Anda di halaman 1dari 33

ALGA DAN LICHENS (LUMUT KERAK)

OLEH :
KELOMPOK 1
Afrizi risky Husain (f1f1 10035)
Risfa Rianti (f1f1 10037)
Nur Hidayah S. (f1f1 10047)
Lucy Armala Wardani (f1f1 10093)
Muhardi (f1f1 10106)
Rahmi Ardani (f1f1 11046)
Ardin (f1f1 12091)
Asman sadino (f1f1 12092)
Ayu Fitria (f1f1 12093)
Dirsan (f1f1 12094)
Dissa Aryasanindya (f1f1 12095)
Ega rina (f1f1 12096)

FAKULTAS FARMASI

JURUSAN FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat
dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini disusun dengan maksud untuk membantu kita didalam pembelajaran
Mikrobiologi Farmasi. Selain itu, penyusunan makalah ini juga dimaksudkan untuk
membekali kita agar pengetahuan, sikap dan ketrampilan kita terus bertambah dan
berkembang. Makalah ini disusun dari berbagai sumber seperti buku-buku dan internet. Hal
ini dilakukan agar pembaca lebih mudah mengerti serta memahami tentang pokok-pokok
bahasan yang akan dikaji didalam makalah ini.
Didalam makalah ini, dibahas tentang Alga dan Lichenes (Lumut Kerak). Dimana kita
sebagai orang-orang yang berkecimpung didalam dunia kesehatan terutama Farmasi, harus
mengetahui dan memahami tentang apa saja ciri, sifat, habitat, dan bagaimana sebenarnya
peran Alga dan Fungi dalam bidang kesehatan.
Dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari peran serta berbagai pihak yang
telah memberikan saran maupun masukan-masukan yang membangun guna penyempurnaan
makalah ini.

Kendari, Februari 2014

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia dikenal sebagai Negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam.
Sebagai Negara dengan luas wilayah lebih dari 70 %, salah satu kekayaan alam yang bisa
kita manfaatkan adalah sumber daya alam hayati. Selain ikan, alternative hasil laut yang
bisa diolah adalah alga meskipun tidak semua alga bisa digunakan. Alga dalam istilah
Indonesia sering disebut sebagai ganggang merupakan tumbuhan talus karena belum
memiliki akar, batang dan daun sejati. Alga biasanya berupa fitoplankton yang hidup
melayang di dalam air. Akan tetapi ada pula alga yang hidup di dasar perairan. Ilmu yang
mempelajari alga disebut fikologi. Tumbuhan alga merupakan tumbuhan talus yang hidup
di air, baik air tawar maupan di air laut. Jenis yang hidup bebas di air terutama yang
bersel satu dan dapat bergerak aktif dan merupakan penyusun plankton, yaitu
fitoplankton. Yang melekat pada sesuatu yang ada di dalam air disebut bentos. Alga
mempunyai manfaat, terutama dalam industri-industri makanan. Alga juga mempunyai
peranan sebagai penyusun plankton di laut.
Lichen sebagai tumbuhan pioner memiliki peranan yang sangat penting dalam
kehidupan. Jenis ini menjadi tumbuhan perintis pada daerah-daerah yang keras dan kering
sehingga pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan organism lainnya. Saat ini Lichen
telah banyak dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat, beberapa jenis Asolichen telah
dimanfaatkan dan dapat pula dikonsumsi. Oleh karena itu perlu dijelaskan mengenai
Lichen tersebut khusunya pada pemanfaatan Lichen bagi kehidupan.
Lumut kerak adalah organisme hasil simbiosis mutualisme. Jamur pada lumut
kerak tidak dapat hidup sendiri di alam. Lumut kerak mampu hidup subur pada suhu dan
kelembaban yang ekstrim seperti gurun dan kutub. Populasinya tersebar luas di seluruh
dunia dan tumbuh di Indonesia lebih dari 1000 species yang diketahui dari - 2500 species
yang ada. Lumut juga telah digunakan dalam pembuatan pewarna dan parfum, serta obat-
obatan tradisional. Lumut yang luas dan dapat berumur panjang. Namun, banyak spesies
juga rentan terhadap gangguan lingkungan, dan mungkin berguna untuk ilmuwan dalam
menilai efek dari polusi udara, penipisan ozon, dan kontaminasi logam. Lumut juga telah
digunakan dalam pembuatan pewarna dan parfum, serta obat-obatan tradisional..
Lichenes merupakan organisme yang sangat kuat untuk bertahan hidup, namun organisme
ini sangat sensitif terhadap polutan udara sulfur oksida.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Apa karakteristik dan ciri-ciri umum Alga dan Lichenes (Lumut Kerak) ?
2. Apa saja klasifikasi Alga dan Lichenes (Lumut Kerak) ?
3. Apa manfaat Alga dan Lichenes (Lumut Kerak) di dalam kehidupan sehari-hari ?

C. Tujuan
Untuk mengetahui lebih jauh tentang alga dan fungi serta peranannya di dalam
kehidupan sehari-hari.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Alga adalah tumbuhan nonvascular yang memilika benruk thalli yang beragam,
uniseluler atau multiseluler, dan berpigmen fotosintetik. Alga bentik (makroalga) dapat hidup
di perairan tawar dan laut (bold & wynne 1978:1; dawea 1981:59). Makroalga adalah
tumbuhan tidak berpembuluh yang tumbuh melekat pada subtract didasaran laut. Tumbuhan
tersebut tidak memiliki akar, batang daun, bunga, buah, dan biji ssejati (sumich 1979:99;
mnConnaughey &zottoli 1983: 114 lerman 1986:39). Makroalga terbesar didaerah litoral dan
sublitoral. Daerah tersebut masih dapat memperoleh cahaya matahari yang cukup sehingga
proses fotosintesis dapat berlangsung (dawes 1981:13). Makraoalga menyerap nutrisi berupa
fosfor dan nitrogen dari lingkungan sekitar perairan (leviton 2001: 270). Menurut atmaja &
sulistijo ( 1988: 5), makroalga dapat diklasifikasikan menjadi tiga divisi berdasarkan
kandungan pigmen fotosintetik dan pigmen asesoris, yaitu: cholorophyta, phaeophyta, dan
rhodophyta.
BAB III
PEMBAHASAN

1. ALGA
A. Pengertian Alga
Alga adalah tumbuhan nonvascular yang memiliki bentuk thalli yang beragam,
uniseluler atau multiseluler, dan berpigmen fotosintetik. Alga merupakan tumbuhan yang
belum mempunyai akar, batang, dan daun yang sesungguhnya, tetapi sudah memiliki
klorofil sehingga bersifat autotrof. Alga hidup ditempat-tempat yang berair, baik air tawar
maupun air laut dan tempat-tempat yang lembab. Alga merupakan sumber daya nabati
sebagai bahan kebutuhan hidup manusia. Ada yang bergerak aktif dan ada yang tidak.
Jenis alga yang bergerak aktif mempunyai alat untuk bergerak yang berupa bulu-bulu
cambuk atau flagel. Yang berjumlah satu atau lebih. Jenis yang tubuhnya bersel tunggal
dan dapat bergerak aktif merupakan penyusun plankton, tepatnya fikoplankton. Yang
melekat pada sesuatu yang ada di dalam air seperti batu atau kayu disebut bentos.
Tubuh alga memiliki zat warna (pigmen), yaitu :
Fikosianin : warna biru
Klorofil : warna hijau
Fikosantin : warna piran/coklat
Fikoeritrin : warna merah karoten/warna keemasan
Xantofil : warna kuning
Alga bersifat autotrof. Hampir semua alga bersifat eukariotik. Alga dibagi menjadi
beberapa kelas yaitu :
1. Chlorophyta (ganggang hijau)
2. Rhodophyta (ganggang merah)
3. Phaeophyta (ganggang coklat/perang)
4. Chrysophyta (ganggang keemasan)
5. Cyanophyta (ganggang biru)

B. Morfologi Alga
Banyak spesies alga terdapat sebagai sel tunggal yang dapat berbentuk bola, batang,
gada atau kumparan. Alga mengandung nukleus yang dibatasi oleh membran. Setiap sel
mengandung satu atau lebih kloroplas yang dapat berbentuk pita atau seperti cakram-
cakram diskrit sebagaimana yang terdapat pada tumbuhan hijau. Di dalam matriks
koroplas terdapat membran tilakoid yang berisikan klorofil dan pigmen-pigmen
pelengkap yang merupakan situs reaksi cahaya pada fotosintesis.
Alga berkembangbiak secara seksual atau aseksual. Reproduksi aseksual berupa
pembelahan biner sederhana. Reproduksi seksual dijumpai diantara alga. Dalam proses
ini terdapat konjugasi gamet sehingga menghasilkan zigot.

C. Fisiologi Alga
Pertumbuhan alga berlangsung cepat di air yang diam dengan bantuan sinar
matahari. Phospat dan Nitrat dalam air dapat mendukung pertumbuhan alga. Beberapa
species alga hidup pada salju dan es di daerah-daerah kutub dan puncak-puncak gunung.
Alga mempunyai tiga macam pigmen fotosintetik yaitu klorofil, karotenoid, dan fikobilin
(ketiganya terdapat dalam kloroplas). Sebagai hasil fotosintetiknya, alga menyimpan
berbagai produk makanan cadangan sebagai granul atau globul dalam sel-selnya.
Ganggang hijau menyimpan pati seperti yang terdapat pada tumbuhan. Alga lain dapat
menyimpan macam-macam karbohidrat, beberapa alga lain menyimpan lemak atau
minyak.

D. Reproduksi Alga
Reproduksi alga dapat terjadi secara vegetatif dan Generatif. Reproduksi Generatif
dilakukan dengan cara peleburan dua gamet, baik melalui isogami dan oogami. Isogami
adalah proses peleburan gamet jantan dan betina yang bentuk dan ukurannya sama besar.
Kedua macam gamet tersebut disebut isogamet. Oogami atau Heterogami adalah proses
peleburan antara dua gamet yang berbeda sifat dan ukurannya. Gamet betina berukuran
besar dan imotil, sedangkan gamet jantan berukuran kecil dan motil.
Reproduksi Vegetatif dilakukan dengan cara pembelahan biner, fragmentasi, atau
pembentukan zoospora.
Pembelahan biner, adalah pembelahan alga menjadi dua bagian yang sama.
Fragmentasi, merupakan bentuk reproduksi dengan cara pemutusan bagian tubuh
menjadi beberapa bagian.
Zoospora
Konjugasi, bentuk reproduksi generatif yang ditandai dengan adanya penonjolan dua
sitoplasma pada dua benang ganggang yang berdekatan.
E. Klasifikasi Alga
1. Divisi Chlorophyta (ganggang hijau)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Chlorophyta
Kelas : Chlorophyceae
Ordo : Halimedales
Genus : Caulerpa
Spesies : Caulerpa racesmosa

a. Pengertian Chlorophyta
Chlorophyta merupakan kelompok besar yang anggotanya terdiri dari alga hijau
yang hidup sebagai plankton air tawar dan sebagian kecil di air laut. Berbentuk filamen
nonmotil atau thaloid, dan mempunyai flagella. Sel-sel nya dikelilingi oleh dinding
selulosa yang sama dengan tanaman hijau multiseluler seperti halnya kloroplasnya.
b. Habitat Chlorophyta
Chlorophyta umumnya hidup di air tawar (90%) yang merupakan suatu
penyusun plankton atau sebagai bentos bersel besar, ada yang hidup di air laut (10%),
terutama dekat pantai. Ada jenis cholorophyta yang hidup pada tanah-tanah basah.
Bahkan diantaranya ada yang interaseluler pada binatang rendah. Beberapa anggotanya
hidup di air mengapung atau melayang, dan ada yang hidup melekat pada tumbuhan
ataupun hewan.
c. Struktur Tubuh
Struktur tubuhnya bervariasi baik dalam ukuran, bentuk maupun susunannya.
Untuk mencakup sejumlah besar variasi tersebut, alga hijau dapat dikelompokkan
sebagai berikut :
1. Sel tunggal (uniseluler) dan motil
2. Sel tunggal (uniseluler) dan non motil
3. Sel senobium (koloni yang mempunyai jumlah sel tertentu sehingga mempunyai
bentuk yang relatif tetap)
4. Koloni tak beraturan
5. Filamen (ada yang bercabang dan tidak bercabang)
6. Heterotrikus (filamen bercabang bentuknya terbagi menjadi prostate dan erect)
7. Tubular (talus yang memilki banyak inti tanpa sekat melintang)
d. Struktur Sel
1. Dinding Sel, tersusun atas dua lapisan dalam yang tersusun atas selulosa dan lapisan
luar tersusun atas pektin. Tetapi ada beberapa alga bangsa volvocales dindingnya
tidak mengandung selulosa, tetapi tersusun atas glikoprotein.
2. Kloroplas, terbungkus oleh sistem membran rangkap. Pigmen yang terdapat dalam
kloroplas yaitu klorofil a, klorofil b, beta karoten, serta berbagai macam xantifil.
Bentuk kloroplas sangat bervariasi.
e. Cadangan Makanan
Cadangan makanan berupa amilum seperti pada tumbuhan tinggi, tersusun
sebagai tantai glukosa tidak bercabang yaitu amilase dan rantai yang bercabang
amilopektin.
f. Contoh Chlorophyta
1. Chlorella : bersel satu, bentuk bulat, kloroplas menyerupai mangkuk atau lonceng,
hidup di air tawar/payau/darat, pembiakan vegetatif dengan pembelahan sel dan tiap
sel membentuk 4 sel anakan.
2. Ulva : terdapat di dasar pantai berbatu, berupa lembaran yang disebut selada air dan
dapat dimakan.
3. Spiroggyra : berbentuk benang (filamen) silindirs, hidup di kolam, sawah atau
perairan yang airnya tidak deras, reproduksi vegetatif dengan fragmentasi, generatif
dengan konjugasi yaitu dua Spirogyra yang bertonjolan berdekatan, kemudian dua
tonjolan bergabung membentuk pembuluh, protoplasma isi sel yang berlaku sebagai
gamet, gamet sel yang satu pindah ke gamet sel yang lain dan terjadilah plasmogami
dan diikuti kariogami, hasil persatuan ini berupa zigospora diploid,
zigosporamengadakan meiosis dan tumbuh menjadi benang baru yang haploid, dan
hanya satu sel yang menjadi individu baru.
4. Chlamidomonas : berbentuk bulat telur dengan dua flagelum, satu vakuola dan satu
nukles. Ditemukan butir stigma dan pirenoid yang berfungsi sebagai pusat
pembentukan tepung. Reproduksi dilakukan dengan membelah diri dan konjugasi.
5. Euglena : juga dikelompokkan ke dalam protozoa, karena selain mempunyai klorofil
juga dapat berpindah tempat.
6. Hydrodictyon : di temukan di air tawar dan koloninya berbentuk jala. Reproduksi
vegetatif dengan fragmentasi (pemisahan) sel koloni menghasilkan zoospora,
sedangkan generatif dengan konjugasi sel gamet yang dilepas dari induknya
menghasilkan zigospora.
7. Oedogonium : biasanya melekat pada tanaman air, rumah siput dll.
8. Chara : bentuknya seperti tumbuhan tingkat tinggi, terdapat di air tawar. Batang
beruas-ruas dan tiap ruas bercabang kecil.
g. Peranan Cholorophyta dalam Kehidupan
Menguntungkan :
1. Sebagai plankton dan merupakan komponen penting dalam rantai makanan air tawar
2. Dapat dipakai sebagai makanan, misalnya Ulva dan Chlorella
3. Penghasil O2 dari proses fotosintesis yang diperlukan oleh hewan-hewan air
Merugikan :
Ganggang hijau dapat mengganggu bila perairan terlalu subur, sehingga air akan
berubah warna dan berbau.

2. Divisi Phaeophyta (ganggang coklat)


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Phaeophyta
Genus : Brown algae
Kelas : Phaeophyceae
Pigmen yang paling dominan dalam Phaeophyta adalah pigmen xantofil yang
menyebabkan ganggang berwarna coklat. Pigmen lain yang terdapat dalam phaeophyta
adalah klorofil a dan c, serta karoten.
a. Habitat Phaeophyta
Phaeophyta sebagian besar hidup di air laut, hanya beberapa saja yang hidup
di air tawar. Dan ada yang terdampar di pinggir pantai, melekat pada batu-batuan
dengan alat pelekat semacam akar, phaeophyta juga hidup di tempat yang bersuhu
dingin dan sedang.
b. Struktur tubuh Phaeophyta
Tubuh berupa talus yang multiseluler yang berbentuk filament atau lembaran
atau menyerupai semak atau pohon yang dapat mencapai beberapa puluh meter,
terutama jenis-jenis yang hidup di lautan daerah iklim dingin, panjang tubuh maksimum
mencapai 100m.
c. Struktur Sel
Sel vegetatif mengandung kloroplas berbentuk bulat, bulat panjang,
mengandung klorofil a dan c serta beberapa xantofil. Cadangan makanan berupa
laminarin dan manitol. Dinding sel mengandung selulose dan asam alginate. Umumnya
dapat ditemukan adanya dinding sel yang tersusun dari tiga macam polimer, yaitu :
selulosa, asam aginat, fukan,dan fukoidin. Inti selnya berinti tunggal, bagian pangkal
beriti banyak.
d. Perkembangbiakan Phaeophyta
Perkembangbiakan vegetatif dengan fragmentasi dan membentuk spora
(aplanospora dan zoospora). Zoospora yang dihasilkan memiliki dua flagel yang tidak
sama panjang dan terletak dibagian lateral. Sedangkan reproduksi generatif dengan
isogami dan oogami. Reproduksi generatif dengan membentuk alat kelamin yang
disebut konseptakel jantan dan konseptakel betina. Didalam koseptakel jantan terdapat
anteridium dan didalam konseptakel betina terdapat oogonium yang menghasilkan
ovum. Spermatozoid membuahi ovum yang menghasilkan zigot.
e. Contoh Phaeophyta
Adapun contoh dari phaeophyta yaitu :
1. Fucus vesiculosus, hidup di laut dalam. Berkembangbiak secara oogami dengan
menghasilkan ovum dan sel gamet jantan menghasilkan spermatozoid.
2. Sargasum siliquosum, hidup dengan baik di tepi laut yang dangkal. Umumnya
menempel pada batu karang. Di pantai yang bersuhu sedang, sargasum tumbuh subur
sehingga menutupi permukaan laut.
3. Turbinaria australis, hidup dengan baik di tepi laut yang dangkal. Umumnya menempel
pada batu karang.
f. Peran Phaeophyta
Sebagian besar phaeophyta digunakan oleh masyarakat sebagai bahan
makanan, ada pula yang menggunakannya sebagai bahan laboratorium, dan dapat juga
dimanfaatkan sebagai obat dan pelekat fosil. Para ilmuwan memanfaatkan phaeophyta
unyuk melawan timbulnya kanker kulit yang disebabkan oleh terpaparnya sinar matahari.
3. Divisi Chrysophyta (ganggang keemasan)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisio : Chrysophyta
Kelas : Chrysophyceae
Nama Chrysophyta berasal dari bahasa Yunani, yaitu Chyros yang berarti
emas. Chrysophyta adalah satu kelas dari ganggang berdasarkan zat warna atau
pigmentasinya. Ganggang berwarna keemasan karena mengandung pigmen karoten dan
xantofil.
a. Habitat Chrysophyta
Habitat Chrysophyta biasanya terdapat di tempat-tempat yang basah, air laut,
air tawar dan ditanah yang lembab.
b. Struktur tubuh Chrysophyta
Bentuk tubuh Chrysophyta kebanyakan bersel satu (uniseluler) dan bersel
banyak (multiseluler) dan tubuhnya biasanya berbentuk seperti benang. Pigmen
Chrysophyta berwarna keemasan, disebabkan oleh karoten dan xantofil. Disamping itu
Chrysophyta mempunyai pigmen fotosintesis termasuk klorofil dan karotenoid seperti
fukoxantin dan diadinoxantin.
c. Cadangan Makanan Chrysophyta
Cadangan makanan pada Chrysophyta berupa tepung krisolaminarin. Dan
bahan simpanan utamanya adalah minyak dan krisolaminarin (leukosin) dan kanjinya
tidak menimbun.
d. Struktur Sel Chrysophyta
1. Dinding sel.
Chrysophyta umumnya tidak berdinding sel. Bila ada dinding selnya maka
terdiri dari lorika. Atau tersusun dari lempengan silicon, atau tersusun dari cakram
kalsium karbonat. Struktur selnya tidak mempunyai dinding selulosa dan
membrannya menunjukkan kewujudan silica.
2. Kloroplas
Kloroplas pada chrysophyta berwarna coklat keemasan. Chrysophyta
menunjukkan perbedaan struktur kloroplas dan sering kali terdapat tiga thylakoids
disekitar periphery kloroplas (girdle lamina). Kloroplas terdiri dari dua membran,
jarak periplastida antara dua kloroplas dan retikulum endoplasma sempit dan kurang
adanya perbedaan struktur.
3. Ribosom
Ribosom pada Chrysophyta terdapat pada permukaan luar CER.
4. Alat gerak
Chrysophyta memiliki alat gerak yang terdiri dari flagel dan jumlahnya tidak
sama setiap marga.
5. Vakuola kontraktil
Terdapat satu atau dua vakuola kontraktil dalam sel (tergantung pada species)
yang terletak dekat dasar dari flagel. Masing-masing vakuola kontraktil terdiri atas
vesikel kecil yang berdenyut dengan interfal yang teratur, mengeluarkan isinya dari
sel. Vakuola kontraktil yang terdapat pada alga yang berflagel fungsi utamanya
adalah osmoregulator.
6. Badan golgi
Badan golgi terletak diantara inti dan kontraltil vakuola. Badan golgi adalah
organella yang terdapat pada sel eukariotik, baik hewan maupun tumbuhan yang
strukturnya terdiri dari tumpukan fesikel bentuk cakram atau kantung.
7. Nukleus
Nukleus dan kloroplas dihubungkan oleh membran kloroplas yang mana
berhubungan dengan pembungkus.
e. Perkembangbiakan Chrysophyta
Perkembangbiakan Vegetatif (Aseksual) dengan pembelahan sel, fragmentasi,
pemisahan koloni, dan pembentukan spora (aplanospora atau zoospora),
Perkembangbiakan generatif (seksual) dengan konjugasi, isogami, anisogami, dan
oogami.
f. Contoh dari Chrysophyta
Ganggang keemasan bersel tunggal :
Ochromonas
Sel tubuhnya berbentuk bola yang dilengkapi dengan 2 flagel sebagai alat
gerak. Kedua flagel tersebut tidak sama panjang. Di dalam sitoplasmanya terdapat
beberapa organel penting, seperti kloroplas yang berbentuk lembaran melengkung,
vakuola, stigma, dan nukleus. Ochromonas berkembangbiak dengan membelah diri.
Navicula sp
Ganggang ini dikenal sebagai diatomae atau gangang kersik karena dinding sel
tubuhnya mengandung zat kersik. Kersik merupakan komponen penting dalam
plankton. Navicula sp hidup di air tawar dan di laut. Tubuh Navicula sp terdiri atas
dua bagian yaitu kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka). Diantara kotak dan tutup
terdapat celah yang disebut rafe.
Vaucheria
Tubuhnya berupa benang bercabang-cabang dan tidak bersekat, memiliki inti
sel banyak, dan menyebar. Vaucheria tumbuh melekat pada substrat dengan
menggunakan alat yang berbentuk akar. Habitatnya di air tawar maupun di air payau.
Perkembangbiakan Vaucheria :
Berlangsung dengan pembentukan zoospora yang berkumpul dalam
sporangium pada ujung filamen. Selanjutnya, inti di dalam sporangium membelah
secara meiosis dan menghasilkan zoospora. Zoospora tersebut berinti banyak dan
mempunyai flagel yang tumbuh di seluruh permukaannya. Setelah sporangium masak,
zoospora akan keluar dan tumbuh menjadi Vaucheria baru.
g. Manfaat Chrysophyta
Chrysophyta berguna sebagai bahan penggosok, bahan pembuat isolasi,
penyekat dinamit, membuat saringan, bahan alat penyadap suara, bahan pembuat cat,
pernis, dan piringan hitam. Chtysophyta merupakan bagian yang terdiri dari
fitoplankton. Navicula merupakan fitoplankton dilaut sehingga dikenal sebagai grass of
the sea.

4. Divisi Rhodophyta (ganggang merah)


Umumnya hidup dilaut dan beberapa jenis di air tawar, mengandung pigmen
klorofil a, klorofil d, karoten, fikoeritrin, fikosianin. Tubuhnya bersel banyak menyerupai
benang atau lembaran. Contohnya :
Batrachospermum
Gelidium
Euchema
Gracilia
Chondrus
Porphyra
Polysiphonia
Nemalion

a. Habitat Rhodophyta
Sebagian besar gangang merah hidup di laut, banyak terdapat di laut tropika.
Sebagian kecil hidup di air tawar yang dingin dengan aliran deras dan banyak oksigen.
Selain itu ada pula yang hidup di air tawar. Ganggang merah yang banyak ditemukan
dilaut dalam adalah Gelidium dan Gracilaria, sedangkan Euchema spinosum ditemukan
di laut dangkal.
b. Perkembangbiakan Rhodophyta
Ganggang merah berkembangbiak secara vegetatif dan Generatif.
Perkembangbiakan Vegetatif
Berlangsung dengan pembentukan spora hapoid yang dihasilkan oleh
sporangium atau talus ganggang yang diploid. Spora ini selanjutnya tumbuh
menjadi ganggang jantan atau betina yang sel-sel nya haploid.
Perkembangbiakan Generatif
Ganggang merah dengan oogami, pembuahan sel kelamin betina (ovum) oleh
sel kelamin jantan (spermatium). Alat perkembangbiakan jantan disebut
spermatogonium yang menghasilkan spermatium yang tidak berflagel. Sedangkan
alat kelamin betina disebut karpogonium, yang menghasilkan ovum. Hasil
pembuahan sel ovum oleh spermatium adalah zigot yang haploid. Selanjutnya, zigot
itu akan tumbuh menjadi ganggang baru yang menghasilkan aplanospora dengan
pembelahan meiosis. Spora haploid akan tumbuh menjadi ganggang penghasil
gamet. Jadi pada ganggang merah terjadi pergiliran keturunan antara sporofit dan
gametofit.
c. Peranan Rhodophyta
Ganggang merah dapat menyediakan makanan dalam jumlah banyak bagi ikan
dan hewan lain yang hidup dilaut. Jenis ini juga menjadi bahan makanan bagi manusia
misalnya Chondrus cripus (limut Irlandia) dan beberapa genus Phorpyra. Chondrus
cripus dan Gigortina mamilosa menghasilkan karagen yang dimanfaatkan untuk
penyamak kulit, bahan pembuat krem, dan obat pencuci rambut. Ganggang merah lain
seperti Gracilaria lichenoides, Euchema spinosum, Gelidium dan Agardhiella
menghasilkan bahan bergelatin yang dikenal sebagai agar-agar. Gelatin ini digunakan
oleh para peneliti sebagai medium bakteri, untuk pengental dalam banyak makanan,
perekat tekstil, dan sebagai bahan pencahar (laksatif), atau makanan lainnya.

5. Divisi Chyanophyta (ganggang hijau biru)


Ganggang hijau biru adalah organisme prokariotik dan karenanya tidak terikat
membran organel. Lebih erat kaitannya dengan bakteri daripada alga yang lain, mereka
sering disebut sebagai Chyanobacteria. Habitat nya di laut, air darat, dan habitat darat.
a. Ciri-ciri Umum Chyanophyta
Bersifat prokariotik ( inti selnya tidak diselubungi membran)
Bentuk ganggang ini bisa uniseluler, koloni, dan filamen.
Memilki pigmen klorofil (berwarna hijau), karotenoid (berwarna oranye), serta
fikobilin yang terdiri dari fikosianin (berwarna biru) dan fikoeritrin (berwarna hijau).
Gabungan pigmen-pigmen ini membuat wrana nya biru kehijauan.
Bersifat autotrof (dapat membuat makanan sendiri dari zat anorganik) karena
memiliki klorofil
Dinding sel terdiri dari peptida, hemiselulosa dan mempunyai selaput berlendir.
Disebut makhluk hidup perintis karena dapat hidup ditempat yang makhluk hidup lain
tidak dapat hidup.
Ganggang hijau biru yang berbentuk filamen dapat juga membentuk spora berdinding
tebal yang resisten terhadap panas dan pengeringan yaitu heterokist .
b. Perkembangbiakan Cyanophyta
Cara perkembangbiakan yang diketahui ada tiga cara, dimana ketiga-tiga nya
merupakan perkembangbiakan aseksual. Sedangkan perkembangbiakan seksualnya
belum diketahui. Ketiga cara tersebut adalah :
Pembelahan Sel
Sel membelah menjadi dua bagian yang membentuk sel baru. Sel-sel yang
terpisah bisa tetap bergabung membentuk koloni. Misalnya : Gleosapca
Fragmentasi
Merupakan pemutusan sebagian anggota tubuh yang dapat membentuk
individu baru. Terjadi pada gangang yang berbentuk filamen/benang. Misalnya :
Oscillatoria
Spora vegetatif
Spora vegetatif yang dimaksud disini adalah heterokist. Pada keadaan yang
tidak menguntungkan heterokist tetap mampu bertahan karena dinding sel nya tebal
dan banyak mengandung bahan makanan. Setelah lingkungan kembali
menguntungkan heterokist dapat membentuk filamen baru. Misalnya :
Chamaesiphon comfervicolus.
c. Klasifikasi Cyanophyta
Divisi Cyanophyta dibedakan menjadi 3 ordo yaitu :
Ordo Chroococalles
Berbentuk tunggal atau kelompok tanpa spora, warna biru kehijau-hijauan.
Umumnya alga ini membentuk selaput lendir pada cadas atau tembok yang basah.
Ordo Chamaesiphonales
Alga bersel tunggal atau merupakan koloni berbentuk benang, yang
mempunyai spora. Benang-benang itu dapat putus-putus merupakan hormogonium
yang dapat merayap dan merupakan koloni baru, prosesnya disebut fragmentasi.
Ordo Hormogonales
Sel-sel nya merupakan koloni berbentuk benang atau diselubungi suatu
membran. Benang-benag itu melekat pada substratnya, tidak bercabang, jarang
mempunyai percabangan sejati, lebih sering mempunyai percabangan semu. Benang-
senang itu selalu dapat membentuk hormogonium. Contohnya : Oscillatoria, Nostoc
comune, Anabaena, Spirulina dan Rivularia.
d. Manfaat Cyanophyta
v Nostoc
Perendaman sawah selama musim hujan mengakibatkan nostoc tumbuh subur
dan memfiksasi N2 dari udara sehingga dapat membantu penyediaan nitrogen yang
digunakan untuk pertumbuhan padi.
v Anabaena azollae
Hidup bersimbiosis dengan Azolla pinata (paku air). Paku ini dapat
memfiksasi nitrogen diudara mengubah oksigen menjadi amoniak yang tersedia bagi
tanaman.
v Spirullina
Ganggang ini mengandung protein yang tinggi, yang lebih dikenal dengan
sebutan protein sel tunggal sehingga dijadikan sebagai sumber makanan.
2. LICHENS (LUMUT KERAK)
A. Pengertian Lichenes
Organisme ini sebenarnya kumpulan antara Fungi dan Alga, tetapi sedemikian
rupa, hingga dari segi morfologi dan fisiologi merupakan suatu kesatuan.
Lichenes hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan, tetapi dapat jiga di atas tanah,
terutama di daerah tundra di sekitar kutub utara. Di daerah ini areal dengan luas ribuan
km2 tertutup oleh lichenes. Baik di atas cadas maupun di dalam batu, tidak terikat
tingginya tempat di atas permukaan air laut. Lichenes dapat kita temukan dari tepi pantai
sampai di atas gunung-gunung yang tinggi. Tumbuhan ini tergolong dalam tumbuhan
perintis yang ikut berperan dalam pembentukan tanah. Beberapa jenis dapat masuk pada
bagian pinggir batu-batu, oleh karenanya disebut bersifat endolitik.
Lichenes tidak memerlukan syarat-syarat hidup yang tinggi, dan tahan kekurangan
air dalam jangka waktu yang lama. Karena panas yang terik lichenes yang hidup pada
batu-batu dapat menjadi kering, tetapi tidak mati, dan jika kemudian turun hujan, Lichenes
dapat hidup kembali. Pertumbuhan thalusnya sangat lambat, dalam satu tahun jarang lebih
dari 1 cm. tubuh buah baru terbentuk setelah mengadakan pertumbuhan vegetatif bertahun-
tahun.
Algae yang ikut menyusun tubuh Lichenes disebut gonidium, dapat bersel tunggal
atau berkoloni. Kebanyakan gonidium adalah ganggang biru (Cyanophyceae) antara lain
Chroococcus dab Nostoc, kadang-kadang juga ganggang hijau 9chlorophyceae) misalnya
Cystococcus dan Trentepohlia.
Kebanyakan cendawan yang ikut menyusun Lichenes tergolong ke dalam
Ascomycetes terutama Discomycetales, hanya kadang-kadang Pyrenomycetales. Mungkin
juga Basidiomycetes mengambil bagian dalam pembentukan Lichenes. Kebanyakan
cendawan-cendawan tertentu bersimbiosis dengan ganggang tertentru pula. Untuk
memelihara Lichenes pada medium buatan dijimpai bamnyak kesukaran. Tetapi jika
cendawan dan ganggangnya dipisahkan, masing-masing dapat dipiara dengan mudah pada
medium buatan. Pada umumnya Lichenes pada medium buatan tidak memperlihatkan
pertumbuhan yang kuat. Jadi daya untuk hidup sendiri telah hilang, sehingga cendawan itu
dalam jarang sekali ditemukan dalam keadaan hidup bebas. Dalam kultur murni cendawan
itu memperlihatkan susunan morfologi menurut jenisnya, tetapi bentuk thalus seperti
Lichenes baru terjadi, jika bertemu dengan jenis ganggang yang tepat. Lain ganggang akan
menghasilkan lain Lichenes. Jadi bentuk lichenes bergantung pada macam cara hidup
bersama antara kedua macam organisme yang menyusunnya.
Hidup bersama antara dua organisme yang berlainan jenis umumnya disebut
simbiosis. Masing-masing organisme itu sendiri disebut simbion. Dalam pembicaraan
sehari-hari simbiosis itui sering diartikan sebagai hidup bersama dengan keuntungan bagi
kedua simbion, yang seharusnya dinamakan mutualisme.
Pada lichenes simbiosis antara fungi dan algae diberikan tafsiran yang berbeda-
beda. Ada yang menafsirkan sebagai mutualisme, karena dipandang kedua-duanya dapat
memperoleh keuntungan dari hidup bersama itu. Ganggang memberikan hasil-hasil
fotosintesis terutama yang berupa karbohidrat kepada cendawan, dan sebaliknya cendawan
memberikan air dan garam-garam kepada ganggang.
Dapat juga hubungan antara ganggang dan jamur itu dianggap sebagai suatu
helotisme. Keuntungan yang timbal balik itu hanya sementara, yaitu pada permulaan saja,
tetapi akhirnya ganggan diperalat oleh cendawan, hubungan mana menyerupai hunbungan
seorang majikan dengan budaknya (heloot). Dalam hal ini hidup bersama natara cendawan
dan ganggang pada Lichenes dinamakan helotisme. Mengenai hal tersebut memang masih
belum tercapai persesuaian paham.
Pada penampang melintang talus lichenes tampak hifa cendawan sering kali
membalut sel-sel ganggang, bahkan ada yang memasukkan haustorium ke dalam sel-sel
ganggang. Ganggang tetap hidup, tetapi tidak dapat membiak dengan sel-sel lembaganya
sendiri. Adapula yang miselium cendawan hanya msuk kedalam selaput lender sel-sel
ganggang. Dalam hal tersebut bentuk ganggang menentukan bentuk Lichenes. Pada
umumnya miselium cendawan jauh lebih banyak bagian dalam takus terdiri atas anyaman
hiva yang renggang dan merupakan lapisan teras(lapisan empulur). Dalam lapisan ini
dekat dengan permukaan sel-sel ganggang, bergerombol yang merupakan lapisan yang
dinamakan lapisan gonidium. Kulit luarnya terdiri atas mislelium cendawan lagi yang
teranyam sebagai plektenkim dengan rapat.
Menurut habitusnya kita membedakan Lichenes yang talusnya menyerupai
lembaran-lembaran, dan seperti semak. Yang pertama biasanya melekat dengan benang-
benang menyerupai rizoid pada substratnya dengan seluruh sisi bawah talus, sedang yang
kedua mempunyai ujung talus yang bebas dalam udara. Pembagian ini sama sekali tidak
menunjukkan hubungan filogenetik antara anggota-anggota yang tergolong di dalamnya.
Kebanyakan Lichexnes berkembang biak vegetatif, karena bila sebagian talus terpisah lalu
tumbuh menjadi individu baru. Pada bebarapa jenis Lichenes,pembiakan berlangsung
dengan perantaraan soredium, yaitu kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang
membelah dan diselubungi benang-benang miselium menjadi suatu badan yang dapat
terlepas dari indukknya. Dengan robeknya dinding talus soredium tersebar seperti debu
yang ditiup angin. Benda-benda tersebut pada tempat lain dapat tumbuh menjadi Lichenes
baru. Seringkali soredium itu tetjadi dalam talus pada tempat-tempat yang mempunyai
batas yang jelas yang dinamakan soralum. Pada talus Lichenes, cendawan akhirnya dapat
membentuk tubuh buah yang menurut jenis cendawan dapat berupa apotesium atau
peritesium. Spora yang dilepaskan , di tempat yang baru jika menjumpai jenis ganggang
yang tepat, yang sama dengan jenis ganggang pada talus indukknya.

B. MORFOLOGI LICHENES
1. Morfologi Luar
Tubuh lichenes dinamakan thallus yang secara vegetatif mempunyai
kemiripan dengan alga dan jamur. Thallus ini berwarna abu-abu atau abu-abu
kehijauan. Beberapa spesies ada yang berwarna kuning, oranye, coklat atau merah
dengan habitat yang bervariasi. Bagian tubuh yang memanjang secara selluler
dinamakan hifa. Hifa merupakan organ vegetatif dari thallus atau miselium yang
biasanya tidak dikenal pada jamur yang bukan lichenes. Alga selalu berada pada bagian
permukaan dari thallus.
Berdasarkan bentuknya lichenes dibedakan atas empat bentuk :
a. Crustose
Lichenes yang memiliki thallus yang berukuran kecil, datar, tipis dan selalu
melekat ke permukaan batu, kulit pohon atau di tanah. Jenis ini susah untuk
mencabutnya tanpa merusak substratnya.
Contoh : Graphis scipta, Haematomma puniceum, Acarospora atau Pleopsidium

Haematomma accolens Acarospora


Lichen Crustose yang tumbuh terbenam di dalam batu hanya bagian tubuh
buahnya yang berada di permukaan disebut endolitik, dan yang tumbuh terbenam
pada jaringan tumbuhan disebut endoploidik atau endoploidal. Lichen yang longgar
dan bertepung yang tidak memiliki struktur berlapis, disebut leprose.
Caloplaca luteominea
subspecies bolanderi (lichen endolitik)
b. Foliose
Lichen foliose memiliki struktur seperti daun yang tersusun oleh lobuslobus.
Lichen ini relatif lebih longgar melekat pada substratnya. Thallusnya datar, lebar,
banyak lekukan seperti daun yang mengkerut berputar. Bagian permukaan atas dan
bawah berbeda. Lichenes ini melekat pada batu, ranting dengan rhizines. Rhizines ini
juga berfungsi sebagai alat untuk mengabsorbsi makanan.
Contoh : Xantoria, Physcia, Peltigera, Parmelia dll.

Xantoria elegans Physcia aipolia

Peltigera malacea Parmelia sulcata

c. Fruticose
Thallusnya berupa semak dan memiliki banyak cabang dengan bentuk seperti
pita. Thallus tumbuh tegak atau menggantung pada batu, daun-daunan atau cabang
pohon. Tidak terdapat perbedaan antara permukaan atas dan bawah.
Contoh : Usnea, Ramalina dan Cladonia

Usnea longissima Ramalina stenospora

Cladonia perforata
d. Squamulose

Lichen ini memiliki lobus-lobus seperti sisik, lobus ini disebut squamulus
yang biasanya berukuran kecil dan saling bertindih dan sering memiliki struktur
tubuh buah yang disebut podetia.

Psora pseudorusselli Cladonia carneola


2. Morfologi dalam (Anatomi)
Anatomi lumut kerak Apabila kita sayat tipis tubuh lumut kerak, kemudian
diamati di bawah mikroskop, maka akan terlihat adanya jalinan hifa/misellium
jamur yang teratur dan dilapisan permukaan terdapat kelompok alga bersel satu,
yang terdapat disela-sela jalinan hifa. Secara garis besar susunan tubuh lumut kerak
dapat dibedakan menjadi 3 lapisan.
Struktur morfologi dalam diwakili oleh jenis foliose, karena jenis ini
mempunyai empat bagian tubuh yang dapat diamati secara jelas yaitu:
a) Korteks atas, berupa jalinan yang padat disebut pseudoparenchyma dari hifa
jamurnya. Sel ini saling mengisi dengan material yang berupa gelatin. Bagian
ini tebal dan berguna untuk perlindungan.
b) Daerah alga, merupakan lapisan biru atau biru hijau yang terletak di bawah
korteks atas. Bagian ini terdiri dari jalinan hifa yang longgar. Diantara hifa-hifa
itu terdapat sel-sel hijau, yaitu Gleocapsa, Nostoc, Rivularia dan Chrorella.
Lapisan thallus untuk tempat fotosintesa disebut lapisan gonidial sebagai organ
reproduksi.
c) Medulla, terdiri dari lapisan hifa yang berjalinan membentuk suatu bagian
tengah yang luas dan longgar. Hifa jamur pada bagian ini tersebar ke segala
arah dan biasanya mempunyai dinding yang tebal. Hifa pada bagian yang lebih
dalam lagi tersebar di sepanjang sumbu yang tebal pada bagian atas dan tipis
pada bagian ujungnya. Dengan demikian lapisan tadi membentuk suatu untaian
hubungan antara dua pembuluh.
d) Korteks bawah, lapisan ini terdiri dari struktur hifa yang sangat padat dan
membentang secara vertikal terhadap permukaan thallus atau sejajar dengan
kulit bagian luar. Korteks bawah ini sering berupa sebuah akar (rhizines). Ada
beberapa jenis lichenes tidak mempunyai korteks bawah.
Dan bagian ini digantikan oleh lembaran tipis yang terdiri dari hypothallus
yang fungsinya sebagai proteksi. Dari potongan melintang Physcia sp. terlihat
lapisan hijau sel-sel alga dan rhizines coklat bercabang pada bagian bawah. Bagian
tengah yang berwarna putih terdiri dari sel-sel jaringan jamur yang disebut
medulla.
Struktur pipih pada bagian atas dan kanan disebut apothecia dan lapisan
coklat di atasnya disusun oleh asci, yaitu bagian dari ascomycete yang megandung
spora jamur.
C. Struktur Vegetatif
Struktur tubuh lichenes secara vegetatif terdiri dari:
1. Soredia, terdapat pada bagian medulla yang keluar melalui celah kulit.
Diameternya sekitar 25 100 m , sehingga soredia dapat dengan mudah
diterbangkan angin dan akan tumbuh pada kondisi yang sesuai menjadi tumbuhan
licenes yang baru. Jadi pembiakan berlangsung dengan perantaraan soredia. Soredia
itu sendiri merupakan kelompok kecil sel-sel gangang yang sedang membelah dan
diselubungi benang-benang miselium menjadi satu badan yang dapat terlepas dari
induknya. Soredia ini terdapat di dalam soralum. Potongan Lobaria pulmonaria.
Bagian hitam yang membengkak disebut cephalodium dan struktur bentuk mahkota
adalah soralium dengan bentuk bola kecil soredia di atasnya. Lapisan hijau adalah
koloni alga.
2. Isidia
Isidia berbentuk silinder, bercabang seperti jari tangan dan terdapat pada kulit
luar. Diamaternya 0,01 0,03 m dan tingginya antara 0,5 3 m. Berdasarkan
kemampuannya bergabung dengan thallus, maka dalam media perkembangbiakan,
isidia akan menambah luas permukaan luarnya. Sebanyak 25 30 % dari spesies
foliose dan fructicose mempunyai isidia. Proses pembentukan isidia belum diketahui,
tetatpi dianggap sebagai faktor genetika.
3. Lobula
Lobula merupakan pertumbuhan lanjutan dari tahllus lichenes yang sering
dihasilkan di sepanjang batas sisi kulit luar. Lobula ini dapat berkembang dengan baik
pada jenis foliose, Genus Anaptycia, Neproma, Parmelia dan Peltigera. Lobula sangat
sukar dibedakan dengan isidia.
4. Rhizines
Rhizines merupakan untaian yang menyatu dari hifa yang berwarna kehitam-
hitaman yang muncul dari kulit bagian bawah (korteks bawah) dan mengikat thallus
ke bagian dalam. Ada dua jenis rhizines yaitu bercabang seperti pada Ctraria, Physcia
dan Parmelia dan yang tidak bercanag terdapat pada Anaptycis dan beberapa
Parmelia.
5. Tomentum
Tomentum memiliki kepadatan yang kurang dari rhizines dan merupakan
lembaran serat dari rangkaian akar atau untaian yang renggang. Biasanya muncul
pada lapisan bawah seperti pada Collemataceae, Peltigeraceae dan Stictaceae.
6. Cilia
Cilia berbentuk seperti rambut, menyerupai untaian karbon dari hifa yang
muncul di sepanjang sisi kulit. Cilia berhubungan dengan rhizines dan hanya berbeda
pada cara tumbuh saja.
7. Cyphellae dan Pseudocyphellae
Cypellae berbentuk rongga bulat yang agak besar serta terdapat pada korteks
bawah dan hanya dijumpai pada genus Sticta. Pseudocyphellae mempunyai ukuran
yang lebih kecil dari cyphellae yaitu sekittar 1 m dan terdapat pada korteks bawah
spesies Cetraria, Cetralia, Parmelia dan Pasudocyphellaria. Rongga ini berfungsi
sebagai alat pernafasan atau pertukaran udara.
8. Cephalodia.
Cephalodia merupakan pertumbuhan lanjutan dari thallus yang terdiri dari
alga-alga yangg berbedadari inangnya. Pada jenis peltigera aphthosa, cephalodia
mulai muncul ketika Nostoc jatuh pada permukaan thallus dan terjaring oleh hifa
cephalodia yang berisikan Nostoc biru kehijauan. Jenis ini mampu menyediakan
nitrogen thallus seperti Peltigera, Lecanora, Stereocaulon, Lecidea dan beberapa jenis
crustose lain.

D. KLASIFIKASI LICHENES
Lichenes sangat sulit untuk diklasifikasikan karena merupakan gabungan dari
alga dan fungi serta sejarah perkembangan yang berbeda. Para ahli seperti Bessey
(1950), Martin (1950) dan Alexopoulus (1956), berpendapat bahwa lichenes
dikelompokkan dan diklasifikasikan ke dalam kelompok jamur sebenarnya. Bessey
meletakkannya dalam ordo Leocanorales dari Ascomycetes. Smith (1955)
menganjurkan agar lichenes dikelompokkan dalam kelompok yang terpisah yang
berbeda dari alga dan fungi. Lichenes memiliki klasifikasi yang bervariasi dan dasar
dasar klasifikasinya secara umum adalah sebagai beriktu :
1. Berdasarkan komponen cendawan yang menyusunnya
A. Ascolichens.
a. Cendawan penyusunnya tergolong Pyrenomycetales, maka tubuh buah yang
dihasilkan berupa peritesium. Contoh : Dermatocarpon dan Verrucaria.
b. Cendawan penyusunnya tergolong Discomycetes. Lichenes membentuk tubuh
buah berupa apothecium yang berumur panjang. Contoh : Usnea dan
Parmelia.
Lichenes membentuk tubuh buah yang berupa apotesium. Berlainan dengan
Discomycetales yang hidup bebas yang apotesiumnya hanya berumur pendek.
Apotesium pada Lichenes ini berumur panjang, bersifat seperti tulang rawan dan
mempunyai askus yang berdinding tebal. Dalam golongan ini termasuk Usnea
(rasuk angin) yang berbentuk semak kecil dan banyak terdapat pada pohon-pohonan
di hutan apalagi di daerah pegunungan.

Gambar . Dermatocarpon sp Gambar . Verrucaria


Contoh Ascholichenes adalah Usnea barbata dan Usnea dasypoga yang
dianggap mempunyai khasiat obat untuk ramuan pembuatan jamu tradisional
(gambar 14 dan 15). Usnea menghasilkan suatu antibiotik asam usnin yang berguna
untuk melawan Tuberculosis. Rocella tinctoria untuk pembuatan lakmus. Cladonia
rangifera adalah makanan utama rusa kutub. Cetraria islandica terdapat di daerah
pegunungan di eropa mempunyai khasiat obat. Lobaria pulmonaria berupa
lembaran-lembaran seperti kulit yang hidup pada pohon-pohon dan batu-batu.

Gambar . Usnea barbata Gambar . Usnea dasypoga


Dalam klas Ascolichenes ini dibangun juga komponen alga dari famili
Mycophyceae dan Chlorophyceae yang bentuknya berupa gelatin.
Genus dari Mycophyceae adalah : Scytonema, Nostoc, Rivularia, Gleocapsa dan
lain-lain. Dari Chlorophyceae adalah : Protococcus, Trentopohlia, Cladophora dan
lain-lain.
B. Basidiolichenes (Hymenolichenes)
Berasal dari jamur Basidiomycetes dan alga Mycophyceae.
Basidiomycetes yaitu dari famili : Thelephoraceae, dengan genus : Cora, Corella
dan Dyctionema. Mycophyceae berupa filament yaitu : Scytonema dan tidak
berbentuk filament yaitu Chrococcus.
Basidiolichenes kebanyakan mempunyai tallus yang berbentuk lembaran-
lembaran. Pada tubuh buah terbentuk lapisan himenium yang mengandung
basidium yang sangat menyerupai tubuh buah Hymenomycetales. Contoh Cora
pavonia, sebagai bahan pembuat obat-obatan (gambar 16).

Gambar 16. Cora pavonia


Dalam Klas Ascolichens ini dibangun juga oleh komponen alga dari famili:
Mycophyceae dan Chlorophyceae yang bentuknya berupa gelatin. Genus dari
Mycophyceae adalah : Scytonema, Nostoc, Rivularia, Gleocapsa dan lain-lain. Dari
Cholophyceae adalah : Protococcus,Trentopohlia, Cladophora dll.
C. Lichen Imperfect
Deutromycetes fungi, steril. Contoh : Cystocoleus, Lepraria, Leprocanlon,
Normandia, dll.
1. Berdasarkan alga yang menyusun thalus
A. Homoimerus
Sel alga dan hifa jamur tersebar merat pada thallus. Komponen alga
mendominasi dengan bentuk seperti gelatin, termasuk dalam Mycophyceae.
Contoh : Ephebe, Collema
B. Heteromerous
Sel alga terbentuk terbatas pada bagian atas thallus dan komponen
jamur menyebabkan terbentuknya thallus, alga tidak berupa gelatin
Chlorophyceae. Contoh : Parmelia
2. Berdasarkan type thallus dan kejadiannya
A. Crustose atau Crustaceous.
Merupakan lapisan kerak atau kulit yang tipis di atas batu, tanah atau
kulit pohon. Seperti Rhizocarpon pada batu, Lecanora dan Graphis pada
kulit kayu. Mereka terlihat sedikit berbeda antara bagian permukaan atas
dan bawah.
B. Fruticose atau filamentous
Lichen semak, seperti silinder rata atau seperti pita dengan beberapa
bagian menempel pada bagian dasar atau permukaan. Thallus bervariasi,
ada yang pendek dan panjang, rata, silindris atau seperti janggut atau
benang yang menggantung atau berdiri tegak. Bentuk yang seperti telinga
tipis yaitu Ramalina. Yang panjang menggantung seperti Usnea dan
Alectoria. Cladonia adalah tipe antara kedua bentuk itu.

E. PERKEMBANGBIAKAN LICHENES
Perkembangbiakan lichenes melalui tiga cara, yaitu :
A. Secara Vegetatif
1. Fragmentasi
Fragmentasi adalah perkembangbiakan dengan memisahkan bagian
tubuh yang telah tua dari induknya dan kemudian berkembang menjadi
individu baru. Bagian-bagian tubuh yang dipisahkan tersebut dinamakan
fragmen. Pada beberapa fruticose lichenes, bagian tubuh yang lepas tadi,
dibawa oleh angin ke batang kayu dan berkembang tumbuhan lichenes yang
baru. Reproduksi vegetatif dengan cara ini merupakan cara yang paling
produktif untuk peningkatan jumlah individu.
2. Isidia
Kadang-kadang isidia lepas dari thallus induknya yang masing-masing
mempunyai simbion. Isidium akan tumbuh menjadi individu baru jika
kondisinya sesuai.
3. Soredia
Soredia adalah kelompok kecil sel-sel ganggang yang sedang membelah
dan diselubungi benag-benang miselium menjadi suatu badan yang dapat
terlepas dari induknya. Dengan robeknya dinding thallus, soredium tersebar
seperti abu yang tertiup angin dan akan tumbuh lichenes baru. Lichenes yang
baru memiliki karakteristik yang sama dengan induknya.
B. Secara Aseksual
Metode reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan spora yang
sepenuhnya bergantung kepada pasangan jamurnya. Spora yang aseksual disebut
pycnidiospores. Pycnidiospores itu ukurannya kecil, spora yang tidak motil, yang
diproduksi dalam jumlah yang besar disebut pygnidia. Pygnidia ditemukan pada
permukaan atas dari thallus yang mempunyai suatu celah kecil yang terbuka yang
disebut Ostiole. Dinding dari pycnidium terdiri dari hifa yang subur dimana jamur
pygnidiospore berada pada ujungnya. Tiap pycnidiospore menghasilkan satu hifa
jamur. Jika bertemu dengan alga yang sesuai terjadi perkembangan menjadi
lichenes yang baru.
C. Secara Seksual
Perkembangan seksual pada lichenes hanya terbatas pada pembiakan
jamurnya saja. Jadi yang mengalami perkembangan secara seksual adalah
kelompok jamur yang membangun tubuh lichenes.

F. MANFAAT LICHENES
Lichenes memiliki bermacam-macam kegunaan dan bahaya, antara lain :
A. Lichenes sebagai bahan makanan
Thallus dari lichenes belum digunakan sebagai sumber makanan secara
luas, karena lichenes memiliki suatu asam yang rasanya pahit dan dapat
menimbulkan gatal-gatal, khususnya asam fumarprotocetraric. Asam ini harus
dibuang terlebh dahulu dengan merebusnya dalam soda. Tanaman ini mempunyai
nilai, walaupun tidak sama dengan makanan dari biji-bijian. Pada saat makanan
sulit didapat, orang-orang menggunakan lichens sebagai sumber karbohidrat
dengan mencampurnya dengan tepung.
Di Jepang disebut Iwatake, dimana Umbilicaria dari jenis foliose lichenes
digoreng atau dimakan mentah. Lichenes juga dimakan oleh hewan rendah maupun
tingkat tinggi seperti siput, serangga, rusa dan lain-lain. Rusa karibu menjadikan
sejumlah jenis lichenes sebagai sumber makanan pada musim dingin, yang paling
banyak dimakan adalah Cladina stellaris. Kambing gunung di Tenggara Alaska
memakan lichenes dari jenis Lobaria linita.
B. Lichenes sebagai obat-obatan
Pada abad pertengahan lichenes banyak digunakan oleh ahli pengobatan.
Lobaria pulmonaria digunakan untuk menyembuhkan penyakit paru-paru karena
Lobaria dapat membentuk lapisan tipis pada paru-paru. Selain itu lichenes juga
digunakan sebagai ekspektoran dan obat liver. Sampai sekarang penggunaan
lichenes sebagai obat-obatan masih ada. Dahulu di Timur Jauh, Usnea filipendula
yang dihaluskan digunakan sebagai obat luka dan terbukti bersifat antibakteri.
Senyawa asam usnat (yang terdapat dalam ekstrak spesis Usnea) saat ini telah
digunakan pada salep antibiotik, deodoran dan herbal tincture. Spesies Usnea juga
digunakan dalam pengobatan Cina, pengobatan homeopathic, obat tradisional di
kepulauan Pasifik, Selandia Baru dan lain benua selain Australia. Banyak jenis
lichenes telah digunakan sebagai obat-obatan, diperkirakan sekitar 50% dari semua
spesies lichenes memiliki sifat antibiotik. Penelitian bahan obat-obatan dari
lichenes terus berkembang terutama di Jepang.
C. Lichenes sebagai antibiotic
Substrat dari lichenes yaitu pigmen kuning asam usnat digunakan sebagai
antibiotik yang ampu menghalangi pertumbuhan mycobacterium. Cara ini telah
digunakan secara komersil. Salah satu sumber dari asam usnat ini adalah Cladonia
dan antibiotik ini terbukti ampuh dari penisilin. Selain asam usnat terdapat juga zat
lain seperti sodium usnat, yang terbukti ampuh melawan kanker tomat. Virus
tembakau dapat dibendung dan dicegah oleh ekstrak lichenes yaitu : lecanoric,
psoromic dan asam usnat.
D. Lichenes yang berbahaya
Pigmen kuning yang berasal dari jenis Usnea dan Everia dapat
menyebabkan alergi pada kulit dan menyebabkan gatal-gatal. Abu soredia yang
melekat pada kulit akan menimbulkan rasa gatal. Lichen serigala atau Letharia
vulpina adalah lichen beracun. Dari namanya menggambarkan kegunaannya secara
tradisional di bagian utara Eropah sebagai racun untuk serigala. Bangsa Achomawi
menggunakannya (kadang-kadang dicampur dengan bisa ular) untuk membuat
panah beracun. Walaupun demikian, suku Blackfoot dan Okanagan-Colville
memakai Letharia sebagai teh obat.
E. Kegunaan lain dari lichen
Dari hasil ekstraksi Everina, Parmelia, dan Ramalina diperoleh minyak.
Beberapa di antaranya digunakan untuk sabun mandi dan parfum. Di Mesir
digunakan sebagai bahan pembungkus mummi dan campuran buat pipa cangklong
untuk merokok, khususnya Parmelia audina yang mengandung asam lecanoric.
Ekstrak lichenes dapat juga dibuat sebagai bahan pewarna untuk
mencelup bahan tekstil. Bahan pewarna di ekstrak dengan cara merebus lichens
dalam air, dan sebagian jenis lain diekstrak dengan cara fermentasi lichens dalam
amonia. Parmelia sulcata digunakan untuk pewarna wol di Amerika Utara.
Evernia prunastri yang tumbuh di ranting pohon oak di Utara California.
Spesies ini di diproduksi secara komersial di Eropa dan dikirim ke
Prancis untuk 31ndustry parfum.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Alga
Alga mengandung nukleus yang dibatasi oleh membrane, Alga berkembangbiak
secara seksual atau aseksual. Reproduksi aseksual berupa pembelahan biner
sederhana. Reproduksi seksual dijumpai diantara alga.
Lichenes
Morfologi lichens terbagi menjadi 2 yaitu morfologi luar dan morfologi dalam.
2. Alga
Klasifikasi alga sebagai berikut: Divisi Chlorophyta (ganggang hijau), Divisi
Phaeophyta (ganggang coklat), Divisi Chrysophyta (ganggang keemasan), Divisi
Rhodophyta (ganggang merah), Divisi Chyanophyta (ganggang hijau biru)
Lichenes
Klasifikasi lichens sebagai berikut :Ascolichens, Basidiolichenes (Hymenolichenes),
Lichen Imperfect.
3. Alga
Alga mempunyai peranan penting dalam usaha meningkatkan produksi perikanan
untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi serta memenuhi kebutuhan pasar dalam
dan luar negeri. Pemanfaatan alga secara tradisional terutama sebagai bahan pangan
misalnya ada yang dimakan mentah seperti lalap, dibuat sayur atau sebagai obat.
Lichens
Lichenes juga memiliki kegunaan ekonomi yang tidak kalah pentingnya. Sampai
sekarang para ahli masih terus meneliti tumbuhan ini dan ada yang mengusulkan
agar lichenes dimasukkan ke dalam golongan tersendiri dan terpisah dari jamur dan
alga. Lichens juga dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obat-obatan, antibiotic,

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Makalah Lichenes. (Online) Tersedia di http://tugaskuli4h.wordpress.com.


Diunduh Tanggal 14 Februari 2014.
Anonim. 2010. Lichenes. (Online) Tersedia di http://cahyobiologi.wordpress.com. Diunduh
Tanggal 14 Februari 2014.
Anonymous. 2008. Ciri ciri alga (ganggang).
http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?mod=134&fnae=%20bio_106_kb2hal20.ht
ml. Diakses Tanggal 14 Februari 2014.
Anonymous. 2008. Divisi clorophyta. http://id.wikipedia.org/ clorophyta. Diakses Tanggal 14
Februari 2014.
Anonymous. 2008. Divisi crysophyta. http://id.wikipedia.org/ crysophyta. Diakses Tanggal
14 Februari 2014.
Anonymous. 2008. Divisi Phaeophyta.
http://www.edukasi.net/mol/mo_full.php?moid=134&fnae=%20bio_106_kb2
haaman19.html. Diakses Tanggal 14 Februari 2014.
Anonymous. 2008. Division Phaeopyta (Brown Algae).
http://www.cs.cuc.edu/~tfucher/Phaeophyta.html. Diakses Tanggal 14 Februari 2014.
Anonymous. 2008. Division Pyrrophyta. http://www.cs.cuc.edu/~tfucher/Phaeophyta.html.
Diakses Tanggal 14 Februari 2014.
Anonymous. 2008. Ganggang coklat. http://id.wikipedia.org/wiki/Ganggang coklat. Diakses
Tanggal 14 Februari 2014.
Dwijoseputro, 1990. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Djambatan
Gembong, T.1994. Taksonomi Tumbuhan. Bhatara. Jakarta.
Latifah, roimil. 2001. Botani tumbuhan rendah. Malang. Umm.
Suriawira U, 1995. Pangantar Mokrobiologi Umum. Bandung : Angkasa
Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Yurnaliza. 2010. Lichenes. Universitas Sumatera Utara. Sumatra utara.