Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN ACUTE MYELOID LEUKEMIA


(AML)

OLEH:
KOMANG NOVIANTARI
1302106006

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
A. Konsep Dasar penyakit

1. Definisi

Leukemia mieloid akut (acute myeloid leukemia/ AML), dapat disebut


dengan beberapa nama, diantaranya adalah leukemia mielositik akut,
leukemia myelogenous akut, leukemia granulositik akut, dan leukemia non-
limfositik akut. Istilah akut diartikan sebagai leukemia yang dapat
berkembang cepat jika tidak diterapi dan berakibat fatal dalam beberapa
bulan, sedangkan istilah mieloid merujuk pada tipe sel asal, yaitu sel-sel
mieloid imatur (sel darah putih selain limfosit, sel darah merah, atau
trombosit) (American Cancer Society, 2016). AML merupakan suatu
penyakit yang ditandai dengan transformasi neoplastik dan gangguan
diferensiasi sel-sel progenitor dari seri myeloid, meliputi neutrofil, eosinofil,
monosit, basofil, megakariosit dan sebagainya (Suryani, Salamah, Wiharto,
Wijaya, 2014).

AML adalah leukemia yang menyerang sel stem hematopoetik yang nantinya
akan berdiferensiasi ke semua sel myeloid. AML merupakan leukemia
nonlimfositik yang paling sering terjadi (Handayani, Hariwibowo, 2008).
AML adalah kelompok neoplasma dari sumsum tulang yang menyebabkan
menurunnya jumlah eritrosit, neutrofil dan trombosit yang dapat terjadi pada
semua umur, namun frekuensinya semakin meningkat dengan bertambahnya
umur seseorang (Newton, Hickey, & Marrs, 2009).

2. Epidemiologi

Kejadian AML diperkirakan terjadi pada dua sampai tiga orang dari 100.000
penduduk, dengan presentase penduduk usia dewasa adalah 85% dan anak-
anak adalah 15%. AML lebih sering ditemukan pada laki-laki dibandingkan
dengan perempuan (Handayani, Hariwibowo, 2008). Negara maju seperti
Amerika Serikat, AML merupakan 32% dari seluruh kasus leukemia,
diperkirakan ada sekitar 19.950 kasus baru AML dan sekitar 10.430 kematian
karena AML pada tahun 2016.
Insidens AML umumnya tidak berbeda dari masa anak-anak hingga masa
dewasa muda. Sesudah usia 30 tahun, insidensi AML meningkat secara
eksponensial sejalan dengan meningkatnya usia. AML pada orang yang
berusia 30 tahun adalah 0,8%, pada orang yang berusia 50 tahun 2,7%,
sedangkan pada orang yang berusia di atas 65 tahun adalah sebesar 13,7%
(American Cancer Society, 2016).

Yayasan Onkologi Anak Indonesia menyatakan bahwa setiap tahun


ditemukan 650 kasus leukemia di seluruh Indonesia, 150 kasus di antaranya
terdapat di Jakarta dan sekitar 38% menderita jenis AML. Data kejadian
AML di Indonesia masih sangat terbatas, terdapat laporan insidens AML di
Jogjakarta yaitu terdapat delapan orang dari satu juta populasi (Supriyadi,
Purwanto, Widjajanto, 2013).

3. Etiologi

Etiologi AML masih belum diketahui dengan pasti, namun terdapat beberapa
faktor risiko yang diidentifikasi berpotensi leukemogenik, yaitu:

a) Rokok

Satu-satunya faktor risiko AML yang terbukti terkait gaya hidup adalah
merokok. Merokok dilaporkan berkaitan dengan AML tipe M2 (American
Cancer Society, 2016).

b) Pajanan bahan kimia tertentu

Risiko AML meningkat karena pajanan bahan-bahan kimia tertentu,


misalnya benzene, formaldehyde. Benzene merupakan zat leukomogenik
untuk AML (Davis, Viera, Mead, 2014).

c) Obat kemoterapi tertentu

Kemoterapi dengan agen pengalkil dan platinum dikaitkan dengan


meningkatnya risiko AML, puncaknya sekitar 8 tahun setelah kemoterapi.
Pasien sering mengalami sindrom mielodisplastik (MDS) sebelum AML.
Kemoterapi lain yang juga dikaitkan dengan AML adalah penghambat
topoisomerase II. Pada obat ini, AML cenderung dijumpai beberapa tahun
setelah terapi dan tanpa didahului MDS (American Cancer Society, 2016).

d) Pajanan radiasi

Pajanan radiasi dosis tinggi (misalnya dari bom atom, reaktor nuklir)
meningkatkan risiko AML. Terdapat penelitian pada orang-orang yang
selamat dari serangan bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada tahun
1945. Efek leukomogenik dari paparan ion radiasi tersebut mulai tampak
sejak 1,5 tahun sesudah pengeboman dan mencapai puncak 6 atau 7 tahun
sesudah pengeboman (Davis, Viera, Mead, 2014).

Selain itu, terapi radiasi untuk kanker juga dikaitkan dengan meningkatnya
risiko AML. AML akibat terapi adalah komplikasi jangka panjang yang
serius dari pengobatan limfoma, mieloma multipel, kanker payudara,
kanker ovarium dan kanker testis. Jenis kemoterapi yang paling sering
memicu timbulnya AML adalah golongan alkalyting agent dan
topoisomerase II inhobitor. LMA akibat terapi mempunyai prognosis yang
lebih buruk dibandingkan LMA de novo sehingga di dalam klasifikasi
leukemia versi WHO dikelompokkan tersendiri (Davis, Viera, Mead,
2014).

e) Gangguan darah tertentu

Pasien MDS memiliki jumlah sel darah merah rendah dan sel-sel abnormal
dalam darah dan sumsum tulang. MDS dapat berkembang menjadi AML
dan biasanya memiliki prognosis buruk (American Cancer Society, 2016).

f) Sindrom genetik

Beberapa mutasi genetik dan kelainan kromosom saat lahir dapat


meningkatkan risiko AML, misalnya anemia Fanconi, sindrom Bloom,
ataksia-telangiektasia, anemia Diamond-Blackfan, sindrom Schwachman-
Diamond, sindrom LiFraumeni, neurofibromatosis tipe 1, neutropenia
kongenital berat, sindrom Down, dan trisomi. Pasien sindrom Down
mempunyai risiko 10 hingga 18 kali lebih tinggi untuk menderita
leukemia, khususnya AML tipe M7. Selain itu pasien beberapa sindrom
genetik seperti sindrom Bloom dan anemia Fanconi juga diketahui
mempunyai risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan populasi normal
untuk menderita AML (Davis, Viera, Mead, 2014).

g) Riwayat dalam keluarga

Memiliki keluarga dekat dengan penyakit AML meningkatkan risiko


terkena AML (American Cancer Society, 2016).

4. Patofisiologi

Menurut James, & Ashwill (2007) serta Hockenberry, & Wilson (2009),
patogenesis utama AML adalah adanya blokade maturitas yang menyebabkan
proses diferensiasi sel-sel seri mieloid terhenti pada sel-sel muda (blast)
dengan akibat terjadi akumulasi blast di sumsum tulang. Akumulasi blast di
dalam sumsum tulang akan menyebabkan gangguan hematopoesis normal
dan pada gilirannya akan mengakibatkan sindrom kegagalan sumsum tulang
(bone marrow failure syndrome) yang ditandai dengan adanya sitopenia
(anemia, leukopenia dan trombositopenia). Adanya anemia akan
menyebabkan pasien mudah lelah dan pada kasus yang lebih berat sesak
nafas, adanya trombositopenia akan menyebabkan tanda-tanda perdarahan,
sedang adanya leukopenia akan menyebabkan pasien rentan terhadap infeksi,
termasuk infeksi oportunistis dari flora bakteri normal yang ada di dalam
tubuh manusia. Selain itu, sel-sel blast yang terbentuk juga punya
kemampuan untuk migrasi keluar sumsum tulang dan berinfiltrasi ke organ-
organ lain seperti kulit, tulang, jaringan lunak dan sistem syaraf pusat dan
merusak organ-organ tersebut dengan segala akibatnya.

Selain di dalam sumsum tulang, sel blast akan masuk ke dalam sirkulasi
perifer, dan organ ekstra medular seperti limpa, hepar, ataupun kelenjar limfe
yang menyebabkan terjadinya pembesaran dan fibrosis. Jika sel blast masuk
ke dalam sistem saraf pusat, maka akan terjadi peningkatan tekanan
intrakranial. Organ lain yang terinvasi oleh sel blast antara lain testikel,
prostat, ovarium, saluran pencernaan, paru-paru maupun ginjal (James &
Ashwill, 2007; Hockenberry, & Wilson, 2009).
5. Klasifikasi

Pada tahun 1970, AML diklasifikasikan berdasarkan sistem klasifikasi


French American-British (FAB) dengan kriteria terutama morfologi dan
fenotip/sitokimia Dengan FAB, ada 8 subtipe AML (FAB M0 sampai M7)
(Handayani, Hariwibowo, 2008):
1) LMA-M 0 (leukemia mieloblastik akut dengan diferensiasi minimal)
2) LMA-M 1 (leukemia mieloblastik akut tanpa maturasi)
3) LMA-M 2 (leukemia mieloblastik akut dengan maturasi)
4) LMA-M 3 (leukemia promielositik akut)
LPA (leukemia promieolisitik akut hipergranuler)
LPA-V (leukemia promieolisitik akut mikrogranuler/
M3V (hipogranuler)
5) LMA-M 4 (leukemia mielomonositik akut)
LMA-M 4 Eo (leukemia mielomonositik akut dengan peningkatan sel
eosinophil)
6) LMA-M 5 (leukemia monositik akut)
LMA-M 5A (leukemia monoblastik akut {leukemia monositik akut
dengan diferensiasi jelek})
LMA-M 5B (leukemia monositik akut {leukemia monositik akut dengan
diferensiasi baik})
7) LMA-M 6 (leukemia eritroblastik (eritroleukemia)
8) LMA-M 7 (leukemia megakarioblastik akut)

Klasifikasi tersebut kemudian digantikan dengan klasifikasi menurut World


Health Organization (WHO) dengan kriteria abnormalitas genetika atau
genetika molekuler (Tabel 1).
6. Gejala Klinis

Tanda dan gejala klinis AML tidak spesifik dan biasanya terkait dengan
infiltrasi leukemik ke sumsum tulang dengan hasil akhir sitopenia. Pada
pasien dapat dijumpai lelah, perdarahan, atau infeksi dan demam karena
penurunan sel darah merah, trombosit, atau sel darah putih. Gejala umumnya
adalah pucat, lelah, dan sesak napas saat beraktivitas. Dapat pula dijumpai
nyeri tulang atau sendi, pembengkakan abdomen, ruam kulit, gejala saraf
pusat seperti kejang, muntah, muka kesemutan, penglihatan kabur (Davis,
Viera, Mead, 2014).
Hiperleukositosis (> 100.000 sel darah putih/ mm3) dapat menyebabkan
gejala leukostasis, misalnya disfungsi atau perdarahan okuler dan
serebrovaskular yang termasuk kegawatdaruratan medis, walaupun hal ini
jarang terjadi. Leukositosis terjadi pada sekitar 50% kasus AML, sedangkan
15% pasien mempunyai angka leukosit yang normal dan sekitar 35% pasien
mengalami netropenia. Meskipun demikian, sel-sel blast dalam jumlah yang
signifikan di darah tepi akan ditemukan pada 85% kasus AML. Oleh karena
itu sangat penting untuk memeriksa rincian jenis sel-sel leukosit di darah tepi
sebagai pemeriksaan awal, untuk menghindari kesalahan diagnosis pada
orang yang diduga menderita AML (Handayani, Haribowo, 2008).

7. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa AML, antara


lain:
1) Kepucatan, takikardi, murmur
Pada pemeriksaan fisik, simptom yang jelas dilihat pada penderita adalah
pucat karena adanya anemia. Pada keadaan anemia yang berat, bisa
didapatkan tanda cardiorespiratorius seperti sesak nafas, takikardia,
palpitasi, murmur, sinkope dan angina.

2) Pembesaran organ-organ
Pembesaran massa abdomen atau limfonodi bisa terjadi akibat infiltrasi
sel-sel leukemik pada penderita AML. Splenomegali lebih sering
didapatkan daripada hepatomegali. Hepatomegali jarang memberikan
gejala begitu juga splenomegali kecuali jika terjadi infark.
3) Kelainan kulit dan hipertrofi gusi
Deposit sel leukemik pada kulit sering terjadi pada subtipe AML tertentu,
misalnya leukemia monoblastik (FAB M5) dan leukemia mielomonosit
(FAB M4). Kelainan kulit yang didapatkan berbentuk lesi kulit, warna ros
atau populer ungu, multiple dan general, dan biasanya dalam jumlah
sedikit.
4) Sternal tenderness

Kelainan fisik ini didapatkan pada kira-kira dua per tiga kasus AML.
Kelainan ini juga disebabkan infiltrasi sel-sel leukemik, terutama di tempat
produksi sumsum tulang.

8. Pemeriksaan Diagnostik

a) Morfologi

Aspirasi sumsum tulang merupakan bagian dari pemeriksaan rutin untuk


diagnosis AML. Pulasan darah dan sumsum tulang diperiksa dengan
pengecatan May-Grunwald-Giemsa atau Wright-Giemsa. Untuk hasil yang
akurat, diperlukan setidaknya 500 sel nucleated dari sumsum tulang dan
200 sel darah putih dari perifer. Hitung blast sumsum tulang atau darah
20% diperlukan untuk diagnosis AML, kecuali AML dengan t(15;17),
t(8;21), inv(16), atau t(16;16) yang didiagnosis terlepas dari persentase
blast (Dohner, Estey, Amadori, Appelbaum, Buchner, Burnett, et al.,
2010).

b) Immunophenotyping

Pemeriksaan ini menggunakan flow cytometry, sering untuk menentukan


tipe sel leukemia berdasarkan antigen permukaan. Kriteria yang digunakan
adalah 20% sel leukemik mengekpresikan penanda (untuk sebagian
besar penanda) (Hasserjian, 2013).

c) Sitogenetika

Abnormalitas kromosom terdeteksi pada sekitar 55% pasien AML dewasa


(Dohner, Estey, Amadori, Appelbaum, Buchner, Burnett, et al., 2010).
Pemeriksaan sitogenetika menggambarkan abnormalitas kromosom seperti
translokasi, inversi, delesi, adisi (American Cancer Society, 2016).

d) Sitogenetika moleculer

Pemeriksaan ini menggunakan FISH (fluorescent in situ hybridization)


yang juga merupakan pilihan jika pemeriksaan sitogenetika gagal.
Pemeriksaan ini dapat mendeteksi abnormalitas gen atau bagian dari
kromosom seperti RUNX1-RUNX1T1, CBFB-MYH11, fusi gen MLL dan
EV11, hilangnya kromosom 5q dan 7q (Dohner, Estey, Amadori,
Appelbaum, Buchner, Burnett, et al., 2010).
e) Pemeriksaan imaging

Pemeriksaan dilakukan untuk membantu menentukan perluasan penyakit


jika diperkirakan telah menyebar ke organ lain. Contoh pemeriksaannya
antara lain X-ray dada, CT scan, MRI (American Cancer Society, 2016).

9. Kriteria Diagnostik

Secara klasik diagnosis AML ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik,


morfologi sel dan pengecatan sitokinoia. Pada pemeriksaan sumsum tulang
ditemukan lebih dari 20% noneritrosit serta terdapat 5-20% sel sumsum
tulang merupakan myeloblasts (American Cancer Society, 2016).

10. Penatalaksanaan

Pengobatan AML dilakukan dalam 2 fase, yaitu fase induksi, yang bertujuan
untuk mencapai remisi, dan fase paska remisi untuk mempertahankan remisi.

1) Fase Induksi

Terapi induksi yang paling sering digunakan adalah terapi tiga hari
diberikan anthracycline yang dikombinasikan dengan cytarabine melalui
infus selama 24 jam dalam 7 hari. Dengan 1 periode terapi, 50% pasien
akan mengalami remisi; sedangkan 10 15% pasien akan mengalami
remisi setelah 2 periode pengobatan. Pasien memasuki masa remisi jika
terdapat <5% sel blast pada Penelitian tentang pemberian terapi
Cytarabine, Aclarubicin dan Granulosit colony stimulating factor/G-CSF
(CAG) pada pasien dengan AML dan myelo displasia syndrome (MDS)
didapatkan hasil bahwa terapi CAG lebih efektif dalam penatalaksanaan
pasien dengan AML dibandingkan dengan terapi tanpa CAG (Newton,
Hickey, & Marrs, 2009).
2) Fase paska remisi

Fase paska remisi atau fase konsolidasi menggunakan agen kemoterapi


intensif seperti regimen berbasis cytarabine, kemoterapi dosis tinggi
atau terapi kemoradiasi (Newton, Hickey, & Marrs, 2009). Penelitian
tentang transplantasi allogeneic hematopoietic stem cell didapatkan hasil
bahwa terapi tersebut sangat efektif dalam menangani penyakit hematologi
onkologi antara lain AML (34%)

3) Terapi Biologi

Metode ini, juga dikenal sebagai immunotherapy, menggunakan zat yang


memperkuat respon sistem kekebalan terhadap kanker. Salah satu bentuk
terapi biologi dikenal sebagai antibodi monoklonal. Meskipun antibodi ini
diproduksi dalam laboratorium, namun dapat meniru protein dalam sistem
kekebalan tubuh (antibodi) yang menyerang benda asing pada sel-sel
leukemia. Gemtuzumab ozogamicin adalah salah satu antibodi monoklonal
yang digunakan sebagai terapi biologis dalam AML (Newton, Hickey, &
Marrs, 2009).

4) Transplantasi stem cell sumsum tulang

Metode ini dapat membantu dalam membangun kembali sel-sel induk


yang sehat dengan mengganti sumsum tulang yang tidak sehat dengan sel
yang bebas dari sel induk leukimia yang akan menumbuhkan sumsum
tulang yang sehat. Metode ini dapat digunakan untuk terapi konsolidasi.
Untuk menghancurkan sumsum tulang dan menghasilkan manfaat pada
penyakit leukemia pasien, maka akan diberi dosis yang sangat tinggi dari
kemoterapi atau terapi radiasi sebelum transplantasi sel induk. Setelah itu,
akan diberikan infus sel induk dari donor yang kompatibel (transplantasi
alogenik). Sel induk sendiri seseorang juga dapat digunakan (transplantasi
autologous), yaitu dengan mengambil dan menyimpan sel-sel sehat induk
mereka untuk transplantasi di masa depan (Newton, Hickey, & Marrs,
2009).

5) Terapi obat lain


Ada obat anti kanker yang dapat digunakan sendiri atau dalam kombinasi
dengan kemoterapi untuk induksi remisi dari subtipe tertentu dari AML
disebut promyelocytic leukemia, seperti arsenik trioksida dan semua jenis
trans retinoic acid (ATRA) (Newton, Hickey, & Marrs, 2009).

11. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi akibat AML, antara lain (Cecily, 2002; WHO
2012):
a) Gagal sumsum tulang
b) Infeksi
c) Koagulasi Intravaskuler Diseminata (KID/DIC)
d) Splenomegali
e) Hepatomegali

12. Prognosis

Dalam pengobatan modern, angka remisinya adalah 50-75%, tetapi angka


rata-rata hidup pasien AML diperkirakan dua tahun dan yang dapat hidup
lebih dari lima tahun hanya 10%.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a) Identitas Pasien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis
kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pendidikan, dan pekerjaan.
b) Keadaan Umum
Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan, tingkat kesadaran
kualitatif atau GCS, dan respon verbal klien. Klien dengan AML biasanya
terlihat pucat dan mengeluh kelelahan.
c) Tanda-tanda Vital
Meliputi pemeriksaan:
1. Tekanan darah: pada AML, tekanan darah biasanya kurang dari normal
karena terjadi perdarahan atau penurunan sel darah merah, trombosit,
atau sel darah putih, yaitu ( TD: 90/60 mmHg).
2. Pulse rate: biasanya meningkat jika ada awitan nyeri yang dirasakan
atau mengalami anemia yang berat (>100x/menit).
3. Respiratory rate: bisa meningkat atau mengalami sesak napas (di atas
20x/menit) apabila klien mengalami anemia yang berat.
4. Suhu: biasanya normal (36-37,5C), dapat terjadi peningkatan suhu
yang mengindikasikan terjadinya infeksi.
d) Riwayat Penyakit Sebelumnya
Ditanyakan sebelumnya apakah klien pernah mengalami kelainan darah
tertentu seperti MDS yang dapat meningkatkan risiko terkena AML,
pernah mengalami pengobatan radiasi atau menanyakan apakah klien
memiliki kebiasaan merokok.
e) Anamnesa dan Observasi
Pola Pengkajian Gordon
1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Pengkajian meliputi penjelasan status kesehatan, perlindungan
kesehatan, pemeriksaan diri sendiri, pengetahuan tentang pemeriksaan
diri sendiri, riwayat medis, riwayat perawatan di rumah sakit dan
operasi, riwayat medis keluarga, prilaku untuk mengatasi masalah
kesehatan, faktor-faktor risiko sehubungan dengan kesehatanya.
Misalnya : kebiasaan merokok, minum obat tanda resep dokter, dan
kebiasaan sehari-hari yang berpengaruh buruk terhadap fungsi
perkembangan penyakit AML.
2. Nutrisi / Metabolik
Pengkajian meliputi kebiasaan jumlah makanan dan makanan kecil,
tipe dan banyaknya makanan dan minuman pola makan 3 hari terakhir
atau 24 jam terakhir, kebiasaan belanja dan memasak, kepuasan akan
berat badan, pengaruh terhadap pemilihan makanan, persepsi akan
kebutuhan metabolik, factor-faktor yang berkaitan seperti aktivitas,
penyakit, stress, faktor-faktor pencernaan. Pada pasien dengan AML
dapat mengalami penurunan nafsu makan akibat adanya mual muntah
dan penurunan berat badan.
3. Eliminasi
Pengkajian meliputi kebiasaan BAK dan BAB (frekuensi, jumlah,
warna, bau, nyeri, kemampuan mengontrol air kecil, adanya
perubahan-perubahan lain), kemampuan perawatan diri, penggunaan
bantuan untuk ekskresi.
4. Aktivitas dan Latihan
Pengkajian meliputi aktivitas kehidupan sehari-hari yu latang
dilakukan, olahraga (tipe, frekuensi, lama waktu latihan, intensitas),
aktivitas menyenangkan, keyakinan tentang latihan fisik, kemampuan
untuk merawat diri sendiri (berpakaian, mandi, makan, ke kamar
mandi secara mandiri, tergantung atau perlu bantuan), penggunaan alat
bantu, faktor-faktor yang mempengaruhi seperti konsep diri. Pada
pasien dengan AML kemungkinan ditemukan gangguan aktivitas dan
latihan karena klien mengalami keletihan dan anemia.
5. Persepsi, Sensori, Kognitif
Pengkajian meliputi penginderaan khusus (penglihatan, pendengaran,
rasa, sentuh,bau), penggunaan alat bantu (seperti: kacamata, alat bantu
dengar), perubahan dalam penginderaan, persepsi akan kenyamanan,
alat bantu untuk menurunkan rasa tidak nyaman, tingkat pendidikan,
kemampuan membuat keputusan. Pada pasien dengan AML dapat
mengalami gangguan berupa rasa nyeri dan penglihatan yang mulai
kabur.
6. Tidur dan Istirahat
Pengkajian meliputi kebiasaan tidur sehari-hari (jumlah waktu tidur,
jam tidur dan bangun, ritual menjelang tidur, lingkungan tidur, tingkat
kesegaran setelah tidur), keyakinan budaya, penggunaan alat
mempermudah tidur, jadwal istirahat dan relaksasi, gejala dari
perubahan pola tidur, faktor-faktor yang mempengaruhi, misalnya:
nyeri. Pada pasien dengan AML kemungkinan terjadi gangguan pola
tidur akibat adanya nyeri.
7. Konsep Diri
Pengkajian meliputi keadaan sosial (pekerjaan, situasi keluarga,
kelompok-kelompok social), identitas personal (menjelaskan tentang
diri sendiri kekuatan dan kelemahan yang dimiliki), keadaan fisik
(segala sesuatu yang berkaitan dengan fisik, yang disukai maupun
tidak), harga diri, ancaman terhadap konsep diri (seperti sakit,
perubahan peran).
Pasien dengan AML biasanya tidak mengalami gangguan pada
gambaran diri.
8. Peran dan Hubungan
Pengkajian meliputi peran berkaitan dengan (keluarga, teman-teman,
rekan kerja), kepuasan atau ketidakpuasan dalam menjalankan peran),
efek terhadap status kesehatan, pentingnya keluarga, struktur dan
dukungan keluarga, proses pengambilan keputusan keluarga, masalah
dan atau keprihatinan keluarga, pola membesarkan anak, hubungan
dengan orang lain, hubungan dekat.
Pada pasien dengan AML biasanya tidak mengalami gangguan pada
peran dan hubungan.
9. Seksual dan Reproduksi
Pengkajian meliputi masalah atau problem seksual, gambaran perilaku
seksual seperti (perilaku seksual yang aman), pengetahuan tentang
seksualitas dan reproduksi, dampak pada status kesehatan, riwayat
menstruasi dan reproduksi. Pasien dengan AML biasanya tidak
mengalami gangguan
10. Koping Stres dan Adaptasi
Pengkajian meliputi penyebab stress belakangan ini, penetapan tingkat
stress, gambaran umum dan spesifik respon stress, strategi mengatasi
stress yang biasa digunakan dan efektifitasnya, perubahan kehidupan
dan kehilangan, strategi koping yang biasa digunakan, penilaian
kemampuan pengendalian akan kejadian-kejadian yang dialami,
pengetahuan dan penggunaan teknik manajemen stress, hubungan
antara manajemen stress terhadap dinamika keluarga.
Pasien dengan AML biasanya tidak mengalami gangguan pada pola
koping stress dan adaptasi, namun kemungkinan juga mengalami
masalah jika kurangnya dukungan dari keluarga.
11. Nilai dan Kepercayaan
Pengkajian meliputi latar belakang budaya atau etnik status ekonomi,
perilaku sehat yang berkaitan dengan kelompok budaya atau etnik,
tujuan kehidupan, apa yang penting bagi klien dan keluarga,
pentingnya agama, dampak masalah kesehatan pada spiritualitas.
Pada klien dengan pada AML kemungkinan klien mengalami
gangguan dalam melakukan aktivitas beribadah diluar rumah (tempat-
tempat ibadah).
f) Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
- Pucat
- Kesulitan bernapas (sesak napas)
- Pembesaran massa abdomen
- Splenomegali
- Hepatomegali
- Kelainan kulit yang didapatkan berbentuk lesi kulit, warna ros atau
populer ungu, multiple dan general, dan biasanya dalam jumlah
sedikit.
- Sinkope
b. Palpasi
- Palpitasi
- Takikardi

2. Analisa Data
Masalah
No Data Interpretasi
Keperawatan
1 DS: PK Anemia
AML Tindakan
Klien kemoterapi
mengeluh
Proliferasi
kelelahan sel kanker Pada sel-sel di
sumsum yang
aktif membelah
DO: menghasilkan juga dihambat
Klien terlihat leukosit yang
imatur/abnormal
pucat, Hb dalam jumlah yg Supresi
berlebihan sumsum tulang
dibawah
normal (<12 Hematopoiesis
Produksi RBC
untuk wanita, normal
menurun
terhambat
<14 untuk pria,
normal
<10 untuk Penurunan
terhambat
jumlah eritrosit
anak-anak)
mukosa bibir
kering, akral PK :
Anemia
dingin

2 DS: PK
AML
- Trombositopenia

Tindakan
DO: kemoterapi
Klien
Pada sel-sel di
mengalami
sumsum yang
penurunan aktif membelah
juga dihambat
kesadaran,
trombosit Supresi
dibawah sumsum tulang

normal (<140
103L), TD
90/60 mmHg. Produksi
trombosit
menurun

PK
Trombositopenia

3 DS: PK Perdarahan
AML
-

Proliferasi
DO: sel kanker
Klien
mengalami menghasilkan
leukosit yang
penurunan imatur/abnormal
kesadaran, dalam jumlah yg
berlebihan
hematocrit
dibawah
Hematopoiesis
normal (<33% normal
terhambat
untuk anak-
anak, <40% normal
terhambat
untuk pria Penurunan jumlah
trombosit
dewasa, <37%
untuk wanita PK
dewasa), TD Perdarahan
90/60 mmHg.
4 DS: Konstipasi
AML
Pasien
mengatakan Tindakan
kemoterapi
belum BAB
sejak tiga hari Mempengaruhi
yang lalu peristaltik usus

DO:
Pasien terlihat Penyerapan air dalam
usus meningkat
memegang
daerah perut Konstipasi

5 DS: Nyeri Akut


AML
Klien
mengeluh nyeri
pada Proliferasi sel kanker

persendian
Menghasilkan leukosit yang
imatur/abnormal dalam jumlah yg
DO: berlebihan

Ekspresi wajah
Infiltrasi leukosit imatur ke organ
klien meringis,
denyut nadi
Terganggunya perkembangan sel
klien >100 organ normal oleh sel kanker

Mempengaruhi sel tulang

Nyeri pada tulang


dan persendian

Nyeri akut
6 DS: Risiko infeksi
AML Tindakan
Klien kemoterapi
mengatakan
Proliferasi
tidak sel kanker Pada sel-sel di
sumsum yang
mengetahui aktif membelah
juga dihambat
faktor
penyebab
terjadinya menghasilkan Supresi
infeksi leukosit yang sumsum tulang
imatur/abnormal
dalam jumlah yg
DO: berlebihan Produksi
leukosit
WBC kurang
menurun
dari normal Hematopoiesis
(<6,00 3/L) normal
terhambat
normal
Penurunan
terhambat
jumlah leukosit

Risiko
Infeksi

7 DS: Ketidakseimbangan
AML
Klien nutrisi kurang dari
mengeluh Tindakan kebutuhan tubuh
kemoterapi
lemas dan tidak
memiliki Mukosa GI
energy, klien yang aktif
membelah
mengeluh juga dihambat
mual, klien
Mempengaruhi
mengatakan mukosa lambung
tidak memiliki
Lambung
stres
Mukosa GI yang aktif
membelah juga
dihambat

nafsu makan

Mempengaruhi pusat
DO: mual muntah di
Klien terlihat hipotalamus

pucat, klien
Mempengaruhi lambung untuk
tidak meningkatkan produksi HCL
menghabiskan
makanan yang Mual dan muntah
disediakan

Gg metabolisme protein,
karbohidrat dan lemak

Nutrisi tidak mencukupi tubuh

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

3. Diagnosa Keperawatan
a) PK Anemia
b) PK Trombositopenia
c) PK Perdarahan
d) Konstipasi berhubungan dengan farmkologis obat opiate ditandai dengan
tidak dapat mengeluarkan feses
e) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis ditandai dengan
klien mengeluh nyeri persendian, klien mengeluh nyeri dengan skala 1-10,
klien tampak gelisah, klien tampak meringis kesakitan, nadi meningkat
(>100x/mnt), klien tampak memegangi bagian yang nyeri.
f) Risiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder
akibat leukopenia, penurunan granulosit.
g) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidaknyamanan pada perut, anoreksia, perubahan absorbsi nutrisi
ditandai dengan klien mengeluh mual muntah pasien mengeluh mengalami
penurunan berat badan, BB 10%-20% atau lebih di bawah BB ideal untuk
tinggi dan kerangka tubuh, adanya penurunan toleransi untuk aktivitas dan
kelemahan otot, penurunan albumin serum.
DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. (2016). Leukemia-Acute Myeloid (Myelogenous).


Diakses pada 8 Juli 2017: http://www.cancer.org/acs/groups/
cid/documents/webcontent/003110.

Bulecheck, Gloria N. & Joanne McCloskey Doctherman. (2008). Nursing


Interventions Clasification (NIC). Fifth Edition. Missouri: Mosby Elsevier.

Cecily, L. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik Edisi 3. Jakarta: EGC.

Davis AS, Viera AJ, Mead MD. (2014). Leukemia: An overview for primary care.
Am Fam Physician;89(9):731-8.

Dohner H, Estey EH, Amadori S, Appelbaum FR, Buchner T, Burnett AK, et al.
(2010). Diagnosis and management of acute myeloid leukemia in adults:
Recommendations from an international expert, on behalf of the European
Leukemia Net. Blood;115:453-74.

Handayani, Wiwik., Hariwibowo, Andi Sulistyo. (2008). Buku Ajar Asuhan


Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta:
Salemba Medika.

Hasserjian RP. (2013). Acute myeloid leukemia: Advances in diagnosis and


classification. Int Jnl Lab Hem;35:358-66.

Herdman, T.Heather & Kamitsuru, S. (Eds.). (2014). NANDA International


Diagnoses: Definitions and Classification, 2015-2017. Oxford: Wiley
Blackwell.
Hockenberry, M.J & Wilson, D. (2009). Essential of Pediatric Nursing. St. Louis
Missoury: Mosby.

James, S.R. & Ashwill, J.W. (2007). Nursing care of children : principles &
practice. Third edition. St. Louis : Saunders Elsevier.
Moorhed, Sue, Marion Jhonson, Meridean L. Mass, dan Elizabeth Swanson. 2008.
Nursing Outcomes Classifications (NOC) Fourth Edition. Missouri:
Mosby Elsevier

Newton, Susan., Hickey, Margaret., Marrs, Joyce. (2009). Oncology nursing


advisor. Canada: Elsevier.

Supriyadi E, Purwanto I, Widjajanto PH. (2013). Terapi leukemia mieloblastik


akut anak: Protokol Ara-C, doxorubicin dan etoposide (ADE) vs modifikasi
Nordic Society of Pediatric Hematology and Oncology (m-NOPHO). Sari
Pediatri;14(6):345-50.

Suryani, Esti., Salamaha, Umi., Wiharto., Wijaya, Andreas Andy. (2014).


Identifikasi Penyakit Acute Myeloid Leukemia (AML)Menggunakan Rule
Based System Berdasarkan Morfologi Sel Darah Putih Studi Kasus : AML2
dan AML4. Semarang: Seminar Nasional Teknologi Informasi &
Komunikasi Terapan 2014. ISBN: 979-26-0276-3.
4. Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan Dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1 PK Anemia Setelah dilakukan tindakan Mandiri Mandiri
keperawatan selama ...x... jam, a) Pantau tanda dan gejala anemia a) Mengetahui apabila klien
perawat dapat meminimalkan yang terjadi. mengalami anemia
komplikasi anemia yang terjadi b) Pantau tanda-tanda vital b) Untuk memastikan apakah klien
dengan kriteria hasil: c) Anjurkan mengonsumsi makanan mengalami anemia dan dapat
a) TTV dalam batas normal (RR = yang mengandung banyak zat diberikan perawatan yang tepat
16-20 x/menit, nadi = 60-100 x besi dan vitamin B12 seperti c) Untuk meningkatkan kadar
menit, TD dalam batas normal daging merah, kuning telur, ikan, hemoglobin klien
120/80 mmHg). sayuran berdaun gelap atau hijau, d) Untuk mencegah anemia yang
b) Konjungtiva berwarna merah kacang-kacangan, kacang polong dialami klien semakin memberat
muda dan kedelai, buah kering (plum
c) Hemoglobin klien dalam batas dan kismis).
normal (10-11 gr %) d) Minimalkan prosedur yang bisa
d) Mukosa bibir berwarna merah menyebabkan perdarahan. Kolaborasi
muda a) Untuk meningkatkan kadar
e) Klien mengatakan tidak hemoglobin klien
mengalami kelemahan/kelelahan
Kolaborasi
f) Akral hangat
a) Kolaborasi pemberian tranfusi
g) Kulit tidak pucat darah sesuai indikasi.

2 PK Setelah dilakukan tindakan Mandiri Mandiri


Trombositopenia keperawatan selam ...x... jam, a) Pantau tanda dan gejala a) Mengetahui apabila klien
perawat dapat meminimalkan trombositopenia yang terjadi. mengalami trombositopeni
komplikasi trombositopenia yang b) Pantau tanda-tanda vital b) Untuk memastikan apakah
terjadi dengan kriteria hasil: c) Anjurkan mengonsumsi makanan keadaan umum klien baik/buruk
a) TTV dalam batas normal (RR = dengan buah-buahan dan sayuran agar dapat diberikan perawatan
12-20 x/menit, nadi = 60-100 x segar seperti sayuran berdaun yang tepat
menit, TD dalam batas normal hijau, buah jeruk, tomat dan kiwi. e) Untuk meningkatkan trombosit
120/80 mmHg). d) Informasikan kepada klien untuk klien
b) Trombosit klien mengalami tidak mengonsumsi makanan f) Untuk mencegah penurunan
peningkatan dari sebelumnya. cepat saji, beralkohol dan trombosit yang dialami klien
c) Klien mengatakan tidak lemas mengandung kafein. semakin memberat
Kolaborasi
a. Kolaborasi pemberian TC Kolaborasi
(Thrombocyte Concentrate) a) Untuk meningkatkan trombosit
sesuai indikasi. klien
3 PK Perdarahan Setelah dilakukan asuhan Mandiri : Mandiri :
keperawatan selama ...x... jam, a) Kaji pasien untuk menemukan a) Untuk mengetahui tingkat
perawat meminimalkan perdarahan bukti-bukti perdarahan atau keparahan perdarahan pada klien
dan mencegah komplikasi hemoragi sehingga dapat menentukan
perdarahan, dengan kriteria hasil: b) Pantau hasil lab berhubungan intervensi selanjutnya
a. Nilai Hct dalam batas normal dengan perdarahan b) Banyak komponen darah yang
b. Nilai Hb berada dalam batas c) Lindungi pasien terhadap cidera menurun pada hasil lab dapat
normal (10-11 gr %) dan terjatuh membantu menentukan
c. Klien tidak mengalami episode d) Siapkan pasien secara fisik dan intervensi selanjutnya
perdarahan psikologis untuk menjalani c) Efek cedera terutama pada
d. Tidak terjadi penurunan bentuk terapi lain jika diperlukan cedera tajam umumnya dapat
kesadaran mengakibatkan perdarahan
e. Tanda-tanda vital berada dalam Kolaborasi: d) Keadaan fisik dan psikologis
batas normal (RR = 12-20 a) Kolaborasi pemberian transfusi yang baik akan mendukung
x/menit, nadi = 60-100 x menit, sesuai indikasi terapi yang diberikan pada klien
TD dalam batas normal 120/80 sehingga mampu memberikan
mmHg). hasil yang maksimal

Kolaborasi:
a) Untuk meningkatkan jumlah sel
darah pada tubuh klien sehingga
kondisi klien membaik

4 Konstipasi Setelah dilakukan tindakan NIC Label: Constipation/ NIC Label: Constipation/
berhubungan keperawatan selama ...x... jam Impaction Management Impaction Management
dengan farmkologis pasien diharapkan tidak mengalami a) Jelaskan penyebab dari konstipasi a) Penjelasan dapat membuat pasien
obat opiate ditandai konstipasi lagi dengan kriteria b) Anjurkan pasien mengonsumsi memahami penyebab konstipasi
dengan tidak dapat hasil: makanan berserat seperti sayur
b) Jenis makanan berserat dapat
mengeluarkan feses dan buah
membantu melancarkan
c) Kolaborasi pemberian obat
eliminasi fekal (BAB)
pencahar melalui supositorial

NOC Label: Bowel Elimination c) Obat pencahar meningkatkan


cairan dalam usus
a) Tidak ada konstipasi
b) Warna feses kuning kecoklatan
c) Bentuk dan konsistensi feses
lunak

5 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan NIC Label: Pain Management NIC Label: Pain Management
berhubungan keperawatan selama x jam a) Lakukan penilaian yang a) Nyeri tidak selalu ada tapi bila
dengan agen cedera diharapkan nyeri klien berkurang komprehensif dari rasa sakit ada harus dibandingkan dengan
biologis ditandai dengan criteria hasil : untuk memasukkan lokasi, gejala nyeri pasien sebelumnya
dengan klien NOC Label : Pain Level karakteristik, onset / durasi, dimana dapat membantu
mengeluh nyeri a) Klien melaporkan adanya rasa frekuensi, kualitas, intensitas diagnose etiologi perdarahan dan
persendian, klien nyeri yang ringan atau keparahan nyeri, dan terjadinya kompilkasi
mengeluh nyeri b) Klien tidak mengerang atau faktor pencetus b) Petunjuk nonverbal dapat berupa
dengan skala 1-10, menangis terhadap rasa sakitnya b) Amati isyarat nonverbal ketidak fisiologis dan psikologis dan
klien tampak c) Klien tidak menunjukkan rasa nyamanan, terutama dapat digunakan dalam
gelisah, klien sakit akibat nyerinya dalam mereka yang tidak menghubungkan petunjuk verbal
tampak meringis d) RR klien dalam batas normal mampu untuk berkomunikasi untuk mengidentifikasi luas atau
kesakitan, nadi (16-20 x/menit) secara efektif beratnya masalah
meningkat e) TD klien dalam batas normal c) Gunakan strategi komunikasi c) Dengan menggunakan
(>100x/mnt), klien (Sistolik: 110-120 mmHg; terapeutik untuk mengakui komunikasi terapeutik
tampak memegangi Diastolik: 70-90 mmHg) mengalami rasa sakit dan diharapkan pasien bisa
bagian yang nyeri. f) Nadi klien dalam batas normal menyampaikan respon menceritakan pengalaman
(60-100 x/menit) penerimaan pasien terhadap nyerinya.
nyeri d) Mengetahui penyebab yang
NOC Label: Pain Control d) Eksplorasi dengan pasien dapat meningkatkan rasa nyeri
a) Klien menyadari onset faktor-faktor yang pasien dan menghindari hal
terjadinya nyeri dengan baik menghilangkan / memperburuk tersebut.
b) Klien dapat menjelaskan faktor nyeri e) Dengan mengontrol lingkungan
penyebab timbulnya nyeri e) Kendalikan faktor-faktor pasien diharapkan pasien merasa
dengan sering lingkungan yang dapat nyaman dan nyerinya akan
c) Klien sering menggunakan mempengaruhi respon pasien berkurang
tindakan pencegahan terhadap ketidaknyamanan f) Pasien dapat mengetahui dan
d) Sering menggunakan f) Pilih dan terapkan berbagai memilih terapi yang akan
pengobatan non farmakologis tindakan (farmakologi, digunakan untuk mengatasi nyeri
untuk meredakan rasa sakit nonfarmakologi, interpersonal) yang dialami
e) Kadang-kadang menggunakan untuk memfasilitasi pemberian g) Dapat mengurangi nyeri pasien
analgesik jika dianjurkan bantuan nyeri, jika sesuai
g) Ajarkan penggunaan NIC Label: Analgesic
teknik nonpharmacological (bio Administration
feedback, TENS,hipnosis, relaks a) Mengetahui secara pasti tentang
asi, guided imagery, nyeri yang dialami pasien
etc.) sebelum, sesudah, dan jika b) Memastikan obat yang diberikan
mungkin, selama kegiatan yang tidak menimbulkan alergi
menyakitkan; sebelum rasa sakit c) Agar pengobatan yang diberikan
muncul atau meningkat; dan sesuai dengan nyeri yang
bersama penghilang rasa sakit dirasakan pasien
lainnya. d) Agar mengetahui respon pasien
setelah diberikan analgesik
e) Agar pengobatan yang diberikan
mendapatkan hasil yang
NIC Label: Analgesic
maksimal
Administration
a) Ketahui lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri
sebelum memberikan pasien
medikasi
b) Lakukan pengecekan terhadap
riwayat alergi
c) Pilih analgesik yang sesuai atau
kombinasikan analgesik saat di
resepkan.
d) Monitor tanda-tanda vital
sebelum dan setelah diberikan
analgesik dengan satu kali dosis
atau tanda yang tidak biasa
dicatat perawat
e) Evaluasi keefektian dari
analgesik

6 Risiko infeksi Setelah diberikan asuhan NIC Label : Infection control NIC Label : Infection control
berhubungan keperawatan selama ....x jam a) Kaji tanda-tanda infeksi; suhu
a) Agar mengetahui apakah klien
dengan penurunan diharapkan tidak terjadi infeksi pada tubuh, nyeri, perdarahan, dan
memiliki tanda-tanda infeksi
daya tahan tubuh klien dengan kriteria hasil: pemeriksaan labolatorium ,
seperti kenaikan WBC atau
sekunder akibat radiologi.
memastikan pemeriksaan yang
leukopenia, b) Kolaborasi : administrasikan
NOC Label : Risk Control dilakukan pasien hasilnya normal
penurunan antibiotik yang sesuai antara lain
granulosit. a) Status kesehatan klien baik : penisilin, streptomisin, b) Mencegah infeksi pada klien
b) WBC klien dalam batas normal tetrasiklin, doksisiklin,
( 6,00 14.0 10 3/L) eritromisin, kloramfenikol, NIC Label: Infection Protection
c) Monosit dalam batas normal ( siprofloksasin. Bagi klien dengan a) Untuk memastikan apakah klien
0,00 1,00 10 3/L37,3 ) alergi penisilin maka diberikan terhindar dari infeksi
d) Suhu dalam batas normal ( 36,5 tetrasiklin, kloramfenikol, b) Mencegah terjadinya infeksi pada
37,5C) siprofloksasin,eritromisin. klien
c) Lingkungan harus tetap bersih
NOC Label: Infection Severity NIC Label: Infection Protection agar tidak mempengaruhi kondisi
1. Tidak adanya tanda-tanda a) Monitor tanda-tanda infeksi pada klien
infeksi lokal (kalor, rubor, klien secara rutin d) Agar klien dapat mengetahui
dolor, tumor, fungsiolaesa) b) Ajarkan pada klien dan keluarga tanda-tanda infeksi dan dapat
2. Tidak adanya tanda-tanda untuk mencuci tangan dengan air segera diberikan perawatan
infeksi sistemik (hipertermia, sabun dan air mengalir sebelum e) Agar klien dan keluarga dapat
malaise) dan sesudah merawat klien menghindari faktor yang
3. HR: 60-100x/menit, RR: 16- c) Ajarkan pada klien dan kleuarga menyebabkan infeksi
22x/menit untuk menjaga kebersihan
4. Tidak adanya tanda-tanda lingkungan
infeksi sekunder/ oprtunistik d) Ajarkan pada klien dan keluarga
(diare, stomatitis, pneumonia) untuk mengenali tanda-tanda
infeksi dan kapan seharusnya
NOC Label: Knowledge: Infection melaporkan pada tenaga medis
Management bila klien mengalami hal tersebut
Keluarga mengetahui cara yang e) Ajarkan pada klien dan keluarga
mengurangi penularan infeksi tingkah laku yang dapat memicu
b) Mengetahui tanda dan gejala infeksi
infeksi
c) Keluarga mengetahui
pentingnya sanitasi tangan
d) Keluarga mengetahui pengaruh
praktek gizi pada infeksi
e) Klien dan keluarga dapat
mengetahui faktor yang
berpengaruh terhadap respon
kekebalan
7 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan Nic Label : Nutritional Nic Label : Nutritional
nutrisi kurang dari keperawatan selama ....x jam Management Management
kebutuhan tubuh status nutrisi pasien normal dengan a) Tanyakan apakah klien memiliki a) Mengidentifikasi apakah klien
berhubungan indikator : alergi makanan memiliki alergi makanan
dengan NIC Label: Nutritional Status b) Kolaborasi dengan ahli gizi b) Mengolaborasi dengan ahli gizi
ketidaknyamanan a) Intake nutrisi klien meningkat. sesuai jumlah kalori dan nutrisi sesuai jumlah kalori dan nutrisi
pada perut, b) Intake cairan memenuhi yang diperlukan untuk yang diperlukan
anoreksia, kebutuhan memenuhi kebutuhan gizi c) Dorong asupan kalori sesuai
perubahan absorbsi c) Pasien tidak menunjukkan c) Dorong asupan kalori sesuai kebutuhan klien
nutrisi ditandai tanda-tanda kekurangan energi kebutuhan klien d) Dorong peningkatan konsumsi
dengan klien d) Dorong peningkatan konsumsi protein, zat besi, kalsium dan
mengeluh mual NOC Label : Nutritional status : protein, zat besi, kalsium dan vitamin C yang sesuai
muntah pasien Nutrient Intake vitamin C yang sesuai e) memastikan bahwa diet
mengeluh a) Asupan kalori pasien dapat e) Pastikan bahwa diet termasuk termasuk makanan tinggi
mengalami terpenuhi makanan tinggi kandungan serat kandungan serat untuk mencegah
penurunan berat b) Asupan protein pasien dapat untuk mencegah konstipasi konstipasi
badan, BB 10%- terpenuhi kembali f) Atur pola makan klien sesuai f) Mengatur pola makan klien
20% atau lebih di c) Asupan lemak pasien dapat kebutuhan sesuai kebutuhan
bawah BB ideal terpenuhi g) Berikan informasi tentang g) memberikan informasi yang tepat
untuk tinggi dan kebutuhan gizi tentang kebutuhan gizi klien
kerangka tubuh, h) Pantau asupan klien yang h) Memantau asupan klien yang
adanya penurunan direkam untuk konten nutrisi direkam untuk konten nutrisi dan
toleransi untuk kalori.
aktivitas dan
kelemahan otot,
penurunan albumin
serum.