Anda di halaman 1dari 19

BAB I

ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS
Nama : An. Nayla Siti Fathanah
No. Rekam Medik : 048504
Nama Orang Tua : Tn. Wawas
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat/Tanggal Lahir : Bandung, 4 November 2010
Usia : 4 tahun 7 bulan
Pendidikan : TK
Pembiayaan : BPJS Anggota
Alamat : Jl. Makmur RT/RW 09/02 kel. Susukan
Tanggal Masuk : 9 Agustus 2015 Pukul 14.40 WIB

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan dengan alloanamnesis kepada ibu pasien.

Keluhan Utama
Kejang 1 kali dialami 2 jam sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang


2 jam sebelum masuk rumah sakit pasien mengalami kejang 1x. Menurut ibu pasien,
kejang terjadi baru pertama kali dan terjadi secara tiba-tiba saat pasien sedang beristirahat.
Durasi kejang terjadi kurang dari 5 menit, saat kejang seluruh badan pasien kaku dan
matanya mendelik keatas, tidak ada busa keluar dari mulut pasien, setelah kejang pasien
langsung sadar kembali dan menangis. Menurut ibunya, saat itu badan pasien teraba panas,
namun tidak diukur dan tidak diberi obat apapun. Setelah kejang, pasien langsung dibawa ke
IGD RS TK IV Cijantung, sesaatnya sampai di IGD RS TK IV Cijantung, pasien sempat
kejang kembali 1x dengan durasi kurang dari 5 menit, seluruh badan pasien kaku dan
matanya mendelik keatas, setelah itu pasien langsung sadar kembali.
Sejak 1 hari SMRS pasien mulai demam namun tidak sepanas saat sebelum kejang,
demam muncul mendadak pada sore hari. Selain itu juga pasien mencret dengan frekuensi

1
sekitar 2x/hari, BAB cair disertai sedikit ampas dan berbusa, tidak ada lendir ataupun darah.
Pasien juga mengeluh mual namun tidak ada muntah.
Sejak 2 hari SMRS pasien juga mengalami batuk berdahak dan pilek. Dahak sulit
dikeluarkan. Semenjak sakit nafsu makan pasien menurun.
Pasien sudah dibawa berobat ke klinik dan diberikan obat penurun panas, obat diare,
dan obat batuk pilek, namun belum ada perubahan malahan suhu badan pasien makin tinggi
hingga akhirnya timbul kejang.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak pernah mengalami kejang sebelumnya. Riwayat alergi makanan ataupun
obat disangkal. Riwayat penyakit paru ataupun penyakit jantung disangkal.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Ibu
dan ayah tidak menderita penyakit hipertensi, pembengkakan jantung dan kencing manis.

Riwayat Kehamilan
Saat hamil pasien, status kehamilan ibu pasien adalah G2P1A0. Ibu pasien rajin
kontrol kehamilan ke rumah sakit sesuai jadwal dan tidak pernah dikatakan ada kelainan pada
janin. Ibu pasien tidak mengalami sakit sewaktu hamil dan tidak mengonsumsi obat-obatan di
luar resep dokter.

Riwayat Kelahiran
Pasien lahir spontan cukup bulan di rumah sakit ditolong oleh dokter. BB lahir 3500
gr, PB lahir 49 cm. Ketika lahir pasien langsung menangis dan kulitnya berwarna kemerahan.
Pasien tidak biru dan tidak kuning saat dan setelah kelahiran.

Riwayat Imunisasi
Pasien mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap dan sesuai jadwal.

Riwayat Nutrisi
Pasien biasa makan 3x/hari dengan porsi sedang dengan menu nasi, lauk pauk yang
cukup beragam (ayam, daging, ikan telur). Pasien tidak begitu sering makan sayur namun
sering memakan buah-buahan. Pasien juga mengonsumsi cemilan seperti biskuit dan susu.

2
Riwayat Tumbuh Kembang
Pasien duduk dan berjalan pada usia 8 dan 11 bulan. Tinggi dan berat badan pasien
sesuai dengan usianya. Pasien cukup aktif sehari-hari dan daya tangkapnya dalam
memperlajari hal baru cukup baik. Pasien belum mengalami menarche.

PEMERIKSAAN FISIK
Tanda Vital
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
GCS : 15, E4M6V5
Frekuensi nadi : 110 kali/menit, reguler, teraba kuat
Frekuensi napas : 20 kali/menit,
Suhu Tubuh : 39,1oC
Saturasi O2 : 98%
Berat Badan : 16 kg

Status Generalis
Kepala : Normocephal, rambut hitam, merata, tidak mudah dicabut
Mata : Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, mata tidak cekung
Telinga : Normotia, liang telinga lapang
Hidung : Kavum nasi lapang, tidak ada deviasi septum, ada sekret
kehijauan
Bibir : mukosa bibir sedikit kering
Mulut : Oral hygiene baik, arkus faring simetris, sedikit hiperemis,
uvula di tengah, Tonsil T1-T1
Leher : Trakea di tengah, tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II normal, tidak ada murmur dan gallop
Paru
Inspeksi : Simetris saat inspirasi dan ekspirasi, tidak ada retraksi dan
penggunaan otot bantu napas

3
Palpasi : Fremitus kanan dan kiri sama kuat. Pergerakan dada simetris
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Bunyi napas vesikuler. Tidak ada ronkhi ataupun wheezing
Abdomen
Inspeksi : Perut datar dan lemas
Auskultasi : Bising usus meningkat
Palpasi : nyeri tekan di epigastrium, turgor kulit baik
Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen
Ekstremitas : Akral hangat, CRT < 2 detik, tidak nampak sianosis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
22/5/2015 Pukul 09.30
Hemoglobin : 13,1 g
Hematokrit : 39%
Leukosit : 10.600/mm3
Trombosit : 297.000/mm3

DIAGNOSIS
Kejang demam kompleks
Diare akut dehidrasi ringan
Faringitis akut

TATALAKSANA
Tatalaksana Awal
Oksigen 3 liter per menit
Stesolid supp 10 mg
Propiretik supp 160 mg
setelah pemberian obat dilakukan observasi 5 menit kejang berhenti dan suhu mulai turun
Tatalaksana lanjutan
Infus RL 12 tetes per menit
Cefotaxim injeksi 2x500 mg i.v skin test
Paracetamol syr 3 x 1 cth
Ambroxol syrup 3 x 1 cth

4
Lacto B 2x1 sachet
Zink tab 1 x 20 mg
Bila kejang Diazepam IV 8mg
Bila suhu >39oC Propiretik supp 160 mg

PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam

10 Agustus 2015 11 Agustus 2015 12 Agustus 2015 13 Agustus 2015


S: kejang (-), S: kejang (-), S: mual, demam S: mencret 3x
mencret 6x, muntah mencret 2x, muntah naik turun berlendir, mual,
2x, demam, batuk (-), demam naik O: S= 36,8oC, NTE perut perih, demam
membaik turun, batuk (-) (+), BU normal, naik turun
O: S= 38,2oC, mata O: S= 36,5oC, NTE turgor baik. O: S= 36,4oC, NTE
cekung +/+, faring (+), BU meningkat, A: Kejang demam (+), BU meningkat,
sedikit hiperemis turgor baik. kompleks turgor baik.
NTE (+), BU A: Kejang demam Diare akut dehidrasi A: Kejang demam
meningkat, turgor kompleks ringan-sedang kompleks
baik. Diare akut dehidrasi P: Lanjutkan terapi Diare akut dehidrasi
FL: leu 1-2/LPB, ringan-sedang ringan-sedang (susp.
eritrosit 0-1/LPB Faringitis akut Disentri)
A: KDK, Diare akut perbaikan P: Metronidazol
dehidrasi ringan- P: KaEn 3B 12 tpm, 3x250, antasida syr
sedang, faringitis terapi lain lanjutkan 3x3/4 cth, terapi lain
akut lanjut
P: lanjutkan terapi

5
14 Agustus 2015 15 Agustus 2015 16 Agustus 2015 17 Agustus 2015
S: mencret 1x, lendir S: mules S: mencret (-), S: tidak ada keluhan
O: S=37oC, NTE(+), O: S= 36oC, NTE(-), demam (-) O: DBN
BU normal, turgor BU normal, turgor O: S=36,2oC, NTE(- A: Kejang demam
baik. baik. ), BU normal, turgor kompleks
A: Kejang demam A: Kejang demam baik. Diare akut dehidrasi
kompleks kompleks A: Kejang demam ringan-sedang (susp.
Diare akut dehidrasi Diare akut dehidrasi kompleks Disentri) dengan
ringan-sedang (susp. ringan-sedang (susp. Diare akut dehidrasi perbaikan
Disentri) Disentri) ringan-sedang (susp. P: Pasien rawat jalan
P: Cefotaxime stop, P: lanjutkan terapi Disentri) dengan
Ceftriaxone 1x750 perbaikan
mg, Ranitidin 2x1cc, Lanjutkan terapi
terapi lain lanjutkan

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. DEFINISI
Sebelum kita memahami definisi mengenai kejang, perlu kita ketahui tentang
seizure dan konvulsi. Yang dimaksud dengan seizure adalah cetusan aktifitas
listrik abnormal yang terjadi secara mendadak dan bersifat sementara di antara saraf-saraf
di otak yang tidak dapat dikendalikan. Akibatnya, kerja otak menjadi terganggu.
Manifestasi dari seizure bisa bermacam-macam, dapat berupa penurunan kesadaran,
gerakan tonik (menjadi kaku) atau klonik (kelojotan), konvulsi dan fenomena psikologis
lainnya. Kumpulan gejala berulang dari seizure yang terjadi dengan sendirinya tanpa
dicetuskan oleh hal apapun disebut sebagai epilepsi (ayan). Sedangkan konvulsi adalah
gerakan mendadak dan serentak otot-otot yang tidak bisa dikendalikan, biasanya bersifat
menyeluruh. Hal inilah yang lebih sering dikenal orang sebagai kejang. Jadi kejang
hanyalah salah satu manifestasi dari seizure.
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal lebih dari 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstra kranium. Mengenai
definisi kejang demam ini masing-masing peneliti membuat batasan-batasan sendiri, tetapi
pada garis besarnya hampir sama. Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures,
kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak, biasanya terjadi antara umur
antara umur 3 bulan dan 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya
infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan
bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Derajat tingginya demam yang
dianggap cukup untuk diagnosis kejang demam ialah 38C atau lebih, tetapi suhu
sebenarnya saat kejang tidak diketahui. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa
demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang
disertai demam pada bayi usia kurang dari 1 bulan tidak termasuk kejang demam.

II. EPIDEMIOLOGI
Kejang demam terjadi pada 2-4% dari populasi anak berumur 6 bulan sampai 5
tahun (kebanyakan antara umur 6 dan 18 bulan). Di Amerika antara 2-5% anak-anak
mengalami kejang demam pada usia 6 bulan sampai 5 tahun. Sekitar 70-75% merupakan
kejang demam sederhana. 20-25% merupakan kejang demam kompleks. Dan sekitar

7
sepertiga dari pasien ini mengalami sedikitnya satu kali kekambuhan. Di internasional
angka yang serupa juga ditemukan pada negara berkembang, walaupun mungkin di negara
Asia frekuensinya lebih besar. Lebih dari 90 % dari kejang demam adalah kejang umum,
kurang dari 5 menit dan terjadi awal pada penyakit yang menyebabkan demam. Penyakit
pernafasan akut merupakan hal terbesar yang dikaitkan dengan kejang demam.
Gastroenteritis khususnya yang disebabkan oleh Shigella atau Campylobacter dan infeksi
traktus urinarius merupakan penyebab yang lebih sedikit.
Kejang demam jarang (sekitar 1-2,4%) menjadi epilepsi atau kejang non febril
pada umur dewasa. Kemungkinan untuk menjadi epilepsi lebih besar jika kejang demam
mempunyai manifestasi yang kompleks antara lain durasi lebih dari 15 menit, lebih dari
satu kali kejang dalam sehari. Faktor lain yang memperburuk yaitu onset awal dari kejang
(sebelum umur 1 tahun), riwayat keluarga epilepsi. Dan walaupun dengan adanya faktor
tersebut, risiko mengalami epilepsi setelah kejang demam itu masih sangat rendah yaitu
sekitar 15-20%.

III. FAKTOR RISIKO


Faktor risiko kejang demam pertama adalah demam. Selain itu terdapat faktor
riwayat kejang demam pada orangtua atau saudara kandung, perkembangan terlambat,
problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus dan kadar natrium rendah.
Setelah kejang demam pertama kira kira 33% anak akan mengalami satu kali
rekurensi (kekambuhan), dan kira kira 9% anak mengalami rekurensi 3 kali atau lebih,
risiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah
demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan
riwayat keluarga epilepsi. Kejang demam sangat tergantung pada umur, 85% kejang
pertama sebelum berumur 4 tahun, terbanyak di antara 17 - 23 bulan.

IV. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada seorang
anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan
dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat
terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi
difusi dari ion kalium maupun ion natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya
lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas

8
keseluruh sel maupun membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter dan terjadilah kejang.
Tiap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi
rendahnya ambang kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak dengan ambang kejang
yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38C sedangkan pada anak dengan ambang
kejang tinggi, kejang baru terjadi pada suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan ini dapatlah
disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada ambang kejang
yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu diperhatikan pada tingkat suhu
berapa penderita kejang.
Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak
menimbulkan gejala sisa. Tetapi kadang kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15
menit) biasanya disertai terjadinya apne, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi
untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapni, asidosis laktat
disebabkan oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung yang
tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkat disebabkan meningkatnya aktifitas otot dan
selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat.
Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan
neuron otak selama berlangsungnya kejang lama. Faktor terpenting adalah gangguan
peredaran darah yang mengakibatkan hipoksemia sehingga meninggikan permeabilitas
kapiler dan timbul edem otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan kejang
yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari, sehingga terjadi serangan
epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan
kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsi.

V. KLASIFIKASI
Dahulu Livingston membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu kejang
demam sederhana (simple febrile convulsion) dan epilepsi yang diprovokasi oleh demam
(epilepsi triggered of by fever). Definisi ini tidak lagi digunakan karena studi prospektif
epidemiologi membuktikan bahwa risiko berkembangnya epilepsi atau berulangnya
kejang tanpa demam tidak sebanyak yang diperkirakan.
Di Sub Bagian Saraf Anak Bagian IKA FK UI-RSCM Jakarta, kriteria Livingston
tersebut setelah dimodifikasi dipakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang
demam sederhana ialah:

9
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 5 tahun.
2. Kejang hanya berlangsung sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.
3. Kejang bersifat umum, tonik klonik.
4. Kejang timbul setalah 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.
7. Frekuensi bangkitan kejang dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.
Akhir-akhir ini kejang demam diklasifikasikan menjadi 2 golongan,yaitu:
a. Kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure) yaitu kejang menyeluruh yang
berlangsung kurang dari 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.
b. Kejang demam kompleks (Complex Febrile Seizure) yaitu kejang fokal (hanya
melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung lebih dari 15 menit dan atau
berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung). Disini anak
sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurologi atau riwayat kejang demam atau
kejang tanpa demam dalam keluarga.

VI. MANIFESTASI KLINIS


Yang harus dicari adalah tipe dari kejang (umum atau lokal) dan biasanya saat
kejang mata terbalik ke atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan badan. Selain itu
durasinya harus digambarkan untuk membedakan antara kejang demam sederhana dengan
kompleks. Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan
dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar
susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akuta, bronkitis, furunkulosis, dan
lain-lain.
Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi
setelah beberapa detik atau menit, anak kembali terbangun dan sadar kembali tanpa defisit
neurologis. Kelainan neurologis terjadi pada sebagian kecil penderita, ini biasanya terjadi
pada penderita dengan kejang lama atau berulang baik umum atau fokal. IQ lebih rendah
ditemukan pada penderita kejang demam yang berlangsung lama dan mengalami
komplikasi. Risiko retardasi mental menjadi 5 kali lebih besar apabila kejang demam
diikuti terulangnya kejang tanpa demam.
Pada pemeriksaan Fisik kita harus mencari penyebab dasar dari demam apakah
suatu infeksi seperti otitis media, faringitis atau virus sebagai penyebab demam. Lalu

10
harus dilakukan evaluasi serial dari status neurologis pasien dan memeriksa tanda
meningeal untuk menyingkirkan infeksi pada susunan saraf pusat

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan darah tepi lengkap dan elektrolit
Kadang tidak menunjukkan kelainan yang berarti. Hitung leukosit diatas 20.000 L
atau pergeseran kekiri yang ekstrim mungkin berhubungan dengan bakteremia.
Pemeriksaan lab rutin biasanya tidak diindikasikan kecuali diperlukan untuk mencari
penyebab demam. Penilaian elektrolit dilakukan untuk menyingkirkan kejang karena
defisiensi elektrolit.
Pungsi lumbal
Pungsi lumbal adalah pemeriksaan cairan serebrospinal yang dilakukan untuk
menyingkirkan menigitis terutama pada pasien kejang demam pertama. Pada bayi-
bayi kecil seringkali gejala meningitis tidak jelas sehingga pungsi lumbal harus
dilakukan pada bayi berumur kurang dari 6 bulan dan dianjurkan untuk yang berumur
kurang dari 18 bulan. Berdasar penelitian yang telah diterbitkan, cairan serebrospinal
yang abnormal umumnya diperoleh pada anak dengan kejang demam yang:
- Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh: kaku kuduk).
- mengalami complex partial seizure.
- Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam
sebelumnya).
- Kejang saat tiba di IGD.
- Keadaan post ictal (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga sekitar
1 jam setelah kejang demam adalah normal.
- Kejang pertama setelah usia 3 tahun.
Pada anak dengan usia lebih dari 18 bulan, pungsi lumbal dilakukan jika tampak tanda
peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi
sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi
antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti
itu pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk dilakukan.
EEG
EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidak-normalan
gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan pada evaluasi rutin pada anak dengan

11
kejang demam sederhana pertama kali. EEG tidak dapat memprediksi kemungkinan
berulangnya kejang atau memperkirakan kemungkinan terjadinya epilepsi di
kemudian hari. Oleh sebab itu, pemeriksaan EEG pada kejang demam tidk
direkomendasikan. Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang
demam yang tidak khas atau dengan faktor risiko menjadi epilepsi.
Pemeriksaan Imaging
Pemeriksaan imaging (CT Scan atau MRI) dapat diindikasikan pada keadaan adanya
riwayat dan tanda klinis trauma kepala, kemungkinan adanya lesi struktural di otak
(mikrosefali, spastik) dan adanya tanda peningkatan tekanan intrakranial (kesadaran
menurun, muntah berulang, fontanel anterior membonjol, paresis saraf otak VI, edema
papil)

VIII. DIAGNOSIS BANDING


Menghadapi seorang anak yang menderita demam dengan kejang, harus dipikirkan
apakah penyebab dari kejang itu di dalam atau di luar susunan saraf pusat (otak). Kelainan
di dalam otak biasanya karena infeksi, misalnya meningitis, ensefalitis, abses otak dan
lain-lain. Oleh sebab itu perlu waspada untuk menyingkirkan dahulu apakah ada kelainan
organis di otak. Baru sesudah itu dipikirkan apakah kejang demam ini tergolong dalam
kejang demam sederhana atau epilepsi yang diprovokasi oleh demam. Infeksi susunan
saraf pusat dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan cairan cerebrospinal. Kejang
demam yang berlangsung lama kadang-kadang diikuti hemiparesis sehingga sukar
dibedakan dengan kejang karena proses intrakranial. Sinkop juga dapat diprovokasi oleh
demam, dan sukar dibedakan dengan kejang demam. Anak dengan demam tinggi dapat
mengalami delirium, menggigil, pucat dan sianosis sehingga menyerupai kejang demam.

IX. PERJALANAN PENYAKIT


Beberapa hal yang harus dievaluasi adalah mortalitas, perkembangan mental dan
neurologis, serta berulangnya kejang demam dan risiko terjadinya epilepsi dikemudian
hari. Mortalitas pada kejang demam sangat rendah, hanya sekitar 0,64 - 0,74%.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang
sebelumnya normal. Kelainan neurologis yang terbanyak ialah hemiparesis, disusul
diplegia, koreoatetosis atau rigiditas serebrasi. Kelainan ini biasanya terjadi pada pasien
dengan kejang lama atau kejang berulang baik umum maupun fokal.

12
Gangguan intelek dan gangguan belajar jarang terjadi pada kejang demam
sederhana. Ellenberg dan Nelson melaporkan bahwa IQ pada 42 pasien kejang demam
tidak berbeda dibandingkan dengan saudara kandungnya yang tidak menderita kejang
demam. IQ lebih rendah ditemukan pada pasien kejang demam yang berlangsung lama
dan mengalami komplikasi. Risiko retardasi mental menjadi 5 kali lebih besar apabila
kejang demam diikuti terulangnya kejang tanpa demam.
Angka kejadian epilepsi pada pasien kejang demam kira-kira 2-3 kali lebih banyak
dibandingkan populasi umum dan pada pasien kejang demam berulang kemungkinan
terjadinya epilepsi adalah 2 kali lebih sering dibandingkan dengan pasien yang tidak
mengalami berulangnya kejang demam. Faktor risiko terjadinya epilepsi adalah:
1) Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis atau
perkembangan.
2) Adanya riwayat kejang tanpa demam (epilepsi) pada orangtua atau saudara kandung.
3) Kejang berlangsung lama lebih dari 15 menit atau kejang fokal.
Bila hanya satu faktor risiko kemungkinan timbulnya epilepsi adalah 2 3%, sedangkan
apabila terdapat 2 dari 3 faktor di atas, kemungkinan menjadi epilepsi adalah 13%.
Epilepsi yang terjadi setelah kejang demam dapat bermacam-macam, yang paling sering
adalah epilepsi motor umum yaitu kira-kira 50%.
Nelson dan Ellenberg melaporkan berulangnya kejang demam lebih sering bila
serangan pertama terjadi pada bayi berumur kurang dari 1 tahun yaitu sebanyak 50%. Bila
kejang demam pertama terjadi pada usia lebih dari 1 tahun risiko berulangnya kejang
adalah 28%. Berulangnya kejang multipel juga lebih sering terjadi pada bayi. Anak
dengan perkembangan abnormal atau mempunyai riwayat epilepsi dalam keluarga juga
lebih sering tmengalami berulangnya kejang demam.

X. PENATALAKSANAAN
Dalam penanggulangan kejang demam ada 3 faktor yang perlu dikerjakan, yaitu:
pengobatan fase akut, mencari dan mengobati penyebab, dan pengobatan profilaksis
terhadap berulangnya kejang demam:
1. Pengobatan fase akut
Pada waktu kejang pasien dimiringkan untuk mencegah aspirasi ludah atau
muntahan. Jalan napas harus bebas agar oksigenasi terjamin. Perhatikan keadaan vital.
Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air hangat dan pemberian
antipiretik suppositoria.

13
Pemberian diazepam rektal pada saat kejang sangat efektif dalam menghentikan
kejang. Dosis diazepam rektal adalah dosis 5 mg untuk berat badan kurang dari 10 kg
dan 10 mg untuk berat badan lebih dari 10 kg, atau 0,5 - 0,75 mg/kg BB/kali.
Pemberian diazepam rektal maksimum 2 kali berturutan dengan jarak 5 menit. Hati-hati
dengan depresi pernafasan. Diazepam juga dapat diberikan dengan suntikan intravena
sebanyak 0,3 - 0,5 mg/kg BB. Berikan perlahan-lahan, dengan kecepatan 1-2 mg per
menit atau dalam waktu 3-5 menit, dengan dosis maksimal 20mg. Bila kejang berhenti
sebelum dosis habis, hentikan penyuntikan. Diazepam dapat diberikan 2 kali dengan
jarak 5 menit bila anak masih kejang.
Bila tetap masih kejang, berikan fenitoin intravena sebanyak 10-20 mg/kgBB
dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50mg/menit. Bila kejang berhenti
dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal. Bila masih
tetap kejang, rawat di ruang rawat intensif, berikan fenobarbital dan pasang ventilator
bila perlu. Bila kejang sudah berhenti, tentukan apakah anak termasuk dalam kejang
demam yang memerlukan pengobatan rumat atau cukup pengobatan intermiten.

Fenitoin iv 10-20 mg/kgBB, kecepatan


1 mg/kg/mnt atau < 50mg/menit
4-8 mg/kg/hari

14
2. Pengobatan profilaksis
Profilaksis intermiten
Yang dimaksud dengan pengobatan intermiten adalah pengobatan yang diberikan
pada saat anak mengalami demam, untuk mencegah terjadinya kejang demam.
Terdiri dari pemberian antipiretik dan antikonvulsan.
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi risiko terjadinya
kejang demam. Namun kesepakatan saraf anak menyatakan bahwa pengalaman
menunjukkan bahwa antipiretik tetap bermanfaat.
Antipiretik yang dapat digunakan adalah :
- Paracetamol atau asetaminofen 10 - 15 mg/kg BB/kali diberikan 4 kali.
- Ibuprofen 10 mg/kg BB/kali, diberikan 3 kali.
Antikonvulsan pada saat kejang
- Pemakaian Diazepam oral dosis 0,3 - 0,5 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam
menurunkan risiko berulangnya kejang.
- Dapat juga diberikan diazepam rektal dengan dosis 0,5 mg/kg BB/kali
diberikan sebanyak 4 kali per hari.
Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari ( rumatan)
Pengobatan rumat adalah pengobatan yang diberikan secara terus-menerus untuk
waktu yang cukup lama. Obat rumat yang dapat menurunkan risiko berulangnya
kejang demam hanya fenobarbital atau asam valproat. Semua obat antikonvulsan
lain tidak bermanfaat untuk mencegah berulangnya kejang demam. Dosis valproate
adalah 15 - 40 mg/kg BB/hari dibagi 2 - 3 dosis sedangkan fenobarbital 3 - 5 mg/kg
BB/hari dibagi 2 dosis. Pengobatan rumat cukup diberikan selama 1 tahun, kecuali
pada kasus yang sangat selektif.
Pemakaian fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan
kesulitan belajar. Sedangkan pemakaian asam valproat pada usia kurang dari 2 tahun
dapat menyebabkan gangguan hati. Bila memberikan valproate periksa SGOT dan
SGPT setelah 2 minggu, 1 bulan, kemudian 3 bulan. Pengobatan rumat hanya
diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai berikut :
1. Kejang lama > 15 menit
2. Anak mengalami kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis, todds paresis, cerebral palsy, retardasi mental,
hidrosefalus

15
3. Kejang fokal
4. Bila ada keluarga sekandung atau orang tua yang mengalami epilepsi.
Pengobatan rumat tidak harus diberikan tapi dapat dipertimbangkan dalam keadaan :
1. Kejang berulang 2 kali atau lebih dalam 24 jam
2. Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang dari 12 bulan.

XI. KOMPLIKASI
1. Kejang demam berulang
Dari penelitian yang ada, frekuensi terulangnya kejang demam berkisar antara 25 %-
50%. Faktor terpenting untuk memperkirakan berulangnya kejang demam adalah umur
anak pada saat kejang terjadi pertama kali. Anak yang mendapatkan kejang pertama kali
pada umur 1 tahun atau kurang mempunyai kemungkinan sebesar 65% mendapatkan
kejang demam kembali. Hal ini berbeda dengan apabila onset kejang antara umur 1
sampai 2 tahun kemungkinan berulangnya kejang sebesar 35% dan menjadi 20%
apabila onset kejangnya setelah 2 tahun. Angka berulangnya kejang demam juga
meningkat pada anak yang memiliki perkembangan yang abnormal sebelum kejang
pertama dan pada anak yang memiliki riwayat keluarga yang pernah mengalami kejang
tanpa demam. Apabila melihat kepada umur, jenis kelamin dan riwayat keluarga,
Lennox-Buchthal (1973) mendapatkan :
- Pada anak berumur kurang dari 13 tahun, terulangnya kejang pada wanita 50 %
dan pada pria 33 %.
- Pada anak berumur antara 14 bulan dan 3 tahun dengan riwayat keluarga adanya
kejang, terulangnya kejang adalah 50 %, sedang pada tanpa riwayat kejang 25 %.
Faktor risiko terjadinya kejang demam berulang
a. Riwayat kejang demam dalam keluarga.
b. Usia kurang dari 18 bulan.
c. Tingginya suhu badan sebelum kejang. Makin tinggi suhu sebelum kejang demam
makin kecil resiko berulangnya kejang demam.
d. Lamanya demam sebelum kejang. Makin pendek jarak antara mulainya demam
dengan terjadinya bangkitan kejang demam, makin besar risiko berulangnya
kejang demam.
Bila ada 3 faktor, kemungkinan kejang demam berulang kembali adalah 80%. Bila
sama sekali tidak terdapat faktor tersebut, risiko kejang demam kembali adalah 10-15%.
Kemungkinan kejang demam kembali paling besar pada tahun pertama.

16
2. Epilepsi
Anak yang mendapatkan kejang demam risikonya meningkat untuk menjadi epilepsi
dibandingkan dengan anak tanpa riwayat kejang demam. Anak yang mendapatkan
kejang fokal, kejang lama dan episode berulang dari kejang demam memiliki
kemungkinan sebesar 25% menjadi epilepsi sampai umur 25 tahun.
Faktor risiko terjadinya epilepsi di kemudian hari adalah :
a. Perkembangan saraf terganggu
b. Kejang demam kompleks
c. Riwayat epilepsi dalam keluarga
Masing-masing faktor risiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-
6%. Adanya ketiga faktor-faktor risiko tersebut meningkatkan kemungkinan epilepsi
menjadi 10-15%. Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian
obat rumat pada kejang demam.

3. Todd paresis
Merupakan kelemahan yang terjadi setelah kejang dan timbul setelah kejang demam 1
kali atau 2 kali. Kelemahan ini biasanya sembuh setelah 24 - 48 jam atau setelah 1
minggu.

4.Gangguan intelegensia
Yang mengalami kelainan ini adalah anak-anak yang sebelumnya sudah menderita
gangguan neurologis dan gangguan perkembangan. Gangguan belajar dan kebiasaan,
retardasi mental, dan defisit motorik serta koordinasi dilaporkan pada anak dengan
skuele kejang demam. Angka insiden dari komplikasi ini sangat rendah pada anak
normal yang mendapatkan kejang demam sederhana. Tidak ada peningkatan insiden
dari retardasi mental pada anak yang hanya mendapatkan kejang demam dan pada anak
yang normal sebelum timbul kejang pertama. Dari suatu penelitian terhadap 431
penderita dengan kejang demam sederhana, tidak terdapat kelainan pada IQ, tetapi pada
penderita kejang demam yang sebelumnya telah terdapat gangguan perkembangan atau
kelainan neurologi akan didapat IQ yang lebih rendah disbanding dengan saudaranya
(Milichap, 1968). Apabila kejang demam diikuti dengan terulangnya kejang tanpa
demam, retardasi mental akan terjadi 5 kali lebih besar (Nelson dan Ellenberg).

17
5.Hemiparesis
Hemiparesis biasanya terjadi pada penderita yang mengalami kejang lama (berlangsung
lebih dari setengah jam) baik bersifat umum atau fokal. Kelumpuhannya sesuai dengan
kejang fokal yang terjadi. Mula-mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2
minggu timbul spastisitas. Millichap (1968) melaporkan dari 1190 anak yang menderita
kejang demam, hanya 0,2% saja yang mengalami hemiparesis sesudah kejang lama.

XII. PROGNOSIS
Prognosis anak dengan kejang demam adalah bagus. Pencapaian intelektual
normal. Kebanyakan anak akan mengalami kejang demam di kemudian hari, tetapi
perkembangan ke epilepsi dan kejang tanpa demam adalah jarang. Kejang demam akan
kambuh pada 50% anak yang mengalami kejang demam kurang dari 1 tahun dan 27%
pada onset setelah umur satu tahun.
Jika tidak ditangani, 33% pasien mengalami stidaknya satu kali kekambuhan.
Menurut United States National Collaborative Perinatal Project yang meneliti 1.706 anak
dari baru lahir sampai umur 7 tahun yang mengalami satu atau lebih kejang demam, faktor
risiko untuk berkembang menjadi epilepsi adalah:
1. riwayat kejang tanpa demam
2. adanya abnormalitas neurologis
3. kejang demam kopleks.
Dari pasien yang mempunyai satu faktor risiko, 2 % berkembang menjadi epilepsi dan
pada pasien yang memiliki 2 atau lebih faktor risiko, 10% berkembang menjadi epilepsi.

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Short, Jhon R; Gray, J.P; Dodge, J.A. Ikhtisar Penyakit Anak. Edisi Keenam. Jilid Dua.
Binarupa Aksara. Jakarta: 1994; hal 62-3.
2. S, Soetomenggolo; Taslim; Ismail,S. Buku Ajar Neurologis Anak. Cetakan Kedua. BP.
IDAI. Jakarta: 2000; hal 244-51.
3. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. Buku Kuliah 2. Ilmu Kesehatan Anak. Bagian IKA
FK UI. Jakarta: 1985; hal 847-55.
4. Mansjoer, A; Suprohaita; Wardhan, W.I; Setiowulan, W. Kapita Selekta Kedokteran.
Jilid 2. Edisi Ketiga. Media Aesculapius. FK UI. Jakarta: 2000; hal 434-7.
5. ILAE, Commission on Epidemiology and Prognosis. Epilepsia. 1993;34;592-8
6. Pusponegoro, H.D, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Ikatan
Dokter Anak Indonesia. Jakarta: 2004; hal 210-1.
7. Febrile Sizure. 2002. Pada laman
http://aappolicy.aappublication.org/cgi/content/abstract/pediatrics. Diakses pada tanggal
9 April 2013
8. Behrman, Kliegman, Arvinka. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Vol 3. Edisi 15. EGC.
Jakarta: 1999; hal 575-8
9. Infants and children: Acute Management of Seizures. Edisi kedua. 2004. Pada laman
www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf. Diakses pada
tanggal 8 April 2013
10. Prodigy Guidance Convulsion. 2001. Pada Laman
http://www.prodigy.nhs.uk/guidance.asp?gt=febrile%20convulsion. Diakses pada
tanggal 8 April 2013
11. Sastroasmoro, S, dkk, Panduan Pelayanan Medis Departmen Ilmu Penyakit Anak.
Cetakan Pertama. RSUP Nasional Dr Ciptomangunkusumo. Jakarta: 2007; hal 252

19