Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan pendaftaran adalah mencatat data sosial atau mendaftar
pasien untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, atau
mencatat hasil pelayanannya. RS Bina Sehat Kabupaten Jember harus
menyediakan skrining medis yang sesuai untuk setiap orang yang datang ke
rumah sakit yang meminta pemeriksaan atau pengobatan untuk suatu kondisi
medis. Skrining medis harus dapat digunakan untuk menentukan apakah
pasien mempunyai kondisi medis yang emergesi.
Suatu kondisi medis yang emergesi berarti pasien dengan gejala akut
yang cukup berat dan tanpa perhatian medis yang segera dapat diperkirakan
akan mengakibatkan kesehatan pasien dalam bahaya yang serius, gangguan
fungi tubuh yang serius, atau disfungsi yang serius dari organ tubuh atau
bagian.
Pasien bukan emergensi akan mendapat perawatan yang kontinue
sesuai dengan status klinisnya dan sumber daya yang tersedia. Untuk pasien
yang membutuhkan pelayanan diluar dari yang tersedia di RS Bina Sehat
Jember, pasien akan dipindahkan atau dirujuk ke fasilitas perawatan
kesehatan yang sesuai mempunyai perjanjian dan hubungan dengan
organisasi atau fasilitas agar dapat memberikan pasien perawatan yang
sesuai jika sumber daya yang dibutuhkan tidak tersedia di RS Bina Sehat
Jember.
Struktur dari kebijakan ini terdiri dati 3 bagian ; bagian I : kebijakan
utama, bagian II : ruang lingkup pelayanan di RS Bina Sehat Jember, bagian
III : pedoman akses untuk perawatan dan penerimaan. Walapun terdapat
perbedaan dalam setiap aspek menurut persyaratan praktis dari pelayanan,
persyaratan tersebut akan mempunyai prinsip umum yang sama. Dokumen ini
berlaku untuk semua petugas kesehatan yang bekerja di RS Bina Sehat
Jember termasuk para manajer, bidan , perawat, dokter, dan petugas
kesehatan yag berhubungan atau siapapun yang membuat kontak pertama
dengan pasien dan melakukan penilaian mengenai kebutuhan pasien
tersebut.

1
B. TUJUAN
1. Tujuan umum adalah meregistrasi pasien untuk memastikan agar catatan
pelayanan kesehatan pasien sekarang, sebelumnya dan berikutnya
terangkum didalam satu catatan rekam medis yang sama .
2. Tujuan khusus dari pendaftaran rawat jalan adalah ;
a. Untuk membangun respon yang sesuai oleh unit emergensi
dalam menerima, menyaring dan menstabilkan pasien yang
datang dengan kondisi klinis darurat.
b. Untuk memastikan standarisasi penerimaan pasien rawat inap,
dan pendaftaran pelayanan pasien rawat jalan.
c. Untuk memberikan pedoman bagi semua staf petugas
kesehatan dalam memberikan perawatan untuk proses akses
bagi pasien untuk mendapat perawatan serta kontinuitas
pelayanan.

C. RUANG LINGKUP
Pasien dapat mengakses layanan perawatan di unit emergensi dan VK
24 jam per hari, 7 hari per minggu 52 minggu per tahun. Pasien akan di triase
dan dikategorikan untuk penilaian dan perawtan dapat dilakukan pada saat
yang bersamaan.
Pasien dapat melakukan akses untuk mendapat perawatan ;
1. Rawat jalan poliklinik dan One Day Care (ODC)
2. Unit emergensi
3. VK
Pasien hanya dapat dilayani di RS Bina Sehat Jember jika tersedia
jenis layanan yang dibutuhkan. Apabila layanan yang dibutuhkan tidak
memadai atau tidak ada, maka pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain yang
memiliki kebutuhan jenis layanan uang dibutuhkan pasien saat itu dengan
sebelumnya dilakukan tes pemeriksaan penunjang sebagai dasar
pengambilan keputusan sesuai standart pelayanan medis.
Pasien akan dipindahkan ke rumah sakit lain, untuk mendapatkan
pelayanan yang sesuai, ketika tidak tersedianya pelayanan tersebut di RS
Bina Sehat Jember atau jika pasien ingin untuk dipindahkan ke rumah sakit
dikarenakan asuransi atau masalah lainnya (merujuk kepada kebijakan
transfer pasien). Pada pasien dengan hambatan / keterbatasan / kendala fisik
/ komunikasi / bahasa / budaya, RS Bina Sehat Jember memfasilitasi untuk
menyelsaikan kendala tersebut.

2
BAB II
TATA LAKSANA

A. TANGGUNG JAWAB

Direktur bertanggung jawab untuk memastikan bahwa mekanisme protokol


yang dijelaskan dalam kebijakan ini dan dokumen yang terkait tersedia untuk
implementasi, monitoring dan revisi kebijakan ini secara keseluruhan
serta dapat diakses dan dimengerti oleh semua staf terkait. Yang terlibat
dalam tata laksana ini bertanggung jawab untuk memastikan bahwa
semua manajer menyebarkan kebijakan ini diwilayah yang menjadi
tanggung jawab mereka,mengimplementasikan kebijakan ini di dalam
wilayah yang menjadi tanggung jawab mereka, mengidentifikasi dan
mengalokasikan sumber daya yang tepat untuk terpenuhinya kebijakan ini
dan memastikan bahwa semua staf dibawah pengawasan Direktur.

Manajer Pelayanan Pasien bertanggung jawab untuk memastikan bahwa


audit internal dilaksanakan

Kepala Urusan Admisi bertanggung jawab untuk implementasi kebijakan


yang dikelola dan harus memastikan bahwa semua staf baru dan lama
mempunyai akses dan tau mengenai kebijakan Direktur, SPO dan formulir
lain yang terkait dan dipantau kepatuhannya.

Semua Staf Admisi bertanggung jawab untuk mengimplementasikan semua


kebijakan Direktur dalam hubungannya dan memastikan bahwa mereka
mengerti semua kebijakan serta melaksanakan semua kebijakan tersebut dan
SPO lainnya.

B. TATA LAKSANA
Semua pasien yang mendapatkan pelayanan perawatan kesehatan
atau yang akan mendapatkan pelayanan kesehatan harus diregistrasikan di
dalam data pasien dan mendapatkan nomor rekam medis meliputi pasien
rawat inap termasuk bayi baru lahir, serta mengindentifikasi pasien.
1. Proses penerimaan pasien rawat jalan
a. Pasien datang ke bagian admisi dan diterima oleh petugas admisi
b. Petugas menanyakan apakah pasien tersebut merupakan pasien baru
(pasien yang pertama kali berkunjung, tidak membawa kartu berobat
dan kehilangan kartu) atau pasien lama.

3
c. Jika pasien tersebut adalah pasien baru, maka petugas admisi
mendaftar pasien sebagai berikut ;
1). Petugas admisi akan mengidentifikasi pasien sesuai dengan
identitas diri (KTP/SIM)
2). Jika pasien mempunyai asuransi maka petugas admisi meminta
kartu asuransi untuk di swipe dan konfirmasi ke asuransi terkait serta
meminta foto copy KTP maupun kartu asuransi tersebut.
3). Petugas admisi memasukkan data ke system IT sesuai kebenaran
data pasien.
4). Petugas mencetak Kartu berobat dan memberikan kepada pasien
untuk disimpan agar dibawa kembali ketika berobat.
d. Jika pasien tersebut adalah pasien lama
1). Petugas menerima dan meneliti antara kartu identitas diri dengan
kartu berobat
2). Petugas mendaftar pasien sesuai dengan pelayanan yang akan
dituju
3). Petugas rekam medis mengambil berkas rekam medis dan
menyerahkan ke unit yang dituju
2. Proses Penerimaan Pasien Rawat Inap
Pasien dapat didaftarkan masuk ke rumah sakit oleh dokter jaga IGD
maupun dokter spesialis yang memiliki ijin praktek di RS Bina Sehat
Jember. Dokter jaga IGD/poliklinik maupun dokter spesialis akan
membuat surat pengantar rawat inap sesuai kondisi pasien dan
diagnosis sementara kepada admisi. Penerimaan pasien non emergensi
atau pasien rujukan harus dilakukan verivikasi terlebih dahulu mengenai
kelayakan pasien serta kesediaan unit pelayanan sesuai kebutuhan
pasien untuk dirawat di RS. Bina Sehat Jember.
Petugas admisi memerlukan kelengkapan lembar kerja admisi dan
memberikan kepada dokter pemberi surat pengantar rawat inap baik dari
IGD maupun dari poliklinik.

C. PENGATURAN KAMAR RAWAT


Alokasi kamar di RS. Bina Sehat adalah sebagai berikut :
a. Ruang Anak
b. Ruang Iman
c. Ruang HCU
d. Ruang ICU
e. Ruang Rawat Gabung

4
f. Ruang Syukur
g. Ruang Ihsan
h. Ruang Aulia
i. Ruang Stroke Center
j. Ruang Perinatologi
Pengalokasian kamar dikendalikan oleh petugas admisi. Pasien
diperbolehkan untuk memilih kelas ruagan yang di inginkan, terkecuali
pasien dengan kebutuhan ruang isolasi atau pelayanan intensive setelah
dikaji / assesment oleh dokter.
Jika kelas kamar yang diminta tidak ada akan ditawarkan kelas yang
tersedia. Jika pasien tetap menolak, permintaan akan disampaikan kepada
manajemen untuk ditindaklanjuti. Jika semua kamar tidak tersedia maka
pasien akan dirujuk. Pasien yang sudah tidak ada indikasi rawat inap
disegerakan untuk dipulangkan dari RS untuk berobat jalan.
Box neonates yaitu bayi baru lahir maka tarif yang berlaku adalah sesuai
dengan kelar kamar ibu nya.
Pengaturan tenaga kerja RS Bina Sehat Jember di unit pelayanan admisi
berdasarkan sistem shift dapat dilihat di bawah ini :
a. Karyawan Shift
Senin Minggu
Shift 1 : 07.00 14.00 WIB
Shift II : 14.00 21.00 WIB
Shift III : 21.00 07.00 WIB

b. Karyawan Non Shift


Senin Sabtu : 07.00 14.00 WIB

D. BEBAN KERJA DAN KEBUTUHAN


a. Beban Kerja
Dalam perhitungan beban kerja perlu diperhatikan faktor-faktor yang
berpengaruh pada kegiatan yang dilakukan, yaitu :
Perhitungan Beban Kerja
Perhitungan kebutuhan petugas admisi berdasarkan beban kerja pada
pelayanan admisi di rumah sakit yang meliputi pelayanan penerimaan
pasien rawat jalan, penerimaan pasien rawat inap, pelayanan pengajuan
akta kelahiran dan kematian, pelayanan penrmintaan resume medis,
pendistribusian koran dan admisi sebagai operator rumah sakit.

5
Idealnya dibutuhkan tenaga admisi sejumlah 10 tenaga, dengan
klasifikasi 1 tenaga kepala urusan admisi dan 9 tenaga pelaksana admisi
untuk pelayanan pasien Rumah Sakit Bina Sehat

6
BAB III
STANDAR FASILITAS

A. Denah Ruang
Fasilitas bangunan, ruangan dan peralatan harus memenuhi ketentuan dan
kebutuhan pelayanan admisi rumah sakit :
a. Lokasi harus menyatu dengan sistem pelayanan Rumah Sakit.
b. Dipisahkan antara fasilitas maupun tenaga untuk penyelenggaraan
manajemen, pelayanan langsung pada pasien dan layanan sebagai
operator telepon rumah sakit.
c. Persyaratan ruang tentang suhu, pencahayaan, kelembaban, tekanan
dan keamanan baik dari pencuri maupun binatang pengerat. Fasilitas
peralatan memenuhi persyaratan yang ditentukan terutama untuk
perlengkapan layanan pasien secara langsung.
B. Standar Fasilitas
Rumah Sakit harus mempunyai ruang khusus untuk penyelenggaraan
manajemen, ruang pelayanan pasien dan ruang tunggu pelayanan
pasien yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan, serta harus
memperhatikan kondisi ruangan yang sejuk, sanitasi dan pemisahan
antara meja pelayanan pasien dan ruang tunggu pelayanan pasien.

C. Peralatan
Fasilitas peralatan memenuhi persyaratan yang ditetapkan terutama untuk
perlengkapan pembuatan kartu berobat/kunjungan, pembuatan label
identitas pasien dan pembuatan gelang identitas pasien. Fasilitas peralatan
tersebut harus dijamin sensitif pada pengukuran dan memenuhi
persyaratan untuk peralatan tertentu setiap tahun.
Peralatan minimal yang harus tersedia:
a. Peralatan untuk mencetak kartu kunjungan/kartu berobat
b. Peralatan kantor untuk administrasi dan arsip.
c. Registrasi data pasien.
d. AC untuk ruang pelayanan admisi pasien .
e. Alarm.
Macam- macam Peralatan
1. Peralatan Kantor
- Furniture (meja, kursi, lemari buku/rak, filling cabinet,dll)
- Komputer
- Alat tulis kantor

7
- Telepon
- Mesin pencetak gelang dan label identitas pasien
- Mesin pencetak kartu kunjungan pasien
2. Peralatan Sistem Komputerisasi
Sistem komputerisasi harus diadakan dan difungsikan secara optimal
untuk kegiatan sekretariat, pengurusan asuransi dan perusahaan
kerjasama, registrasi data dan pelayanan pasien lainnya. Sistem
informasi layanan pasien ini harus terintegrasi dengan sistem informasi
Rumah Sakit untuk meningkatkan efisiensi fungsi manajerial dan agar
data pasien mudah di registrasi kembali guna kebutuhan resume medis
pasien. Sistem komputerisasi meliputi :
1) Jaringan
2) Perangkat keras
3) Perangkat lunak (program aplikasi)
3. Peralatan Produksi
- Peralatan pelayanan admisi untuk pembuatan gelang identitas
pasien, label identitas pasien dan kartu kunjungan pasien.
- Peralatan harus dapat menunjang persyaratan keamanan dan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
4. Pendistribusian / pelayanan
- Pelayanan pasien rawat inap
- Pelayanan pasien rawat jalan IGD
- Pelayanan permintaan resume medis dan surat keterangan
- Pelayanan pengajuan pembuatan kartu keluarga dan akta kelahiran
- Layanan operator telepon 24 jam
- Kebutuhan ruang perawatan / unit lain.

8
BAB IV
KESELAMATAN PASIEN

A. Pengertian
Patient Safety atau keselamatan pasien adalah suatu sistem yang
membuat asuhan pasien di rumah sakit menjadi lebih aman. Sistem ini
mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil. Maksud dari sasaran Keselamatan Pasien adalah
mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien ini menyoroti
bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan
memberikan bukti serta solusi dari konsensus para ahli atas permasalahan ini.
Dalam pelayanan farmasi sasaran keselamatan pasien adalah keamanan
obat yang perlu diwaspadai.

B. Tujuan
Tujuan Patient Safety adalah
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di Rumah Sakit.
2. Meningkatnya akuntabilitas Rumah Sakit terhadap pasien dan
masyarakat.
3. Menurunkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di Rumah Sakit dalam
penggunaan obat.
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) dalam pemakaian obat.

C. Tata Laksana Keselamatan


Pelaksaanaan Patient Safety meliputi :
1. Membuat daftar obat-obatan baik yang aman maupun yang harus
diwaspadai.
2. Memberi label yang jelas pada obat-obat yang harus diwaspadai.
3. Membatasi akses masuk dan hanya orang tertentu yang boleh masuk
ke dalam tempat penyimpanan obat yang perlu diwaspadai untuk
mencegah pembelian tidak sengaja/kurang hati-hati.
4. Obat/konsentrat tinggi tidak boleh diletakkan di dalam ruang pelayanan.
5. Tempat pelayanan obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya
mirip tidak diletakkan di dalam 1 rak/disandingkan.
Tanggung jawab

9
- Tanggung jawab tahapan proses diatas dipegang oleh kepala
Instalasi farmasi setiap unit yang terkait.
- Apabila yang tersebut diatas tidak ada maka tanggung jawab
dialihkan ke kepala masing-masing instalasi atau staf pengganti
yang telah ditunjuk.

D. Keselamatan Pasien Dalam Pelayanan Kefarmasian


Dalam membangun keselamatan pasien banyak istilah yang perlu difahami
dan disepakati bersama. Istilah-istilah tersebut diantaranya adalah:

Kejadian Tidak Diharapkan/KTD (Adverse Event)


Kejadian Nyaris Cedera/KNC (Near Miss)
Kejadan Sentinel
Adverse Drug Event
Adverse Drug Reaction
Medication Error
Efek samping obat
Menurut Nebeker JR dkk. dalam tulisannya Clarifying Adverse Drug Events: A
Clinicians Guide to terminology, Documentation, and Reporting, serta dari Glossary
AHRQ (Agency for Healthcare Research and Quality) dapat disimpulkan definisi
beberapa istilah yang berhubungan dengan cedera akibat obat sebagaimana yang
disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Ringkasan definisi yang berhubungan dengan cedera akibat obat

Istilah Definisi Contoh

Terjadi cedera

Kejadian cedera pada pasien Iritasi pada kulit karena


selama proses
terapi/penatalaksanaan medis. penggunaan perban.

Kejadian yang tidak Penatalaksanaan medis Jatuh dari tempat tidur.


diharapkan mencakup seluruh aspek
pelayanan, termasuk diagnosa,
(Adverse Event)
terapi, kegagalan diagnosa/terapi,
sistem, peralatan untuk
pelayanan. Adverse event dapat
dicegah atau tidak dapat dicegah.

Reaksi obat yang Kejadian cedera pada pasien Steven-Johnson


tidak diharapkan selama proses terapi akibat Syndrom : Sulfa, Obat
(Adverse Drug penggunaan obat. epilepsi dll
Reaction)

10
Kejadian tentang Respons yang tidak diharapkan Shok anafilaksis
obat yang tidak terhadap terapi obat dan pada penggunaan
diharapkan mengganggu atau menimbulkan antbiotik
golonganpenisilin
cedera pada penggunaan obat
(Adverse Drug Mengantuk pada
dosis normal. Reaksi Obat Yang penggunaan CTM
Event) Tidak Diharapkan (ROTD) ada
yang berkaitan dengan efek
farmakologi/mekanisme kerja
(efek samping) ada yang tidak
berkaitan dengan efek
farmakologi (reaksi
hipersensitivitas).

Efek obat yang tidak Respons yang tidak diharapkan Shok anafilaksis
diharapkan terhadap terapi obat dan pada penggunaan
mengganggu atau menimbulkan antbiotik golongan
(Adverse drug penisilin.
cedera pada penggunaan obat
Mengantuk pada
dosis lazim. Sama dengan ROTD penggunaan CTM
effect)
tapi dilihat dari sudut pandang
obat. ROTD dilihat dari sudut
pandang pasien.

Cedera dapat
terjadi / tidak terjadi

Medication Error Kejadian yang dapat dicegah Peresepan obat yang


akibat penggunaan obat, yang tidak rasional.
menyebabkan cedera.
Kesalahan perhitungan
dosis pada peracikan.

Ketidakpatuhan pasien
sehingga terjadi dosis
berlebih.

Efek Samping Efek yang dapat diprediksi, sebaiknya istilah ini


tergantung pada dosis, yang
bukan efek tujuan obat. Efek dihindarkan)
samping dapat dikehendaki, tidak
dikehendaki, atau tidak ada
kaitannya.

Apoteker harus mampu mengenali istilah-istilah di atas beserta contohnya


sehingga dapat membedakan dan mengidentifikasi kejadian-kejadian yang
berkaitan dengan cedera akibat penggunaan obat dalam melaksanakan program
Keselamatan pasien. Berdasarkan laporan IOM (Institute of Medicine) tentang
adverse event yang dialami pasien, disebutkan bahwa insiden berhubungan dengan
pengobatan menempati urutan utama. Disimak dari aspek biaya, kejadian 459
adverse drug event dari 14732 bernilai sebesar $348 juta, senilai $159 juta yang
dapat dicegah (265 dari 459 kejadian). Sebagian besar tidak menimbulkan cedera
namun tetap menimbulkan konsekuensi biaya.

Atas kejadian tersebut, IOM merekomendasikan untuk :

a. Menetapkan suatu fokus nasional terhadap isu tersebut

11
b. Mengembangkan suatu sistem pelaporan kesalahan secara nasional
c. Meningkatkan standar organisasi
d. Menciptakan sistem keselamatan dalam organisasi kesehatan.
Penelitian terbaru (Allin Hospital) menunjukkan 2% dari pasien masuk rumah
sakit mengalami adverse drug event yang berdampak meningkatnya Length Of Stay
(LOS) 4.6 hari dan meningkatkan biaya kesehatan $ 4.7000 dari setiap pasien yang
masuk rumah sakit. Temuan ini merubah tujuan pelayanan farmasi rumah sakit
tersebut : a fail-safe system that is free of errors. Studi yang dilakukan Bagian
Farmakologi Universitas Gajah Mada (UGM) antara 2001-2003 menunjukkan bahwa
medication error terjadi pada 97% pasien Intensive Care Unit (ICU) antara lain
dalam bentuk dosis berlebihan atau kurang, frekuensi pemberian keliru dan cara
pemberian yang tidak tepat.

Lingkup perpindahan/perjalanan obat (meliputi obat, alat kesehatan, obat


untuk diagnostik, gas medis, anastesi) : obat dibawa pasien di komunitas, di rumah
sakit, pindah antar ruang, antar rumah sakit, rujukan, pulang, apotek, praktek
dokter.

Multidisiplin problem, dipetakan dalam proses penggunaan obat : pasien/care


giver, dokter, apoteker, perawat, tenaga asisten apoteker, mahasiswa, teknik,
administrasi, pabrik obat. Kejadian medication error dimungkinkan tidak mudah
untuk dikenali, diperlukan kompetensi dan pengalaman, kerjasama-tahap proses.

Tujuan utama farmakoterapi adalah mencapai kepastian keluaran klinik


sehingga meningkatkan kualitas hidup pasien dan meminimalkan risiko baik yang
tampak maupun yang potensial meliputi obat (bebas maupun dengan resep), alat
kesehatan pendukung proses pengobatan (drug administration devices). Timbulnya
kejadian yang tidak sesuai dengan tujuan (incidence/hazard) dikatakan sebagai
drug mis-adventuring, terdiri dari medication errors dan adverse drug reaction.

Ada beberapa pengelompokan dalam medication error sesuai dengan dampak


dan proses (tabel 2 dan 3). Konsistensi pengelompokan ini penting sebagai dasara
analisa dan intervensi yang tepat.

Tabel 2. Indeks medication errors untuk kategorisasi errors (berdasarkan dampak)

Errors Kategori Hasil

No error A Kejadian atau yang berpotensi untuk terjadinya kesalahan

B Terjadi kesalahan sebelum obat mencapai pasien


Error, no harm
C Terjadi kesalahan dan obat sudah diminum/digunakan
pasien tetapi tidak membahayakan pasien

12
D Terjadinya kesalahan, sehingga monitoring ketat harus
dilakukan tetapi tidak membahayakan pasien

Terjadi kesalahan, hingga terapi dan intervensi lanjut

E diperlukan dan kesalahan ini memberikan efek yang buruk

yang sifatnya sementara

Terjadi kesalahan dan mengakibatkan pasien harus dirawat


F lebih lama di rumah sakit serta memberikan efek buruk
Error, harm yang sifatnya sementara

Terjadi kesalahan yang mengakibatkan efek buruk yang


G
bersifat permanen

Terjadi kesalahan dan hampir merenggut nyawa pasien,


H
contoh syok anafilaktik

Error, death I Terjadi kesalahan dan pasien meninggal dunia

Tabel 3. Jenis-jenis medication errors (berdasarkan alur proses pengobatan)

Tipe medicatipon errors Keterangan

Unauthorized drug Obat yang terlanjur diserahkan kepada pasien padahal


diresepkan oleh bukan dokter yang berwenang

Improper dose/quantity Dosis, strength atau jumlah obat yang tidak sesuai dengan
yang dimaskud dalam resep

Wrong dose preparation Penyiapan/ formulasi atau pencampuran obat yang tidak
sesuai
method

Wrong dose form Obat yang diserahkan dalam dosis dan cara pemberian
yang tidak sesuai dengan yang diperintahkan di dalam
resep

Wrong patient Obat diserahkan atau diberikan pada pasien yang keliru
yang tidak sesuai dengan yang tertera di resep

Omission error Gagal dalam memberikan dosis sesuai permintaan,


mengabaikan penolakan pasien atau keputusan klinik yang
mengisyaratkan untuk tidak diberikan obat yang
bersangkutan

Extra dose Memberikan duplikasi obat pada waktu yang berbeda

Prescribing error Obat diresepkan secara keliru atau perintah diberikan


secara lisan atau diresepkan oleh dokter yang tidak
berkompeten

13
Wrong administration Menggunakan cara pemberian yang keliru termasuk
misalnya menyiapkan obat dengan teknik yang tidak
technique dibenarkan (misalkan obat im diberikan iv)

Wrong time Obat diberikan tidak sesuai dengan jadwal pemberian atau
diluar jadwal yang ditetapkan

JCAHO (2007) menetapkan tentang keamanan terhadap titik kritis dalam


proses manajemen obat : sistem seleksi (selection), sistem penyimpanan sampai
distribusi (storage, distribution), sistem permintaan obat, interpretasi dan verifikasi
(ordering and transcribing), sistem penyiapan, labelisasi/etiket, peracikan,
dokumentasi, penyerahan ke pasien disertai kecukupan informasi (preparing dan
dispensing), teknik penggunaan obat pasien (administration), pemantauan efektifitas
penggunaan (monitoring). Di dalamnya termasuk sistem kerjasama dengan tenaga
kesehatan, terkait baik kompetensi maupun kewenangannya, sistem pelaporan
masalah obat dengan upaya perbaikan, informasi obat yang selalu tersedia,
keberadaan apoteker dalam pelayanan, adanya prosedur khusus obat dan alat yang
memerlukan perhatian khusus karena dampak yang membahayakan.

WHO dalam developing pharmacy practice-a focus on patient care


membedakan tentang praktek farmasi (berhubungan dengan pasien langsung) dan
pelayanan farmasi (berhubungan dengan kualitas obat dan sistem proses
pelayanan farmasi)

Praktek pekerjaan kefarmasian meliputi obat-obatan, pengadaan produk


farmasi dan pelayanan kefarmasian yang diberikan oleh apoteker dalam sistem
pelayanan kesehatan.
Pelayanan kefarmasian meliputi semua pelayanan yang diberikan oleh tenaga
farmasi dalam mendukung pelayanan kefarmasian. Di luar suplai obat-obatan,
jasa kefarmasian meliputi informasi, pendidikan dan komunikasi untuk
mempromosikan kesehatan masyarakat, pemberian informasi obat dan
konseling, pendidikan dan pelatihan staf.
Pekerjaan kefarmasian meliputi penyediaan obat dan pelayanan lain untuk
membantu masyarakat dalam mendapatkan manfaat yang terbaik.
Klasifikasi aktivitas apoteker (American Pharmacists Association/APha)

a) Memastikan terapi dan hasil yang sesuai


Memastikan farmakoterapi yang sesuai
Memastikan kepahaman atau kepatuhan pasien terhadap rencana
pengobatannya
Monitoring dan pelaporan hasil
b) Dispensing obat dan alat kesehatan

Memproses resep atau pesanan obat

14
Menyiapkan produk farmasi
Mengantarkan obat atau alat kesehatan
c) Promosi kesehatan dan penanggulangan penyakit

Pengantaran jasa penanggulangan klinis


Pengawasan dan pelaporan issue kesehatan masyarakat
Promosi penggunaan obat yang aman dalam masyarakat
d) Manajemen sistem kesehatan

Pengelolaan praktek
Pengelolaan pengobatan dalam sistem kesehatan
Pengelolaan penggunaan obat dalam sistem kesehatan
Partisipasi dalam aktivitas penelitian
Kerjasama antardisiplin
Pada tahun 1998, FIP menerbitkan suatu statemen tentang Standard
profesional mengenai kesalahan pengobatan yang berhubungan dengan
peresepan obat dengan tujuan mendefinisikan istilah "kesalahan pengobatan" dan
untuk menyarankan suatu tatanama standard untuk mengkategorikan hal-hal
seperti kesalahan dan disain sistemnya untuk meningkatkan keselamatan dalam
pabrikasi, pemesanan, pelabelan, penyiapan, administrasi dan penggunaan obat.

Dalam, relasi antara dokter sebagai penulis resep dan apoteker sebagi
penyedia obat (pelayanan tradisional farmasi), dokter dipercaya terhadap hasil dari
farmakoterapi. Dengan berubahnya situasi secara cepat di system kesehatan,
praktek asuhan kefarmasian diasumsikan apoteker bertanggung jawab terhadap
pasien dan masyarakat tidak hanya menerima asumsi tersebut. Dengan demikian
apoteker bertanggung jawab langsung pada pasien tentang biaya, kualitas, hasil
pelayanan kefarmasian.

Dalam aplikasi praktek pelayanan kefarmasian untuk keselamatan pasien


terutama medication error adalah : menurunkan risiko dan promosi penggunaan
obat yang aman.

Berbagai metode pendekatan organisasi sebagai upaya menurunkan


medication error yang jika dipaparkan menurut urutan dampak efektifitas terbesar
adalah :

a. Mendorong fungsi dan pembatasan (forcing function & constraints) suatu


upaya mendesain sistem yang mendorong seseorang melakukan hal yang
baik, contoh : sediaan potasium klorida siap pakai dalam konsentrasi 10%
NaCl 0.9%, karena sediaan di pasar dalam konsentrasi 20% (>10%) yang
mengakibatkan fatal (henti jantung dan nekrosis pada tempat injeksi)
b. Otomasi dan komputer (Computerized Prescribing Order Entry) : membuat
statis /robotisasi pekerjaan berulang yang sudah pasti dengan dukungan

15
teknologi, contoh : komputerisasi proses penulisan resep oleh dokter diikuti
dengan /tanda peringatan jika di luar standar (ada penanda otomatis ketika
digoxin ditulis 0.5g)
c. Standard dan protokol, standarisasi prosedur : menetapkan standar
berdasarkan bukti ilmiah dan standarisasi prosedur (menetapkan standar
pelaporan insiden dengan prosedur baku). Kontribusi apoteker dalam Panitia
Farmasi dan Terapi serta pemenuhan sertifikasi/akreditasi pelayanan
memegang peranan penting.
d. Sistem daftar tilik dan cek ulang : alat kontrol berupa daftar tilik dan penetapan
cek ulang setiap langkah kritis dalam pelayanan. Untuk mendukung efektifitas
sistem ini diperlukan pemetaan analisis titik kritis dalam sistem.
e. Peraturan dan Kebijakan : untuk mendukung keamanan proses manajemen
obat pasien. contoh : semua resep rawat inap harus melalui supervisi apoteker
f. Pendidikan dan Informasi : penyediaan informasi setiap saat tentang obat,
pengobatan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan tentang prosedur untuk
meningkatkan kompetensi dan mendukung kesulitan pengambilan keputusan
saat memerlukan informasi
g. Lebih hati-hati dan waspada : membangun lingkungan kondusif untuk
mencegah kesalahan, contoh : baca sekali lagi nama pasien sebelum
menyerahkan.

A. PERAN ADMISI DALAM MEWUJUDKAN KESELAMATAN PASIEN


Penggunaan label dan gelang identitas pasien merupakan hal utama dari
pelayanan keselamatan pasien. Dalam mewujudkannya, keselamatan pasien
menjadi masalah yang perlu di perhatikan. Dari data-data yang termuat dalam bab
terdahulu disebutkan sejumlah pasien mengalami cedera atau mengalami insiden
pada saat memperoleh layanan kesehatan, khususnya terkait klasifikasi pasien
berdasarkan jenis kelamin, pasien rawan jatuh dan pasien alergi obat di rumah sakit
dan sarana pelayanan kesehatan lainnya, kejadian human error dapat dicegah jika
melibatkan pelayanan admisi rumah sakit yang sudah terlatih.

Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE)


Edukasi dan konseling kepada pasien harus diberikan mengenai hal-hal
yang penting tentang hak dan kewajiban pasien. Hal-hal yang harus diinformasikan
dan didiskusikan pada pasien adalah :

Hak pasien
Dasar hukum undang undang no. 44 tahun 2009 pasal 32
- Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di
rumah sakit
- Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien
- Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur dan tanpa diskriminasi

16
- Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu sesuai dengan standar
profesi dan standar prosedur operasional
- Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari
kerugian fisik dan materi
- Mengajukan pengaduan dan kualitas pelayanan yang didapatkan
- Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan
peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
- Meminta konsultasi penyakit yang diterimanya kepada dokter lain yang
mempunyai surat izin praktek (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah
Sakit
- Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data
data medisnya
- Mendapat informasi yang meleiputi diagnosis dan tata cara tindakan medis,
tujuan, tujuan tindakan medis, alternatife tindakan, risiko dan komplikasi
yang mungkin terjadi, prognosis terhadap tindakan yang diajukan serta
perkiraan biaya pengobatan.
- Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan
oleh tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya
- Di dampingin keluarganya dalam keadaan kritis
- Menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan yang di anutnya
selama hal itu tidak mengganggu pasien lainnya
- Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan
di rumah sakit
- Mengajukan usul, sara, dan perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap
dirinya
- Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan
kepercayaan yang dianutnya
- Menggugat dan atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga
memberikan pelayana yang tidak sesuai dengan standar baik secara
perdata ataupun pidana, dan
- Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar
pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan
perundang undangan
Kewajiban pasien
- Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk menaati segala peraturan dan
tata tertib Rumah Sakit
- Pasien berkewajiban untuk menaati segala instruksi dokter dan perawat
dalam pengobatannya
- Pasien berkewajiban memberikan informasi dengan jujur dan selengkapnya
tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter yang merawat

17
- Pasien atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan
atas jasa pelayanan Rumah Sakit / dokter
- Pasien atau penanggungnya berkewajiban memenuhi hal hal yang telah
disepakati / perjanjian yang telah dibuatnya
B. TATA LAKSANA KESELAMATAN PASIEN
1. Pelaporan Insiden Dan Prosedur Pelaporan Insiden
Di Indonesia data tentang Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), Kejadian Nyaris
Cedera (KNC) dan Kejadian Sentinel masih sangat langka. Setiap
kegiatanpelayanan kefarmasian baik di rumah sakit maupun di komunitas
diharapkan melakukan pencatatan dan pelaporan semua kejadian terkait dengan
keselamatan pasien meliputi KTD, KNC, dan Kejadian Sentinel. Pelaporan di rumah
sakit dilakukan sesuai dengan Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit
(Patient Safety) dan Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) yang
dikeluarkan oleh Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit - Persatuan Rumah
Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Kejadian terkait dengan keselamatan pasien
dalam pelayanan farmasi komunitas di Indonesia belum mempunyai panduan
pelaporan, sehingga kegiatan yang dilakukan adalah pencatatan untuk monitoring
dan evaluasi. Tujuan dilakukan pelaporan Insiden Keselamatan Pasien adalah
untuk menurunkan Insiden Keselamatan Pasien yang terkait dengan KTD, KNC dan
Kejadian Sentinel serta meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

Sistem pelaporan mengharuskan semua orang dalam organisasi untuk peduli


terhadap bahaya/potensi bahaya yang dapat terjadi pada pasien. Pelaporan juga
penting digunakan untuk memonitor upaya pencegahan terjadinya kesalahan
sehingga diharapkan dapat mendorong dilakukannya investigasi lebih lanjut.
Pelaporan akan menjadi awal proses pembelajaran untuk mencegah kejadian yang
sama terulang kembali. Setiap kejadian dilaporkan kepada Tim Keselamatan Pasien
Rumah Sakit menggunakan formulir yang sudah disediakan di rumah sakit untuk
diinvestigasi.

Prosedur pelaporan insiden, sebagai berikut :

- Insiden yang dilaporkan adalah kejadian yang sudah terjadi, potensial terjadi
ataupun yang nyaris terjadi.
- Laporan insiden dapat dibuat oleh siapa saja atau staf farmasi yang pertama
kali menemukan kejadian atau terlibat dalam kejadian.
- Pelaporan dilakukan dengan mengisi Formulir Laporan Insiden yang
bersifat rahasia
2. Alur Pelaporan Insiden Ke Tim Keselamatan Pasien (KP) Di RS (Internal)
a) Apabila terjadi suatu insiden (KNC/KTD/Kejadian Sentinel) terkait dengan
pelayanan kefarmasian, wajib segera ditindaklanjuti (dicegah/ditangani) untuk
mengurangi dampak/ akibat yang tidak diharapkan.

18
b) Setelah ditindaklanjuti, segera buat laporan insidennya dengan mengisi
Formulir Laporan Insiden pada akhir jam kerja/shift kepada Kepala urusan
admisi atau penanggung jawab admisi, jangan menunda laporan (paling lambat
2 x 24 jam)
c) Kepala urusan admisi penanggung jawab memeriksa laporan dan melakukan
grading risiko terhadap insiden yang dilaporkan.
d) Hasil grading akan menentukan bentuk investigasi dan analisis yang akan
dilakukan :
- Grade biru : Investigasi sederhana oleh kepala urusan admisi /
penanggung jawab, waktu maksimal 1 minggu
- Grade hijau : Investigasi sederhana oleh kepala urusan admisi /
penanggung jawab, waktu maksimal 2 minggu
- Grade kuning : Investigasi komprehensif / Root Cause Analysis (RCA)
oleh Tim KP di RS, waktu maksimal 45 hari
- Grade merah : Investigasi komprehensif / Root Cause Analysis (RCA)
oleh Tim KP di RS, waktu maksimal 45 hari
e) Setelah selesai melakukan investigasi sederhana, laporan hasil investigasi dan
laporan insiden dilaporkan ke Tim KP di RS.
f) Tim KP di RS akan menganalis kembali hasil investigasi dan Laporan insiden
untuk menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan Root Cause
Analysis (RCA) dengan melakukan Regrading Untuk Grade kuning / merah,
Tim KP di RS akan melakukan Root Cause Analysis (RCA)
g) Setelah melakukan Root Cause Analysis (RCA), Tim KP di RS akan membuat
laporan dan Rekomendasi untuk perbaikan serta pembelajaran berupa :
Petunjuk / Safety alert untuk mencegah kejadian yang sama terulang lagi
h) Hasil Root Cause Analysis (RCA), rekomendasi dan rencana kerja dilaporkan
kepada Direksi
i) Rekomendasi untuk Perbaikan dan Pembelajaran diberikan umpan balik
kepada instalasi farmasi.
j) Kepala urusan penanggung jawab admisi akan membuat analisis dan tren
kejadian di satuan kerjanya
k) Monitoring dan Evaluasi Perbaikan oleh Tim KP di RS.
3. Analisa Matriks Grading Risiko
Penilaian matriks risiko bertujuan untuk menentukan derajat risiko suatu insiden
berdasarkan dampak dan probabilitasnya.

a. Dampak

Penilaian dampak adalah seberapa berat akibat yang dialami pasien mulai
dari tidak ada cedera sampai meninggal, seperti tabel berikut.

19
Tabel 4. Penilaian Dampak Klinis/Konsekuensi/Severity

Tingkat Deskripsi Dampak


resiko

1 Tidak signifikan Tidak ada cedera

2 Minor Cedera ringan mis. Luka lecet


Dapat diatasi dengan pertolongan pertama
Cedera sedang mis. Luka robek
3 Moderat Berkurangnya fungsi motorik/sensorik/ psikologis atau
intelektual (reversibel), tak berhubungan dengan
penyakit
Setiap kasus yang memperpanjang waktu perawatan
Cedera luas/berat mis. cacat, lumpuh
4 Mayor Kehilangan fungsi motorik / sensorik/ psikologis atau
intelektual (irreversibel), tidak berhubungan dengan
penyakit
5 Katastropik Kematian yang tidak berhubungan dengan perjalanan
penyakit

(Sumber : Pedoman Pelaporan IKP PERSI)

i. Probabilitas
Penilaian tingkat probabilitas adalah seberapa seringnya insiden tersebut
terjadi, seperti tabel berikut.

Tabel 5. Penilaian Probabilitas/Frekuensi

Tingkat Deskripsi
Resiko

1 Sangat jarang / Rare (>5 thn/kali)

2 Jarang / Unlikely (2-5 thn/kali)

3 Mungkin / Possible (1-2 thn/kali)

4 Sering / Likely (beberapa kali/thn)

5 Sangat sering / Almost certain (tiap minggu/bulan)

(Sumber : Pedoman Pelaporan IKP PERSI)

Setelah nilai dampak dan probabilitas diketahui, masukkan dalam Tabel


Matriks Grading Risiko untuk menghitung skor risiko dan mencari warna
brands risiko.

20
3.1. Skor Risiko
Untuk menentukan skor risiko, digunakan matriks grading risiko seperti
tabel berikut.

Tetapkan frekuensi pada kolom kiri


Tetapkan dampak pada baris ke arah kanan
Tetapkan warna bandsnya, berdasarkan pertemuan antara frekuensi
dan dampak
Tabel 6. Matriks Grading Risiko

Tidak Katastropik
Minor Moderat Mayor
Probabilitas signifikan 5
2 3 4
1
Sangat sering

terjadi
Moderat Moderat Tinggi Ekstrem Ekstrem
(tiap minggu/bulan)

5
Sering terjadi

Moderat Moderat Tinggi Ekstrem Ekstrem


(beberapa kali/thn)

4
Mungkin terjadi

(1-2 thn/kali) Rendah Moderat Tinggi Ekstrem Ekstrem

Jarang terjadi

(2-5 thn/kali) Rendah Rendah Moderat Tinggi Ekstrem

Sangat jarang
terjadi
Rendah Rendah Moderat Tinggi Ekstrem
(> 5 thn/kali)

(Sumber : Pedoman Pelaporan IKP PERSI)

Skor risiko akan menentukan prioritas risiko. Jika pada penilaian risiko
ditemukan dua insiden dengan hasil skor risiko yang nilainya sama, maka
untuk memilih prioritasnya, dapat menggunakan warna bands risiko.

Skala prioritas bands risiko adalah :

Bands Biru : Rendah / Low

Bands Hijau : Sedang / Moderat

21
Bands Kuning : Tinggi / High

Bands Merah : Sangat Tinggi / Ekstreme

3.2. Bands Risiko

Bands risiko adalah derajat risiko yang digambarkan dalam empat warna
yaitu :

Biru, Hijau, Kuning dan Merah, dimana warna akan menentukan


investigasi yang akan dilakukan.

Bands Biru dan Hijau : Investigasi sederhana


Bands Kuning dan Merah : Investigasi Komprehensif / RCA
Tabel 7. Tindakan sesuai Tingkat dan Bands risiko

Levels/Bands Tindakan

Ekstrim (sangat tinggi) Risiko ekstrim, dilakukan RCA paling lama 45 hari

Membutuhkan tindakan segera, perhatian sampai ke


Direktur

High (tinggi) Risiko tinggi, dilakukan RCA paling lama 45 hari

Kaji dengan detil & perlu tindakan segera serta


membutuhkan perhatian top manajemen

Moderat (sedang) Risiko sedang, dilakukan investigasi sederhana paling


lama

2 minggu.

Manajer/Pimpinan klinis sebaiknya menilai dampak


terhadap biaya dan kelola risiko

Low (rendah) Risiko rendah, dilakukan investigasi sederhana, paling


lama 1 minggu, diselesaikan dengan prosedur rutin

(Sumber : Pedoman Pelaporan IKP PERSI)

4. Peran Kepala Urusan Admisi Dalam Penyusunan Laporan

Idealnya setiap KTD/KNC/Kejadian Sentinel yang terkait dengan penggunaan


obat harus dikaji terlebih dahulu oleh apoteker yang berpengalaman sebelum
diserahkan kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Tujuan pengkajian untuk
memastikan bahwa laporan tersebut sudah sesuai, yang dilaporkan benar, dan
memasukkan dalam kategori insiden yang benar.

Kategori kesalahan dalam pemberian identitas pasien adalah :

22
Pasien tanpa gelang identias
Pasien menggunakan gelang tidak sesuai dengan kebutuhan
Label identias pasien salah / tidak ada / tidak jelas
Informasi pengidentifikasian pasien yang salah / tidak jelas
Penjelasan petunjuk penggunaan kepada pasien yang salah

5. Dokumentasi

Semua laporan yang telah dibuat harus didokumentasikan bagian pelayanan


pasien dan bagian admisi rumah sakit serta sarana pelayanan kesehatan lain untuk
bahan monitoring, evaluasi dan tindak lanjut.

2. Monitoring dan Evaluasi


Sebagai tindak lanjut terhadap Program Keselamatan Pasien, kepala urusan
admisi perlu melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi di unit kerjanya secara
berkala. Monitoring merupakan kegiatan pemantauan terhadap pelaksanaan
pelayanan admisi rumah sakit terkait Program Keselamatan Pasien. Evaluasi
merupakan proses penilaian kinerja pelayanan admisi rumah sakit terkait Program
Keselamatan Pasien.

Tujuan dilakukan monitoring dan evaluasi agar pelayanan admisi rumah sakit
yang dilakukan sesuai dengan kaidah keselamatan pasien dan mencegah terjadinya
kejadian yang tidak diinginkan dan berulang dimasa yang akan datang.

Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap :

- Sumber daya manusia (SDM)


- Pengelolaan perbekalan admisi (seleksi, perencanaan, penerimaan, dan
distribusi / penggunaan alat)
- Laporan yang didokumentasikan.
Dari hasil monitoring dan evaluasi dilakukan intervensi berupa rekomendasi
dan tindak lanjut terhadap hal-hal yang perlu diperbaiki seperti perbaikan kebijakan,
prosedur, peningkatan kinerja SDM, sarana dan prasarana ataupun organisasi.
Hasil dari rekomendasi dan tindak lanjut ini harus diumpan balikkan ke semua pihak
yang terkait dengan program keselamatan pasien rumah sakit.

Untuk mengukur keberhasilan program kegiatan yang telah ditetapkan


diperlukan indikator, suatu alat / tolok ukur yang menunjuk pada ukuran kepatuhan
terhadap prosedur yang telah ditetapkan.

Indikator keberhasilan program dapat dilihat dari :

a) Menurunnya angka kejadian tidak diinginkan (KTD), kejadian nyaris cedera


(KNC) dan kejadian sentinel.
b) Menurunnya KTD, KNC dan Kejadian Sentinel yang berulang.

23
BAB V
KESELAMATAN KERJA

Admisi rumah sakit merupakan unit pelaksana fungsional yang


bertanggung jawab dalam meningkatkan mutu pelayanan admisi rumah sakit
secara menyeluruh di rumah sakit dalam ruang lingkup pelayanan pasien
rumah sakit.

A. Tujuan
1. Tujuan Umum
Terlaksananya kesehatan dan keselamatan kerja di bagian pelayanan
pasien agar tercipta pelayanan admisi rumah sakit dan produktivitas
kerja yang optimal.
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan perlindungan kepada petugas admisi, pasien, dan
pengunjung.
b. Mencegah kecelakaan kerja, paparan bahan berbahaya, kebakaran
dan pencemaran lingkungan.
c. Mengamankan peralatan kerja
d. Menciptakan cara kerja yang baik dan benar.

24
BAB VI
PENGENDALIAN MUTU

A. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Agar setiap pelayanan admisi rumah sakit memenuhi standar
pelayanan pasien yang ditetapkan dan dapat memuaskan pelanggan.
2. Tujuan Khusus
- Menghilangkan kinerja pelayanan yang substandar.
- Terciptanya pelayanan admisi yang menjamin efektivitas dan
keamanan pasien.
- Meningkatkan efisiensi pelayanan.
- Meningkatkan kepuasan pelanggan.
- Menurunkan keluhan pelanggan atau unit kerja terkait.

B. EVALUASI
Pelaksanaan pengendalian mutu Pelayanan Pasien dilakukan melalui
kegiatan Monitoring dan evaluasi yang harus dapat dilaksanakan oleh
bidang pelayanan pasien sendiri atau dilakukan oleh tim audit internal.
Monitoring dan evaluasi merupakan suatu pengamatan dan penilaian
secara terencana, sistematis dan terorganisir sebagai umpan balik
perbaikan sistem dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan. Monitoring
dan evaluasi harus dilaksanakan terhadap seluruh bagian pelayanan
pasien rumah sakit

C. PENGENDALIAN MUTU
Pengendalian mutu merupakan mekanisme kegiatan pemantauan dan
penilaian terhadap pelayanan yang diberikan, secara terencana dan
sistematis, sehingga dapat diidentifikasi peluang untuk peningkatan mutu
serta menyediakan mekanisme tindakan yang diambil. Melalui
pengendalian mutu diharapkan dapat terbentuk proses peningkatan mutu
Pelayanan Pasien yang berkesinambungan.
Pengendalian mutu Pelayanan Pasien merupakan kegiatan yang dapat
dilakukan terhadap kegiatan yang sedang berjalan maupun yang sudah
berlalu. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui Monitoring dan evaluasi.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk menjamin Pelayanan admisi rumah sakit
yang sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana dan upaya perbaikan
kegiatan yang akan datang. Pengendalian mutu Pelayanan Admisi Rumah

25
Sakit harus reintegrasi dengan program pengendalian mutu pelayanan
kesehatan Rumah Sakit yang dilaksanakan secara berkesinambungan.

26
BAB VII
PENUTUP

Perkembangan dan adanya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan


kesehatan yang komprehensif dapat menjadi peluang sekaligus merupakan
tantangan bagi admisi untuk meningkatkan kompetensinya.
Dengan ditetapkannya pedoman Pelayanan Admisi di Rumah Sakit
Bina Sehat tidaklah berarti semua permasalahan tentang pelayanan admisi di
rumah sakit menjadi mudah dan selesai. Dalam pelaksanaannya di lapangan,
pedoman pelayanan admisi di rumah sakit ini sudah barang tentu akan
menghadapi berbagai kendala, antara lain sumber daya manusia / tenaga
admisi di rumah sakit, kebijakan manajemen rumah sakit serta pihak-pihak
terkait yang umumnya masih dengan paradigma lama yang melihat pelayanan
admisi di rumah sakit hanya mengurusi masalah penerimaan pasien rawat
inap.
Petugas admisi yang bekerja di Rumah Sakit dituntut untuk
merealisasikan perluasan paradigma Pelayanan Admisi dari orientasi
penerimaan menjadi orientasi pelayanan pasien untuk itu kompetensi admisi
perlu ditingkatkan secara kontinu agar perubahan paradigma tersebut dapat
diimplementasikan, sehingga dalam rangka mencapai keberhasilan
pelaksanaan Pedoman Standar Pelayanan Admisi di Rumah sakit diperlukan
komitmen, kerja sama dan koordinasi yang lebih baik antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah, Organisasi Profesi serta seluruh pihak terkait.

DIREKTUR RUMAH SAKIT BINA SEHAT


JEMBER

dr. MARIA ULFAH, MMRS.

27