Anda di halaman 1dari 19

EPISTEMOLOGI ISLAM

Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu


Mata Kuliah: Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu: Dr. Muhammad Anis

Disusun Oleh :

Nama : Shinta Nurani


NIM : 1620010080

PROGRAM STUDI INTERDISCIPLINARY ISLAMIC STUDIES


KONSENTRASI HERMENEUTIKA AL-QURAN
PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016

1
BAB I
PENDAHULUAN

Kebenaran ilmu pada hakikatnya bersifat relatif dan sementara karena setiap
kajian ilmu selalu dipengaruhi oleh pilihan atas fokus yang bersifat parsial, selalu
tidak pernah menyeluruh yang meliputi berbagai dimensi dan dipengaruhi oleh
realitas ruang dan waktu yang selalu berubah. Perubahan-perubahan ini tentu akan
berpengaruh pada realitas kebenaran yang ada apalagi jika sandaran ilmu adalah
hasil pemikiran manusia.1 Sebagaimana sandaran ilmu Barat yang kurang
memperhatikan aspek diluar materi tentu akan mengakibatkan ketidakseimbangan
kehidupan. Sandaran tersebut tentu berbeda dengan yang digunakan oleh Islam.
Cara yang dapat dilakukan untuk memahami ilmu pengetahuan yang valid
menurut Islam ialah melalui cara pandang yang holistik dan sistematis dengan
mengetahui epistemologi ilmu melalui pandangan para filosof Muslim.
Adapun yang dimaksud epistemologi ilmu ialah untuk memberikan
kejelasan mengenai persoalan yang berkaitan dengan cara memperoleh
pengetahuan. Oleh sebab itu, epistemologi ilmu berhubungan dengan prosedur
dan proses yang memungkinkan seseorang memperoleh ilmu. Perlu diingat bahwa
indra dan akal bukan satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk menangkap
realitas-realitas nonfisik karena selain akal, manusia juga dikaruniai oleh Tuhan
dengan hati (intuisi) yang bisa digunakan untuk tujuan tersebut. Meskipun indra,
akal, dan hati sama-sama mampu menangkap objek-objek nonfisik, sebenarnya
mereka menggunakan pendekatan dan cara (metode) yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, tulisan sederhana ini akan mengelaborasi lebih lanjut
tentang epistemologi Islam dalam hubungannya dengan epistemologi Barat dan
bagaimana perbedaan antara penggunaan metode yang berbeda-beda dalam
epistemologi Islam.

1
Imam Khanafie Al-Jauharie, Filsafat Islam Pendekatan Tematik, (Pekalongan: STAIN
Pekalongan Press, 2013), hlm. 77

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Epistemologi Islam


Epistemologi dalam bahasa inggris lebih dikenal dengan istilah theory
of knowledge. Epistemologi berasal dari kata episteme yang berarti
pengetahuan dan logos berarti teori atau ilmu. Sedangkan menurut istilah
ulama Arab disebut sebagai nazhariyah al-marifah.2 Lebih rinci, epistemologi
yaitu salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal
tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.3
Sedangkan epistemologi Islam secara terminologi merupakan cabang filsafat
yang membicarakan dasar-dasar pengetahuan, sumber pengetahuan,
karakteristik pengetahuan, ukuran kebenaran pengetahuan serta cara
mendapatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan pemikiran Islam.4
Al-Quran mengakui adanya kemungkinan untuk memperoleh untuk
memperoleh epistemologi. Sebagaimana misalnya dalam al-Quran
mengungkapkan Kisah Nabi Adam as penuh dengan hikmah dan pelajaran
diantara hikmah dan rahasia yang ada dalam kisah itu adalah masalah
kemungkinan untuk memperoleh epistemologi.5 Selain itu, al-Quran secara
tegas juga mengajak keturunan Nabi Adam as pada pengetahuan. Dalam al-
Quran terdapat berbagai perintah dan anjuran untuk memperhatikan, melihat,
dan merenungkan alam semesta sesuai dengan firman ayat-Nya:





Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi. (QS. Yunus:
101).

2
Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik
Epistemologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relefansi Pandangan Dunia, terj.
Muhammad Jawad Bafaqih, (Jakarta: Shadra Press, 2010), hlm. 1.
3
Sudarsono, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, (Jakarta:Rineka Cipta, 2001), hlm.137.
4
Zaprulkhan, Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik, (Jakarta: Rajawali Press, 2014), hlm.
134.
5
Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik
Epistemologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relefansi Pandangan Dunia, hlm.
28.

3
Katakanlah kepada masyarakat untuk melihat (berpikir) dan mengetahui
apa yang ada di langit dan di bumi. Maksud dari ayat ini bahwa al-Quran
hendak menegaskan kepada manusia untuk memahami dan mengetahui apa
yang ada di langit dan di bumi melalui langkah kerja dan teori pengetahuan
yang disebut dengan epistemologi Islam.

B. Perbedaan Epistemologi Islam dengan Epistemologi Barat


Epistemologi Islam berbeda dengan epistemologi Barat. Perbedaan
tersebut diantaranya dalam mendefinisikan ilmu. Dalam epistemologi Barat,
bahwa yang dapat diketahui adalah segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi
secara indrawi yang hanya dibatasi pada bidang-bidang ilmu fisik atau empiris
sedangkan hal lain yang bersifat nonindrawi, nonfisik, dan metafisika tidak
termasuk dalam objek yang dapat diketahui secara ilmiah. Berbeda menurut
epistemologi Islam, ilmu diterapkan dengan sama validnya baik pada ilmu-
ilmu yang fisik-empiris maupun non-fisik atau metafisis. Dalam bukunya
Ihsha Al-Ulum (Klasifikasi Ilmu), Al-Farabi (w. 950 M) memasukkan ke
dalam klasifikasi ilmunya bukan hanya ilmu-ilmu empiris seperti fisika, botani,
mineralogi, dan astronomi melainkan juga ilmu-ilmu nonempiris seperti
konsep-konsep mental dan metafisika.6
Hal di atas berarti, dalam epistemologi Islam berbeda dengan
epistemologi Barat yang telaah meragukan status ontologis untuk objek-objek
metafisik. Ilmuan-ilmuan Muslim memiliki kepercayaan yang kuat terhadap
status ontologis dari bukan hanya objek-objek fisik yang kasat mata, tetapi juga
objek-objek metafisik yang gaib. Walaupun objek-objek metafisik tidak bisa
dilihat indra, tetapi diyakini memiliki status ontologis yang sama nyatanya
dengan objek-objek fisik, bahkan lebih riil daripada objek-objek indra.7
Selain itu, epistemologi Islam sangat berbeda dengan epistemologi Barat
yang hanya mengandalkan empirisme atau rasionalisme tetapi epistemologi

6
Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, (Bandung:
Mizan Pustaka, 2002), hlm. 58.
7
Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius: Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia,
(Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 67.

4
Islam mengakui sumber ilmu tiga sekaligus yaitu indra, akal, intuisi. Masing-
masing sumber tersebut memiliki kadar kemampuan yang berbeda sehingga
mereka tidak bisa dipisah-pisah dan harus digunakan secara proporsional. Indra
penglihatan misalnya, hanya mampu berfungsi pada frekuensi 400-700
nanometer. Indra pendengaran berfungsi pada frekuensi 20-20.000
kilohertz/detik. Disinilah diperlukan akal yang juga mempunyai kemampuan
terbatas.8 Akal dalam menjalankan kinerjanya dibutuhkan peran hati dan
bimbingan wahyu agar apa yang dilakukan dan dipikirkannya menimbulkan
kemaslahatan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan bukan
sebaliknya.
Kebenaran yang dibangun oleh ilmu dalam hukum-hukum ilmu atau
konsep teoritik tidak boleh jatuh di bawah kekuasaan hawa nafsu karena
berdampak pada rusaknya segala sesuatu. Sebagimana firman Allah:






Kalau sekiranya kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, niscaya
binasalah langit dan bumi dan apa-apa yang ada di dalamnya bahkan Kami
telah datangkan kepada mereka peringatan (Al-Quran) tetapi mereka
berpaling dari peringatan itu. (QS. Al-Muminun [23]: 71).
Selain itu, diantara perbedaan epistemologi Barat dan Islam, menurut
para filosof Islam ialah para filosof Barat tidak memisahkan antara induksi dan
eksperimen sedangkan para filosof Muslim memisahkan dua perkara itu dan
keduanya memang jelas harus dipisahkan. Induksi (istiqra) berada pada posisi
prasangka atau dugaan sedangkan eksperimen (ikhtibar, tajribah) berada pada
posisi keyakinan dan argumentatif. Ini berarti terdapat perbedaan antara

8
Adian Husaini, dkk, Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, (Jakarta: Gema Insani,
2013), hlm. 47-48.

5
perasaan biasa (induksi) dengan praktik (eksperimen) dan praktik dalam hal ini
merupakan aktivitas rasio.9
Jika dalam perkembangannya, kajian epistemologi dalam literatur Barat
dapat membuka perspektif baru dalam kajian ilmu pengetahuan yang multi-
dimensional, kecenderungan epistemologi dalam pemikiran Islam lebih tajam
ke wilayah idealisme hati dan rasionalisme dengan juga mempedulikan
masukan-masukan yang diberikan oleh empirisisme.10
Al-Quran mengatakan tentang alam sebagai obyek indrawi (empirisisme)
untuk kepentingan hidup manusia sebagai makhluk yang berpikir untuk
memanfaatkan potensi yang ada di alam secara bijaksana, sebagaimana firman
Allah:







Dan pada pergantian malam dan siang, dan apa-apa yang diturunkan Allah
dari langit berupa rezeki, lalu Dia menghidupkan dengannya bumi seusdah
matinya, dan pada perkisaran angin, menjadi tanda-tanda (kekuasaan Allah)
bagi kaum yang berpikir. (QS. Al-Jatsiyah: 5).

C. Pandangan Filosof Muslim tentang Epistemologi Islam


Dalam dunia pemikiran Muslim, setidaknya ada tiga macam teori
pengetahuan (epistemologi) yang biasa disebut. Pertama, pengetahuan indrawi
(empirisisme), jarang filosof Muslim menggunakan metode ini. Kedua,
pengetahuan rasional dengan tokohnya seperti Al-Farabi, Ibn Bajjah, Ibn
Tufail, Ibn Rusyd, dan lain-lain. Ketiga, pengetahuan kasyf yang diperoleh
lewat ilham.11

9
Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik
Epistemologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relefansi Pandangan Dunia, hlm.
55-56.
10
Musa Asyari, dkk, Filsafat Islam: Kajian Ontologis, Epistemologis, Aksiologis, Historis,
Prospektif, (Yogyakarta: LESFI, 1992), hlm. 35.
11
Musa Asyari, dkk, Filsafat Islam: Kajian Ontologis, Epistemologis, Aksiologis, Historis,
Prospektif, hlm. 36.

6
Pertama, empirisisme yang juga disebut metode observasi (bayani) atau
empiris memiliki tiga proposisi kunci yakni meyakini adanya kebenaran
(objek), manusia diyakini mungkin mengetahui kebenaran itu, sedangkan alat
pengetahuannya berupa indra sebagai tahap pengetahuan lahiriah.12 Jadi
metode empiris merupakan metode melalui pancaindra yang sangat kompeten
untuk mengenal objek-objek fisikal dengan cara mengamatinya. Alat utama
inilah yang memperoleh kesan-kesan dari apa yang ada di alam nyata. Kesan-
kesan tersebut berkumpul dalam diri manusia yang kemudian menyusun dan
mengaturnya menjadi pengetahuan.13 Menurut epistemologi ini, indra
merupakan satu-satunya alat yang dapat menghubungkan antara manusia
dengan dunia luar karena tanpa indra, alam dinilai tidak ada atau
keberadaannya masih samar-samar. Andaikan manusia kehilangan semua indra
maka ia akan kehilangan semua bentuk pengetahuan.14 Jika indra berbuat salah,
ia dapat mengetahui kesalahannya dengan cara eksperimentasi.15
Dalam prinsip ini, epistemologi empirisisme berpendirian bahwa semua
pengetahuan dapat dilacak sampai pada pengalaman indrawi. Apapun yang
tidak dapat dilacak oleh pengalaman indrawi dinilai tidak ada dan hasilnya
bukan pengetahuan. Sedangkan yang menjadi objek pengetahuan indra adalah
benda material yang sifatnya eksternal bagi manusia. Atas dasar itu,
pengetahuan yang benar menurut epistemologi empiris adalah pengetahuan
yang sesuai dengan kenyataan material dan akal tidak memiliki apapun untuk
mengetahui kebenaran kecuali dengan perantara indra sebab tanpa indra
kenyataan tidak dapat diserap oleh akal.16
Adapun ciri-ciri pengetahuan indrawi adalah:

12
Aksin Wijaya, Satu Islam, Ragam Epistemologi: Dari Epistemologi Teosentrisme Ke
Antroposentrisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), hlm. 17.
13
Sirajuddin Zar, Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: Rajawali Press, 2012),
hlm. 7.
14
Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik
Epistemologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relefansi Pandangan Dunia, hlm.
38.
15
Ali Abdul Azhim, Epistemologi dan Aksiologi Ilmu Perspektif al-Quran, terj. Khalilillah
Ahmas Hakim, (Bandung: CV. Rosda, 1989), hlm. 15.
16
Aksin Wijaya, Satu Islam, Ragam Epistemologi: Dari Epistemologi Teosentrisme Ke
Antroposentrisme, hlm. 17-18.

7
a. Bersifat individual dan partikular yang berhubungan dengan tiap-tiap
sesuatu.
b. Pengetahuan indrawi itu lahiriah, tidak dalam, hanya menyaksikan segala
yang sifatnya material seperti telinga mendengar berbagai suara tetapi tidak
secara mendalam.
c. Pengetahuan indrawi bersifat sekarang dan bukan dengan masa lampau atau
akan datang.
d. Jenis pengetahuan indrawi adalah jenis pengetahuan yang berhubungan
dengan suatu kawasan tertentu.17
Para filosof Muslim, pada umumnya mereka umumnya juga ilmuwan
yang menggunakan metode observasi, yaitu pengamatan indrawi terhadap
objek-objek yang ditelitinya. Sebagaimana misalnya Al-kindi yang dikenal
bukan hanya seorang filosof melainkan juga ilmuwan yang menggunakan
metode observasi di laboratorium kimia dan fisika. Demikian juga metode
observasi dilakukan oleh Ibn Haitsam dalam eksperimennya di bidang optik
mengenai cahaya dan teori penglihatan atau vision yang brilian dan hasilnya
diabadikan dalam karya besarnya, Al-Manazhir. Ibn Sina menuliskan hasil
filosofisnya dalam ratusan karya diantaranya Al-Syifa lebih dari lima belas
jilid yang membahas tentang ilmu metafisika, matematika, fisika, dan logika
secara intensif. Adapun karya monumentalnya di bidang kedokteran adalah Al-
Qanun fi Al-Thibb yang membahas bukan saja ilmu kedokteran dan membuat
banyak penelitian termasuk tentang meningitis, cara tersebarnya epidemik, dan
sifat menular tuberkulosis.18
Kedua, metode logis (rasionalisme) atau demonstratif (burhani),
merupakan metode dengan menggunakan akal yang mampu memahami bukan
saja benda-benda indrawi dengan cara mengabstraksi makna universal dari
data-data indrawi, melainkan juga objek-objek non-fisik dengan cara
menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui. Memang

17
Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik
Epistemologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relefansi Pandangan Dunia, hlm.
127-129.
18
Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, hlm. 62.

8
untuk memperoleh data-data dari alam nyata dibutuhkan pancaindra, tetapi
untuk menghubung-hubungkan satu data dengan data lainnya atau untuk
menerjemahkan satu kejadian dengan kejadian lainnya yang terjadi di alam
nyata ini sangat dibutuhkan peran akal. Hal ini karena dalam memperoleh
pengetahuan, manusia memerlukan suatu bentuk pemilahan (tajziah),
penguraian (tahlil), dan penyusunan (tarkib) serta gabungan dari ketiganya
sebagai bentuk aktivitas rasio.19 Andaikan bersandar pada pancaindra semata,
manusia tidak akan mampu menafsirkan proses alamiah yang terjadi di jagad
raya ini. Jadi, akal yang menyusun konsep-konsep rasional yang disebut
dengan pengetahuan.20
Pendapat sebagian besar filosof Muslim kalangan rasionalis menyatakan
bahwa manusia memiliki daya kognitif khusus (special cognitive faculty) yang
disebut sebagai akal (intelect) untuk menadah dan memahami (intellection)
konsep-konsep mental universal, entah konsep tersebut memiliki contoh-
contoh indrawi maupun tidak.21 Selain itu, mereka juga mempercayai bahwa
berbagai aktivitas dan argumentasi rasio ini berlangsung dengan sangat cepat
dan rinci sampai manusia tidak bisa merasakannya.22
Seseorang yang berpegang pada epistemologi rasional meyakini
kebenaran bisa ditemukan oleh akal sebelum adanya pengalaman karena di
dalam akal terdapat ide-ide yang menjadikan seseorang dapat menemukan
kebenaran tanpa harus menghiraukan realitas di luar akal. Epistemologi
rasional, meletakkan pengalaman sebagai perangsang akal dan peneguh
kebenaran yang telah dicapai oleh akal terutama ketika akal menangkap objek.
Hasil tangkapan indra belum dapat dikatakan sebagai pengetahuan sebelum

19
Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik
Epistemologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relefansi Pandangan Dunia, hlm.
40.
20
Harun Nasution, Falsafat Agama, (Jakarta:Bulan Bintang, 1973), hlm. 10-14.
21
M. T. Mishbah Yazdi, Buku Daras Filsafat Islam: Orientasi ke Filsafat Islam
Kontemporer, (Jakarta: Shadra Press, 2010), hlm. 134.
22
Murtadha Muthahhari, Pengantar Epistemologi Islam: Sebuah Pemetaan dan Kritik
Epistemologi Islam atas Paradigma Pengetahuan Ilmiah dan Relefansi Pandangan Dunia, hlm.
139.

9
diolah oleh akal. Hasil kegiatan akal mengolah tangkapan indra manusia ini
kemudian disebut dengan rasionalisme.23
Menurut Laius Gardet dan Anawati yang dikutip oleh A. Khudori Soleh,
kemunculan sistem berpikir rasional dalam Islam disebabkan oleh beberapa
faktor24, yaitu:
a. Didorong oleh munculnya mazhab-mazhab bahasa (nahw) lantaran adanya
kebutuhan untuk bisa memahami ajaran al-quran dengan baik dan benar.
Hal ini karena meskipun al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab, tetapi
tidak semua lafaz-lafaznya bisa dengan mudah dipahami oleh orang-orang
Arab sendiri pada saat itu. Sehubungan dengan ini, maka muncul tiga
mazhab nahwu yakni mazhab Bashrah, mazhab Kufah, dan mazhab
Baghdad.
b. Munculnya mazhab-mazhab fiqh dalam hubungannya dengan metode
rasional adalah tempat yang diduduki logika dalam perdebatan-perdebatan
fiqhiyah setidaknya pada lingkungan pendukung ahlu al-rayi.
c. Penerjemahan buku-buku Yunani kuno. Usaha penerjemahan ini sebenarnya
telah dilakukan sejak zaman Bani Umayyah, tetapi baru benar-benar
dilakukan secara serius dan besar-besaran pada masa Bani Abasyiyah awal
yakni masa Al-Mamun (813-833 M).
Metode rasionalisme atau burhani semakin berkembang menjadi salah
satu sistem pemikiran Arab Islam. Al-Razi (865-925 M), tokoh yang dikenal
sebagai rasionalis Islam yang telah menempatkan metode rasional sebagai
dasar penalaran, bahkan satu-satunya pertimbangan kebenaran yang dapat
diterima, sekaligus menilainya sebagai substansi manusia. Oleh karena itu, dia
menyatakan bahwa semua pengetahuan pada prinsipnya dapat diperoleh
manusia selama ia menjadi manusia dan akal yang menjadi hakikat
kemanusiaan. Pada konteks tersebut, akal adalah satu-satunya sarana untuk
memperoleh pengetahuan tentang dunia fisik dan konsep baik buruk. Setiap

23
Aksin Wijaya, Satu Islam, Ragam Epistemologi: Dari Epistemologi Teosentrisme Ke
Antroposentrisme, hlm. 16-17.
24
A. Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004),
hlm. 21-24.

10
sumber pengetahuan lain yang bukan akal hanya omong kosong, dugaan
belaka, dan kebohongan.25
Posisi burhani tersebut dikuatkan oleh al-Farabi (870-950 M). Filsuf
yang digelari sebagai guru kedua (al-muallim al-tsani) setelah Aristoteles
(384-322 SM) sebagai guru pertama (al-muallim al-awwal) karena jasa dan
pengaruhnya yang besar dalam filsafat Islam setelah Aristoteles, menempatkan
burhani sebagai metode paling baik dan unggul sehingga ilmu-ilmu filsafat
yang memakai metode burhani dinilai lebih tinggi kedudukannya.26
Pada fase-fase berikutnya, prinsip metode burhani telah digunakan tidak
hanya oleh kaum filsuf, tetapip juga oleh para fuqaha seperti Al-Jahizh (781-
868 M) dan Al-Syathibi (1336-1388 M), juga kalangan sufi falsafi seperti
Suhrawadi (1153-1191 M) dan Ibn Arabi (1165-1240 M).27
Ketiga, intuisionalisme atau yang disebut metode intuitif (irfani)
merupakan metode yang mengungkapkan bahwa hati berperan untuk
menangkap objek-objek non-fisik atau metafisika melalui kontak langsung dan
objek-objeknya yang hadir dalam jiwa seseorang. Pendekatan intuitif (dzauqi)
disebut pendekatan presensial karena objek-objek hadir (present) dalam jiwa
seseorang dan karena itu modus ilmu disebut ilmu hudhuri (knowledge by
presence). Oleh karena objek-objek yang ditelitinya hadir dalam jiwa, kita bisa
mengalami dan merasakannya, dan dari sini istilah dzauqi (rasa) timbul.28
Metode irfani sesungguhnya berasal dari sumber Islam sendiri tetapi dalam
perkembangannya juga terdapat pengaruh dari luar, Yunani, Kristen, Hindu,
ataupun yang lain.29 Metode irfani berkaitan dengan pengetahuan yang
diperoleh secara langsung dari Tuhan (kasyf) melalui olah rohani (riyadhah)
yang dilakukan atas dasar hub (cinta) atau iradah (kemauan yang kuat).
Aliran intusionalisme inilah yang berasal dari rasio untuk menempatkan
diri pada suatu objek dalam rangka menemukan sebuah hasil yang tidak biasa.

25
Khudori Soleh, Filsafat Islam: Dari Klasik hingga Kontemporer, (Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2013), hlm. 278.
26
Osman Bakar, Hierarki Ilmu, terj. Purwanto, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 107.
27
Khudori Soleh, Filsafat Islam: Dari Klasik hingga Kontemporer, hlm. 279.
28
Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, hlm. 65.
29
A. Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, hlm. 198-199.

11
Dengan berfikir secara intuitif maka berarti berpikir dalam durasi yang
dipahami sebagai waktu yang berkelanjutan dan bukan waktu yang
terspesialisasi. Mengenai sumber-sumber pengetahuan dalam bahasan
epistemologi, para ilmuwan menganggap bahwa realitas tidak terbatas hanya
pada realitas yang bersifat fisik tetapi juga mengakui adanya realitas yang
bersifat nonfisik atau metafisik yang menggunakan metode intuitif atau irfan
dengan menggunakan hati untuk memahami secara langsung realitas metafisis
yang bersifat hudluri dalam jiwa manusia dan menghasilkan pengetahuan
mistik30.
Dalam kaitannya dengan pengetahuan mistik, pengetahuan ini
merupakan metode yang paling khas karena beberapa alasan.
Pertama, pengetahun intuitif dicapai melalui pengalaman atau merasakan
secara langsung objeknya. Dalam hal ini, metode intuitif (irfaniah) dapat
disebut juga metode dzauqi (rasa), bukan melalui penalaran. Sebagaimana
misalnya, seseorang tidak akan memahami hakikat cinta semata-mata hanya
dengan membaca literatur tentang cinta, tetapi dengan mengalaminya, cinta
tidak dapat dipahami melalui akal, tetapi lewat hati.
Kedua, sifat langsung pengetahuan intuitif bisa dilihat dari apa yang
disebut ilmu hudhuri, yakni hadirnya objek di dalam diri subjek. Berbeda
dengan rasio yang memahami objeknya lewat simbol-simbol, intuisi
melampaui segala bentuk simbol dan menembus sampai ke jantung objeknya.
Singkatnya, pengetahuan akli merupakan pengetahuan mengenai (knowledge
about) yakni pengetahuan diskursif atau simbolis yang mengunakan perantara.
Sedangkan pengetahuan qalbi merupakan pengetahuan tentang (knowledge of)
yaitu pengetahuan intuitif yang bersifat langsung sehingga dapat memperoleh
pengetahuan yang mutlak, langsung, dan bukan pengetahuan yang nisbi atau
yang ada perantaranya.31
Ketiga, metode intuitif mampu menembus langsung pengalaman
eksistensial, pengalaman riil manusia yang berhubungan dengan hati dan

30
Ayi Sofyan, Kapita Selekta Filsafat, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 219-220.
31
Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargono, (Yogyakarta: Tiara
Wacana, 2004), hlm. 141.

12
perasaan, bukan sebagaimana yang dikonsepsikan akal. Kalbu mampu
menangkap objek secara utuh. Kualitas ini sangat berbeda dengan akal yang
selalu memilah-milah dan meruang-ruangkan (spatialize) segala sesuatu
termasuk ruang dan waktu.32
Metode intuitif adalah metode yang menekankan pada pengalaman yang
unik dan berbeda dengan persepsi serta pikiran. Intuisi masuk ke dalam diri
sebagai sebuah realitas yang bukan dijangkau oleh persepsi dan pikiran.
Adapun ciri-ciri metode intuitif yaitu:
a. Intuisi adalah suatu pengalaman singkat (immediate experience) tentang
Yang Nyata. Realitas yang sebenarnya masuk melalui diri kita dalam
pengalaman ini. Intuisi adalah pemahaman langsung terhadap realitas secara
keseluruhan.
b. Intuisi adalah khas milik hati. Intuisi pada dasarnya tidak dapat
dikomunikasikan karena intuisi adalah perasaan yang bersifat personal,
tidak dapat diramalkan, dan perasaan tersebut tidak dapat disampaikan
kepada orang lain.
c. Intuisi adalah keseluruhan yang tidak teranalisa. Di dalam intuisi terdapat
keseluruhan realitas yang berada dalam satu kesatuan yang tidak dapat
dibagi-bagi.33
d. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses yang
sistematis dan tertentu.34
Selanjutnya, jika ditinjau secara metodologis, metode irfani setidaknya
diperoleh melalui tiga tahapan yakni persiapan, penerimaan, dan pengungkapan
baik dengan lisan maupun dengan tulisan. Tahap persiapan berarti seseorang
harus menyelesaikan jenjang tahapan yang harus dijalani yang berangkat dari
tingkatan dasar menuju puncak saat qalbu telah menjadi netral dan jernih
melalui fase taubat, wara, zuhud, faqir, sabar, tawakkal, dan ridla. Tahap
penerimaan, seseorang akan mendapatkan realitas kesadaran diri (kasyf)
sehingga kesadaran ini ia mampu melihat realitas dirinya sendiri (musyahadah)

32
Zaprulkhan, Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik, hlm. 137.
33
Ishrat Hassan Enver, Metafisika Iqbal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 23-28.
34
Imam Khanafie Al-Jauharie, Filsafat Islam Pendekatan Tematik, hlm. 78.

13
sebagai objek yang diketahui begitu pula sebaliknya (ittihad). Tahap
pengungkapan, dimana pengalaman mistik diinterpretasikan dan diungkapkan
kepada orang lain lewat ucapan atau tulisan.35
Metode intuisionalisme atau irfaniah secara global dapat dijelaskan
secara rinci melalui tiga tahapan berikut. Pertama, takhalli, yakni berusaha
sekuat mungkin untuk menjauhkan diri dari maksiat, baik maksiat eksternal
(lahiriah) maupun internal (batiniah). Maksiat lahiriah seperti mencuri, menipu,
berzina, berjudi, minum khamr, dan sebagainya. Sementara maksiat batiniah
yaitu ujub, riya, dengki, hubbud dunia, takabbur, dan lainnya atau disebut juga
dengan sifat-sifat hewani dan syaithoni.
Kedua, tahalli, yaitu menghiasi diri (mengamalkan) dengan sifat-sifat
yang mulia dan terpuji seperti tawadlu, lapang dada, sabar, syukur, wara,
tawakal, dan sebagainya. Ilustrasinya, ibarat pakaian tugas takhalli adalah
mencuci pakaian tersebut, sampai bersih dari segala noda dan kotorannya.
Sedangkan tugas tahalli adalah menjemur, memberi kanji agar lembut, dan
menghiasinya agar menjadi indah.
Kedua langkah tersebut harus dipraktikkan secara tertib, takhalli diikuti
tahalli, tidak boleh sebaliknya. Dalam konteks ini, jika tahapan-tahapan yang
dilalui sudah sempurna, maka akan tercapai apa yang disebut tajalli.
Ketersingkapan fenomena alam malakut dan spiritual melalui indra rohaniah
(bashirah), sehingga orang yang melaksanakannya akan menemukan jawaban
batiniah terhadap persoalan-persoalan kehidupan yang dihadapinya.36
Pengetahuan irfani inilah yang disebut sebagai pengetahuan yang
dihadirkan (ilm hudluri) yang berbeda dengan pengetahuan rasional dan
empiris yang disebut sebagai pengetahuan yang dicari (ilm muktasab)37 atau
dalam perspektif Henri Bergson, pengetahuan irfani diistilahkan sebagai
pengetahuan tentang (knowledge of) sebuah pengetahuan intuitif yang
diperoleh secara langsung dan berbeda dengan pengetahuan mengenai

35
A. Khudori Soleh, Wacana Baru Filsafat Islam, hlm. 204-207.
36
Zaprulkhan, Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik, hlm. 138-139.
37
Khudori Soleh, Filsafat Islam: Dari Klasik hingga Kontemporer, hlm. 254.

14
(knowledge about), sebuah pengetahuan diskursif yang diperoleh lewat
perantara baik indra ataupun rasio.38

Dengan demikian, dapat disimpulkan terdapat tiga cara atau metode


dalam epistemologi Islam untuk menangkap atau mengetahui objek-objek
ilmu.39
Pertama, melalui indra yang sangat kompeten untuk mengenal objek-
objek fisik alam materi dengan cara mengamatinya. Persepsi indrawi meliputi
yang lima yaitu indra pendengar, pelihat, perasa, penyium, penyentuh), plus
indra keenam yang disebut al-hiss al-musytarak atau sensus communis yang
menyertakan daya ingatan atau memori (dhakirah), daya penggambaran
(khayal) atau imajinasi, dan daya estimasi (wahm).
Kedua, dengan qiyas (silogisme) atau burhan (demonstrasi) sebagai suatu
bentuk praktik yang dilakukan oleh rasio manusia. Rasio yang mampu
mengenal bukan saja benda-benda indrawi dengan cara mengabstraksi makna
universal dari data-data indrawi, melainkan juga objek-objek nonfisik
(maqulat) dengan cara menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang
tidak diketahuinya. Proses akal tersebut mencakup nalar (nazar) dan alur pikir
(fikr). Dengan nalar dan alur pikir, manusia dapat berartikulasi, menyusun
proposisi, menyatakan pendapat, melakukan analogi, membuat putusan dan
menarik kesimpulan.
Ketiga, hati (qalbu) yang mampu menangkap objek-objek nonfisik atau
metafisik melalui kontak langsung dengan objek-objek yang hadir dalam jiwa
seseorang melalui penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs) agar dapat menangkap
pesan-pesan gaib, isyarat-isyarat Ilahi, menerima ilham, kasyf, dan lainnya.40
Allah mengecam keras orang-orang yang tidak menggunakan segala
potensinya untuk berpikir dan meraih ilmu sehingga dengan ilmu itu mereka
meraih hidayah. Orang-orang seperti ini dalam al-Quran disamakan dengan
binatang ternak, sebagaimana firman Allah:

38
Louis Kattsoff, Pengantar Filsafat, hlm. 144-145.
39
Mulyadhi Kartanegara, Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat Islam, hlm. 66.
40
Adian Husaini, dkk, Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam, hlm. 114-115.

15





Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari
jin dan manusia, mereka mempunyai qalb tetapi tidak untuk memahami (ayat-
ayat Allah), dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mempergunakannya
untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga
(tetapi tidak) digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai
binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang
yang lalai. (QS. Al-Araf: 179).
Dalam ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Allah memberikan kepada
manusia mata, telinga, dan hati untuk dipergunakan sebagaimana mestinya
sesuai dengan kapasitasnya msing-masing. Hal ini berarti indra, akal untuk
berpikir, dan hati merupakan alat epistemologi Islam. Secara metaforis,
manusia laksana instrumental radio yang mampu menerima berbagai
gelombang. Siaran empiris diterima dan dipahami dengan menggunakan alat
indra. Sedangkan siaran yang tidak empiris tetapi rasional, diterima dan
dipahami melalui akal rasional yang bekerja secara logis. Siaran-siaran yang
amat rendah frekuensinya yang tidak sanggup diterima oleh indra dan akal
rasional, maka dapat ditangkap oleh kalbu (rasa).41

41
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu, (Bandung: Rosdakarya, 2004), hlm. 118.

16
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Epistemologi menurut istilah ulama Arab disebut sebagai nazhariyah al-


marifah. Secara terminologi epistemologi Islam merupakan cabang filsafat
yang membicarakan dasar-dasar pengetahuan, sumber pengetahuan,
karakteristik pengetahuan, ukuran kebenaran pengetahuan serta cara
mendapatkan pengetahuan berdasarkan perkembangan pemikiran Islam.
Epistemologi Islam berbeda dengan epistemologi Barat. Perbedaan
tersebut diantaranya dalam mendefinisikan ilmu dan memandang objek secara
keseluruhan. Epistemologi Barat menganggap yang dapat diketahui adalah
segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi secara indrawi yang hanya dibatasi
pada bidang-bidang ilmu fisik atau empiris sedangkan epistemologi Islam
memandang terdapat objek indrawi maupun metafisik dan mengakui sumber
ilmu tiga sekaligus yaitu indra, akal, intuisi. Masing-masing sumber tersebut
memiliki kadar kemampuan yang berbeda sehingga mereka tidak bisa dipisah-
pisah dan harus digunakan secara proporsional.
Tiga dalam epistemologi Islam untuk mengetahui objek-objek ilmu yaitu
empirisisme melalui indra yang sangat kompeten untuk mengenal objek-objek
fisik alam materi dengan cara mengamatinya, rasionalisme yang mampu
mengabstraksi makna universal dari data-data indrawi dan objek-objek
nonfisik, intuisionisme melalui hati (qalbu) yang mampu menangkap objek-
objek nonfisik atau metafisik melalui kontak langsung dengan objek-objek
yang hadir dalam jiwa seseorang melalui penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs).

17
B. Daftar Pustaka

A. Khudori Soleh. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.
_______________. 2013. Filsafat Islam: Dari Klasik hingga Kontemporer.
Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Al-Jauharie, Imam Khanafie. 2013. Filsafat Islam Pendekatan Tematik.
Pekalongan: STAIN Pekalongan Press.
Asyari, Musa dkk. 1992. Filsafat Islam: Kajian Ontologis, Epistemologis,
Aksiologis, Historis, Prospektif. Yogyakarta: LESFI.
Bakar, Osman. 1997. Hierarki Ilmu. Diterjemahkan Oleh Purwanto. Bandung:
Mizan.
Enver, Ishrat Hassan. 2004. Metafisika Iqbal. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.Sofyan, Ayi. 2010. Kapita Selekta Filsafat. Bandung: CV Pustaka
Setia.
Husaini, Adian dkk. 2013. Filsafat Ilmu Perspektif Barat dan Islam. Jakarta:
Gema Insani.
Kartanegara, Mulyadhi. 2002. Menembus Batas Waktu: Panorama Filsafat
Islam. Bandung: Mizan Pustaka.
___________________. 2007. Nalar Religius: Memahami Hakikat Tuhan,
Alam, dan Manusia. Jakarta: Erlangga.
Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargono.
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Muthahhari, Murtadha. 2010. Pengantar Epistemologi Islam: Sebuah
Pemetaan dan Kritik Epistemologi Islam atas Paradigma Pengetahuan
Ilmiah dan Relefansi Pandangan Dunia. Diterjemahkan Oleh Muhammad
Jawad Bafaqih. Jakarta: Shadra Press.
Nasution, Harun. 1973. Falsafat Agama. Jakarta: Bulan Bintang.
Sudarsono. 2001. Ilmu Filsafat Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.
Tafsir, Ahmad. 2004. Filsafat Ilmu. Bandung: Rosdakarya.
Wijaya, Aksin. 2014. Satu Islam, Ragam Epistemologi: Dari Epistemologi
Teosentrisme Ke Antroposentrisme. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

18
Yazdi, M. T. Mishbah. 2010. Buku Daras Filsafat Islam: Orientasi ke Filsafat
Islam Kontemporer. Jakarta: Shadra Press.
Zaprulkhan. 2014. Filsafat Islam: Sebuah Kajian Tematik. Jakarta: Rajawali
Press.
Zar, Sirajuddin. 2012. Filsafat Islam: Filosof dan Filsafatnya. Jakarta:
Rajawali Press.

19