31 -79,4 129,4 50,0
1-15 Juli 73,5 16,0 89,5
16-31 5,9 63,3 69,2
1-15 Agustus 47,4 17,1 64,5
16-31 39,9 18,9 58,8
1-15 September -60,8 129,7 68,9
16-31 87,7 0,0 87,7
1-15 Oktober 62,2 16,0 78,2
16-31 48,8 30,3 79,1
1-15 November 19,3 25,6 44,9
16-31 -27,4 93,5 66,1
1-15 Desember -123,2 185,8 62,6
16-31 -146,5 214,0 67,5

Perhitungan Data Penguapan Melalui Pemeriksaan Panci Terbuka Pada Bulan


Januari sampai Desember Tahun 2007.
Rumus Penguapan :
I=P+H
Dimana :
I = Penguapan
P = banyaknya hari hujan selama satu hari dalam mm
H = beda pembacaan tinggi air dibejana satu hari sebelumnya dengan
hari waktu pengamatan
Keterangan
H = negatip jika pembacaan lebih besar dari pembacaan satu hari
sebelumnya
H = positip jika pembacaan lebih kecil dari pembacaan satu hari
sebelumnya.

2
Januari
Dik : Jumlah P dari tanggal 1-15 = 126,4
Jumlah H dari tanggal 1-15 = -69,8
Dit = I ..?
I=P+H
I = 126,4 + (-69,4) = 56,6 mm
Dik : Jumlah P dari tanggal 16 31 = 103,8
Jumlah h dari tanggal 16 31 = -37,4
Dit = I .?
I = 103,8 + (-37,4) = 66,4 mm
Jadi, jumlah penguapan sebulan adalah I1-15 + I16-31 = 56,6 + 66,4 = 120,0 mm
Jumlah hujan sebulan adalah P1-15 + P16-31 = 126,4 + 103,8 = 230,2mm
Februari
Dik : P1-15 = 34,4
H1-15 = 14,1
P16 31 = 38,8
H16-31 = 15,4

Dit = I..?
I1-15 = 34,4 + 14,1 = 48,5
I16-31 = 38,8 + = 54,2
Jadi,jumlah penguapan bulan Februari adalah I1-15 + I16-31=48,5 + 54,2 =
102,7mm
Jumlah hujan sebulan adalah P1-15 + P16-31 =14,1 + 15,4 = 73,2 mm

Maret
Dik : P1-15= 0,1
P16-31 = 75,9
H1-15=72,2
H16-31= -13,2

3
Dit : I.?
I1-15= 0,1 + 72,2 = 72,3mm
I16-31 = 75,9 + (-13,2) = 62,7 mm
Jadi, jumlah penguapan bulan Maret adalah I1-15+ I16-31= 135,0 mm

April
DIK : P1-15= 8,0
H1-15= 74,3
I1-15 = 8,0 +74,3 = 82,3mm
DIK : P16-30 = 121,6
H16-30= -66,6
I16-30 = 121,6 + (-66,6) = 55,0
Jadi, jumlah penguapan bulan April adalah I1-15+I16-30= 137,3mm

Mei
DIK: P1-15 =222,7
H1-15= -123,2
I1-15= 222,7 + (-123,2) = 45,8 mm
DIK : P16-31= 26,5
H16-31= 55,5
I16-31 = 26,5 + 55,5 = 82,0mm
Jadi, penguapan bulan Mei adalah I1-15 + I16-31=45,8 + 82,0 = 127,8 mm

Juni
Dik : P115 = 84,6
H1-15 = -22,6
I1-15= 84,6 + (-22,6) = 62,0
DIK : P16-30 = 129,4
H16-30 = -79,4
I16-30= 129,4 + (-79,4) = 50,0mm

4
Jadi, penguapan bulan Juni adalah I1-15 + I16-30= 62,0 + 50,0 = 112,0mm

Juli
DIK : P1-15= 16,0
H1-15 = 73,5
I1-15= 16,0 + 73,5 =89,5
DIK : P16-31= 63,3
H16-31 = 5,9
I16-31= 63,3 + 5,9 = 69,2
Jadi, penguapan bulan Juli adalah I1-15+ I16-31=89,5 + 69,2 = 158,7mm

Agustus
Dik : P1-15= 17,1
H1-15= 47,4
I1-15 = 17,1 + 47,4 = 64,5
DIK : P16-31 = 18,9
H16-31 = 39,9
I16-31= 18,9 + 39,9 = 58,8
Jadi, penguapan bulan Agustus adalah I1-15+ I16-31 = 64,5 + 58,8 = 123,3mm

September
DIK : P1-15 = 129,7
H1-15 = -60,8
I1-15= 129,7 + (-60,8) = 68,9
DIK : P16-30 = 0,0
H16-30= 87,7
I16-30 = 0,0 + 87,7 = 87,7
Jadi, penguapan pada bulan September adalah I1-15+I16-30= 68,9 + 87,7 =
156,6mm

5
Oktober
Dik : P1-15 = 16,0
H1-15 = 62,2
I1-15 = 16,0 + 62,2 = 78,2
DIK : P16-31 = 30,3
H16-31 = 48,8
I16-31 = 30,3 + 48,8 = 79,1
Jadi, penguapan pada bulan Oktober adalah I1-15 + I16-31 =78,2 + 79,1 =
157,3mm

November
DIK : P1-15 = 25,6
H1-15 = 19,3
I1-15 = 25,6 + 19,3 = 44,9
DIK : P16-30 = 93,5
H16-30= -27,4
I16-30 = 93,5 + (-27,4) = 66,1
Jadi, penguapan pada bulan November adalah I1-15 + I16-30 = 44,9 + 66,1 =
111,0m

Desember
DIK : P1-15=185
H1-15 = -123,2
I1-15 = 185 + (-123,2) = 62,6
DIK : P16-31 = 214,0
H16-31 = -146,5
I16-31= 214,0 + (-146,5) = 67,5
Jadi, penguapan pada bulan Desember adalah I1-15 + I16-31 = 62,6 + 67,5 =
130,1mm.

6
b. Mengukur Kecepatan Angin, dan Mengukur Radiasi Matahari
o Kecepatan angin, dihitung dengan rumus:

VA = ( SP2 SP2) x 100 / 1000


Keterangan :
VA = kecepatan angin (km/hari)
SP1 = pembacaan spedometer ke 1
SP2 = pembacaan spedometer ke 2

Januari Februari
VA = ( SP2 - SP2) x 100 / 1000 VA = ( SP2 SP2) x 100 / 1000
= 12 1 x 100 / 1000 = 14 2 x 100 / 1000
= 1,1 = 1,2

Maret April
VA = ( SP2 - SP2) x 100 / 1000 VA = ( SP2 SP2) x 100 / 1000
= 13 2 x 100 / 1000 = 11 1 x 100 / 1000
= 1,2 = 1

Mei Juni
VA = ( SP2 - SP2) x 100 / 1000 VA = ( SP2 SP2) x 100 / 1000
= 16 1 x 100 / 1000 = 17 2 x 100 / 1000
= 1,5 = 1,5

Juli Agustus
VA = ( SP2 - SP2) x 100 / 1000 VA = ( SP2 SP2) x 100 / 1000
= 12 1 x 100 / 1000 = 20 4 x 100 / 1000
= 1,1 = 1,6

September Oktober

7
VA = ( SP2 - SP2) x 100 / 1000 VA = ( SP2 SP2) x 100 / 1000
= 15 3 x 100 / 1000 = 17 2 x 100 / 1000
= 1,2 = 1,5

November Desember
VA = ( SP2 - SP2) x 100 / 1000 VA = ( SP2 SP2) x 100 / 1000
= 15 2 x 100 / 1000 = 13 2 x 100 / 1000
= 1,3 = 1,1

o Persentase Lamanya Penyinaran Matahari, dihitung dengan rumus :

LPM = n/N x 100 %


Keterangan :
LPM = persentase lama penyinaran matahari (%)
n = lamanya penyinaran matahari (jam)
N = kemungkinan maksimum lamanya penyinaran matahari (jam)

Januari Februari Maret


23,9 23,7 23,6
Lpm = 32,1 100% Lpm = 32,2 100% Lpm = 100%
32,4

= 74,46% = 73,6% = 72,84%

April Mei Juni


23,9 24,4 23,3
Lpm = 100% Lpm = 100% Lpm = 100%
33 32,9 31,9

= 72,42% = 74,16% = 73,04%

Juli Agustus September

8
23,2 22,7 21,4
Lpm = 32,4 100% Lpm = 32,9 100% Lpm = 100%
24,3

= 71,61% = 69% = 88,07%

Oktober November Desember


22,8 23,7 23,3
Lpm = 34,4 100% Lpm = 33,7 100% Lpm = 100%
32,5

= 66,28% = 70,33% = 71,69%

c. Mengukur Jumlah Curah Hujan


Perhitungan Data jumlah curah hujan Melalui Alat Pengukur Curah Hujan
Pada tahun 2009 dan 2010. Rumus jumlah Curah Hujan yaitu :

Chbulanan =

o Tahun 2009

Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009



Chbulnn = 100% Chbulnn = 100% Chbulnn =
30 30

100%
30
20 17 18
= 100% = 100% =
30 30 30

100%
= 66,67% = 56,67 % = 60%

April 2009 Mei 2009 Juni 2009

9

Chbulnn= 100% = 100% =
30 30

100%
30

24 18 14
= 100% = 100% = 100%
30 30 30

= 80% = 60 % = 46,67%

Juli 2009 Agustus 2009 September 2009



Chbulnn = 100% Chbulnn = 100% Chbulnn =
30 30 30
100%
9 3 1
= 100% = 100% = 100%
30 30 30

= 30% = 10 % = 3,33%

Oktober 2009 November 2009 Desember 2009



Chbulnn = 100% Chbulnn = 100% Chbulnn =
30 30 30
100%
9 19 7
= 100% = 100% = 100%
30 30 30

= 30% = 63,33% = 23,33%

o Tahun 2010

Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010



Chbulnn = 100% Chbulnn = 100% Chbulnn =
30 30 30
100%
14 10 6
= 100% = 100% = 100%
30 30 30

= 46,67% = 33,33 % = 20%

April 2010 Mei 2010 Juni 2010



Chbulnn = 100% Chbulnn = 100% Chbulnn =
30 30 30
100%

10
15 19 17
= 100% = 100% = 100%
30 30 30

= 50% = 63,33% = 56,67%


Juli 2010 Agustus 2010

Chbulnn = 100% Chbulnn = 100%
30 30
21 11
= 100% = 100%
30 30

= 70% = 36,67 %

4.2 Pembahasan

Evaporasi

Penguapan ialah proses perubahan air menjadi uap air. Proses ini dapat terjadi
pada setiap permukaan benda pada termperatur diatas 0 K. Ketika air dipanaskan
oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi untuk
melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang
sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfir. Pengukuran Evaporasi menggunakan
alat ukur Pan Evaporimeter.

Arah dan Kacepatan angin serta Intensitas Radiasi Matahari

Pada pengukuran angin ini terdapat dua macam pengukuran yaitu Pengukuran
angin atas dan angin permukaan. Pengukuran angin atas adalah pengukuran arah dan
kecepatan angin pada ketinggian 1000 meter. Pengukuran angin permukaan
merupakan pengukuran arah dan kecepatan angin yang terjadi dipermukaan bumi
dengan ketinggian antara 0.5 sampai 10 meter.

Pengamatan lamanya Penyinaran Matahari menggunakan alat yang


dinamakan Sun Shine Recorder type Cambell Stokes. Alat ini berupa bo;a kaca dan
dibawahnya tepat di titik api dipasangi kertas yang sudah ada skala jamnya. Pada
waktu ada sinar Matahari titik api akan memanasi kertas tadi hingga membuat jejak
gosong yang memanjang. Jejak gosong tersebut menunjukan lama penyinaran

11
Matahari atau jumlah-waktu sinar Matahari sampai ke permukaan karena tidak
terhalang oleh partikel/benda lain seperti awan dsb.

Kelembaban, Suhu, dan Tekanan

Kelembaban adalah konsentrasi uap air di udara. Angka konsentasi ini dapat
diekspresikan dalam kelembapan absolut, kelembapan spesifik atau kelembapan
relatif. Alat untuk mengukur kelembapan disebut higrometer. Sebuah humidistat
digunakan untuk mengatur tingkat kelembapan udara dalam sebuah bangunan dengan
sebuah pengawalembap (dehumidifier). Dapat dianalogikan dengan sebuah
termometer dan termostat untuk suhu udara. Perubahan tekanan sebagian uap air di
udara berhubungan dengan perubahan suhu. Konsentrasi air di udara pada tingkat
permukaan laut dapat mencapai 3% pada 30 C (86 F), dan tidak melebihi 0,5%
pada 0 C (32 F). Kelembaban adalah kadar air dalam udara, sehingga , logikanya
semakin tinggi kelembaban udara otomatis curah hujan akan semakin tinggi. ttapi hal
ini masih dipengaruhi oleh suhu/ temperatur. kalau temperaturnya tinggi tidak akan
terjadi kondensasi air/ pengembunan air. Kalau suhunya rendah (misalnya kurang dari
10 derajat celsius) akan mudah terjadi kondensasi dan terjadi hujan.

Suhu (temperatur) adalah suatu besaran panas yang dirasakan oleh manusia.
Satuan suhu yang biasa digunakan di Indonesia adalah derajat celcius (0C).
Mengingat pentingnya faktor suhu terhadap kehidupan dan aktifitas manusia
menyebabkan pengamatan suhu udara yang dilakukan oleh stasiun meteorologi dan
klimatologi memiliki beberapa kriteria diantaranya:

o Suhu udara permukaan (suhu udara aktual, rata-rata, maksimum dan


minimum).
o Suhu udara di beberapa ketinggian/ lapisan atmosfer (hingga ketinggian 35
Km).
o Suhu tanah di beberapa kedalaman tanah (hingga kedalaman 1 m).
o Suhu permukaan air dan suhu permukaan laut.

12
Tekanan udara dibatasi oleh ruang dan waktu. Artinya pada tempat dan waktu
yang berbeda, besarnya juga berbeda.

Tekanan udara secara vertikal yaitu makin ke atas semakin menurun. Hal ini
dipengaruhi oleh:

o Komposisi gas penyusunnya makin ke atas makin berkurang.

o Sifat udara yang dapat dimampatkan, kekuatan gravitasi makin ke atas makin
lemah.

o Adanya variasi suhu secara vertikal di atas troposfer (>32 km) sehingga
makin tinggi tempat suhu makin naik.

Tekanan udara secara horizontal yaitu variasi tekanan udara dipengaruhi suhu
udara, bahwa daerah yang suhu udaranya tinggi akan bertekanan rendah dan daerah
yang bersuhu udara rendah tekanannya tinggi. Pola penyebaran tekanan udara
horizontal dipengaruhi:

o Lintang tempat.

o Penyebaran daratan dan lautan.

o Pergeseran posisi matahari tahunan.

Intensitas Curah Hujan

Hujan gerimis terbentuk dari awan hangat yang terbuat dari partikel-partikel
air kecil di udara. Partikel-partikel air ini saat jatuh kebumi ada yang menguap dan
ada juga yang cukup besar sehingga membentuk hujan gerimis.

Hujan lebat terjadi bisa juga dari awan hangat. Proses terjadinya dimulai saat
partikel air jatuh kedalam awan dan saling bertabrakan sehingga membentuk tetesan

13
air yang lebih besar. Tetesan air ini saat turun kebumi dapat bergabung dengan
tetesan air lainnya sehingga terjadi lah hujan lebat. Hujan lebat juga bisa terjadi dari
awan dingin. Awan dingin terbentuk dari kristal es dan titik air yang tinggi di angkasa
pada daerah yang beriklim dingin. Uap air yang menempel pada kristal es ini akan
ikut membeku, bila kristal es semakin besar dan berat ia akan jatuh kebumi. udara
yang hangat akan mencairkan kristal es sehingga membentuk hujan yang lebat. Bila
udara yang dilewati kristal es tersebut cukup dingin maka akan terjadi hujan salju.

Ketinggian Suatu Tempat dan Jenis-Jenis Awan

o Ketinggian tempat

Ketinggian suatu tempat dapat diukur dengan menggunakan altimeter.


Altimeter merupakan barograf yang telah dikalibrasi untuk digunakan mengukur
ketinggian tempat. Namun, pada BMG (Badan Meteorologi Geofisika) alat ini tidak
digunakan. Mengapa?? Hal ini dikarenakan ada alat lain yang lebih mudah dan
akurat dalam menghitung ketinggian tempat, yaitu GPS. GPS dapat mengukur
ketinggian suatu tempat secara otomatis. Sehingga lebih memudahkan observer
dalam pengambilan data. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa altimeter
kurang digunakan di lapangan.

GPS merupakan sistem radio navigasi berbasis satelit yang secara terus-
menerus mentransmisikan informasi dalam bentuk kode, sehingga memungkinkan
kita untuk mengidentifikasikan lokasi/posisi, ketinggian, kecepatan dan waktu
dengan mengukur jarak kita dengan satelit.

Sesuai hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat dikatakan bahwa


Gorontalo dikategorikan beriklim ekuatorial atau beriklim panas. Hal ini disebabkan
ketinggian rata-rata kota Gorontalo yang hanya berkisar 18 meter dari permukaan
laut (dpl).

14
o Awan

Awan merupakan kumpulan dari titik-titik air atau kristak es yang


melayang-layang di angkasa dan terbentuk karena adanya proses kondensasai
maupun sublimasi. Dalam atmosfer tetes awan terbentuk pada aerosol yang berfungsi
sebagai inti kondensasi atau inti pengembunan. Kecepatan pembentukan tetes
tersebut ditentukan oleh banyaknya inti kondensasi. Proses dimana tetes air dari fasa
uap terbentuk pada inti kondensasi disebut pengintian heterogen. Adapun
pembentukan tetes air dari fasa uap dalam suatu lingkungan murni yang memerlukan
kondisi sangat jenuh (supersaturation) disebut pengintian homogen. Pengintian
homogen yaitu pembekuan pada air murni hanya akan terjadi pada suhu dibawah -40
00C. Akan tetapi dengan keberadaan aerosol sebagai inti kondensasi maka
pembekuan dapat terjadi pada suhu hanya beberapa derajat dibawah 00C.

Pada umumnya, jenis awan mempengaruhi keadaan iklim, khususnya


iklim di kota Gorontalo. Secara Geografis wilayah Gorontalo terletak memanjang dari
Timur ke Barat di Bagian Utara Pulau Sulawesi. Sebelah Utara berbatasan dengan
Laut Sulawesi kemudian di sebelah timur berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Utara,
sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah, serta di
sebelah Selatan berbatasan dengan TelukTomini. Atau 0, 30' - 1,0' LU dan 121,0' -
123,30' BT, yang diapit oleh Laut Sulawesi di sebelah Utara, Provinsi Sulut di
sebelah Timur, Teluk Tomini di sebelah Selatan, dan Provinsi Sulteng di sebelah
Barat.

Iklim di kota Gorontalo tiap tahun berubah-ubah, catatan statistik untuk


perubahan Iklim Gorontalo setiap bulannya adalah sebagai berikut:

Musim kemarau : Juli - September


Musim penghujan : September - Pebruari
Suhu udara siang hari : 30,9C - 34,0C

15
Suhu udara malam hari : 20,8C - 24,4C
Suhu minimum-maksimum : 23,0C - 31,8C
Kelembaban udara rata-rata : 83%
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari pangukuran yang telah dilakukan, dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu
sebagai berikut :

o Intensitas dari unsur-usur meteorologi dapat diketahui dengan melakukan


suatu pengukuran menggunakan alat ukur meteorolgi.

o Tingkat Evaporasi dipengaruhi oleh temperatur, lamanya penyinaran matahari


dan pergerakan angin.

o Kelembaban udara, Temperatur dan Tekanan udara sangat berpengaruh


terhadap siklus Hidrologi.

o Pembentukan awan yang berbagai jenis menunjukkan tingkat presipitasi dan


perubahan unsur-unsur cuaca lainnya.

o Perubahan Unsur-unsur Cuaca sangat berdampak pada perubahan iklim


termasuk pada daerah Gorontalo.

o Iklim di Gorontalo termasuk pada kategori iklim Ekuatorial, yaitu memiliki


dua puncak musim penghujan pada bulan April-Mei dan September-
November.

5.2Saran

Diharapkan agar pada praktikum-praktikum berikutnya segala sesuatu yang


sangat berkenaan dengan materi-materi pada praktikum dapat dipersiapkan lebih
matang agar kegiatan praktikum dapat berjalan dengan lancar dan baik.

16
DAFTAR PUSTAKA

Asdak, C. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah


Mada University Press : Yogyakarta

Hoesin, Haslizen. 1983. Simulasi Matematis Radiasi Matahari di Indonesia.


LFN-LIP : Bandung

http://2201-oliv.blogspot.com/2008/04/alat-alat-meteorologi.html

http://gurumuda.com/bse/alat-alat-pengukur-cuaca

http://leonheart94.blogspot.com/2010/04/suhu-udara.html

Pitts, D. R., and L. E. Sissom, 2001. Theory and Problems of Heat Transfer.
Second Edition. McGraw-Hill : New York

Soegeng, R. 1996 . Ionosfer . Penerbit Andi Offset, Yogyakarta.

Wikipedia.com, 2008. Energi Surya. Dikutip dari http://www.wikipedia.com.


Diakses tanggal 16 November 2008.[1 page].

Wikipedia.com, 2008. Radiasi Surya.Dikutip dari http://www.wikipedia.com.


Diakses tanggal 16 November 2008.[1 page].