Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH WAWASAN SOSIAL BUDAYA DASAR

KONSEP KELUARGA SEBAGAI


ANGGOTA MASYARAKAT

DISUSUN OLEH
KELOMPOK V
YUACIN MANDA
ADRIA ODE
DWI REZKI
MUTIA
FIFIN
YOSAFAT K.T.S

PROGRAM STUDI MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS ANDI DJEMMA PALOPO
2017
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penyusun ucapkan kepada Allah SWT karena


atas berkat dan ridho-Nya lah makalah ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya. Makalah dengan judul KONSEP KELUARGA SEBAGAI
ANGGOTA MASYARAKAT ini disusun untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Wawasan Sosial Budaya Dasar.
Penyusun juga menyampaikan rasa terimakasih kepada seluruh
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, khususnya
kepada kedua orang tua dan dosen Pengampu.
Makalah ini di harapkan dapat bermanfaat dan berguna pada saat
ini ataupun di kemudian hari. Penyusun menyadari masih adanya
kekurangan dalam penyusunan makalah ini, mudah-mudahan dengan
adanya kekurangan tersebut penulis ataupun pembaca dapat
memperbaikinya dengan memberikan kritik dan saran sehingga akan ada
kemajuan yang lebih baik dari sebelumnya.

Palopo, Desember 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................


Daftar Isi ........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................
A. Latar Belakang ..........................................................................................
B. Rumusan Masalah ....................................................................................
C. Tujuan .......................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................


A.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, orang begitu sering membicarakan soal


kebudayaan, juga dalam kehidupan sehari-hari, orang tidak mungkin tidak
berurusan dengan hasil-hasil kebudayaan. Kebudayaan sangat erat
hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw
Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam
masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu
sendiri.
Masyarakat dipahami sebagai suatu keluarga tetapi keluarga yang besar.
Landasan utama suatu keluarga ialah kasih sayang di antara para anggotanya.
Hidup bermasyarakat haruslah dilandasi oleh kasih sayang dengan mewujudkan
dan senantiasa menjaga kerukunan. Kerukunan merupakan tiang utama
kehidupan kemasyarakatan, karena kerukunan memberikan kekuatan,
sedangkan pertikaian membicarakan mendatangkan kehancuran. Apabila timbul
persoalan di antara anggota masyarakat, maka harus diselesaikan sebaik-
baiknya dengan bermusyawarah secara kekeluargaan), karena masyarakat itu
sejatinya merupakan suatu keluarga besar. Kedudukan dan fungsi suatu
keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Keluarga
pada hakekatnya merupakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya,
terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab
orangtuanya.
Dengan demikian fungsi budaya akan sangat berarti peranannya apabila
fungsi keluarga dapat di jalankan dengan baik, sebab di dalam suatu keluarga
akan di tanamkan bagaimana cara bersosialisasi,mencintai budaya bangsa,
sehingga bila kelak sudah bermasyrakat telah mengenal beragamnya budaya,
maupun adat istiadat di Tanah Air dari sabang hingga merauke. Penyusunan
naskah tulisan ini akan berbicara jauh mengenai peranan keluarga dalam
kehidupan masyarakat berbudaya. Istilah budaya atau kebudayaan memiliki
cakupan makna yang amat luas, karena pada hakikatnya kebudayaan
merupakan seluruh aktivitas manusia, baik yang bersifat lahiriah maupun
batiniah.
Memahami aktivitas manusia sebagai makhluk sosio-kultural berarti
melahirkan tuntutan untuk memahami sistem atau konfigurasi nilai-nilai yang
dipegang oleh manusia, karena cara berpikir, cara berekspresi, cara berperilaku,
dan hasil tindakan manusia pada dasarnya bukan hanya sekadar reaksi spontan
atas situasi objektif yang menggejala di sekitarnya, melainkan jauh lebih dalam
dikerangkai oleh suatu sistem atau tata nilai tertentu yang berlaku dalam suatu
kebudayaan. Suatu tata nilai budaya tertentu tidak selalu terumuskan secara
eksplisit dan sistematik, namun biasanya diam-diam telah bersemayam dalam
kesadaran kolektif masyarakat bersangkutan. Sistem nilai yang dimaksud
biasanya meresap dan menggejala dalam ide-ide, gagasan-gagasan, bahkan
keyakinan-keyakinan tertentu yang menjadi kerangka penuntun cara berpikir
sekaligus isi pikiran, yang pada gilirannya terekspresikan dalam pola perilaku dan
hasil-hasilnya yang kongkrit dalam kehidupan.

B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah kami ini adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan Keluarga ?
2. Bagaimana konsep keluarga Indonesia dan apa saja peranannya?
3. Apa saja fungsi Keluarga ?
4. Bagaimana Fungsi keluarga sebagai Anggota Masyarakat?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan daripada penyusunan makalah kami ini adalah :
1. Untuk mengetahui makna daripada Keluarga
2. Untuk memahami konsep keluarga Indonesia dan peranannya.
3. Untuk mengetahui fungsi keluarga
4. Untuk memahami Fungsi keluarga sebagai Anggota Masyarakat
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua
atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah
tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing
dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan.
Berdasar Undang-Undang 52 tahun 2009 tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Bab I pasal 1 ayat 6
pengertian Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri
dari suami istri; atau suami, istri dan anaknya; atau ayah dan anaknya
(duda), atau ibu dan anaknya (janda).

B. Jenis Keluarga
Ada beberapa jenis keluarga, yakni:
Keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak.
Keluarga konjugal yang terdiri dari pasangan dewasa (ibu dan
ayah) dan anak mereka yang terdapat interaksi dengan kerabat
dari salah satu atau dua pihak orang tua.
Keluarga luas yang ditarik atas dasar garis keturunan di atas
keluarga aslinya. Keluarga luas meliputi hubungan antara paman,
bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.

Keluarga inti atau disebut juga dengan keluarga batih ialah yang terdiri
atas ayah, ibu, dan anak. Keluarga inti merupakan bagian dari lembaga
sosial yang ada pada masyarakat. Bagi masyarakat primitif yang mata
pencahariaannya adalah berburu dan bertani, keluarga sudah merupakan
struktur yang cukup memadai untuk menangani produksi dan konsumsi.
Keluarga merupakan lembaga sosial dasar dari mana semua lembaga
lainnya berkembang karena kebudayaan yang makin kompleks
menjadikan lembaga-lembaga itu penting.

C. Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar
pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan
situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan
dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat dalam keluarga adalah sebagai
berikut:
1. Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya, berperan
sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman,
sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya
serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota
masyarakat dari lingkungannya.
2. Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peran
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-
anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, di
samping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan
dalam keluarganya.
3. Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat
perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
D. Tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai
berikut:
Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
Pembagian tugas masing - masing anggotanya sesuai dengan
kedudukannya masing-masing.
Sosialisasi antar anggota keluarga.
Pengaturan jumlah anggota keluarga.
Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang
lebih luas.
Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

E. Fungsi Keluarga
Fungsi yang dijalankan keluarga adalah:
Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan
menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan
masa depan anak.
Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga
mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi
anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa
aman.
Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif
merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain
dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota
keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam
menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan
dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala
keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini
dan kehidupan lain setelah dunia.
Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari
penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga
dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang
menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama,
bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan
keturunan sebagai generasi selanjutnya.
Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman di antara
keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota
keluarga.

F. Bentuk Keluarga
Ada dua macam bentuk keluarga dilihat dari bagaimana keputusan
diambil, yaitu berdasarkan lokasi dan berdasarkan pola otoritas
1. Berdasarkan Lokasi
Adat Utrolokal, yaitu adat yang memberi kebebasan kepada
sepasang suami istri untuk memilih tempat tinggal, baik itu di
sekitar kediaman kaum kerabat suami ataupun di sekitar
kediamanan kaum kerabat istri;
Adat Virilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami
istri diharuskan menetap di sekitar pusat kediaman kaum kerabat
suami;
Adat Uxurilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang
suami istri harus tinggal di sekitar kediaman kaum kerabat istri;
Adat Bilokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang suami
istri dapat tinggal di sekitar pusat kediaman kerabat suami pada
masa tertentu, dan di sekitar pusat kediaman kaum kerabat istri
pada masa tertentu pula (bergantian);
Adat Neolokal, yaitu adat yang menentukan bahwa sepasang
suami istri dapat menempati tempat yang baru, dalam arti kata
tidak berkelompok bersama kaum kerabat suami maupun istri;
Adat Avunkulokal, yaitu adat yang mengharuskan sepasang suami
istri untuk menetap di sekitar tempat kediaman saudara laki-laki ibu
(avunculus) dari pihak suami;
Adat Natalokal, yaitu adat yang menentukan bahwa suami dan istri
masing-masing hidup terpisah, dan masing-masing dari mereka
juga tinggal di sekitar pusat kaum kerabatnya sendiri .

2. Berdasarkan Pola Otoritas


Patriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh laki-laki
(laki-laki tertua, umumnya ayah)
Matriarkal, yakni otoritas di dalam keluarga dimiliki oleh perempuan
(perempuan tertua, umumnya ibu)
Equalitarian, yakni suami dan istri berbagi otoritas secara
seimbang.

G. Subsistem Sosial

Terdapat tiga jenis subsistem dalam keluarga, yakni subsistem


suami-istri, subsistem orang tua-anak, dan subsitem sibling (kakak-adik). [8]
Subsistem suami-istri terdiri dari seorang laki-laki dan perempuan yang
hidup bersama dengan tujuan eksplisit dalam membangun keluarga.
Pasangan ini menyediakan dukungan mutual satu dengan yang lain dan
membangun sebuah ikatan yang melindungi subsistem tersebut dari
gangguan yang ditimbulkan oleh kepentingan maupun kebutuhan darti
subsistem-subsistem lain. Subsistem orang tua-anak terbentuk sejak
kelahiran seorang anak dalam keluarga, subsistem ini meliputi transfer
nilai dan pengetahuan dan pengenalan akan tanggungjawab terkait
dengan relasi orang tua dan anak.
H. Keluarga Sejahtera

Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat terdiri atas suami-


istri atau suami-istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya atau ibu dan
anaknya. Keluarga sejahtera adalah dibentuk berdasarkan perkawinan
yang sah mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang
layak, bertakwa kepada tuhan yang maha esa,memiliki hubungan yang
sama, selaras, seimbang antara anggota keluarga dengan masyarakat
dan lingkungan.

I. Tahapan Keluarga
Keluarga Pra Sejahtera
Keluarga-keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara
minimal seperti pengajaran, agama, sandang, pangan, papan, kesehatan.
Keluarga Sejahtera Tahap 1
Keluarga dapat memenuhi kebutuhan dasar secara minimal ( sesuai
kebutuha ndasar pada keluarga pra sejahtera) tetapi belum dapat
memenuhi keseluruhan kebutuhan sosial psikologis keluarga seperti
pendidkan, KB, interaksi dalamkeluarga, interaksi dengan lingkungan
Keluarga Sejahtera Tahap 2
Keluarga-keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan dasar, kebutuhan
psikologis tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan perkembangan
(menabung dan memperoleh informasi).
Keluarga Sejahtera Tahap 3
Keluarga-keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan pada tahapan
keluarga 1 dan 2 namun belum dapat memberikan sumbangan
(kontribusi) maksimal terhadap masyarakat dan berperan secara aktif
dalam masyarakat.
Keluarga Sejahtera Tahap 3 Plus
Keluarga-keluarga yang dapat memenuhi kebutuhan semua kebutuhan
keluarga pada tahap 1 sampai dengan 3. Pelaksanaan pembangunan
dalam keluarga sejahtera. Dalam PP No. 21 Th 1994, pasal 2:
pembangunan keluarga sejahtera diwujudkan melalui pengembangan
kualitas keluarga diselenggarakan secaramenyeluruh, terpadu oleh
masyarakat dan keluarga.Tujuan Mewujudkan keluarga kecil bahagia,
dejahtera bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, produktif, mandiri dan
memiliki kemampuan untuk membangun dirisendiri dan lingkungannya.

J. Pokok-pokok Kegiatan Pembangunan Keluarga Sejahtera


Pembinaan ketahanan fisik keluarga
keluargaKegiatan-kegiatan yang bersifat meningkatkan ketahanan fisik
keluarga.Contoh : pembinaan gizi keluarga termasuk gizi ibu hamil,
stimulasi pertumbuhanbalita, pembinaan kesehatan lingkungan keluarga,
usaha tanaman obat keluarga,dan lain-lain.
Pembinaan ketahanan non fisik keluarga
Kegiatan-kegiatan yang bersifat meningkatkan ketahanan non fisik
keluarga.Contoh : pembinaan kesehatan mental keluarga, stimulasi
perkembangan balita,konseling keluarga, dan lain-lain.

K. Pembinaan Keluarga Sejahtera


Pembinaan Keluarga Sejahtera Dalam Aspek Agama, Pendidikan,
Sosial, Budaya,dan Ekonomi.
Aspek Agama
Agama memiliki peran penting dalam membina keluarga sejahtera.
Agama yangmerupakan jawaban dan penyelesaian terhadap fungsi
kehidupan manusia adalah ajaranatau system yang mengatur tata
keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada TuhanYang Maha Esa
serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia
danmanusia serta lingkungannya. Oleh karena itu, sebuah keluarga
haruslah memiliki danberpegang pada suatu agama yang diyakininya agar
pembinaan keluarga sejahtera dapat terwujud sejalan dengan apa yang
diajarkan oleh agama
Aspek Pendidikan
Pendidikan keluarga sangat penting namun seringkali dianggap
tidak penting.Etika yang benar harus diajarkan kepada anak semenjak
kecil, sehingga ketika seoranganak menjadi dewasa, ia akan berperilaku
baik. Tentu saja perilaku orang tua juga harusbaik dan benar sebagai
contoh untuk anaknya. Jikalau semenjak kecil seorang anak diajarkan
dengan baik dan benar maka keluarga tersebut akan harmonis. Dan
seandainya setiap keluarga mengajarkan nilai-nilai etika yang benar maka
semua manusia akan hidupberdampingan dan damai. Keluarga
merupakan wahana pertama dan utama dalam pendidikan karakter
anak.Apabila keluarga gagal melakukan pendidikan karakter pada anak-
anaknya, maka akansulit bagi institusi-institusi lain di luar keluarga
(sekolah) untuk memperbaikinya.Kegagalan keluarga dalam membentuk
karakter anak akan berakibat pada tumbuhnyamasyarakat yang tidak
berkarakter. Oleh karena itu, setiap keluarga harus memilkikesadaran
bahwa karakter bangsa sangat tergantung pada pendidikan karakter anak
dirumah.Keberhasilan keluarga dalam menanamkan nilai-nilai kebajikan
(karakter) pada anak sangat tergantung pada jenis pola asuh yang
diterapkan orang tua pada anaknya. Polaasuh dapat didefinisikan sebagai
pola interaksi antara anak dan orang tua yang meliputipemenuhan
kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dll) dan kebutuhan
psikologis(seperti rasa aman, kasih sayang, dll), serta sosialisasi norma-
norma yang berlaku dimasyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan
lingkungannya. Dengan kata lain, polaasuh juga meliputi pola interaksi
orang tua dengan anak dalam rangka pendidikankarakter anak

Aspek Ekonomi
Pemerintah mengelompokkan keluarga di Indonesia ke dalam dua
tipe : keluarga pra-sejahtera Yang kita bayangkan ketika mendengar
keluarga tipe ini adalah keluarga yang masih mengalami kesulitan untuk
memenuhi kebutuhan dasar hidupnya berupa sandang, pangan,
danpapan. Keluarga pra-sejahtera identik dengan keluarga yang anaknya
banyak, tidak dapatmenempuh pendidikan secara layak, tidak memiliki
penghasilan tetap, belummemperhatikan masalah kesehatan lingkungan,
rentan terhadap penyakit, mempunyaimasalah tempat tinggal dan masih
perlu mendapat bantuan sandang dan pangan. tipe keluarga sejahtera
Yang terbayang ketika mendengar keluarga tipe ini adalahsebuah
keluarga yang sudah tidak mengalami kesulitan untuk memenuhi
kebutuhan dasar hidupnya. Keluarga sejahtera identik dengan keluarga
yang anaknya dua atau tiga,mampu menempuh pendidikan secara layak,
memiliki penghasilan tetap, sudah menaruhperhatian terhadap masalah
kesehatan lingkungan, rentan terhadap penyakit, mempunyaitempat
tinggal dan tidak perlu mendapat bantuan sandang dan pangan.Selama ini
konsentrasi pembinaan terhadap keluarga yang dilakukan oleh
pemerintahadalah menangani keluarga pra-sejahtera. Hal itu terlihat dari
program-program dasar pembinaan keluarga seperti perencanaan
kelahiran (KB), Pos Pelayanan Terpadu (POSYANDU), pelayanan
kesehatan gratis, pembinaan lansia, pengadaan rumah khususkeluarga
pra-sejahtera dan sejenisnya

Aspek Sosial Budaya


Perkembangan anak pada usia antara tiga-enam tahun adalah
perkembangan sikapsosialnya. Konsep perkembangan sosial mengacu
pada perilaku anak dalam hubungannyadengan lingkungan sosial untuk
mandiri dan dapat berinteraksi atau untuk menjadimanusia sosial.
Interaksi adalah komunikasi dengan manusia lain, suatu hubungan
yangmenimbulkan perasaan sosial yang mengikatkan individu dengan
sesama manusia,perasaan hidup bermasyarakat seperti tolong menolong,
saling memberi dan menerima,simpati dan empati, rasa setia kawan dan
sebagainya.
L. ELEMEN UTAMA DALAM KELUARGA
Terdapat tiga elemen utama dalam struktur internal keluarga :
Status Sosial
Dimana dalam keluarga distrukturkan oleh tiga struktur utama,
yaitubapak/suami, ibu/istri dan anak-anak. Sehingga keberadaan status
sosial menjadi pentingkarena dapat memberikan identitas kepada individu
serta memberikan rasa memiliki,karena ia merupakan bagian dari sistem
tersebut
Peran Sosial
yang menggambarkan peran dari masing-masing individu atau
kelompok menurut status sosialnya
Norma Sosial
yaitu standar tingkah laku berupa sebuah peraturan
yangmenggambarkan sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam
kehidupan social

M. Ciri - Ciri Keluarga Sejahtera


Ciri-ciri keluarga sejahtera adalah sebagai berikut :
saling terbuka antar anggota keluarga
terciptanya rasa saling percaya
terpenuhinya segala kebutuhan
adanya saling kerja sama antar keluarga
adanya keseimbangan dalam memberikan pendidikan untuk bekal
didunia dan akhirat
terciptanya keharmonisan dalam keluarga
terjalinnya komunikasi yang baik antar keluarga.s
Faktor yang perlu diberikan orang tua kepada anak agar anak
mencapai dewasa yang bertanggung jawab moral :
Aktif melakukan komunikasi dengan anak
Memberikan teladan
Melakukan sesuatu atas dorongan diri sendiri
Mengejar prestasi
Mengerjakan sesuatu tanpa bantuan orang lain
Mampu berpikir
Kreatif dan penuh inisiatif
Mampu mengatasi masalah yang dihadapi
Mampu mengendalikan tindakan-tindakan
Mampu mempengaruhi lingkungan
Percaya kepada diri sendiri
Menghargai keadaan dirinya
Memperoleh kepuasan dari usahanya
Selain itu agar anak dapat bertanggung jawab moral, maka orang tua
dapat melakukan :
Biarkan anak-anak membuat pilihan-pilihan masukan sendiri
Tunjukkan rasa hormat terhadap upaya anak
Jangan mengajukan terlalu banyak pertanyaan
Jangan langsung menjawab pertanyaan anak
Dorong anak-anak menggunakan sesuatu/bahan dari luar rumah
Jangan menyirnakan harapan anak.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Soekanto Soerjono, 1990, Sosiologi Suatu Pengantar,edisi ke empat, PT


Raja Grafindo Persada:Jakarta.

Jhonson, C.L. 1988. Ex Familia. New Brunswick: Rutger University Press.

Sugeng Iwan, Pengasuhan Anak dalam Keluarga

Baron, R. A dan Donn Byrne. 2003. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga

Richard R Clayton. 2003. The Family, Mariage and Social Change. hal. 58

Anita L. Vangelis.2004.Handbook of Family Comunication.USA:Lawrence


Elbraum Press. hal 349.

Paul B. Horton. 1987.Sosiologi. Jakarta:Erlangga. Hal 266

Fr Tderique Holdert dan Gerrit Antonides, Family Type Effects on


Household Members Decision Making, Advances in Consumer Research
Volume 24 (1997), eds. Merrie Brucks and Deborah J. MacInnis, Provo,
UT: Association for Consumer Research, Pages: 48-54

Minuchin, S (1974). Families and Family Therapy. Cambridge, MA:


Harvard University Press.

https://id.wikipedia.org/wiki/Keluarga