Anda di halaman 1dari 22

Dr.Cholichul Hadi, Drs., M.

Si
http://cholichul-fpsi.web.unair.ac.id/artikel_detail-44388-buku-
Pengetahuan%20Psikologi%20Humanistik%20(2).html
diakses tanggal 5 des. 2017 pukul 12:39

SEKILAS TENTANG PSIKOLOGI HUMANISTIK

Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an,
dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan.
Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark
Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang
berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta,
kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.

Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme
serta dipandang sebagai kekuatan ketiga dalam aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap sebagai
kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari psikoanalisis ala Freud yang
berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran
pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa
perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri.

Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov dengan hasil
pemikirannya tentang refleks yang terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa semua
perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan.

Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi


manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan
pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai,
tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental (1964)
mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan
manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki keunikan
tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya
dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat
bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk
mencari makna, nilai dan kreativitas.

Terdapat beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap
perkembangan psikologi humanistik. Sumbangan Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok
fenomenologi yang mengkaji tentang persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku
sejalan dengan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang yang
melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.

Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang
potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang
motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan
humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berfikirnya
sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan pula bahwa setiap
manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki kesadaran akan dirinya.
Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik. Carl Rogers berjasa besar
dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasian dalam pendidikan. Dia
mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan
personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim
emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan
pada hubungan emosional antara guru dengan siswa

Berkenaan dengan epistemiloginya, teori-teori humanistik dikembangkan lebih berdasarkan pada


metode penelitian kualitatif yang menitik-beratkan pada pengalaman hidup manusia secara nyata
(Aanstoos, Serlin & Greening, 2000). Kalangan humanistik beranggapan bahwa usaha mengkaji
tentang mental dan perilaku manusia secara ilmiah melalui metode kuantitatif sebagai sesuatu yang
salah kaprah. Tentunya hal ini merupakan kritikan terhadap kalangan kognitivisme yang
mengaplikasikan metode ilmiah pendekatan kuantitatif dalam usaha mempelajari tentang psikologi.

Sebaliknya, psikologi humanistik pun mendapat kritikan bahwa teori-teorinya tidak mungkin dapat
memfalsifikasi dan kurang memiliki kekuatan prediktif sehingga dianggap bukan sebagai suatu ilmu
(Popper, 1969, Chalmers, 1999).

Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan
terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan client-centered therapy,
yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami
perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa
prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini
bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas konselor
hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen
dan pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau pemberian
bantuan kepada klien.

Selain memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi humanistik juga
memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan
humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu
secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental,
dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini.

EMPAT TREN DALAM PSIKOLOGI KONTEMPORER

Sampai dengan penghujung abad ini terdapat empat aliran besar psikologi, yakni psikoanalisis,
psikologi perilaku, psikologi Humanistik, dan psikologi Transpersonal. Masing-masing aliran meninjau
manusia dari sudut pandang yang berlainan dan dengan metodologi tertentu berhasil menentukan
berbagai dimensi dan asas tentang kehidupan manusia, kemudian membangun teori dan filsafat
mengenai manusia.

Psikonalisa
Menurut Freud, dalam diri manusia ada 3 tingkatan kesadaran yaitu alam sadar, alam tidak sadar,
dan alam prasadar. Alam kesadaran manusia digambarkan Freud sebagai sebuah gunung es dimana
puncaknya yang kecil muncul kepermukaan dianggap sebagai alam sadar manusia sedangkan yang
tidak muncul kepermukaan disebut alam ketidaksadaran yang luas dan sangat berpengaruh dalam
kehidupan manusia. Dan diantara alam sadar dan alam ketidaksadaran terdapat alam prasadar.
Dengan metode asosiasi bebas, hipnotis, analisis mimpi, salah ucap, dan tes proyeksi hal-hal yang
terdapat dalam alam prasadar dapat muncul ke alam sadar.

Psikologi Perilaku (behavior)

Aliran ini berpendapat bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan luar.
Aliran ini menganggap bahwa manusia adalah netral, baik atu buruknya perilaku ditentukan oleh
situasi dan perilakunya yang dialami oleh manusia tersebut.

Psikologi Humanistik

Berlainan dengan psikoanalisis yang memandang buruk manusia dan behavior memandang manusia
netral, psikologi humanistik berasumsi bahwa pada dasarnya manusia memiliki potensi-potensi yang
baik, minimal lebih banyak baik daripada buruknya. Yakni kemampuan khusus manusia yang ada
pada manusia, seperti kemampuan abstraksi, aktualisasi diri, makna hidup, pengembangan diri dan
rasa estetika. Kualitas ini khas dan tidak dimiliki oleh makhluk lain. Bagi humanistik, maanusia adalah
makhluk yang paling luhur dan sesuatu yang utuh.

Psikologi Transpersonal

Aliran ini dikembangkan oleh tokoh psikologi Humanistik Abraham Maslow, sehingga boleh
dikatakan bahwa aliran ini merupakan perkembangan dari aliran humanistik psikologi transpersonal
mengkaji tentang potensi tertinggi yang dimilki oleh manusia, dan melakukan penggalian,
pemahaman dan perwujudan serta kesadaran transendensi.

Psikologi transpersonal seperti halnya psikologi humanistik menaruh perhatian pada dimensi
spiritual manusia yang ternyata mengandung potensi dan kemampuan luar biasa yang sejauh ini
terabaikan dari telaah psikologi kontemporer.

Tingkatan Pengalaman Sadar

Pendekatan Humanistik

Beberapa pendekatan telah dirumuskan oleh penulis humanistik untuk penyertaan subjektivitas
manusia dalam wacana psikologis. beberapa bersandar berat pada kemajuan terbaru dalam teori
fisika dan pada peran pengamat dalam hubungan dengan fenomena psysical. yang lain berasal
langsung dari filsafat fenomenologis. pendekatan saya mendukung, karena tergantung pada
anteseden tidak ilmiah atau filosofis, pertama kali diusulkan oleh Joseph Nuttin dari University of
Louvain di Belgia.
anehnya, karyanya memiliki pengaruh lebih lanjut tentang psikiatri kontemporer, meskipun ia adalah
seorang psikolog eksperimental dan klinis yang telah diterbitkan di kedua bidang. beberapa karyanya
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, khususnya psikoanalisis dan kepribadian (1962). dalam
buku ini, Nuttin adalah memiliki pandangan yang jelas dalam menyajikan alasan untuk keyakinan
humanistik yang agak samar-samar atau masih buram untuk maju dan dipertahankan oleh penulis
lain.

Nuttin menjelaskan lebih banyak lagi di dalam bukunya bahwa sebuah kritik

tertentu melibatkan analisis, pra-ilmiah deskriptif kesadaran manusia yang, pada gilirannya,
menghasilkan penjelasan dari tiga tingkat distintive pengalaman sadar. sementara tingkat ini
tampaknya ada secara bersamaan, mereka memberikan bukti tereduksi menjadi salah satu ke yang
lain.

Tingkat kesadaran:

1. Psychophysiological level:

Dalam level ini, terdapat hubungan anatar kesadaran manusia dengan kebutuhan dasar, yaitu
seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat
terpuaskan atau terpenuhi maka akan berdampak bagi kehidupan mereka. kebiasaan yang telah
menjadi budaya masyarakat adalah perilaku konsumtif yang terlalu berlebihan, sebagai contohnya,
mereka membeli banyak barang tanpa melihat fungsi dari barang-barang tersebut. hal ini sesuai
dengan pandangan humanistik, yaitu dengan sadar untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya yang
merupakan perilaku humanis, namun ketika manusia membeli barang secara berlebihan dan muncul
perilaku konsumtif, maka hal ini diakatakan sudah tidak menjadi humanis lagi.

2. Psikososial Level:

Dalam level ini membahas mengenai hubungan manusia dengan manusia lain dan lingkungannya.
Manusia sebagai makluk hidup yang tidak dapat jauh dari lingkungannya, bagaimanapun kedaannya
manusia akan tergantung pada lingkungan sosialnya. Dan ketergantungannya tersebut seorang
individu harus memiliki sesuatu yang dapat meningkatkan derajat mereka untuk mencapai eksistensi
diri mereka, sehingga terkadang kebanyakkan dari mereka untuk mencapai eksistensi tersebut,
mereka rela untuk membeli barang atau benda-benda secara berlebihan, perilaku ini membuat
manusia menjadi tidak humanis karena manusia dipaksa untuk konsumtif yang hanya untuk
mengangkat status sosialnya di masyarakat.

3. Transpersonal level:
Dalam level ini, terdapat hubungan manusia dengan masa lalunya. Manusia secara sadar bahwa
mereka benar-benar berada di kondisi yang pernah mereka alami atau kejadian yang serupa
sebelumnya. Sehingga hal ini membuat mereka mengenal benda yang pernah mereka kenali.
Adapun sisi positif dan negative yang terjadi, yaitu mereka menjadi sadar dan cepat ingat apabila
bertemu dengan benda-benda atau hal lainnya, meskipun kejadian yang dialami telah lama terjadi.
Ada juga perasaan kecemasan yang dialami seperti contohnya membeli barang-barang canggih
seperti modem, handphone dengan merek terkenal. Mereka membelinya karena berharap menjadi
seseorang yang tidak ketinggalan jaman dan mengikuti perkembangan dalam media internet, seperti
pada jejaring sosial yang sedang marak, namun dibalik keuntungan dan harapannya terdapat
kecemasan yang dialami, seperti menjadi boros dengan mengeluarkan sebagian materinya untuk
membeli pulsa untuk alat canggih yang dimilikinya. Contoh tersebut tidak sesuai lagi dengan
humanistik, karena manusia secara tidak langsung kesadarannya telah dikalahkan oleh alat-alat
canggih tersebut

TEMA DALAM PSIKOLOGI HUMANISTIK

1. Pendekatan Fenomenologi

Pendekatan fenomenologi ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif individu karena itu
tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap diri dan dunianya. Konsep
tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirimya.
Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan.

Banyak aspek penting dari pandangan-pandangan Rogers dari behavior nampaknya benar. Ini
nampak jelas bahwa masing-masing individu merasa dunia dalam satu cara yang tidak dialami orang
lain. Ini juga nampak jelas, untuk memahami yang lain, mungkin saja berguna untuk mengadopsi
pandangan mereka. Bagaimanapun, beberapa aspek dari dalil-dalil ini tidak begitu jelas. Khususnya,
makna istilah aktualisasi diri tidak selalu jelas.

Pendekatan Rogers adalah jelas subjektif dan tidak sangat ilmiah. Yaitu, tidak didasarkan pada
penelitian seksama. Meskipun demikian, berjasa untuk kemajuan ilmu pengetahuan bisa
dipertimbangkan; sangat bersifat spekulatif kadang-kadang menghasilkan gagasan penuh
keberhasilan.

2. Holisme

Holisme menegaskan bahwa organisme selalu berting-kah laku sebagai kesatuan yang utuh, bukan
sebagai rangkaian bagian atau komponen yang berbeda. Jiwa dan tubuh bukan dua unsur yang
terpisah tetapi bagian dari suatu kesatuan, dan Psikologi Kepribadian apa yang terjadi pada bagian
yang satu akan mempengaruhi bagian yang lain. Pandangan holistik dalam

kepribadian yang terpenting adalah:

Kepribadian normal ditandai dengan unitas, integrasi, konsistensi, dan koherensi. Organisasi adalah
keadaan normal dan disorganisasasi

Adalah keadaan patologis (sakit)


Organisme dapat dianalisis dengan membedakan tiap bagiannya, tetapi tidak ada bagian yang dapat
dipelajari dalam isolasi.

Organisme memiliki suatu dorongan yang berkuasa, yaitu aktualisasi diri.

Pengaruh lingkungan eksternal pada perkembangan normal bersifat minimal. Potensi organisme jika
bisa terkuak di lingkungan yang tepat akan menghasilkan kepribadian yang sehat dan integral.

Penelitian yang komprehensif terhadap satu orang lebih berguna dari pada penelitian ekstensif
terhadap banyak orang mengenai fungsi psikologis yang diisolasi.

3. Aktualisasi diri

Adalah sebuah pencapaian seseorang untuk mewujudkan diri dalam prestasi hebat yang telah dibuat
atau lebih sederhananya menjadi berguna bagi banyak orang.

Salah satu kebutuhan dasar manusia untuk tetap hidup normal adalah aktualisasi diri. Menurut
Maslow, manusia memang perlu mencari lingkungan dimana ia bisa benar-benar menghayati
keberadaannya (mengaktualisasikan dirinya),. Dalam humanism, setiap orang ingin merasakan
nikmatnya menjadi orang yang berarti bagi sekitarnya. Dalam arti mampu memproses realisasi
terhadap potensi diri.

4. Determinasi diri

Dalam pandangan humanistik, self-determination (penentuan diri) merupakan sesuatu yang aktif
yang mana terdapat self aware ego dan memiliki kesadaran diri (self consciousness). Sedangkan
menurut Freud seorang yang mampu atau sukses dalam mendeterminasikan dirinya (determinator)
adalah sebagai berikut:

Seorang determinator tidak pernah menyerah (never give up), selalu membangkitkan semangat anak
buah dan mampu mendelegasikan tugas kepada anak buah tetapi tidak akan pernah mau untuk
lepas tanggung jawab. Dia berani mengambil resiko demi kemajuan organisasi (risk taker).

Determinator dituntut untuk mampu mengambil keputusan (decision making) secara cepat, tepat
dan mampu dipertanggungjawabkan kepada perusahaan. Hope (harapan) selalu dipupuk dalam
jiwanya. Hope ini lebih tinggi daripada tantangan dan cobaan yang dihadapi. Oleh sebab itu maka
seorang determinator wajib mempunyai sifat ambang (thrush hold) yang tinggi. Artinya mempunyai
kasih dan kesabaran yang tinggi terhadap manusia lainnya dan bukan manusia (peralatan, prosedur
dll).

Determinator juga mempunyai inisiatif (=do more) artinya bahwa berusaha melakukan dan
mencapai lebih dibanding lainnya dan memberi lebih kepada perusahaan. Kendala berusaha diubah
menjadi peluang dengan menggunakan akal budi yang dimiliki.

Determinator mampu menterjemahkan komunikasi dengan atasannya (linement) dan melakukan


komunikasi dengan bawahan (deployment). Kedua hal tersebut dinamakan higher order
communication. Artinya bahwa seorang determinator mampu menjabarkan perintah atasan
(biasanya disampaikan singkat) dan maksud dari perintah itu seluas-luasnya dan secepat-cepatnya
untuk berpikir dan bertindak (linement). Kemudian perintah dari atasan tersebut harus dilanjutkan
dijabarkan lagi kepada bawahan (deployment).

Fenomenologi

Hubungan antara metode fenomenologi dengan ilmu-ilmu tentang manusia (humaniora), dan sosial
budaya sejak lama telah menjadi perhatian banyak ahli. Jika dikaitkan dengan ciri-ciri pendekatan
psikologi humanistik yang menggunakan metode fenomenologi , karya manusia yang patut dikaji
adalah kesenian. Seni adalah perbuatan dari wujud wujud sensoring yang mengekspresikan nilai-
nilai manusia. Seni merupakan salah satu bagian dari proses kreatifitas manusia selain ilmu.
Menurut Marvin Rider, ada tiga tahapan dalam seni yaitu proses kreatif, karya seni, dan respon.

Terdapat dua dasar terjadinya ekspresi, yaitu pikiran dan (suasana) kehidupan. Ekspresi yang timbul
dari intensi pikiran, misalnya konsep dan struktur pikiran. Keduanya adalah unsur pokok dalam ilmu
pengetahuan dan berurusan dengan logika. Oleh karena itu, ekspresi yang dimaksudkan dalam
kategori ini ada dalam bidang-bidang keilmuan yang menuntut adanya validitas yang lepas dari
situasi yang dimunculkannya.

Dasar kedua bagi lahirnya suatu ekspresi adalah suasana pengalaman hidup (life ekspressions).
Dalam kategori ini ekspresi bukan intensi pikiran, tetapi dikondisikan oleh pikiran. Berbeda dari
ekspresi yang lahir dari pikiran, maka life ekspressions lebih banyak menampilkan segi-segi
kehidupan , dengan sifat emosi dan psikologis yang cukup menonjol.

Berangkat dari ciri-ciri tersebut , apakah hal itu berarti bahwa dengan mengkaji suatu karya (seni),
maka dengan sendirinya kita dapat mencapai aspek mental senimannya? Dalam hal ini Dilthey
membedakan dua bentuk karya seni yang disebutnya otentik karya yang tidak otentik. Suatu karya
yang tidak otentik , tidak dapat berbicara tentang kandungan mental senimannya, karena karya
semacam itu hanya merupakan ilusi. Karya ini bisa dianggap lepas dari kandungan mental sang
seniman, karena interes sang seniman sangat dipengaruhi oleh hal-hal praktis yang lebih kuat dari
pengalaman hidup yang tersimpan dalam kandungan mentalnya. Dalam kondisi seperti ini
tampaknya kita hanya dapat memasuki sisi interes seniman itu, dan tidak sampai merambah pada
kandungan mentalnya. Sebagai contoh adalah interes seniman yang berkarya karena kebutuhan
akan uang.

Karya otentik mempunyai bentuk pasti, dapat dilihat dan permanen

yang mempunyai enam ciri: (1) suatu ekspresi yang mempunyai tertentu; (2) ada hubungan antara
ekspresi dan apa yang diekspresikan; (3) ekspresi adalah ciri fisik yang yang menunjukan pada
kandungan mental

dengan pendekatSalah satu karya manusia


Munculnya Fenomenologi terkait dengan krisis yang dialami Ilmu Pengetahuan . Krisis itu berupa
interpretasi berat sebelah (Empirisme dan idealisme) yang pada akhirnya mematikan makna
eksistensi manusia.

Positivisme memandang ilmu sekedar Ilmu tetang fakta-fakta. Positivisme memandang Ilmu
Pengetahuan pada gejala fisik saja, dan ini suatu reduksi yang menimbulkan dehumanisasi. Masalah
yang berkaitan dengan eksistensi rasional , emosional, makna dan tujuan hidup manusia dilenyapkan
dengan alasan bahwa hal itu tidak dapat diverifikasi melalui metode ilmiah. Masalah yang berkaitan
dengan subjek semuanya di reduksi menjadi fakta-fakta biologis seperti dalam psikologi
behaviorisme (Pavlov, Watson dan Skinner).

Fenomenologi menolak pandangan reduksionisme (melihat manusia sebagai fakta objektif) yang
menyamakan manusia dengan alam. Pandangan yang demikian ini disebut Husserl dengan
naturalisme. Naturalisme adalah pandangan filosofis yang menjadi sikap ilmiah positivisme yang
melihat segala sesuatu sebagai alam yang diatur hukum-hukum alam secara universal. Paradigma
positivisme tidak mampu melihat kesadaran, makna hidup, motivasi sebagai pemberi makna fakta
fisis (tingkah laku).

Fenomenologi terbentuk dari kata Fenemenon + logos. Fenomenon berari sesuatu yang menggejala,
yang menampakan diri, sedangkan logos berarti ilmu. Jadi fenomenologi berarti ilmu tetantang
fenomen atau pembahasan sesuatu yang menampakan diri. Dengan demikian fenomenologi dapat
diterapkan pada semua wilayah fenomena (realitas) yang menampakan diri (manusia, gejala sosial
budaya atau objek-objek lain)

Metodologi Hermenetika dan Fenomenologi adalah metode alternatif bagi paradigma positivisme
yang banyak digunakan dalam melakukan penelitian khusunya masalah humaniora dan Sosial
Budaya. Psikoanalisa adalah aliran/mazhab psikologi yang menggunakan metode hermeunetika
untuk menyingkapkan hal-hal tidak sadar yang terdapat dalam mimpi (ketidaksadaran) tetapi
dianggap sebagai satu teks.

Sigmund Freud (1856-1939) adalah tokoh yang memberikan sumbangan pemikiran bagi Filsafat
manusia yang berbeda dengan pandangan

ilmuwan sebelumnya yang lebih menekankan unsur rasionalitas (Descartes).

Holisme vs Reduksionisme

Perdebatan reduksionisme / holisme adalah kontroversi yang menimbulkan pertanyaan tentang sifat
dari "penjelasan" itu sendiri. Sepintas pertanyaan seperti dapat terlihat sulit dan abstrak, tetapi pada
dasarnya dua posisi dalam perdebatan ini dapat diringkas dalam frase tunggal.

Untuk reduksionis cara sederhana adalah sumber dari kompleks". Dengan kata lain untuk
menjelaskan fenomena kompleks (seperti perilaku manusia) salah satu kebutuhan untuk
"mengurangi" ke elemen-elemen penyusunnya. Untuk holistik seluruh lebih dari jumlah bagian-
bagian. Dengan kata lain perilaku manusia memiliki sifat yang tidak dijelaskan dalam hal sifat-sifat
unsur-unsur dari mana ia berasal. Di sini kita akan berurusan dengan kasus reduksionis pertama.
Reduksionisme Psikologi

Reduksionisme adalah keyakinan bahwa perilaku manusia dapat dijelaskan dengan


memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Pengurang mengatakan bahwa cara terbaik
untuk memahami mengapa kita berperilaku seperti yang kita lakukan adalah untuk melihat secara
dekat bagian yang sangat sederhana yang membentuk sistem kami, dan menggunakan penjelasan
sederhana untuk memahami bagaimana mereka bekerja. Hal ini didasarkan pada asumsi ilmiah
parsimoni - bahwa fenomena kompleks harus dijelaskan oleh prinsip-prinsip yang mendasari
sederhana mungkin. Pendukung kuat reduksionisme percaya bahwa perilaku dan proses mental
harus dijelaskan dalam kerangka dasar ilmu (misalnya, fsiologi, kimia).

Namun penjelasan perilaku pada tingkat yang paling sederhana bisa dianggap reduksionis.
Eksperimental dan pendekatan laboratorium di berbagai bidang psikologi (misalnya Behaviorisme,
biologis, kognitif) mencerminkan posisi reduksionis. Pendekatan ini mau tidak mau harus
mengurangi perilaku yang kompleks untuk satu set sederhana variabel yang menawarkan
kemungkinan mengidentifikasi sebab dan efek (Reduksionisme yaitu merupakan bentuk
determinisme).

Behavioris seperti Skinner menjelaskan perilaku semua sebagai hasil dari pembelajaran masa lalu.
Hubungan antara rangsangan dan tanggapan kita kepada mereka merupakan dasar untuk semua kita
tahu dan bagaimana kita berperilaku. Ini adalah pandangan reduksionis karena perilaku kompleks
dikembalikan pada sebuah stimulus sederhana dan hubungan respon.

Reduksionisme bekerja pada tingkat yang berbeda. Tingkat terendah dari reduksionisme
menawarkan penjelasan fisiologis: ini upaya untuk menjelaskan perilaku dalam hal neurokimia, gen
dan struktur otak. Pada tingkat sosial-budaya tertinggi, penjelasan fokus pada pengaruh pada
perilaku di mana dan bagaimana kita hidup. Antara ekstrem ada penjelasan perilaku, kognitif dan
sosial. Para pendukung pendekatan reduksionis mengatakan bahwa itu adalah ilmiah. Breaking
perilaku rumit ke bagian-bagian kecil berarti bahwa mereka dapat diuji secara ilmiah. Kemudian, dari
waktu ke waktu, penjelasan menurut bukti ilmiah yang akan muncul. Namun, sebagian orang akan
berpendapat bahwa pandangan reduksionis tidak memiliki validitas. Misalnya, kita dapat melihat
bagaimana otak merespon suara musik tertentu dengan melihatnya dalam scanner, tapi bagaimana
Anda rasakan ketika Anda mendengar potongan musik tertentu bukanlah sesuatu scanner yang bisa
mengungkapkan. Hanya karena bagian otak yang terhubung dengan rasa takut diaktifkan saat
mendengarkan sebuah karya musik tidak selalu berarti bahwa Anda merasa takut. Dalam hal ini,
menjadi reduksionis bukanlah cara yang valid untuk mengukur perasaan.

Hal ini juga berpendapat bahwa pendekatan reduksionis tidak memungkinkan kita untuk
mengidentifikasi mengapa perilaku terjadi. Misalnya, mereka dapat menjelaskan bahwa lari dari
anjing besar ini dimungkinkan oleh pusat ketakutan kita menyebabkan respons stres untuk lebih
memungkinkan kita untuk berlari cepat, tetapi pandangan reduksionis yang sama tidak dapat
mengatakan mengapa kami takut anjing di tempat pertama . Akibatnya, dengan menjadi reduksionis
kita mungkin bertanya lebih kecil, pertanyaan yang lebih spesifik dan karenanya tidak menangani
masalah yang lebih besar tentang mengapa kita berperilaku seperti kita. Ia telah mengemukakan
bahwa kegunaan pendekatan reduksionis tergantung pada tujuan yang mereka diletakkan. Misalnya,
menyelidiki respon otak untuk wajah akan mengungkapkan banyak tentang bagaimana kita
mengenali wajah, tapi ini tingkat deskripsi seharusnya tidak mungkin digunakan untuk menjelaskan
daya tarik manusia. Demikian juga, sementara kita perlu memahami biologi gangguan mental, kita
mungkin tidak sepenuhnya memahami gangguan tersebut tanpa memperhitungkan faktor-faktor
sosial yang mempengaruhinya. Jadi, reduksionisme sementara berguna, dapat menyebabkan
penjelasan lengkap. Reduksionisme di psikologi:

Behaviorisme mengasumsikan bahwa perilaku semua bisa dikurangi menjadi blok bangunan
sederhana dari SR (stimulus-respon) dan bahwa perilaku kompleks adalah SR.

Biopsikologi, penjelasan penyebab penyakit mental sering reduksionis. Genetika, dan


ketidakseimbangan neurokimia yang sering disorot, sebagai penyebab
utama gangguan ini. Dalam kasus skizofrenia misalnya kelebihan produksi
neurotransmitter dopamin dianggap sebagai penyebabnya. Pandangan ini jelas

Memiliki implikasi untuk pengobatan. Contoh lain dari reduksionisme biologis adalah agresi,
misalnya tingkat testoteron.

Srukturalisme, salah satu pendekatan pertama dalam psikologi. Wundt mencoba untuk istirahat ke
dalam pengalaman sadar penyusunnya (yaitu dasar) bagian: gambar, sensasi, dam perasaan.

Holistik Psikologi

holisme mengacu pada pendekatan yang menekankan keseluruhan bukan bagian


penyusunnya. Dengan kata lain adalah keseluruhan lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.
Metode kualitatif dari pendekatan humanistik mencerminkan posisi holistik. Psikologi sosial juga
mengambil pandangan yang holistik.

Pendekatan holistic karena itu menunjukkan bahwa ada berrbagai tingkat penjelasan dan
bahwa pada setiap tingkat ada sifat muncul yang tidak dapat dikurangi dengan yang di bawah.
Reduksionis penjelasannya, yang mungkin bekerja dalam beberapa keadaan, dianggap tidak pantas
untuk mempelajari subjektivitas manusia karena si sini property muncul bahwa kita harus
memperhitungkan adalah bahwa dari manusia seutuhnya. Jika tidak tidak masuk akal untuk
mencoba memahami arti dari apapun yang orang bisa lakukan.

Contoh Holisme di Psikologi

Psikologi humanistik menyelidiki semua aspek individu serta interaksi antara manusia:

Sosial Psikologi melihat perilaku individu dalam konteks sosial. Perilaku kelompok (misalnya
kesesuaian, individualisasi) dapat menunjukkan karakteristik yang lebih besar daripada jumlah dari
individu-individu yang termasuk negara ini.
Psikoanalisis, Freud mengadopsi pendekatan interaksionis, karena ia dianggap perilaku yang
merupakan hasil interaksi dinamis antara id, ego, dan superego.

Abnormal Psikologi, gangguan mental sering dijelaskan oleh interaksi faktor biologis, psikologis dan
lingkungan. Pendekatan eklektik terhadap terapi sering diambil menggunakan obat dan psikoterapi.

Persepsi, ini adalah otak memahami dan menafsirkan informasi indrawi. Ilusi visual menunjukkan
bahwa manusia merasa lebih dari jumlah dari sensasi pada retina

Pendekatan utama dalam psikologi diantara reduksionisme dan holisme

Pendekatan bologis

Reduksionisme sering disamakan dengan reduksionisme fisiologis, menawarkan penjelasan perilaku


dalam hal mekanisme fisiologis. Pendekatan evolusioner menggunakan reduksionisme evolusi ketika
mengurangi perilaku terhadap efek gen, seperti di beberapa penjelasan dari altruism atau perilaku
atipikal (misalnya depresi).

Pendekatan behavioris menggunakan kosakata yang sangat reduksionis: stimulus, respon,


penguatan, dan hukuman. Konsep-konsep ini sendiri digunakan untuk menjelaskan perilaku semua.
Ini disebut reduksionisme lingkungan karena Pendekatan behavioris menggunakan kosakata yang
sangat reduksionis: stimulus, respon, penguatan, dan hukuman. Konsep-konsep ini sendiri digunakan
untuk menjelaskan perilaku semua. Ini disebut reduksionisme lingkungan karena menjelaskan
perilaku dalam hal faktor lingkungan sederhana. Behavioris mengurangi konsep pikiran untuk

Komponen perilaku yaitu, stimulus-respon.

Pendekatan kognitif menggunakan prinsip reduksionisme mesin. Informasi-pengolahan pendekatan


menggunakan analogi sistem mesin, dan komponen sederhana dari mesin seperti itu, sebagai sarana
untuk menggambarkan dan menjelaskan perilaku. Inovasi komputer yang lebih baru, seperti internet
dan jaringan koneksionis dapat digambarkan sebagai holistik karena jaringan berperilaku berbeda
dari bagian individu yang pergi untuk membuat itu. Seluruh tampaknya lebih besar daripada jumlah
bagian-bagiannya.

Pendekatan psikodinamik adalah reduksionis sejauh hal itu bergantung pada satu set dasar struktur
yang mencoba untuk menyederhanakan gambaran yang sangat kompleks (misalnya id, ego,
superego, pikiran bawah sadar). Di sisi lain, Freud menggunakan teknik idiografis (misalnya studi
kasus atau wawancara individu) yang bertujuan untuk melestarikan kekayaan pengalaman manusia.

Humanisme muncul sebagai reaksi terhadap perspektif-perspektif psikologis manusiawi yang


berusaha untuk mengurangi perilaku untuk satu set elemen sederhana. Humanistik, atau psikolog
kekuatan ketiga, merasa bahwa holisme adalah pendekatan hanya berlaku untuk pemahaman
lengkap tentang pikiran dan perilaku. Mereka menolak reduksionisme dalam segala bentuknya. Titik
awal mereka adalah diri (kami rasa identitas pribadi) yang mereka anggap secara keseluruhan
berfungsi. Hal ini, dalam kata-kata Carl Rodgers, sebuah "terorganisir, set konsisten persepsi dan
keyakinan tentang diri sendiri". Ini mencakup kesadaran orang saya dan bisa. Ini mengarahkan
perilaku kita dalam semua aspek secara sadar memilih kehidupan kita dan pada dasarnya
termotivasi untuk mencapai aktualisasi diri. Untuk humanis, kemudian, diri adalah kualitas yang
paling penting dan unik dari manusia. Ini adalah apa yang membuat kita apa kita dan merupakan
dasar dari perbedaan antara psikologi dan semua ilmu pengetahuan alam. Penjelasan reduksionis
merusak kesatuan tak terpisahkan dari pengalaman. Mereka bertentangan dengan dan akhirnya
menghancurkan objek yang sangat penyelidikan psikologis. Sebuah titik pandang holistik dengan
demikian dalam hal humanis dasar dari segala pengetahuan tentang jiwa man

AKTUALISASI DIRI

aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat dan potensi psikologis
yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar dalam masa
kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hiduo seseorang ketika
mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari
fisiologis ke psikologis.

Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa
manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat
terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).
Kehidupan keluarganya dan pengalaman hidupnya memberi pengaruh atas gagasan gagasan
psikologisnya. Setelah perang dunia ke II, Maslow mulai mempertanyakan bagaimana psikologi
sebelumnya tentang pikiran manusia. Walau tidak menyangkal sepenuhnya, namun ia memiliki
gagasan sendiri untuk mengerti jalan pikir manusia.

Psikolog humanis percaya bahwa setiap orang memiliki keinginan yang kuat untuk merealisasikan
potensi potensi dalam dirinya, untuk mencapai tingkatan aktualisasi diri. Untuk membuktikan
bahwa manusia tidak hanya bereaksi terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, tapi untuk
mencapai sesuatu yang lebih, Maslow mempelajari seseorang dengan keadaan mental yang sehat,
dibanding mempelajari seseorang dengan masalah kesehatan mental. Hal ini menggambarkan
bahwa manusia baru dapat mengalami puncak pengalamannya saat manusia tersebut selaras
dengan dirinya maupun sekitarnya. Dalam pandangan Maslow, manusia yang mengaktualisasikan
dirinya, dapat memiliki banyak puncak dari pengalaman dibanding manusia yang kurang
mengaktualisasi dirinya.
Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Individu Abraham Maslow (dalam Schultz, 1991), manusia
didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Kebutuhan ini tersusun dalam
tingkatan-tingkatan dari yang terendah sampai tertinggi. Kebutuhan paling rendah dan paling kuat
harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum muncul kebutuhan tingkat selanjutnya. Kebutuhan paling
tinggi dalam hirarki kebutuhan individu Abraham Maslow adalah aktualisasi diri.

Jadi prasyarat untuk mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan empat kebutuhan yang berada
dalam tingkat yang lebih rendah: 1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis, 2. kebutuhan-kebutuhan akan
rasa aman 3. kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta 4. kebutuhan-kebutuhan penghargaan.
Kebutuhan-kebutuhan ini harus sekurang-kurangnya sebagian dipuaskan dalam urutan ini, sebelum
timbul kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan aktualisasi diri di atas nampaknya merupakan
suatu kondisi puncak dari perkembangan individu. Pada awalnya maslow menyatakan bahwa orang-
orang yang teraktualisasi diri hanya terdapat pada orang-orang berusia lanjut, cenderung dipandang
sebagai suatu keadaan puncak atau keadaan akhir suatu tujuan jangka panjang, bukan sebagai suatu
proses dinamis yang terus-menerus. Namun Maslow juga menyatakan bahwa orang-orang muda
tidak dapat mengaktualisasikan diri sepenuhnya, tetapi memiliki kemungkinan untuk
memperlihatkan pertumbuhan baik ke arah aktualisasi diri.

DETERMINASI DIRI

Determinasi diri dapat diartikan sebagai keteguhan hati untuk menentukan nasibnya sendiri.
Determinasi diri dicirikan dengan tidak pasrah dengan kondisi yang tidak memungkinkan, berani
mengambil keputusan dan tindakan untuk melangkah maju. Orang yang melakukan determinasi diri
disebut sebagai seorang Determinator. Sebagai contohnya, pada manusia yang memiliki tujuan dan
motivasi untuk kebaikan dirinya maupun dalam hidupnya, namun apabila manusia terlalu
memaksakan kehendaknya dengan keinginannya tersebut dan terlalu perfeksionis atau berlebihan,
maka hal ini tidak sesuai dengan konsep humanis, manusia yang humanis adalah manusia yang
memiliki motivasi dan tujuan untuk mennetukan nasibnya dengan tidak terlalu berlebihan, sehingga
terkadang yang mreka lakukan tidak memberikan hasil yang baik bagi nasib dirinya sendiri.

Dalam pandangan humanistik, self-determination (penentuan diri) merupakan sesuatu yang aktif
yang mana terdapat self aware ego dan memiliki kesadaran diri (self consciousness). Menurut tokoh
Freud seorang yang mampu atau sukses dalam mendeterminasikan dirinya (determinator) adalah
sebagai berikut:

Seorang determinator tidak pernah menyerah (never give up), selalu membangkitkan semangat anak
buah dan mampu mendelegasikan tugas kepada anak buah tetapi tidak akan pernah mau untuk
lepas tanggung jawab. Dia berani mengambil resiko demi kemajuan organisasi (risk taker).

Determinator dituntut untuk mampu mengambil keputusan (decision making) secara cepat, tepat
dan mampu dipertanggungjawabkan kepada perusahaan. Hope (harapan) selalu dipupuk dalam
jiwanya. Hope ini lebih tinggi daripada tantangan dan cobaan yang dihadapi. Oleh sebab itu maka
seorang determinator wajib mempunyai sifat ambang (thrush hold) yang tinggi. Artinya mempunyai
kasih dan kesabaran yang tinggi terhadap manusia lainnya dan bukan manusia (peralatan, prosedur
dll).

Determinator juga mempunyai inisiatif (=do more) artinya bahwa berusaha melakukan dan
mencapai lebih dibanding lainnya dan memberi lebih kepada perusahaan. Kendala berusaha diubah
menjadi peluang dengan menggunakan akal budi yang dimiliki.

Determinator mampu menterjemahkan komunikasi dengan atasannya (linement) dan melakukan


komunikasi dengan bawahan (deployment). Kedua hal tersebut dinamakan higher order
communication. Artinya bahwa seorang determinator mampu menjabarkan perintah atasan
(biasanya disampaikan singkat) dan maksud dari perintah itu seluas-luasnya dan secepat-cepatnya
untuk berpikir dan bertindak (linement). Kemudian perintah dari atasan tersebut harus dilanjutkan
dijabarkan lagi kepada bawahan (deployment).
8

IDEAL DARI SUATU KEONTETIKAN

Karya otentik mempunyai bentuk pasti, dapat dilihat dan permanen yang mempunyai enam ciri:

suatu ekspresi yang mempunyai maksud tertentu

ada hubungan antara ekspresi yang dieskspresikan

ekspresi adalah cirri fisik yang menunjukkan pada kandungan mental dengan pendekatan salah satu
karya manusia

semua para tokoh humanistik memiliki suatu keunikan dan pandangan masing-masing yang dimana
sedikit telah memberikan gambaran dan sumber dalam pengetahuan psikologi humanistic. Berikut
adalah beberapa tokoh humanistik dengan pandangan atau penjelasannya masing-masing:

Abraham Maslow

Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang
bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa
takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan
apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk
lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah
kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa
manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat
terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).
Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah
(bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Adapun hirarki kebutuhan
tersebut adalah sebagai berikut: Kebutuhan fisiologis / dasar kebutuhan akan rasa aman dan
tentram, Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, Kebutuhan untuk dihargai, Kebutuhan untuk
aktualisasi diri.

Carl Rogers

Carl Ransom Rogers dilahirkan di Oak Park, Illinois, pada tahun 1902 dan wafat di LaJolla, California,
pada tahun 1987. Semasa mudanya, Rogers tidak memiliki banyak teman sehingga ia lebih banyak
menghabiskan waktunya untuk membaca. Dia membaca buku apa saja yang ditemuinya termasuk
kamus dan ensiklopedi, meskipun ia sebenarnya sangat menyukai buku-buku petualangan. Ia pernah
belajar di bidang agrikultural dan sejarah di University of Wisconsin. Pada tahun 1928 ia
memperoleh gelar Master di bidang psikologi dari Columbia University dan kemudian memperoleh
gelar Ph.D di dibidang psikologi klinis pada tahun 1931. Pada tahun 1931, Rogers bekerja di Child
Study Department of the Society for the prevention of Cruelty to Children (bagian studi tentang anak
pada perhimpunan pencegahan kekerasan tehadap anak) di Rochester, NY. Pada masa-masa
berikutnya ia sibuk membantu anak-anak bermasalah/nakal dengan menggunakan metode-metode
psikologi. Pada tahun 1939, ia menerbitkan satu tulisan berjudul The Clinical Treatment of the
Problem Child, yang membuatnya mendapatkan tawaran sebagai profesor pada fakultas psikologi di
Ohio State University. Dan pada tahun 1942, Rogers menjabat sebagai ketua dari American
Psychological Society. Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya
sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu
mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki
jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas terapist hanya membimbing klien
menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik assessment dan pendapat para
terapist bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment kepada klien. Menurut Rogers yang
terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan
dan pembelajaran, yaitu:

Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar
tentang hal-hal yang tidak ada artinya.

Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran
berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa

Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian
yang bermakna bagi siswa.

Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern berarti belajar tentang proses.

Dari bukunya Freedom To Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang
penting diantaranya ialah :

Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.

Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan
maksud-maksud sendiri.

Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap
mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.

Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila
ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.

Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara
yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.

Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.


Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab
terhadap proses belajar itu.

Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek,
merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.

Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika
siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain
merupakan cara kedua yang penting.

Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses
belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam
diri sendiri mengenai proses perubahan

Salah satu bagian dari humanistik adalah logoterapi. Adalah Viktor Frankl yang mengembangkan
teknik psikoterapi yang disebut sebagai logotherapy (logos = makna). Pandangan ini berprinsip:

a. Hidup memiliki makna, bahkan dalam situasi yang paling menyedihkan sekalipun.

b. Tujuan hidup kita yang utama adalah mencari makna dari kehidupan kita itu sendiri.

c. Kita memiliki kebebasan untuk memaknai apa yang kita lakukan dan apa yang kita alami bahkan
dalam menghadapi kesengsaraan sekalipun.

Frankl

Frankl mengembangkan teknik ini berdasarkan pengalamannya lolos dari kamp konsentrasi Nazi
pada masa Perang Dunia II, di mana dia mengalami dan menyaksikan penyiksaan-penyiksaan di
kamp tersebut. Dia menyaksikan dua hal yang berbeda, yaitu para tahanan yang putus asa dan para
tahanan yang memiliki kesabaran luar biasa serta daya hidup yang perkasa. Frankl menyebut hal ini
sebagai kebebasan seseorang memberi makna pada hidupnya.

Logoterapi ini sangat erat kaitannya dengan SQ, yang bisa kita kelompokkan berdasarkan situasi-
situasi berikut ini:

a. Ketika seseorang menemukan dirinya (self-discovery). Sadi (seorang penyair besar dari Iran)
menggerutu karena kehilangan sepasang sepatunya di sebuah masjid di Damaskus. Namun di tengah
kejengkelannya itu ia melihat bahwa ada seorang penceramah yang berbicara dengan senyum
gembira. Kemudian tampaklah olehnya bahwa penceramah tersebut tidak memiliki sepasang kaki.
Maka tiba-tiba ia disadarkan, bahwa mengapa ia sedih kehilangan sepatunya sementara ada orang
yang masih bisa tersenyum walau kehilangan kedua kakinya.
b. Makna muncul ketika seseorang menentukan pilihan. Hidup menjadi tanpa makna ketika
seseorang tak dapat memilih. Sebagai contoh: seseorang yang mendapatkan tawaran kerja bagus,
dengan gaji besar dan kedudukan tinggi, namun ia harus pindah dari Yogyakarta menuju Singapura.
Di satu sisi ia mendapatkan kelimpahan materi namun di sisi lainnya ia kehilangan waktu untuk
berkumpul dengan anak-anak dan istrinya. Dia menginginkan pekerjaan itu namun sekaligus punya
waktu untuk keluarganya. Hingga akhirnya dia putuskan untuk mundur dari pekerjaan itu dan
memilih memiliki waktu luang bersama keluarganya. Pada saat itulah ia merasakan kembali makna
hidupnya.

c. Ketika seseorang merasa istimewa, unik dan tak tergantikan. Misalnya: seorang rakyat jelata tiba-
tiba dikunjungi oleh presiden langsung di rumahnya. Ia merasakan suatu makna yang luar biasa
dalam kehidupannya dan tak akan tergantikan oleh apapun. Demikian juga ketika kita menemukan
seseorang yang mampu mendengarkan kita dengan penuh perhatian, dengan begitu hidup kita
menjadi bermakna.

d. Ketika kita dihadapkan pada sikap bertanggung jawab. Seperti contoh di atas, seorang bendahara
yang diserahi pengelolaan uang tunai dalam jumlah sangat besar dan berhasil menolak keinginannya
sendiri untuk memakai sebagian uang itu untuk memuaskan keinginannya semata. Pada saat itu si
bendahara mengalami makna yang luar biasa dalam hidupnya.

e. Ketika kita mengalami situasi transendensi (pengalaman yang membawa kita ke luar dunia fisik, ke
luar suka dan duka kita, ke luar dari diri kita sekarang). Transendensi adalah pengalaman spiritual
yang memberi makna pada kehidupan kita.

TRANSENDENSI DIRI

Transendensi diri

Maslow menyebutkan kebutuhan tertinggi manusia adalah Aktualisasi diri. Teori ini telah diperbarui
oleh Maslow sendiri dengan menambah satu kebutuhan tertinggi manusia yaitu self
transcendence sebagai puncak kebutuhan manusia.

Transcendere, adalah bahasa latin transendensi yang artinya naik keatas. Dalam bahasa Inggris
adalah to transcend yang artinya menembus,melewati, melampaui. Menurut istilah artinya
perjalanan di atas atau diluar. Yang dimaksud Kuntowijoyo adalah transendensi dalam istilah
teologis, yakni bermakna ketuhanan, makhluk-makhluk gaib. Tujuan transendensi adalah untuk
menambahkan dimensi transendental dalam kebudayaan, membersihkan diri dari arus
hedonisme,materialisme, dan budaya yang dekaden. Dimensi transendental adalah bagian sah dari
fitrah kemanusiaan sebagai bentuk persentuhan dengan kebesaran Tuhan. Jika banyak yang sepakat
bahwa abad ke-21 adalah peradaban postmodernisme, maka salah satu ciri dari postmodernisme
adalah semakin menguatnya spiritualisme, yang salah satu tandanya adalah dedifferentiation, yaitu
agama akan menyatu kembali dengan dunia.Bagi umat Islam, dedifferentiation ini bukanlah hal
yang baru,mengingat dalam Islam sendiri tidak meletakkan urusan akhirat tersendiri,dan urusan
dunia terpisah sendiri juga. Bagi orang Islam, urusan dunia,eksistensi selama hidup di dunia akan
mempengaruhi kehidupan akhirat kelak. Amal di dunia bukan hal yang sia-sia yang tidak akan pernah
diperhitungkan, tapi akan mendapatkan balasan di kehidupan akhirat.
Dalam paparan di atas, nilai-nilai humanisasi dan liberasi harus bertitik pangkal dari nilai- nilai
transendensi. Kerja kemanusiaan dan kerja pembebasan harus didasarkan pada nilai-nilai keimanan
kepada Allah SWT. Nilai transendensi menghendaki umat Islam meletakkan posisi Allah SWTsebagai
pemegang otoritas tertinggi. Dalam perspektif Roger Garaudy,sebagaimana dikutip M. Fahmi,
transendensi menghendaki kita mengakuikeunggulan norma-norma mutlak yang melampaui akal
manusia.Konsep transendensi Kuntowijoyo ini dalam pandangan penulissenada dengan konsep
transendensi dari Hassan Hanafi. Hassan hanafimenyatakan bahwa transenden bukanlah keimanan
yang simple tanpausaha, bukan juga sebuah penerang internal untuk keindahan spiritual
danpengindahan mistik, tetapi ia adalah sebuah perjuangan permanen antaraakal dan keinginan,
kebaikan dan kejahatan, persatuan dan perbedaan,perdamaian dan perselisihan, konstruksi dan
destruksi, kehidupan dankematian. Para nabi pun masuk ke wilayah perjuangan politik,
ekonomi,pendidikan, dan lainnya di masa lalu dengan berdasarkan pada nilai- nilaitransenden ini
dengan landasan keimanan dan penyerahan total kepadaAllah SWT.

10

PENELITIAN DAN TERAPI

A.Phenomenological approach: Experiment bias:

Penelitian eksperimental bias bertujuan untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan
bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak
memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasikan semua variabel yang relevan

Contoh

1) Berbagai penelitian mengenai berbagai problem sosial seperti kenakalan, keresahan, merokok
jumlah penderita jantung yang di dalamnya kontrol dan manipulasi tidak selalu dapat dilakukan.

2) Penelitian pendidikan yang menggunakan pre-test post-test di dalamnya variabel-variabel


seperti kematangan, efek testing, regresi statistik dan adaptasi terlewatkan dari penelitian

Ciri-Ciri

1) Penelitian eksperimental bias secara khas mengenai keadaan praktis yang di dalamnya tidak
mungkin mengontrol semua variabel yang relevan kecuali beberapa variabel saja

2) Perbedaan antara penelitian eksperimental sungguh dan semua sangat kecil terutama kalau
yang dipergunakan subyek adalah manusia

Langkah-langkah pokok

Langkah pokok dalam penelitian eksperimental semua adalah sama dengan langkah-langkah dalam
melakukan penelitian eksperimental sungguhan dengan pengalaman secara teliti terhadap masing-
masing keterbatasan dalam hal validitas internal.
B. Self determination: radical approach (pendekatan radikal):

bahwa para behavioris radikal menekankan manusia sebagaidikendalikan oleh kondisi-kondisi


lingkungan. Pendirian determinasi. mereka yangkuat berkaitan erat dengan komitmen terhadap
pencarian pola-pola tingkah laku yangdapat diamati. Mereka menjabarkan melalui rincian spesifik
berbagai faktor yang dapat diamati yang mempengaruhi belajar serta membuat argument bahwa
manusiadikendalikan oleh kekuatan-kekuatan eksternal.Pandangan Behaviorisme radikal tidak
memberi tempat kepada asumsi yangmenyebutkan bahwa tingkah laku manusia dipengaruhi oleh
pilihan dan kebebasan.Filsafat behavioristik radikal menolak konsep tentang individu sebagai agen
bebasyang membentuk nasibnya sendiri. Situasi-situasi dalam dunia objektif masa

lampau dan hari ini menentukan tingkah laku. Lingkungan adalah pembentuk utama keberadaan
manusia.

Tokoh behavioristik, Watson menyingkirkan dari psikologi konsep-konsep seperti kesadaran,


determinasi diri, dan berbagai fenomena subjektif lainnya. Ia mendirikan suatu psikologi tentnag
kondisi-kondisi tingkah lakuyang dapat diamati. Marquis (1974) menyatakan bahwa terapi tingkah
laku itu miripkeahlian teknik dalam arti ia menerapkan informasi-informasi ilmiah gunamenemukan
pemecahan-pemecahan teknis atas masalah-masalah manusia.

11

DAMPAK DALAM SISTEM SOSIAL

Aplikasi humanistik dalam pendidikan:

Hirarki kebutuhan manusia oleh Maslow, mempunyai implikasi yang penting yang harus
diperhatikan oleh guru sewaktu mengajar. Barangkali guru akan mengalami kesulitan memahami
mengapa anak-anak tertentu tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya, mengapa anak-anak yang lain
tidak tenang jika di dalam kelas atau mengapa anak-anak yang lainnya lagi sama sekali tidak
berminat dalam belajar. Guru beranggapan bahwa hasrat untuk belajar itu merupakan kebutuhan
yang penting bagi semua anak, tetapi menurut Maslov minat atau motivasi untuk belajar tidak dapat
berkembang kalau kebutuhan-kebutuhan pokok tidak terpenuhi. Anak-anak yang datang ke sekolah
tanpa makan pagi yang cukup atau tanpa sebelumnya dapat tidur dengan nyenyak, atau membawa
persoalan-persoalan keluarga yang sifatnya pribadi, cemas, tidak berminat mengaktualisasi dirinya
dengan memanfaatkan belajar sebagai sarana untuk mengembangkan potensi-potensi yang
dimilikinya. Mereka ini tidak akan bisa menyerap pelajaran yang disampaikan oleh guru.

Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang gagasannya berpengaruh terhadap pikiran dan
praktek pendidikan. Lewat karya-karyanya yang tersohor seperti Freedom to Learn and Freedom to
Learn for the 80s, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistic yang penting di
antaranya ialah:
Hasrat untuk belajar, menurut Rogers manusia memiliki hasrat alami untuk belajar. Hal itu dapat
dibuktikan: perhatikan saja betapa ingin tahunya anak kalau ia sedang mengeksplorasi
lingkungannya.

Belajar yang berarti hal ini terjadi apabila yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan maksud
anak. Anak akan belajar dengan cepat apabila yang dipelajari itu mempunyai arti baginya.

Contoh, anak cepat belajar menghitung uang receh karena uang tersebut dapat digunakan untuk
membeli sesuatu permainan yang digemarinya.

Belajar tanpa ancaman, belajar itu mudah dilakukan apabila berlangsung dalam lingkungan yang
aman dan bebas ancaman. Proses belajar akan berjalan lancar dan anak akan bebas menguji
kemampuannya atau mencoba pengalaman-pengalaman baru.

Belajar atas inisiatif sendiri, bagi para humanis, belajar itu paling bermakna manakala hal itu
dilakukan atas inisiatif sendiri dan apabila melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar. Mampu
memilih arah belajarnya sendiri akan sangat memberikan motivasi bagi siswa untuk belajar
bagaimana caranya belajar.

Belajar dan perubahan, menurut Rogers bahwa belajar yang paling bermanfaat itu ialah belajar
tentang proses belajar. Di waktu lampau murid belajar mengenai fakta dan gagasan yang statis.
Waktu itu dunia lambat berubah, dan apa yang dipelajari di sekolah sudah cukup untuk memenuhi
kebutuhan ilmu pengetahuan pada masa itu. Tapi sekarang dunia sudah berubah, ilmu pengetahuan
dan teknologi sudah sangat canggih. Apa yang dipelajari dimasa lampau tidaklah cukup untuk
membekali seseorang pada masa sekarang.

12

KRITIK DAN ARAH MASA DEPAN

Psikologi humanistik muncul sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik
ala behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa. Oleh karenanya sering disebut sebagai the third
force (the first force is behaviorism, the second force is psychoanalysis). Aliran humanistik
menyumbangkan arah yang positif dan optimis bagi pengembangan potensi manusia, disebut
sebagai yang mengembalikan hakikat psikologi sebagai ilmu tentang manusia.

Kritik utama diarahkan pada perspektifdan metodenya yang subyektif, dan tidak reliable berlawanan
dengan perkiraan para ahli yang menentangnya, aliran humanistik bertahan dan bahkan semakin
banyak pengikutnya. Humanistik bahkan dapat dikatakan sebagai agama.

Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt, meskipun didasari
pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari
fungsionalisme. Behaviorisme secara keras menolak unsure-unsur kesadaran yang tidak nyata
sebagai obyek studi dari psikologi dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.
Dengan demikian Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang
dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari
fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses
mental.

Kritik-kritik dari psikologi humanistik menunjukkan perbedaan dan asumsi yang berbeda dengan
aliran-aliran lain:

psikologi humanistik tidak mengagungkan metode statistic dan serba rata tetapi melihat pada yang
mungkin dan harus ada.

Psikologi humanistik tidak berlebihan melakukan penelitian eksperimen pada binatang tetapi pada
kodrat mansia beserta sifat-sifat manusia yang positif

Dengan demikian pendekatan yang dilakukan bersifat multi displiner lebih luas lagi menyeluruh
terhadap masalah-masalah umat manusia. Salah satu teori aliran ini adalah Teori Maslow tentang
"Hirarkhi Kebutuhan Manusia. Teori ini menyatakan bahwa manusia akan dapat mengaktualisasikan
diri dan percaya diri, manakala kebutuhan akan makanan, kesehatan, rasa aman dan diterima dalam
suatu kelompok Hirarki kebutuhan Abraham Maslow:

Kebutuhan fisiologis dasar: gaji, makanan, pakaian, perumahan

Kebutuhan aka rasa amana; lingkunga kerja yang bebas dari segala bentuk ancaman.

Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi: kesempatan yang diberikan untuk menjalin hubungan yang
akrab dengan orang lain.

Kebutuhan untuk dihargai: pemberian penghargaan atau reward, mengakui hasil karya individu.

Kebutuhan aktualisasi diri: kesempatan dan kebebasan untuk merealisasikan cita-cita atau harapan
individu.

Kritik pada Teori Humanistik:

Teori humanistik mempunyai pengaruh yang signifikan pada ilmu psikologi dan budaya popular.
Sekarang ini banyak osikolog yang menerima gagasan ini ketika teori tersebut membahas tentang
kepribadian, pengalaman subjektif manusia mempunyai bobot yang lebih tinggi daripada realitas
objektif. Psikolog humanistik yang terfokus pada manusia sehat daripada manusia yang bermasalah,
juga telah menjadi suatu kontribusi yang bermanfaat. Meskipun demikian, kritik dan teori
humanistik tetap mempunyai beberapa argumentasi:
Teori humanistik terlalu optimistik secara naf dan gagal untuk memberikan pendekatan pada sisi
buruk dari sifat alamiah manusia.

Teori humanistik, seperti halnya teori psikodinamik, tidak dapat diuji dengan mudah.

Banyak konsep dalam psikologi humanistic, seperti misalnya seseorang yang telah berhasil
mengaktualisasikan dirinya, ini<