Anda di halaman 1dari 7

GEJALA KLINIS

a. Gejala Klinis Pada Hewan

Campylobacter pada penderita muda dapat menyebabkan diare hebat. Pada

anjing gejala yang khas adalah diare seperti air atau dengan bercak oleh cairan

empedu, dengan atau tanpa darah sampai selama 3-7 hari, kurang nafsu makan

disertai muntah. Demam dan leukositosis dapat pula terjadi. Dalam kasuskasus

tertentu diare terjadi intermiten sampai selama > 2 minggu, dalam kasus lain dapat

terjadi sampai berbulan-bulan.

Inokulasi dengan C. jejuni kepada anakanak anjing gnotobiotik, setelah tiga

hari kemudian akan timbul gejala malaise, fese tak terbentuk dan mulas. Pada sapi

penderita Campylobacteriosis, mungkin suhu tubuhnya tetap normal, ada diare

kental dan mukoid, kadang-kadang terlihat bercak merah. Sapi yang mengalami

infeksi C. fetus akan mengalami siklus estrus yang tidak teratur, bila konsepsi yang

terjadi kemudian terinfeksi, maka embrio akan terserap dan siklus estrus baru mulai

lagi. Radang rahim (endometritis), radang vagina (vaginitis) dan radang leher rahim

(cervicitis) dapat terjadi. Feses penderita yang

terinfeksi Campylobacter kebanyakan mengandung darah dan lendir.

C. jejuni dapat menyebabkan diare, mungkin disebabkan karena adanya

pencemaran air, darah dan feses. Gejala lain yang diderita oleh

penderita Campylobacteriosis yaitu demam, luka pada bagian perut, sakit kepala

dan luka pada otot. Sakit yang disebabkan oleh kontaminasi makanan dan air yang

kotor biasanya terjadi antara 2-5 hari. Umumnya sakit terjadi 7-10 hari, tetapi tidak

semuanya (sekitar 25%).


Pusat Pengawasan Penyakit AS

mengungkapkan Campylobacter menyerang 70-90%

ayam.Campylobacter tersebut menyebabkan penderita mengalami kekejangan,

demam, dan mengakibatkan kematian sekitar 800 penduduk AS setiap tahun.

Sekitar 1000-2000 orang pertahun campylobacter menyebabkan sindrom Guilain-

Barre yaitu sejenis penyakit yang memerlukan perawatan intensif selama beberapa

minggu.

b. Gejala Klinis Pada Manusia

Masa inkubasi campylobacteriosis pada manusia umumnya 2 4 hari ketika

kuman mengalami multiplikasi dalam usus dan mencapai jumlah 106 109 per

gram feses. Untuk terjadinya infeksi hanya diperlukan sekitar 800 kuman C.

jejuni dengan gejala klinis berupa demam, diare, muntah dan sakit perut. C.

jejuni menghasilkan enterotoksin yang mirip dengan penyakit kolera dan

toksin Escherichia coli.

Banyak kejadian Campylobacteriosis pada manusia bersifat sporadik.

Kejadian dari penyakit ini memiliki karakteristik epidemiologik yang berbeda dari

infeksi sproradik. Penyakit umumnya terjadi pada musim semi dan gugur.

Konsumsi susu mentah sebagai sumber infeksi pada 30 dari 80 kejadian luar biasa

Campylobacteriosis pada manusia, seperti yang dilaporkan oleh CDC antara tahun

1973 dan 1992. Terjadinya penyakit ini disebabkan oleh mengkonsumsi susu

mentah pada saat kunjungan anak sekolah ke peternakan selama musim dingin.

Sebaliknya, puncak Campylobacter sporadik terjadi selama musim panas.


Faktor resiko lainnya yang proporsinya lebih kecil dari penyakit sproradik

diantaranya minum air yang tidak dimasak dengan baik, perjalanan ke luar negeri,

mengkonsumsi babi panggang atau sosis, minum susu mentah atau susu botol,

kontak dengan anjing atau kucing, khususnya binatang kesayangan anak-anak atau

binatang kesayangan yang terkena diare. Penyebaran dari manusia ke manusia tidak

umum terjadi. Pangan asal hewan merupakan faktor penting dalam

penyebaran Campylobacter jejuni terhadap manusia.

Umumnya orang tidak menyadari bahwa penyakit sakit perut yang dialami

merupakan penyakit yang disebabkan oleh apa yang mereka makan. Biasanya

mikroba dalam makanan seperti daging atau telur yang dimasak kurang matang,

penanganan produk yang salah, atau tercemarnya produk oleh kotoran hewan.

Beberapa penderita bisa sembuh tanpa pergi ke dokter, tetapi beberapa yang lainnya

tidak sembuh. Satu dari 1000 orang yang diidentifikasi terinfeksi

kuman Campylobacter jejuni Guillain Barre, suatu penyakit kronis yang secara

perlahan menimbulkan kelumpuhan badan dari kaki ke atas

Secara umum gejala klinis pada manusia yang disebabkan oleh

kuman Campylobacter jejuni adalah sebagai berikut.

1. Keluhan abdominal seperti mulas, nyeri seperti kolik, mual / kurang napsu

makan,muntah, demam, nyeri saat buang air besar (tenesmus), kejang perut akut,

lesu, sakit kepala, demam antara 37,8-40C, malaise, pembesaran hati dan limpa,

serta gejala dan tanda dehidrasi

2. Kadang infeksi bisa menyerang katup jantung (endokarditis) dan selaput otak dan

medulla spinalis (meningitis)


3. Penyakit enterik akut disertai invasi kepada usus halus dan menyababkan nekrosis

berdarah

4. Diare hebat/ ekplosif disertai dengan adanya banyak darah, lendir, lekosit PMN

(polimorfonuklear) dan kuman pada tinja bila diperiksa secara mikroskopis

5. Dapat dikacaukan dengan radang usus buntu dan kolitus ulseratif

6. Jika tidak diobati , 20% penderita mengalami infeksi berkepanjangan dan sering

kambuh

DIAGNOSIS

Pemeriksaan Laboratorium Evaluasi laboratorium pasien tersangka diare infeksi

dimulai dari pemeriksaan feses adanya leukosit. Kotoran biasanya tidak

mengandung leukosit, jika ada itu dianggap sebagai penanda inflamasi kolon baik

infeksi maupun non infeksi. Karena netrofil akan berubah, sampel harus diperiksa

sesegera mungkin. Sensitifitas lekosit feses terhadap inflamasi patogen

(Salmonella, Shigella dan Campylobacter) yang dideteksi dengan kultur feses

bervariasi dari 45% - 95% tergantung dari jenis patogennya.3 Penanda yang lebih

stabil untuk inflamasi intestinal adalah laktoferin. Laktoferin adalah glikoprotein

bersalut besi yang dilepaskan netrofil, keberadaannya dalam feses menunjukkan

inflamasi kolon. Positip palsu dapat terjadi pada bayi yang minum ASI. Pada

suatu studi, laktoferin feses, dideteksi dengan menggunakan uji agglutinasi lateks

yang tersedia secara komersial, sensitifitas 83 93 % dan spesifisitas 61 100 %


terhadap pasien dengan Salmonella,Campilobakter, atau Shigella spp, yang

dideteksi dengan biakan kotoran. Biakan kotoran harus dilakukan setiap pasien

tersangka atau menderita diare inflammasi berdasarkan klinis dan epidemiologis,

test lekosit feses atau latoferin positip, atau keduanya. Pasien dengan diare

berdarah yang nyata harus dilakukan kultur feses untuk EHEC O157 : H7.1

Pasien dengan diare berat, demam, nyeri abdomen, atau kehilangan cairan harus

diperiksa kimia darah, natrium, kalium, klorida, ureum, kreatinin, analisa gas

darah dan pemeriksaan darah lengkap5,8,10,14 Pemeriksaan radiologis seperti

sigmoidoskopi, kolonoskopi dan lainnya biasanya tidak membantu untuk evaluasi

diare akut infeksi.

PENGOBATAN

Secara umum pengobatan untuk pasien yang mengalami infeksi Campylobacter

adalah dengan pemberian antibiotik terutama untuk pasien dengan gejala yang

serius dan berkepanjangan.(sakit perut, diare dandarah pada tinja), seperti diamati

pada orang immunocompromised, dan pada kehamilan di mana janin dapat

dipengaruhi oleh kuman ini

Penggantian cairan tubuh dengan peningkatan glucose-electrolyte solutions

melalui oral merupakan cara terpenting pada terapi pasien yang terinfeksi

Campylobacter. Spesies ini telah resisten terhadap beberapa antibiotik, khususnya

florokuinolon dan makrolida, serta bersifat zoonotik.


Organisme patogen ini semakin resisten terhadap antibiotik, terutama

fluoroquinolones dan macrolides, yang merupakan antimikroba yang paling sering

digunakan untuk pengobatan campylobakteriosis ketika terapi klinis diperlukan.

Sebagai patogen zoonosis, Campylobacter telah reservoir hewan yang luas dan

menginfeksi manusia melalui kontaminasi air, makanan atau susu. Penggunaan

antibiotik pada peternakan hewan dan obat manusia, dapat mempengaruhi

perkembangan resisten antibiotik Campylobacter.

Berbagai antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi ini, baik secara

tunggal maupun digabung dengan antibiotik lainnya. Beberapa antibiotic yang bisa

digunakann untuk pengobatan infeksi Campylobacter ini antaranya

eritromisin, siprofloksasin, gentamisin, tetrasiklin, ciprofloxacin dan enrofloxacin.

C. jejuni telah historis sensitif terhadap makrolida, tetrasiklin,

fluoroquinolones, aminoglikosida, imipenem, dan kloramfenikol tetapi resisten

terhadap trimetoprim. Eritromisin batu penjuru terapi, menunjukkan kumanologis

konsisten mengobati strain sensitif jika dibandingkan dengan plasebo tetapi dengan

manfaat yang tidak konsisten untuk penyembuhan klinis, seperti yang

dibahas above. Dengan pengenalan fluoroquinolones,siprofloksasin menjadi

andalan empiris pengobatan untuk akut dimasyarakat yang memiliki kuman diare

dan untuk, wisatawan diarrhea. Namun, cepat munculnya fluoroquinolone-resistant

Campylobacter strain tercatat di Eropa pada 1980-an (0% pada tahun 1982 dan 11%

pada tahun 1989), yang bertepatan dengan pendahuluan penggunaan kuinolon di

poultry.
Di Amerika Serikat, resistensi siprofloksasin naik dari 0% pada tahun 1989 menjadi

19% pada tahun 2001 dan telah mencapai 90% pada Thailand. Saat ini, antibiotik

makrolida adalah pengobatan pilihan untuk pasien rawat jalan dengan infeksi

Campylobacter yang diperoleh di Amerika Serikat yang memerlukan terapi:

eritromisin (500 mg dua kali sehari selama 5 hari) atau azitromisin (500 mg secara

oral setiap hari selama 3 hari) . Azitromisin harusdigunakan untuk diare travellers

'karena infeksi Campylobacter dan secara empiris mana resistensi kuinolon adalah

anticipated. Dalam personel militer AS di Thailand, azitromisin terbukti sama

efektifnya dengan siprofloksasin dalam mempersingkat penyakit gejala dan

mikrobiologis di menyembuhkan rates. Lebih parah, penyakit sistemik dapat

diobati dengan berbagai antibiotik intravena, termasuk sefotaksim, imipenem,

ampisilin, dan parenteralaminoglikosida, tetapi sensitivitas antimikroba

harus selalu diperiksa.

DAFTAR PUSTAKA

1. Zein U. Diare Akut Disebabkan Bakteri. Univ Sumatera Utara.

2004;1(1):115.