Anda di halaman 1dari 48

DIAGNOSTIC READING

(DIAGNOSA PERUBAHAN)
pada DIKLAT PIM IV
Disampaikan oleh :
Dr. Bambang Istijono, ME

Padang, 8 Mei 2014 1


Bio Data Nara Sumber : Diagnostic Reading
1. Nama : Dr. Bambang Istijono, ME
2. NIP/NIDN : 110016133 / 19520514 197603 1 005 / 0014055202
3. Pangkat : Pembina Utama / Golongan IVe (tmt. 1-10-2010)
4. Pengalaman bekerja :
a. Kementerian Pekerjaan Umum (Staf Ditjen Pengairan Dep. PU, Proyek2
SDA, Kanwil PU Bengkulu, Kanwil PU Sumatera Barat)
b. Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Barat
(Dinas PU Pengairan/PSDA, Dinas ESDM, Asisten Kesra Sekda, Bappeda
Provinsi)
c. Kementerian Dalam Negeri (Deputi Infrastruktur Kawasan Perbatasan sd. 1
Juni 2012)
d. Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Andalas
5. Pengalaman Jabatan : Eselon IV, Eselon III, Eselon II dan Eselon I
6. Jabatan Fungsional :
a. Lektor Kepala (tmt 1-12-2007) pada Fakultas Teknik, Universitas Andalas
b. Profesional Utama Sumber Daya Air (Sertifikat LPJK-HATHI)
2
BAHAN PAPARAN
Deskripsi Singkat, Indikator Hasil Belajar,
Pengertian
i. Pendahuluan
- Pengenalan Kebijakan Daerah
- Pengenalan Organisasi
ii. Pemimpin & Perubahan
iii. Ruang Lingkup Perubahan Unit Organisasi
iv. Mendiagnosa Organisasi
v. Pesan-pesan
3
Deskripsi Singkat
1. Mata diklat ini membekali peserta dengan
kemampuan mengidentifikasi akar permasalahan
pada pengelolaan kegiatan instansinya dalam
mencapai organisasinya berkinerja tinggi, melalui
pembelajaran berbagai teknik dan strategi dalam
mengidentifikasi permasalahan pengelolaan kegiatan
instansi.
2. Mata diklat disajikan secara interaktif, melalui
ceramah interaktif, diskusi dan praktek.
3. Keberhasilan peserta dinilai dari kemampuannya
dalam mengidentifikasi akar permasalahan pada
pengelolaan kegiatan instansinya menuju organisasi
berkinerja tinggi. 4
Indikator Hasil Belajar :
Setelah pembelajaran ini, peserta dapat ;
1. Mengidentifikasi permasalahan pengelolaan
kegiatan instansi.
2. Mengidentifikasi solusi pemecahan
permasalahan pengelolaan kegiatan
instansinya.

5
Pengertian
Masalah:
Perbedaan antara keadaan yang sekarang
dengan yang diinginkan
Pemecahan Masalah:
Suatu proses dari mengamati dan pengenalan
serta usaha mengurangi perbedaan antara
situasi sekarang dengan yang akan datang
(rencana)

6
Model masalah & pemecahan
CHANG & KELLY
Defenisikan masalah
Analisis sebab-sebab potensial
Identifikasi solusi yang memungkinkan
Pilih solusi terbaik
Susun rencana tindakan
Implementasikan solusi dan evaluasi perkembangannya

SP SIAGIAN
Identifikasi dan defenisikan hakekat masalah yang dihadapi
Pengumpulan dan pengolahan informasi
Identifikasi alternatif
Analisis berbagai alternatif
Penentuan pilihan alternatif terbaik
Pelaksanaan
Evaluasi hasil yang dicapai
7
I. PENDAHULUAN.
1. Diklat Kepemimpinan Tingkat IV di arahkan
untuk menghasilkan Pemimpin Perubahan,
yaitu pemimpin yang berhasil membawa
perubahan pada unit organisasi (eselon IV)
yang dipimpinnya.

8
Kondisi Wilayah
Letak Geografis dan Administasi
00 54' Lintang Utara - 30 30' Lintang Selatan
980 36' - 1010 53' Bujur Timur
Batas administrasi :
Utara : Provinsi Sumatera Utara
Timur : Provinsi Riau dan Jambi
Selatan : Provinsi Bengkulu
Barat : Samudera Hindia
Luas Wilayah
No. Kabupaten/Kota
(km2) (%)
KABUPATEN
1. Kepulauan Mentawai 6.011,35 14,20
2. Pesisir Selatan 5.794,95 13,70
3. Solok 3.738,00 9,00
4. Sawahlunto-sijunjung 3.130,80 7,40
5. Tanah Datar 1.336,00 3,10
6. Padang Pariaman 1.328,79 3,10
7. Agam 2.232,30 5,20
8. 50 Kota 3.354,30 7,90
9. Pasaman 4.447,63 10,50
10. Solok Selatan 3.346,20 7,90
11. Dharmasraya 2.961,13 7,00
12. Pasaman Barat 3.387,77 8,00
KOTA
13. Padang 694,96 1,60
14. Solok 57,64 0,13
15. Sawahlunto 273,45 0,70
16. Padang Panjang 23 0,07
17. Bukittinggi 25,24 0,10
18. Payakumbuh 80,43 0,20
19. Pariaman 73,36 0,20

Total 42.297,30 100,00


9
Sumber : BPS Provinsi Sumatera Barat, 2007
GEMPA, GUNUNG API, DAN LONGSOR

10
Pertumbuhan Arus Kunjungan Wisatawan Mancanegara dan POTENSI DAN WILAYAH PENGEMBANGAN PARIWISATA (WPP)
Wisatawan Nusantara ke Sumatera Barat

Wisatawan
N Jam Gadang (Bukittinggi)
Tahun Mancanegar Nusantara
o
a

1 2002 20.904 313.917

2 2003 25.040 356.724


Rumah Gadang
3 2004 29.307 563.628
(Batusangkar)
4 2005 57.283 926.736

5 2006 76.951 1.065.746


Danau Sigkarak
6 2007 84.646 4.272.382 (Solok & Tanah Datar)

Pengembangan wisata di SUMBAR di bagi kedalam


Danau Maninjau
VII Wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP).
(Agam)

1. WPP I meliputi koridor Bukittinggi, Kabupaten


Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten
Limapuluh Kota, dan Kota Payakumbuh
2. WPP II meliputi koridor Kota Padang, Kabupaten
Padang Pariaman, Kota Pariaman, Kabupaten
Budaya Tabuik (Pariaman)
Pasaman Barat.
3. WPP III meliputi koridor Kabupaten Tanah Datar
dan Kota Padang Panjang
4. WPP IV Meliputi karidor Kabupaten Solok,
Kabupaten Solok Selatan dan Kota Solok
Kawasan Mandeh ( Pessel)
5. WPP V meliputi koridor Kota Sawahlunto,
Kabupaten Sawahlunto Sijunjung dan Kabupaten Atraksi Surfing (Mentawai)
Dharmasraya
6. WPP VI terdapat dalam satu wilayah
administrasi yaitu Kabupaten Pesisir Selatan
7. WPP VII meliputi Kabupaten Mentawai

Kawasan TNKS
11
RENCANA KAWASAN STRATEGIS
KAWASAN STRATEGIS
PROVINSI POROS BARAT- TIMUR
KAWASAN STRATEGIS TAPUS : (PADANG-BUKITTINGGI-BATAS RIAU)
Perdagangan & Jasa

Rencana Pengelolaan Pertanian


Wisata (Cagar Alam)

Kawasan Strategis :
1.Penetapan kawasan KAWASAN STRATEGIS
2.Tata batas kawasan KAWASAN STRATEGIS
DANAU MANINJAU & NGARAI SIANOK
TANAH DATAR
(PENGEMBANGAN BUDAYA)

3.Penyusunan rencana (Wisata Alam)


KAWASAN STRATEGIS
rinci tata ruang KAWASAN STRATEGIS
PENGEMBANGAN INDUSTRI
KAMANG BARU
(Pengembangan Ekonomi)
(Padang & Padang Pariaman)

KAWASAN STRATEGIS
METROPOLITAN PALAPA
(PADANG-LB.ALUNG-PARIAMAN)

KAWASAN STRATEGIS
INTELBUNGEH
(INDARUNG-TEL. BAYUR- KAWASAN STRATEGIS SUNGAI RUMBAI :
BUNGUS-MANDEH) : Pertanian
Pabrik Semen Perkebunan
Pelabuhan Laut Pertambangan
Lantamal Pengembangan Budaya
Wisata (Alam, Pantai & Laut)

Kawasan Strategis Pengembangan KAWASAN STRATEGIS LUNANG SILAUT :


Wisata (Budaya, Pantai & Laut)
Industri Perkebunan
Taman Nasional

12
RPJPD SUMBAR 2005-2025 1. Terwujudnya Tata Kehidupan Masyarakat Agamais dan
Berbudaya
Mewujudkan 2. Terwujudnya Masyarakat berbudi Luhur dan ahklak mulia
Kehidupan Agama 3. Terwujudnya Sumatera Barat Sebagai Pusat Pendidikan
Bernuansa Islam
dan Budaya 4. Terwujudnya Kesalehan dan Kepedulian Sosial;
Berdasarkan 5. Terbentuknya Sistem Pengelolaan Tanah Ulayat Dengan
Filosofi ABSSBK Kepastian Hukum;
6. Terciptanya Kehidupan Sosial Yang Harmonis dalam Suasana
Multikultur.

1. Terlaksananya Penegakan Hukum yang Berkeadilan dan


Mewujudkan Sistem Demokratis
Hukum dan Tata 2. Terwujudnya Sinergitas Antara Pelaku Pembangunan Daerah
Pemerintahan yang 3. Terlaksananya Tata Pemerintahan yang Partisipatif dan
Baik Terpadu;
4. Terdapatnya Aparatur Daerah yang Profesional
5. Terwujudnya Pelayanan Publik Prima.

Menjadi Provinsi Mewujudkan Kualitas 1. Terwujudnya Kualitas Pendidikan Yang Tinggi dan
Terkemuka Berbasis SDM Dilandasi Moral Agama
Sumberdaya Yang Tinggi 2. Terwujudnya Derajat Kesehatan dan Gizi yang Tinggi;
Manusia di Tahun 3. Terwujudnya Kemampuan IPTEKS Maju dan Tepat Guna
2025
1. Terdapatnya Usaha Pertanian Modern dan Agribisnis
Mewujudkan Ekonomi Maju;
Produktif dan 2. Terlaksananya kegiatan Jasa yang efisien;
Berdaya saing 3. Terwujudnya Daerah Tujuan Wisata Nasional dan
Global Internasional
4. Terwujudnya Sumatera Barat Sebagai Pusat
Pertumbuhan dan Pintu Gerbang Pantai Barat Sumatera.

Mewujudkan Kualitas 1. Terwujudnya Tata-Ruang Wilayah Yang Dilaksanakan


Lingkungan Hidup secara Konsisten;
Yang 2. Terdapatnya Perlindungan Kawasan Konservasi Alam;
Hijau, Asri dan 3. Terlaksananya Tata Kelola Lingkungan Yang Baik;
Berkelanjutan 4. Terbinanya Perilaku Sadar Lingkungan
13
VISI MISI ARAH KEBIJAKAN
STRUKTUR ORGANISASI DINAS PENGELOLAAN SUMBER
DAYA AIR, berdasarkan Peraturan Gubernur No. 71 Tahun
2008 tanggal 29 Agustus 2008 adalah sebagai berikut :
Sekretaris mempunyai tugas melakukan pengelolaan urusan rumah
tangga Dinas, Ketatausahaan, tatalaksana, humas, protokol, laporan,
hukum, dan organisasi serta hubungan masyarakat
Sekretariat terdiri dari :
a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;
b. Sub Bagian Keuangan;
c. Sub Bagian Program

Kepala Bidang Sungai, Pantai dan Konservasi mempunyai tugas


menyiapkan bahan kebijaksanaan dan perumusan pelaksanaan kegiatan
berdasarkan urusan dan program sesuai ruang lingkup Sungai Pantai dan
Konservasi.

Bidang Sungai, Pantai dan Konservasi terdiri dari :


a. Seksi Sungai;
b. Seksi Pantai;
c. Seksi Konservasi
14
Kepala Bidang Irigasi dan Rawa mempunyai tugas menyiapkan
bahan kebijaksanaan dan perumusan pelaksanaan kegiatan
berdasarkan urusan dan program sesuai ruang lingkup Irigasi dan
Rawa.
Bidang Irigasi dan Rawa terdiri dari :
a. Seksi Pembangunan;
b. Seksi Rehabilitasi dan OP;
c. Seksi Pemberdayaan Masyarakat

Kepala Bidang Jasa Konstruksi mempunyai tugas menyiapkan


bahan kebijaksanaan dan perumusan pelaksanaan kegiatan
berdasarkan urusan dan program sesuai ruang lingkup Jasa
Konstruksi.

Bidang Jasa Konstruksi terdiri dari :


a. Seksi Bina Usaha Konstruksi;
b. Seksi Kompetensi dan Latihan Konstruksi;
c. Seksi Pengawasan dan Perizinan.
15
Kepala Bidang Bina Teknik mempunyai tugas menyiapkan bahan
kebijaksanaan dan perumusan pelaksanaan kegiatan berdasarkan urusan
dan program sesuai ruang lingkup Bina Teknik.

Bidang Bina Teknik terdiri dari :


a. Seksi Bantuan Teknis;
b. Seksi Perencanaan Teknis.

Selain dari 5 (lima) Bidang diatas, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air juga
mempunyai Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) sebagai pelaksana
kegiatan pada Wilayah sungai yang menjadi kewenangannya.

UPTD Balai Wilayah Bukittinggi : Berkantor di Kota Bukittinggi, mempunyai


Kegiatan Pelaksana Operasi dan Pemeliharaan Irigasi Lintas
Kabupaten/Kota dan Luas > 1000 Ha seta Pengumpulan dan Pengolahan
Data Hidrologi pada Wilayah Sungai Masang Pasaman, Rokan, Kampar dan
Inderagiri

UPTD Balai Wilayah Sungai Dareh : berkantor di Sungai Daerah, Pulau


Punjung, Dharmasraya,mempunyai Kegiatan Pelaksana Operasi dan
Pemeliharaan Irigasi Lintas Kabupaten/Kota dan Luas > 1000 Ha seta
Pengumpulan dan Pengolahan Data Hidrologi pada Wilayah Sungai Silaut
Tarusan dan Batang Hari
16
STRUKTUR ORGANISASI DINAS PRASARANA
JALAN, TATA RUANG DAN PERMUKIMAN
PROPINSI SUMATERA BARAT

1. Sekretaris, terdiri dari:


a. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
b. Sub Bagian Keuangan
c. Sub Bagian Program
2. Bidang Pelaksana Jalan dan Jembatan:
a.Seksi Pelaksana Wilayah I
b.Seksi Pelaksana Wilayah II
c.Seksi Pelaksana Wilayah III
17
3. Bidang Peralatan dan Bahan Jalan, terdiri dari:
a. Seksi Penyedia Bahan Jalan dan Jembatan
b. Seksi Perbengkelan
c. Seksi Pembinaan Peralatan
4. Bidang Jasa Konstruksi, terdiri dari:
a. Seksi Bina Usaha Konstruksi
b. Seksi Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi
c. Seksi Pengawasan dan Perizinan
5. Bidang Bina Teknik, terdiri dari:
a. Seksi Seksi Air Minum
b. Seksi Perencanaan Teknis Jalan
c. Seksi Perencanaan Teknis Keciptakaryaan
18
6. Bidang Perumahan dan Permukiman
a. Seksi Perumahan Formal dan Swadaya
b. Seksi Pembiyaan dan Pemberdayaan
c. Seksi Pengembangan dan Penataan Lingkungan
7. Bidang Penataan Bangunan dan Lingkungan
a. Seksi Penyehatan Lingkungan
b. Seksi Pembangunan dan Pemeliharaan Rumah
Negara
c. Seksi Perkotaan dan Perdesaan
8. Bidang Penataan Ruang
a. Seksi Pengaturan dan Pengawasan
b. Seksi Pembinaan
c. Seksi Pembangunan
19
9. UPTD Balai Pengujian Mutu Bahan Pekerjaan
a. Sub Bagian Tata Usaha
b. Seksi Pengujian Mutu Bahan
c. Seksi Pengujian Mutu Pekerjaan
10. UPTD Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ) Sampah
Regional.
a. Seksi Usaha pada UPTD Tempat Pembuangan
Akhir ( TPA ) Sampah Regional
b. Sub Bagian Tata Usaha
c. Seksi Operasional

20
Relevansi terhadap tupoksi dan kompetensi
Jabatan Eselon IV

1. Memahaman visi, misi, tujuan dan


sasaran.
2. Merencanakan kinerja organisasi
3. Menumbuhkan motivasi pegawai
4. Menyusun alternatif pemecahan
masalah
5. Menentukan rencana aksi

21
2. Setiap pemimpin membutuhkan kemampuan
mendiagnosa unit organisasinya, mencari
dimensi yang bermasalah, kemudian
menyusun langkah untuk mengubahnya
sehingga masalah tersebut tidak muncul lagi
pada unit organisasinya.
3. Perubahan ini dilakukan secara
berkesinambungan hingga menuju organisasi
yang berkinerja tinggi.

22
4. Kemampuan mendiagnosa unit organisasi
(eselon IV) ini memerlukan kompetensi
tersendiri yang meliputi dimensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan.
5. Akan sulit menjadi pemimpin perubahan jika
tidak memiliki kemampuan diagnostic
reading/diagnosa perubahan.

23
II. PEMIMPIN & PERUBAHAN.
1. Kepemimpinan adalah kemampuan
mempengaruhi orang untuk mencapai suatu
tujuan organisasi.
2. Pengertian kepemimpinan, organisasi
terlebih dahulu menetapkan suatu tujuan,
lalu kemudian bergerak mempengaruhi dan
memobilisasi pejabat fungsional/staf untuk
mendukung dan melaksanakan perubahan
tujuan organisasi.

24
3. Keberhasilannya dalam mempengaruhi
stakeholder yang akan menentukan apakah
pemimpin tersebut berhasil membawa
perubahan, karena mustahil perubahan itu
dilaksanakan sendiri.

4. Pemimpin membutuhkan pejabat fungsional/staf


untuk mewujudkan perubahan yang dikehendaki.
Mungkin yang dulunya menentang kemudian
berbalik menjadi mendukung; yang dulunya pasif,
kemudian berubah menjadi aktif.

5. Jika efektif memobilisasi pejabat fungsional/staf,


maka perubahan yang direncanakan akan
terwujud tanpa menemui kendala.
25
III. RUANG LINGKUP (SCOPING) PERUBAHAN UNIT ORGANISASI
ESELON IV

26
1. Sebagai sebuah negara kesatuan, maka pejabat
struktural di daerah adalah pelaksana kebijakan-
kebijakan pemerintah pusat, disamping juga
melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh
pemerintah daerah masing-masing.
2. Ruang lingkup dan jurisdiksi masing-masing
pejabat eselon IV tentu sudah diatur dan
ditetapkan dalam kelembagaan pada masing-
masing instansi.
3. Ada unit organisasi eselon IV yang menjalan
fungsi lini organisasi, dan ada juga yang
menangani fungsi perbantuan.

27
Contoh 1
(1). Seksi Sungai mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan bahan kebijakan teknis perencanaan dan
program Sungai;
b. Pelaksanaan pelayanan administrasi, teknis pengembangan dan
fasilitasi Sungai.
(2) Rincian Tugas Sungai :
a. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi Sungai;
b. Melaksanakan penyusunan bahan kebijakan teknis Sungai;
c. Melaksanakan penyusunan bahan fasilitasi penyelenggaraan Sungai;
d. Melaksanakan pengelolaan data Sungai;
e. Melaksanakan fasilitasi pelaksanaan usaha-usaha Sungai;
f. Melaksanakan penyusunan bahan koordinasi Sungai;
g. Melaksanakan penyusunan bahan telaahan staf sebagai bahan
pertimbangan pengambilan kebijakan;
h. Melaksanakan pelaporan dan evaluasi kegiatan Seksi Sungai;
i. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait;
j. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.C 28
Contoh 2
Dalam menyelenggarakan tugas pokok,
(1) Seksi Penyehatan Lingkungan mempunyai fungsi :
a. Pelaksanaan penyusunan bahan kebijakan teknis perencanaan dan program
Penyehatan lingkungan; .
b. Pelaksanaan pelayanan administrasi, teknis pengembangan dan fasilitasi
Penyehatan Lingkungan.
(2) Rincian Tugas Seksi Penyehatan Lingkungan :.
a. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi Penyehatan Lingkungan;
b. Melaksanakan penyusunan bahan kebijakan teknis Penyehatan Lingkungan;
c. Melaksanakan penyusunan bahan fasilitasi penyelenggaraan Penyehatan
Lingkungan;
d. Melaksanakan pengelolaan data Penyehatan Lingkungan;
e. Melaksanakan fasilitasi pelaksanaan usaha-usaha Penyehatan Lingkungan;
f. Melaksanakan penyusunan bahan koordinasi Penyehatan Lingkungan;
g. Melaksanakan penyusunan bahan telaahan staf sebagai bahan pertimbangan
pengambilan kebijakan;
h. Melaksanakan pelaporan dan evaluasi kegiata Seksi Penyehatan Lingkungan;
i. Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja terkait;
j. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. 29
4. Dalam kelembagaan tersebut, tugas pokok
dan fungsi juga telah ditetapkan.
Dengan kewenangan yang dimilikinya,
pejabat eselon IV akan memiliki otoritas untuk
melakukan perubahan-perubahan untuk
meningkatkan kinerja unit organisasi yang
dipimpinnya.
5. Dengan kewenangannya, pejabat eselon IV
perlu memahami bahwa unit eselon IV yang
dipimpinnya tidak terlepas dari unit eselon I, II
dan III di atasnya, baik pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah.
30
IV. MENDIAGNOSA ORGANISASI.
1. Sebagai bagian dari tugas utama seorang pemimpin
perubahan, mendiagnosa organisasi merupakan
langkah awal yang sangat menentukan.
2. Kesalahan dalam mendiagnosa organisasi dapat
menimbulkan berbagai kendala, yaitu :

a. Pemimpin dapat merasa kurang percaya diri dalam


meyakini apakah tujuannya benar atau tidak.
b. Pemimpin akan kesulitan mendapatkan
argumentasi yang tepat dalam meyakinkan staf.

31
3. Untuk terhindar dari kesalahan dalam melakukan
diagnosa organisasi, terdapat dua prasyarat yang
perlu dimiliki sebelum melakukan diagnosa organisasi,
yaitu :

a. Penguasaan diri (tidak dikuasai oleh kepentingan-


kepentingan lain yang sifat subyektif dan sempit, seperti
kepentingan pribadi, golongan, sektoral, etnis/suku,
materi, dan sejenisnya), dan
b. Teknis mendiagnosa organisasi (ketika melakukan
diagnosa organisasi dapat dipastikan bahwa area
perubahan yang dipilih dan cara dalam melakukan
perubahan dimotivasi oleh kepentingan publik), yaitu :
1) Menilai kinerja organisasi unit organisasi eselon IV.
2) Menyusun langkah-langkah intervensi untuk meningkatkan kinerja unit
organisasi eselon IV.

32
4. Dalam menilai kinerja organisasi, seorang pemimpin perlu
menggunakan teknik mengumpulkan data dan informasi vital,
termasuk teknik menyusun langkah-langkah intervensi. Dewasa
ini terdapat sejumlah model diagnosa organisasi yang
lazim dipergunakan. Model-model tersebut antara lain adalah
a. Force Field Analysis (1951)
b. Leavitts Model (1965)
c. Likert System Analysis (1967)
d. Open Systems Theory (1966)
e. Weisbords Six-Box Model (1976)
f. Congruence Model for Organization Analysis (1977)
g. McKinsey 7S Framework (1981-82)
h. Tichys Technical Political Cultural (TPC) Framework (1983)
i. High-Performance Programming (1984)
j. Diagnosing Individual and Group Behavior (1987)
k. Burke-Litwin Model of Organizational Performance & Change
(1992)
l. Fallettas Organizational Intelligence Model (2008) 33
Model apapun yang dipilih, pada umumnya model-model
tersebut menuntut dua langkah utama :
a. Menilai kinerja unit organisasi.
Pemimpin perlu menilai kinerja unit organisasi saat ini.
Dalam menilai kinerja, pemimpin perlu melihat gap antara
output dan atau outcome apa yang harus dipenuhi oleh
organisasi.
b. Menyusun langkah-langkah intervensi.
Intervensi dapat diarahkan pada input organisasi sehingga
sasaran perubahan bisa berupa perubahan terhadap sumber
daya manusia, sarana dan prasarana, anggaran atau input
lainnya.
Intervensi juga dapat diarahkan business process,
transformasi, atau cara organisasi mengolah inputnya
seperti penggunaan teknologi informasi, simplifikasi
sistem dan prosedur. Begitupula, intervensi dapat diarahkan
pada output organisasi, termasuk lingkungan organisasi. 34
Prinsip-prinsip Diagnostic
1. Didasarkan pada teori dan asas-asas ilmiah
2. Memanfaatkan kemampuan berfikir kreatif
3. Belajar dari pengalaman
4. Berlangsung dalam kerangka kehidupan
organisasional
5. Diukur dengan keberhasilan implementasinya

35
Beberapa Instrumen Diagnostic
Memilih masalah prioritas al.
Analysis Urgency, Seriousness, Growth (USG).
Likert APKL
Menganalisis penyebab masalah al.
Fishbone diagram
Causal map
Pohon masalah
Dll
Identifikasi alternatif pemecahan masalah al.
Analisis Medan kekuatan
SWOT
Pemilihan alternatif al.
Cost Benefit Analysis
Teori Tapisan Mc. Namara
36
AKTUAL

PROBLEMATIK
KRITERIA MASALAH
KEKHALAYAKAN

KeLAYAKAN

ADMINISTRASI

MANAJEMEN

ORGANISASI
ASPEK MASALAH
SDM

PELAYANAN

DAN LAIN-LAIN
37
IDENTIFIKASI MASALAH

CURAH NOMINAL DISKUSI


DLL
PENDAPAT GROUP KELOMPOK

MENGACU PADA KRITERIA DAN ASPEK/AREA

38
Contoh Kasus Diagnostic Reading Seksi Sungai pada Bidang SP&K
No. Penilaian Kriteria Total
U S G
Masalah
1. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi 4 3 4 11
Sungai

2. Melaksanakan penyusunan bahan kebijakan 5 5 4 14


teknis Sungai

3. Melaksanakan penyusunan bahan fasilitasi 3 4 3 10


penyelenggaraan Sungai

4. Melaksanakan pengelolaan data Sungai

5. Melaksanakan fasilitasi pelaksanaan usaha-usaha


Sungai
6. Melaksanakan penyusunan bahan koordinasi
Sungai.dst

Ket : 1=Sangat Kecil; 2=Kecil; 3=Sedang; 4=Besar; 5=Sangat Besar


U= urgent/penting, S= serius, G= growth/tumbuh 39
Contoh Kasus DR : Seksi Penyehatan Lingkungan
pada Bidang Penataan Bangunan & Lingkungan
No. Penilaian Kriteria Total

Masalah U S G

1. Melaksanakan penyusunan program kerja Seksi 4 4 4 12


Penyehatan Lingkungan
2. Melaksanakan penyusunan bahan kebijakan teknis 5 5 4 14
Penyehatan Lingkungan

3. Melaksanakan penyusunan bahan fasilitasi 5 5 5 15


penyelenggaraan Penyehatan Lingkungan
4. Melaksanakan pengelolaan data Penyehatan 5 3 5 13
Lingkungan
5. Melaksanakan fasilitasi pelaksanaan usaha-usaha
Penyehatan Lingkungan.dst
Ket : 1=Sangat Kecil; 2=Kecil; 3=Sedang; 4=Besar; 5=Sangat Besar
U= urgent/penting, S= serius, G=growth/tumbuh

40
V. PESAN-PESAN

Staf 4
Staf 8

Staf 2

Staf 6
41
Staf 8

Staf 7 Staf 1

Staf 6 ADA Staf 2


TUPOKSI

Staf 5 Staf 3

Staf 4
42
Rencana yang
Ada rencana,
semakin baik
tetapi tidak ada
melalui
rapat staf
rapat staf

PERENCANAAN
Ada rapat staf,
Tidak ada rencana, tetapi
Tidak ada rapat tidak ada rencana
staf

PROSES
43
Bagaimana mengembangkan
kerjasama?

44
Bagaimana kerjasama yang baik?

Apakah seperti Tuan


dengan Budak nya?

45
Bagaimana kerjasama yang baik?

Apakah seperti
Bapak dengan
anak nya?

46
Bagaimana kerjasama yang baik?

Bagaimana
hubungan antar
orang dewasa ?

47
Sumber :
48
PerkaLAN13/13 ; Diklat DIY ; PerGub SumBar