Anda di halaman 1dari 20

4/23/2016

III. REKLAMASI LAHAN RAWA LEBAK


: POLDER ALABIO

I. PENDAHULUAN
Pengertian Lahan Rawa Lebak
Pandangan tentang Lebak
Kearifan Lokal

II. KARAKTERISTIK LAHAN


Fisiografi
Iklim
Hidrologi
Tanah

III. REKLAMASI LEBAK


Polder Alabio

1
4/23/2016

1.1. Pengertian Lebak

Lebak bhs Jawa lembah


atau tanah rendah
Rawang, lebung, baruh,
watun
Lubuk, lebak kumpai
Danau dataran rendah
Bonorowo

1.1. Pengertian Lebak


Menurut tinggi & lama genangan :
Lebak dangkal watun 1
Lebak tengahan watun 2
Lebak dalam watun 3
Lebak sangat dalam watun 4

Menurut ketinggian tempat :


1. Lebak dataran rendah
2. Lebak dataran tinggi

Menurut pengaruh sungai :


1. Lebak sungai
2. Lebak terkurung
3. Lebak setengah terkurung

2
4/23/2016

1.1. Pengertian Lebak

Menurut konteks ekologi :


Lebak termasuk lahan basah
wetland (Konvensi Ramsar, 1971)
Rawa : swamps, marsh, bog
Rawa (Cisarua/Bogor, 1992)
: pasang surut dan lebak
Peatland, inland, deepwater land
mud, muck (Mitsch & Gosselink, 1993)

Klasifikasi Lahan Rawa Lebak

Tinggi & Lama Genangan

Lebak Dangkal

50 cm < 3 bulan

50-100 cm 3-6 bulan

100-200 cm > 6 bulan


Lebak Tengahan

Sumber :
Lebak Dalam Anwarhan, 1986; Widjaja
Adhi, 1986; 1992

3
4/23/2016

Klasifikasi Lahan Rawa Lebak

Lebak pematang
Lebak Tengahan

Lebak Tengahan
Lebak pematang
S
un
g
ai/ T
a
ng
g
ul

Lebak Dalam
D
an
a
u S un
g
ai P
la
in

A
irT
a
n

1.2. Pandangan tentang Lebak

Salah kaprah : entry data (BPS)


masuk lahan kering; identik
dengan pasang surut
Tidak disenangi; menakutkan
Hutan berair, basah, lumpur
Habitat binatang liar, berbisa,
ganas- monster
Negara Asia Afrika :
Sumber pangan
Sumber air
Papan dan farmasi
Protein dan lemak hewani
Sumber pendapatan
Penyangga lingkungan

4
4/23/2016

1.3. Kearifan budaya lokal


Fenomena alam
Peringatan dini
Pengetahuan empirik

Kerbau rawa
Jeruk lebak
Padi rawa lebak
Buah eksotik rawa
Itik Alabio
Ikan rawa

II. KARAKTERISTIK LAHAN LEBAK

1. Iklim :
curah hujan
Suhu
kelembaban
2. Fisiografi:
4. Tanah:
3. Hidrologi: Sifat Fisika
Muka Air
Sifat Kimia
Debit air
Sifat Biologi/
Neraca Air Mikrobiologi
5. Vegetasi
Indikator

5
4/23/2016

Luas Lahan Rawa Lebak

Tipologi dan jenis Luas dan proporsi

Luas Proporsi
(dalam ribu ha) (dalam %)
Lebak dangkal 4,168. 31,40

Lebak tengahan
- alluvial 3,445 25,95
- bergambut 2,631 19.82
Lebak dalam
- alluvial 0,668 5,03
- gambut 2,361 17,79
dangkal
Jumlah 13,763 100,00

Luas Lebak yang Dikembangkan

Luas potensi dan Luas yang telah


Lokasi % LDR1) Nasional dikembangkan
Juta ha % Juta ha %
LDR
Sumatra 2,766 8,3 0,279 0,80
Kalimantan 3,581 10,7 0,192 0,50
Papua 6,306 18,9 0,006 0,02
Sulawesi 0,644 1,9 0,002 0,01
Jumlah 13,296 39,8 0,479 1.30

LDR = Land Dev Ratio

6
4/23/2016

2.1. Iklim

1. Curah hujan :
ch tahunan 2000-3000 mm,
bulan basah (ch > 200mm) 6-7 bulan
Nop- April (musim hujan)
2. Suhu :
suhu rata-rata 24-32O C (tropika basah);
bila terbuka/gundul 35-40 O C
3. Kelembaban :
kl. nisbi = 80-90%, berfluktuasi antara malam -
siang (tropika basah)
4. Sinar Matahari :
lama 4,7-5,1 jam/hari
intens 5,7-6,7 kal

2.2. Fisiografi, topografi, dan hidrologi

1. Fisiografi :

Anwarhan (1986); Widjaja Adhi (1986)


(1) lebak dangkal (nisbi tinggi) = tanggul,
(2) lebak tengahan (nisbi rendah),
(3) lebak dalam (nsbi sangat rendah) = lekukan

Furukawa (1996) dataran rendah


(1) mintakat pusat ; (2) dataran banjir;
(3) rawa belakang

(1) pegungungan (2) tanggul sungai,


(3) dataran banjir sungai: (4) pantai,
dan (5) laut

7
4/23/2016

2.2. Fisiografi, topografi, dan hidrologi

2. Hidrologi :

Debit air (musim kemarau vs hujan),


Lebung : 4-8 m
Lebak Tengahan : 2 m
Lebak dangkal : 50 cm
Tinggi muka air/fluktuasi (bulanan, tahunan) :
- di Indonesia fluktuasi muka air 3-4 m,
- luas lebak 10 ha di musim kemarau menjadi
1.200 ha di musim hujan
- laju kenaikan genangan mendadak, tetapi
ada yang bertahap seperti di Thailand dan Banglades,
Neraca air (inflow, out flow)
Inflow dipengaruhi hujan, pasang, air tanah
Outflow dpengaurhi limpasan pemukaan, evapotnas, dan rembesan

2.3. Sifat-sifat Tanah

1. Sifat Fisika Tanah :


tekstur, struktur, konsistensi, porositas, kadar
air (tanah mineral vs gambut)
2. Sifat Kimia Tanah :
pH, status hara (NPK, Cu, Zn), ion toksis, basa
tertukar, kadar abu, resikling hara, perkayaan
hara dari lumpur,
3. Sifat Mikrobiologi :
Perombak bahan organik : jamur dan bakteri
Pereduksi : bakteri Desulfovibrio, Desulfo
maculum
Pengoksidasi : jamur dan bakteri sep
Thiobacillus

8
4/23/2016

Jenis Tanah Rawa Lebak

Pirit

Mineral Endapan Marin


Mineral Endapan Sungai

Mineral berpasir

Gambut Mineral bergambut

III . REKLAMASI LAHAN LEBAK


Kasus Polder Alabio (1950-1972).
Meliputi Kec Alabio, Danau Panggang
,Babirik Pulau Bakau)

Luas : 7.000 ha (Schopyus)


5.300 ha (Dinperair)

9
4/23/2016

Konstruksi Polder
Polder : areal reklamasi lahan rendah dengan air tanah/
permukaan berelevasi tinggi kemudian
dibuat terisolasi dari regim hidrologi sekitarnya
sehingga elevai air dapat dikendalikan.

Isolasi berupa tanggul (embarking),


diversi air asing melalui saluran intersep.
Pengendalian air dilakukan dgn sistem drainasi
dan irigasi.

Komponen:
Tanggul keliling, saluran interseptor, saluran drainase,
pompa intake, pompa outlet, bangunan pintu pengendali,
tanggul pembatas.

Pompa Drainase (Outlet)


Tanggul keliling
Pintu Pengendali
Sal/Sg Interseptor

Sal Drainase

Pompa Irigasi Intake


Polder Alabio
(1950)

10
4/23/2016

Tanggul pembatas

Sal Drainase

Tanggul keliling
Polder Mentarin
Kalteng
(1950)

Karakteristik Polder Alabio

1. Areal tidak dapat dilewati air asing dr luar, air hujan


atau resepan terkumpul dan terkendali
2. Tidak ada limpasan air bebas (free run-off) seperti
pada DAS, tetapi ada pompa pembuang/pengendali,
3. Elevasi muka air dalam polder tidak tergantung
pada elevasi air di sekeliling areal dan dirancang
sesuai dengan elevasi lahan , sifat air, iklim dan
jenis komoditas tanaman,
4. Berdasarkan elevasi lahan dirancang elevasi muka
air dengan mengatur air di saluran utama sesuai
dengan kondisi air optimum di areal usaha tani.

11
4/23/2016

Tata Air

Elevasi muka air di S.Kelumpang (pompa drainase)


MH (Okt 1998-Mei 1999) +23,70-24,60 m pellschal
MK (Juni-Sep 1999) +22,50-23,60 m
Drainase secara gravitasi nisbi sulit Polder

Pola Usahatani di Berbagai Lokasi Lebak Kalimantan Selatan

Mekarsari, HSU Teluk Labak, HSS Sei Duriat, HSU

Rawa Belanti, Tapin

12
4/23/2016

Pola Usahatani di Lokasi Lebak Danau Panggang,HSU

Pola Usahatani di Lokasi Lebak Hamayung dan Nagara,HSS

13
4/23/2016

Klumpang, HSU Danau Panggang, HSU

Teluk Labak, HSS

Keragaan pertanaman padi di Sei Tunu Sumatera Barat

14
4/23/2016

Hasil tanaman dan analisis ekonomi eks-ante pengusahaannya pada ekspose lahan lebak

Tanaman Hasil (t/ha) Biaya (Rp/ha) Keuntungan (Rp/ha) B-C rasio


Padi 3,9 4,9 3.600.000 2.700.000 1,75
Jagung manis 49.500tkl 4.300.000 12.995.000 4,00
Kedelai 1,381,56 3.490.000 1.655.000 1,47
Kacang tanah 2,69 4.650.000 6.110.000 2,31
Kacang hijau 1,23 3.590.000 1.330.000 1,37
Lobak *) 85,08 6.397.000 85.080.000 13,30
Cabai 17,8 7.834.000 27.766.000 4,54
Kubis 31,74 8.827.500 22.912.500 4,00
Tomat 16,50 7.080.000 17.670.000 3,00
Timun 23,66 6.777.500 12.950.000 2,91
Sawi 10,28 5.454.500 9.965.500 2,83
Slada 9,37 6.960.000 11.780.000 2,69
Terong 16,97 6.335.000 6.392.500 2,01
Buncis 8,57 4.721.500 2.563.000 2,00
Pare 17,07 5.708.500 2.826.500 1,49

15
4/23/2016

Gambaran prospek agribisnis tanaman pangan dan horti serta ikan di lahan lebak

Tanaman Lokasi Penerimaan Biaya Keuntungan B-C rasio


(Rp000/ha) (Rp 000/ha) (Rp 000/ha)
Padi Kalsel 3.629-4.460 2.939-3.267 362-1.521 1,11-1,65
Kedelai Kalsel 4.750 2.127 2.623 2,23
Kacang tanah Kalsel 5.087-8.643 2.548-3.220 1.867-5.596 1,58-2,84
Jagung Kalsel 4.352-4.363 2.142-2.238 2.124-2.211 1,95-2,03
Semangka Kalsel 4.067-7.680 1.884-2.587 2.183-5.093 2,16-2,96
Ubi Nagara Kalsel 6.750 2.990 3.760 2,25
Tpsari palawija Kalsel 5.522 2.707 2.813 2,04
Cabai Kalsel 15.000-28.571 8.057-8.153 6.943-20.417 1,86-3,50
Padi+tomat Sumbar 8.560 4.840 4.320 1,76
Padi Sumbar 6.120 3.730 2.390 1,64
Ikan Bije Kalsel 3.200 1.047 1.153 3,06
Ikan Keramba Kalsel 5.574 2.351 3.223 2,37

Penataan lahan dan jaringan tata air


Pola tanam dan sistem usahatani terpadu
Pengelolaan lahan dan tanaman terpadu

16
4/23/2016

Penataan Lahan Rawa Lebak


Jenis tanah Tipologi lahan
Lebak dangkal Lebak tengahan Lebak dalam
Tanah mineral Sawah, surjan, tegalan, Sawah, tegalan, Tegalan
tukungan tukungan
Tanah gambut Sawah, tegalan Tegalan Tegalan
Mineral bergambut Sawah, surjan, tegalan, Sawah, tegalan Tegalan
tukungan

Keuntungan Surjan
Diversifikasi produksi horizontal &
vertikal
Mengurangi resiko kegagalan panen
Meningkatkan intensitas penggunaan
lahan
Meningkatkan efisiensi usahatani &

Alternatif pola tanam menurut tipologi lahan dan pola penataan lahan serta genangan
Tipe lahan lebak Sawah, tabukan surjan, tegalan Guludan
Lebak dangkal Padi gogo rancah - padi rancah gogo Palawija - palawija
Padi gogo rancah - padi rancah gogo - palawija Palawija - hortikultura
Padi gogo rancah - padi rancah gogo - Hortikultura - horti
hortikultura
Padi rancah gogo - palawija
Padi rancah gogo - hortikultura
Lebak tengahan Padi gogo rancah - bera -padi rancah gogo
Padi rancah gogo - palawija
Padi rancah gogo - hortikultura
Lebak dalam Padi - bera
Periode tidak Palawija - bera
tergenang 2-3 bulan
Hortikultura - bera
Lebak dalam Padi palawija/horti umur < 2 bulan
Periode tidak Tumpang sisip jagung + kacang hijau
tergenang > 3 bulan
Jagung + sayuran berumur pendek
Hortikul ditanam lebar + sayuran umur pendek

17
4/23/2016

Sistem Usahatani Lahan Lebak


Sistem usahatani berbasis tanaman pangan ketahanan pangan
Sistem usahatani berbasis komoditas unggulan agribisnis

Aneka komoditas dan usaha terpadu usahatani campuran


Spesifik lahan dan dinamis tata lahan dan sosial ekonomi

Pengelolaan Lahan dan Tanaman Terpadu


Komponen Utama
Penyiapan lahan
Ameliorasi dan pemupukan
Jenis dan varietas tanaman
Cara dan waktu penanaman

Penerapan Secara sinergi


Efisiensi produksi meningkat input produksi
Efisiensi dan pendapatan usahatani meningkat hasil

Bersifat spesifik wilayah tergantung :


Sifat biofisik lahan, sosial ekonomi petani,
pemasaran hasil tanaman, pendukung eksternal

18
4/23/2016

Penataan lahan dan tata air disesuaikan dengan karakteristik biofisik


lahan dan aspirasi petani
Pemilihan komoditas dan teknologi produksi disesuaikan dengan
karakteristik biofisik lahan, preferensi petani dan konsumen
Sosial ekonomi petani partisipasi dan kapasitas petani
Prasarana pertanian jaringan tata air, jalan usahatani, prasarana
produksi
Kelembagaan pendukung kelompok tani, penyedia sarana produksi,
permodalan, jasa tenaga kerja, pengolahan dan pemasaran hasil

Spesifik Wilayah Perlu Karakterisasi Wilayah

Jenis prasarana : Jaringan tata air, jalan usahatani, prasarana pasca panen atau
pengolahan hasil
Prasarana tata air : tata letak dan fungsi saluran, keadaan dan dimensi saluran,
letak dan kondisi bangunan tata air lainnya, operasi dan pemeliharaan, luas
cakupan lahan dan penataannya, persepsi dan saran masyarakat
Metode : Desk study, PRA, survei lapang
Keluaran : Informasi keadaan dan permasalahan prasarana penunjang,
persepsi dan saran masyarakat

19
4/23/2016

20