Anda di halaman 1dari 30

Pengauditan Internal

SAMPLING
Modul Pengauditan Internal

Disusun oleh :
Ridah Alawiah Rahman
A31114315

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

0
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
dengan ini kita panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat-
Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan modul untuk mata kuliah Pengauditan Internal
ini.
Tidak lupa penyusun juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak-
pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian modul ini. Harapan penyusun semoga
modul ini dapat menambah pengetahuan dan berguna bagi pembaca.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penyusun, maka disadari
bahwa masih banyak kekurangan dalam modul ini, Oleh karena itu penyusun mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan modul ini.

Makassar, November 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.

KATA PENGANTAR...1

DAFTAR ISI.2

BAGIAN I - TINJAUAN MATA KULIAH .3

BAGIAN II PENDAHULUAN5

BAGIAN III MATERI PEMBELAJARAN..6

BAGIAN IV - LATIHAN...22

BAGIAN V RANGKUMAN...23

BAGIAN VI TES FORMATIF..24

BAGIAN VII UMPAN BALIK ..25

BAGIAN VIII KUNCI TES FORMATIF.....26

BAGIAN IX DAFTAR PUSTAKA29

2
BAGIAN I

TINJAUAN MATA KULIAH

A. DESKRIPSI MATA KULIAH

Matakuliah ini dirancang untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang


konsep dan pelaksanaan pengauditan internal perusahaan serta pentingnya pengendalian
internal (Internal Control/ICOFR) dan hubungannya dengan manajemen risiko
perusahaan.

A. KEGUNAAN MATA KULIAH


1. Mampu melaksanakan proses pengauditan internal dan penyusunan laporan audit
internal secara professional
2. Mampu membuat prosedur pemeriksaan internal
3. Mampu memahami struktur pengendalian intern perusahaan
4. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi
5. Mampu untuk bekerjasama, baik sebagai pimpinan maupun sebagai anggota kelompok
(tim audit)

C. SASARAN BELAJAR :
Dapat memahami materi berikut:
1. Gambaran Umum Audit Internal
2. Model-Model Internal Control
3. Strategi Penentuan Risiko
4. Survey Pendahuluan
5. Program Audit
6. Pekerjaan Lapangan I
7. Pekerjaan Lapangan II
8. Temuan Audit
9. Kertas Kerja Audit
10. Sampling Audit

3
11. Metode Analisis
12. Audit System Informasi
13. Laporan Audit Internal
14. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

D. URUTAN PENYAJIAN :
1. Gambaran Umum Audit Internal
2. Model-Model Internal Control
3. Strategi Penentuan Risiko
4. Survey Pendahuluan
5. Program Audit
6. Pekerjaan Lapangan I
7. Pekerjaan Lapangan II
8. Temuan Audit
9. Kertas Kerja Audit
10. Sampling Audit
11. Metode Analisis
12. Audit System Informasi
13. Laporan Audit Internal
14. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

4
BAGIAN II
PENDAHULUAN

A. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai


Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk :
1. Memahami Definisi sampling
2. Memahami Pemilihan sampling
3. Memahami Penarikan sampling
4. Memahami Ukuran sampling
5. Memahami Sampling statistic dan non statistik

B. Ruang lingkup bahan modul


Modul ini disusun berdasarkan Garis Besar Rencana Pembelajaran (GBRP) mata
kuliah Pengauditan Internal. Penyusunan modul ini merujuk pada berbagai referensi
yang relevan. Modul ini diharapkan mampu menambah pengetahuan terkait dengan
Audit Internal terkait pembahasan Sampling.

C. Manfaat mempelajari modul


Setelah mempelajari modul ini, pembaca diharapkan mampu untuk memahami materi
terkait Sampling dengan pembahasan berbagai subpokok bahasan yang lebih ringkas
dan padat dari berbagai referensi yang digunakan sehingga memudahkan dalam
memahami materi tersebut.

D. Urutan pembahasan
1. Definisi sampling
2. Pemilihan sampling
3. Penarikan sampling
4. Ukuran sampling
5. Sampling statistic dan non statistik

5
BAGIAN III

MATERI PEMBELAJARAN

SAMPLING
Dalam setiap pelaksanaan audit baik keuangan maupun operasional, auditor selalu
dihadapkan dengan banyaknya bukti-bukti transaksi yang harus diaudit dengan waktu audit
yang sangat terbatas. Sesuai dengan tanggung jawab profesionalnya, auditor berkepentingan
dengan keabsahan simpulan dan pendapatnya terhadap keseluruhan isi laporan dan/atau
kegiatan yang diauditnya. Mengingat tanggung jawab ini, maka auditor hanya akan dapat
menerbitkan laporan yang sepenuhnya benar, jika dia memeriksa seluruh bukti transaksi.
Namun demikian, hal ini tidak mungkin dilakukan. Pertama, dari segi waktu dan biaya hal ini
akan memerlukansumberdaya yang sangat besar. Kedua, dari segi konsep, audit memang
tidakdirancang untuk memberikan jaminan mutlak bahwa hasil audit 100% sesuaidengan
kondisinya.
Oleh karena itu, auditor harus merancang cara untuk mengatasi hal tersebut. Cara yang
dapat dilakukan auditor adalah hanya memeriksa sebagian bukti yang ditentukan dengan cara
seksama, sehingga bisa untuk mengambil kesimpulan secara menyeluruh. Hal ini dapat
dilakukan dengan metode sampling audit. Dengan cara demikian maka audit dapat dilakukan
dengan biaya dan waktu yang rasional.
Jadi digunakannya metode pengujian dengan sampling audit diharapkan auditordapat
memperoleh hasil pengujian yang objektif dengan waktu dan biaya yang minimal, sehingga
pekerjaan audit bisa efektif dan efisien.

Konsep Dasar Sampling Audit


SA 350.01 mendefinisikan sampling audit sebagai penerapan prosedur audit terhadap
unsur-unsur suatu saldo rekening atau kelompok transaksi yang kurang dari seratus persen
dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo rekening atau kelompok transaksi
tersebut. Sampling audit sangat banyak dipakai dalam prosedur pencocokkan ke dokumen
(vouching), konfirmasi, dan penelusuran (tracing), tetapi biasanya tidak digunakan dalam
pengajuan pertanyaan, observasi, dan prosedur analitis.

6
Resiko Sampling dan Resiko NonSampling

Dalam sampling audit, resiko terbagi menjadi 2, yaitu resiko sampling dan resiko non
sampling.

Resiko Sampling
Risiko sampling adalah kemungkinan bahwa suatu sampling yang telah diambil
dengan benar tidak mewakili populasi. Tipe risiko sampling yang bisa terjadi dalam
melaksanakan pengujian pengendalian dan pengujian substantif :
Pengujian Pengendalian
- Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah, yaitu risiko
menetukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, terlalu rendah
dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur
pengendalian yang sesungguhnya.
- Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi, yaitu risiko
menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, yang terlalu
tinggi dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur
pengendalian yang sesungguhnya.

Pengujian Substantif
- Risiko keliru menerima yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil
sampel, bahwa saldo rekening tidak berisi salah saji secara material, padahal
kenyataannya saldo rekening telah salah saji secara material.
- Risiko keliru menolak yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil
sampel, bahwa saldo rekening berisi salah saji secara material, padahal
kenyataannya saldo rekening tidak berisi salah sajis secara material.

Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian terlalu rendah dan risiko keliru
menerima, dalam istilah statistik biasa disebut sebagai risiko beta adalah berkaitan dengan
efektivitas audit. Sebaliknya, risiko penentuan tingkat risiko pengendalian terlalu tinggi
dan risiko keliru menolak, dalam istilah statistik biasa disebut sebagai risiko alpha adalah
berkaitan dengan efisiesnsi audit.

Resiko Nonsampling
Risiko nonsampling meliputi semua aspek risiko audit yang tidak berkaitan dengan
sampling. Risiko nonsampling tidak bisa diukur secara sistematis. Namun demikian,

7
dengan perencanaan dan supervisi yang tepat dan berlandaskan pada standar kualitas mutu,
risiko nonsampling dapat ditangani pada tingkat yang minimal atau tidak berarti lagi.
Sumber risiko sampling meliputi :
1) Kesalahan manusia.
2) Ketidaktepatan penerapan prosedur audit terhadap tujuan audit.
3) Kesalahan dalam menafsirkan hasil sampel.

Kesalahan karena mengandalkan pada informasi yang keliru yang diterima dari pihak
lain.

PENGAMBILAN SAMPEL SECARA STATISTIK VERSUS NON-STATISTIK DAN


PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK VERSUS NON-PROBABILISTIK
Sebelum membahas mengenai metode pemilihan sampel untuk mendapatkan sifat
sampel yang representative,akan sangat berguna untuk membedakan antara pengambilan
sampel secara statistic dan non statistic dan pemilihan sampel probabilitas dan non
probabilistic.
Pengambilan Sampel Statistik Dan Non Statistik
Metode pengembalian sampel dapat di bedakan dalam dua kategori besar,yakni
pengambilan sampel secara statitik dan non statisti.kedua kategori ini identik satu sama lain
dalam hal keduanya melibatkan tiga fase berikut.
a. Merencanakan sampel
b. Memilih sampel dam melakukan pengujian-pengujian
c. Mengevaluasi hasilnya
Tujuan perencanaan sampel adalah untuk menyakinkan agar pengujian audit di
lakukan dalam cara yang dapat memberikan risiko sampel yang di inginkan dan
meninimalkan kemungkinan kesalahan non sampel. Pemilihan sampel melibatkan keputusan
mengenai bagaimana kesalahan non sampel.pemilihan sampel melibatkan keputusan
mengenai bagaimana suatu sampel dipilih dari populasi.Auditor hanya dapat melakukan
pengujian audit setelah pos-pos sampel dipilih. Pengevaluasian hasilnya merupakan
pengambilan kesimpulan dari hasil pengujian-pengujian audit.
Asumsikan auditor memilih sampel 100 salinan faktur penjualan dari suatu
populasi,menguji masing-masing sampel untuk menentukan apakah dokumen pengiriman
barang sudah terlampir,dan menentukan terdapat tiga pengecualian.

8
Pengambilan sampel statistik berbeda dengan pengambilan sampel non
statistik.dengan menerapkan aturan-aturan metematis,auditor dapat mengukur risiko
pengambilan sampel dalam merencanakan sampel serta dalam mengevaluasi hasil statistik
dengan tingkat keyakinan 95 persen pada mata pelajaran statistik . tingkat keyakinan 95
persen memiliki risiko sampel 5 persen).
Dalam pengambilan sampel non-statistik, auditor tidak mengkuaatifikasikan resiko
sampel. namum,auditor memilih pos-pos sampel yang di yakini akan memberikan informasi
yang paling berguna dalam kondisi tersebut dan menarik kesimpulan atas populasi
berdasarkan pertimbangan profesinal. Untuk alasan itulah,pengguanan sampel non statistik
sering kali di namai dengan pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan(judgmental
sampling).

Pemilihan sampel probabilitas dan non-probabilistik


Pemilihan sampel probabilistik maupun non probabilistik berada di tahap 2.ketika
menggunakan pemilihan sampel probabilistik,auditor memilih pos sampel secara acak
sehingga setiap pos populasi memiliki probabilitas yang pasti di masukkan pada
sampel.proses ini memerlukan kehati-hatian yang tinggi dan menggunakan pertimbangan
profesional daripada metode probabilistik.auditor dapat menggunakan salah satu dari
beberapa metode pemilihan sampel non probabilistik.
Penerapakan pemilihan sampel statistik dan non-statistik dalam praktik dan metode
pemilihan sampel
Standar audit mengizinkan auditor untuk menggunakan pendekatan statistik ataupun
non statistik dalam melakukan pengambilan sampel. Namum, penting untuk diingat bahwa
penerapan dalam prosesnya harus di ikuti dengan saksama.ketika pendekatan statistik
digunakan sampel tersebut harus bersifat probabilistik dan metode evaluasi secara statistik
harus di gunakan dengan hasil sampelnya untuk membuat perhitungan risiko pengambilan
sampel.auditor dapat membuat evaluasi secara statistik harus digunakan dengan hasil
sampelnya untuk membuat perhitungan risiko pengambilan sampel. Aauditor dapat
mengevaluasi non statistik ketika menggunakan pemilihan sampel probabilistik,namum tidak
boleh mengevaluasi sampel non probabilistik dengan menggunakan metode statistik.
Tiga jenis metode pemilihan sampel biasanya dikaitkan dengan pengambilan sampel
audit non statistik.ketiga metode tersebut adalah non probabilistik.empat jenis metode
pemilihan sampel biasanya dikaitkan dengan metode pemilihan sampel biasanya dikaitkan
dengan pengambilan sampel audit statistik.keempat metode tersebut adalah probabilistik

9
Metode pemilihan sampel non probabilistik adalah sebagai berikut:
1. Pemilihan sampel terarah(directed sampel selection)
2. Pemilihan sampel blok(block sampel selection)
3. Pemilihan sampel sembarang (haphazard sampel selection).

Metode pemilihan sampel probabilistik antara lain adalah:


a. Pemilhan sampel acak sederhana
b. Pemilihan sampel sistematik
c. Pemilihan sampel probabilistik proporsional terhadap ukuran
d. Pemilihan sampel berjenjang

METODE PEMILIHAN SAMPELNON- PROBABILISTIK


Hubungan Antara Metode Seleksi Sampel Dengan Evaluasi Hasil
Metode Seleksi Sampel Metode evaluasi hasil
Statistic Non statistik
Probabilistik Direksi Dapat diterima
Non probabilistik Tidak dapat diterima wajib

Metode pemilhan sampel non probabilistik merupakan metode-metode yang


tidak memenuhi persyaratan teknis untuk pemilihan sampel ini tidak berdasarkan pada
probabilitas matematis,keterwakilan sampel tersebut mungkin sulit untuk ditentukan.
Pemilihan Sampel Terarah (Directed Sample Selection)
Dalam pemilihan sampel terarah auditor secara sengaja memilih setiap pos dalam
sampel berdasarkan pada pertimbangan profesional mereka sendiri daripada menggunakan
pemilihan sampel secara acak.pendekatan yang umumnya digunakan mencakup hal-hal
berikut.
Pos-pos yang paling mungkin berisi salah saji. auditor sering kali mampu
mengendtifikasi pos populasi mana yang paling mungkin terjadi salah saji. Contohnya adalah
piutang dagang yang belum dilunasi untuk periode yang lama,pembelian dari dan penjualan
pada karyawan dan perusahaan terafiliasi,serta transaksi yang sangat besar dan tidak
biasa.auditor dapat secara efisien menyelidiki pos-pos sejenis ini dan hasilnya dapat
diterapkan pada populasi.dalam mengevaluasi sampel sejenis itu,auditor biasanya beralasan

10
bahwa jika tidak ada pos-pos dari sampel yang dipilih ini yang mengalami salah saji,kecil
kemungkinan bahwa populasinya mengalami salah saji material.
Pos pos yang berisi karakteristik populasi yang dipilih. dengan memilih satu atau
lebih pos-pos dengan karakteristik populasi yang berbeda,auditor dapat merancang sampel
agar menjadi representatif. Sebagai contoh,auditor dapat memilih sebuah sampel penerimaan
kas yang berisi beberapa sampel dari setiap bulannya,dari setiap akun bank atau lokasi,dan
jenis utama akuisisi.
Cakupan nilai rupiah yang besar.auditor terkadang dapat memilih sebuah sampel
yang mencakup suatu porsi terbesar dari total rupiah populasi,sehingga dapat mengurangi
risiko pengambilan kesimpulan yang tidak tepat dengan tidak memeriksa pos-pos yang nilai
rupiahnya kecil,di mana hanya sedikit pos yang membentuk proporsi besar dari total niali
populasi.beberapa metode pengambilan sampel statistik juga di rancang untuk mencapai
pengaruh sama.
Pemilihan sampel blok (blok sampel selection)
Dalam pemilihan sampel blok auditor memilih pos,di dalam suatu blok terlebih
dahulu, kemudian blok sisanya dipilih secara berurutan,sebagai contoh,anggaplah sampel blok
adalah 100 transaksi penjualan yang berurutan dari jurnal penjualan di minggu ke tiga bulan
maret.Auditor dapat memilih total sampel sebesar 100 dengan mengambil 5 blok yang berisi
20 pos,10 blok yang berisi 10 pos,50 blok yang berisi 2 pos atau 1 blok berisi 100 pos.
Biasanya merupakan praktik yang dapat diterima untuk menggunakan sampel blok
hanya jika suatu jumlah blok yang masuk digunakan,probabilitas mendapatkan sebuah
sampel yang representatif akuntansi,sifat musiman dari banyak bisnis .sebagai contoh,dalam
contoh sebelumnya,pengambilan sampel 10 blok yang berisi 10 pos dari menggu ketiga bulan
maret sangat kurang tepat di bandingkan dengan memilih 10 blok yang berisi 10 pos dari 10
bulan yang berbeda.
Pengambilan sampel blok juga dapat digunakan untuk menambah sampel lainnya
ketika terdapat kemungkinan salah saji yang besar untuk suatu periode tertentu.sebagai
contoh,auditor dapat memilih 100 penerimaan kas dari minggu ketiga bulan mei jika pada saat
itu petugas pembukuan sedang berlibur dan pegawai pengganti yang tidak berpengalaman
memproses transaksi peneriamaan kas.
Pengambialan sampel sembarang (Haphazard sampel selection)
Pemilihan sampel sembarang adalah pemilihan pos sampel tanpa bias yang
disengaja oleh auditor. Pada beberapa kasus,auditor memilih pos populasi tanpa
mempertimbangkan ukuran,sumber,atau karekteristik khusus lainnya.

11
Kekurangan yang paling utama dari oengambilan sampel sembarang adalah kesulitan
dalam menentukan sisa yang pasti tidak bias dalam pemilihan sampel.beberapa pos populasi
lebihh mungkin lebih mungkin di masukkan ke dalam sampel di bandingkan dengan pos
lainnya karena kterampilan auditor dan bias yang tidak disengaja.
Meskipun pemilihan sampel acak dan blok nampaknya kurang logis di bandingkan
dengan pemilihan sampel terarah,keduanya sering kali digunakan ketika biaya pemilihan
sampel yang lebih rumit daripada mamfaat yang didapatkan dari penggunaan kedua
pendekatan ini.sebagai contoh,anggaplah auditor ingin menelusuri sisi kredit pada arsip utama
piutang dagang kejurnal penerimaan kas dan bukti-bukti sah lainnya sebagai pengujian
penghapusan utang fiktif pada arsif utama. Dalam situasi itu,banyak auditor yang
mnggunakan pendekatan sembarang atau dalam situasi itu banyak auditor yang menggunakan
pendekatan sembarang atau blok,karena lebih mudah dan lebih murah di bandingkan dengan
metodepemilihan lainnya.namum demikian ,untuk banyak penerapan metode pengambilan
sampel statistik yang melibatkan pengujian pengendalian dan pengujian substantif
transaksi,auditor lebih cenderung menggunakan metode pemilihan sampel probabilistik untuk
meningkatkan kemungkinan pemilihan sampel yang representatif.

METODE PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK


Pengambilan sampel statistic mengharuskan sampel probabilistik untuk mengukur
risiko sampe. Untuk sampel probabilistic, auditor tidak menggunakan pertimbangan mengenai
pos apa yang harus dipilih, kecuali dalam memilih yang emas dari empat metode yang akan
digunakan.
Pemilihan Sampel Acak Sederhana
Dalam pemilihan sampel acak sederhana, setiap kombinas yang mugkin dari pos
populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dimasukkan dalam sampel. Auditor
menggunakan pengambilan acak sederhana untuk sampel populaso ketika tidak terdapat
kebutuhan untuk menekankan satu atau lebih jenis pos-pos populasi.
Tabel Nomor Acaknomor-nomor acak merupakan serangkaian digit nomor yang
memiliki probabilitas yang sama untuk terjadi dalam jangka panjang dan tidak memiliki pola
yang bisa diidentifikasi. Tabel nomor acak memilki digit angka acak dalam tabel yang
memilki kolom dan baris yang sudah diberi nomor. Auditor memilih sampel acak dengan
menentukan hubungan antara nomor dokumen klien yang akan dipilih dan digit nomor dalam
tabel nomor acak terlebih dahulu, kemudian mencari nomor acak pertama yang jatuh dalam

12
urutan nomor dokumen yang akan diuji. Proses ini berlangsung terus sampai sampel terakhir
dipilih.
Nomor Acak Yang Dihasilkan Oleh Komputer. Sebagian besar sampel acak yang
digunakan auditor dihasilkan oleh komputer dengan menggunakan salah satu dari tiga jenis
program yaitu kertas kerja elektronik, penghasil nomor acak, dan peranti lunak audit umum.
Program komputer menawarkan beberapa keunggulan. Keunggulan itu antara lain
adalah hemat waktu, mengurangi kemungkinan kesalahan yang dilakukan oleh auditor dalam
memilih nomor dan dokumentasi yang otomatis. Karena sebagian besar auditor memilki akses
terhadap komputer dan kertas kerja elektronik atau program penghasil nomor acak, biasanya
auditor cenderung menggunakan nomor acak yang dihasilkan oleh komputer dibandingkan
dengan metode pemilihan sampel probabilistik lainnya.
Nomor acak dapat diperoleh dengan atau tanpa penggantian. Dengan penggantian
berarti sebuah elemen dalam populasi dapat dimasukkan ke dalam sampel lebih dari sekali.
Dalam pemilihan sampel tanpa penggantian, sebuah pos dapat dimasukkan dalam sampel
hanya sekali. Meskipun kedua pendekatan pemilihan sampel ini konsisten dengan teori
statistic, auditor jarang menggunakan pengambilan sampel dengan penggantian.
Pemilihan Sampel Statistik
Dalam pemilihan sampel statistik (disebut juga dengan pengambilan samoek
sistematik), auditor menghitung suatu interval dan kemudian memilih pos-pos untuk sampel
tersebut berdasarkan ukuran interval. Intervalnya ditentukan dengan membagi ukuran
populasi dengan ukuran sampel yang diinginkan. Dalam suatu populassi faktur penjualan
yang rentangnya dari 652 ke 3151, dengan ukuran sampel yang diinginkan sebanyak 125,
maka intervalnya adalah 20 ([3151-651]/125). Auditor memilih sebuah nomor acak antara 0
dan 19 ( ukuran interval) lebih dulu untuk menentukan titik awal sampel. Jika nomor yang
dipilih secara acak adalah 9, pos pertama dalam sampel adalah faktur penjualan dengan
nomor 661 (652 + 9). Seratus dua puluh empat sisanya adalah 681 (661+20), 701 (681 + 20),
dan seterusnya sampai dengan pos ke 3141.
Keunggulan pemilihan sampel sistematik adalah kemudahan dalam penggunaannya.
Pada sebagian besar populasi, sampel sistematik dapat diambil dengan cepat dan pendekatan
ini akan secara otomatis memasukkan nomor secara berurutan, sehingga mudah untuk
mengembangkan dokumentasi yang tepat.
Masalah yang harus diperhatikan dalam pemilihan sampel sistematik adalah
kemungkinan terjadinya bias. Karena cara dilakukannya pengambilan sampel sistematik
adalah jika pos pertama dalam sampel sudah dipilih, semua pos lainnya dipilih secara

13
otomatis. Hal ini tidak menimbulkan masalah jika karekteristik yang penting, misalnya
kemungkinan adanya deviasi pengendalian, didistribusikan secara merata pada seluruh
populasi, yang biasanya tidak selalu terjadi.
Probabilitas proporsional terhadap pemilihan ukuran dan stratifikasi sampel
Pada banyak situasi audit akan sangat bermanfaat untuk memilih sampel yang
menekankan pos-pos populasi dengan jumlah tercatat yang lebih besar. Berikut, dua cara
untuk mendapatkan sampel semacam itu.
1. Ambillah suatu sampel dimana probabilitas untuk memilih setiap pos populasi proporsional
terhadap jumlah tercatatnya. Metode ini dinamakan pengambilan sampel proporsional dengan
ukurannya (probability proportional to size- PPS), dan pendekatan ini di evaluasi dengan
menggunakan pendekatan pengambilan sampel non-statistik atau pengambilan sampel
statistic pos moneter.
2. Bagilah populasi ke dalam sub-sub populasi, biasanya dengan menggunakan ukuran nilai
rupiahnya dan ambillah sampel yang lebih besar dari sub-sub populasi yang berukuran lebih
besar. Pendekatan ini dinamakan dengan pengambilan sampel berjenjang, dan dievaluasi
dengan menggunakan pendekatan non-statistik atau pendekatan statistic variabel.

PENGAMBILAN SAMPEL UNTUK TINGKAT PENGECUALIAN


Auditor menggunakan pengambilan sampel pengujian pengendalian dan pengujian
substantive transaksi untuk memperkirakan persentase pos-pos dalam populasi yang memuat
karekteristik atau atribut yang penting. Persentase ini dinamakan dengan tingkat
keterjadian (occurrence rate) atau tingkat pengecualian (exception rate). Auditor
memperhatikan dengan beberapa jenis pengecualian berikut dalam populasi data akuntansi.
1. Deviasi dari pengendalian yang diterapkan klien
2. Salah saji moneter dalam populasi data transaksi
3. Salah saji moneter dalam populasi perincian saldo akun
Mengetahui tingkat pengecualian sangat berguna, khususnya untuk dua jenis
pengecualian pertama, yang melibatkan transaksi-transaksi. Oleh karena itu, auditor
melakukan pengambilan sampel audit yang ekstensif sehingga mampu mengukur tingkat
pengecualian dalam melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantive transaksi.
Auditor biasanya menggunakan tingkat pengecualian tersebut karena auditor harus
menentukan apakah salah sajinya material atau tidak. Ketika auditor ingin mengetahui total

14
jumlah salah saji, auditor menggunakan metode yang mengukur nilai rupiahnya, bukan
tingkat pengecualiannya.
Tingkat pengecualian dalam sebuah sampel digunakan untuk memperkirakan tingkat
pengecualian pada seluruh populasi. Hal ini berarti merupakan estimasi terbaik auditor atas
tingkat pengecualian populasi. Istilah pengecualian harus dipahami merujuk pada baik deviasi
dari prosedur pengendalian klien maupun jumlah moneter yang tidak benar, apakah
disebabkan oleh kesalahan akuntansi yang tidak disengaja atau pun penyebab lainnya. Istilah
deviasi khususnya merujuk pada penyimpangan dari pengendalian yang ditetapkan.
Anggaplah, misalnya, auditor menginginkan untuk menentukan persentasi salinan
faktur penjualan yang tidak memilki lampiran dokumen pengiriman. Auditor mendapatkan
sampel dari salinan faktur penjualan dan menentukan persentase faktur penjualan yang tidak
lengkapi dengan dokumen pengiriman. Auditor kemudian menyimpulkan bahwa tingkat
pengecualian sampel merupakan estimasi terbaik atas tingkat pengecualian populasi.
Karena tingkat pengecualian berdasarkan pada suatu sampel, terdapat kemungkinan
yang signifikan bahwa tingkat pengecualian sampel berbeda dengan tingkat pengecualian
actual populasinya. Perbedaan ini dinamakan kesalahan pengambilan sampel (sampling
error). Auditor harus memperhatikan estimasi kesalahan sampel dan keandalan estimasinya,
yang diistilahkan dengan risiko pengambilan sampel (sampling risk).
Dalam menggunakan pengambilan sampel audit untuk tingkat pengecualian, auditor
ingin mengetahui apakah sebagian besar tingkat pengecualiannya sudah tepat dibandingkan
dengan kedalaman interval keyakinannya. Sehingga, auditor memfokuskan pada batas atas
estimasi interval yang disebut juga dengan batas atas tingkat pengecualian yang dihitung atau
diestimasi (computed upper exception rate- CUER) pada pengujian pengendalian dan
pengujian substantfif transaksi. Dengan menggunakan angka-angka pada contoh sebelumnya,
auditor dapat menyimpulkan bahwa CUER untuk faktur penjualan yang tidak dilampiri
dokumen pengiriman adalah 4 persen dengan tingkat risiko pengambilan sampel sebesar 5
persen.

TEKNIK-TEKNIK SAMPLING

Teknik sampling dalam audit dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: menggunakan
Metode Statistik atau disebut "sampling statistik" dan Tanpa Menggunakan Metode Statistik
atau disebut "sampling non statistik". Perbedaan antar keduanya dapat dirumuskan sebagai
berikut

15
Metode Sampling Sampling Statistik Sampling Non Statistik

Analisis Menggunakan Tidak menggunakan rumus/


rumus/formula statistik, formula statistik, sehingga
sehingga judgment yang judgment yang akan
akan digunakan harus digunakan tidak perlu
dikuantifikasi lebih dahulu dikuantifikasi
sesuai kebutuhan formula
Pemilihan Sampel Harus acak (random) Boleh acak, boleh pula tidak

Kedua pendekatan ini dapat digunakan dalam audit, karena tidak ada satu pihakpun
yang dapat menjamin bahwa salah satu di antara keduanya lebih baik dari yang lain.
Namun, dibandingkan dengan sampling non statistik, sampling statistik lebih mudah
dipertanggungjawabkan, karena formulanya sudah baku dan diterima oleh kalangan
akademisi secara umum.
Sesuai dengan sifat datanya, sampling terdiri atas dua jenis: Sampling Atribut dan
Sampling Variabel. Sampling Atribut adalah metode sampling yang meneliti sifat non
angka (kualitatif) dari data, sedangkan Sampling Variabel adalah metode sampling yang
meneliti sifat angka (kuantitatif) dari data.
Dalam audit, sampling atribut biasanya digunakan pada pengujian pengendalian,
sedangkan sampling variabel biasanya digunakan pada pengujian substantif. Metode yang
digunakan pada sampling atribut biasanya mencakup metode sampling atribut (attribute
sampling), metode sampling penemuan (discovery/explanatory sampling), dan metode
sampling penerimaan (acceptance sampling). Sedangkan metode yang biasanya digunakan
pada sampling variabel mencakup metode sampling variabel sederhana (classical variable
sampling atau mean per unit estimation) dan metode sampling satuan mata uang (monetary
unit sampling atau probability proportional to size sampling).

Metode Sampling Statistik


Metode sampling statistik yang lazim digunakan pada pengujian pengendalian adalah
sampling atribut, yaitu metode sampling yang meneliti sifat non angka dari data, karena

16
pada pengujian pengendalian fokus perhatian auditor adalah pada jejak-jejak pengendalian
yang terdapat pada data/dokumen yang diuji, seperti paraf, tanda tangan, nomor urut
pracetak, bentuk formulir, dan sebagainya, yang juga bersifat non angka, seperti unsur-
unsur yang menjadi perhatian pada sampling atribut.

Metode Sampling Non Satatistik


Pada sampling non statistik, unit sampel dan evaluasi hasil samplingnya dilakukan
berdasarkan judgement, tanpa menggunakan formula/rumus yang baku. Pemilihan
sampelnya boleh dilakukan secara acak dan non acak.

Tahapan Sampling Audit


Pada modul ini, langkah-langkah sampling dibagi dalam enam tahap:
1. Menyusun Rencana Audit.
Kegiatan sampling audit diawali dengan penyusunan rencana audit. Pada tahap ini
ditetapkan:
a. Jenis pengujian yang akan dilakukan, karena berpengaruh pada jenissampling yang
akan digunakan. Pada pengujian pengendalian biasanya digunakan sampling
atribut, dan pada pengujian substantif digunakan sampling variabel.
b. Tujuan pengujian, pada pengujian pengendalian untuk meneliti derajat keandalan
pengendalian, sedangkan pengujian substantif tujuannya meneliti kewajaran nilai
informasi kuantitatif yang diteliti.
c. Populasi yang akan diteliti, disesuaikan dengan jenis dan tujuan pengujian yang
akan dilakukan.
d. Asumsi-asumsi yang akan digunakan dalam penelitian, terutama yangdiperlukan
untuk menentukan unit sampel dan membuat simpulanhasil audit, seperti tingkat
keandalan, toleransi kesalahan, dan sebagainya.
2. Menetapkan Jumlah/Unit Sampel
Tahap berikutnya adalah menetapkan unit sampel. Jika digunakan metode sampling
statistik, unit sampel ditetapkan dengan menggunakan rumus/formula statistik sesuai
dengan jenis sampling yang dilakukan. Pada tahap ini hasilnya berupa pernyataan
mengenai jumlah unit sampel yang harus diuji pada populasi yang menjadi objek
penelitian.
3. Memilih Sampel

17
Setelah diketahui jumlah sampel yang harus diuji, langkah selanjutnya adalah memilih
sampel dari populasi yang diteliti. Jika menggunakan sampling statistik, pemilihan
sampelnya harus dilakukan secara acak (random).
4. Menguji Sampel
Melalui tahap pemilihan sampel, peneliti mendapat sajian sampel yang harus diteliti.
Selanjutnya, auditor menerapkan prosedur audit atas sampel tersebut. Hasilnya,
auditor akan memperoleh informasi mengenai keadaan sampel tersebut.
5. Mengestimasi Keadaan Populasi
Selanjutnya, berdasarkan keadaan sampel yang telah diuji, auditor melakukan evaluasi
hasil sampling untuk membuat estimasi mengenai keadaan populasi.
6. Membuat Simpulan Hasil Audit
Berdasarkan estimasi (perkiraan) keadaan populasi di atas, auditor membuat simpulan
hasil audit. Biasanya simpulan hasil audit ditetapkan dengan memperhatikan/
membandingkan derajat kesalahan dalam populasi dengan batas kesalahan yang dapat
ditolerir oleh auditor.
Jika kesalahan dalam populasi masih dalam batas toleransi, berarti populasi dapat
dipercaya. Sebaliknya, jika kesalahan dalam populasi melebihi batas toleransi,
populasi tidak dapat dipercaya.

Perancangan Sampel Atribut Untuk Pengujian Pengendalian


Sampling atribut dalam pengujian pengendalian digunakan hanya apabila ada alur
bukti dokumen dalam pelaksanaan prosedur pengendalian. Tahapan-tahapan dalam
rencana sampling statistik untuk pengujian pengendalian adalah :
1. Menentukan tujuan audit.
2. Merumuskan populasi dan unit sampling.
3. Menetapkan atribut-atribut.
4. Menetukan ukuran sampel.
5. Menentukan metoda pemilihan sampel.
6. Melaksanakan rencana sampling.
7. Mengevaluasi hasil sampel.

Memilih Unit Sampel


Pemilihan unit sampel menyangkut dua aspek sebagai berikut:
Cara memilih unit sampel

18
- Secara acak (random)
- Secara non acak

Perlakuan terhadap anggota populasi


- Dengan pengembalian (with replacement)
- Tanpa pengembalian (without replacement)

Berikut ini diuraikan cara pemilihan sampel dengan memperhatikan kedua ketentuan
diatas, cara memilih dan perlakuan terhadap anggota populasi.
1. Pemilihan Sampel Secara Acak
Pemilihan sampel secara acak (random) adalah metode pemilihan sampel tanpa
dipengaruhi oleh pertimbangan subjektif auditornya. Pemilihan acak tersebut
dilakukan untuk menjamin objektivitas hasil sampling. Pemilihan sampel secara
acak diyakini lebih objektif dibandingkan pemilihan sampel non acak.
Ada dua jenis pemilihan sampel acak yang umum dikenal, yaitu pemilihan sampel
acak sederhana dan acak sistematis (simple random sampling dan systematic
random sampling).
a. Pemilihan Sampel Acak Sederhana
Pada metode ini, sampel dipilih langsung dari populasi tanpa memanipulasinya
lebih dahulu. Untuk mendapatkan sampel, biasanya digunakan alat bantu
berupa tabel angka acak.
b. Pemilihan Sampel Acak Sistematis
Pada metode ini, pertama, tentukan interval yaitu jarak antara sampel pertama
dengan sampel berikutnya.
2. Pemilihan Sampel Non Acak
Pemilihan sampel non acak yang umum digunakan juga ada dua, yaitu haphazard
sampling dan block sampling.
a. haphazard sampling
Metode ini mirip dengan simple random sampling, tetapi pemilihan sampelnya
dilakukan sendiri oleh auditornya, tanpa menggunakan alat bantu. Misal,
auditor mengambil langsung dengan tangan sendiri, tanpa memperhatikan
jumlah, letak, sifat, dan kondisi dari bukti yang menjadi populasinya.
b. block sampling

19
Metode ini mirip dengan systematic random sampling, yaitu populasi
dikelompokkan lebih dahulu ke dalam beberapa kelompok yang disebut blok,
kemudian sampel diambil dari masing-masing blok.

Menentukan Ukuran Sampling


Faktor dalam menentukan ukuran sampel :
1. Risiko penetapan risiko pengendalian terlalu rendah.
Dalam sampling atribut, risiko penetapan risiko pengendalian terlalu rendah harus
ditetapkan secara aksplisit. Contoh tingkat risiko yang disesuaikan dengan tingkat
risiko yang direncanakan :

Risiko pengendalian direncanakan Tingkat deviasi bias ditoleransi

Rendah 5

Moderat 10

Tinggi 15

2. Tingkat deviasi bias ditoleransi.


Tingkat deviasi bisa diterima adalah tingkat deviasi maksimum dari suatu
pengendalian yang akan diterima oleh auditor dan masih menggunakan risiko
pengendalian direncanakan. Pedoman untuk mengkuantifikasi suatu rentang tingkat
deviasi yang bisa ditoleransi :

Risiko pengendalian direncanakan Tingkat deviasi bias ditoleransi


rentang (%)

Rendah 2-7

Moderat 6-12

Tinggi 11-20

3. Tingkat deviasi populasi diharapkan.

20
Auditor menggunakan satu atau lebih hal dibawah ini untuk menaksir tingkat
deviasi populasi diharapkan untuk masing-masing pengendalian :
- Tingkat deviasi sampel tahun lalu, disesuaikan dengan perimbanngan auditor
untuk perubahan dalam efektivitas pengendalian tahun ini.
- Estimasi semata-mata didasarkan pada penilaian auditor atas pengendalian tahun
ini.
- Tingkat tertentu yang diperoleh pada pendahuluan kurang lebih 50 unsur.

Faktor Hubungan terhadap ukuran


sampel

Risiko penetapan risiko pengendalian Terbalik


terlalu rendah

Tingkat deviasi bias ditoleransi Terbalik

Tingkat deviasi populasi diharapkan Langsung

Ukuran populasi

5000 unit keatas Tidak berpengaruh

Lebih dari 5000 unit langsung

21
BAGIAN IV

LATIHAN

1. Definisikan sampling menurut pemahaman Anda!


2. Bagaimana metode pemilihan sampling?
3. Jelaskan risiko sampling dan non-sampling!
4. Apa yang dimaksud dengan pengukuran sampel? Jelaskan!
5. Jelaskan perbedaan sampling statistik dan non statistik!

22
BAGIAN V

RANGKUMAN

Sampling Audit dapat diterapkan baik untuk melakukan pengujian pengendalian,


maupun pengujian subtantif. Sampling audit banyak diterapkan auditor dalam prosedur
pengujian yang berupa voucing, tracing, dan konfirmasi.
Sampling dipergunakan kalau waktu dan biaya tidak memungkinkan untuk memeriksa
seluruh transaksi/kejadian dalam suatu populasi. Populasi adalah seluruh item yang harus
diperiksa. Subset dari populasi disebut denganistilah sampel. Sampling dipergunakan untuk
menginferensi karakteristik daripopulasi. Keuntungan dari sampling itu sendiri adalah:
- Menghemat sumber daya: biaya,waktu, tenaga.
- Kecepatan mendapatkan informasi (up date).
- Ruang lingkup (cakupan) lebih luas.
- Data/informasi yang diperoleh lebih teliti dan mendalam.
- Pekerjaan lapangan lebih mudah disbanding cara sensus.

23
BAGIAN VI

TES FORMATIF

1. Jelaskan tipe risiko sampling!


2. Jelaskan hubungan antara metode seleksi sampel dengan evaluasi hasil!
3. Jelaskan perbedaan metode pemilihan sampel non probabilistic dan sampel
probabilistic!
4. Jelaskan faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan ukuran sampel!

24
BAB VII

UMPAN BALIK

Setelah mahasiswa mempelajari seluruh materi dalam modul ini, maka terdapat
beberapa instrumen latihan untuk menguji kemampuan pemahaman kalian. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui tingkat kesulitan materi dalam modul ini, sehingga dapat dilakukan
perbaikan dan langkah penyesuaian dimasa yang akan datang.

Kegiatan umpan balik diberikan dalam bentuk pengujian tertulis melalui instrument
dalam bentuk essay, dimana pertanyaan essay ini berjumlah 4 nomor yang mana tiap nomor
mempunyai skor 25, sehingga total skor adalah 100. Kemudian, skor tersebut diolah dalam
bentuk nilai 1 sampai 100. Tingkat keberhasilan pemahaman anda terhadap materi dalam
modul ini, akan ditentukan atas jumlah skor yang anda peroleh dengan kriteria pembobotan
seperti dibawah ini:

Nilai Predikat
90-100% Baik sekali
80-89% Baik
70-79% Cukup
60-69% Kurang

Bagi mahasiswa yang belum mencapai nilai 80%, dapat mengulangi belajar dengan
memilih materi-materi yang masih dianggap sulit secara lebih teliti atau melakukan kegiatan
diskusi bersama teman maupun dosen pembimbing dalam mata kuliah ini.

25
BAGIAN VIII

KUNCI TES FORMATIF

1. Tipe risiko sampling yang bisa terjadi dalam melaksanakan pengujian pengendalian
dan pengujian substantif :
Pengujian Pengendalian
- Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu rendah, yaitu risiko
menetukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, terlalu rendah
dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur
pengendalian yang sesungguhnya.
- Risiko penentuan tingkat risiko pengendalian yang terlalu tinggi, yaitu risiko
menentukan tingkat risiko pengendalian, berdasarkan hasil sampel, yang terlalu
tinggi dibandingkan dengan efektifitas operasi prosedur atau kebijakan struktur
pengendalian yang sesungguhnya.

Pengujian Substantif
- Risiko keliru menerima yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil
sampel, bahwa saldo rekening tidak berisi salah saji secara material, padahal
kenyataannya saldo rekening telah salah saji secara material.
- Risiko keliru menolak yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil
sampel, bahwa saldo rekening berisi salah saji secara material, padahal
kenyataannya saldo rekening tidak berisi salah sajis secara material.

2. Hubungan Antara Metode Seleksi Sampel Dengan Evaluasi Hasil

Metode Seleksi Metode evaluasi hasil


Sampel
Statistic Non statistic
Probabilistik Direksi Dapat diterima
Non Tidak dapat diterima Wajib
probabilistik

26
3. Perbedaan metode pemilihan sampel non-probabilistik dan probabilistik:

Metode pemilihan sampel non sampel non probabilistik adalah sebagai berikut:
- Pemilihan sampel terarah(directed sampel selection)
- Pemilihan sampel blok(block sampel selection)
- Pemilihan sampel sembarang (haphazard sampel selection).

Metode pemilihan sampel probabilistik antara lain adalah:


- Pemilhan sampel acak sederhana
- Pemilihan sampel sistematik
- Pemilihan sampel probabilistik proporsional terhadap ukuran
- Pemilihan sampel berjenjang

4. Faktor dalam menentukan ukuran sampel :


- Risiko penetapan risiko pengendalian terlalu rendah.
Dalam sampling atribut, risiko penetapan risiko pengendalian terlalu
rendah harus ditetapkan secara aksplisit. Contoh tingkat risiko yang disesuaikan
dengan tingkat risiko yang direncanakan :

Risiko pengendalian direncanakan Tingkat deviasi bias ditoleransi

Rendah 5

Moderat 10

Tinggi 15

- Tingkat deviasi bias ditoleransi.


Tingkat deviasi bisa diterima adalah tingkat deviasi maksimum dari suatu
pengendalian yang akan diterima oleh auditor dan masih menggunakan risiko
pengendalian direncanakan. Pedoman untuk mengkuantifikasi suatu rentang
tingkat deviasi yang bisa ditoleransi :

27
Risiko pengendalian direncanakan Tingkat deviasi bias ditoleransi
rentang (%)

Rendah 2-7

Moderat 6-12

Tinggi 11-20

- Tingkat deviasi populasi diharapkan.


Auditor menggunakan satu atau lebih hal dibawah ini untuk menaksir
tingkat deviasi populasi diharapkan untuk masing-masing pengendalian :
Tingkat deviasi sampel tahun lalu, disesuaikan dengan perimbanngan
auditor untuk perubahan dalam efektivitas pengendalian tahun ini.
Estimasi semata-mata didasarkan pada penilaian auditor atas
pengendalian tahun ini.

Tingkat tertentu yang diperoleh pada pendahuluan kurang lebih 50 unsur.

Faktor Hubungan terhadap ukuran


sampel

Risiko penetapan risiko pengendalian Terbalik


terlalu rendah

Tingkat deviasi bias ditoleransi Terbalik

Tingkat deviasi populasi diharapkan Langsung

Ukuran populasi

5000 unit keatas Tidak berpengaruh

Lebih dari 5000 unit Langsung

28
BAGIAN IX

DAFTAR PUSTAKA

- Mulyadi. (2002). Auditing Edisi 6. Jakarta : Salemba Empat


- Malik. 2013. Sampling Audit. (online)
https://www.scribd.com/document/133581887/Sampling-Audit diakses pada 9
November 2017

29