Anda di halaman 1dari 31

PRESENTASI KASUS

DISENTRI

Oleh :
dr. Gwendry Ramadhany

Pembimbing:
dr. Argadia Y, Sp.A, M.Kes, MMR.

ILMU KESEHATAN ANAK


DOKTER INTERNSIP
RSUD PANDANARANG
BOYOLALI
2017

1
BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama : An. C.A.P Nama ayah : Tn. J.F
Tempat dan : Boyolali, 7 April Umur : 29 Tahun
tanggal lahir/Umur 2013 (3 Tahun)
Jenis kelamin : Perempuan Pendidikan : SMA
Alamat : Kebongulo RT 03/01, Pekerjaan : Pegawai Swasta
Musuk Boyolali Nama ibu : Ny. A.J
Masuk RS : 22 Januari 2017 Umur : 29 Tahun
No. CM : 14453935 Pendidikan : SMA
Tgl. diperiksa : 22 Januari 2017 Pekerjaan : Ibu RT

II. ANAMNESIS
(Alloanamnesis terhadap ibu pasien)
1. Keluhan Utama:
BAB cair sejak 1 minggu SMRS

2. Riwayat Penyakit Sekarang:


BAB cair sejak 1 minggu SMRS dalam sehari pasien BAB 2-3 kali, setiap kali BAB
1
4
gelas aqua cair (+), ampas (-), berwarna kuning-coklat, berbau amis (+),

berlendir (+), darah (+) berwarna merah segar ini dirasakan 5 hari SMRS, anak
rewel saat BAB (+). Demam (-), mual (+), muntah (+) semenjak 3 hari SMRS,
1
2x/hari setiap kali muntah sebanyak 2
gelas aqua, warna sesuai makanan. Intake

makanan sulit, jeda antara makan-muntah diakui ibu pasien. Batuk, pilek disangkal,
nyeri perut (+).

2
3. Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat TB paru diakui telah sembuh pada tahun 2014 dengan hasil BTA (-)
Riwayat dirawat dirumah sakit disangkal
Riwayat kejang disertai demam disangkal
Riwayat asma disangkal
Riwayat bersin dipagi hari, sakit mata berulang, dan sakit kulit berulang
disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada keluarga pasien yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien.

5. Riwayat Pribadi:
Riwayat kehamilan:
Merupakan kehamilan yang diinginkan
Ibu pasien menyangkal sakit serius selama kehamilan
Riwayat pemeriksaan ANC rutin di Bidan sesuai jadwal
Riwayat meminum obat-obatan dari dokter diakui pasien
Riwayat alkohol, jamu disangkal
Riwayat makan: nafsu makan diakui baik dan meminum susu ibu hamil

Riwayat persalinan:
Pasien lahir melalui persalinan normal
Nilai APGAR tidak diketahui, bayi lahir langsung menangis
BB lahir 2800 gram
PB lahir 48 cm
LK lahir ibu tidak ingat
Ditolong oleh dokter di RS Umi Barokah

6. Riwayat Makanan:
Pasien diberikan ASI. Nasi saring dicampur ASI, biscuit dihaluskan dengan ASI, dan
bubur bayi diberikan sejak usia 6 bulan. Usia 12 bulan pasien memakan menu

3
makanan keluarga. Pasien makan 3 kali sehari 1 piring dengan lauk bervariasi, pasien
sering jajan seperti bakso dan cimol/cilok. Nafsu makan dirasakan selalu meningkat,
tetapi sejak sakit ini ibu pasien mengeluhkan pasien sulit makan.

7. Perkembangan:
Usia Motorik kasar Motorik Halus Bicara Sosial
4 Bulan Mengangkat kepala Menggenggam mBereaksi Bereaksi terhadap
Tengkurap jari ibu terhadap Suara
suara

6 Bulan Duduk dibantu Meraih benda Berkata tanpa Tepuk tangan


Arti

9 Bulan Merambat Memasukkan 1 kata Mengenal


Berdiri dibantu benda ke mulut dengan arti bapak-ibu

12 Bulan Berjalan Menyusun balok 5 kata rasa bersaing

2 Tahun Meloncat Menggambar Berbicara bermain dengan


Lancer teman

4 Tahun Menyebut mengikuti aturan


Nama dan umur permainan

4
8. Imunisasi:
Dilakukan di bidan
0 Bulan : Hepatitis B 0
1 Bulan : BCG, Polio 1
2 Bulan : DPT-HB-Hib 1, Polio 2
3 Bulan : DPT-HB-Hib 2, Polio 3
4 Bulan : DPT-HB-Hib 3, Polio 4
9 Bulan : Campak

9. Sosial Ekonomi
Pasien merupakan anak dari karyawan swasta dan berobat menggunakan pelayanan
umum

III. PEMERIKSAAN FISIS:


A. Pemeriksaan Umum:
1. Kesan Umum : Tampak sakit sedang
2. Kesadaran : Composmentis
3. Tanda Utama :
Frekuensi nadi : 96x/menit, teratur, isi dan tegangan cukup dan
kuat mengangkat
Frekuensi napas : 28x/menit
Suhu : 36.70 Celsius
4. Status Gizi:
Klinis: edema -, tampak kurus -
Antropometris:
Berat Badan (BB) : 18 kg
Tinggi/Panjang Badan(TB/PB) : 90 cm
BB/U : 18/12.3x100% = 146.3%
TB/U : 90/88x100% = 102.2%
BB/TB : 18/12.8X100% = 140.6%

5
BMI : 18/0.81 = 22.22%
Simpulan status gizi : Status gizi baik

B. Pemeriksaan Khusus
1. Kepala : Normocephale, rambut hitam merata, tidak mudah dicabut

2. Mata : Edema palpebral (-/-), mata cekung (-/-), CA (-/-), SI (-/-), Refleks
cahaya (+/+), pupil bulat isokor

3. Leher : KGB (-)

4. Telinga : Dalam Batas Normal

5. Hidung : Dalam Batas Normal

6. Mulut : Mukosa bibir basah, tidak sianosis, lidah kotor (-)

7. Tenggorok : Sulit dinilai

8. Dada :
a. Jantung
Inspeksi : Iktus cordis tak tampak
Palpasi : Iktus cordis teraba di sela iga v midclavicular sinistra
Perkusi : Batas kanan atas : sulit dinilai
Batas kanan bawah : sulit dinilai
Batas kiri atas : sulit dinilai
Batas kiri bawah : sulit dinilai
Auskultasi : Bunyi jantung I-II Normal Reguler, murmur (-) Gallop (-)

6
b. Paru
Inspeksi Gerak statis dinamis,
simetris kanan kiri

Palpasi Fremitus taktil simetris


kanan-kiri

Perkusi Sonor seluruh lapang paru

Auskultasi Suara napas vesikuler +/+,


WH-/-, RBH -/-, RBK -/-

9. Abdomen
Inspeksi Cembung

Auskultasi Bising usus (+)

Palpasi Supel, Hepar-lien tidak teraba, NT (-), Turgor kembali cepat

Perkusi Timpani seluruh abdomen

10. Ekstremitas:
Tungkai Lengan
Kanan Kiri Kanan Kiri
Gerakan : Aktif Aktif
Trofi : Normotrofi Normotrofi
Tonus : Normotonus Normotonus
Kekuatan : 5 5
Klonus : (-) (-)
Refleks Fisiologis: (+) (+)

7
Refleks Patologis: (-) (-)
Sensibilitas : Sulit Dinilai Sulit Dinilai
TRM : (-) (-)

IV. DATA LABORATORIUM

Darah Lengkap Hasil


Hb 13.5 g/dl
Leukosit 7650 /uL
LED 8 /mm
Hitung Jenis Sel
Eosinofil 2.6 %
Basofil 1.5 %
Neutrofil Batang -
Neutrofil Segmen 28.7 %
Limfosit 61.4 %
Monosit 5.8 %
Hematokrit 37 %
Protein Plasma -
Trombosit 299.000 /uL
Eritrosit 4.760.000 /uL
MCV 77 fL
MCH 28 pg
MCHC 37 g/dl
RDW 13%

8
VI. DIAGNOSIS KERJA
Gastroenteritis et.c susp. Disentri

VII. DIAGNOSIS BANDING


Gastroenteritis et.c susp. E.coli

VIII. RENCANA PENGELOLAAN


A. Rencana Pengobatan
1. Medikamentosa
a. Infus Asering 18 tpm
b. Inj. Ondacentron 2mg /8jam
1
c. Inj. Ranitidin 2
A /12jam

d. P.O Lacto B 2x1 Sach


e. P.O Pamol Syr 3 x cth II
f. P.O Zinc Syr 2 x cth I
g. P.O Metronidazole 3x250mg
h. P.O Oralit KP

B. Rencana Edukasi
1. Asupan gizi pasien diperhatikan
2. Kebersihan makanan dan badan pasien

IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam

Quo ad functionam : ad bonam

Quo ad Sanationam : ad bonam

9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (gangguan) dan enteron (usus), yang
berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas dengan gejala buang air besar dengan
tinja berdarah, diare encer dengan volume sedikit, buang air besar dengan tinja bercampur
lender (mucus) dan nyeri saat buang air besar (tenesmus). (2)
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang ditandai dengan sakit perut
dan buang air besar yang encer secara terus menerus (diare) yang bercampur lendir dan
darah. (3)

Disentri merupakan suatu infeksi yang menimbulkan luka yang menyebabkan tukak
terbatas di colon yang ditandai dengan gejala khas yang disebut sebagai sindroma disentri,
yakni: 1) sakit di perut yang sering disertai dengan tenesmus, 2) Diare, dan 3) tinja
mengandung darah dan lendir. (4)

II.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat, insidensi penyakit ini rendah. Setiap tahunnya kurang dari
500.000 kasus yang dilaporkan ke Centers for Disease Control (CDC). Di Bagian Penyakit
Dalam RSUP Palembang selama 3 tahun (1990-1992) tercatat di catatan medis, dari 748
kasus yang dirawat karena diare ada 16 kasus yang disebabkan oleh disentri basiler.
Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa rumah sakit di Indonesia dari Juni
1998 sampai dengan Nopember 1999, dari 3848 orang penderita diare berat, ditemukan
5% shigella.
Prevalensi amebiasis sangat bervariasi, diperkirakan 10 persen populasi terinfeksi.
Prevalensi tertinggi di daerah tropis (50-80%). Manusia merupakan host dan reservoir
utama. Penularannya lewat kontaminasi tinja ke makanan dan minuman, dengan perantara
lalat, kecoak, kontak interpersonal, atau lewat hubungan seksual anal-oral. Sanitasi
lingkungan yang jelek, penduduk yang padat dan kurangnya sanitasi individual
mempermudah penularannya.

10
II.3 Etiologi
Etiologi dari disentri ada 2, yaitu: (2)

1. Disentri basiler, disebabkan oleh Shigella,sp.


Shigella adalah basil non motil, gram negatif, famili enterobacteriaceae. Ada
4 spesies Shigella, yaitu S.dysentriae, S.flexneri, S.bondii dan S.sonnei. Terdapat 43
serotipe O dari shigella. S.sonnei adalah satu-satunya yang mempunyai serotipe
tunggal. Karena kekebalan tubuh yang didapat bersifat serotipe spesifik, maka
seseorang dapat terinfeksi beberapa kali oleh tipe yang berbeda. Genus ini memiliki
kemampuan menginvasi sel epitel intestinal dan menyebabkan infeksi dalam jumlah
102-103 organisme. Penyakit ini kadang-kadang bersifat ringan dan kadang-kadang
berat. Suatu keadaan lingkungan yang jelek akan menyebabkan mudahnya
penularan penyakit. Secara klinis mempunyai tanda-tanda berupa diare, adanya
lendir dan darah dalam tinja, perut terasa sakit dan tenesmus.
2. Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica.
E.histolytica merupakan protozoa usus, sering hidup sebagai mikroorganisme
komensal (apatogen) di usus besar manusia. Apabila kondisi mengijinkan dapat
berubah menjadi patogen dengan cara membentuk koloni di dinding usus dan
menembus dinding usus sehingga menimbulkan ulserasi. Siklus hidup amoeba ada
2 bentuk, yaitu bentuk trofozoit yang dapat bergerak dan bentuk kista.
Bentuk trofozoit ada 2 macam, yaitu trofozoit komensal (berukuran < 10
mm) dan trofozoit patogen (berukuran > 10 mm). Trofozoit komensal dapat dijumpai
di lumen usus tanpa menyebabkan gejala penyakit. Bila pasien mengalami diare,
maka trofozoit akan keluar bersama tinja. Sementara trofozoit patogen yang dapat
dijumpai di lumen dan dinding usus (intraintestinal) maupun luar usus
(ekstraintestinal) dapat mengakibatkan gejala disentri. Diameternya lebih besar dari
trofozoit komensal (dapat sampai 50 mm) dan mengandung beberapa eritrosit di
dalamnya. Hal ini dikarenakan trofozoit patogen sering menelan eritrosit
(haematophagous trophozoite). Bentuk trofozoit ini bertanggung jawab terhadap
terjadinya gejala penyakit namun cepat mati apabila berada di luar tubuh manusia.
Bentuk kista juga ada 2 macam, yaitu kista muda dan kista dewasa. Bentuk
kista hanya dijumpai di lumen usus. Bentuk kista bertanggung jawab terhadap

11
terjadinya penularan penyakit dan dapat hidup lama di luar tubuh manusia serta
tahan terhadap asam lambung dan kadar klor standard di dalam sistem air minum.
Diduga kekeringan akibat penyerapan air di sepanjang usus besar menyebabkan
trofozoit berubah menjadi kista. (6)

II.4 Patogenesis dan Patofisiologi


a. Disentri basiler

Semua strain kuman Shigella menyebabkan disentri, yaitu suatu keadaan yang
ditandai dengan diare, dengan konsistensi tinja biasanya lunak, disertai eksudat inflamasi
yang mengandung leukosit polymorfonuclear (PMN) dan darah.
Kuman Shigella secara genetik bertahan terhadap pH yang rendah, maka dapat
melewati barrier asam lambung. Ditularkan secara oral melalui air, makanan, dan lalat yang
tercemar oleh ekskreta pasien. Setelah melewati lambung dan usus halus, kuman ini
menginvasi sel epitel mukosa kolon dan berkembang biak didalamnya. (2)

12
Kolon merupakan tempat utama yang diserang Shigella namun ileum terminalis
dapat juga terserang. Kelainan yang terberat biasanya di daerah sigmoid, sedang pada ilium
hanya hiperemik saja. Pada keadaan akut dan fatal ditemukan mukosa usus hiperemik,
lebam dan tebal, nekrosis superfisial, tapi biasanya tanpa ulkus. Pada keadaan subakut
terbentuk ulkus pada daerah folikel limfoid, dan pada selaput lendir lipatan transversum
didapatkan ulkus yang dangkal dan kecil, tepi ulkus menebal dan infiltrat tetapi tidak
berbentuk ulkus bergaung.
S.dysentriae, S.flexeneri, dan S.sonei menghasilkan eksotoksin antara lain ShET1,
ShET2, dan toksin Shiga, yang mempunyai sifat enterotoksik, sitotoksik, dan neurotoksik.
Enterotoksin tersebut merupakan salah satu faktor virulen sehingga kuman lebih mampu
menginvasi sel eptitel mukosa kolon dan menyebabkan kelainan pada selaput lendir yang
mempunyai warna hijau yang khas. Pada infeksi yang menahun akan terbentuk selaput
yang tebalnya sampai 1,5 cm sehingga dinding usus menjadi kaku, tidak rata dan lumen
usus mengecil. Dapat terjadi perlekatan dengan peritoneum. (6)

b. Disentri Amoeba

13
Trofozoit yang mula-mula hidup sebagai komensal di lumen usus besar dapat
berubah menjadi patogen sehingga dapat menembus mukosa usus dan menimbulkan ulkus.
Akan tetapi faktor yang menyebabkan perubahan ini sampai saat ini belum diketahui secara
pasti. Diduga baik faktor kerentanan tubuh pasien, sifat keganasan (virulensi) amoeba,
maupun lingkungannya mempunyai peran.
Amoeba yang ganas dapat memproduksi enzim fosfoglukomutase dan lisozim yang
dapat mengakibatkan kerusakan dan nekrosis jaringan dinding usus. Bentuk ulkus amoeba
sangat khas yaitu di lapisan mukosa berbentuk kecil, tetapi di lapisan submukosa dan
muskularis melebar (menggaung). Akibatnya terjadi ulkus di permukaan mukosa usus
menonjol dan hanya terjadi reaksi radang yang minimal. Mukosa usus antara ulkus-ulkus
tampak normal. Ulkus dapat terjadi di semua bagian usus besar, tetapi berdasarkan
frekuensi dan urut-urutan tempatnya adalah sekum, kolon asenden, rektum, sigmoid,
apendiks dan ileum terminalis.(2)

II.5 Gejala Klinis

14
a. Disentri Basiler
Masa tunas berkisar antara 7 jam sampai 7 hari. Lama gejala rerata 7 hari sampai 4
minggu. Pada fase awal pasien mengeluh nyeri perut bawah, diare disertai demam yang
mencapai 400C. Selanjutnya diare berkurang tetapi tinja masih mengandung darah dan
lendir, tenesmus, dan nafsu makan menurun. (6)
Bentuk klinis dapat bermacam-macam dari yang ringan, sedang sampai yang berat.
Sakit perut terutama di bagian sebelah kiri, terasa melilit diikuti pengeluaran tinja sehingga
mengakibatkan perut menjadi cekung. Bentuk yang berat (fulminating cases) biasanya
disebabkan oleh S. dysentriae. Gejalanya timbul mendadak dan berat, berjangkitnya cepat,
berak-berak seperti air dengan lendir dan darah, muntah-muntah, suhu badan subnormal,
cepat terjadi dehidrasi, renjatan septik dan dapat meninggal bila tidak cepat ditolong.
Akibatnya timbul rasa haus, kulit kering dan dingin, turgor kulit berkurang karena dehidrasi.
Muka menjadi berwarna kebiruan, ekstremitas dingin dan viskositas darah meningkat
(hemokonsentrasi). Kadang-kadang gejalanya tidak khas, dapat berupa seperti gejala kolera
atau keracunan makanan.
Kematian biasanya terjadi karena gangguan sirkulasi perifer, anuria dan koma
uremik. Angka kematian bergantung pada keadaan dan tindakan pengobatan. Angka ini
bertambah pada keadaan malnutrisi dan keadaan darurat misalnya kelaparan.
Perkembangan penyakit ini selanjutnya dapat membaik secara perlahan-lahan tetapi
memerlukan waktu penyembuhan yang lama.
Pada kasus yang sedang keluhan dan gejalanya bervariasi, tinja biasanya lebih
berbentuk, mungkin dapat mengandung sedikit darah/lendir. Sedangkan pada kasus yang
ringan, keluhan/gejala tersebut di atas lebih ringan. Berbeda dengan kasus yang menahun,
terdapat serangan seperti kasus akut secara menahun. Kejadian ini jarang sekali bila
mendapat pengobatan yang baik. (2)

b. Disentri Amoeba
Carrier (Cyst Passer)
Pasien ini tidak menunjukkan gejala klinis sama sekali. Hal ini disebabkan karena
amoeba yang berada dalam lumen usus besar tidak mengadakan invasi ke dinding usus.

15
Disentri amoeba ringan
Timbulnya penyakit (onset penyakit) perlahan-lahan. Penderita biasanya mengeluh
perut kembung, kadang nyeri perut ringan yang bersifat kejang. Dapat timbul diare ringan,
4-5 kali sehari, dengan tinja berbau busuk. Kadang juga tinja bercampur darah dan lendir.
Terdapat sedikit nyeri tekan di daerah sigmoid, jarang nyeri di daerah epigastrium. Keadaan
tersebut bergantung pada lokasi ulkusnya. Keadaan umum pasien biasanya baik, tanpa atau
sedikit demam ringan (subfebris). Kadang dijumpai hepatomegali yang tidak atau sedikit
nyeri tekan.
Disentri amoeba sedang
Keluhan pasien dan gejala klinis lebih berta dibanding disentri ringan, tetapi pasien
masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Tinja biasanya disertai lendir dan darah.
Pasien mengeluh perut kram, demam dan lemah badan disertai hepatomegali yang nyeri
ringan.
Disentri amoeba berat
Keluhan dan gejala klinis lebih berta lagi. Penderita mengalami diare disertai darah
yang banyak, lebih dari 15 kali sehari. Demam tinggi (400C-40,50C) disertai mual dan
anemia.
Disentri amoeba kronik
Gejalanya menyerupai disentri amoeba ringan, serangan-serangan diare diselingi
dengan periode normal atau tanpa gejala. Keadaan ini dapat berjalan berbulan-bulan hingga
bertahun-tahun. Pasien biasanya menunjukkan gejala neurastenia. Serangan diare yang
terjadi biasanya dikarenakan kelelahan, demam atau makanan yang sulit dicerna. (6)

16
II.6 Pemeriksaan Penunjang

a. Disentri amoeba
1. Pemeriksaan tinja
Pemeriksaan tinja ini merupakan pemeriksaan laboratorium yang sangat penting.
Biasanya tinja berbau busuk, bercampur darah dan lendir. Untuk pemeriksaan mikroskopik
diperlukan tinja yang segar. Kadang diperlukan pemeriksaan berulang-ulang, minimal 3 kali
seminggu dan sebaiknya dilakukan sebelum pasien mendapat pengobatan.
Pada pemeriksaan tinja yang berbentuk (pasien tidak diare), perlu dicari bentuk kista
karena bentuk trofozoit tidak akan dapat ditemukan. Dengan sediaan langsung tampak kista
berbentuk bulat dan berkilau seperti mutiara. Di dalamnya terdapat badan-badan kromatoid
yang berbentuk batang dengan ujung tumpul, sedangkan inti tidak tampak. Untuk dapat
melihat intinya, dapat digunakan larutan lugol. Akan tetapi dengan larutan lugol ini badan-
badan kromatoid tidak tampak. Bila jumlah kista sedikit, dapat dilakukan pemeriksaan

17
menggunakan metode konsentrasi dengan larutan seng sulfat dan eterformalin. Dengan
larutan seng sulfat kista akan terapung di permukaan sedangkan dengan larutan
eterformalin kista akan mengendap.
Dalam tinja pasien juga dapat ditemukan trofozoit. Untuk itu diperlukan tinja yang
masih segar dan sebaiknya diambil bahan dari bagian tinja yang mengandung darah dan
lendir. Pada sediaan langsung dapat dilihat trofozoit yang masih bergerak aktif seperti keong
dengan menggunakan pseudopodinya yang seperti kaca. Jika tinja berdarah, akan tampak
amoeba dengan eritrosit di dalamnya. Bentik inti akan nampak jelas bila dibuat sediaan
dengan larutan eosin.(2)
2. Pemeriksaan sigmoidoskopi dan kolonoskopi
Pemeriksaan ini berguna untuk membantu diagnosis penderita dengan gejala
disentri, terutama apabila pada pemeriksaan tinja tidak ditemukan amoeba. Akan tetapi
pemeriksaan ini tidak berguna untuk carrier. Pada pemeriksaan ini akan didapatkan ulkus
yang khas dengan tepi menonjol, tertutup eksudat kekuningan, mukosa usus antara ulkus-
ulkus tampak normal. (2)
3. Foto rontgen kolon
Pemeriksaan rontgen kolon tidak banyak membantu karena seringkali ulkus tidak
tampak. Kadang pada kasus amoebiasis kronis, foto rontgen kolon dengan barium enema
tampak ulkus disertai spasme otot. Pada ameboma nampak filling defect yang mirip
karsinoma. (2)
4. Pemeriksaan uji serologi
Uji serologi banyak digunakan sebagai uji bantu diagnosis abses hati amebik dan
epidemiologis. Uji serologis positif bila amoeba menembus jaringan (invasif). Oleh karena
itu uji ini akan positif pada pasien abses hati dan disentri amoeba dan negatif pada carrier.
Hasil uji serologis positif belum tentu menderita amebiasis aktif, tetapi bila negatif pasti
bukan amebiasis.(2)

b. Disentri basiler
1. Pemeriksaan tinja. Pemeriksaan tinja secara langsung terhadap kuman penyebab
serta biakan hapusan (rectal swab). Untuk menemukan carrier diperlukan

18
pemeriksaan biakan tinja yang seksama dan teliti karena basil shigela mudah mati .
Untuk itu diperlukan tinja yang baru.
2. Polymerase Chain Reaction (PCR). Pemeriksaan ini spesifik dan sensitif, tetapi belum
dipakai secara luas.
3. Enzim immunoassay. Hal ini dapat mendeteksi toksin di tinja pada sebagian besar
penderita yang terinfeksi S.dysentriae tipe 1 atau toksin yang dihasilkan E.coli.
4. Sigmoidoskopi. Sebelum pemeriksaan sitologi ini, dilakukan pengerokan daerah
sigmoid. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada stadium lanjut.
5. Aglutinasi. Hal ini terjadi karena aglutinin terbentuk pada hari kedua, maksimum
pada hari keenam. Pada S.dysentriae aglutinasi dinyatakan positif pada pengenceran
1/50 dan pada S.flexneri aglutinasi antibodi sangat kompleks, dan oleh karena
adanya banyak strain maka jarang dipakai.
6. Gambaran endoskopi memperlihatkan mukosa hemoragik yang terlepas dan ulserasi.
Kadang-kadang tertutup dengan eksudat. Sebagian besar lesi berada di bagian distal
kolon dan secara progresif berkurang di segmen proksimal usus besar. (2)

II.7 Diagnosis Banding


Diagnosis banding untuk diare darah adalah :
1. Disentri amoeba
Timbulnya penyakit biasanya perlahan-lahan, diare awal tidak ada/jarang.
Toksemia ringan dapat terjadi, tenesmus jarang dan sakit berbatas. Tinja
biasanya besar, terus menerus, asam, berdarah, bila berbentuk biasanya
tercampur lendir. Lokasi tersering daerah sekum dan kolon asendens, jarang
mengenai ileum. Ulkus yang ditimbulkan dengan gaung yang khas seperti botol.
2. Disentri basiler
Penyakit ini biasanya timbul secara akut, sering disertai adanya toksemia,
tenesmus akan tetapi sakit biasanya sifatnya umum. Tinja biasanya kecil-kecil,
banyak, tak berbau, alkalis, berlendir, nanah dan berdarah, bila tinja berbentuk
dilapisi lendir. Daerah yang terserang biasanya sigmoid dan dapat juga
menyerang ileum. Biasanya daerah yang terserang akan mengalami hiperemia
superfisial ulseratif dan selaput lendir akan menebal.

19
3. Eschericiae coli
a. Escherichia coli Enteroinvasive (EIEC)
Patogenesisnya seperti Shigelosis yaitu melekat dan menginvasi
epitel usus sehingga menyebabkan kematian sel dan respon radang cepat
(secara klinis dikenal sebagai kolitis). Serogroup ini menyebabkan lesi
seperti disentri basiller, ulserasi atau perdarahan dan infiltrasi leukosit
polimorfonuklear dengan khas edem mukosa dan submukosa.
Manifestasi klinis berupa demam, toksisitas sistemik, nyeri kejang
abdomen, tenesmus, dan diare cair atau darah.
b. Escherichia coli Enterohemoragik (EHEC)
Manifestasi klinis dari EHEC dapat menyebabkan penyakit diare
sendiri atau dengan nyeri abdomen. Diare pada mulanya cair tapi
beberapa hari menjadi berdarah (kolitis hemoragik). Meskipun
gambarannya sama dengan Shigelosis yang membedakan adalah
terjadinya demam yang merupakan manifestasi yang tidak lazim.
Beberapa infeksi disertai dengan sindrom hemolitik uremik.

II.8 Diagnosis

20
21
22
a. Disentri basiler
Perlu dicurigai adanya Shigellosis pada pasien yang datang dengan keluhan
nyeri abdomen bawah, dan diare. Pemeriksaan mikroskopik tinja menunjukkan
adanya eritrosit dan leukosit PMN. Untuk memastikan diagnosis dilakukan kultur dari
bahan tinja segar atau hapus rektal. Pada fase akut infeksi Shigella, tes serologi tidak
bermanfaat.
Pada disentri subakut gejala klinisnya serupa dengan kolitis ulserosa.
Perbedaan utama adalah kultur Shigella yang positif dan perbaikan klinis yang
bermakna setelah pengobatan dengan antibiotik yang adekuat. (6)

b. Disentri amoeba
Pemeriksaan tinja sangat penting di mana tinja penderita amebiasis tidak
banyak mengandung leukosit tetapi banyak mengandung bakteri. Diagnosis pasti
baru dapat ditegakkan bila ditemukan amoeba (trofozoit). Akan tetapi ditemukannya
amoeba bukan berarti meyingkirkan kemungkinan penyakit lain karena amebiasis
dapat terjadi bersamaan dengan penyakit lain. Oleh karena itu, apabila penderita
amebiasis yang telah menjalani pengobatan spesifik masih tetap mengeluh nyeri
perut, perlu dilakukan pemeriksaan lain, misalnya endoskopi, foto kolon dengan
barium enema atau biakan tinja.
Abses hati ameba sukar dibedakan dengan abses piogenik dan neoplasma.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat membedakannya dengan neoplasma, sedang
ditemukannya echinococcus dapat membedakannya dengan abses piogenik. Salah
satu caranya yaitu dengan dilakukannya pungsi abses. (2)

II.9 Komplikasi
a. Disentri amoeba
Beberapa penyulit dapat terjadi pada disentri amoeba, baik berat maupun ringan.
Berdasarkan lokasinya, komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi : (2)
Komplikasi intestinal
Perdarahan usus. Terjadi apabila amoeba mengadakan invasi ke dinding usus besar dan
merusak pembuluh darah.

23
Perforasi usus. Hal ini dapat terjadi bila abses menembus lapisan muskular dinding usus
besar. Sering mengakibatkan peritonitis yang mortalitasnya tinggi. Peritonitis juga dapat
disebabkan akibat pecahnya abses hati amoeba.
Ameboma. Peristiwa ini terjadi akibat infeksi kronis yang mengakibatkan reaksi
terbentuknya massa jaringan granulasi. Biasanya terjadi di daerah sekum dan rektosigmoid.
Sering mengakibatkan ileus obstruktif atau penyempitan usus.
Intususepsi. Sering terjadi di daerah sekum (caeca-colic) yang memerlukan tindakan operasi
segera.
Penyempitan usus (striktura). Dapat terjadi pada disentri kronik akibat terbentuknya
jaringan ikat atau akibat ameboma.
Komplikasi ekstraintestinal
Amebiasis hati. Abses hati merupakan komplikasi ekstraintestinal yang paling sering terjadi.
Abses dapat timbul dari beberapa minggu, bulan atau tahun sesudah infeksi amoeba
sebelumnya. Infeksi di hati terjadi akibat embolisasi ameba dan dinding usus besar lewat
vena porta, jarang lewat pembuluh getah bening.
Mula-mula terjadi hepatitis ameba yang merupakan stadium dini abses hati
kemudian timbul nekrosis fokal kecil-kecil (mikro abses), yang akan bergabung menjadi
satu, membentuk abses tunggal yang besar. Sesuai dengan aliran darah vena porta, maka
abses hati ameba terutama banyak terdapat di lobus kanan. Abses berisi nanah kental yang
steril, tidak berbau, berwarna kecoklatan (chocolate paste) yang terdiri atas jaringan sel hati
yang rusak bercampur darah. Kadang-kadang dapat berwarna kuning kehijauan karena
bercampur dengan cairan empedu.
Abses pleuropulmonal. Abses ini dapat terjadi akibat ekspansi langsung abses hati. Kurang
lebih 10-20% abses hati ameba dapat mengakibatkan penyulit ini. Abses paru juga dapat
terjadi akibat embolisasi ameba langsung dari dinding usus besar. Dapat pula terjadi hiliran
(fistel) hepatobronkhial sehingga penderita batuk-batuk dengan sputum berwarna
kecoklatan yang rasanya seperti hati.
Abses otak, limpa dan organ lain. Keadaan ini dapat terjadi akibat embolisasi ameba
langsung dari dinding usus besar maupun dari abses hati walaupun sangat jarang terjadi.

24
Amebiasis kulit. Terjadi akibat invasi ameba langsung dari dinding usus besar dengan
membentuk hiliran (fistel). Sering terjadi di daerah perianal atau dinding perut. Dapat pula
terjadi di daerah vulvovaginal akibat invasi ameba yang berasal dari anus.

b. Disentri basiler
Beberapa komplikasi ekstra intestinal disentri basiler terjadi pada pasien yang berada di
negara yang masih berkembang dan seringnya kejadian ini dihubungkan dengan infeksi
S.dysentriae tipe 1 dan S.flexneri pada pasien dengan status gizi buruk. Komplikasi lain
akibat infeksi S.dysentriae tipe 1 adalah haemolytic uremic syndrome (HUS). SHU diduga
akibat adanya penyerapan enterotoksin yang diproduksi oleh Shigella. Biasanya HUS ini
timbul pada akhir minggu pertama disentri basiler, yaitu pada saat disentri basiler mulai
membaik. Tanda-tanda HUS dapat berupa oliguria, penurunan hematokrit (sampai 10%
dalam 24 jam) dan secara progresif timbul anuria dan gagal ginjal atau anemia berat dengan
gagal jantung. Dapat pula terjadi reaksi leukemoid (leukosit lebih dari 50.000/mikro liter),
trombositopenia (30.000-100.000/mikro liter), hiponatremia, hipoglikemia berat bahkan
gejala susunan saraf pusat seperti ensefalopati, perubahan kesadaran dan sikap yang aneh.
Artritis juga dapat terjadi akibat infeksi S.flexneri yang biasanya muncul pada masa
penyembuhan dan mengenai sendi-sendi besar terutama lutut. Hal ini dapat terjadi pada
kasus yang ringan dimana cairan sinovial sendi mengandung leukosit polimorfonuklear.
Penyembuhan dapat sempurna, akan tetapi keluhan artsitis dapat berlangsung selama
berbulan-bulan. Bersamaan dengan artritis dapat pula terjadi iritis atau iridosiklitis.
Sedangkan stenosis terjadi bila ulkus sirkular pada usus menyembuh, bahkan dapat pula
terjadi obstruksi usus, walaupun hal ini jarang terjadi. Neuritis perifer dapat terjadi setelah
serangan S.dysentriae yang toksik namun hal ini jarang sekali terjadi.
Komplikasi intestinal seperti toksik megakolon, prolaps rectal dan perforasi juga dapat
muncul. Akan tetapi peritonitis karena perforasi jarang terjadi. Kalaupun terjadi biasanya
pada stadium akhir atau setelah serangan berat. Peritonitis dengan perlekatan yang terbatas
mungkin pula terjadi pada beberapa tempat yang mempunyai angka kematian tinggi.
Komplikasi lain yang dapat timbul adalah bisul dan hemoroid. (2)

25
II.10 Pengobatan

26
a. Disentri basiler
Prinsip dalam melakukan tindakan pengobatan adalah istirahat, mencegah
atau memperbaiki dehidrasi dan pada kasus yang berat diberikan antibiotika.
Cairan dan elektrolit
Dehidrasi ringan sampai sedang dapat dikoreksi dengan cairan rehidrasi oral.
Jika frekuensi buang air besar terlalu sering, dehidrasi akan terjadi dan berat badan
penderita turun. Dalam keadaan ini perlu diberikan cairan melalui infus untuk
menggantikan cairan yang hilang. Akan tetapi jika penderita tidak muntah, cairan
dapat diberikan melalui minuman atau pemberian air kaldu atau oralit. Bila penderita
berangsur sembuh, susu tanpa gula mulai dapat diberikan.
Diet
Diberikan makanan lunak sampai frekuensi berak kurang dari 5 kali/hari,
kemudian diberikan makanan ringan biasa bila ada kemajuan.
Pengobatan spesifik
Menurut pedoman WHO, bila telah terdiagnosis shigelosis pasien diobati
dengan antibiotika. Jika setelah 2 hari pengobatan menunjukkan perbaikan, terapi
diteruskan selama 5 hari. Bila tidak ada perbaikan, antibiotika diganti dengan jenis
yang lain.
Resistensi terhadap sulfonamid, streptomisin, kloramfenikol dan tetrasiklin
hampir universal terjadi. Kuman Shigella biasanya resisten terhadap ampisilin,
namun apabila ternyata dalam uji resistensi kuman terhadap ampisilin masih peka,
maka masih dapat digunakan dengan dosis 4 x 500 mg/hari selama 5 hari. Begitu

27
pula dengan trimetoprim-sulfametoksazol, dosis yang diberikan 2 x 960 mg/hari
selama 3-5 hari. Amoksisilin tidak dianjurkan dalam pengobatan disentri basiler
karena tidak efektif.
Pemakaian jangka pendek dengan dosis tunggal fluorokuinolon seperti
siprofloksasin atau makrolide azithromisin ternyata berhasil baik untuk pengobatan
disentri basiler. Dosis siprofloksasin yang dipakai adalah 2 x 500 mg/hari selama 3
hari sedangkan azithromisin diberikan 1 gram dosis tunggal dan sefiksim 400 mg/hari
selama 5 hari. Pemberian siprofloksasin merupakan kontraindikasi terhadap anak-
anak dan wanita hamil.
Di negara-negara berkembang di mana terdapat kuman S.dysentriae tipe 1
yang multiresisten terhadap obat-obat, diberikan asam nalidiksik dengan dosis 3 x 1
gram/hari selama 5 hari. Tidak ada antibiotika yang dianjurkan dalam pengobatan
stadium carrier disentri basiler.

b. Disentri amoeba
1. Asimtomatik atau carrier : Iodoquinol (diidohydroxiquin) 650 mg tiga kali perhari
selama 20 hari.
2. Amebiasis intestinal ringan atau sedang : tetrasiklin 500 mg empat kali selama
5 hari.
3. Amebiasis intestinal berat, menggunakan 3 obat : Metronidazol 750 mg tiga kali
sehari selama 5-10 hari, tetrasiklin 500 mg empat kali selama 5 hari, dan emetin
1 mg/kgBB/hari/IM selama 10 hari.
4. Amebiasis ektraintestinal, menggunakan 3 obat : Metonidazol 750 mg tiga kali
sehari selama 5-10 hari, kloroquin fosfat 1 gram perhari selama 2 hari
dilanjutkan 500 mg/hari selama 4 minggu, dan emetin 1 mg/kgBB/hari/IM
selama 10 hari. (6)

II.11 Prognosis
Prognosis ditentukan dari berat ringannya penyakit, diagnosis dan pengobatan dini
yang tepat serta kepekaan ameba terhadap obat yang diberikan. Pada umumnya prognosis

28
amebiasis adalah baik terutama pada kasus tanpa komplikasi. Prognosis yang kurang baik
adalah abses otak ameba.
Pada bentuk yang berat, angka kematian tinggi kecuali bila mendapatkan
pengobatan dini. Tetapi pada bentuk yang sedang, biasanya angka kematian rendah;
bentuk dysentriae biasanya berat dan masa penyembuhan lama meskipun dalam bentuk
yang ringan. Bentuk flexneri mempunyai angka kematian yang rendah. (2)

II.12 Pencegahan dan Edukasi

a. Disentri amoeba
Makanan, minuman dan keadaan lingkungan hidup yang memenuhi syarat
kesehatan merupakan sarana pencegahan penyakit yang sangat penting. Air minum
sebaiknya dimasak dahulu karena kista akan binasa bila air dipanaskan 500C selama 5 menit.
Penting sekali adanya jamban keluarga, isolasi dan pengobatan carrier. Carrier
dilarang bekerja sebagai juru masak atau segala pekerjaan yang berhubungan dengan

29
makanan. Sampai saat ini belum ada vaksin khusus untuk pencegahan. Pemberian
kemoprofilaksis bagi wisatawan yang akan mengunjungi daerah endemis tidak dianjurkan.(2)
b. Disentri basiler
Belum ada rekomendasi pemakaian vaksin untuk Shigella. Penularan disentri basiler
dapat dicegah dan dikurangi dengan kondisi lingkungan dan diri yang bersih seperti
membersihkan tangan dengan sabun, suplai air yang tidak terkontaminasi, penggunaan
jamban yang bersih. (2)

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Syaroni A., Hoesadha Y., 2006. Disentri Basiler. Buku Ajar Penyakit Dalam. FKUI:Jakarta.
2. Hembing, 2006. Jangan Anggap Remeh Disentri. Diakses dari
http://portal.cbn.net.id/cbprtl/cybermed.
3. Simanjuntak C. H., 1991. Epidemiologi Disentri. Diakses dari
http://www.kalbe.co.id/files/cdk.
4. Oesman, Nizam. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi III. Fakultas kedokteran UI.:
Jakarta.
5. Davis K., 2007. Amebiasis. Diakses dari http://www.emedicine.com/ med/topic116.htm.
6. Kroser A. J., 2007. Shigellosis. Diakses dari http://www.emedicine.com/
med/topic2112.htm.

31