Anda di halaman 1dari 7

Sejarah Dan Perkembangan Asuransi Syariah Di Indonesia

Sejarah Asuransi Syariah di Indonesia

Perkembangan asuransi dalam islam sudah lama terjadi. Istilah yang digunakan berbeda-
beda, tetapi masing-masing memiliki kesamaan, yaitu adanya pertanggungan oleh sekelompok
orang untuk menolong orang lain yang berada dalam kesulitan. Konsep asuransi sebenarnya
sudah dikenal sejak zaman sebelum Masehi. Yaitu pada masa Nabi Yusuf as. Yaitu pada saat
itu menafsirkan mimp dari Raja Firaun. Tafsiran yang ia sampaikan adalah bahwa Mesir akan
mengalami masa paceklik selama 7 tahun berikutnya [1]. Untuk berjaga-jaga terhadap bencana
kelaparan tersebut Raja menyisihkan sebagian dari hasil panen sebagai cadangan bahan
makanan pada masa paceklik. Pada tahun 2000 sebelum Masehi para saudagar dan actor di
Italia membentuk Collegia Tennirium, yaitu semacam lembaga asuransi yang bertujuan
membantu para janda dan anak-anak yatim dari para budak belian yang diperbantukan pada
ketentaraan kerajaan Romawi. Setiap anggota mengumpulkan sejumlah iuran dan bila salah
seorang anggota mengalami nasib sial maka biaya pemakamannya akan dibayar oleh anggota
yang bernasib baik dengan menggunakan dana yang digunakan sebelumnya. [2]

Dalam literatur Islam dikenal dengan konsep Aqilah yang sering terjadi dalam sejarah
pra-Islam dan di akui dalam literatur hukum Islam. Jika ada salah satu anggota suku Arab pra-
Islam melakukan pembunuhan, maka dia (si pembunuh) dikenakan diyat dalam bentuk uang
Selanjutnya akan dijelaskan tentang sejarah dan perkembangan asuransi di Indonesia.
Tepatnya, sejarah asuransi jiwa di Indonesia. Dimulai sejak terjadinya migrasi usaha dari
negeri Belanda yang dibawa oleh para intelektual Negara tersebut ke Indonesia untuk
menjamin kehidupan mereka.

Sejarah asuransi di Indonesia bukan merupakan suatu jalan mulus yang dapat dilalui
dengan lancar, didalamnya tercatat bagaimana usaha ini diterpa oleh banyak badai. Dimulai
dari masa pendudukan Belanda, ketika jasa ini dinikmati oleh segelintir bangsawan, runtuhnya
ekonomi di masa pendudukan jepang yang menyebabkan tidak beroperasinya sebagian besar

1 Wirdyaningsih, Bank dan Asuransi Islam di Indonesia, (Jakarta: Prenada Media 2005). Hlm. 179.

2 Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam, (Jakarta: Prenada Media 2004). Hlm. 66.

Ibid, hlm. 75.


perusahaan asuransi jiwa. [3] Adapun perkembangan asuransi syariah di Indonesia baru ada
pada paruh akhir tahun 1994, yaitu dengan berdirinya Asuransi Takaful Indonesia pada tanggal
25 Agustus 1994. Dengan diresmikannya PT Asuransi Takaful Indonesia (TEPATI) yang
dipelopori oleh ICMI. Melalui berbagai seminar nasional dan setelah mengadakan studi
banding dengan Takaful Malaysia, akhirnya berdirilah PT Syarikat Takaful Indonesia (PT STI)
sebagai holding company pada tanggal 24 Februari 1994. Kemudian PT STI mendirikan anak
perusahaan, yakni PT Asuransi Takaful Keluarga (Life Insurance) dan PT Asuransi Takaful
Keluarga diresmikan lebih awal pada tanggal 25 Agustus 1994 oleh Bapak Marie Muhammad
sealaku Menteri Keuangan saat itu. Setelah keluarnya izin operasional perusahaan pada tanggal
4 Agustus 1994. [4]

Terbentuknya Asuransi Takaful saat itu memperkuat keberadaan lembaga perbankan


syariah yang ada terlebih dulu, yakni Bank Muamalat karena asumsinya Bank Muamalat juga
membutuhkan lembaga asuransi yang dijalankan dengan prinsip yang sama. Pembentukan
awal Takaful disponsori oleh Yayasan Abdi Bangsa, Bank Muamalat Indonesia, dan Asuransi
Jiwa TEPATI, yang dipimpin oleh direktur utama PT. STI, Rahmat Saleh sebagai langkah
awal. Lima orang anggota TEPATI melakukan studi banding ke Malaysia pada September
1993, yang sudah menerapkan asuransi berprinsip syariah sejak 1985. Di negeri Jiran ini
asuransi syariah dikelola oleh Syarikat Takaful Malaysia Sdn. Bhd. Setelah berbagai persiapan
dilakukan, di Jakarta digelar seminar nasional, dan berikutnya STI mendirikan PT. Asuransi
Takaful Keluarga dan PT. Asuransi Takaful Umum. Secara resmi, PT. Asuransi Takaful
Keluarga didirikan pada 25 Agustus 1994, dengan modal disetor Rp. 5 milyar. Sementara PT.
Asuransi Takaful Umum secara resmi didirikan pada 2 Juni 1995.
Setelah Asuransi Takaful Umum dibuka, selanjutnya sejumlah lembaga ikut mendirikan
asuransi syariah, yakni Asuransi Syariah Mubarakah, Asuransi Jiwa Asih Great Eastern,
MAA Life Insurance, Asuransi Bringin Jiwa Sejahtera, Asuransi Tri Pakarta, AJB Bumiputera,
dan lain-lain.
Menurut survei dari Karim Business Consulting (KBC), potensi pasar asuransi syariah
di Indonesia, setidak-tidaknya dapat digolongkan menjadi tiga kelompok potensial. Peluang
terbuka untuk usaha asuransi syariah di Indonesia dengan adanya kebijakan pemerintah melalui

3 Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam, (Jakarta: Prenada Media 2004). Hlm. 76.

4 https://shantidk.wordpress.com/2009/07/15/perkembangan-asuransi-syariah/
SK. Menkeu No. 268/KMK.06/2002 tanggal 7 November 2002, yang memberi peluang bagi
perusahaan asuransi konvensional untuk menjalankan usahanya berbasis syariah melalui tiga
pendirian, yaitu:

a. Konversi langsung secara penuh dari asuransi syariah dengan mengubah akad dan
menghilangkan unsure maisir, gharar, dan riba.
b. Membentuk langsung lembaga asuransi syariah
c. Membukan kantor cabang asuransi syariah.

Adapun yang melatar belakangi lahirnya sistem asuransi syariah dan penerapan prinsip
syariah dalam kegiatan usaha asuransi di Indonesia adalah:

a. Prinsip syariah sesuai dengan prinsip yang tertera dalam Al-Quran (pedoman
bagi umat islam dalam bermuamalah) dan prinsip syariah banyak mengandung
unsure-unsur keadilan dibandingkan dengan sisitem konvensional.
b. Adanya permintaan pasar
c. Adanya kebijakan pemerintah yang member kesempatan pada perusahaan untuk
membuka divisi syariah dan fatwa MUI No. 21/DSN-MUI/2001 tentang pedoman
asuransi syariah. [5]

Kronologis sejarah asuransi jiwa di Indonesia berbasis syariah sejak Bank Muamalat adalah:

Tahun 1993: pendirian Tim Pembentukan Takaful Indonesia (TEPATI) oleh Bank
Muamalat, Departemen Keuangan, Asuransi Tugu Mandiri, dan Yayasan Abdi Bangsa.
Tahun 1994: PT Syarikat Takaful Indonesia berdiri sebagai hasil studi anggota TEPATI
ke Malaysia. Pada tahun yang sama, PT Asuransi Takaful Keluarga juga didirikan
sebagai anak perusahaan Syarikat Takaful Indonesia.
Tahun 2001: berbagai perusahaan asuransi jiwa syariah mulai bermunculan di
Indonesia (termasuk cabang syariah dari asuransi jiwa konvensional), seperti Bringin
Life Syariah, Jasindo Syariah, Bumi Putera Syariah, BSAM Syariah, dan sebagainya.
Tahun 2003: Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia berdiri untuk pertama kalinya,
dengan anggota pertama sebanyak 17 perusahaan asuransi syariah.

5 Hasan Ali, Asuransi dalam Perspektif Hukum Islam, (Jakarta: Prenada Media 2004). Hlm.127-134.
Hingga tahun 2014, Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia mencatat sekitar 49 perusahaan
asuransi berbasis syariah di Indonesia. Asuransi jenis ini terutama menjadi populer setelah
krisis moneter tahun 1997-1998, dan terus meningkat popularitasnya sehingga membuat
perusahaan asuransi konvensional menyediakan pilihan asuransi syariah. Jika menilik ke
belakang, sejarah asuransi jiwa berbasis syariah di Indonesia masih relatif muda, namun minat
besar masyarakat serta sistemnya yang berbasis hibah dengan akad menjadi alasan mengapa
asuransi syariah cepat mendapat tempat di hati masyarakat

Perkembangan Asuransi Syariah

Berdirinya Bank Muamalat pada bulan Juli 1992 menjadi alasan bagi kalangan
cendekiawan untuk mendirikan lembaga keuangan lainnya yang berbasis syariah. salah satunya
adalah lembaga asuransi yang keberadaannya semakin berkembang. Pada tanggal 27 Juli 1993
dibentuk tim TEPATI (Tim Pembentukan Takaful Indonesia) yang disponsori oleh Yayasan
Abdi Bangsa (ICMI), Bank Muamalat Indonesia, Asuransi Tugu Mandiri, dan Departemen
Keuangan. Selanjutnya, pada tahun berikutnya beberapa orang anggota TEPATI bertolak ke
Malaysia untuk mempelajari operasional asuransi islam. Pada Oktober 1993 diadakan seminar
nasional di Hotel Indonesia. PT Syarikat Takaful Indonesia berdiri pada tanggal 24 Februari
1994 dan ditunjuk menjadi holding company. Selanjutnya, PT Syarikat Takaful Indonesia
mendirikan dua anak perusahaan yaitu PT Asuransi Takaful Keluarga yang berdiri pada tanggal
25 Agustus 1994 dan PT Asuransi Takaful Umum pada tanggal 2 Juni 1995.

Memasuki tahun 2001, muncul asuransi islam lainnya, yaitu Mubarokah Syariah,
Tripakarta Cabang Syariah, Great Estern Cabang Syariah, MAA Cabang Syariah, Bumi Putra
Cabang Syariah, Jasindo Cabang Syariah, BSAM Cabang Syariah, Bringin Life Cabang
Syariah, dan seterusnya. Saat ini, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah
operator asuransi syariah cukup banyak di dunia. Berdasarkan data Dewan Syariah Nasional
Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI), terdapat 49 pemain asuransi syariah di Indonesia yang
telah mendapatkan rekomendasi syariah. Mereka terdiri dari 40 operator asuransi syariah, tiga
reasuransi syariah, dan enam broker asuransi dan reasiuransi syariah. [6]

6 Republika, 17 Maret 2008


Stretegi pengembangan bisnis asuransi syariah melalui pendirian perusahaan dilakukan oleh
Asuransi Syariah Mubarakah yang bergerak pada bisnis asuransi jiwa syariah. Sedangkan
strategi pengembangan bisnis melalui pembukaan divisi atau cabang asuransi syariah
dilakukan sebagian besar perusahaan asuransi, antara lain PT MAA Life Assurance, PT MAA
General Assurance, PT Great Eastern Life Indonesia, PT Asuransi Tri Pakarta, PT AJB
Bumiputera 1912, dan PT Asuransi Jiwa BRIngin Life Sejahtera.

Bahkan sejumlah pemain asuransi besar dunia pun turut tertarik masuk dalam bisnis
asuransi syariah di Indonesia. Mereka menilai Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim
terbesar di dunia merupakan potensi pengembangan bisnis cukup besar yang tidak dapat
diabaikan. Di antara perusahaan asuransi global yang masuk dalam bisnis asuransi syariah
Indonesia adalah PT Asuransi Allianz Life Indonesia dan PT Prudential Life Assurance.

Berdasarkan observasi yang telah dilaksanakan yang menjadi kendala bagi


perkembangan asuransi syariah diantaranya adalan karena usia asuransi syariah itu sendiri yang
masih baru disertai minimnya pemahaman dari masyarakat itu sendiri. Kurangnya promosi
menjadi sebuah kendala yang cukup penting pula karena tidak sampainya sebuah informasi
kepada masyarakat. Sedangkan untuk menyiasatinya, pihak asuransi melakukan promosi dari
kampus ke kampus sebagai langkah awal menjadikan mahasiswa sebagai intermediasi dengan
masyarakat. Strategi lainnya yaitu dengan membuka sejumlah pameran, misalnya pada acara
FES yang berlangsung awal Februari 2009.

Sejak kelahirannya tahun 1994, asuransi syariah terus bertumbuh dan berkembang.
Dengan menekankan bahwa asuransi syariah memiliki sistem yang lebih manusiawi,
meringankan, adil, dan menenteramkan, perusahaan penyedia asuransi syariah berusaha
menarik orang sebanyak mungkin.

Hasilnya, ada peningkatan dalam bisnis asuransi syariah dari tahun ke tahun.
Peningkatan tersebut dirangkum dalam data yang dipaparkan Asosiasi Asuransi Syariah
Indonesia (AASI). Dari data tersebut, peningkatan bisnis asuransi syariah terlihat dari
bertambahnya jumlah perusahaan asuransi syariah, peningkatan aset, investasi, dan kontribusi
bruto.

Sebagai perbandingan, pada kuartal IV tahun 2014, pertumbuhan asuransi syariah dari
sisi aset mencapai lebih dari Rp22 triliun. Sementara pada kuartal IV tahun 2015, terjadi
peningkatan mencapai lebih dari Rp26 triliun. Itu artinya ada peningkatan sebesar 18,58% dari
sisi aset. Dengan adanya peningkatan tersebut, diharapkan asuransi syariah terus bertumbuh
dan makin diminati banyak orang.

Perkembangan asuransi syariah belakangan ini diburu banyak orang dan menenangkan.
Kini nyaris semua perusahaan asuransi membentuk unit syariah. Bahkan asuransi asing juga
ikut membuka unit syariah. Kendati asuransi syariah mengalami pertumbuhan yang pesat,
kontribusi terhadap total indistri baru mencapai 1,11% per 2006 dan diperkirakan meningkat
keposisi 1,33% tahun 2007. Total penetrasi pasar asuransi di Indonesia hanya sekitar 3% dari
jumlah penduduk. Walaupun secara kuantitas, perkembangan asuransi syariah di Indonesia
relatif pesat, tetapi dalam kenyataannya asuransi syariah masih menghadapi beberapa kendala.

Perkembangan dan pertumbuhan asuransi syariah di Indonesia mengalami pencapaian


yang baik, terlebih lagi ketika ditetapkannya Keputusan Menteri Keuangan Tahun 2003 tentang
Perizinan bagi Pembukaan Perusahaan Asuransi dan Unit Usaha Syariah dari Perusahaan
Konvensional, asuransi syariah di Indonesia mulai mengalami perkembangan dan
pertumbuhan yang signifikan hingga sekarang. Perkembangan pasca-KMK 2003, dalam waktu
empat tahun saja lahir 40 perusahaan asuransi syariah.

Salah satu penyebab mengapa pertumbuhan Asuransi Syariah dinilai kurang maksimal
oleh sebagian pihak adalah, belum adanya pemisahan unit usaha syariah (Spin Off) dari induk
semangnya. Pemisahan unit usaha syariah (spin off) di perusahaan asuransi dirasa akan menjadi
faktor kuat yang dapat menstimulus pertumbuhan industri asuransi syariah. Tidak hanya itu,
pemisahan unit usaha syariah nantinya harus dimasukkan dalam undang-undang perasuransian.
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) memberikan tanggapan tentang pemisahan unit
usaha syariah di perusahaan asuransi sebagai bentuk keharusan karena akan mendorong
industri Asuransi Syariah semakin kompetitif. ketika sudah menjadi badan usaha sendiri,
kinerja perusahaan asuransi syariah akan lebih terdorong agar sepadan dengan perusahaan lain.
Dengan begitu, semestinya (industri asuransi syariah) akan lebih besar.

Kendala jika aturan yang mewajibkan pemisahan unit usaha syariah adalah perlunya
waktu dalam mempertimbangkan modal dan sumber daya manusia (SDM). Kalau mau di pisah,
perusahaan harus melihat dulu apakah modal sudah mencukupi atau perlu ada penambahan.
Perlu diketahui, sedikitnya modal tambahan yang perlukan perusahaan asuransi untuk spin off
unit syariah sebesar Rp 50 miliar. Lantaran perlu tambahan modal tak sedikit dalam spin off
unit syariah, sehingga spin off dinilai masih tergantung kebijakan perusahaan induk. Karena
itu, peraturan yang mengatur pemisahan unit usaha syariah perlu menekankan komitmen
perusahaan induk terlebih dahulu. Karena terkadang perusahaan induk memilih fokus
memperbesar bisnis dulu daripada penambahan modal. [7]

7 http://zonaekis.com/spin-off-bikin-asuransi-syariah-kompetitif/