Anda di halaman 1dari 13

PENGGOLONGAN OBAT ANTI KOAGULAN

Selasa, Februari 24th 2015. | Antikoagulan

Penggolongan Obat Anti Koagulan

Antikoagulan adalah at-zat yang dapat mencegah


pembekuan darah dengan jalan menghambat pembentukan fibrin. Antagonis dan vitamin K ini
digunakan pada keadaan dimana terdapat kecendrungan untuk membeku yang meningkat, misalnya
pada trombosis. Pada trombosis koroner (infark), sebagian otot jantung menjadi mati karena
penyaluran darah ke bagian ini terhalang oleh trombus di salah satu cabangnya. Obat-obat ini sangat
penting untuk meningkatkan harapan hidup penderita.
Antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat
pembentukan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan darah.
Atas dasar ini antikoagulan diperlukan untuk mencegah terbentuk dan meluasnya trombus dan
emboli, maupun untuk mencegah bekunya darah di luar tubuh pada pemeriksaan laboratorium atau
tranfusi.

Antikoagulan dapat dibagi menjadi 3 kelompok :


1. Heparin
Heparin merupakan anti koagulan injeksi yang bekerja dengan cara mengikat anti trombin dimana
menghasilkan peningkatan yang sangat besar pada aktivitas anti thrombin.
Struktur Heparin merupakan suatu kelompok asam sulfat glikosaminoglikans (atau mukopolisakarida)
yang terdiri atas sisa monosakarida pengganti dari asetilglukosamin dan asam glukoronat beserta
derivat-derivatnya. Sisa asam glukoronat hampir semuanya dalam bentuk asam iduronic dan
beberapa ester-sulfat. Sisa N-asetilglukosamin mungkin mengalami deasilasi, N-sulfat dan ester-
sulfat secara acak. Hasilnya berupa rantai 45-50 sisa glukosa dari komposisi tersebut diatas. Molekul-
molekul tersebut diikatkan oleh komponen-komponen sulfat pada protein skeleton yang berisi glisin
dan sisa asam amino serin. Berat molekul heparin berkisar dari 3000 sampai 40.000 Daltons dengan
rata-rata 12000-15000. Heparin endogen berlokasi di dalam paru-paru, pada dinding arteri dan di
dalam sel-sel mast yang lebarnya sama dengan polimer molekul yang beratnya 750.000. Berada di
dalam plasma dengan konsentrasi 1,5 mg/l.
Heparin memiliki pengisian negatif yang kuat dan molekul yang besar. Oleh karena itu terdapat
penyerapan minimal melalui pemberian oral. Ini disuplai sebagai sodium heparin dan kalsium heparin.
Mekanisme Kerja Heparin
Heparin memiliki beberapa efek :
1. Terhambatnya koagulasi oleh karena meningkatnya kerja anti trombin serin protease faktor
pembekuan (IIa, Xa, XIIa, XIa, dan IXa).
2. Berkurangnya agregasi trombosit.
3. Permeabilitas vaskular yang meningkat.
4. Pelepasan lipase lipoprotein ke dalam plasma.
Pengisian negatif heparin mengikat sisa lisin di dalam anti trombin, ?2-globulin, yang mana akan
meningkatkan afinitas arginin dari anti trombin untuk serine site dari trombin (faktor II). Peningkatan
tersebut menghambat aktivitas antitrombin 2300-fold. Ikatan ini dapat kembali menjadi ikatan anti
trombin spesifik yang terdiri atas 5 partikel residu. Partikel pentasakarida secara acak sekitar 1-3
molekul heparin. Untuk kerja penuh dari heparin pada trombin (IIa) molekul heparin harus memiliki
paling kurang 13 ekstra residu glukosa untuk penambahan anti trombin pentasakarida. Ikatan secara
kovalen trombin-anti-trombin kompleks adalah inaktif tetap sesekali dibentuk heparin dilepaskan dan
kemudian kompleks tersebut dihancurkan secara cepat oleh hati. Heparin yang aktif kadang bebas
untuk melakukan kerja pada antitrombin yang lebih. Kerja heparin berada dalam jalur yang sama
pada kerja faktor-faktor pembekuan (XIIa, Xa, dan IXa) serin protease yang lain. Berikatannya
heparin pada kedua faktor pembekuan dan antitrombin sangat penting dalam meningkatkan
antitrombin. Kerja heparin pada faktor Xa juga dimediasi oleh meningkatnya afinitas dari antitrombin
untuk faktor pembekuan tetapi heparin tidak mengikat faktor Xa. Faktor Xa menghambat peningkatan
dengan menurunkan tingkat heparin dibandingkan yang sudah diukur untuk menghambat trombin.
Heparin mengurangi agresasi trombosit sekunder pada reduksi di dalam trombin (merupakan
penyebab agregasi trombosit yang poten). Peningkatan di dalam lipase plasma menyebabkan
meningkatnya asam lemak bebas.
LOW MOLECULAR WEIGHT (LMW) HEPARIN
Contohnya : (certoparin, enoxaparin, tinzaparin).
Low Molecular Weight (LMW) dari heparin merupakan fragmen dari depolimerisasi heparin yang
berisi ikatan antitrombin spesifik. Oleh karena itu, semuanya menghambat faktor Xa. Berat molekul
dari heparin LMW berkisar dari 3000 sampai 8000 Daltons, dengan rata-rata 4000-6500. Semuanya
berdasarkan atas 13-22 residu gula. Heparin LMW memiliki aktifitas anti Xa yang penuh tetapi lebih
banyak mengurangi aktivitas antitrombin dan memerlukan keberadaan anti trombin untuk mengatasi
pengaruh yang diberikan. Berkurangnya interferensi dengan trombin memberikan beberapa
keuntungan pada heparin LMW :
1. Fungsi trombosit berubah minimal.
2. Hemostasis intra operatif yang terbaik.
3. Kemungkinan profilaksis tromboembolik vena yang terbaik di dalam praktek orthopedic.
Cara Pemberian
Heparin dapat diberikan secara intravena dan subkutan. Dosis bagi orang dewasa untuk profilaksis
trombosis adalah 5000 IU secara subkutan diberikan selama 8-12 jam/hari. Untuk antikoagulasi
penuh, selama operasi bypass jantung, dengan dosis 3 mg/kg (300 IU/kg) digunakan hingga
mencapai 3-4 IU heparin/ml darah. Heparin bekerja dengan cepat di dalam plasma. Heparin memiliki
volume distribusi 40-100 ml/kg dan kemudian menuju antitrombin, albumin, fibrinogen dan protease.
Meningkat pada fase protein akut (selama penyakit akut berlangsung) yang secara signifikan
merubah efek klinis. Heparin juga mengikat trombosit dan protein endotel, mengurangi bio-
availabilitas dan pengaruhnya. Obat ini dimetabolisme di dalam hati, ginjal dan sistem
retikuloendotelial oleh heparinase yang desulphate sisa-sisa mukopolisakarida dan menghidrolisis
daerah disekitarnya. Heparin memiliki lama kerja 40-90 menit.
LMW heparin juga diberikan secara subkutan dan memiliki keuntungan satu kali dalam pemberian
sehari. LMW heparin digunakan di dalam sirkuit dialisis ekstrakorporeal, dan telah digunakan pada
operasi jantung bypass. LMW heparin banyak kekurangan protein di dalam plasma, trombosit dan
dinding vaskuler serta bio-availabilitas setelah pemberian subkutan paling kurang 90%. Tingkat dari
LMW heparin bebas lebih dapat diprediksi dan membutuhkan pengontrolan. Puncak aktivitas anti-Xa
dicapai dalam waktu 3-4 jam setelah injeksi subkutan dan aktivitas terbagi 2 setelah 12 jam.
Eliminasinya lebih berpengaruh pada ginjal dan waktu paruhnya dapat meningkat pada gagal ginjal.
Efek pada koagulasi
Heparin dapat meningkatkan aktivitas waktu sebagian tromboplastin (APTT), waktu trombin (TT) dan
waktu penggumpalan darah (ACT) tetapi tidak mempengaruhi waktu perdarahan.
Penggunaan terapi heparin kita harus mengontrol secara rutin APTT, sedangkan penggunaan heparin
pada bypass jantung harus dikontrol ACT.
Heparin mengandalkan keberadaan antitrombin untuk membantu aktivitasnya. Penggunaan heparin
jangka panjang dapat menyebabkan osteoporosis dengan mekanisme yang belum diketahui.
2. Antikoagulan oral
Seperti halnya heparin, antikoagulan oral berguna untuk pencegahan dan pengobatan tromboemboli.
Untuk pencegahan, umumnya obat ini digunakan dalam jangka panjang.
Terhadap trombosis vena, efek antikoagulan oral sama dengan heparin, tetapi terhadap tromboemboli
sistem arteri, antikoagulan oral kurang efektif.

Antikoagulan oral diindikasikan untuk penyakit dengan kecenderungan timbulnya


tromboemboli,antara lain infark miokard, penyakit jantung rematik, serangan iskemia selintas,
trombosis vena, emboli paru.
Terdiri dari derivat 4 -hidroksikumarin misalnya : dikumoral, warfarin dan derivat indan-1,3-dion
misalnya : anisindion;
Anti koagulan oral menghambat berkurangnya vitamin K. Pengurangan vitamin K dibutuhkan sebagai
kofaktor di dalam karboksilasi ? dari residu glutamat pada glikoprotein faktor bekuan II, VII, IX, dan
X, yang mana disintesis di dalam hati. Selama proses karboksilasi-? ini berlangsung, vitamin K
dioksidasi menjadi vitamin K 2,3-epoksid. Anti koagulan oral mencegah reduksi dari senyawa ini
kembali menjadi vitamin K. Untuk bekerja, kumarin harus diutilisasi di dalam hati. Anti koagulan oral
melakukan hal ini berdasarkan pada struktur yang sama dari vitamin K. Aktivitas dari anti koagulan
oral tergantung pada deplesi faktor-faktor tersebut, dimana berkurang menurut lama kerja dari
masing-masing.

Ada 2 kelompok anti koagulan oral :

1. Kumarin (warfarin dan nicoumalon)


2. Inandiones (phenindione)
Warfarin penggunaannya sudah tersebar luas. Phenindione lebih sering menyebabkan
hipersensitivitas, tetapi dapat berguna apabila terdapat intoleransi pada penggunaan warfarin.

Warfarin Sodium

Warfarin diberikan secara oral sebagai campuran dari warfarin D dan warfarin L. Ini sangat cepat
diserap hingga mencapai puncak konsentrasi plasma dalam waktu 1 jam dengan bioavailabilitas
100%. Bagaimanapun, efek klinisnya tidak akan jelas kelihatan hingga faktor-faktor pembekuan
mengalami deplesi setelah 12-16 jam dan mencapai puncaknya pada 36-48 jam. Warfarin 99%
merupakan protein (albumin) di dalam plasma pada volume penyebaran yang kecil. Warfarin di
metabolisme dengan cara oksidasi (bentuk L) dan reduksi (bentuk D), diikuti oleh konjugasi
glukoronidasi, dengan lama kerja sekitar 40 jam.

Warfarin berjalan melalui plasenta dan bersifat teratogenik pada kehamilan. Pada periode pasca
kelahiran warfarin akan berjalan melewati payudara dimana menjadi masalah dalam menghasilkan
vitamin K2 dan fungsi hepar yang masih belum berkembang dengan baik pada bayi yang baru lahir.

Warfarin memiliki indeks terapeutik yang rendah, terutama bila berinteraksi dengan obat-obat yang
lain. Interaksi dengan obat-obatan yang lain akan menimbulkan efek warfarin yang terjadi di beberapa
jalur :

Persaingan pada saat terjadi ikatan protein


Meningkatnya ikatan hepatik
Hambatan pada enzim-enzim mikrosomal hepatik.
Berkurangnya sintesis vitamin K.
Kerja anti hemostatik sinergistik
Obat-obatan seperti NSAIDs, chloral hydrate, obat hipoglikemik oral, diuretik dan amiodaron
menggantikan warfarin dari ikatan albumin serta menghasilkan tingkat plasma bebas yang tertinggi
dan efek yang terbesar.

Efek yang dibuat lebih signifikan karena secara normal hanya 1% warfarin yang bebas dan sebuah
perubahan kecil didalam ikatan protein memiliki efek dramatis pada tingkat warfarin bebas. D-
Thyroxine meningkatkan potensi warfarin oleh karena meningkatnya ikatan hepatik. Ethanol yang
diberikan secara oral dapat menghambat enzim-enzim hati yang bertanggung jawab dalam eliminasi
warfarin. Efek dari warfarin juga meningkat pada penyakit-penyakit akut, rendahnya masukan vitamin
K dan obat-obat seperti cimetidin, aminoglikosid dan paracetamol.
Antibiotik spektrum luas mengurangi jumlah bakteri usus yang bertanggung jawab untuk sintesis
vitamin K dan dapat meningkatkan efek vitamin K pada saat makanannya kekurangan vitamin K.
Antikoagulan yang lain utamanya obat-obatan anti platelet dapat meningkatkan pengaruh klinis dari
warfarin.
Interaksi antara warfarin dengan obat-obatan yang lain dapat menurunkan efek dari warfarin itu
sendiri, yang dapat terjadi pada beberapa jalur, khususnya :

Induksi dari enzim-enzim mikrosomal hepatik


Obat-obatan yang meningkatkan tingkat faktor pembekuan
Pengikatan warfarin
Peningkatan intake vitamin K
Efek dari warfarin mungkin berkurang karena induksi dari enzim-enzim hepatik oleh barbiturat dan
fenitoin. Estrogen dapat meningkatkan produksi vitamin K tergantung pada faktor-faktor pembekuan
(II, VII, IX, X). Kolestiramin mengikat warfarin untuk mengurangi efek tersebut. Carbamazepin dan
rifampicin mengurangi efek dari warfarin namun mekanisme dari efek tersebut tidak jelas.

3. Antikoagulan yang bekerja dengan mengikat ion kalsium


Aspirin, sulfinpirazon, dipiridamol, tiklopidin dan dekstran merupakan obat yang termasuk golongan
ini.

Natrium sitrat dalam darah akan mengikat kalsium menjadi kompleks kalsium sitrat. Bahan ini banyak
digunakan dalam darah untuk transfusi, karena tidak tosik. Tetapi dosis yang terlalu tinggi
umpamanya pada transfusi darah sampai 1.400 ml dapat menyebabkan depresi jantung.

Asam oksalat dan senyawa oksalat lainnya digunakan untuk antikoagulan di luar tubuh (in vitro),
sebab terlalu toksis untuk penggunaan in vivo (di dalam tubuh).

Natrium edetat mengikat kalsium menjadi kompleks dan bersifat sebagai antikoagulan.

Untuk pemilihan obat antikoagulan dan antitrombolitik yang tepat ada baiknya anda harus periksakan
diri dan konsultasi ke dokter.

Di apotik online medicastore anda dapat mencari obat antikoagulan dan antitrombolitik dengan merk
yang berbeda dengan isi yang sama secara mudah dengan mengetikkan di search engine
medicastore.

Sehingga anda dapat memilih dan beli obat antikoagulan dan antitrombolitik sesuai dengan
kemampuan anda.

Setiap tablet Aspirin mengandung 0,5 g asam asetilsalisllat.


Indikasi:
Untuk meringankan rasa sakit, terutama sakit kepala dan pusing, sakit gigi, dan nyeri otot serta
menurunkan demam.
Dosis:
Bila tidak ada petunjuk khusus dari dokter
Dewasa : 1 tablet bila perlu 3 kali sehari
Anak 5 tahun ke atas : 1/2 1 tablet bila perlu 3 kali sehari
Aturan pakai:

Dianjurkan agar tablet diminum sesudah makan. Sebaiknya tablet dilarutkan dulu dalam air dan
diminum dengan air yang cukup banyak.

Cara kerja obat:

Asam Asetil Salisilat menghambat pengaruh dan biosintesa daripada zat-zat yang menimbulkan rasa
nyeri dan demam (Prostaglandin). Daya kerja antipiretik dan analgetik daripada Aspirin diperkuat oleh
pengaruh langsung terhadap susunan saraf pusat.

Kontraindikasi:

Penderita tukak lambung dan peka terhadap derivat asam salisilat, penderita asma, dan alergi.
Penderita yang pernah atau sering mengalami perdarahan di bawah kulit, penderita yang sedang
diterapi dengan antikoagulan, penderita hemofilia dan trombositopenia, jangan digunakan pada
penderita varicella cacar air/ chicken pox dan gejala flu serta penderita yang hipersensitif.
Efek samping:

Iritasi lambung, mual, muntah.

Pemakaian lama dapat terjadi perdarahan lambung, tukak lambung. Dapat terjadi berkurangnya
jumlah trombosit (trombositopenia).

Peringatan dan perhatian:

Bila anda hamil dan menyusui bayi, sebaiknya minta petunjuk dari dokter sebelum memakai Aspirin.
Jangan minum Aspirin dalam 3 minggu terakhir dari kehamilan, kecuali atas petunjuk dokter.
Minum Aspirin dekat sebelum kelahiran dapat manyebabkan perdarahan pada ibu dan bayi.
Demikian juga bila anda sedang diobati dengan antikoagulansia, methotrexat, antidiabetika oral, obat
encok, kortikosteroida dan preparat spironolakton, Jangan minum Aspirin.
Aspirin juga tidak boleh diminum dalam jangka waktu yang lama atau dengan dosis yang tinggi.
Hati-hati penggunaan pada anak-anak dengan gejala demam terutama flu varicella (cacar air) atau
konsultasikan dengan dokter. Bila setelah dua hari memakai obat ini suhu badan tidak menurun atau
setelah 5 hari nyeri tidak hilang, agar menghubungi dokter terdekat atau unit pelayanan kesehatan
terdekat. Penggunaan Aspirin pada penderita yang mengkonsumsi alkohol, dapat meningkatkan
resiko perdarahan lambung.

Hati-hati penggunaan obat ini pada penderita dengan gangguan fungsi hati, ginjal dan dehidrasi.

Overdosis:

Salisilat dalam lambung dikeluarkan dengan cara induksi muntah atau kuras lambung.Diikuti dengan
pemberian arang aktif untuk mengikat salisilat dan pencegahan absorpsi.
Pemberian arang aktif setiap 4 atau 6 jam dapat meningkatkan clearance.
Interaksi obat:

Jangan diberikan bersama-sama antikoagulan oral, kortikosteroid atau obat anti inflamasi nonsteroid.
Asetosal dosis besar dapat meningkatkan efek hipoglikemik oral terutama klorpropamid.
Tidak boleh digunakan bersama spironolakton, furosemid dan urikosurik, antipodagrik (obat untuk
gout), karena efek obat tersebut akan dikurangi, kecuali atas anjuran dokter.
o Simpan di bawah suhu 30C

http://www.artikelfarmasi.com/2015/02/penggolongan-obat-anti-koagulan.html
2.6.1 Antikoagulan Oral
Antikoagulan oral melawan efek vitamin K, dan diperlukan waktu paling tidak 48-72
jam untuk mendapat efek antikoagulan yang maksimal. Jika diperlukan efek yang
segera, heparin harus diberikan bersamaan.

Penggunaan. Indikasi utama terapi antikoagulan oral adalah trombosis vena dalam.
Selain itu juga digunakan pada pasien embolisme paru, fibrilasi atrium dengan risiko
embolisasi, dan pasien dengan katup jantung prostetik mekanik (untuk mencegah
terjadinya emboli di atas katup tersebut). Obat antiagregasi dapat juga digunakan
pada pasien tersebut.
Warfarin merupakan obat terpilih, sedangkan asenokumarol dan fenindion jarang
digunakan. Warfarin merupakan obat pilihan utama untuk pengobatan tromboemboli
sistemik pada anak-anak (bukan neonatus) setelah heparinisasi awal.

Antikoagulan oral tidak boleh digunakan sebagai terapi lini pertama pada trombosis
arteri serebral atau oklusi arteri perifer; asetosal lebih sesuai untuk mengurangi
risiko serangan iskemik otak yang bersifat sementara. Heparin atau heparin bobot
molekul rendah biasanya dipilih untuk profilaksis tromboemboli vena pada pasien
yang akan dibedah.

Dosis. Apabila memungkinkan, sebaiknya dilakukan pengukuran waktu protrombin


awal, namun dosis awal tidak boleh ditunda pemberiannya walau hasil uji belum
didapatkan.
Dosis induksi lazim pada dewasa untuk warfarin adalah 10 mg sehari selama 2 hari
(tidak dianjurkan dosis yang lebih tinggi). Dosis penunjang lanjutan bergantung pada
waktu protrombin, dilaporkan sebagai INR (internasional normalised ratio). Dosis
penunjang per hari warfarin biasanya 3 sampai dengan 9 mg (diminum pada jam
yang sama setiap hari). Target INR menurut rekomendasi British Society for
Haematology:
INR 2,5 untuk pengobatan trombosis vena-dalam dan embolisme paru (atau
untuk kekambuhan pada pasien yang tidak lagi menerima warfarin), untuk
pengobatan trombosis vena-dalam dan embolisme paru yang berhubungan
dengan sindrom antifosfolipid, untuk fibrilasi atrial, cardioversion (target nilai INR
yang lebih tinggi, misalnya 3, sebelum melakukan tindakan), dilated
kardiomiopati, mural thrombus pasca infark miokard, dan hemoglobinuria
paroksismal di malam hari;
INR 3,5 untuk trombosis vena-dalam kambuhan dan embolisme paru (pada
pasien yang sedang mendapat terapi warfarin dengan INR di atas 2);
Untuk pasien dengan katup jantung prostetik mekanik, target INR yang
dianjurkan tergantung pada tipe lokasi dari katup. Pada umumnya, target INR 3
dianjurkan untuk katup aorta mekanik, dan 3,5 untuk katup mitral mekanik
Pemantauan. Penting untuk menentukan INR setiap hari atau selang sehari pada
awal pengobatan, selanjutnya dengan interval yang lebih panjang (bergantung pada
respon yang diperoleh) dan selanjutnya dilakukan setiap 12 minggu.
Pendarahan. Efek samping utama semua antikoagulan oral adalah perdarahan.
Pemantauan INR dan melewatkan dosis jika perlu dapat dilakukan; apabila
antikoagulan sudah dihentikan namun perdarahan tidak berhenti, INR harus diukur 2-
3 hari kemudian untuk memastikan bahwa INR menurun.
Rekomendasi the British Society for Haematology untuk pasien yang menerima
warfarin (berdasarkan nilai INR dan kondisi perdarahan mayor atau minor):
Perdarahan mayor hentikan warfarin; berikan fitomenadion (vitamin K) 5-10
mg secara injeksi intravena lambat; berikan konsentrat protrombin kompleks
(faktor II, VII, IX dan X) 30-50 unit/kg bb atau plasma segar beku (fresh frozen
plasma) 15 mL/kg bb (jika konsentrat tidak tersedia).
INR >8,0, tidak ada perdarahan atau perdarahan minor hentikan warfarin,
mulai gunakan kembali bila INR <5,0; jika ada faktor risiko perdarahan yang lain
berikan fitomenadion (vitamin K) 500 mcg secara injeksi intravena lambat atau 5
mg per oral (untuk mengatasi sebagian efek antikoagulan diberikan fitomenadion
dengan dosis oral yang lebih kecil misalnya 0,52,5 mg dengan menggunakan
preparat intravena secara oral); ulangi dosis fitomenadion jika INR masih terlalu
tinggi setelah 24 jam.
INR 6,08,0, tidak ada perdarahan atau perdarahan minor hentikan warfarin,
mulai lagi bila INR <5,0.
INR < 6,0 tetapi lebih dari 0,5 unit di atas nilai sasaran kurangi dosis atau
hentikan warfarin, mulai lagi bila INR<5,0.
Perdarahan yang tidak terduga pada dosis terapi periksa kemungkinan
penyebabnya misalnya penyakit ginjal atau saluran cerna yang tidak terduga.
Efek samping utama semua antikoagulan oral adalah perdarahan.
Kehamilan. Antikoagulan oral bersifat teratogenik. Karena itu, tidak boleh diberikan
pada trimester pertama kehamilan. Wanita dengan risiko hamil harus diberi
peringatan terhadap bahaya obat ini karena menghentikan pemakaian warfarin
sebelum 6 minggu usia kehamilan akan menghindarkan risiko abnormalitas janin.
Antikoagulan oral menembus plasenta dengan risiko menimbulkan perdarahan
plasenta atau fetus, terutama selama beberapa minggu terakhir kehamilan dan pada
masa persalinan. Karena itu, antikoagulan oral seharusnya dihindari pada kehamilan,
terutama pada trimester pertama dan ketiga. Hal ini sulit dilakukan, terutama pada
wanita dengan katup jantung buatan, fibrilasi atrium atau dengan riwayat trombosis
vena kambuhan atau embolisme paru.
Monografi:

APIKSABAN
Indikasi:

pencegahan kejadian tromboemboli vena (Venous Thromboembolic Events, VTE)


pada pasien dewasa paska operasi penggantian pinggul atau lutut.
Peringatan:

risiko perdarahan, kerusakan ginjal, kerusakan hati ringan dan sedang, anastesi
neuraksial, operasi pinggul yang retak, tukak pada saluran pencernaan, riwayat
stroke hemoragik, hipertensi berat, infeksi endokarditis, paska operasi otak,
sumsum tulang belakang, atau mata, sedang menggunakan obat yang
meningkatkan risiko perdarahan, tidak direkomendasikan penggunaan pada
kehamilan dan menyusui.

Interaksi:

risiko perdarahan meningkat pada penggunaan bersama dengan antiplatelet, AINS,


antikoagulan dan sulfinpirazon, antifungi (ketokonazol, itrakonazol, vorikonazol, dan
posakonazol) meningkatkan konsentrasi plasma apiksaban (disarankan untuk
dihindari), antibakteri (rifampisin) menurunkan konsentrasi plasma apiksaban,
antivirus, hindari penggunaan bersama dengan atazanavir, darunavir,
fosamprenavir, indinavir, lopinavir, nelfinavir, ritonavir, saquinavir dan tipranavir.

Kontraindikasi:

perdarahan aktif, penyakit hati terkait koagulopati dan risiko perdarahan lainnya.
Efek Samping:

umum:anemia, perdarahan, memar, dan mual; Tidak umum: hipotensi,


trombositopenia, epistaksis, perdarahan saluran pencernaan, perdarahan melalui
anus (hematozesia), peningkatan transaminase, peningkatan aspartat
aminotransferase, peningkatan gamma-glutamiltransferase, gangguan pada hasil uji
fungsi hati, peningkatan fosfatase alkali darah, peningkatan bilirubin darah,
hematuria.
Dosis:

oral, 2,5 mg dua kali sehari, diberikan 12-24 jam setelah operasi. Pengobatan
dilakukan selama 10-14 hari untuk pasca operasi penggantian lutut atau 32-38 hari
untuk pasca operasi penggantian pinggul.

DABIGATRAN ETEKSILAT
Indikasi:

Profilaksis primer tromboemboli vena pasien dewasa pasca operasi elektif


penggantian pinggul total (total hip replacement) dan operasi penggantian lutut total
(total knee replacement), profilaksis embolisme stroke dan sistemik pada pasien
dengan fibrilasi atrial dengan paling sedikit satu faktor risiko stroke (seperti riwayat
stroke iskemik, Transient Ischemic Attack (TIA), atau embolisme sistemik, disfungsi
ventrikular kiri), terapi trombosis vena dalam akut (DVT) dan/atau emboli paru (PE).
Peringatan:

Pasien dengan risiko perdarahan seperti: gangguan koagulasi, trombositopenia atau


kerusakan fungsi platelet, penyakit ulseratif saluran pencernaan aktif, perdarahan
pencernaan, tindakan biopsi atau trauma besar, perdarahan intrakranial,
pembedahan otak, spinal, atau optalmik, endokarditis bakterial. Tidak
direkomendasikan pada gangguan fungsi hati sedang dan berat (Klasifikasi Child-
Pugh B dan C) atau kenaikan enzim hati >2 ULN. Gangguan fungsi ginjal sedang
(klirens kreatinin 30-50 mL/menit) dan usia 75 tahun diperlukan pengurangan
dosis. Gagal ginjal akut: penggunaan harus dihentikan. Pada pasien dengan anastesi
spinal/anastesi epidural/pungsi lumbal, dosis awal diberikan satu jam setelah kateter
dilepas. Kehamilan dan menyusui. Tidak direkomendasikan anak usia dibawah 18
tahun. Tidak direkomendasikan penggantian terapi dari antikoagulan parenteral.

Interaksi:

Obat yang bekerja pada sistem hemostasis atau koagulasi termasuk unfractionated
heparin, heparin derivat, heparin berat molekul (BM) tinggi, heparin BM rendah atau
turunan heparin, fondaparinuks, despiramin, zat trombolitik, antagonis reseptor GP
IIb/IIIa, klopidogrel, tiklopidin, dekstran, sulfinpirazon, rivaroksaban, prasugrel, asam
asetilsalisilat, itrakonazol, takrolimus, siklosporin, ritonavir, tipranavir, nelfinavir,
saquinavir, dan antagonis vitamin K: meningkatkan risiko perdarahan. Penghambat
P-glikoprotein seperti amiodaron, verapamil, kuinidin, tikagrelor, dan klaritromisin
meningkatkan konsentrasi plasma dabigatran. Penggunaan bersama dengan
penginduksi P-glikoprotein seperti rifampisin atau karbamazepin: mengurangi
konsentrasi dabigatran dalam plasma.

Kontraindikasi:

Hipersensitivitas, gangguan fungsi ginjal berat (klirens kreatinin <30 mL/menit),


manifestasi perdarahan, perdarahan diatesis, gangguan hemostasis spontan atau
farmakologikal, penggantian katup jantung prostetik, kerusakan hepatik atau
penyakit pada hati yang diduga mempengaruhi kelangsungan hidup, lesi organ
dengan risiko perdarahan bermakna secara klinis, termasuk ulkus gastrointestinal
yang baru atau sedang terjadi, menunjukkan adanya neoplasma malignan pada
risiko tinggi perdarahan, cedera otak atau spinal yang baru terjadi, operasi optalmik
atau spinal, perdarahan intrakranial yang baru terjadi, dugaan varises esofagus,
malformasi arteriovena, aneurisma vaskular atau intraspinal mayor, atau
abnormalitas intraserebral vaskular, penggunaan bersama dengan ketokonazol
sistemik atau dronedaron.

Efek Samping:

Umum: epistaksis (mimisan), perdarahan gastrointestinal, dispepsia, perdarahan


urogenital, anemia, nyeri abdomen, diare, mual, abnormalitas fungsi hati,
perdarahan pada kulit dan hematuria. Tidak umum: hipersensitivitas, ruam kulit,
hematoma, perdarahan, hemoptisis, ulkus gastrointestinal, gastroesofagitis, refluks
gastroesofageal, muntah, hemartrosis, trombositopenia, pruritus, perdarahan
intrakranial, perdarahan pada luka, disfagia, perdarahan traumatik, perdarahan di
area insisi, hematoma post-prosedural, perdarahan post-prosedural, anemia pasca
operasi, post-procedural discharge, dan sekresi cairan pada luka (wound
secretion). Jarang: urtikaria, angiodema, perdarahan di area injeksi, perdarahan di
area kateter, bloody discharge, wound drainage, post-procedural drainage.
Dosis:

Profilaksis tromboembolisme vena setelah operasi penggantian lutut total (total


knee replacement). 110 mg, 1-4 jam setelah operasi, dilanjutkan pada hari
berikutnya, 220 mg (2 kapsul 110 mg) sekali sehari selama 10 hari. Profilaksis
tromboembolisme vena setelah operasi penggantian pinggul total (total hip
replacement). 110 mg, 1-4 jam setelah operasi, dilanjutkan pada hari berikutnya,
220 mg (2 kapsul 110 mg) sekali sehari selama 28-35 hari. Jika terapi tidak dimulai
pada hari yang sama dengan operasi/pembedahan, dosis awal yang diberikan adalah
220 mg (2 kapsul 110 mg). Jika terjadi gangguan hemostasis, terapi awal dapat
ditunda. Penggunaan bersama dengan penghambat P-glikoprotein kuat: dosis
diturunkan menjadi 150 mg per hari (2 kapsul 75 mg) pada pasien gangguan fungsi
ginjal sedang (klirens kreatinin 30-50 ml/menit). Lansia (lebih dari 75 tahun):
mempertimbangkan kondisi ginjal (pengecekan klirens kreatinin). Penggantian
dengan antikoagulan parenteral: pemberian 24 jam setelah dabigatran eteksilat.
Dosis yang terlupa: lanjutkan penggunaan sesuai jadwal pada hari selanjutnya.
Profilaksis embolisme stroke dan sistemik pada pasien dengan fibrilasi atrial, dosis
harian 300 mg (150 mg, 2 kali sehari). Lansia (diatas 80 tahun): dosis harian 220 mg
(110 mg, 2 kali sehari). Penggunaan bersama penghambat P-glikoprotein kuat: dosis
harian 300 mg (150 mg, 2 kali sehari). Pasien yang berisiko perdarahan: dosis harian
220 mg (110 mg, 2 kali sehari). Penggantian dengan antikoagulan parenteral: 12 jam
setelah pemberian dabigatran eteksilat. Kardioversi: dapat tetap mendapatkan
dabigatran eteksilat selama kardioversi. Bila dosis terlupa >6 jam sebelum jadwal
berikutnya: minum obat sesuai aturan. Jika dosis terlupa <6 jam: dosis diabaikan,
lanjutkan pemberian pada jadwal berikutnya.
Terapi pada DVT dan PE. dosis harian 300 mg (150 mg, 2 kali sehari), diikuti dengan
antikoagulan parenteral minimal 5 hari. Terapi harus dilanjutkan selama 6 bulan.
Penggantian dengan antikoagulan parenteral menunggu hingga 12 jam setelah dosis
terakhir dabigatran eteksilat. Penggantian dari antikoagulan parenteral ke
dabigatran eteksilat diberikan 0-2 jam sebelum jadwal pemberian. Penggantian dari
antagonis Vit. K: antagonis Vit. K harus dihentikan, dabigatran eteksilat diberikan
segera saat INR <2,0. Penggantian ke antagonis Vit. K disesuaikan dengan klirens
kreatinin: Klirens kreatinin 50 mL/menit, warfarin dimulai 3 hari sebelum
dihentikannya dabigatran eteksilat. Klirens kreatinin 30 - <50 mL/menit, warfarin
dimulai 2 hari sebelum dihentikannya dabigatran eteksilat. Bila dosis terlupa >6 jam
sebelum jadwal berikutnya: minum obat sesuai aturan. Jika dosis terlupa <6 jam:
dosis diabaikan, lanjutkan pemberian pada jadwal berikutnya.

RIVAROKSABAN
Indikasi:

mengurangi risiko stroke dan embolisme pada pasien atrial fibrilasi nonvalvular
dengan riwayat stroke atau TIA atau pada pasien atrial fibrilasi nonvalvular dengan
skor CHADS2 > 2, trombosis vena dalam (Deep Vein Thrombosis/DVT).
Peringatan:

risiko hemoragi, gangguan fungsi ginjal, gangguan fungsi hepar.

Interaksi:

pemberian bersamaan dengan ketokonazol, ritonavir dan antikoagulan dapat


meningkatkan risiko perdarahan.

Kontraindikasi:

hipersensitivitas, pendarahan, penyakit hati yang terkait koagulopati dan risiko


pendarahan yang relevan, kehamilan dan menyusui, pemberian bersamaan dengan
antijamur azol.

Efek Samping:

umum: anemia, pusing, sakit kepala, pingsan, hemoragik mata (termasuk hemoragik
konjungtiva), takikardi, hipotensi, hematoma, epistaksis, hemoragik gastronintestinal
(termasuk gingival bleeding, hemoragik rektal), nyeri ekstremitas, perdarahan
saluran kencing (termasuk hematuria, menoragia), demam, edema perifer, letih,
astenia, peningkatan transaminase, perdarahan pasca operasi (termasuk anemia,
perdarahan luka), bingung; Tidak umum: trombositemia (termasuk peningkatan
jumlah platelet), reaksi alergi, alergi dermatitis, hemoragik intrakarnial dan serebral,
hemoptisis, mulut kering, abnormal fungsi hati, urtikaria, hemoragik kulit dan
subkutan, hemartrosis, gangguan fungsi ginjal (termasuk peningkatan kreatinin
darah, peningkatan urea darah), malaise, edema lokal, peningkatan bilirubin,
peningkatan fosfatase alkali, peningkatan amilase, peningkatan GGT, wound
secretion; Jarang; jaundice, hemoragik otot, peningkatan bilirubin terkonjugasi
(dengan atau tanpa peningkatan ALT); frekuensi tidak diketahui; pembentukan
pseudoaneurisme setelah dilakukan intervensi perkutan, compartment syndrom
seconday to a bleeding, gagal ginjal/gagal ginjal akut akibat perdarahan yang
menimbulkan hipoperfusi.
Dosis:

20 mg sekali sehari (dosis maksimal), untuk DVT: 15 mg dua kali sehari (dosis
maksimal 30 mg, jika lupa dapat diminum sekaligus dua tablet), untuk tiga minggu
pertama diikuti selanjutnya 20 mg sekali sehari (dosis maksimal).

NATRIUM WARFARIN
Indikasi:
profilaksis embolisasi pada penyakit jantung rematik dan fibrilasi atrium; profilaksis
setelah pemasangan katup jantung prostetik; profilaksis dan pengobatan trombosis
vena dan embolisme paru; serangan iskemik serebral yang transien.

Peringatan:

gangguan hati dan ginjal, baru saja mengalami pembedahan, menyusui, hindari sari
buah cranberi.

Interaksi:

lihat lampiran 1 (warfarin).

Kontraindikasi:

kehamilan, tukak peptik, hipertensi berat, endokarditis bakterial.

Efek Samping:

perdarahan; hipersensitivitas, ruam kulit, alopesia, diare, hematokrit turun, nekrosis


kulit, purple toes, sakit kuning, disfungsi hati; mual, muntah, pankreatitis.

Dosis:

Pemberian warfarin harus diukur berdasarkan penetapan "quick onestage


prothrombin time" atau thrombotest. Tingkat lazim untuk terapi antikougulan
penunjang adalah 2 kali lebih besar atau lebih kecil dari "normal quick one-stage
prothrombin time" atau 15-30% nilai normal pada "converted cougulation activity"
atau kurang lebih 10% dari normal pada thrombotest.
Dosis yang lazim pada orang dewasa adalah 10 mg sehari selama 2 sampai 4 hari
dengan penyesuaian setiap hari berdasarkan hasil penetapan waktu protombin,
terapi lanjutan dengan dosis penunjang 2-10 mg sekali sehari.

Karena kepekaan terhadap obat sangat individualistik, maka dapat berubah,


penetapan waktu prothombin harus secara berkala dilakukan terutama pada awal
terapi agar kegiatan kougulasi pasien pada rentang terapi.

http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-2-sistem-kardiovaskuler-0/26-antikoagulan-dan-protamin/261-
antikoagulan-oral