Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULAN

A. PENGERTIAN

Hipospadia adalah kelainan kongetinal berupa kelainan letak lubang uretra


pada pria dari ujung penis ke sisi ventral (Corwin, 2009).
Hipospadia adalah kegagalan meatus urinarius meluas ke ujung penis, lubang
uretra terletak dibagian bawah batang penis, skrotum atau perineum (Barbara J.
Gruendemann & Billie Fernsebner, 2005).
Dan menurut (Muscari, 2005) Hipospadia adalah suatu kondisi letak lubang
uretra berada di bawah glans penis atau di bagian mana saja sepanjang permukaan
ventral batang penis. Kulit prepusium ventral sedikit, dan bagian distal tampak
terselubung.
Hipospadia adalah suatu keadaan dengan lubang uretra terdapat pada penis
bagian bawah, bukan diujung penis. Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan
lubang uretra terletak didekat ujung penis yaitu pada glans penis. Bentuk hipospadia
yang lebih berat terjadi jika luubang uretra terdapat ditengah batang penis atau pada
pangkal penis, dan kadang pada skrotum atau dibawah skrotum. Kelainan ini sering
berhubungan kordi, yaitu suatu jaringan vibrosa yang kencang yang menyebabkan
penis melengkung kebawah saat ereksi. (Muslihatum, 2010:163)

B. ETIOLOGI
Penyebab yang jelas belum diketahui. Dapat dihubungkan dengan faktor
genetik, lingkungan atau pengaruh hormonal. Namun, ada beberapa factor yang oleh
para ahli dianggap paling berpengaruh antara lain :
1. Gangguan dan ketidakseimbangan hormone
Hormone yang dimaksud di sini adalah hormone androgen yang mengatur
organogenesis kelamin (pria). Atau biasa juga karena reseptor hormone
androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga
walaupun hormone androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila
reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang
semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone androgen tidak
mencukupi pun akan berdampak sama.
2. Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi
pada gen yang mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen
tersebut tidak terjadi.
3. Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang
bersifat teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.
Faktor resiko. (Suriadi,2010:142)
Penyebab kelainan ini adalah maskulinisasi inkomplit dari genetalia karena involusi
yang premature dari sel interstisial testis. Didalam kehamilan terjadi penyatuan
digaris tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatrus uretra terbuka pada sisi
ventral penis.

C. KLASIFIKASI
1. Tipe sederhana adalah tipe balanitik atau glandular, disini meatus terletak pada
pangkal glans penis. Pada kelainan ini secara klinis umumnya bersifat asimtomatik
dan tidak memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan
dilatasi atau meatotomi.
2. Tipe penil, meatus terletak antara glans penis dan skrotum. Pada tipe ini umumnya
disertai kelainan penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral,
sehingga penis terlihat melengkung ke bawah (chordee) atau glans penis menjadi
pipih. Pada kelainan tipe penil diperlukan intervensi tindakan bedah bertahap.
Mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada, sebaliknya pada bayi ini
tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan
bedah plastic selanjutnya. Tindakan koreksi atau chordee umumnya dilakukan
sekitar 2 tahun, sedangkan reparasi tipe hipospadial umumnya dilakukan sekitar
umur 3 sampai 5 tahun.
3. Tipe penoskrotal dan tipe perineal. Kelainan ini cukup besar, umumnya
pertumbuhan penis akan terganggu, ada kalanya disertai skrotum bifida, meatus
uretra terbuka lebar dan umumnya testis tidak turun. Pada kejadian ini perlu
diperhatikan kemungkinan adanya pseudohermafroditisme. Tindakan bedah
bertahap dilakukan pada tahun pertama kehidupan bayi.
D. PATOFISIOLOGI
1. Kelainan terjadi akibat kegagalan lipatan uretra untuk berfusi dengan sempurna
pada masa pembentukan saluran uretral embrionik
2. Abnormalitas dapat menyebabkan infertilitas dan masalah psikologis apabila
tidak diperbaiki (Muscari, 2005).
Fungsi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga
meatus uretra terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan
letak meatus ini, dari yang ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian
disepanjang batang penis hingga akhirnya di perineum. Prepusium tidak ada pada
sisi ventral dan menyerupai tapi yang menutup sisi dorsal dari glans. Pita jaringan
fibrosa yang dikenal sebagai chordee , pada sisi ventral menyebabkan kurvatura
(lengkungan) ventral dari penis (Anak-hipospadia).

E. MANIFESTASI KLINIK
Gambaran klinis Hipospadia :
1. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri:
lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau didasar
penis, penis melengkung kebawah, penis tampak seperti berkerudung karena
adanya kelainan pada kulit dengan penis, jika berkemih anak harus duduk.
(Muslihatum, 2010:163)
2. Chordee (melengkungnya penis) dapat menyertai hipospadia.
Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung kearah bawah yang
akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini di sebabkan oleh adanya
chordee, yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang
letaknya abnormal ke glans penis. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimenter
dari uretra, korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya chordee
adalah salah satu cirri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu diingat
bahwa tidak semua hipospadia memiliki chordee.
3. Hernia inguinalis (testis tidak turun) dapat menyertai hipospadia (Corwin, 2009).
4. Lokasi meatus urine yang tidak tepat dapat terlihat pada saat lahir (Muscari,
2005).
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Diagnosis dilakukan dengan dengan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir
atau bayi. Karena kelainan lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan pemeriksaan
yang menyeluruh, termasuk pemeriksaan kromososm (Corwin, 2009).
1. Rontgen
2. USG sistem kemih kelamin
3. BNO IVP karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan
kongenital ginjal
4. Kultur urine (Anak-hipospadia)

G. KOMPLIKASI
Komplikasi dari hipospadia antara lain :
1. Dapat terjadi disfungsi ejakulasi pada pria dewasa. Apabila chordee nya parah,
maka penetrasi selama berhubungan intim tidak dapat dilakukan (Corwin, 2009)
2. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1
jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri seksual tertentu) (Ramali, Ahmad
& K. St. Pamoentjak, 2005)
3. Psikis (malu) karena perubahan posisi BAK
4. Kesukaran saat berhubungan saat, bila tidak segera dioperasi saat dewasa (Anak-
hipospadia)

Komplikasi pascaoperasi yang terjadi :

a. Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat


bervariasi, juga terbentuknya hematom/ kumpulan darah di bawah kulit,
yang biasanya dicegah dengan balutan ditekan selama 2 sampai 3 hari
pascaoperasi
b. Striktur, pada proksimal anastomis yang kemungkinan disebabkan oleh
angulasi dari anastomis
c. Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing
berulang atau pembentukan batu saat pubertas
d. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan
sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu
tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10%
e. Residual chordee /rekuren chrodee, akibat dari chordee yang tidak
sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau
pembentukan scar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat
jarang
f. Divertikulum (kantung abnormal yang menonjol ke luar dari saluran atau
alat berongga) (Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak, 2005), terjadi pada
pembentukan neouretra yang terlalu lebar atau adanya stenosis meatal
yang mengakibatkan dilatasi yang dilanjut

H. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah
merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal
atau dekat normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan
coitus dengan normal (Anak-hipospadia).
1. Koreksi bedah mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun.
Sirkumsisi harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat dapat digunakan
untuk perbaikan dimasa mendatang (Corwin, 2009).
2. Informasikan orang tua bahwa pengenalan lebih dini adalah penting sehingga
sirkumsisi dapat dihindari, kulit prepusium digunakan untuk bedah perbaikan
(Muscari, 2005).
3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari :
Operasi hipospadia satu tahap (One stage urethroplasty) adalah teknik operasi
sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia tipe distal. Tipe
distal inimeatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya
kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih
memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe hipospadia proksimal yang disertai
dengan kelainan yang lebih berat, maka one stage urethroplasty nyaris dapat
dilakukan. Tipe annghipospadia proksimal seringkali di ikuti dengan kelainan-
kelainan yang berat seperti chordee yang berat, globuler glands yang bengkok ke
arah ventral (bawah) dengan dorsal : skin hood dan propenil bifid scrotum.
Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya lebih ke arah proksimal
(jauh dari tempat semestinya) biasanya diikuti dengan penis yang bengkok dan
kelainan lain di scrotum
I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PENYAKIT HIPOSPADIA
A. PENGKAJIAN
Identitas
1. Usia : ditemukan saat lahir
2. Jenis kelamin : hipospadia merupakan anomaly uretra yang paling sering
terjadi pada laki-laki dengan angka kemunculan 1:250 dari kelahiran hidup.
(Brough, 2007: 130)
3. Keluhan Utama
Lubang penis tidak terdapat diujung penis, tetapi berada dibawah atau didasar
penis, penis melengkung kebawah, penis tampak seperti berkerudung karena
adanya kelainan pada kulit dengan penis, jika berkemih anak harus
duduk.(Muslihatum, 2010:163)
4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya lubang
kencing yang tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui dengan
pasti penyebabnya.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Biasanya pasien dengan hipospadia ditemukan adanya penis yang
melengkung kebawah adanya lubang kencing tidak pada tempatnya sejak
lahir.
5. Riwayat Kongenital
a. Penyebab yang jelas belum diketahui.
b. Dihubungkan dengan penurunan sifat genetik.
c. Lingkungan polutan teratogenik. (Muscari, 2005:357)

6. Riwayat Kehamilan Dan Kelahiran: Hipospadia terjadi karena adanya


hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke-10 sampai
minggu ke-14. (Markum, 1991: 257)

7. Activity Daily Life


a. Nutrisi : Tidak ada gangguan
b. Eliminasi : anak laki-laki dengan hipospadia akan mengalami
kesukaran dalam mengarahkan aliran urinnya, bergantung pada keparahan
anomali, penderita mungkin perlu mengeluarkan urin dalam posisi duduk.
Konstriksi lubang abnormal menyebabkan obstruksi urin parsial dan
disertai oleh peningkatan insiden ISK. (Brough, 2007: 130)
c. Hygiene Personal :Dibantu oleh perawat dan keluarga
d. Istirahat dan Tidur : Tidak ada gangguan

8. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem kardiovaskuler
- Tidak ditemukan kelainan
b. Sistem neurologi
- Tidak ditemukan kelainan
c. Sistem pernapasan
- Tidak ditemukan kelainan
d. Sistem integument
- Tidak ditemukan kelainan
e. Sistem muskuloskletal
- Tidak ditemukan kelainan
f. Sistem Perkemihan
- Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran
pada ginjal.
- Kaji fungsi perkemihan
- Dysuria setelah operasi

9. Sistem Reproduksi
- Adanya lekukan pada ujung penis
- Melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
- Terbukanya uretra pada ventral
- Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan,
drinage. (Nursalam, 2008: 164)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
PRE OPERASI
1. Ansietas (anak dan orang tua) yang behubungan dengan proses pembedahan
(uretroplasti).
POST OPERASI

2. Nyeri berhubungan dengan pembedahan.


3. Resiko infeksi (traktus urinarius) yang berhubungan dengan pemasangan kateter.
4. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan penampilan penis anak setelah
pembedahan.
5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah.

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


PRE OPERASI
1. Ansietas (anak dan orang tua) yang behubungan dengan proses pembedahan
(uretroplasti)
- Tujuan: anak dan orang tua mengalami penurunan rasa cemas yang ditandai
oleh ungkapan pemahaman tentang prosedur bedah
- Intervensi:
a. Jelaskan pada anak dan orang tua tentang prosedur bedah dan perawatan
pasca operasi yang diharapkan. Gunakan gambar dan boneka ketika
menjelaskan prosedur kepada anak. Jelaskan bahwa pembedahan
dilakukan dengan cara memperbaiki letak muara uretra. Jelaskan juga
kateter urine menetap akan dipasang, dan bahwa anak perlu direstrein
untuk mencegah supaya anak tidak berusaha melepas kateter. Beri tahu
mereka bahwa anak mungkin dipulangkan dengan keadaan terpasang
kateter.
R/ menjelaskan rencana pembedahan dan pasca operasi membantu
meredakan rasa cemas dan takut, dengan membiarkan anak dan orang tua
mengantisipasi dan mempersiapkan peristiwa yang akan terjadi. Simulasi
dengan mempergunakan gambar dan boneka untuk menjelaskan prosedur
dapat membuat anak memahami konsep yang rumit.
b. Beri anak kesempatan untuk mengekspresikan rasa takut dan fantasinya
dengan menggunakan boneka dan wayang.
R/ mengekspresikan rasa takut memungkinkan anak menghilangkan rasa
takutnya, dan memberi anda kesempatan untuk mengkaji tingkat kognitif
dan kemampuan untuk memahami kondisi, serta perlunya pembedahan.
(Speer,2007:168)

POST OPERASI

2. Nyeri berhubungan dengan pembedahan


- Tujuan: anak akan memperlihatkan peningkatan rasa nyaman yang ditandai
oleh menangis,gelisah, dan ekspresi nyeri berkurang.
- Intervensi:
a. Kolaborasi dalam pemberian analgesic sesuai program
R/ pemberian obat analgesik untuk meredahkan nyeri
b. Pastikan kateter anak dipasang dengan benar,serta bebas dari simpul
R/ penempatan kateter yang tidak tepat dapat menyebabkan nyeri akibat
drainase yang tidak adekuat,atau gesekan akibat tekanan pada balon yang
digembungkan. (Speer,2007:169)

3. Resiko infeksi (traktus urinarius) yang berhubungan dengan pemasangan kateter


- Tujuan: anak tidak mengalami infeksi yang ditandai oleh hasil urinalisis
normal dan suhu tubuh kurang dari 37,80c
- Intervensi:
a. Pertahankan kantong drainase kateter dibawah garis kandung kemih
dan pastikan bahwa selang tidak terdapat simpul dan kusut.
R/ mempertahankan kantong drainase tetap pada posisi ini mencegah
infeksi dengan mencegah urine yang tidak steril mengalir balik ke
dalam kandung kemih
b. Gunakan tekni aseptic ketika mengosongkan kantong kateter
R/ teknik aseptic mencegah kontaminan masuk kedalam traktus
urinarius
c. Pantau urine anak untuk pendeteksian kekeruhan atau sedimentasi.
Juga periksa balutan bedah setiap 4 jam, untuk mengkaji bila tercium
bau busuk atau drainase purulen; laporkan tanda-tanda tersebut kepada
dokter dengan segera
R/ tanda ini dapat mengindikasikan infeksi
d. Anjurkan anak untuk minum sekurang-kurangya 60 ml/jam
R/ peningkatan asupan cairan dapat mengencerkan urine dan
mendorong untuk berkemih
e. Beri obat antibiotic profilaktik sesuai program, untuk membantu
mencegah infeksi. Pantau anak untuk efek terapeutik dan efek samping
R/ pemantauan yang demikian membantu menentukan kemanjuran obat
antibiotic dan toleransi anak terhadap obat tersebut. (Speer,2007:169)

4. Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan penampilan penis anak setelah
pembedahan
- Tujuan: orang tua akan mengalami penurunan rasa cemas yang ditandai
oleh pengungkapan perasaan mereka tentang kelainan anak.
- Intervensi:
a. Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatiran
mereka tentang ketidaksempurnaan fisik anak. Fokuskan pada
pertanyaan tentang seksualitas dan reproduksi.
R/ membiarkan orang tua mengekspresikan perasaan serta
kekhawatiran mereka, dapat memberikan perasaan didukung dan
dimengerti sehingga mengurangi rasa cemas mereka. Mereka
cenderung merasa sangat khawatir terhadap efek kelainan, pada aspek
seksualitas dan reproduksi.
b. Bantu orang tua melalui proses berduka yang normal
R/ proses berduka memungkin orang tua dapat melalui kecemasan dan
perasaan distress mereka.
c. Rujuk orang tua kepada kelompok pendukung yang tepat, jika
diperlukan
R/ kelompok pendukung dapat membantu orang tua mengatasi
ketidaksempurnaan fisik anak.
d. Apabila memungkinkan, jelaskan perlunya menjalani pembedahan
multiple, dan jawab setiap pertanyaan yang muncul dari orang tua
R/ perbaikan yang sudah dilakukan melaui pembedahan perlu
berlangsung secara bertahap. Dengan mendiskusikan hal ini dengan
orang tua dan member kesempatan mengekspresiakan perasan mereka
dapat mengurangi kecemasan. (Speer,2007:170)
5. Defisit pengetahuan berhubungan dengan perawatan di rumah
- Tujuan: orang tua mengekspresikan pemahaman tentang instruksi
perawatan di rumah, dan mendemonstrasikan prosedur perawatan dirumah
- Intervensi:
a. Ajarkan orang tua tanda serta gejala infeksi saluran kemih atau infeksi
pada area insisi, termasuk peningkatan suhu, urine keruh, dan drainase
purulen dari insisi
R/ mengetahui tanda dan gejala infeksi mendorong orang tua mencari
pertolongan medis ketika membutuhkannya
b. Ajarkan orang tua cara merawat kateter dan penis, termasuk
membersihkan daerah sekeliling kateter, mengosongkan kantong
drainase dan memfiksasi kateter; jelaskan pentingnya memantau warna
serta kejernihan urine
R/ informasi semacam ini dapat meningkatkan kepatuhan terhadap
penatalaksanaan keperawatan di rumah dan membantu mencegah
kateter lepas serta infeksi
c. Anjurkan orang tua untuk mencegah anak untuk tidak mengambil
posisi mengangkang, saat mengendarai sepeda atau menunggang kuda
R/ posisi mengangkang dapat menyebabkan kateter terlepas dan
merusak area operasi
d. Apabila dibutuhkan, ajarkan orang tua tentang tujuan dan penggunaan
obat antibiotik serta obat-obatan, untuk spasme kandung kemih
(meperidin hidroklorida [Demerol], asetaminofen[Tylenol]); jelaskan
juga perincian tentang pemberian, dosis dan efek samping
R/ obat analgesic dapat mengendalikan rasa nyeri. Spasme kandung
kemih dapat terjadi akibat iritasi kandung kemih. Dengan mengetahui
efek samping mendorong orang tua mencari pertolongan medis ketika
membutuhkan.
DAFTAR PUSTAKA

Barbara J. Gruendemann & Billie Fernsebner. (2005). Buku Ajar Keperawatan


Perioperatif Vol. 2. Jakarta: EGC.
Behrman, Kliegman, & Arvin. (2000). Ilmu Kesehatan Anak ed. 15 Vol 3. Jakarta:
EGC.
Corwin, E. J. (2009). Buku Saku : Patofisiologi. Jakarta: EGC.
Heffiner, L. J. (2005). At a Glans Sistem Reproduksi Ed. 2. Boston: EMS.
Muscari, M. E. (2005). Panduan Belajar : Keperawatan Pediatrik Ed. 3 hal : 357.
Jakarta : EGC.
Nanda. (2015). Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.
Ramali, Ahmad & K. St. Pamoentjak. (2005). Kamus Kedokteran. Jakarta:
Djambatan.
Schwartz, S. I. (2000). Intisari Prinsip - prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Tjay, Tan Hoan & Kirana Rahardja. (2007). Obat - Obat Penting. Jakarta: EMK
Gramedia.
Muslihatum, Wafi Nur .2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta:
Penerbit Fitramaya
Markum, A H.1991.Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta: Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Muscari, Mary E. 2005. Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC