Anda di halaman 1dari 20

Tugas Manajemen Keuangan Daerah

MAKALAH

STANDAR BELANJA

Oleh:

HAYATUN NUFUSI
B1C1 14 137

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada saya dan tak lupa Shalawat serta salam tetaplah terlimpahkan kepada
junjungan Rasul Muhammad SAW. Tak lupa pula penulis berterima kasih kepada Dosen yang
telah membimbing sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini yang alhamdulillah tepat
pada waktunya yang berjudul Standar Belanja dan disusun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Seminar Akuntansi Keuangan Daerah.
Makalah ini berisikan tentang hal-hal yang berkaitan dengan analisis standar belanja.
Semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,
sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat
lebih baik. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi

Kendari, Oktorber 2017

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ....................................................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................................................. 2

1.3 Tujuan .................................................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Analisis Standar Belanja ....................................................................................... 3

2.2 Dasar Hukum Standar Belanja ................................................................................................ 4

2.3 Manfaat Analisis Standar Belanja ........................................................................................... 6

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Format Analisis Standar Belanja ............................................................................................ 8

3.2 Tahapan Konsep Penyusunan Standar Belanja ....................................................................... 10

3.3 Tahapan Penyusunan Analisis Standar Belanja ...................................................................... 12

3.4 Penyesuaian Analisis Standar Belanja .................................................................................... 14

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ............................................................................................................................ 16

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anggaran dalam konteks otonomi dan desentralisasi menduduki peranan penting. Saat ini
kualitas perencanaan anggaran yang digunakan masih relatif lemah, diikuti dengan
ketidakmampuan pemerintah dalam meningkatkan penerimaan daerah secara berkesinambungan,
sementara pengeluaran secara dinamis terus meningkat, tetapi tidak disertai penentuan skala
prioritas dan besarnya plafon anggaran, sehingga memungkinkan underfinancing atau
overfinancing. Untuk menghindari permasalahan yang timbul di atas dan agar pengeluaran
anggaran didasarkan pada kewajaran ekonomi, efisien, dan efektif, maka Anggaran Daerah harus
disusun berdasarkan kinerja yang akan dicapai oleh Daerah. Dengan menggunakan Anggaran
Kinerja tersebut, maka Anggaran Daerah akan lebih transparan, adil, dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Pengeluaran anggaran daerah harus didasarkan pada kewajaran ekonomi, efisien, dan efektif
dengan menggunakan kinerja yang akan dicapai oleh daerah, sehingga lebih transparan, adil dan
dapat dipertanggungjawabkan.

Salah satu fungsi APBD adalah sebagai alat perencanaan bagi eksekutif untuk
mengendalikan belanja. Pengendalian belanja ini salah satu instrumennya adalah melalui
penerapan standard biaya yang dalam hal ini mencakup dua hal yaitu biaya standard per unit
input dan biaya standard per kegiatan. Dalam sistem anggaran kinerja yang diterapkan pada era
otonomi sekarang ini, biaya standar per unit input disebut Standar Satuan Harga (SSH) dan biaya
standar per kegiatan disebut Analisis Standar Belanja (ASB). Penetapan biaya standar atau
standar belanja ini sangat penting kaitannya untuk pengendalian APBD dari aspek pengeluaran.
Biaya standar atau biaya belanja harus sudah sesuai dengan yang distandarkan sebelumnya atau
tidak.

1
1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam makalah ini antara lain sebagai barikut:

1. Bagaimana format analisis standar belanja?


2. Bagaimana konsep penyusunan standar belanja?
3. Bagaimana tahapan penyusunan analisis standar belanja?
4. Bagaimana penyesuaian analisis standar belanja

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui format analisis standar belanja?
2. Untuk mengetahui konsep penyusunan standar belanja?
3. Untuk mengetahui tahapan penyusunan analisis standar belanja?
4. Untuk mengetahui penyesuaian analisis standar belanja

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Analisis Standar Belanja

Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang harus dikembangkan
sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam penyusunan APBD dengan pendekatan
kinerja. ASB adalah standar yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau
biaya setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam satu
tahun anggaran. Yang dimaksud dengan kegiatan adalah bagian dari program yang dilaksanakan
oleh satu atau lebih unit kerja pada SKPD sebagai bagian dari pencapaian sasaran terukur pada
suatu program dan terdiri dari sekumpulan tindakan pengerahan sumber daya yang berupa
personil, barang modal, dana, atau kombinasi dari beberapa atau kesemua objek sumber
daya tersebut sebagai masukan (input) untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk
barang atau jasa.

ASB berisikan analisis beban kerja dan analisis belanja. Analisis beban kerja merupakan
analisis kebutuhan-kebutuhan jenis, kualitas, dan kuantitas sumber daya yang dibutuhkan dalam
satu kegiatan tertentu. Harus dibedakan antara sumber daya mandiri dan sumber daya bersama.
Untuk kepentingan penganggaran sumber daya bersama seharusnya diabaikan untuk
menghindari double counting. Analisis belanja analah analisis mengenai jumlah belanja yang
dibutuhkan untuk satu kegiatan tertentu merupakan hasil kali kuantitas sumber daya tertentu
dengan kualitas tertentu dengan harga standar. Harga standar diperoleh dari hasil survey standar
satuan harga

ASB mendorong penetapan biaya dan pengalokasian anggaran kepada setiap aktivitas unit
kerja menjadi lebih logis dan mendorong dicapainya efisiensi secara terus-menerus karena
adanya pembandingan (benchmarking) biaya per unit setiap output dan diperoleh praktek-
praktek terbaik (best practices) dalam desain aktivitas.

Formulasi Analisis Standar Belanja

Dalam melakukan perhitungan ASB, unit kerja terkait perlu terlebih dahulu mengidentifikasi
belanja yang terdiri dari Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung.

3
TOTAL BELANJA : BELANJA LANGSUNG + BELANJA TIDAK LANGSUNG

Karakteristik belanja langsung adalah bahwa input (alokasi belanja) yang ditetapkan dapat
diukur dan diperbandingkan dengan output yang dihasilkan. Sedangkan belanja tidak langsung,
pada dasarya merupakan belanja yang digunakan secara bersama-sama (common cost) untuk
melaksanakan seluruh program atau kegiatan unit kerja. Oleh karena itu dalam penghitungan
ASB, anggaran belanja tidak langsung dalam satu tahun anggaran harus dialokasikan ke setiap
program atau kegiatan yang akan dilaksanakan dalam tahun anggaran yang bersangkutan.
Pengalokasian belanja tidak langsung dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

1. Alokasi rata-rata sederhana yaitu metode alokasi anggaran belanja tidak langsung ke
setiap kegiatan non investasi dengan cara membagi jumlah anggaran yang dialokasikan
dengan jumlah kegiatan non investasi.
2. Alokasi bobot belanja langsung yaitu metode alokasi anggaran belanja tidak langsung ke
setiap kegiatan non investasi berdasarkan besarnya bobot (nilai relatif) belanja langsung
dari kegiatan non investasi yang bersangkutan.

Program atau kegiatan yang memperoleh alokasi belanja tidak langsung adalah program atau
kegiatan non investasi. Program atau kegiatan investasi yang menambah aset daerah tidak
menerima alokasi anggaran tahunan belanja tidak langsung, karena output program atau kegiatan
investasi adalah berupa aset daerah yang dimanfaatkan lebih dari satu tahun anggaran. ASB
merupakan hasil penjumlahan belanja langsung setiap program atau kegiatan dengan belanja
tidak langsung yang dialokasikan pada program atau kegiatan yang bersangkutan. Perhitungan
ASB tidak dapat distandarisasi antara propinsi/kabupaten/kota dengan propinsi/kabupaten/kota
lainnya karena standarisasi harga antara suatu tempat dengan tempat lainnya dapat berbeda.

2.2 Dasar Hukum ASB


Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2 : Untuk mengukur kinerja
keuangan Pemerintah Daerah, dikembangkan standar analisa belanja, tolok ukur kinerja
dan standar biaya.
UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah pasal 167 ayat 3 : Belanja daerah
mempertimbangkan beberapa instrumen pendukung, berupa : analisis standar belanja,

4
standar harga satuan, tolak ukur kinerja, dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 167
ayat 3: Yang dimaksud dengan Analisa Standar Belanja (ASB) adalah penilaian
kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu
kegiatan.
PP 58 Tahun 2005 Pasal 39 ayat 2 : Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja
dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar
satuan harga, dan standar pelayanan minimal.
Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal
41 ayat 3 : Pembahasan oleh tim anggaran pemerintah daerah sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan kebijakan
umum APBD, prioritas dan plafon anggaran sementara, prakiraan maju yang telah
disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian
kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar
pelayanan minimal.
Permendagri 13 Tahun 2006 Pasal 89 Huruf e : Dokumen sebagai lampiran meliputi
KUA, PPA, kode rekening APBD, format RKA-SKPD, analisis standar belanja, dan
standar satuan harga.
Permendagri No 13 Tahun 2006 pasal 93 ayat 1 disebutkan bahwa penyusunan
RKA SKPD berdasarkan prestasi kerja, indikator kinerja, capaian atau target kinerja,
analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal.
Permendagri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal
100 ayat 2 : Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA (Prioritas dan Plafon
Anggaran), prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan
dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok sasaran
kegiatan, standar analisis belanja, standar satuan harga, standar pelayanan minimal, serta
sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD.
Permendagri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam
Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89

5
ayat 2 : Rancangan surat edaran kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup : dokumen sebagai lampiran surat edaran
meliputi KUA, PPAS, analisis standar belanja dan standar satuan harga.
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah Pasal 100 ayat 2 : Pembahasan oleh TAPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan untuk menelaah: kesesuaian rencana anggaran dengan standar analisis belanja,
standar satuan harga.
Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2008 Tentang Pedoman
Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009, (Romawi
III) Teknis Penyusunan APBD No. 4 : Substansi Surat Edaran Kepala Daerah tentang
Pedoman Penyusunan RKA-SKPD kepada seluruh SKPD dan Rencana Kerja dan
Anggaran Pejabat Pengelola Keuangan daerah (RKA-PPKD) kepada Satuan kerja
pengelola keuangan daerah (SKPKD) lebih disederhanakan, hanya memuat prioritas
pembangunan daerah dan program/kegiatan yang terkait, alokasi plafon anggaran
sementara untuk setiap program/kegiatan SKPD, batas waktu penyampaian RKA-SKPD
kepada PPKD dan dokumen sebagai lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi KUA,
PPAS, Analisis Standar Belanja, dan Standar Satuan Harga.

2.3 MANFAAT ANALISIS STANDAR BELANJA


Penerapan ASB pada dasarnya akan memberikan manfaat sebagai berikut :
Dapat menentukan kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu kegiatan.
Meminimalisir terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan inefisiensi
anggaran.
Meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaan Keuangan Daerah.
Penentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas.
Unit kerja mendapat keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan anggarannya
sendiri.
Penetapan plafon anggaran pada saat Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS)
menjadi obyektif tidak lagi berdasarkan intuisi.
Memiliki argumen yang kuat jika dituduh melakukan pemborosan.

6
Penyusunan anggaran menjadi lebih tepat waktu.
Menjembatani kesenjangan antara praktek yang berlangsung dengan kondisi ideal yang
diamanatkan oleh regulasi.
Menjamin kewajaran beban kerja dan biaya yang digunakan antar SKPD dalam
melakukan kegiatan sejenis.
Memudahkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dalam melakukan verifikasi
total belanja yang diajukan dalam RKA SKPD untuk setiap kegiatan.
Memudahkan SKPD dan TAPD dalam menghitung besarnya anggaran total belanja untuk
setiap jenis kegiatan berdasarkan target output yang ditetapkan dalam RKA SKPD.

7
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 FORMAT ANALISIS STANDAR BELANJA

Berdasarkan definisi ASB yang terdapat dalam PP No. 58 tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah dalam pasal 39 ayat 2B menyebutkan bahwa Penyusunan
anggaran berdasarkan prestasi kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan
capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar
pelayanan minimal, maka format ASB yang dikembangkan adalah sebagai berikut ini :

8
Penjelasan atas masing-masing komponen dalam format ASB adalah sebagai berikut :

a. Kode dan Nama Jenis ASB


Kode dan Nama Jenis ASB adalah kode urutan dan nama jenis per ASB yang digunakan
agar memudahkan dalam mencari jenis ASB yang sesuai dengan kegiatan yang akan disusun
anggarannya. Kode urutan serta nama jenis ASB dapat disusun berdasarkan urutan abjad
agar memudahkan dalam penggunaannya.
b. Deskripsi
Deskripsi adalah penjelasan detil operasional peruntukan dari ASB. Deskripsi digunakan
agar memudahkan dalam mengelompokkan kegiatan-kegiatan yang dilakukan dan juga
memberikan kemudahan ketika menggunakan ASB dalam penyusunan anggaran. Deskripsi
ASB merupakan penjelasan detil operasional dari nama ASB. Dengan demikian, deskripsi
akan mempermudah pengguna untuk mengetahui jenis ASB apa yang seharusnya digunakan
untuk suatu jenis program/kegiatan tertentu.
c. Pengendali Belanja (Cost Driver)
Pengendali Belanja adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya belanja dari
suatu kegiatan. Faktor-faktor ini tentunya merupakan beban kerja riil dari kegiatan yang
dimaksud.
d. Satuan Pengendali Belanja Tetap (fixed cost)
Satuan pengendali belanja tetap merupakan belanja yang nilainya tetap untuk melaksanakan
satu kegiatan. Belanja tetap ini tidak dipengaruhi oleh adanya perubahan volume/target
kinerja suatu kegiatan. Besarnya nilai satuan pengendali belanja tetap merupakan batas
maksimal untuk setiap kegiatan dimana penyusun anggaran tidak boleh melebihi nilai
tersebut, namun diperbolehkan apabila menentukan belanja tetap dibawah nilai yang
ditetapkan.
e. Satuan Pengendali Belanja Variabel (variable cost)
Satuan pengendali belanja variabel menunjukkan besarnya perubahan belanja variabel untuk
masing-masing kegiatan yang dipengaruhi oleh perubahan/penambahan volume kegiatan.
Semakin tinggi target yang ditetapkan oleh satuan kerja (semakin optimis) maka semakin
besar belanja variabel yang dibutuhkan. Demikian pula sebaliknya semakin rendah (pesimis)
target kinerja yang ditetapkan maka makin kecil pula belanja variabel.

9
f. Rumus Perhitungan Belanja Total
Merupakan rumus dalam menghitung besarnya belanja total dari suatu kegiatan. Formula ini
merupakan penjumlahan antara fixed cost dan variable cost.
g. Alokasi Objek Belanja
Berisikan macam-macam objek belanja, proporsi batas bawah, proporsi rata-rata dan
proporsi batas atas dari total belanja. Objek belanja disini adalah objek belanja yang hanya
diperbolehkan dipergunakan dalam ASB yang bersangkutan. Batas bawah adalah proporsi
terendah dari objek belanja yang bersangkutan. Rata-rata adalah proporsi rata-rata dari objek
belanja tersebut untuk seluruh SKPD di Pemerintah Daerah tersebut. Batas atas adalah
proporsi tertinggi yang dapat dipergunakan dalam objek belanja. Maksud akan adanya batas
atas dan batas bawah adalah untuk memberikan keleluasaan kepada pengguna anggaran
untuk menentukan besaran dari masing-masing objek belanja. Hal ini untuk mengakomodasi
sistem pengelolaan keuangan daerah yang telah didesentralisasikan ke SKPD. Dengan
demikian ASB tersebut akan mampu mengendalikan belanja sekaligus memberikan
keleluasaan kepada penggunanya.

Format ASB di desain agar dapat mengendalikan belanja sekaligus memberikan


keleluasaan/fleksibilitas kepada penggunanya. Pengendalian belanja terlihat pada formula total
belanja dan jumlah macam belanja yang diperkenankan, sedangkan keleluasaan tampak pada
adanya batas atas dan batas bawah dalam penentuan besaran objek belanja.

3.2 KONSEP PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA

Penyusunan Analisis Standar Belanja menggunakan tiga pendekatan utama, yaitu:


pendekatan Activity Based Costing (ABC), pendekatan Ordinary Least Square (regresi
sederhana) dan pendekatan metode diskusi (focused group discussion).

Pendekatan ABC merupakan suatu teknik untuk mengukur secara kuantitatif biaya dan
kinerja dari satu kegiatan (the cost and performance of activities) serta teknik mengalokasikan
penggunaan sumber daya dan biaya kepada masing-masing objek biaya (operasional maupun
administrasi) dalam satu kegiatan. Pendekatan ABC bertujuan untuk meningkatkan akurasi
biaya penyediaan barang dan jasa yang dihasilkan dengan menghitung biaya tetap (fixed
cost) dan biaya variabel (variable cost), sehingga total biaya dengan pendekatan ABC adalah :

10
Total Biaya = Biaya Tetap + Biaya Variabel

Disamping itu, proses evaluasi dan penilaian kewajaran biaya dengan pendekatan ABC
dilakukan atas dasar biaya-biaya per kegiatan dan bukan atas dasar alokasi bruto (gross
allocations) pada suatu organisasi atau SKPD.

Pendekatan Regresi Sederhana adalah suatu teknik yang digunakan untuk membangun suatu
persamaan yang menghubungkan antara variabel tidak bebas (Y) dengan variabel bebas (X)
sekaligus untuk menentukan nilai ramalan atau dugaannya. Dalam regresi sederhana ini,
variabel tidak bebas merupakan total biaya dari suatu kegiatan, sedangkan variabel bebas
merupakan cost driver dari kegiatan tersebut.

Penggunaan regresi sederhana dalam menyusun ASB berguna untuk membuat model
(persamaan) regresi untuk peramalan belanja dari suatu kegiatan. Peramalan belanja dengan
model regresi ini dengan cara menghitung belanja rata-rata, menghitung batas minimum
belanja, dan batas maksimum belanja, serta menghitung prosentase alokasi kepada masing-
masing objek belanja.

Pendekatan Metode Diskusi (focused group discussion). Pendekatan metode diskusi dalam
penyusunan ASB digunakan untuk memperoleh masukan dari SKPD tentang aktivitas dan
output dari suatu kegiatan, dan juga masukan-masukan tentang cost driver dari suatu
kegiatan. Hasil yang diharapkan dari pendekatan metode diskusi ini adalah kesepahaman
tentang aktivitas, output dan cost driver dari suatu kegiatan antara penyusun dan SKPD
dalam penyusunan ASB.

Asumsi Dasar Penyusunan Analisis Standar Belanja


Asumsi dasar yang harus disepakati dalam penyusunan ASB adalah sebagai berikut :
a. Besar kecilnya anggaran dipengaruhi oleh beban kerja. Asumsi ini menandaskan bahwa
penyusunan ASB harus berprinsip pada anggaran berbasis kinerja, yaitu semakin besar
kinerja yang dihasilkan maka semakin besar pula anggarannya.
b. Standar adalah instrumen yang diciptakan agar terdapat keseragaman praktek di masa
yang akan datang.

11
c. Pendekatan penyusunan ASB adalah dengan pendekatan demokrasi (bukan otoriter).
Yang dimaksud dengan demokrasi adalah, semua aspirasi SKPD didengar dan
dipertimbangkan dalam kapasitas yang sama.
d. Data DPA SKPD dianggap benar dan valid, karena (Dokumen Pengguna Anggaran) DPA
merupakan kesepakatan antara eksekutif dan legislatif. Lebih jauh lagi DPA memiliki
dasar hukum yang kuat yaitu berupa perda dan telah dimasukkan ke dalam lembar
daerah.
3.3 TAHAP PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA

Penyusunan ASB mencakup beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Tahap Pengumpulan Data.


Pada Tahap ini, kegiatan dari semua satuan kerja perangkat daerah dikumpulkan untuk
memperoleh gambaran awal atas berbagai jenis kegiatan yang terjadi di Pemerintah Daerah.
Dalam tahap pengumpulan data ini, semua data (populasi) SKPD harus dilibatkan semuanya
sehingga dapat memenuhi asumsi dasar penyusunan ASB yaitu demokrasi. Sangat
disarankan agar tidak menggunakan sampling karena sampling tidak memenuhi asumsi

demokrasi.
b. Tahap Penyetaraan Kegiatan
Penyetaraan kegiatan dilakukan untuk menggolongkan daftar berbagai kegiatan yang
diperoleh dari tahap pengumpulan data ke dalam jenis atau kategori kegiatan yang memiliki
kemiripan pola kegiatan dan bobot kerja yang sepadan. Artinya, kegiatan yang bobot
pekerjaannya sama maka akan dikelompokkan pada golongan/kelompok yang sama.

12
Tahapan ini dilakukan untuk memenuhi asumsi dasar yang pertama, yaitu penyusunan ASB
harus berdasarkan prinsip anggaran berbasis kinerja.

c. Tahap Pembentukan Model


Model dibentuk untuk memperoleh gambaran nilai belanja dan alokasinya yang terjadi di
Pemerintah Daerah. Tahap ini mencakup tiga langkah utama yaitu:
1. Pencarian Pengendali Belanja (cost driver) dari tiap-tiap jenis kegiatan. Pengendali
Belanja (Cost Driver) adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya belanja
dari suatu kegiatan. Cost Driver ada 2 macam yaitu : cost driver nyata (riil) dan cost
driver semu. Cost Driver semu adalah cost driver yang seolah-olah mempengaruhi besar
kecilnya belanja, namun sesungguhnya tidak mempengaruhi karena hanya digunakan
sebagai dasar pembenar untuk memperbesar anggaran.
2. Pencarian Nilai Belanja Tetap (fixed cost) dan Belanja Variabel (variable cost) untuk
setiap jenis kegiatan. Setiap penambahan kuantitas target kinerja akan dapat dianalisis
peningkatan belanja variabelnya.
3. Menghitung besarnya total belanja untuk kegiatan dengan menggunakan formula yaitu
penjumlahan belanja tetap dan belanja variabel.
4. Setelah diperoleh besarnya total belanja untuk suatu kegiatan,selanjutnya total belanja
dialokasikan menurut proporsi belanja yang telah ditentukan pada masing-masing ASB.

13
Perhitungan alokasi proporsi belanja dapat menggunakan proporsi rata-rata atau angka di
antara batas bawah dan batas atas.

Prinsip Analisis Standar Belanja

Dalam penyusunan ASB, ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan pemerintah
daerah yaitu :

1. Penyederhanaan (modeling). Penyusunan ASB bertujuan membuat model belanja untuk


objek-objek kegiatan yang menghasilkan output yang sama.
2. Mudah diaplikasikan. Model yang dibuat mudah diaplikasikan, atau tidak membuat
susah yang menggunakan model tersebut.
3. Mudah diup-date. Model yang dibuat mudah untuk diperbaharui, dalam arti jika ditambahkan
data-data baru tidak merubah formula model tersebut secara keseluruhan.
4. Fleksibel, dalam hal ini model yang dibuat menggunakan konsep belanja rata-rata dan
memiliki batas minimum belanja dan batas maksimum belanja.

3.4 PENYESUAIAN ANALISIS STANDAR BELANJA

Terdapat beberapa kondisi di Pemerintah Daerah yang menyebabkan untuk dilakukannya


pemutakhiran (update) ASB yang sudah ada. Kondisi tersebut antara lain adalah inflasi/deflasi,
kebijakan pemerintah atau kebijakan pemerintah daerah, maupun gabungan antara keduanya.

1. Penyesuaian Inflasi/Deflasi
Inflasi/deflasi menyebabkan perubahan pada harga barang dan jasa yang berlaku di pasar
secara bersama-sama. Inflasi mengakibatkan harga barang dan jasa naik secara bersama-
sama, sedangkan deflasi mengakibatkan harga barang dan jasa turun secara bersama-sama.
Tentunya dengan adanya inflasi/deflasi akan mengakibatkan ASB yang sudah disusun
sebelumnya menjadi tidak relevan lagi.
2. Kebijakan Pimpinan Daerah
Seringkali Kepala Daerah dan atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menetapkan
kebijakan yang mengakibatkan terjadinya penyesuaian tarif belanja. Misalnya kebijakan
menaikkan standar honor, standar perjalanan dinas, dan lain sebagainya. Kebijakan-kebijakan
tersebut tentunya akan berpengaruh terhadap ASB. ASB yang lama tentunya perlu untuk

14
disesuaikan. Contoh lain kebijakan Kepala Daerah adalah ketika Kepala Daerah meyakini
bahwa telah terjadi pemborosan pada tahun-tahun lalu. Akibatnya, ASB perlu untuk
disesuaikan.
3. Penyesuaian Gabungan Antara Inflasi/Deflasi dan Kebijakan Pimpinan Daerah
Penyesuaian ASB juga dapat diakibatkan karena gabungan antara kebijakan Kepala daerah
dan inflasi/deflasi . Misalnya inflasi yang terjadi adalah sebesar 15 % dan kebijakan Kepala
Daerah menaikkan standar harga honor dan standar harga perjalanan dinas sebesar 10 %.
Maka, langkah-langkah penyesuaian adalah melakukan penyesuaian terhadap inflasi,
deflasi/pemborosan terlebih dahulu, kemudian hasilnya disesuaikan dengan perubahan
kebijakan;

15
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Standar Belanja adalah standar yang digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja
atau biaya setiap program atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam
satu tahun anggaran. Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen yang
harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam penyusunan APBD
dengan pendekatan kinerja

ASB mendorong penetapan biaya dan pengalokasian anggaran kepada setiap aktivitas unit
kerja menjadi lebih logis dan mendorong dicapainya efisiensi secara terus-menerus karena
adanya pembandingan (benchmarking) biaya per unit setiap output dan diperoleh praktek-
praktek terbaik (best practices) dalam desain aktivitas.

Penyusunan analisis standar belanja mencakup beberapa tahapan sebagai berikut:

a. Tahap Pengumpulan Data.


b. Tahap Penyetaraan Kegiatan
c. Tahap Pembentukan Model

16
DAFTAR PUSTAKA

suwito1.wordpress.com/2010/06/18/standar-analisis-belanja

www.anggaran.depkeu.go.id

Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) UGM.Penyusunan Analisis Standar
Belanja.2009.Yogyakarta.

17