Anda di halaman 1dari 28

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Rutinitas manusia modern menuntut mereka untuk dapat bekerja setiap


hari, dimulai dari pagi hari hingga ke sore hari bahkan sampai malam hari. Hal
ini membuat mereka sangat sibuk hingga menyebabkan perasaan stress yang
berlebihan. Pekerjaan mereka pun bahkan terkadang dibawa saat berada di
rumah. Belum lagi ditambah keadaan kota yang padat dan kemacetan yang
mereka alami setiap hari. Kemudian tercemar dengan polusi yang tinggi
semakin menambah tingkat kejenuhan sehingga menjadi tidak baik dari sisi
psikologi.

Dari segi psikologi, hal ini tentu dapat berdampak buruk bagi diri mereka
dan sekitar. Pada hakikatnya manusia membutuhkan sebuah penyegaran
kembali setelah menjalani kesibukan hariannya bekerja. Hal ini dapat
membantu mengembalikan perasaan senang dan semangat. Manusia yang
memiliki semangat akan cenderung untuk bekerja dengan hasil yang lebih
baik. Oleh karena itu diperlukan sarana refreshing untuk mengembalikan
semangat.

Terdapat beberapa alternatif pilihan untuk rekreasi, yaitu berupa hotel,


sarana bermain outdoor, wisata kebun binatang, museum, mall, kolam renang,
pegunungan, pantai, dan lain sebagainya. Sarana rekreasi di kota-kota besar
umumnya mahal dan tidak berdampak terlalu besar dalam mengembalikan
kondisi seseorang. Selain itu tempat rekreasi yang masih di dalam kota juga
membutuhkan waktu untuk pencapaiannya karena kondisi lalu lintas jalan
perkotaan yang selalu macet.

Pariwisata merupakan salah satu solusi untuk merespon kebutuhan akan


rekreasi dan refreshing. Di wilayah kota besar umumnya terdapat dua pilihan
yang banyak dipilih oleh masyarakat kota untuk berlibur, yaitu pegunungan
dan pantai yang berbatasan dengan laut.

1
Pantai adalah salah satu destinasi wisata yang sering dikunjungi oleh
wisatawan. Pantai umumnya terletak jauh dari kebisingan dan polusi kota. Di
sekitar pantai terdapat tempat-tempat untuk menginap untuk mengatasi
kebutuhan akomodasi wisatawan pada saat berlibur.

Caringin, yang merupakan salah satu wilayah di kecamatan Labuan,


Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, memiliki kelebihan yaitu berbatasan
langsung dengan laut di sisi sebelah barat. Pantai yang berada pada wilayah
ini umumnya belum dikelola dengan baik sehingga belum terlalu banyak
pengunjung yang berlibur ke pantai-pantai yang berada di Labuan.

Terdapat salah satu pantai yang berpotensi untuk dijadikan hotel resort di
wilayah Labuan, tepatnya diantara Makam Syekh Asnawi dan Sungai
Caringin. Pada tempat ini dapat dikatakan berpotensi karena memiliki dua
view yang bagus, sisi barat berpapasan dengan lautan, dan sebelah selatan
berpapasan dengan Sungai Caringin. Selain itu tidak jauh dari lokasi tersebut
juga terdapat Masjid Caringin, yang masih merupakan situs bersejarah.

Berdasarkan data dari Kementrian Pariwisata Republik Indonesia, jumlah


pengunjung di Provinsi Banten menunjukkan kenaikan angka. Pada tahun
2013, jumlah pengunjung mencapai 1,4 jt jiwa. Kemudian sempat menurun di
2014 dengan angka 1,039 juta jiwa. Kemudian meningkat lagi menjadi 1,849
juta jiwa. Umumnya wisatawan ini pergi ke Banten untuk berlibur di pantai,
karena Banten memang terkenal dengan pantainya yang indah.

Pembangunan hotel resort pada daerah ini memiliki potensi yang baik,
karena dapat menampung akomodasi bagi wisatawan yang pergi ke pantai,
kemudian juga dapat menampung wisatawan yang tujuannya
berkunjung/berziarah ke Makam Syekh Asnawi, kemudian juga dapat
menampung wisatawan yang mengunjungi masjid dan situs bersejarah Masjid
Caringin.

2
1.2 Rumusan Masalah

Masalah yang dibahas dalam penulisan makalah ini adalah sebagai


berikut :

Bagaimana merancang desain hotel resort yang sesuai dengan


konteks lingkungan (tepi pantai)?
Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam merancang hotel
resort pada lokasi tersebut?
Apa yang menjadi daya tarik yang menjadi nilai lebih pada lokasi
tersebut?

1.3 Tujuan Dan Sasaran

Tujuan

Tujuan penulisan seminar tugas akhir ini adalah untuk mengumpulkan


data-data apa saja yang perlu dikumpulkan untuk nantinya akan menjadi
bahan referensi penulis untuk mengerjakan tugas akhir, yaitu perancangan
hotel resort.

Sasaran

Wisatawan dari luar maupun dalam daerah Banten yang akan


berlibur ke wisata pantai.
Pengunjung yang akan berkunjung ke Makan Syekh Asnawi
Wisatawan yang melewati jalur Caringin untuk ke tempat wisata.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat penulisan seminar tugas akhir ini adalah sebagai syarat mengikuti
tugas akhir pada jurusan arsitektur Fakultas Teknik Universitas
Krisnadwipayana. Dan juga sebagai pedoman bagi penulis dan masyarakat
untuk merancang hotel resort di daerah pantai.

3
1.5 Ruang Lingkup Pembahasan
Ruang lingkup pembahasan pada seminar tugas akhir ini hanya terbatas
kepada area yang diteliti. Yaitu dari sisi utara Sungai Caringin hingga sisi
selatan Makan Syekh Asnawi.

1.6 Metoda Pembahasan


Metoda pembahasan dilakukan dengan menggunakan metoda analisa
dengan proses pemikiran deduktif, untuk kemudian ditarik kesimpulan yang
ideal, melalui tahap-tahap sebagai berikut:
Survey/ Observasi
Pengamatan langsung pada objek sasaran secara fisik yaitu fasilitas
akomodasi khususnya di Banten yang dilakukan di beberapa tempat di
daerah Pandeglang. Pengamatan tersebut meliputi studi kegiatan di
dalam bangunan dengan mengamati kinerja pengguna serta sirkulasinya
untuk mendapatkan fakta dan fenomena
Studi Literatur
Dengan pengambilan informasi berupa sumber-sumber data tertulis dari
beberapa buku referensi dan sumber lain seperti situs-situs internet yang
terkait dengan judul. Data-data yang didapat dari studi literatur tersebut
antara lain:
- Data standar tentang fasilitas Hotel Resort
- Teori tentang perhotelan dan pariwisata
- Data tentang Kabupaten Pandeglang sebagai lokasi kawasan
bangunan Hotel Resort beserta elemen pendukungnya.
- Data mengenai kearifan lokal
Studi komparasi
Untuk lebih mendukung obyek pembahasan, dilakukan juga studi banding
dari obyek yang memiliki latar belakang atau pendekatan konsep yang
hampir sama dengan obyek perencanaan dan perancangan.

4
1.7 Sistematika Penulisan
TAHAP I Pendahuluan
Pembahasan mengenai pengertian judul, latar belakang,
permasalahan dan persoalan, tujuan dan sasaran, batasan dan
lingkup pembahasan, dan metode pembahasan, serta
sistematika penulisan yang menjadi pedoman dan dasar dalam
perancangan sebuah bangunan Hotel Resort di Pantai Caringin,
Pandeglang.

TAHAP II Tinjauan Umum

Berisi ulasan informasi teori pendukung, yaitu teori tentang


perhotelan, pariwisata, dan teori arsitektur yang berhubungan
dengan pendekatannya, serta studi banding bangunan lain yang
berhubungan dengan obyek yang direncanakan.

TAHAP III Tinjauan Khusus

Memaparkan mengenai potensi wisata di Kabupaten


Pandeglang sebagai lokasi yang akan dipilih sebagai acuan
strategi desain untuk bangunan Hotel Resort yang direncanakan
dan relevansi fasilitas setara yang berada di wilayah
Pandeglang.

TAHAP IV Analisis Perencanaan dan Perancangan Hotel Resort

Menganalisis permasalahan yang mencakup segala aspek


yang nantinya merupakan pedoman untuk merencanakan dan
merancang bentuk fisik bangunan Hotel Resort di Pantai
Caringin yang meliputi analisis pola kegiatan, kebutuhan ruang,
besaran ruang, organisasi ruang, pola peruangan dalam
bangunan lokasi, persyaratan ruang, pencapaian dan site.

5
TAHAP V Konsep Perencanaan dan Perancangan

Menyajikan konsep desain hasil dari pembahasan analisa


yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya. Yang digunakan
sebagai dasar perancangan desain fisik bangunan Hotel Resort
di Pantai Caringin, Pandeglang.

6
BAB II
Tinjauan Umum

2.1 Pengertian Hotel

Hotel adalah suatu bentuk bangunan, lambang, perusahaan atau badan


usaha akomodasi yang menyediakan pelayanan jasa penginapan, penyedia
makanan dan minuman serta fasilitas jasa lainnya dimana semua pelayanan
itu diperuntukan bagi masyarakat umum, baik mereka yang bermalam di hotel
tersebut ataupun mereka yang hanya menggunakan fasilitas tertentu yang
dimiliki hotel itu. Pengertian hotel berdasarkan beberapa definisi menurut para
ahli

Menurut Sulastiyono (2011:5), hotel adalah suatu perusahaan yang


dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan pelayanan makanan, minuman
dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang-orang yang melakukan
perjalanan dan mampu membayar dengan jumlah yang wajar sesuai dengan
pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus.

Pengertian hotel menurut SK Menteri Pariwisata, Pos, dan


Telekomunikasi No. KM 37/PW. 340/MPPT-86 dalam Sulastiyono (2011:6),
adalah "Suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh
bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makanan dan minuman, serta
jasa penunjang lainnya bagi umum yang dikelola secara komersial.

Berdasarkan definisi para ahli diatas maka penulis menyimpulkan bahwa


hotel adalah sebagai suatu usaha jasa yang merupakan sarana pendukung
kegiatan pariwisata, dimana pengelolaannya dilakukan secara professional
dan didukung oleh tenaga kerja yang memiliki keterampilan baik dalam bidang
perhotelan.

7
2.1.1 Fungsi Hotel

Hotel sebagai fasilitas akomodasi yang menyeediakan pelayanan jasa


penginapan, penyedia makanan dan minuman serta fasilitas jasa lainnya
dimana semua pelayanan itu diperuntukkan bagi masyarakat umum, baik
mereka yang bermalam di hotel tersebut ataupun mereka yang hanya
menggunakan fasilitas tertentu yang dimiliki hotel itu,

2.1.2 Karakteristik Hotel

Perbedaan antara hotel dengan industri lainnya adalah :

a. Industri hotel tergolong industry yang padat modal serta padat karya
yang artinya dalam pengelolaannya memerlukan modal usaha yang
besar dengan tenaga pekerja yang banyak pula.
b. Dipengaruhi oleh keadaan dan perubahan yang terjadi pada sektor
ekonomi, politik, sosial, budaya, dan keamanan dimana hotel tersebut
berada.
c. Menghasilkan dan memasarkan produknya bersamaan dengan tempat
dimana jasa pelayanannya dihasilkan.
d. Beroperasi selama 24 jam sehari, tanpa adanya hari libur dalam
pelayanan jasa terhadap pelanggan hotel dan masyarakat pada
umumnya.
e. Memperlakukan pelanggan seperti raja selain juga memperlakukan
pelanggan sebagai partner dalam usaha karena jasa pelayanan hotel
sangat tergantung pada banyaknya pelanggan yang menggunakan
fasilitas hotel tersebut.

2.2 Pengertian Resort

Resort adalah suatu perubahan tempat tinggal untuk sementara bagi


seseorang di luar tempat tinggalnya dengan tujuan antara lain untuk
mendapatkan kesegaran jiwa dan raga serta hasrat ingin mengetahui
sesuatu. Dapat juga dikaitkan dengan kepentingan yang berhubungan

8
dengan kegiatan olahraga, kesehatan, konvensi, keagamaan serta keperluan
usaha lainnya.

Resort adalah tempat beristirahat, tempat untuk tetirah.

Resort adalah tempat wisata atau rekreasi yang sering dikunjungi orang
dimana pengunjung datang untuk menikmati potensi alamnya.

Resort adalah sebuah kawasan yang terencana yang tidak hanya


sekedar untuk menginap tetapi juga untuk istirahat dan rekreasi.

2.3 Pengertian Hotel Resort

Menurut Ernest Neufert (1987:21 1), hotel resor/ resort hotel


merupakan hotel yang terletak di tepi pantai, di daerah pegunungan, atau
sumber air panas. Biasanya direncanakan untuk melayani akomodasi
pengunjung dalam rombongan paket wisata tertentu dengan penerimaan
tamu yang banyak pada masa liburan akhir pekan atau mereka yang hanya
berkunjung semalam. Restoran/ ruang makan yang ada harus dapat melayani
semua tamu di satu tempat, karena itu dibutuhkan ruang duduk/ tunggu yang
luas, ruang permainan, bar, dan jika mungkin kolam renang dan peralatan
olahraga. Ruang pertemuan juga disediakan untuk pertemuan di luar masa
liburan.

Hotel resort terbagi dalam beberapa jenis :

a. Resort pegunungan

Hotel resort ini terletak di kawasan pegunungan dengan panorama


yang indah dan hawa pegunungan yang sejuk.

b. Resort tempat wisata

Hotel resort ini terletak di kawasan wisata tertentu dengan penekanan


kedekatan dan penyatuan dengan lanskap dan kultur lokal obyek wisata
tersebut.

9
c. Resort pantai

Hotel resort ini terletak di kawasan pantai dengan panorama yang indah
dan hawa/ nuansa tropis dengan pancaran sinar matahari yang banyak.
Walter A. Rutes dan Richard Permen (1985) menyebutkan daya tarik yang
dijual hotel resort adalah panorama pantai yang didukung dengan berbagai
macam olahraga pantai bahkan menyediakan fasilitas tenis, golf, dan fitness
center dalam kapasitas besar di samping fasilitas pusat konferensi kegiatan
bisnis.

d. Resort spa/ kesehatan

Hotel resort tipe ini menawarkan kesenangan mandi dengan air mineral,
dan saat ini berkembang dengan fasilitas olahraga. Berbagai macam terapi
yang menggunakan air sebagai medianya ditawarkan dalam bentuk
semburan air, berendam air hangat, lulur, dan sebagainya.

e. Resort kondominium

Hotel resort tipe ini menawarkan penghunian dalam jangka waktu lama.
Resort jenis ini dikembangkan dari pengikutsertaan pemilik hunian suatu
komplek hunian dalam gedung, biasanya terdiri dari hunian tipe

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hotel resort merupakan


hotel yang terletak di kawasan wisata yang menyediakan jasa penginapan,
jasa makan dan minum, serta jasa lainnya yang dikelola secara komersial.
Umumnya terletak cukup jauh dari pusat kota dan secara total menyediakan
fasilitas untuk berlibur, rekreasi dan olahraga. Umumnya tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan menginap bagi pengunjung yang berlibur dan
menginginkan perubahan dari kegiatan sehari-hari.

10
3. Karakteristik Hotel Resort

Ada 4 (empat) karakteristik hotel resort sehingga dapat dibedakan


menurut jenis hotel lainnya, yaitu:

a. Lokasi

Umumnya berlokasi di tempat-tempat berpemandangan indah,


pegununganm tepi pantai dan sebagainya, yang tidak dirusak oleh
keramaian kota, lalu lintas yang padat dan bising, Hutan Beton
dan polusi perkotaan. Pada hotel resort, kedekatan dengan atraksi
utama dan berhubungan dengan kegiatan rekreasi merupakan
tuntutan utama pasar dan akan berpengaruh pada harganya.

b. Fasilitas
Motivasi pengunjung untuk bersenang-senang dengan mengisi
waktu luang menuntut ketersedianya fasilitas pokok serta fasilitas
rekreatif indoor dan outdoor. Fasilitas pokok adalah ruang tidur
sebagai area privasi. Fasilitas rekreasi outdoor meliputi kolam
renang, lapangan tenis dan penataan landscape.
c. Arsitektur dan Suasana
Wisatawan yang berkunjung ke hotel resort cenderung mencari
akomodasi dengan arsitektur dan suasana yang khusu dan berbeda
dengan jenis hotel lainnya. Wisatawan pengguna hotel resort
cenderung memilih suasana yang nyaman dengan arsitektur yang
mendukung tingkat kenyamanan dengan tidak meninggalkan citra
yang bernuansa etnik.
d. Segmen Pasar
Sasaran yang ingin dijangkau adalah wisatawan yang ingin
berlibur, bersenang-senang, menikmati pemandangan alam,
pantai, gunung dan tempat-tempat lainnya yang memiliki panorama
yang indah.

11
4. Prinsip Desain Hotel Resort
Penekanan perencanaan hotel yang diklasifikasikan sebagai hotel
resort dengan tujuan rekreasi dan relaksasi adalah adanya kesatuan antara
bangunan dengan lingkungan sekitarnya, sehingga dapat diciptakan
harmonisasi yang selaras. Disamping itu perlu diperhatikan pula bahwa suatu
tempat yang sifatnya rekreatif akan banyak dikunjungi wisatawan pada waktu-
waktu tertentu, yaitu pada hari libur. Oleh karena itu untuk mempertahankan
occupancy rate tetap tinggi, maka sangat perlu disediakan pula fasilitas yang
dapat dipergunakan untuk fungsi nonrekreatif seperti ruang serbaguna yang
dapat disewa oleh pengunjung untuk berbagai keperluan.
Setiap lokasi yang akan dikembangkan sebagai suatu tempat wisata
memiliki karakter yang berbeda yang memerlukan pemecahan yang khusus.
Dalam merencanakan sebuah hotel resort perlu diperhatikan prinsip-prinsip
desain sebagai berikut.
a. Kebutuhan dan persyaratan individu dalam melakukan kegiatan
wisata.
b. Pengalaman unik bagi wisatawan.
c. Menciptakan suatu citra wisata yang menarik.

5. Tinjauan Pariwisata

Pariwisata adalah suatu kegiatan berhubungan dengan perjalanan


untuk rekreasi, pelancongan, turisme. Pariwisata berasal dari Bahasa
Sansekerta, yaitu Pari yang berarti banyak, penuh, atau berputar-putar.
Wisata yaitu perjalanan atau dalam bahasa inggris disebut travel. Jadi
pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain.

Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata


termasuk pengusahaan obyek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang
terkait di bidang tersebut.

12
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melihat karakteristik
daerah tujuan wisata diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Sumber daya alam, kebudayaan dan manusianya, apakah memiliki


karakteristik yang khas untuk dijadikan daerah tujuan wisata yang
potensial atau tidak.
2. Aksesibilitas, ketersediaan sarana dan prasarana transportasi serta
kemudahan untuk menjangkau daerah wisata merupakan hal yang
mutlak diperlukan dalam industri kepariwisataan.
3. Kestabilan politik dan keamanan serta kebijakan pemerintah yang
mendukung kelancaran berjalannya industri pariwisata.
4. Akomodasi, sudah barang tentu keberadaan dan kenyamanan
akomodasi ini menjadi faktor utama yang dilihat di tempat tujuan wisata
sebelum kita melakukan wisata.
5. Pusat kesehatan (jaminan kesehatan), meskipun hanya sebagai
fasilitas penunjang saja, akan tetapi fasilitas kesehatan ini sepertinya
memang harus ikut diperhitungkan. Hal ini memberikan kenyamanan
tersendiri

6. Pariwisata Banten

Pariwisata merupaka sektor utama bagi Banten, khususnya wisata


pantai pada Kabupaten Pandeglang. Seiring dengan peran sektor pariwisata
sebagai salah satu sektor penggerak ekonomi Banten, dapat dikatakan bahwa
industry pariwisata Banten saat ini memiliki prospek yang baik dan memiliki
daya tarik yang kompetitif. Banyaknya obyek dan daya tarik wisata di Banten
telah menyerap kunjungan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun
wisatawan nusantara.

7. Tinjauan Kearifan Lokal

Lokalitas (locality) sebagai konsep umum berkaitan dengan tempat


atau wilayah tertentu yang terbatas atau dibatasi oleh wilayah lain. Lokaslitas
mengasumsikan adanya sejumlah garis pembatas yang bersifat permanen,
tegas, dan mutlak yang mengelilingi satu wilayah atau ruang tertentu. Dalam

13
konsep politik, terutama yang berkaitan dengan kekuasaan dan penguasaan
wilayah, lokalitas dengan sejumlah garis pembatas yang dimilikinya itu
diandaikan pula seperti berhadapan dengan kepungan garis pembatas lain
sebagai simbol atau representasi kekuasaan lain dalam posisi yang bisa
bersifat arbitrer atau bisa juga dalam posisi yang saling mengancam.

Dalam konteks budaya, lokalitas bergerak dinamis, licin, dan lentur,


meski kerap diandaikan tidak dapat dilepaskan dari komunitas kultural yang
mendiaminya, termasuk di dalamnya persoalan etnisitas. Secara metaforis, ia
merupakan wilayah yang masyarakatnya secara mandiri dan arbitrer bertindak
sebagai pelaku dan pendukung kebudayaan tertentu. Atau komunitas itu
mengklaim sebagai warga yang mendiami wilayah, dan pemilik-pendukung
kebudayaaan tertentu. Ia bergerak dalam sebuah komunitas dengan sejumlah
sentiment, emosi, harapan, dan pandangan hidup yang direpresentasikan
melalui kesamaan Bahasa dan perilaku dalam tata kehidupan sehari-hari.

Ada garis imajinatif yang seolah-olah menjadi penanda untuk pembatas


relatif berdasarkan garis keturunan, genealogi, atau lingkaran kehidupan
sosio-kultural. Oleh karena itu, lokalitas budaya, lantaran sifatnya yang
dinamis, licin, dan lentur, dapat ditarik ke belakang yang menyentuh tradisi
dan kearifan masyarakat dalam menyikapi masa lalu, ke depan yang
mengungkapkan harapan ideal yang hendak dicapai sebagai tujuan, ke
sekitarnya dalam konteks kekinianm berkaitas dengan kondisi dan berbagai
fenomena yang sering terjadi, atau bahkan ke segala arah yang menerabas
lokalitas budaya yang lain.

14
BAB III
Tinjauan Khusus

3.1 Tinjauan Terhadap Lokasi Perencanaan

3.1.1 Lokasi

Lokasi perencanaan untuk perancangan kawasan Hotel Resort ini


mengambil lokasi di Kecamatan Labuan, Provinsi Banten tepatnya
berada di Desa Caringin. Lokasi ini dipilih karena penyediaan akomodasi
yang berbentuk Hotel Resort pada kawasan tersebut masih minim.
Selain itu juga memiliki beberapa potensi, yaitu berada tepat di samping
Makam Syekh Asnawi, yang biasa dikunjungi untuk berziarah.

Gambar 3.1 Lokasi Tapak dari Tampak Satelit, Kecamatan Labuan,


Pandeglang, Banten

15
3.1.2 Letak Geografis

Wilayah Banten terletak di antara 57'50"-71'11" Lintang


Selatan dan 1051'11"-1067'12" Bujur Timur, berdasarkan Undang
Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2000 luas wilayah Banten
adalah 9.160,70 km. Provinsi Banten terdiri dari 4 kota, 4 kabupaten,
154 kecamatan, 262 kelurahan, dan 1.273 desa.

Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial,


Selat Sunda merupakan salah satu jalur lalu lintas laut yang strategis
karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan
Selandia Baru dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand,
Malaysia, dan Singapura. Di samping itu Banten merupakan jalur
penghubung antara Jawa dan Sumatera. Bila dikaitkan posisi geografis,
dan pemerintahan maka wilayah Banten terutama daerah Tangerang
raya (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang
Selatan) merupakan wilayah penyangga bagi Jakarta. Secara ekonomi
wilayah Banten memiliki banyak industri. Wilayah Provinsi Banten juga
memiliki beberapa pelabuhan laut yang dikembangkan sebagai
antisipasi untuk menampung kelebihan kapasitas dari pelabuhan laut di
Jakarta, dan ditujukan untuk menjadi pelabuhan alternatif selain
Singapura.

Adapun batas wilayah Banten yaitu sebagai berikut :

1) Sebelah Utara : Laut Jawa

2) Sebelah Selatan : Samudera Indonesia

3) Sebelah Barat : Selat Sunda

4) Sebelah Timur : DKI Jakarta dan Jawa Barat

16
Gambar 3.2 Peta Batas Wilayah Banten

17
Gambar 3.3 Peta Potensi Wisata di Provinsi Banten

3.1.3 Topografi

Kondisi topografi Banten adalah sebagai berikut:

Wilayah datar (kemiringan 0-2 %) seluas 574.090 hektare

Wilayah bergelombang (kemiringan 2-15%) seluas 186.320 hektare

Wilayah curam (kemiringan 15-40%) seluas 118.470,50 hektare

Topografi wilayah Provinsi Banten berkisar pada ketinggian 0 -


1.000 m dpl. Secara umum kondisi topografi wilayah Provinsi Banten
merupakan dataran rendah yang berkisar antara 0 - 200 m dpl yang
terletak di daerah Kota Cilegon, Kota Tangerang, Kabupaten
Pandeglang, dan sebagian besar Kabupaten Serang. Adapun daerah
Lebak Tengah dan sebagian kecil Kabupaten Pandeglang memiliki

18
ketinggian berkisar 201 - 2.000 m dpl dan daerah Lebak Timur memiliki
ketinggian 501 - 2.000 m dpl yang terdapat di Puncak Gunung
Sanggabuana dan Gunung Halimun.

Kondisi topografi suatu wilayah berkaitan dengan bentuk raut


permukaan wilayah atau morfologi. Morfologi wilayah Banten secara
umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu morfologi dataran, perbukitan
landai-sedang (bergelombang rendah-sedang) dan perbukitan terjal.

Morfologi Dataran Rendah umumnya terdapat di daerah bagian


utara dan sebagian selatan. Wilayah dataran merupakan wilayah yang
mempunyai ketinggian kurang dari 50 meter dpl (di atas permukaan laut)
sampai wilayah pantai yang mempunyai ketinggian 0 1 m dpl.

Morfologi Perbukitan Bergelombang Rendah - Sedang sebagian


besar menempati daerah bagian tengah wilayah studi. Wilayah
perbukitan terletak pada wilayah yang mempunyai ketinggian minimum
50 m dpl. Di bagian utara Kota Cilegon terdapat wilayah puncak Gunung
Gede yang memiliki ketingian maksimum 553 m dpl, sedangkan
perbukitan di Kabupaten Serang terdapat wilayah selatan Kecamatan
Mancak dan Waringin Kurung dan di Kabupaten Pandeglang wilayah
perbukitan berada di selatan. Di Kabupaten Lebak terdapat perbukitan di
timur berbatasan dengan Bogor dan Sukabumi dengan karakteristik
litologi ditempati oleh satuan litologi sedimen tua yang terintrusi oleh
batuan beku dalam seperti batuan beku granit, granodiorit, diorit dan
andesit. Biasanya pada daerah sekitar terobosaan batuan beku tersebut
terjadi suatu proses remineralisasi yang mengandung nilai sangat
ekonomis seperti cebakan bijih timah dan tembaga.

19
3.1.4 Iklim

Iklim wilayah Banten sangat dipengaruhi oleh Angin Monson


(Monson Trade) dan Gelombang La Nina atau El Nino. Saat musim
penghujan (Nopember - Maret ) cuaca didominasi oleh angin Barat (dari
Sumatera, Samudra Hindia sebelah selatan India) yang bergabung
dengan angin dari Asia yang melewati Laut Cina Selatan. Agustus),
cuaca didominasi oleh angin Timur yang menyebabkan wilayah Banten
mengalami kekeringan yang keras terutama di wilayah bagian pantai
utara, terlebih lagi bila berlangsung El Nino. Temperatur di daerah pantai
dan perbukitan berkisar antara 22 C dan 32 C, sedangkan suhu di
pegunungan dengan ketinggian antara 400 1.350 m dpl mencapai
antara 18 C 29 C.

Curah hujan tertinggi sebesar 2.712 3.670 mm pada musim


penghujan bulan September Mei mencakup 50% luas wilayah
Kabupaten Pandeglang sebelah barat dan curah 335 453 mm pada
bulan September Mei mencakup 50% luas wilayah Kabupaten Serang
sebelah Utara, seluruh luas wilayah Kota Cilegon, 50% luas wilayah
Kabupaten Tangerang sebelah utara dan seluruh luas wilayah Kota
Tangerang. Pada musim kemarau, curah hujan tertinggi sebesar 615
833 mm pada bulan April Desember mencakup 50% luas wilayah
Kabupaten Serang sebelah utara, seluruh luas wilayah Kota Cilegon,
50% luas wilayah Kabupaten Tangerang sebelah utara dan seluruh luas
wilayah Kota Tangerang, sedangkan curah hujan terendah pada musim
kemarau sebanyak 360 486 mm pada bulan Juni September
mencakup 50% luas wilayah Kabupaten Tangerang sebelah selatan dan
15% luas wilayah Kabupaten Serang sebelah Tenggara.

20
3.2 Kondisi Non Fisik

3.2.1 Jumlah Pengunjung

Jumlah pengunjung yang datang ke Provinsi Banten setiap tahun


cukup dinamis, tapi di beberapa tahun terakhir menunjukkan angka
yang cukup tinggi.

Gambar 3.4 Tabel Data Pengunjung Tamu Indonesia pada Hotel Bintang
Menurut Provinsi Tahun 2003-2015

21
3.2.2 Jumlah Akomodasi, Kamar, dan Tempat Tidur yang Tersedia
pada Hotel Bintang

Jumlah ketersediaan akomodasi, kamar dan tempat tidur yang


tersedia pada hotel bintang mengalami kenaikan, tetapi apabila
dihubungkan dengan data jumlah pengunjung, masih belum memenuhi
jumlah pengunjung.

Gambar 3.5 Tabel Data Jumlah Akomodasi, Kamar, dan Tempat Tidur yang
Tersedia pada Hotel Bintang

3.2.3 Rencana Tata Ruang Wilayah

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Banten, dapat


dilihat bahwa daerah Labuan, merupakan daerah dengan fungsi zonasi
sebagai permukiman. Maka pada daerah tersebut dapat dibuat Hotel
Resort untuk kepentingan wisata dan akomodasi bagi wisatawan yang
berkunjung. Dan memang di daerah tersebut direncanakan untuk zona
pengembangan Kawasan Wisata Pantai Barat

22
Gambar 3.6 Peta Rencana Pola Ruang Provinsi Banten 2010-2030

Gambar 3.7 Peta Pengembangan Pariwisata Provinsi Banten 2010-2030

23
3.3 Kondisi Tapak Terpilih

Perencanaan pembangunan Hotel Resort di Pantai Caringin, Kecamatan


Labuan, Kabupaten Pandeglan, Banten dibatasi oleh peraturan pemerintah
yang meliputi :

1. Luas tapak : 40.000 m2

Gambar 3.8 Kondisi Tapak Terpilih

24
BAB IV
Analisa Perencanaan dan Perancangan

4.1 Analisa Perencanaan

4.1.1 Analisis Pelaku

Pelaku kegiatan hotel resort terbagi menjadi dua yaitu tamu dan
pengelola. Pengelola dapat dibagi menjadi dua yaitu administrasi dan
servis, dan tamu dapat dibagi menjadi dua yaitu tamu yang menginap
dan tidak menginap. Tamu yang menginap adalah tamu yang menyewa
kamar hotel dan tamu yang tidak menginap adalah tamu yang hanya
menggunakan fasilitas hotel.

A. Pengelola

Pengelola adalah orang yang mengkoordinir segala kegiatan yang


berlangsung di hotel resort dan bertanggung jawab atas kenyamanan
aktivitas bagi pengunjung. Pengelola dapat dikelompokkan lagi menurut
kegiatan dan tugas yang dijalani, yaitu:

1. Pimpinan

Jabatan pimpinan dipegan oleh direktur yang memegang tanggung


jawab utama atas pengelolaan dan keberlangsungan hotel.

2. Staff front office

Peran dan fungsinya adalah menyewakan kamar pada tamu. Oleh


karena fungsinya, maka letak staff front office berada di bagian yang
paling mudah dilihat orang. Untuk membantu pelaksana fungsi bagian
staff front office tersebut, maka bagian staff front office terbagi menjadi
beberapa sub bagian yang masing-masing sub bagian memiliki fungsi
pelatanan yang berbeda. Sub tersebut antara lain:

25
a) Pelayanan pemesanan kamar
- melayani pemesanan kamar dari berbagai sumber dan cara
pemesanan
- mengarsipkan pemesanan kamar
- melakukan pengecekan kamar yang terpakai atau belum
b) Pelayanan informasi
- Bertugas memberikan penjelasan-penjelasan informasi yang
diperlukan tamu yang menginap maupun tidak menginap
c) Pelayanan Check-in dan out
- Bagian resepsionis adalah bagian yang melakukan pendaftaran
semua yamu yang datang untuk menginap.
d) Staff housekeeping
- Bagian housekeeping merupakan salah satu bagian yang
mempunyai peranan dan fungsi yang cukup vital dalam memberi
pelayanan pada tamu, yang menyangkut pelayanan keamanan dan
kebersihan kamar hotel.
e) Staff food and beverage
- Bagian yang bertugas melayani makanan dan minuman pada hotel.
f) Staff accounting department
- Bertugas mengatur keuangan hotel baik pemasukan dan
pengeluaran.
g) Staff security department
Bertugas dan bertanggung jawab dalam kemanan hotel. Yang dibahi
menjadi beberapa bagian:
- Kelompok keamanan luar
- Kelompok keamanan dalam
- Kelompok keamanan khusus

26
A. Tamu

Tamu adalah faktor utama keberlangsungan kegiatan yang terdapat


dalam hotel. Tamu adalah orang-orang yang berkunjung untuk keperluan
menginap, rekreasi, dan menikmati fasilitas-fasilitas yang disediakan
hotel. Tamu dibedakan menjadi dua bagian, yaitu:

1. Tamu yang menginap

Tamu yang menginap adalah tamu yang berhak menikmati dan


mengakses fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh hotel resort.

1. Tamu yang tidak menginap

Tamu yang tidak menginap adalah tamu yang hanya dapat menikmati
fasilitas-fasilitas publik yang ditawarkan seperti ruang serbaguna untuk
rapat, seminar, maupun kegiatan lainnya.

4.1.2 Alur Kegiatan

Alur kegiatan menurut jenis kegiatan yang ada, yaitu:

1. Kegiatan utama :

Kegiatan menginap yang dilakukan oleh tamu hotel resort.

Datang -> Parkir kendaraan -> Check-in informasi -> Menyewa kamar
-> Kegiatan pelengkap -> Tidur, istirahat -> Pulang

2. Kegiatan pelengkap

Kegiatan pelengkap yang dilakukan oleh tamu hotel resort.

Datang -> Parkir kendaraan -> Check-in informasi ->


Berenang/outbond/makan/rekreasi/rapat -> Parkir -> Pulang

27
4.1.3 Analisa Kegiatan

Kegiatan di dalam hotel resort terbagi menjadi beberapa kegiatan,


yaitu :

A. Kegiatan Utama

Kegiatan utama tamu yang menginap atau beristirahat pada suatu


ruang hotel memiliki beberapa sifat, sifat ini terdiri dari dua golongan,
yaitu:

- Kegiatan dalam ruang tidur dengan melakukan sedikit gerakan,


misalnya melihat pemandangan luar melalui bukaan, makan, minum,
mandi, duduk.
- Kegiatan yang tidak melakukan gerak aktif misalnya tidur.

B. Kegiatan Pelengkap

Kegiatan pelengkap/penunjang merupakan kegiatan yang dilakukan


untuk mengisi waktu luang, misalnya rekreasi, olahraga.

C. Kegiatan Pelayanan

- Merupakan kegiatan yang melayani aktivitas utama pengunjung


- Kegiatan tambahan merupakan kegiatan yang melayani fasilitas
pendukung kegiatan pokok seperti laundry, parkir.

4.1.3 Kebutuhan Ruang

1. Zona penerima.

28