Anda di halaman 1dari 25

PENGOLAHAN DASAR AIR MINUM DALAM

BENCANA BANJIR
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan
Lingkungan dalam Bencana

Disusun oleh :
Addinia Nur Muslimah 1506729241
Arsi Fatin Amani 1506688361
Fauzia Rachmidiani 1506688260
Maya Maulina S. 1506688292
Nurunnisa Pratiwi 1506688424
Siti Wali Rodiyah 1506688254
Sulthana Labiba K. 1506727356
Yosi Purnamasari 1506688443

Departemen Kesehatan Lingkungan


Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Indonesia
2017
2

KATA PENGANTAR

Pujisyukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karna berkat
rahmat dan karunia-Nya Makalah Pengolahan Dasar Air Minum ini dapat
diselesaikan tepat waktu.

Adapun makalah Pengolahan Dasar Air Minum ini telah kami usahakan
semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga
dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Terima kasih kepada bapak
Prof. Rachmadi selaku dosen mata ajar Kesehatan Lingkungan dalam
Bencana yang telah memberikan ilmu mengenai bahaya dan bencana. Terima
kasih juga kami sampaikan kepada teman-teman Kesehatan Lingkungan
2015 yang telah membantu kami dalam proses diskusi, namun tidak lepas
dari itu semua, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada kekurangan dalam
makalah, baik dari segi penyusun bahasanya maupun lainnya. Oleh karena itu,
dengan lapang dada dan tangan terbuka kami menerima bagi pembaca yang
ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat
memperbaiki makalah Pengolahan Dasar Air Minum ini.

Akhirnya kami sebagai penyusun mengharapkan semoga dari makalah


Pengolahan Dasar Air Minum ini kita dapat mengambil manfaatnya sehingga
dapat memberikan wawasan terhadap pembaca.

Depok, 10September 2017

Penyusun
3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 2

DAFTAR ISI 3

BAB I 4

PENDAHULUAN 4
1.1 Latar Belakang 4
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan Penulisan 5
BAB II 6

TINJAUAN PUSTAKA 6
2.1 Definisi Bencana 6
2.2 Definisi Bahaya 6
2.3 Bahaya (Hazard) dan Risiko Bencana Banjir 7
2.4 Banjir dan Sistem Pengolahan Air Minum 8
2.5 Analisis Pengolahan Air Minum Pra-Bencana Banjir Magelang 9
2.6 Analisis Pengolahan Air Minum Proses-Bencana Banjir Magelang 12
2.7 Analisis Pengolahan Air Minum Pasca Bencana Banjir Magelang 12
2.8 Rencana Penanggulangan Pengolahan Air Minum Bencana Banjir 16
2.9 Evaluasi Proses Pengolahan Air Minum Saat Bencana 20
BAB III 22
3.1 Kesimpulan 22
3.2 Saran 22
DAFTAR PUSTAKA 23
4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bencana merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana,
kerentanan dan kemampuan yang dipicu oleh suatu kejadian. Menurut UU No.
24 Tahun 2007 bencana dapat mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.
Kerusakan lingkungan yang terjadi dapat mengganggu stabilitas kebutuhan
hidup warga yang menjadi korban sebuah bencana. Ada unsur makanan, air,
sarana dan prasarana yang menjadi kebutuhan mendesak para korban-
korban bencana. Termasuk kebutuhan air minum yang menjadi barang
langka, terutama ketika bencana banjir terjadi.
Di Kota Santiago, Ibukota dari Cile, mengalami banjir bandang pada 26
Februari 2017 hingga memutus saluran air minum warga, dan membuat 6,5
juta jiwa terancam tidak mendapatkan air minum (Kompas, 2017). Negara-
Negara di Asia Tenggara merupakan wilayah yang sering terjadi banjir dan
membuat krisis air minum, termasuk Indonesia sendiri. Pada tanggal 29 April
2017 di Magelang, banjir bandang terjadi hingga menimbulkan kerusakan
infrastruktur yang pada salah satunya kerusakan infrastruktur air minum di 4
desa dari mata air non-PDAM. Kerusakan infrastruktur dari depot air minum
akibat banjir membuat perusahaan air tidak dapat beroperasi, dan
menyebabkan terhentinya pasokan air minum bagi warga di empat desa di
Magelang.
Air minum merupakan hal penting bagi manusia. Ketika bencana banjir terjadi,
sumber air minum warga tidak dapat digunakan kembali. Dalam makalah ini,
kami akan menganalisis bagaimana penyediaan air bersih sebelum bencana,
saat bencana, dan setelah bencana dengan mengaitkannya dengan kasus
banjir di Magelang April kemarin. Dari analisis tersebut, kami juga menyusun
rencana untuk menanggulangi bencana banjir yang mungkin akan terjadi
kembali, dan mengurangi dampak yang akan timbul dari bencana banjir itu
sendiri.
5

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa definisi bahaya dan bencana secara umum?

2. Apa definisi bahaya dan bencana banjir?

3. Bagaimana bahaya bisa mempengaruhi pengolahan air minum?

4. Bagaimana analisi pra-bencana, saat bencana, dan pasca-bencana


pada pengolahan air minum?

5. Rencana seperti apakah yang mampu menanggulangi bencana


pengolahan air minum?

6. Bagaimana evaluasi pengolahan air minum saat bencana?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui definisi bahaya dan bencana secara umum.

2. Mengetahui definisi bahaya dan bencana banjir.

3. Menelurusi bahaya dalam mempengaruhi pengolahan air minum.

4. Mengetahui analisis pra-bencana, saat bencana, dan


pasca-bencana pada pengolahan air minum.

5. Menyusun rencana dalam menanggulangi bencana pengolahan air


minum.

6. Mengetahui evaluasi pengolahan air minum saat bencana.


6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Bencana


Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor
manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU RI Nomor 24
Tahun 2007 Pasal 1). Definisi lain menyebutkan bahwa bencana merupakan
suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat, sehingga
menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi
materi, ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan
masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi dengan menggunakan
sumberdaya mereka sendiri (UNISDR Terminology on Disaster Risk Reduction,
2009 dalam Fadillah, 2010).
Menurut UNISDR (2002) dalam Fadillah (2010), terdapat dua jenis
utama bencana, yaitu bencana alam dan bencana teknologi. Bencana alam
terdiri dari tiga, antara lain:
1. Bencana hydro-meteorological berupa banjir, topan, banjir bandang,
kekeringan dan tanah longsor.
2. Bencana geophysical berupa gempa, tsunami, dan aktifitas vulkanik.
3. Bencana biological berupa epidemi, penyakit tanaman dan hewan.
Sementara itu, bencana teknologi terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Kecelakaan industri berupa kebocoran zat kimia, kerusakan infrastruktur
industri, kebocoran gas, keracunan dan radiasi.
2. Kecelakaan transportasi berupa kecelakaan udara, rail, jalan dan
transportasi air.
3. Kecelakaan miscellaneous berupa struktur domestik atau struktur
nonindustrial, ledakan dan kebakaran.

2.2 Definisi Bahaya


7

Terdapat istilah lain yang kerap dikatikan dengan istilah bencana, yaitu
hazard. Namun berbeda dengan bencana, hazard bersifat potensi. Menurut
Cross (1998) dalam Ratnasari (2009), hazard atau bahaya merupakan sumber
potensi kerusakan atau situasi yang berpotensi untuk menimbulkan kerugian.
Sesuatu disebut sebagai sumber bahaya hanya jika memiliki risiko
menimbulkan hasil yang negatif (Ratnasari, 2009). Definisi lain menyebutkan
bahwa bahaya adalah segala sesuatu termasuk situasi atau tindakan yang
berpotensi menimbulkan kecelakaan atau cidera pada manusia, kerusakan
atau gangguan lainnya (Murdiyono, 2016). Menurut Ramli (2010) dalam
Murdiyono (2016), terdapat 5 jenis-jenis bahaya, antara lain bahaya mekanis,
listrik, kimiawi, fisis dan bahaya biologis.

2.3 Bahaya (Hazard) dan Risiko Bencana Banjir


Indonesia telah memiliki banyak kejadian kebencaanaan yang pernah
tercatat dalam sejarah. Selain bencana besar yang terjadi, Indonesia juga
sering mengalami bencana yang terjadi hampir setiap tahun dan
menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Salah satu dari bencana yang cukup
sering terjadi adalah banjir. Banjir adalah perendaman sementara oleh air
pada daratan yang biasanya tidak terkena terendam air (Parlemen Uni Eropa,
2007). Hampir setiap tahun banjir terjadi di daerah Jakarta dan daerah
sepanjang aliran sungai seperti DAS Bengawan Solo.
Terdapat tiga ketegori banjir berdasarkan sumber airnya yaitu (BNPB, 2010):
Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapastias
penyaluran sistem pengaliran air yang terdiri dari sistem sungai
alamiah dan sistem drainase buatan manusia

Banjir yang disebabkan oleh meningkatnya muka air di sungai sebagai


akibat pasang alut maupun meningginya gelombang laut akibat badai

Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti


bendungan, tanggul dan bangunan pengendali banjir

Secara geografis, Indonesia memiliki dua jenis musim yaitu musim panas
dan hujan dengan ciri-ciri berupa perubahan arah angin dan curah hujan yang
8

cukup ekstrim. Hal ini menjadi salah faktor pendukung bencana banjir kerap
kali terjadi di Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia dengan risiko ancaman
banjir tinggi adalah pantai Sumatra bagian utara, daerah pantai utara Jawa
bagian barat, Kalimantan bagian barat dan selatan, Sulawesi Selatan dan
Papua bagian selatan (BNPB, 2010).

Pada umunya, banjir disebabkan oleh curah hujan tinggi yang tidak dapat
ditampung oleh sistem pengaliran. Saluran drainase dan kanal penampung
banjir yang tersedia tidak mampu menampung kelebihan air hujan yang turun
karena adanya perubahan dalam daya tampung sistem pengaliran air
tersebut. Perubahan daya tampung diakibatkan oleh adanya sedimentasi,
penyempitan badan sungai oleh fenomena alam atau ulah manusia,
tersumbat sampah dan hal lainnya. Penggundulan hutan di daerah tangkapan
air hujan juga ikut memengaruhi daya tampung hujan di daerah tersebut
(BNPB, 2010).
Daerah dengan kerentanan banjir biasanya merupakan daerah yang
berada dibawah permukaan air pasang, Sebagai contoh yaitu wilayah Jakarta
Utara. Wilayah ini awalnya merupakan daerah tangkapan air hujan namun
berkembang menjadi daerah permukiman yang relatif padat (BPBD, 2013).

Gambar 1. Daerah bahaya banjir di Indonesia


(BMKG, Bakosurtanal, PU, 2008)
9

2.4 Banjir dan Sistem Pengolahan Air Minum


Banjir bukan hanya mendatangkan air, tetapi juga mendatangkan bahaya
lainnya. Menurut Prof. Stephen A. Nelson dari Universitas Tulane (2015)
mengatakan bahwa ada tiga efek bahaya yang ditimbulkan oleh banjir, yaitu:
- Primary Effects, dimana dampak yang ditimbulkan akibat bersentuhan
langsung dengan banjir, seperti
o hanyut terbawa air
o terbawanya material seperti pasir, batu, hingga benda besar
seperti mobil
o erosi
o rusaknya perabotan rumah
o terbawanya sampah, limbah, mikroorganisme, bahan kimia,
minyak, dan substansi lainnya (Murshed, dkk dalam Rubao Sun
dkk, 2015)
- Secondary Effects, dampak akibat banjir seperti rusaknya pelayanan
publik, seperti instalansi listrik yang terganggu, jalan terputus, dan lain
sebagainya.
- Tertiary Effects, efek jangka panjang, seperti rusaknya jalur sungai,
rusaknya lahan pertanian, kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya.

Terdapat dua dampak yang dapat terjadi pada pengolajhan air minum saat
banjir yaitu sumber air minum (sumur,sungai, danau, dll) tercemar karena
terendam oleh air banjir yang kotor; dan rusaknya peralatan pengolahan air
minum. kan.
Banjir bandang yang terjadi di Magelang pada 29 April 2017 lalu membawa
materi seperti lumpur, kayu, dan batu- batuan (Biro Komunikasi Publik
Kementrian PUPR, 2017). Hal ini menyebabkan infrastuktur penghasil air
minum di empat desa mengalami kerusakan.

2.5 Analisis Pengolahan Air Minum Pra-Bencana Banjir Magelang


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, air minum
10

adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan
yang memenuhi syarat dan dapat langsung diminum. Adapun syarat yang
dimaksud tertuang dalam baku mutu air minum yang meliputi persyaratan
fisik, kimia, biologi, dan radioaktif. Adapun pengertian dari pengolahan air
minum yaitu proses atau serangkaian proses pemisahan air dari pengotornya
secara fisik, kimia, dan biologi sehingga aman untuk dikonsumsi.
Air yang berasal dari sumber air permukaan, air tanah, air hujan dan air
laut yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai sumber untuk air minum
disebut air baku. Air baku dapat diklasifikasikan menjadi;
Air baku yang dapat langsung digunakan untuk air minum
Air baku yang perlu pengolahan sederhana untuk dapat digunakan
menjadi air minum
Air baku yang perlu pengolahan lengkap untuk dapat digunakan
sebagai air minum
Air baku yang tidak dapt dijadikan air minum
Berdasarkan pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa teknik
pengolahan air minum sangat bergantung pada kondisi air baku. Namun
seara umum tahapan proses pengolahan air minum untuk menghilangakn
parameter pencemar terdiri dari tiga tahap, yaitu;
1. Pra Pengolahan
Merupakan pengolahan air baku sebelum air baku diolah pada unit
pengolahan umum. Pada tahap ini memungkinkan terjadinya
pengendapaan sendiri atau tanpa menambahkan bahan kimia yakni
dengan bantuan gravitasi.
2. Pengolahan Utama
Meliputi proses koagulasi dan flokulasi, diikuti oleh proses
sedimentasi, filtrasi, dan desinfeksi
3. Pengolahan khusus
Pengolahan khusus adalah proses tambahan yang diperlukan untuk
kondisi air baku yang spesifik.
Pada pengolahan utama secara lebih lanjut dapat dibedakan menjadi
pengolahan secara kimia, fisik, dan biologi. Pengolahan secara kimia terdiri
dari proses koagulasi dan desinfeki. Proses koagulasi sangat bermanfaat
11

bagi air baku yang banyak mengandung kolid sebab pada proses ini adalah
proses pembentukan koloid yang stabil menjadi koloid tidak stabil sehingga
membentuk flok-flok yang mampu mengendap. Ada empat tahap dalam
prose koagulasi yakni;
1. Destabilisasi partikel koloid
2. Pembentukan mikroflok
3. Penggabungan mikroflok
4. Pembentukan makroflok.
Pada tahap pertama dan kedua merupakan tahap yang disebut
koagulasi dimana terjadi pengadukan cepat yang bertujuan mencampur dan
mendistribusikan bahan kimia ke seluruh bagian air baku. Tahap ketiga dan
keempat disebut tahap flokulasi, pada tahap ini pengadukan yang terjadi
lambat guna mencegah pecahnya flok yang telah terbentuk, tahap ini juga
berfungsi mendorong terjadinya tumbukan antar partikel koloid yg sudah tidak
stabil agar terbentuk mikroflok ataupun makroflok. Koagulan yang bisa biasa
dilakukan salah satunya adalah Alumunium Sufat (Tawas).
Proses pengolahan kimia lainnya adalah desinfeksi. Proses ini
merupakan proses yang bertujuan untuk menghancurkan mikroorganisme
patogen. Ada empat kriteria desinfektan yang baik yaitu; efektif dalam
membunuh mikroorganisme patogen, tidak beracun bagi manusia/hewan,
mudah dan aman disimpan, dipindah, dan dibuang, serta mudah dianalisis
dalam air. Desinfektan dapat dikategorikan menjadi desinfektan kimia dan
fisik. Desinfektan kimia diantaranya Chlorin, Ozon, dan Kaporit, sedangkan
desinfektan fisik yaitu sinar ultraviolet.
Pengolahan fisik air minum diantaranya adalah sedimentasi dan
filtrasi. Proses sedimentasi merupakan proses yang digunakan untuk
menyisihkan flok-flok yang terbentuk pada proses koagulasi tepatnya pada
tahap flokulasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam merancang bak
sedimentasi yaitu;
Zona Inlet yang berfungsi membagi aliran merata ke seluruh bagian
bak
Zona Pengendapan yaitu zona yang memungkinkan terjadinya
pengendapat partikel
12

Zona Lumpur yaitu zona akumulasi zat padat atau kotoran hasil
pengendapan
Zona Outlet yakni zona untuk mengumpulkan supernatan dari
seluruh bagian bak
Proses fisik lainnya adalah filtrasi, proses ini merupakan proses
penyaringan air yang telah melalui proses koagulasi dan sedimentasi.
Berdasarkan laju filtrasinya proses ini bisa dibagi menjadi Slow sand Filter
dan Rapid sand Filter. Sedangkan proses biologi tidak banyak dilakukan pada
proses air minum, salah satu proses yang bisa dilakukan adalah fermentasi.
Adapun alur dari proses pengolahan air minum dapat digambarkan
kedalam bagan berikut ini;

Proses Proses Proses


Pendah Koagula Sedime

Proses Proses
Disinfek Filtrasi
Gambar 2. Proses pengolahan air minum

2.6 Analisis Pengolahan Air Minum Proses-Bencana Banjir Magelang


Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah
menurunkan personil dan peralatan dalam rangka penanganan darurat korban
banjir bandang di Magelang. Penanganan darurat yang telah dilakukan
Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak
dan Tim Penanganan Bencana Ditjen Cipta Karya, diantaranya menurunkan
Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk investigasi kondisi lapangan, mengirimkan 2
excavator untuk evakuasi korban dan 1 dump truck untuk pembersihan
material banjir.
Kebutuhan mendesak yang dibutuhkan (Tempo, 2017)diantaranya
makanan, air bersih, sandang, selimut, dan tikar. Ketersediaan air bersih
menjadi hal yang sangat penting, mengingat salah satu akibat yang
13

disebabkan oleh bencana tersebut yaitu rusaknya infrastruktur air minum di


4 desa dari mata air non-PDAM sehingga untuk menanganinya Kementerian
PUPR menurunkan 1 unit mobil Instalasi Pengolahan Air (IPA) untuk
mengolah air sungai sebagai air baku, memasang 5 unit Hidran Umum (HU),
mendistribusikan 100 jerigen dengan ukuran 20 m3 kepada para korban dan
melakukan pencarian sumber air bersih yang kemudian didapat berada 500
meter dari titik droping air untuk kemudian diolah menjadi air baku. Adapun
yang selanjutnya disebut air baku (Cipta Karya, n.d.)adalah air yang dapat
berasal dari sumber air permukaan, cekungan air tanah dan/atau air hujan
yang memenuhi baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum.

2.7 Analisis Pengolahan Air Minum Pasca Bencana Banjir Magelang


Bencana banjir bandang yang telah terjadi di Kabupaten Magelang
pada bulan April 2017 lalu, setidaknya telah menimbulkan kerugian baik dari
segi kerugian materi maupun korban jiwa. Berdasarkan informasi setempat,
terdapat korban jiwa yang meninggal sebanyak 12 orang, dan sekitar 170 jiwa
harus mengungsi. Sementara sekitar 71 rumah di 5 dusun mengalami
kerusakan bangunan. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya infrastruktur air
minum di 4 desa dari mata air non PDAM (Biro Komunikasi Publik, 2017).
Pada saat terjadi bencana banjir seperti ini dan saat pasca bencana juga
khususnya, ketersediaan air merupakan salah satu hal terpenting yang sangat
dibutuhkan oleh masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tetapi melihat kondisi yang terjadi, ketersediaan air menjadi sulit didapatkan
oleh warga dikarenakan sumber air setempat terendam banjir dan sudah
bercampur dengan lumpur atau komponen zat-zat lainny. Upaya yang
dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut pada saat bencana terjadi,
sudah dilakukan pemerintah dengan menurunkan 1 unit mobil instalasi
pengolahan air untuk mengolah air sungai sebagai air baku, memasang 5 unit
Hidran Umum, mendistribusikan 100 jerigen dengan ukuran 20 m3 kepada
para korban (Biro Komunikasi Publik, 2017). Akan tetapi, upaya yang
dilakukan untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat setempat pada saat
terjadi bencana hanya bersifat sementara karena pasokan yang disediakan
14

oleh pemerintah terbatas, sedangkan kebutuhan masyarakat akan kebutuhan


air bersih melebihi kapasitas yang disediakan.
Berdasarkan kondisi tersebut, perlu adanya tindakan yang dilakukan
pemerintah bersama masyarakat setempat tentunya untuk memperbaiki
permasalahan pengolahan air pasca bencana banjir yang melanda. Namun
hingga saat ini, belum ada upaya yang berarti untuk memperbaiki atau
merekonstruksi sarana dan prasarana khususnya sistem saluran air yang
rusak akibat banjir yang melanda. Upaya yang dilakukan pemerintah daerah
setempat pasca bencana banjir ini yaitu memperpanjang status tanggap
darurat selama tujuh hari sebagai langkah pemberian jaminan untuk para
korban bencana dan sekaligus agar proses pembenahan di lapangan dapat
segera terselesaikan (Tribunnews Jogja, 2017).

2.8 Rencana Penanggulangan Pengolahan Air Minum Bencana Banjir


Air adalah salah satu hal yang krusial bagi kelangsungan hidup
manusia yang memiliki banyak fungsi untuk digunakan mencuci, memasak,
menjaga kebersihan tubuh juga sebagai air minum. Idealnya, manusia
membutuhkan 8-10 gelas atau sekitar 2 liter air minum per hari (Noerhayati,
2011). Namun, ketersediaan air layak minum menjadi suatu problematika,
terlebih saat bencana. Menurunnya pasokan air layak minum dan rusaknya
sarana prasarana penyuplai air layak minum menyebabkan banyak terjadi
krisis air layak minum.
Dalam pengadaan air minum dan air bersih pada kondisi bencana, terdapat
beberapa syarat minimal tersedianya air layak minum dan air bersih, yaitu:
15 liter per orang per hari

Volume air di detiap sumbernya minimal 0,125 liter per detik

Jarak antara pemukiman atau pengungsian dan sumber air tidak lebih
dari 500 meter

Satu kran air untuk 80-100 orang

Setiap KK mendapatkan 2 pengambil air dengan kapasitas 10-20 liter

1 penampungan air berkapasitas 20 liter berleher sempit dan


15

mempunyai penutup

Standar coliform 10 coliform/100mL3

Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi krisis


ketersediaan air layak minum pada situasi bencana, seperti:
A. Saringan Air

Krisis air layak minum pada saat bencana dapat dicegah, salah
satunya dengan membangun filter pengolahan air yang dapat
difungsikan ketika bencana terjadi. Filter pengolahan air yang
dinamakan Sarpalam (Saringan Pasir Lambat) dan Saripat
(Saringan Pasir Cepat) ini cocok digunakan saat kondisi bencana
karena cara kerjanya yang mudah yaitu hanya menggunakan energi
gravitasi dalam menyalurkan air untuk disaring. Filter air ini dapat
ditempatkan pada daerah sekitar lokasi rawan bencana banjir yang
mempunyai topografi lebih kokoh dan tinggi, sehingga filter air
tersebut tidak akan rusak. Gambaran penempatan filter pengolahan
air dapat diimplementasikan seperti berikut:

Gambar 5. Penempatan filter air pada daerah rawan bencana


(Saragih, unknown)

Perbedaan antara Sarpalam dan Saripat ada pada kecepatan filtrasi


dan jumlah air yang akan difiltrasi. Sarpalam memiliki kecepatan filtrasi
1-10m3/m2/hari dengan tinggi air 10-20 cm diatas pasir, berbeda
dengan Saripat dengan kecepatan filtrasi 100-120m3/m2/hari dengan
tinggi air 100-120 cm diatas permukaan pasir.
16

Gambar 6. Contoh rancangan Sarpalam


(Herlambang, 2010)

Gambar 7 Contoh Sarpalam dengan kapasitas 100m3/hari


(Herlambang, 2010)

Gambar 8. Contoh Saripat kapsitas 5 liter/detik


(Herlambang, 2010)

B. Unit Pengolahan Air Siap Minum Bergerak

Keterbatasan di situasi bencana adalah hilangnya sarana


prasarana yang dapat digunakan untuk menunjang kebuthuan
17

hidup, salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan air layak


minum. Maka dari itu, dibutuhkan suatu unit bergerak
penyediaan air minum yang dapat mendatangi tempat-tempat
pemukiman atau pengungsian korban demi terpenuhinya
kebutuhan akan air layak minum.

Gambar 9. Unit Pengolahan Air Bergerak


(Indriatmoko dan HIdayat, 2007)

Unit yang digunakan adalah unit dengan kapasitas 2500


kg yang dapat memindahkan air layak minum dari satu tempat
ke tempat lain. Unit bergerak ini mempunyai 3 komponen utama
yang harus tersedia, yaitu unit penggerak, unit pengolah dan unit
pembangkit tenaga. Melihat kondisi geografis sesaat setelah
bencana melanda, unit yang dibutuhkan adalah unit yang bisa
melewati medan yang rumit dengan lebar jalan hanya sebesar
kurang lebih 2,75 meter dengan tenaga jelajah jauh dan kuat
serta handal dan lincah. Selain unit penggerak, unit pengolah
juga hal yang krusial. Unit pengolahan air terdiri dari jaringan
input, pompa sumur air baku, filter air Manganese Greensand,
filter karbon aktif, filter mikro, filter ultrafiltrasi dan unit
sterilisator. Komponen terakhir adalah pembangkit listrik
bekekuatan 3500 watt yang berfungsi untuk mengaktifkan
pompa, filter ultrafiltrasi dan memberikan penerangan di malam
hari pada warga yang sedang mengambil air (Indriatmoko dan
HIdayat, 2007).

C. Penyediaan Air Mineral dengan Dana Siap Pakai


18

Dalam mengatasi situasi bencana, terdapat anggaran


biaya yang disediakan oleh pemerintah untuk menyediakan
keperluan yang dibutuhkan oleh korban. Menurut PP No. 22
Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan
Bencana, Dana Siap Pakai adalah dana yang selalu tersedia dan
dicadangkan oleh pemerintah untuk digunakan pada status
keadaan darurat bencana, yang dimulai dari status siaga
darurat, tanggap darurat dan transisi darurat ke pemulihan.
Penggunaan Dana Siap Pakai untuk pemenuhan
kebutuhan air bersih dan sanitasi meliputi:
1) Pengadaan air bersih, baik pengadaan air bersih di lokasi
bencana maupun mendatangkan dari luar.

Yang dimaksud dengan pengadaan air bersih adalah


mengambil dan atau membeli air bersih termasuk
melakukan proses penyaringan.
2) Perbaikan kualitas sumber air bersih di lokasi bencana.
3) Pengadaan/perbaikan sanitasi, berupa:
Perbaikan/pembuatan saluran air buangan untuk MCK dan
drainase lingkungan.

Pengadaan MCK darurat.

Pengadaan tempat sampah.

4) Alat dan bahan pembuatan air bersih, berupa peralatan yang


diperlukan dalam penyediaan air bersih dan sanitasi.
5) Transportasi, berupa sewa sarana transportasi darat, air,
udara, dan atau pembelian BBM untuk pengiriman air bersih,
pengiriman peralatan dan bahan yang diperlukan dalam
penyediaan air bersih, dan peralatan sanitasi ke lokasi
penampungan.

Dana siap pakai tersebut dapat digunakan untuk membeli air


mineral sebagai pasokan air minum bagi korban bencana.
19

2.9 Evaluasi Proses Pengolahan Air Minum Saat Bencana


Pada daerah-daerah bencana, khususnya pada saat bencana gempa,
tsunami dan banjir, air merupakan kebutuhan utama yang sukar dicari. Hal
tersebut dikarenakan terputusnya saluran PDAM yang mengaliri rumah-rumah
warga, kemudian sumber-sumber air yang tergenang pada saat banjir dan
prasarana jalan yang dibutuhkan untuk mendistribusikan air bersih ke tempat
bencana. Penyediaan air layak minum sangat dibutuhakn di daerah yang
mengalami bencana. Penyediaan air tersebut bisa dilakukan dengan adanya
fasilitas filtrasi air yang memang sudah ada di daerah bencana atau dengan
menggunakan mobile unit yaitu pengolahan air yang dapat dimobilisasi
kemanapun pada tempat-tempat yang membutuhkan keberadaannya.
(Rupaka, 2012)
Ketika 170 jiwa mengungsi dari 46 Kepala Keluarga yang terdiri dari 5
dusun 2 desa, dan ada sekitar 71 rumah mengalami kerusakan. Kementrian
PUPR langsung menurunkan 1 unit mobil Instalasi Pengolahan Air (IPA) untuk
mengolah sungai sebagai air baku, memasang 5 unit Hidran Umum (HU),
mendistribusikan 100 jerigen dengan ukuran 20 m3 kepada korban banjir dan
melanjutkan pencarian air bersih yang kemudian di dapat berada 500 meter
dari titik droping air untuk diolah menjadi air baku. Upaya ini sudah sangat
mencukupi kebutuhan air bersih di lokasi pengungsian bencana banjir
Magelang (Kementerian PU, 2017).
Hal yang dapat dievaluasi pada pengolahan air minum ialah,
Kementerian PU menyediakan air baku yang semestinya masih harus diolah
terlebih dahulu untuk menjadi air siap minum. Kemudian penyediaan air
minum haruslah memenuhi standar air minum yang baik untuk dikonsumsi
oleh pengungsi seperti memenuhi indicator keamaan kualias air bersih dan air
minum, serta indicator keamanan terhadap infeksi. Namun tidak ada sumber
yang menjelaskan bagaimana keadaan pengolahan air minum pada lokasi
bencana banjir Magelang apakah sudah memenuhi semua indicator atau
belum. Namun upaya kemeterian PU dalam menyediakan air baku ini sangat
membantu pengungsi dalam memenuhi kebutuhan air, karena begitu banyak
20

air yang diberikan sehingga pengungsi tidak merasa kekurangan air dan bisa
mencegah pengungsi terkena penyakit epidemi. Pengolahan air yang
digunakan pun juga baik dengan menggunakan mobile unit, dimana mampu
mengolah berbagai variasi kualitas air.
21

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bencana adalah tragedi berbahaya yang dapat mengganggu
kelangsungan hidup manusia. Salah satu dampak negative dari bencana
adalah menurunnya ketersediaan air layak minum akibat rusaknya sumber
serta sarana dan prasarana penyalur air layak minum. Untuk menanggulangi
hal tersebut, terdapat beberapa program yang dapat dilakukan agar dampak
negative bahaya bencana, yaitu krisis air layak minum, dapat diminimalisir.

3.2 Saran
Berdasarkan hasil diskusi kelompok kami, pengolahan air terkait dengan
bencana banjir di Kabupaten Magelang belum menghasilkan informasi dan
mendapatkan solusi yang jelas pasca bencana terjadi. Namun, ketika bencana
banjir terjadi, sudah ada tindakan yang dilakukan oleh pemerintah setempat
untuk menanggulangi masalah ketersediaan air bersih yang mana merupakan
hal pokok yang harus dipenuhi oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu,
perlu segera adanya tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah
pengolahan air pasca bencana di daerah tersebut, karena air merupakan
komponen lingkungan hidup yang penting bagi kelangsungan hidup manusia
dan makhluk hidup lainnya. Perlu adanya langkah-langkah yang dilakukan
untuk mengatasi dan mencegah munculnya bencana banjir kembali, salah
satunya dengan membuat sistem penampungan air hujan.
22

DAFTAR PUSTAKA

Biro Komunikasi Publik. 2017. Kementerian PUPR Kirimkan Alat Berat dan
Pasokan Air Bersih Bagi Korban. Jakarta: Kementerian PUPR RI.
[Online]. Available
from:<http://www.pu.go.id/main/view_pdf/12426>[Accessed on
th
10 September 2017].
BNPB. 2010. Rencana Nasional Penanggulangan Bencana. [Online]
[Diaksespada 8 September 2017] dari
https://www.bnpb.go.id//uploads/renas/1/BUKU%20RENAS%20PB.pdf
BPBD DKI Jakarta. 2013. Rencana Penanggulangan Bencana. [Online]
[Diakses pada 8 September 2017] dari

http://bpbd.jakarta.go.id/assets/attachment/study/RPB_DKI_Jakarta_Final.pd
f

Cipta Karya, n.d. Istilah/Pengertian. [Online] Available


at:http://ciptakarya.pu.go.id/pam/Istilah/Istilah.htm[Accessed 10
September
2017].-dikirim?fb_comment_id=1432956520095426_1432960830094995

Fadillah, Adi Yanuar. 2010. Penentuan Variabel yang Berpengaruh dalam


Penanganan Bencana di Indonesia Menggunakan Metode ANP dan
Analisis SWOT. Tesis Fakultas Teknik Universitas Indonesia,
Depok. [Online] Available from:
<lib.ui.ac.id/file?file=digital/135539-T%2027971-
https://www.pressreader.com/indonesia/kompas/20170228/28177133
3969496 Diakses pada tanggal 10 September 2017.
Herlambang, Arie. 2010. Teknologi Penyediaan Air Minum Untuk Keadaan
Tanggap Darurat. Jakarta : Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi
Lingkungan, BPPT. [Online]. Tersedia pada
http://www.kelair.bppt.go.id/Jai/2010/vol6-1/06darurat.pdf (diakses
Minggu, 10 September 2017 13:24 PM)
Indriatmoko dan Hidayat. 2007. Penyediaan Air Siap Minum Pada Situasi
Tanggap Darurat Bencana Alam. Jakarta : Pusat Pengkajian dan
23

Penerapan Teknologi Lingkungan, BPPT. [Online]. Tersedia pada:


http://download.portalgaruda.org/article.php?article=61947&val=4559
(diakses Minggu, 10 September 2017 14:32 PM)

Kelair. 2015. Sistem Pemanfaatan Air Hujan (SPAH) dan Pengolahan Air Siap
Minum (ARSINUM). Jakarta: BPPT. [Online]. Available from:

<http://www.kelair.bppt.go.id/sitpapdg/Patek/Spah/spah.html>[Acces
sed on10th September 2017].
Kementerian Pekerjaan Umum. (2017). Kementerian PUPR Kirimkan Alat
Berat dan Pasokan Air Bersih Bagi Korban Banjir Bandang
Magelang. [Online]. Tersedia pada:
http://www.pu.go.id/main/view_pdf/12426. [diakses pada : 9
September 2017]
Kompas. 2017. Terhenti, Suplai Air Bersih bagi Penduduk. [Online] Tersedia
pada:
Murdiyono. 2016. Identifikasi Bahaya, Penilaian dan Pengendalian Risiko di
Bengkel Pengelasan SMK N 2 Pengasih. Skripsi Fakultas Teknik
Universitas Negeri Yogyakarta, DIY. [Online] Available from:

Nelson, Stephen A. 2015. Flooding Hazards, Prediction & Human Intervention.


[Online] Available from:

http://www.tulane.edu/~sanelson/Natural_Disasters/floodhaz.htm
[Accessed on 09th September 2017].
Noerhayati. TIdak diketahui. Manfaat Minum Air Putih. Bogor : Institut
Pertanian Bogor. [Online]. Tersedia pada:
http://achamad.staff.ipb.ac.id/wp-content/plugins/as-pdf/noerhayati&%
23039%3Bs%20blog-Manfaat%20Minum%20Air%20Putih.pdf (diakses
Minggu, 10 September 2017 09:45 AM)
Parlemen Uni Eropa. 2007. Directive 2007/60/Ec Of The European Parliament
And Of The Council On The Assessment And Management Of Flood
Risks. [Online] [Diakses pada 10 September 2017] dari http://eur

lex.europa.eu/LexUriServ/LexUriServ.do?uri=OJ:L:2007:288:0027:0034:EN
PDF
24

Penentuan%20variabel-Tinjauan%20literatur.pdf> [Accessed on 09th


September 2017].
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. [Online]. Tersedia pada:
http://www.gitews.org/tsunami-kit/en/E6/further_resources/national_l
evel/peraturan_pemerintah/PP%2022-2008%20_Pendanaan%20dan%2
0Pengelolaan%20Bantuan%20Bencana.pdf (diakses Minggu, 10
September 2017 11:57 AM)

Publik, B. K., 2017. Kementerian PUPR Kirimkan Alat Berat dan Pasokan Air
Bersih Bagi Korban Banjir. [Online] Available at:
http://www.pu.go.id/main/view_pdf/12426[Accessed 10 September
2017].

Ratnasari, Septa Tri. 2009. Analisis Risiko Keselamatan Kerja Pada Proses
Pengeboran Panas Bumi Rig Darat #4 PT Apexindo Pratama Duta TBK
Tahun 2009. Skripsi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia, Depok. [Online] Available from:
<http://www.lontar.ui.ac.id/file?file=digital/124028-
Rubao Sun, dkk. 2015. Impacts of a flash flood on drinking water quality: case
study of areas most affected by the 2012 Beijingflood. Elsevier, e00071,
2405-8440. [Online] Diakses pada tanggal 7 September 2017. Dari:

http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2405844015305259
Rupaka, A. P. G. (2012). Penyediaan Air Minum Pasca Bencana. Semarang :
Universitas Diponegoro. [Online]. Tersedia pada :
https://www.slideshare.net/gilangrupaka/penyediaan-air-minum-pasca
bencana. [diakses pada : 9 September 2017]
S-5613-Analisis%20resiko-Literatur.pdf> [Accessed on 09th September
2017].
Saragih, Masrivel. Tidak diketahui. Teknologi Tepat Guna Sebagai Penyediaan
Air Bersih Di Daerah Bencana Banjir. Surabaya : Institut Teknologi
Sepuluh November. [Online]. Tersedia pada:
http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-14138-paperpdf.pdf
(diakses Minggu, 10 September 2017 19:48 PM)
25

Tempo, 2017. Banjir Bandang Magelang, Alat Berat Dikirim. [Online] Available
at:

https://bisnis.tempo.co/read/news/2017/05/03/090871880/banjir-bandang
magelang-alat-berat

Tribunnews Jogja. 2017. Penanganan Pasca-Bencana Banjir Bandang di


Magelang Belum Sepenuhnya Tuntas. [Online]. Tersedia di:
http://jogja.tribunnews.com/2017/05/07/penanganan-pasca-bencana-
banjir-bandang-di-magelang-belum-sepenuhnya-tuntas (diakses
Minggu, 10 September 2017)