Anda di halaman 1dari 37

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur senantisa tercurahkan kepada Allah SWT,


yang senantiasa memberikan rahmat, taufik dan inayah-Nya dan selalu
mengiringi langkah-langkah dalam penulisan Laporan Observasi
Etnozoologi Terkait dengan Kambing dan Domba di Desa Mandala
Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon. Atas segala nikmat dan
karunia-Nya pula akhirnya kami dapat menyelesaikan Laporan Observasi ini.
Shalawat serta salam semoga tercurahkan selalu kepada Nabi besar
Muhammad SAW. Semoga dengan syafaatnya kita memperoleh ampunan
dan keselamatan di akhirat kelak. Ucapan terimakasih tidak lupa dihaturkan
kepada dosen pengampu Mata Kuliah Zoologi Vertebrata Ibu Eka Fitriah,
S.Si., M.Pd. yang telah membimbing dalam proses pembuatan Laporan
Observasi ini.
Kami menyadiri terselesaikannya Laporan Observasi ini tentu saja
didukung dan didorong oleh pihak-pihak luar yang berperan dalam
membantu penulisan Laporan Observasi ini dan pada hakikatnya kami
berterimakasih kepada semua pihak yang membantu dalam penulisan
Laporan Observasi ini. Kami menyadari bahwa Laporan Observasi ini
belumlah sempurna, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari
semua pihak selalu kami harapkan demi perbaikan penulisan yang lebih baik
lagi.
Akhir kata, kami berharap semoga Laporan Observasi ini dapat
bermanfaat bagi kami maupun pembaca. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhoi segala usaha kita, Amin.
Cirebon, Mei 2016
Penyusun

1|Page
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................... 1


DAFTAR ISI.............................................................................................................. 2
BAB I ......................................................................................................................... 4
PENDAHULUAN ..................................................................................................... 4
A. Latar Belakang................................................................................................ 4
B. Rumusan Masalah .......................................................................................... 5
C. Tujuan ............................................................................................................ 5
BAB II........................................................................................................................ 6
KAJIAN PUSTAKA .................................................................................................. 6
A. Pengertian Etnozoologi .................................................................................. 6
B. Kambing Boer dan Domba Garut ................................................................... 7
C. Peranan Kambing Boer dan Domba Garut ................................................... 11
D. Profil Desa Mandala ..................................................................................... 13
E. Profil Peternakan .......................................................................................... 14
BAB III .................................................................................................................... 16
METODE PENELITIAN ......................................................................................... 16
A. Waktu dan Tanggal ...................................................................................... 16
B. Metode Penelitian ........................................................................................ 16
C. Lembar Wawancara ..................................................................................... 16
BAB IV .................................................................................................................... 19
HASIL OBSERVASI............................................................................................... 19
A. Hasil Penelitian............................................................................................. 19
1. Latar Belakang Peternakan .......................................................................... 19
2. Cara Peternakan ........................................................................................... 19
3. Lokasi Beternak ........................................................................................... 20

2|Page
4. Hasil Peternakan .......................................................................................... 20
5. Pendapat Masyarakat .................................................................................. 21
B. Pembahasan ................................................................................................. 22
BAB V........................................................................................................................ 28
KESIMPULAN ............................................................................................................ 28
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 30
LAMPIRAN............................................................................................................. 31
A. Transkrip Wawancara .................................................................................. 31
B. Foto .............................................................................................................. 36

3|Page
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kambing dan Domba merupakan bagian dari Subclassis
Mamalia yang jumlahnya masih sangat banyak di Dunia, utamanya di
Indonesia sendiri. Jumlahnya yang banyak membuatnya banyak
dijumpai diberbagi daerah dengan beberapa ciri khas yang mungkin
berbeda tergantung dari segi pemanfaatnnya. Pemanfaatan tersebut
dilihat baik dari segi tenaganya, dagingnya, dan air susunya.
Kambing dan Domba Perah memiliki pemanfaatan yang mana
harus menghasilkan air susu yang banyak sehingga pakan yang
diberikan pun disesuaikan agar kandungan air susunya tetap baik.
Kambing dan Domba Pedaging memiliki pemanfaatan yang mana
harus menghasilkan kambing dan domba yang berukuran besar yang
memiliki daging yang banyak sehingga pakan yang diberikan akan
melebihi kambing dan domba biasanya.
Bagian-bagian tubuh yang dimilikinya memiliki fungsi yang
dapat dimanfaatkan lebih bagi manusia pada umumnya. Di Indonesia
sendiri kambing dan domba sering dijadikan hewan sembelihan untuk
qurban, aqiqah atau acara-acara tertentu. Bahkan di dibeberapa
wilayah Indonesia ada yang menjadikanya sebagai ajang perlombaan
adu kekuatan.
Berbeda dengan kebanyakan pemanfaatan lainnya, di Desa
Mandala yang terletak di Kabupaten Kuningan memanfaatkan
Kambing dan Domba dengan cara lain yaitu mengembangbiakkan
dengan proses persilangan antara kambing dan domba lokal dengan
kambing dan domba yang kebanyak berasal Australia. Adapun hasil

4|Page
dari persilangan itu akan dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar
sebagai jaminan bagi pendidikan anak-anak disekitar lingkungan
tersebut.
Oleh karena itu, kami melakukan observasi langsung di Desa
Mandala untuk mengetahui sejauh apa hubungan antara peternakan
kambing di Desa tersebut dengan masyarakat di sekitar Desa mandala
sehingga kami mengetahui nilai-nilai Etnozooogi yang ada di Desa
Mandala Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon.

B. Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang yang telah dipaparkan,
bahwasannya rumusan masalah yang akan dibahas dalam laporan
observasi etnozoologi ini adalah :
1. Bagaimana Karakteristik dari Kambing dan Domba yang
dibudiyakan di Desa Mandala?
2. Bagaimana Kajian Etnozoologi Terkait dengan Peternakan
Kambing dan Domba di Desa Mandala?
3. Bagaimana Pandangan Masyarakat mengenai Pemanfaatan
Kambing dan Domba di Desa Mandala?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan, tujuan
yang akan dicapai pada pembuatan laporan observasi etnozoologi ini
adalah :
1. Mengetahui Karakterisitik dari Kambing dan Domba.
2. Mengetahui Kajian Etnozoologi Terkait dengan Peternakan
Kambing dan Domba di Desa Mandala?
3. Mengetahui Pandangan Masyarakat mengenai Kambing dan
Domba di Desa Mandala.

5|Page
BAB II

KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Etnozoologi
Kata ethnoscience (etnosains) berasal dari kata ethnos (bahasa
Yunani) yang berarti bangsa, dan scientia (bahasa Latin) artinya
pengetahuan. Oleh sebab itu, etnosains merupakan pengetahuan yang
dimiliki oleh suatu komunitas budaya. Kemudian ilmu ini
mempelajari atau mengkaji sistem pengetahuan dan tipe-tipe kognitif
budaya tertentu. Penekanan pada pengetahuan asli dan khas dari
suatu komunitas budaya. Menurut Henrietta L. (1998) Etnosains
adalah cabang pengkajian budaya yang berusaha memahami
bagaimana pribumi memahami alam mereka. Pribumi biasanya
memiliki ideologi dan falsafah hidup yang mempengaruhi mereka
mempertahankan hidup. Atas dasar ini, dapat dinyatakan bahwa
etnosains merupakan salah satu bentuk etnografi baru (the new
ethnography). Melalui etnosains, sebenarnya peneliti budaya justru
akan mampu membangun teori yang grass root dan tidak harus
mengadopsi teori budaya barat yang belum tentu relevan.
Penelitian etnosains terhadap fenomena budaya selalu
berbasis etno dan atau folk. Kehadiran etnosains, menurut Spradley
(2001) memang akan memberi angin segar pada penelitian budaya.
Meskipun hal demikian bukan hal yang baru, karena sebelumnya
telah mengenal verstehen (pemahaman), namun tetap memberi wajah
baru bagi penelitian budaya. Oleh karena, memang banyak peneliti
budaya yang secara sistematis memanfaatkan kajian etnosains.
Memang belum ada kesamaan pendapat mengenai istilah etnosains

6|Page
dikalangan peneliti budaya.Istilah ini ada yang menyebut cognitif
anthropology, ethnographic semantics, dan descriptive semantics
(Spradley, 2001). Berbagai istilah ini muncul karena masing-masing
ahli memberikan penekanan berbeda, namun hakikatnya adalah ingin
mencari tingkat ilmiah kajian budaya.
Didalam kajian sains terdapat cabang-cabang ilmu yang
mempelajari kekhususan dari ilmu-ilmu tersebut, diantaranya adalah
cabang ilmu zoologi. Zoologi juga mengkaji ilmunya secara etno.
Definisi dari etnozoologi itu sendiri adalah penamaan ilmiah
penggunaan serta hubungan budaya antara hewan dan manusia suatu
suku bangsa atau mengkaji hewan sebagai objek utama dan dikaitkan
dengan keyakinan masyarakat sekitar1

B. Kambing Boer dan Domba Garut


1. Kambing Boer
Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi
ternak yang teregistrasi selama lebih dari 65 tahun. Kata "Boer"
artinya petani. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing
pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena
pertumbuhannya yang cepat. Kambing ini dapat mencapai berat
dipasarkan 35 - 45 kg pada umur lima hingga enam bulan,
dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,02 - 0,04 kg per
hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk
dan ransum pakan sehari-harinya. Dibandingkan dengan
kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing

1
Agustinus Ufie.2013. Kearifan lokal masyarakat sebagai sumber belajar sejarah
lokal untuk
memperkokoh kohesi sosial siswa.Depok :Universitars Indonesia Press

7|Page
Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% - 50% dari berat
tubuhnya (Shipley, 2001). Kambing Boer dilaporkan sebagai
salah satu ternak ruminansia kecil yang paling tangguh di dunia.
Kambing Boer mempunyai kemampuan untuk beradaptasi
dengan baik dengan semua jenis iklim, dari daerah panas kering
di Namibia, Afrika dan Australia sampai daerah bersalju di Eropa
(Haryanto, B. 1992). Klasifikasi kambing Boer ialah2:

Kingdom : Animalia
Fillum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Artiodactyla
Subordo : Ruminansia
Famili : Bovidae
Subfamili : Caprini
Genus : Capra
Spesies : Capra aegragus
Ciri-ciri kambing Boer yaitu sebagai berikut : bulu tubuhnya
berwarna putih, bulu pada bagian leher berwarna gelap,
tanduknya melengkung ke belakang, badan kuat, gerakannya
gesit, bentuk tubuhnya simetris dengan perdagingan yang dalam
dan. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing tipe
pedaging yang pertumbuhannya sangat cepat yaitu 0,20,4 kg
per hari dan bobot tubuh pada umur 56 bulan dapat mencapai

2
Williamson G. dan W. J. A. Payne., 1993. Pengantar Peternakan di Daerah tropis.
Terjemahan oleh :IGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

8|Page
3545 kg dan siap untuk dipasarkan. Presentase daging pada
karkas kambing Boer mencapai 40%--50% dari berat badannya
(Ted dan Shipley, 2001). Bobot tubuh kambing Boer jantan umur
8 bulan dapat mencapai 64 kg, umur 12 bulan 92 kg, sedangkan
pada saat dewasa bobot tubuhnya dapat mencapai sekitar 114
116 kg. Pertumbuhan kambing Boer dapat mencapai 250 g/hari3.
2. Domba Garut
Berdasarkan asal usulnya domba garut merupakan hasil
persilangan segitiga antara domba Merino, Lokal, dan Kaapsche
(cape) dari Afrika selatan, domba garut pada awalnya terbentuk
melalui suatu proses persilangan yang kurang terencana antara
domba lokal dengan domba. Merino dan domba Kaapstad
sehingga dalam perkembangan selanjutnya terdapat berbagai
bentuk fenotipe dan karakteristik yang relatif berbeda-beda.
Domba garut atau domba priangan merupakan domba lokal
Indonesia yang banyak tersebar di Jawa Barat terutama di
Kabupaten Garut.
Domba garut terbagi menjadi tipe tangkas (aduan) dan tipe
pedaging. Domba garut pedaging jantan maupun betina memiliki
ciri-ciri garis muka lurus, bentuk mata normal, bentuk telinga
hiris dan rubak, garis punggung lurus, bentuk bulu lurus 4
dengan warna dasar dominan putih, jantan bertanduk dan betina
kebanyakan tidak bertanduk.
Domba garut tipe tangkas dan tipe pedaging memiliki bobot
badan yang berbeda. Berdasarkan studi keragaman genetik DNA

3
Williamson G. dan W. J. A. Payne., 1993. Pengantar Peternakan di Daerah tropis.
Terjemahan oleh IGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

9|Page
mikrosatelit dan hubungannya dengan bobot badan pada domba
lokal di Indonesia, domba garut tipe pedaging dan tipe tangkas
mempunyai alel spesifik untuk marka bobot badan. Berdasarkan
hasil penelitian, secara umum domba garut tipe tangkas
mempunyai bobot badan lebih tinggi dari tipe pedaging. Berikut
Klasifikasi dari domba garut
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Famili : Bovidae
Genus : Ovis
Spesies : Ovis aries
Domba tangkas jantan dewasa yang berumur lebih dari satu
tahun, memiliki bobot badan antara 51-84 kg dengan rataan
66,78 7,93 cm dan garut betina tipe tangkas memiliki bobot
badan 42,33 7,53 kg. Domba garut pedaging jantan umur 1
tahun memiliki bobot badan 31,44 5,22 kg mba ekor gemuk
ini banyak terdapat di Jawa Timur dan Madura, serta pulau-
pulau di Nusa Tenggara. Di Sulawesi Selatan dikenal sebagai
domba Donggala. Di pulau Jawa dikenal juga dengan domba
kibas Tanda-tanda yang merupakan karakteristik khas domba
ekor gemuk adalah ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian
pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan
bagian ujung ekor kecil tidak berlemak. Warna bulu putih, tidak
bertanduk dan bulu wolnya kasar. Domba ini dikenal sebagai
domba yang tahan terhadap panas dan kering. Domba ini diduga
berasal dari Asia Barat Daya yang dibawa oleh pedagang bangsa
Arab pada abad ke-18. Pada sekitar tahun 1731 sampai 1779

10 | P a g e
pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor domba Kirmani,
yaitu domba ekor gemuk dari Persia. pakah domba ekor gemuk
merupakan keturunan dari domba-domba ini, belum diketahui.
Bentuk tubuh domba ekor gemuk lebih besar dari pada domba
ekor tipis. Domba ini merupakan domba pedaging atau domba
potong , berat jantan dewasa antara 40 60 kg, sedangkan berat
badan betina dewasa 25 35 kg. Tinggi badan pada jantan
dewasa antara 60 65 cm, sedangkan pada betina dewasa 52
60 cm. DiIndonesia Domba ekor gemuk ini disilangkan dengan
domba merino dan domba ekor tipis sehingga menghasilkan
keturunan yang sering dipakai domba aduan atau dikenal dengan
domba garut (Sumantri C., A. Einstiana, J.F. Salamena and I.
Inounu. 2007)

C. Peranan Kambing Boer dan Domba Garut


Kambing mempunyai peran yang sangat strategis bagi
masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat pedesaan. Kambing
mampu berkembang dan bertahan hidup dan merupakan bagian
penting dari sistem usaha tani. Hampir 99% populasi ternak
ruminansia kecil di Indonesia dipelihara oleh petani di pedesaan

Kambing di Indonesia, yang utama digunakan untuk produksi


daging, sehingga sifat-sifat produksi yang penting untuk diperhatikan
adalah jumlah anak yang dihasilkan induk dalam setahun dan
pertambahan bobot. Sudarmono, A.S dan Sugeng Y.B, (1993)
menyatakan bahwa produktivitas kambing pedaging dapat dilihat dari
fertilitas, pertumbuhan, produksi daging, dan persentase karkas.

Kambing Boer merupakan salah satu bangsa kambing yang


cukup baik untuk produksi daging. Hal ini telah dibuktikan bahwa

11 | P a g e
kambing Boer memiliki konformasi tubuh yang baik, laju
pertumbuhan yang cepat dan kualitas karkas yang baik. Popularitas
kambing Boer sebagai bangsa kambing pedaging sudah dibuktikan
dalam dekade ini di Australia, New Zealand dan terakhir di Amerika
Utara serta belahan dunia lainnya

Kambing Boer memiliki sifat-sifat untuk memproduksi


daging, dibandingkan dengan bangsa kambing lainnya. Karena sifat-
sifat tersebut, kambing Boer telah berhasil meningkatkan performans
produksi kambing dari bangsa-bangsa lokal melalui persilangan.
Beberapa hasil penting yang dapat dicatat meliputi terjadinya
peningkatan bobot lahir, laju pertambahan bobot badan harian
(PBBH), bobot sapih, bobot dewasa, jarak beranak, dan kualitas
karkas. Sifat-sifat tersebut merupakan sifat utama yang
mempengaruhi produksi kambing pedaging secara menyeluruh.

Sifat-sifat reproduksi yang dimiliki oleh kambing Boer antara


lain memiliki siklus estrus antara 18-21 hari, rerata waktu estrus 37,4
jam, dan lama bunting sekitar 148 hari. Estrus pertama setelah
melahirkan dapat terjadi 20 hari kemudian. Aktivitas perkawinan
tertinggi tercatat pada bulan April sampai dengan Mei saat waktu
siang lebih pendek, sedangkan terendah tercatat pada bulan Oktober
sampai dengan Januari. Kambing Boer memiliki karakteristiknya
tersendiri berbeda lagi dengan Domba Garut, berikut peranan Domba
garut.

Salah satu keistimewaan ternak Domba Garut yaitu ternak


domba jantan dengan anatomi tanduknya yang bermacam-macam,
tubuhnya serta tempramen/sifat-sifat yang spesifik sebagai domba
adu dan terkenal dengan domba tangkas dan sekarang lebih dikenal

12 | P a g e
dengan domba laga, karena domba adu memiliki konotasi yang
kurang baik di masyarakat. Dikatakan domba tangkas karena
memiliki seni ketangkasan yang dipadukanengan seni pancake silat,
dan dikatakan domba laga karena berlaga dilapangan yang menarik
perhatian orang banyak serta memiliki unsur seni yang indah
dipandang4.

Pemanfaatan Kambing Boer dan Domba Garut sangat


beragam misalnya Nilai ekonimis lumayan tinggi, Pertumbuhan dan
perkembangan cepat, Mudah dibudidayakan dan diternakan, Daging
kambing dan domba memiliki kandungan tinggi, Kulit dapat
dijadikan olahan lain, Bulu domba bisa dijadikan benang. Di Desa
Mandala Kambing Boer dan Domba Garut bukan hanya
dimanfaatkan nilai ekonomisnya saja tetapi juga nilai sosialnya yang
tinggi, salah satu perternakan di Desa Mandala Kecamatan
Dukupuntang Kabupaten Cirebon yang dikelola oleh bapak Iim
membuat perkumpulan dimana setiap warga desa disana dapat
menginvestasikan kambing untuk dibudidayakan dan dimanfaatkan
untuk biaya pendidikan. Sehingga masyarakat di Desa tersebut dapat
merasakan keuntungan dari hasil peternakan Kambing.

D. Profil Desa Mandala


Desa Dukupuntang adalah desa yang terletak di bagian barat
Kabupaten Cirebon, tepatnya berada di Kecamatan
Dukupuntang.desa dukupuntang memiliki luas sekitar 74.914 ha/m2.
Desa Dukupuntang sebelah barat berbatasan dengan Desa Cisaat dan

4
Sudarmono, A.S dan Sugeng Y.B, 1993. Beternak Domba. Penebar Swadaya.
Jakarta

13 | P a g e
Desa Girinata di daerah bagian timur berbatasan dengan Desa
Mandala dan Desa Cangkoak. Sedangkan di bagian utara berbatasan
dengan Desa Kepunduan dan Desa Balad dan digian sebelah selatan
berbatasan dengan Desa Cikalahang dan Desa Bobos. Desa
dukupuntang memilki jumlah penduduk laki-laki sebanyak 2213 jiwa
dan perempuan sebanyak 2233 jiwa sehingga total penduduk sebesar
4446 jiwa. Dari keseluruhan penduduk Desa Dukupuntang adalah
pemeluk agama Islam dan merupakan warga negara Indonesia
(WNI). Mata pencaharian penduduk banyak yang merupakan petani
dan peternak terutama ikan serta penambang batu alam, ada juga
yang sebagai pedagang di daerah Kramat. Desa Kramat terbagi
menjadi lima rukun warga (RW) dan lima belas rukun tagga (RT). Di
desa Dukupuntang Juga terdapat tiga buah sekolah dasar (SD) dan
satu Madrasah ibtidaiyah (MI) serta terdapat dua SMA swasta yaitu
SMA yapisa dan SMA Kramat di Desa Dukupuntang juga terdapat
satu sekolah menengah pertama yaitu MTs Al-hidayah.

E. Profil Peternakan
Peternakan bapak iim didirikan pada bulan Oktober tahun
2014 lalu. Terinspirasi dari seorang tukang ojek yang dapat
menyekolahkan semua anaknya sampai jenjang perguruan tinggi
negeri hanya dengan menernak kambing dan domba. Oleh karena itu
bapak iim ingin mencoba menernak kambing dan domba untuk biaya
pendidikan anaknya atau anak saudaranya. Peternakan berada di
tanah milik bapak iim tidak jauh dari rumah beliau. Terdapat 2
kandang ukuran sedang dengan kondisi yang baik dan bersih. Jumlah
kambing dan domba pertama kali adalah 4 kambing boer dan 3
kambing texel dan beberapa spesies lokal. Sampai akhir bulan
februari tahun 2015 sudah terkumpul 30 kambing dan domba.

14 | P a g e
Peternakan dikelola langsung oleh bapak iim dan dibantu oleh
keluarga dari bapak iim. Pembudidayaan dilakukan dengan
melakukan persilangan secara alamiah (konvensional) antara domba
garut dengan domba texel, menghasilkan morfologi anakan yang
berbeda seperti terdapat daun telinga yang kecil dengan tubuh penuh
bulu seperti domba texel dan lingkaran hitam di daerah mata seperti
domba garut. Sedangkan persilangan yang dilakukan pada kambing
untuk saat ini belum berhasil karena kesalahan dalam hal pakan yaitu
terlalu banyak rumput yang diberikan.

15 | P a g e
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tanggal


Tempat : Desa mandala Kecamatan Dukupuntang Kabupaten
Cirebon
Tanggal : 25 Maret 2016

B. Metode Penelitian
Metode yang digunakan untuk pengumpulan data ini adalah
dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
deskriptif analitik5 yaitu metode yang melukiskan keadaan objektif
berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan guna menghasilkan data-data
yang mendalam sehingga dapat menganalisis dan mengungkapkan
keberadaan Etnozoologi di Desa Mandala Kecamatan Dukupuntang
Kabupaten Cirebon.

Teknik Pengumpulan data: Wawancara, Observasi dan


Dokumenter. Wawancara dilakukan dengan bapak Iim pemilik
peternakan dan 2 warga di sekitar peternakan Bapak Iim di Desa
Mandala Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon.

C. Lembar Wawancara
Wawancara dengan pemilik peternakan

1. Sejak kapan memulai beternak kambing dan domba?


2. Apa alasan memulai beternak kambing dan domba?

5
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Bandung: Remaja Rosdakarya.

16 | P a g e
3. Kambing pertama kali berasal dari mana?
4. Berapa jenis kambing dan domba yang diternakan dan apa saja
jenisnya?
5. Apa yang dimanfaatkan dari kambing dan domba yang ada disini?
6. Bagaimana Pendapat masyarakat sendiri tentang kambing dan
domba yang ditenakan disini?
7. Apa kesulitan dalam beternak kambing dan domba?
8. Bagaimana pola pemberian makannya dan apa saja makanannya?
9. Bagaimana perawatan dan kebersihan kambing dan domba disini?
10. Bagaimana jika ada kambing dan domba yang sakit?
11. Berapa harga jual dari kambing dan domba disini dan bagaimana
cara menentukan harganya?
12. Kambing dan domba apa saja yang sudah disilangkan?
13. Bagaimana hasil persilangan antara domba lokal (domba garut)
dengan domba texel?
14. Bagaimana pendapat dari masyarakat disekitar peternakan tentang
adanya peternakan ini?
15. Seberapa besar manfaat yang anda rasakan dengan adanya
peternakan kambing dan domba ini?

Wawancara dilakukan dengan warga disekitar Peternakan

1. Ada tidak pengaruh peternakan kambing dengan aktivitas


masyarakat di Desa Mandala ?
2. Apa manfaat yang di rasakan oleh masyarakat dengan adanya
peternakan tersebut?
3. Apa yang anda ketahui tentang peternakan bapak iim?
4. Bagaimana pendapat anda sendiri tentang beternak?

17 | P a g e
5. Seberapa besar antusias masyarakat disini tentang peternakan
kambing dan domba bapak iim?
6. Apakah ada perkumpulan atau kelompok yang dibuat untuk
mendaya gunakan peternakan di sini?
7. Apakah ada respon atau tindakan dari pengurus desa tentang
kegiatan beternak di desa ini?
8. Menurut anda Bagaimana potensi kambing dan domba sendiri di
Desa Mandal

18 | P a g e
BAB IV

HASIL OBSERVASI

A. Hasil Penelitian
1. Latar Belakang Peternakan
Peternakan kambing dan domba bapak Iim di Desa Mandala
dimulai sejak tanggal 3 Oktober 2014 yang termotifasi untuk
beternak kambing untuk kuliah di perguruan tinggi. Kambing dan
domba yang diternakan bukan milik dari pa Iim tetapi milik saudara
atau masyarakat sekitar yang ingin menitipkan dan diternakan disana
sebagai tabungan untuk biaya pendidikan.

2. Cara Peternakan
Peternakan disini dikhususkan untuk pola pembudidayaan bukan
untuk pedaging, hias. Jadi diternakan untuk di besarkan dan
disilangkan dari jenis satu dengan jenis yang lainnya, misalnya di
peternakan ini terdapat jenis kambing Boer, domba Texel, domba
lokal dan domba Garut. Terdapat persilangan antara domba Texel
dan domba Garut dan domba texel dan domba lokal, untuk
persilangan kambing Boer sendiri belum bisa karena kesalahan dalam
pakan (terlalu banyak pakan rumput). Porsi makanan rumput (kering)
jumlahnya 4 % dari bobot badannya misalnya kambing 20 kg, maka
hanya 8 ons per kambing, sedangkan untuk makanan basah maka
10% dari bobot badannya. Selain itu, jenis kambing dan domba
berbeda untuk porsi makannya, domba harus lebih banyak rumput
dibandingkan makanan lain sedangkan kambing harus sedikit rumput.
Cara pengobatan saat ternak sakit masih tradisional, misalnya saat

19 | P a g e
ternak sakit mata diobati dengan leunca, saat cacingan dengan cabe,
selain itu pa Iim berharap di desa tersebut ada dokter hewan.
Sistem peternakan yang membudidaya tentunya mengandalkan
sistem reproduksi dari kambing dan domba, umur dikawinkannya
adalah 10 bulan tetapi sebaiknya 1 tahun untuk betina sedangkan
jantannya sekitar 1,5 tahun. Masa estrusnya adalah 15 hari dengan
periode 3 hari, dan saat ini domba yang ada di peternakan ini
semuanya sedang hamil tanpa menggunakan gertak birahi.

3. Lokasi Beternak
Peternakan dilakukan di lahan atau tanah milik bapak Iim
sendiri, dengan tanah yang dibiarkan ditumbuhi oleh rumput yang
langsung dijadikan sebagai pakan ternak kambing dan domba,
sehingga bapak Iim tidak perlu menyiapkan makanan. Sehingga
sistem peternakannya adalah mengembala dan ternak dibiarkan
mencari makanannya sendiri. Saat selesai digembalakan kambing dan
domba akan masuk sendiri ke kandang. Kandang diusahakan harus
selalu bersih sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar. Limbah
dari peternakan seperti kotoran kambing dimanfaatkan untuk
dijadikan pupuk organik oleh masyarakat sekitar. Lokasi peternakan
luas dipagari tinggi sehingga kambing dan domba tidak keluar atau
hilang.

4. Hasil Peternakan
No Nama Spesies Karakteristik
1 Capra aegragus Tanduk melengkung keatas dan
ke belakang, telinga lebar dan
menggantung,hidung cembung,
rambut relatif pendek sampai
sedang. Dengan pola warna
dasar putih dan biasanya dengan
kombinasi warna coklat atau
20 | P a g e
merah bata pada bagian leher
dan kepala
2 Ovis aries Bentuk tubuh sangat besar, dan
juga lehernya sangat kuat,
Domba jantan memiliki tanduk
besar dan kuat, serta
melengkung ke belakang spiral,
pangkal tanduk kanan dan kiri
hampir menyatu. Sedangkan
pada domba betina tidak
memiliki tanduk, Tanduk pada
jantan ini memiliki warna
kehitaman dan kecoklatan,
bentuknya sangat bervariasi.,
Telinga terletak di bagian
belakang tanduk, Domba jantan
memiliki bobot badan sekitar 40-
80 kg dan betina sekitar 30-40
kg, Ekor sangat pendek dan juga
di bagian pangkal besar, Bulu
sangat halus, dan panjang
dibandingkan dengan domba
aslinya, Berwarna putih, cokelat,
dan juga warna kombinasi,
Domba ini menghasilkan
produktivitas daging.

5. Pendapat Masyarakat
Masyarakat cukup berperan aktif dalam kegiatan berternak
dengan cara menyimpan kambing atau domba untuk di ternakan dan
dibudidayakan di peternakan tersebut sehingga menjadi salah satu
pendapatan terlebih dikhususkan untuk tabungan pendidikan siswa
dan siswa di Desa Mandala Kecamatan Dukupuntang Kabupaten
Cirebon. Masyarakat juga dapat memanfaatkan pupuk organik dari
kotoran kambing untuk menyuburkan tanah untuk bercocok tanam.
Adanya kelompok peternak diharapkan dapat meningkatkan kegiatan

21 | P a g e
peternakan dan dapat menjadi potensi lokal dari Desa Mandala
tersebut.

B. Pembahasan
Masyarakat di Desa Mandala Kecamatan Dukupuntang
Kabupaten Cirebon tentunya tidak asing dengan kegiatan bercocok
tanam dan berternak, dikarenakan lingkungan di daerah tersebut
masih banyak sawah dan tanah lapang yang dapat dimanfaatkan
sebagai ladang. Selain Peternakan ikan terdapat pula peternakan
kambing dan domba yang sudah cukup dikenal di Desa Mandala
tersebut. Masyarakat desa mandaa awanya belum mengetahui dan
memahami teknik beternak karena kurangnya pengetahuan atau ilmu
beternak khususnya kambing. Pengetahuan tersebut berawal dari
bapak Iim yang mendedikasikan peternakan kambingnya untuk
membiayai pendidikan anak, khususnya di jenjang perguruan tinggi.
Oleh dasar tersebut mulailah banyaknya minat masyarakat desa untuk
mengikuti jejak bapak Iim dengan menanamkan atau menyimpankan
kambing dan domba di peternakan tersebut dan di kelola bersama
dibudidayakan sehingga menghasilkan domba dan kambing baru dan
kemudian hasilnya diperuntukan untuk biaya kuliah anak-anak di
Desa Mandala tersebut.

Terdapat jenis kambing dan jenis domba yang diternakan saat


ini yaitu jenis kambing Boer dan Domba Texel, domba garut (jenis
lokal). Kambing Boer telah dikembangkan di Afrika Selatan untuk
tujuan produksi daging. Kambing ini telah secara intensif
dikembangkan dengan sistem perkawinan yang selektif sejak lebih
dari 50 tahun oleh para breeder di Afrika Selatan. Sehingga Boer ini
dikenal sebagai kambing yang superior diantara beberapa jenis

22 | P a g e
kambing untuk produksi daging. Sedangkan Domba lokal kita yang
juga merupakan komoditas unggul adalah domba garut, bukan hanya
dimanfaatkan dagingnya tetapi juga dari aspek keindahannya yaitu
tanduk domba garut yang besar dan melengkung kuat sehingga
dikenal dengan domba tangkas di garut, dan sudah menjadi icon kota
garut itu sendiri.

Sistem peternakan yang menggunakan sistem budidaya


mendorong kualitas reproduksi dari domba dan kambing di
peternakan ini, sehingga masalah penentuan masa kawin, banyaknya
protein yang diberkan saat masa birahi dan masa kehamilan, kadar
pakan yang berbeda, sampai kualitas susu yang dihasilkan untuk anak
kambing setelah melahirkan. Peternakan ini tidak menernak kambing
dan domba untuk diambil dagingnya sehingga pakan rumput
disesuaikan dengan proporsi badan domba yaitu pakar kering 4% dari
berat badan kambing atau domba dan pakan basah 10% dari berat
badan kambing atau domba, saat pakan tersebut berlebih maka
kambing dan domba akan gemuk, sulit atau lama untuk bereproduksi.
Saat ini semua domba betina sedang hamil tanpa menggunakan
gertak birahi, artinya usia kehamilan setiap domba berbeda dan waktu
kelahirannya pasti tidak bersamaan. Persilangan tentunya dilakukan
dalam peternakan bapak iim.

Inseminasi Buatan adalah salah satu bentuk bioteknologi


dalam bidang reproduksi ternak yang memungkinkan manusia
mengawinkan ternak betina yang dimilikinya tanpa perlu seekor
pejantan utuh. Inseminasi buatan sebagai teknologi merupakan suatu
rangkaian proses yang terencana dan terprogram karena akan
menyangkut kualitas genetik ternak di masa yang akan datang.

23 | P a g e
Pelaksanaan dan penerapan teknologi Inseminasi Buatan di lapangan
dimulai dengan langkah pemilihan pejantan unggul sehingga akan
lahir anak-anak yang kualitasnya lebih baik dari induknya.
Selanjutnya dari pejantan tersebut dilakukan penampungan semen,
penilaian kelayakan kualitas semen, pengolahan dan pengawetan
semen dalam bentuk cair dan beku, serta teknik inseminasi yaitu cara
penempatan (inseminasi/ deposisi) ke dalam saluran reproduksi
ternak betina6.

Sedangkan pada peternakan bapak iim tidak melakukan


inseminasi secara buatan tetapi dilakukan secara alami dengan
spesies betina dan jantan yang jelas. Spesies domba garut yang
disilangkan dengan domba texel dengan masa pubertas pertama kali
usia 6-12 bulan tetapi baru dianjurkan untuk dikawinkan usia 1 tahun
dengan Masa birahi terjadi hanya beberapa saat, yaitu sewaktu
hormon estrogen mencapai puncaknya. Masa birahi domba terjadi 24
- 36 jam, dari terjadinya birahi ke birahi berikutnya disebut siklus
etrus. Satu siklus etrus domba yaitu 16 - 18 hari. Keberhasilan kawin
silang ini juga di pengaruhi oleh beberapa faktor antara lain makanan,
asupan protein yang diberikan pada indukan, dan air. Hasil
persilangan domba garut dan domba texel menghasilkan anakan yang
memiliki karakteristik yang senada dengan kedua induknya antara
lain memiliki tubuh yang penuh dengan bulu putih seperti domba
texel, dengan daun telinga kecil. Memiliki lingkaran hitam di daerah
mata seperti domba garut.

6
Evans, G. and W.M.C. Maxwell. 1987.Salamons Artificial Insemination of Sheep and
Goats. Butterwoths Pty Limited. Sydney, Boston, London,Durban, Singapore,
Wellington.

24 | P a g e
Persilangan kambing Boer jantan dengan kambing lokal, baik
secara alam atau dengan inseminasi buatan, hasil persilangannya (F1)
yang memiliki 50% Boer sangatlah mengagumkan. Keturunan F1 ini
akan membawa kecenderungan genetik yang kuat dari Boer.
Besarnya tubuh dan kecepatan pertumbuhannya akan tergantung pada
besarnya kambing lokal yang dikawinkan. biasanya disilangkan
dengan jenis jawa randu dan etawa7.

Tergantung dari ransum pakannya, hasil silangan jantan dapat


mencapai berat dipasarkan 35 45 kg dalam waktu enam sampai
delapan bulan, dengan peningkatan jumlah daging pada karkas lebih
banyak dari yang dihasilkan anak kambing lokal dengan umur yang
sama. Penting untuk dipahami bahwa protein membentuk otot.
Penggunaan jagung, tanaman leguminosa dan rumput lokal
merupakan sumber protein alami yang sangat bagus. Pada umur satu
minggu, anak kambing harus disediakan pakan dari sumber yang
sama dengan induknya. Meskipun mereka masih menyusu induknya,
mereka akan mulai makan hijauan pada umur sangat muda. air
minum tersedia setiap saat adalah penting baik untuk induk maupun
anaknya. Peternakan Bapak Iim belum berhasil menyilangkan antara
kambing Boer dengan kambing lokal dikarenakan kesalahan dalam
hal pakan yang terlalu banyak rumput. Sehingga belum mampu
menghasilkan keturunan yang dominan pada karakteristik kambing
Boer.

Beternak menjadi salah satu peluang usaha yang cukup


menjanjikan saat ini di Desa Mandala, ditambah lagi adanya spesies

7
Williamson G. dan W. J. A. Payne., 1993. Pengantar Peternakan di Daerah tropis.
Terjemahan oleh IGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.

25 | P a g e
asing seperti kambing Boer yang aslinya dari afrika yang akan
menambah nilai jual, oleh karena itu di Desa Mandala sendiri
sebenarnya sudah ada perkumpulan untuk merumuskan keberlanjutan
peternakan kambing dan domba yang dapat menjadi potensi lokal
menjanjikan bagi Desa Mandala, tahapan itu masih diusahakan dan
dilanjutkan sehingga kambing dan Domba menjadi icon tersendiri di
Desa tersebut.

Peluangnya bukan hanya bisnis tetapi juga sebagai tempat


pembudidayaan kambing dan domba sehingga dapat menghasilkan
komoditas atau spesies-spesies baru dari hasil persilangan antara
domba lokal dengan domba asing. Misalnya saja saat ini bapak iim
sedang menyilangkan kambing kacang (lokal) dengan kambing Boer
(ras afrika), yang nantinya akan menghasilkan spesies baru dengan
karekteristik perpaduan antara kambing kacang yang morfologinya
kecil dan pendek (betina) sedangkan kambing Boer yang
morfologinya bertubuh besar dan tinggi (jantan).

Letak dan daerah peternakan didesa Mandala sangat


menunjang yaitu banyaknya lahan kosong yang dapat dijadikan
tempat mengembala, banyaknya rumput yang dibiarkan tumbuh
untuk pakan ternak dan kearifan masyarakatnya. Misalnya saja
selama dua tahun kambing dan domba bapak iim belum pernah
dicuri, hal tersebut menunjukan sikap positif dari masyarakat sekitar.

Hasil pengamatan langsung dan wawancara menunjukan


bahwa adanya hubungan antara peternakan kambing dan Domba di
Desa Mandala dengan masyarakat di Desa Mandala dari segi
pemanfaatan nilai jual kambing dan domba untuk investasi
pendidikan serta pemanfaatan pupuk organik dari hasil limbah

26 | P a g e
peternakan kambing dan domba. Pengembangan dan peningkatan
pengetahuan tentang ilmu beternak sangat di harapkan bagi
masyarakat di Desa Mandala sehingga komoditas kambing ras afrika
(Kambing Boer), Domba Texel, dan Domba Garut (Lokal) dapat
disilangkan serta dibudidayakan sehingga menemukan atau
menghasilkan spesies baru yang akan menjadi potensi lokal dari Desa
Mandala Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon.

27 | P a g e
BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil observasi dan pembahasan yang terlah


diuraikan tentang Etnozoologi yang ada di Desa Mandala Kecamatan
Dukupuntang Kabupaten Cirebon dapat disimpulkan bahwa:

1. Etnozoologi itu sendiri adalah penamaan ilmiah penggunaan serta


hubungan budaya antara hewan dan manusia suatu suku bangsa
atau mengkaji hewan sebagai objek utama dan dikaitkan dengan
keyakinan masyarakat sekitar.
2. Pemanfaatan kambing dan domba di Desa Mandala Kecamatan
Dukupuntang Kabupaten Cirebon adalah dibudidayakan sehingga
menghasilkan varietas atau spesies baru dan hasilnya dijual untuk
biaya pendidikan akan di Desa Mandala itu sendiri.
3. Spesies yang dibudidayakan saat ini adalah Kambing ras afrika
atau dikenal dengan kambing Boer, domba asal australi yaitu
domba texel, domba lokal varietas unggul yaitu domba garut dan
kambing lokal lainnya seperti kambing kacang.
4. Masyarakat sangat merespons positif dengan adanya peternakan
di Desa Mandala karena menambah lapangan pekerjaan dan dapat
dijadikan sebagai tabungan anak sekolah, dibuktikan dengan
adanya kelompok yang dibuat untuk peternakan tersebut.
5. Peningkatan ilmu pengetahuan tentang beternak diharapkan dapat
meningkatkan kualitas peternakan misalnya dari segi penyilangan
dan pemeliharaan sehingga dapat menghasilkan spesies baru dan

28 | P a g e
dapat dijadikan sebagai potensi lokal dari desa Mandala
Kecamatan Dukupuntang Kabupaten Cirebon.

29 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Agustinus Ufie.2013. Kearifan lokal masyarakat sebagai sumber


belajar sejarah lokal untuk memperkokoh kohesi sosial
siswa.Depok :Universitars Indonesia Press

Evans, G. and W.M.C. Maxwell. 1987.Salamons Artificial


Insemination of Sheep and Goats. Butterwoths Pty Limited.
Sydney, Boston, London,Durban, Singapore,Wellington.

Haryanto, B. 1992. Pakan domba dan kambing. Prosiding Saresahan


Usaha Ternak Domba dan Kambing Menyongsong Era PJPT
II. Ikatan Sarjana Ilmu-ilmu Peternakan Indonesia (ISPI)
Cabang Bogor dan Himpunan Peternak Domba dan Kambing
Indonesia (HPDKI) Cabang Bogor. Bogor.

Jalal,F& Supriadi, D. (2001). Eds. Reformasi Pendidikan dalam


Konteks Otonomi Daerah.Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.

Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Spradley, L.P. 2001. The Ethnographic Interview. New York: Holt,


Rinehart, and Wiston

Sudarmono, A.S dan Sugeng Y.B, 1993. Beternak Domba. Penebar


Swadaya. Jakarta

Sumantri C., A. Einstiana, J.F. Salamena and I. Inounu. 2007.


Keragaan dan hubunganphylogenik antar domba lokal di
Indonesia melalui pendekatan analisis morfologi. J. Ilmu
Ternak dan Veteriner. 12: 42-54.

Williamson G. dan W. J. A. Payne., 1993. Pengantar Peternakan di


Daerah tropis. Terjemahan oleh : IGN Djiwa Darmadja.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

30 | P a g e
LAMPIRAN
A. Transkrip Wawancara
Wawancara dengan Bapak Iim pemilik Peternakan Kambing

Observer : Assalamualaikum pa, kami mahasiswa IAIN SYEKH


NURJATI Cirebon ingin mewawancarai bapak
tentang peternakan kambing ini bisa bapak?
Narasumber : Boleh silahkan.

Observater :Bapak mulai beternak kambing dan domba itu sejak


kapan?
Narasumber : Saya mulai membudidayakan atau beternak kambing
itu tanggal 3 Oktober tahun 2014
Observer : apa yang motifasi bapak membuat peternakan

kambing ini?

Narasumber : Saya termotifasi karena ingin memanfaatkan

kambing untuk biaya

sekolah anak, dan kebetulan di dukung oleh keluarga


dan saudara.

Observer : Kambing pertama kali berasal dari mana ya pa?

Narasumber : Pertama itu, 4 kambing dari saudara yang diniatkan

untuk investasi biaya sekolah, sampai akhirnya bulan

februari 2015 sudah terkumpul 30 ekor.

Observer : Untuk jenis kambing dan domba yang ada disini itu

apa saja ya pa?

31 | P a g e
Narasumber : Jenis kambing Boer dari Afrika, domba Texel, dan

dari lokal seperti domba garut.

Observer : Untuk pemanfaatan kambing sendiri selain di jual

untuk biaya pendidikan, bagi masyarakat sendiri itu

bagaimana ya pa?

Narasumber : Pupuk, kompos misalnya, kan sebaiknya itu harus

lebih alami jangan dari pupuk kimia saja.

Observer :Pendapat masyarakat sendiri tentang kambing dan

domba yang ditenakan bagaimana ya pa?

Narasumber :positif tetapi belum maksimal karena kurangnya,

kurangnya modal, dan banyak yang ingin beternak

juga untuk modal biaya sekolah tetapi belum tau

ilmunya jadi banyak yang mubazir pakan (pakan tidak

habis), terus belum adanya dokter hewan disini jadi

sulit jika ada penyakit seperti itu.

Observer :O seperti itu, terimakasih pa

Narasumber : Iya sama-sama.

Wawancara dilakukan dengan 2 warga disekitar rumah dan


Peternakan Bapak Iim.

1. Narasumber 1

Observer : Assalamualaikum pa, kami mahasiswa IAIN SYEKH

NURJATI Cirebon ingin pendapat bapak tentang

peternakan kambing di Desa Mandala ini.

32 | P a g e
Narasumber 1 : Waalaikumsalam, peternakan kambing disini

yang saya tau itu paternakan bapak Iim.

Observer : Menurut bapak, ada tidak pengaruh


peternakan kambing dengan aktivitas

masyarakat di Desa Mandala.

Narasumber 1 : Pengaruhnya cukup baik, masyarakat juga

bisa menitipkan kambing, dan belajar cara

beternak kambing.

Observer : Memangnya dengan menitipkan kambing apa

yang bisa didapat pa?

Narasumber 1 : Di peternakan itu, tujuannya bukan untuk


pedaging si kambingnya, atau dijual untuk
kurban, ada yang dijual tetapi tujuannya untuk
investasi istilahnya tabungan anak sekolah.

Observer : Apa cukup banyak warga yang


menginvestasikan kambingnya di Peternakan
itu?

Narasumber 1 : Cukup banyak, bahkan yang saya tau sempat


ada hibah kambing ras asing terus disilangkan
dengan domba garut.

Observer :O begitu, artinya sudah banyak yang tau


tentang peternakan ini.

33 | P a g e
Narasumber 1 :Lumayan mungkin ya, kalo disekitar desa
mandala. Bahkan sempat ada perkumpulan
desa dan buat kelompok peternak kambing
dengan mamanfaatkan peternakan bapak Iim.

Observer : Lalu bagaimana perkembangan kelompok


peternakan itu sekarang pa?.

Narasumber 1 : Masih ada tetapi tidak terlalu berjalan dengan


baik, karena kurangnya tenaga terdidik
istilahnya guru untuk membimbing kita,
bagaimana cara beternak yang benar.

Observer : Untuk Kedepannya bagaimana potensi


kambing sendiri di Desa Mandala, menurut
bapak?

Narasumber 1 : Seharusnya bisa jadi sumber mata


pencaharian yang baik, karena nilai jual tinggi
dan bisa membantu anak-anak di desa mandala
untuk bisa kuliah istilahnya, meningkatkan
taraf hidup.

Observer :Selain nilai jual kambing sendiri ada hal lain


tidak dari kambing di peternakan itu yang
dimanfaatkan masyarakat sekitar?

Narasumber 1 : Karena disini masih banyak sawah,


manfaatnya dari kotoran kambingnya yang
digunakan untuk pupuk composlah istilahnya.
Artinya bisa pakai pupuk organik.

34 | P a g e
Observer :Menurut bapak sendiri menjadi peternak
kambing itu bagaimana?

Narasumber 1 : Kalo punya modal, dan bisa nitip dulu


kambing di peternakan pa Iim ya itu lumayan,
ditambah pa Iim itu ngerawatnya bisalah,
bahkan jika kepala desa tau nilai positifnya,
manfaatnya bakal didukung dan bisa jadi icon
desa.

Observer :Jadi manfaatnya ya pa kambing itu sendiri


disini. Terimakasih pa atas waktunya

Narasumber 1 : iya sama-sama

2. Narasumber 2
Observer :Assalamualaikum Ibu, permisi Ibu, kami
mahasiswa IAIN SYEKH NURJATI Cirebon,
ingin bertanya tentang peternakan Pa Iim
disini.
Narasumber 2 : Iya, peternakan pa Iim ya.
Observer : iya Ibu, Ibu seberapa jauh yang ibu tau
tentang peternakan Pa Iim?
Narasumber 2 : Pa iim itu mulai beternak sekitar 2 tahun yang
lalu, dan yang saya tau ada Domba Australi
disana.
Observer : Ibu sendiri merasakan manfaat dari
peternakan itu?
Narasumber 2 : Disana bisa naruh kambing, nanti kalo sudah
besar dan beranak bisa kita jual buat sekolah

35 | P a g e
anak, ada perkumpulannya juga saya tau mah,
dan bisa ngebantu kita itu yang saya tau.

Observator : O seperti itu, terimakasih ibu.

Narasumber 2 : Iya sama-sama

B. Foto

Lingkungan sekitar Peternakan

Pengamatan karakteristik domba

36 | P a g e
Domba texel dan Domba
Kambing Boer
Lokal

Kambing yang sedang


mengandung hasil persilangan Wawancara dengan Pak Iim

Wawancara dengan Warga

37 | P a g e