Anda di halaman 1dari 5

Skandal Pelanggaran Kode Etik Akutansi PT.

TOSHIBA
Toshiba adalah perusahaan raksasa Jepang yang lini produk dan usahanya sangat luas. Merek
Toshiba terukir dari mulai produk laptop hingga nuklir
Masalah (What)
Toshiba terbukti menggelembungkan laba dalam 7 tahun terakhir sebesar 1,2 miliar dollar
AS.
Kerugian yang di derita mencapai 995 miliar yen
Kasus ini bermula atas inisiatif Pemerintahan Perdana Menteri Jepang yaitu Shinzo Abe
yang mendorong transparansi yang lebih besar di perusahaan-perusahaan Jepang untuk
menarik lebih banyak investasi asing. Atas saran pemerintah tersebut, Toshiba menyewa
panelis independen yang terdiri dari para akuntan dan pengacara untuk menyelidiki masalah
transparansi di Perusahaannya. Betapa mengejutkannya bahwa dalam laporan 300 halaman
yang diterbitkan panel independen tersebut mengatakan bahwa tiga direksi telah berperan
aktif dalam menggelembungkan laba usaha Toshiba sebesar 151,8 miliar (setara dengan Rp
15,85 triliun / US$ 1,2 miliar) sejak tahun 2008.
Guna mempercantik kinerja keuangannya, Toshiba melakukan berbagai cara baik mengakui
pendapatan lebih awal atau menunda pengakuan biaya pada periode tertentu namun dengan
metode yang menurut investigator tidak sesuai prinsip akuntansi,. Seperti kesalahan
penggunaan percentage-of-completion untuk pengakuan pendapatan proyek, cash-based
ketika pengakuan provisi yang seharusnya dengan metode akrual, memaksa supplier menunda
penerbitan tagihan meski pekerjaan sudah selesai, dan lain semisalnya.
Besarnya angka, rentang waktu yang tidak sebentar, juga keterlibatan Top Management
memberi gambaran kepada kita betapa kronis dan kompleksnya penyakit dalam tubuh
Toshiba. Penyelewengan dilakukan secara berjamaah, sistematis dan cerdas. Sekian lapis
sistem kontrol dari mulai divisi akuntansi, keuangan, internal audit, tidak berfungsi sama
sekali. Bagaimana akan berfungsi, bahkan oknumnya dari staff senior mereka yang sudah
hafal seluk beluk perusahaan. Seiya Shimaoka, seorang internal auditor, mencurigai
kecurangan dan berusaha melaporkan tapi malah dianggap angin lalu oleh atasannya sendiri
seperti yang dilansir jurnalis Financial Times. Sedemikian rapi dan cerdasnya hingga tim
auditor eksternal sekelas Ernst & Young (EY) tak mampu mencium aroma busuk dari laporan
keuangan Toshiba. Belum ada dugaan kantor akuntan itu terlibat dalam skandal.
Melibatkan siapa (Who)
Akibat laporan ini CEO Toshiba, Hisao Tanaka, mengundurkan diri, disusul keesokan harinya
pengunduran diri wakil CEO Toshiba, Norio Sasaki. Selain itu Atsutoshi Nishida, chief
executive dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 yang sekarang menjadi penasihat
Toshiba juga mengundurkan diri, total ada delapan pejabat Toshiba mengundurkan diri. Panel
tersebut mengatakan bahwa Tanaka dan Sasaki tidak mungkin tidak tahu atas praktik
penggorengan laporan keuangan ini. Saham Toshiba turun sekitar 20% sejak awal April 2015
ketika isu akuntansi ini terungkap. Nilai pasar perusahaan ini hilang sekitar 1,67 triliun
(setara dengan RP174 triliun).
Dalam pernyataan resminya, Kamis, Toshiba mengatakan bahwa 45 pemegang saham
mencari kompensasi atas praktik "akuntansi yang tidak patut" oleh Toshiba
Perusahaan ini sudah dilaporkan ke pengadilan dan dituntut oleh sekitar 15 grup dan
individual sejak pertama kali mengakui adanya kesalahan perhitungan akuntansi, yang
dilakukan sejak 2008. Salah satu lembaga yang menuntut Toshiba adalah lembaga pensiun
Jepang, GPIF. Lembaga ini bahkan memiliki saham di Toshiba untuk mendorong return-nya

Kapan terjadi (When)


Kasus ini mulai bergulir pada tahun 2008-sekarang.
Dimana terjadi (Where)
Skandal terjadi di Toshiba Jepang
Mengapa bisa terjadi (Why)
Target yang terlalu tinggi, dan tekanan atas pencapaian target tersebutlah yang menyebabkan
skandal ini terjadi. Dalam akuntansi manajemen, hal ini disebut dengan akuntansi
pertanggungjawaban, yaitu bagaimana kepala unit bisnis melaporkan pencapaian kinerjanya atas
tanggung jawab yang diberikan manajemen puncak perusahaan kepadanya.
Tidak ada yang salah sebenarnya dalam praktik akuntansi pertanggungjawaban ini, malah
dianjurkan untuk menciptakan kinerja yang lebih baik, namun kesalahannya terletak pada tumpuan
penilaian kinerja semata-mata hanya pada sisi kinerja keuangan. Meskipun kita mengenal ada
empat perspektif kinerja dalam balance score card (keuangan, pelanggan, proses bisnis internal
dan pertumbuhan dan pembelajaran), namun dalam kenyataannya tetap perspektif keuangan selalu
yang didewakan.
Tidak hanya di Jepang, Amerika atau negara barat lainnya, di Indonesiapun praktik manajemen
berbasis kinerja ini sering banyak disalahgunakan. Praktik sederhananya adalah manajemen
puncak memberikan target yang luar biasa tinggi kepada unit bisnis dibawahnya, sebenarnya
manajemen puncak mengetahui bahwa target itu sangat tidak realistis, namun sengaja ia berikan
agar memacu unit bisnis menghasilkan yang lebih banyak lagi melebihi target normal, agar target
yang dibebankan kepadanya bisa dicapai. Atau contoh sederhananya begini: dewan komisaris
(BOC) memberikan target pertumbuhan 10% kepada dewan direksi (BOD) perusahaan,
selanjutnya BOD memberikan target 12% kepada setiap unit bisnis dibawahnya, untuk
mengamankan agar pencapaiannya yang 10% itu dapat dengan mudah dipenuhi, selanjutnya
kepala unit bisnis memberikan target yang lebih tinggi lagi misal sebesar 15% kepada manajer
divisi dibawahnya lagi, demikian seterusnya.
Praktik ini sebenarnya normal terjadi, namun tekanan dan punishment dari atasan agar target
tercapai itulah yang membuat unit bisnis mengakali laporannya. Cara gampangnya adalah dengan
memberikan laporan yang salah alias laporan ABS (Asal Bapak Senang) seperti pada kasus
Toshiba ini. (tambahan)

Bagaimana Bisa terjadi (How)


Kasus akuntansi Toshiba ini tidak akan mungkin muncul ke permukaan, jika komisaris (Chairman)
Toshiba tidak melakukan inistiatif membentuk panel independen ini, artinya jika dengan
pengawasan biasa saja (internal audit atau komite audit), hal ini pasti tidak terdeteksi.
Demikian juga peran OJK nya Jepang yang tidak mampu mendeteksi kasus ini, dengan
beranekaragam regulasi yang dikeluarkan OJK ternyata masih belum mampu mencegah terjadinya
praktik kecurangan akuntansi pada perusahaan terdaftar di bursa, ini juga patut dipertanyakan.
Hal yang sama terjadi juga pada eksternal auditor Toshiba yang juga tidak mampu menemukan
kecurangan akuntansi ini. Audit independen saja tidak mampu menemukannya bagaimana dengan
internal audit atau OJK?
Perlu dipikirkan cara baru pengawasan untuk mencegah hal ini terulang lagi, mungkin semacam
inspeksi dari komisaris perusahaan atau dari regulator (jika perusahaan terbuka). Inpeksi atau
pemeriksaan khusus bisa dilakukan kapan saja dengan waktu yang tidak tentu. Pemeriksaan khusus
(inpeksi) ini harus dituangkan dalam peraturan resmi (peraturan OJK atau peraturan pemerintah)
agar semua perusahaan melakukannya secara bersama, termasuk didalamnya siapa yang
menanggung biaya inspeksi ini. Dengan penerapan pengawasan berlapis ini tentunya akan tercipta
laporan keuangan yang lebih accountable, good corporate governance, dan tentunya kepercayaan
para stake holder (termasuk didalamnya investor) akan semakin tinggi.

Pandangan dalam berbagai Perspektif


Permasalahan Akuntansi
Permasalahan akuntansi yang dihadapi oleh Toshiba yaitu dengan penerapan target laba
yang tinggi dan tidak masuk akal, membuat munculnya tekanan, pembenaran dan
kesempatan dalam melakukan fraud (kecurangan) dalam penyusunan laporan keuangan
yang disusun oleh Toshiba. Selain itu, terbaliknya sifat konservatisme pada perusahaan
yakni dengan mengakui laba secepat cepatnya dan tidak mengakui laba sesegera
mungkin, membuat laporan keuangan yang disusun memunculkan laba yang besar dari
pada rugi, sebenarnya Toshiba memiliki rugi yang cukup besar. Dalam kegiatan
investasinya Toshiba pun membayar utang kepada pemegang saham menggunakan
provisi yang dimiliki Toshiba.
Permasalahan Audit Eksternal
Permasalahan audit eksternal dalam kasus Toshiba yaitu, kurang jeli dan telitinya
auditor eksternal dalam menganalisis, mendeteksi, menelaah, dan menemukan
banyak manipulasi dalam pelaporan keuangan yang disusun oleh entitas yang
diauditnya dalam hal ini yaitu Toshiba. Dikarenakan kompaknya pihak manajemen
perusahaan dalam menyembunyikan dan memanipulasi rugi dalam pelaporan keuangan
yang disusun oleh perusahaan.
Permasalahan Audit Internal
Permasalahan audit internal dalam kasus Toshiba yaitu, auditor internal tidak
melaksanakan tugas dan fungsi audit internal dengan semestinya, dikarenakan auditor
internal bekerjasama dengan pihak manajemen Toshiba dalam melakukan kecurangan
kecurangan di banyak hal seperti dalam penyusunan laporan keuangan dan
pembayaran utang pemegang saham dengan menggunakan provisi yang seharusnya
provisi tersebut di peruntukkan untuk kegiatan operasional perusahaan. Auditor
internal Toshiba pun enggan melaksanakan tugas dan fungsi auditnya dikarenakan hal
hal yang mendukung fraud (kecurangan) yaitu tekanan, pembenaran, dan kesempatan
yang ada pada perusahaan tersebut.
Permasalahan Tata Kelola Perusahaan
Permasalahan tata kelola perusahaan dalam Toshiba yaitu, Toshiba seakan akan acuh
tak acuh dalam tata kelola perusahaan modern yakni GCG (Good Coorporate
Governance) dimana dituntutnya akuntabilitas atau pertanggungjelasan dalam
pengelolaan perusahaan. Selain itu tidak ada kejelasan mengapa Toshiba mengakui
pendapatan sesegera mungkin dan tidak mengakui rugi sesegera mungkin, kemudian
mengapa Toshiba membayar utang kepada pemegang saham dengan menggunakan
provisi yang jelas jelas provisi tersebut adalah salah satu komponen dalam operasional
perusahaan.
Permasalahan Budaya Perusahaan
Permasalahan budaya perusahaan yang dialami Toshiba yaitu, budaya perusahaan
dipengaruhi oleh manusia manusia yang terlibat didalamnya oleh sebab itu budaya
perusahaan hampir sama dengan budaya manusianya. Selama ini kita mengetahui
bahwa budaya orang Jepang, khususnya budaya perusahaannya telah diakui oleh
masyarakat dunia yaitu workaholic, adalah budaya yang gila akan pekerjaan dan
menuntut setiap orang dalam Negara tersebut untuk bekerja, bekerja, dan bekerja
tanpa mengenal waktu. Begitupula budaya warga Jepang yang dikenal dengan loyalitas
dan integritas tinggi terhadap baik terhadap pekerjaan maupun terhadap pimpinan. Pada
kasus Toshiba budaya warga Jepang tersebut tetap dipertahankan tapi dengan cara
yang salah, karena mendukung tindak kecurangan dalam penyusunan laporan
keuangan. Tidak adanya keberanian untuk setidaknya melaporkan tindakan tersebut
kepada pihak luar karena adanya kemungkinan doktrin dari pimpinan tentang
rasionalisasi, tekanan, dan kesempatan dalam melakukan kecurangan.
Peran whistle-blowerdalam mengungkap kasus Toshiba
peran whistle-blower dalam mengungkap kasus ini, whistleblower dari pihak Toshiba
tidak berfungsi atau tidak berperan pada kasu ini. Dikarenakan banyaknya tekanan dan
pembenaran dari pimpinan level atas pada perusahaan Toshiba yang menyebabkan
takutnya manajemen mengungkapkan kecurangan tersebut kepada publik. Tidak hanya
sampai disitu, peran auditor internal dan eksternal yang seharusnya bisa menjadi salah
satu whistle-blower, tidak bisa menjalankan tugas dan fungsi mereka dengan semestinya
dikarenakan kerjasama yang kuat untuk menutupi kecurangan tersebut oleh
manajemen, auditor internal, dan semua pihak internal perusahaan.
https://adnestantiabenedith.wordpress.com/2016/10/12/kasus-pelanggaran-kode-etik-akuntansi-
perusahaan-toshiba/
http://ekonomi.kompas.com/read/2016/10/13/200000526/skandal.akuntansi.goyang.merek.toshib
a
http://ekonomi.kompas.com/read/2017/06/26/103000126/toshiba.alami.rugi.besar.ini.sebabnya
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20150720101106-185-67228/palsukan-laporan-
keuangan-toshiba-akan-dihukum-pemerintah/
https://akuntansiterapan.com/2015/07/22/toshiba-accounting-scandal-runtuhnya-etika-bangsa-
jepang-yang-sangat-diagungkan-itu/