Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita.
Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu
untuk dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir.1Setiap kehamilan dan
persalinan selalu mempunyai risiko, dengan kemungkinan bahaya terjadinya
komplikasi dalam kehamilan, persalinan dan nifas. Komplikasi yang terjadi
pada kehamilan memiliki rentang dari yang ringan sampai berat yang
menyebabkan kematian, kesakitan, dan kecacatan pada ibu maupun janin. 2
Berdasarkan data SDKI, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih
sangat memprihatinkan karena jumlah kematian ibu di Indonesia pada tahun
2012 mengalami peningkatan yaitu 359/100.000 kelahiran hidup (KH),
padahal pada tahun 2007 AKI di Indonesia adalah 228/100.000 KH.2
Angka ini sangat jauh dari target MDGs yaitu AKI dapat mencapai 102/
100.000 KH pada tahun 2015.1Penyebab Kematian ibu di Indonesia adalah
perdarahan 25%, Infeksi 11%, Komplikasi masa puerperium 8%, emboli
obstetri 3%, Partus lama 3%. Infeksi merupakan salah satu penyebab kematian
ibu. Ketuban Pecah Dini merupakan masalah penting dalam obstetric
berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadi infeksi
koriamninitis sampai dengan sepsis yang meningkatkan morbiditas dan
mortalitas perinatal dan menyebabkan infeksi ibu3
Dalam keadaan normal, ketuban pecah dalam proses persalinan. Ketuban
Pecah Dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila
ketuban Pecah Dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu disebut
Ketuban Pecah Dini pada kehamilan Prematur. Dalam keadan normal 8-10%
perempuan hamil aterm akan mengalami ketuban pecah dini4
Ketuban Pecah Dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban
sebelum waktunya melahirkan. KPD merupakan komplikasi yang behubungan

1
2

dengan kehamilan kurang bulan, dan mempunyai kontribusi yang besar pada
angka kematian perinatal pada bayi kurang bulan3
Faktor yang berhubungan dengan kejadian Ketuban pecah dini yaitu
Infeksi, kehamilan kembar, hidramnion, serviks inkompeten, letak janin,
fisiologis selaput ketuban abnormal, usia, paritas, perdarahan anterpartum,
riwayat abortus, riwayat persalinan preterm, riwayat ketuban pecah dini
sebelumnya, ukuran panggul, ketegangan rahim yang berlebihan, status
pekerjaan, hubungan seksual, pemeriksaan dalam dan amniosintesis.3
Dari faktor paritas, Wanita yang baru sekali mengalami persalinan akan
lebih beresiko mengalami ketuban pecah dini daripada wanita yang berstatus
paritas multipara dikarenakan keadaan kandungan yang masih terkesan baru
sekali digunakan untuk mengandung janin, sehingga penyesuaian dibutuhkan
pada kandungan wanita.4
Umur ibu yang < 20 tahun termasuk umur terlalu muda dengan keadaan
uterus yang kurang matur untuk melahirkan sehingga rentan mengalami
ketuban pecah dini. Sedangkan umur > 35 tahun tergolong umur yang terlalu
tua untuk melahirkan khusunya pada ibu primi (tua) dan berisiko tinggi
mengalami ketuban pecah dini5
Kelainan letak janin dalam rahim maksudnya pada letaksungsang dan
letak lintang. Letak janin dalam uterusbergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruangandalam uterus. Pada kehamilan <32 minggu, jumlah air
ketubanrelatif lebih banyak sehingga memungkinkan janin bergerakdengan
bebas, dan demikian janin dapat menempatkan diridalam letak sungsang atau
letak lintang.6
Pada kehamilan trimester akhir janin tumbuh dengancepat dan jumlah air
ketuban relatif berkurang. Karena bokongdengan kedua tungkai yang terlipat
lebih besar daripada kepalamaka bokong dipaksa untuk menempati ruang
yang lebih luasdifundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruangan
yanglebih kecil disegmen bawah uterus. Letak sungsang dapatmemungkinkan
ketegangan rahim meningkat, sehinggamembuat selaput ketuban pecah
sebelum waktunya.6
3

Insidensi ketuban pecah dini terjadi 10% pada semua kehamilan. Pada
kehamilan aterm insidensinya bervariasi 6-19%, sedangkan pada kehamilan
preterm insidensinya 2% dari semua kehamilan. Hampir semua ketuban pecah
dini pada kehamilan preterm akan lahir sebelum aterm atau persalinan akan
terjadi dalam satu minggu setelah selaput ketuban pecah. 70% kasus ketuban
pecah dini terjadi pada kehamilan cukup bulan, sekitar 85% morbiditas dan
mortalitas perinatal disebabkan oleh prematuritas, ketuban pecah dini
berhubungan dengan penyebab kejadian prematuritas dengan insidensi 30-
40%. 5
Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) kira-kira
90%kematian ibu yaitu terjadi di saat persalinan. Angka Kejadian Ketuban
PecahDini (KPD) cukup tinggi yaitu 30% dari 100 persalinan.6Dari hasil studi
pendahuluan di Ruang Bersalin RSUD Leuwiliang, terdapat 1 dari 5 ibu
bersalin yang mengalami KPD.
Kebijakan pemerintah dalam menangani kasus kejadian Ketuban Pecah
dini terdapat dalam KepMenKes No. 369 tahun 2007 tentang standar profesi
bidan, disebutkan bahwa selama memberikan asuhan dan konseling kehamilan
bidan harus mampu mengidentifikasi penyimpangan kehamilan normal salah
satunya adalah Ketuban Pecah Dini dan melakukan penanganan yang tepat
termasuk merujuk ke fasilitas pelayanan yang lebih lengkap. Selain itu,
terdapat juga Kebijakan Departemen Kesehatan RI dalam upaya Safe
Motherhood yang dinyatakan sebagai empat pilar Safe Motherhood, yaitu
pelayanan Keluarga Berencana, pelayanan antenatal, persalinan yang bersih
dan aman, dan pelayanan obstetri esensial4
Berdasarkan penjabaran di atas, penulis tertarik untuk meneliti mengenai
Gambaran Karakteristik Ibu bersalin terhadap kejadian Ketuban Pecah Dini di
RSUD Leuwiliang.
4

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas,
dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : Bagaimanakah
Gambaran karakteristik ibu bersalin dengan kejadian Ketuban Pecah
Dini di RSUD Leuwiliang tahun 2016?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahui Gambaran karakteristik Ibu bersalin dengan kejadian Ketuban
pecah dini di RSUD Leuwiliang tahun 2016
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui Gambaran Paritas Ibu Bersalin dengan Ketuban Pecah Dini
di RSUD Leuwiliang tahun 2016
b. DiketahuiGambaranUmurIbuBersalin dengan Ketuban Pecah Dinidi
RSUD Leuwiliangtahun 2016
c. DiketahuiGambaranPenyulitpersalinanibubersalindenganKetuban
Pecah Dini di RSUD Leuwiliangtahun 2016
d. Diketahui GambaranCara persalinanibubersalindengan Ketuban Pecah
Dini di RSUD Leuwiliang tahun 2016

D. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup dari penelitian ini mengenai Gambaran Karakteristik Ibu
bersalin dengan Ketuban Pecah Dini untuk mengetahui umur ibu bersalin
dengan Ketuban Pecah Dini, status paritas ibu bersalin dengan Ketuban Pecah
Dini, penyulit persalinan ibu bersalin dengan Ketuban Pecah Dini dan cara
persalinan ibu bersalin dengan Ketuban Pecah Dini di RSUD Leuwiliang
5

E. Manfaat Penelitian
a. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan dan wawasan mengenai Ketuban Pecah Dini,
khususnya mengenai karakteristik ibu bersain dengan Ketuban Pecah
Dini. Dan menambah pengalaman untuk melakukan penelitian
b. Bagi Institusi
Menambah Referensi kepustakaan di bidang kebidanan dan menambah
informasi bagi mahasiswi kebidanan mengenai karakteristik ibu bersalin
dengan ketuban pecah dini.
c. Bagi RSUD Leuwiliang
Diharapkan dengan adanya penelitian ini bisa menjadi tambahan
informasi mengenai karakteristik ibu bersalin dengan ketuban pecah dini
yang ada di RSUD Leuwiliang tahun 2016.

F. Keterbatasan Penelitian

Pada penelitian ini ada beberapa hal yang menjadi keterbatasan


penelitian, salah satunya yaitu pene
Penelitian ini menggunakan data sekunder, dalam pengolahan data,
diagnosa pada register memiliki banyak singkatan dan kode yang peneliti be,
untuk mengatasinya, peneliti bertanya kepada staf di rekam medik mengenai
singkatan dan kode yang ada pada register.
6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Ketuban Pecah Dini


1. Definisi Ketuban Pecah Dini
Definisi Ketuban pecah dini (KPD) sampai saat ini masih belum
disepakati. Mercer (2003) mendefinisikan KPD sebagai pecahnya selaput
ketuban dan dalam 1 jam tidak disertai tanda inpartu. Menurut Menon
(2007) KPD didefinisikan sebagai robeknya selaput ketuban pada setiap
saat sebelum persalinan dimulai7.Ketuban Pecah Dini adalah keadaan
pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan atau sebelum dimulainya
tanda inpartu7
2. Mekanisme Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh
kontraksi uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena
pada daerah tertentu terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan
selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh selaput ketuban
rapuh.7
Terdapat keseimbangan antara sintesis dan degrasi ekstraselular
matriks. Perubahan struktur, jumlah sel, dan katabolisme kolagen
menyebabkan aktifitas kolagen berubah dan menyebabkan selaput
ketuban pecah.7
3. Diagnosa Ketuban Pecah Dini
Diagnosa KPD secara tepat sangat penting untuk menentukan
penanganan selanjutnya, oleh karna itu usaha untuk menegakkan
diagnosis KPD harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Cara-cara yang
dipakai untuk menegakkan diagnosis menurut Fadlun dan feryanto
(2011) adalah: 9
7

a. Secara klinik
1) Adanya cairan yang berisi mekonium (kotoran janin), verniks
kaseosa (lemak putih), rambut lanugo (bulu-bulu halus) di mana
bila terinfeksi akan tercium bau.
2) Pemeriksaan inspekulo, lihat dan perhatikan apakah memang air
ketuban keluar dari kanalis servikalis pada bagian yang sudah
pecah atau terdapat cairan ketuban pada forniks posterior.
3) USG: volume cairan amnion berkurang/ oligohidramnion.
4) Terdapat infeksi genital (sistemik)
5) Gejala chorioamnionitis9
b. Maternal
Demam (takikardi), uterine tenderness, cairan amnion yang keruh
dan berbau, leukositosis (peningkatan sel darah putih), leukosit
esterase (LEA) meningkat, kultur darah/urine.9
c. Fetal
Takikardi, kardiotografi, profilbiofisik, volume cairan ketuban
berkurang9
d. Cairan amnion
Tes cairan amnion, di antaranya dengan kultur/ gram stain, fetal
fibronection, glukosa, leukosit esterase (LEA), dan sitokin. Jika
terjadi chorioamnionitis, maka angka mortalitas neonatal empat kali
lebih besar, angka distres pernapasan, sepsis neonatal, dan
pendarahan intraventrikular tiga kali lebih besar.9
1) Dilakukan tes valsava, tes nitrazin, dan tes fren . Nilai normal PH
cairan vagina adalah 4,5-5,5 dan normal PH cairan amnion 7,0-
7,5
2) Dilakukan uji kertas lakmus/tes nitrazize. BilaKertaslakmusmerah
/ biru, menjadi biru (basa)makacairantersebutadaahair
ketuban.SedangkanbilaKertaslakmusmerah / birumenjadi merah
(asam)berarticairantersebutadalahurine.9
8

4. Etiologi Ketuban Pecah Dini


Walaupun banyak publikasi tentang ketuban pecah dini,
namunpenyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan
secarapasti. Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang
berhubunganerat dengan KPD, namun faktor-faktor mana yang lebih
berperan sulitdiketahui (Fadlun dkk, 2011).Adapun beberapa etiologi dari
penyebab kejadian ketuban pecahdini menurut beberapa ahli yaitu:6
a. Serviks inkompeten (leher rahim)
Pada wanita dalam presentasi kecil dengan kehamilan yangjauh
dari aterm, serviks yang inkompeten dapat menipis danberdilatasi
bukan sebagai akibat dari peningkatan aktifitas uterusmelainkan
akibat dari kelemahan intrinsik uterus sehinggamenyebabkan
ketuban pecah (Fadlun dkk, 2011).6
Keadaan ini ditandai oleh dilatasi servik tanpa rasa nyeridalam
trimester kedua atau awal trimester ketiga kehamilan yangdisertai
prolapsus membran amnion lewat serviks dan penonjolanmembrane
tersebut kedalam vagina, peristiwa ini diikuti olehpecahnya ketuban
dan selanjutnya ekspulsi janin imatur sehinggakemungkinan janin
akan meninggal.6
Tanpa tindakan yang efektifrangkaian peristiwa yang sama
cenderung berulang dengansendirinya dalam setiap kehamilan.
Meskipun penyebabnya masihmeragukan namun trauma sebelumnya
pada serviks, khususnyapada tindakan dilatasi, kateterisasi dan
kuretasi (Krisnadi dkk,2009).6
b. Ketegangan rahim berlebihan
Ketegangan rahim berlebihan maksudnya terjadipada kehamilan
kembar dan hidramnion. Etiologi hidramnionbelum jelas, tetapi
diketahui bahwa hidramnion terjadi bilaproduksi air ketuban
bertambah, bila pengaliran air ketubanterganggu atau kedua-duanya.
Dicurigai air ketuban dibentukdari sel-sel amnion.6
9

Di samping itu ditambah oleh air seni janindan cairan otak pada
anensefalus. Air ketuban yang dibentuk,secara rutin dikeluarkan dan
diganti dengan yang baru. Salahsatu cara pengeluaran ialah ditelan
oleh janin, diabsorpsi olehusus kemudian dialirkan ke plasenta untuk
akhirnya masukperedaran darah ibu (Sujiyatini dkk, 2009).6
Ekskresi air ketuban akan terganggu bila janin tidak
bisamenelan seperti pada atresia esophagus atau tumor-
tumorplasenta. Hidramnion dapat memungkinkan ketegangan
rahimmeningkat, sehingga membuat selaput ketuban pecah
sebelumwaktunya (Manuaba, 2010).6
c. Kelainan letak janin dalam rahim
Kelainan letak janin dalam rahim maksudnya pada
letaksungsang dan letak lintang. Letak janin dalam uterusbergantung
pada proses adaptasi janin terhadap ruangandalam uterus. Pada
kehamilan <32 minggu, jumlah air ketubanrelatif lebih banyak
sehingga memungkinkan janin bergerakdengan bebas, dan demikian
janin dapat menempatkan diridalam letak sungsang atau letak lintang
(Fadlun dkk, 2011). 6
Pada kehamilan trimester akhir janin tumbuh dengancepat dan
jumlah air ketuban relatif berkurang. Karena bokongdengan kedua
tungkai yang terlipat lebih besar daripada kepalamaka bokong
dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luasdifundus uteri,
sedangkan kepala berada dalam ruangan yanglebih kecil disegmen
bawah uterus. Letak sungsang dapatmemungkinkan ketegangan
rahim meningkat, sehinggamembuat selaput ketuban pecah sebelum
waktunya (Manuaba,2010). 6
d. Kelainan jalan lahir
Kelainan jalan lahir maksudnyakemungkinan terjadi kesempitan
panggul yang terjadipada perut gantung, bagian terendah belum
masuk PAP,disporposi sefalopelvik. Kelainan letak dan kesempitan
panggullebih sering disertai dengan ketuban pecah dini
10

namunmekanismenya belum diketahui dengan pasti (Manuaba,


2010). 6
e. Kelainan bawaan dari selaput ketuban
Pecahnya ketuban dapat terjadi akibat pereganganuterus yang
berlebihan atau terjadi peningkatan tekanan yangmendadak di dalam
kavum amnion, di samping juga adakelainan selaput ketuban itu
sendiri. Hal ini terjadi seperti padasindroma Ehlers-Danlos, dimana
terjadi gangguan padajaringan ikat oleh karena defek pada sintesa
dan strukturkolagen dengan gejala berupa hiperelastisitas pada kulit
dansendi, termasuk pada selaput ketuban yang komponenutamanya
adalah kolagen. 72% penderita dengansindroma Ehlers-Danlos ini
akan mengalami persalinan pretermsetelah sebelumnya mengalami
ketuban pecah dinipreterm (Fadlun dkk, 2011). 6
f. Infeksi
Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanikpada
selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehinggamemudahkan
ketuban pecah. Adanya infeksi pada selaputketuban (korioamnionitis
lokal) sudah cukup untuk melemahkanselaput ketuban di tempat
tersebut. Bila terdapat bakteripatogen di dalam vagina maka
frekuensi amnionitis,endometritis, infeksi neonatal akan meningkat
10 kali (Fadlundkk, 2011). 6
Ketuban pecah dini sebelum kehamilan preterm
seringdiakibatkan oleh adanya infeksi. Beberapa
penelitianmenunjukkan bahwa bakteri yang terikat pada
membranmelepaskan substrat seperti protease yang
menyebabkanmelemahnya membran. Penelitian terakhir
menyebutkan bahwamatriks metaloproteinase merupakan enzim
spesifik yangterlibat dalam pecahnya ketuban oleh karena infeksi
(Manuaba,2010). 6
Sedangkan Menurut jurnal Kesehatan LingkunganIndonesia
oleh Muntoha, Suhartono dan Nur Endah W denganJudul
11

Hubungan antara Riwayat Paparan Asap Rokok denganKejadian


Ketuban Pecah Dini pada Ibu Hamil di RSUD Dr. H.Soewondo
Kendal.Bahwa Berdasarkan hasil analisa multivariate
kejadianketuban pecah dini dalam hasil penelitian ini lebih
dipengaruhioleh paparan asap rokok dibandingkan dengan paritas
danriwayat polihidramnion. 6
Paparan asap rokok yang ditunjukkandengan kandungan kotinin
dalam urin pada kelompok kasusdan kelompok kontrol terdapat
perbedaan jumlah yangbermakna, sehingga paparan asap rokok
berpengaruh secarasignifikan terhadap terjadinya KPD. 6
5. Komplikasi Ketuban Pecah Dini
Komplikasi yang timbul akibat Ketuban pecah dini bergantung pada usia
kehamilan. Diantaranya :
a. Infeksi maternal dan neonatal
b. Persalinan Prematur
c. Hipoksia akibat kompresi tali pusat
d. Deformitas janin 7
6. Penatalaksanaan Ketuban Pecah Dini
a. Pastikan diagnosis
b. Tentukan umur kehamilan
c. Evaluasi ada tidaknya infeksi maternal ataupun infeksi janin
d. Apakah dalam keadaan inpartu7
Secara umum penatalaksanaan pasien dengan ketuban pecah dini
yang tidak dalam persalinan serta tidak ada tanda infeksi dan gawat janin,
penatalaksanaannya bergantung pada usia kehamilan. Penanganan dibagi
menjadi 2 :7
a. Konservatif :
1) Rawat di rumah sakit,
2) Berikan antibiotik (ampisilin 4x 500 mg atau eritromisin bila tidak
tahan ampisilin dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari)
12

3) Jika umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat selama ketuban


masih keluar atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
4) Jika umur kehamilan 32-37 minggu, belum inpartu, tidak ada tanda
tanda infeksi, tes busa negatif, berikan deksa methasone, observasi
tanda tanda infeksi, dan kesejahteraan janin, lalu terminasi di usia
kehamilan 37 minggu.
5) Jika umur kehamilan 32- 37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik
dan lakukan induksi.dan nilai tanda- tanda infeksi.
6) Jika 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan
tokolitik (salbutamol), dexamethasone, dan induksi setelah 24 jam.7
b. Aktif
Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin. bila gagal,
lakukan sectio caesarea. Dapat pula diberikan misoprostol 25 g -
50g. Intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali. Bila ada tanda tanda
infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan terminasi persalinan.7
1) Bila skor pelvik <5, lakukan pematangan serviks,kemudian
induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan sectio
caesarea
2) Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan.7
13

B. Paritas
1. Pengertian.
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu
hidup diluar rahim (28 minggu) Manuaba (2002), paritas adalah wanita
yang pernah melahirkan bayi aterm.10
2. Klasifikasi Paritas.
Paritas dapat dibagi menjadi 3 yaitu
a. Primipara.
Primipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak, yang
cukup besar untuk hidup di dunia luar. 10
b. Multipara.
Multipara adalah wanita yang telah melahirkan seorang anak lebih
dari satu kali (Prawiroharjo, 2001). Multipara adalah wanita yang
pernah melahirkan viabel (hidup) beberapa kali ( Manuaba, 2002).
Multigravida adalah wanita yang sudah hamil dua kali atau lebih. 10
c. Grandemultipara.
Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang anak
atau lebih dan biasanya mengalami penyulit dalam kehamilan dan
persalinan (Manuaba, 2002). Grandemultipara adalah wanita yang
pernah melahirkan 6 kali atau lebih baik hidup ataupun mati (Rustam,
2002). Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan 5 orang
anak atau lebih. 10
3. HubunganparitasdenganKetubanpecahdini
Pada penelitian yang dilakukanolehrofiahfirdausyadanYuniPurwati
memberikan gambaran bahwa mayoritas ibu yang mengalami ketuban
pecah dini mayoritas berstatus paritas primipara. Hal tersebut
memberikan arti bahwa wanita yang baru sekali mengalami persalinan
akan lebih beresiko mengalami ketuban pecah dini daripada wanita yang
berstatus paritas multipara dikarenakan keadaan Uterus yang masih
terkesan baru sekali digunakan untuk mengandung janin, sehingga
penyesuaian dibutuhkan pada Uterus.4
14

C. Umur
1. Definisi
Umur adalah rentang kehidupan yang diukur dengan tahun.
Dikatakan masa awal dewasa adalah usia 18 tahun sampai 40 tahun,
dewasa madya adalah 41 tahun sampai 60 tahun, dewasa lanjut > 60
tahun, umur adalah lamanya hidup dalam tahun dihitung sejak dilahirkan
(BKKBN, 2010).3 Umur adalah lamanya waktu hidup atau sejak dilahirkan
dihitung dalam tahun (KBBI, 1989).
2. HubunganumurdenganKetubanPecahDini
Umuribuyang< 20
tahun,termasukumurterlalumudadengankeadaanuterus yang
kurangmaturuntukmelahirkansehinggarentanmengalamiketubanpecahdini
. Sedangkanumur> 35 tahuntergolongumur yang
terlalutuauntukmelahirkankhusunyapadaibuprimi (tua)
danberisikotinggimengalamiketubanpecah dini3
Usia ibu yang <20 tahu. termasuk usia yang terlalu muda dengan keadaan uterus yang
kurang matur untuk melahirkan sehingga rentan mengalami ketuban pecah dini.
Sedangkan ibu dengan usia >35 tahun tergolong usia yang terlalu tua untuk
melahirkan khususnya pada ibu primi (tua) dan resiko tinggi mengalami ketuban
pecah dini. Usia dan fisik wanita sangat berpengaruh terhadap proses kehamilan
pertama, pada kesehatan janin dan proses persalinan. Rekomendasi WHO untuk usia
yang dianggap paling aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 hingga 30
tahun. Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun dapat menimbulkan masalah karena
kondisi fisik belum siap 100% * Heny Sepduwiana Faktor Terjadinya Ketuban Pecah
Dini pada Ibu Bersalin di Rumah Sakit Umum Daerah Rokan Hulu 2011
Usia untuk reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara 20-
35 tahun. Di bawah atau diatas usia tersebut akan meningkatkan resiko
kehamilan dan persalinan. Usia seseorang akan mempengaruhi sistem
reproduksi, karena organ-organ reproduksinya sudah mulai berkurang
kemampuan dan keelastisannya dalam menerima kehamilan (Ratna,
2012).11
D. PenyulitPersalinan
Distosia/ penyulit persalinan merupakan persalinan yang abnormal
(Reeder,Martin & Griffin, 1997). Persalinan menjadi lebih panjang, lebih
nyeri/ sulitdan abnormal karena masalah persalinan berupa power,
15

passageway,passenger, position, atau psychologic. Masalah power pada


persalinan adalah masalah pada kontraksi uterus dan kekuatan meneran ibu.
Macam- macam kelainan his antara lain inersia uteri, incoordinate uterine
contraction, dan his terlalu kuat. 12
Masalah passageway pada persalinan dapat terjadi karena panggul
sempit, panggul patologik, atau tumor jalan lahirBentuk dan ukuran panggul
sangat menentukan kelancaran persalinan. Panggul normal wanita adalah
berbentuk ginekoid yang merupakan bentuk terbaik bagi jalan keluar janin.
Menurut Reeder, Martin & Griffin (1997), panggul berbentuk ginekoid dapat
dikatakan bermasalah jika ukuran kepala janin tidak sesuai dengan ukuran
panggul ibu atau sering disebut sebagai cephalopelvic disproportion (CPD).
Selain distosia pada panggul, penyebab distosia pada passageway adalah
leiomioma, tumor ovarium, dan lain- lain 12
Masalah passenger/ kelainan janin dapat terjadi karena kelainan letak,
presentasi atau posisi, kelainan bentuk janin, tali pusat menumbung atau tali
pusat terkemuka12.
Letakadalahhubungansumbupanjangjanindengansumbupanjangibu,dandapat
memanjangataumelintang.Presentasijaninataubagianbawahjaninadalahbagiant
ubuhjanin yang berada paling depan di dalamjalanlahiratauberada paling
dekatdengannya13
Kelainan letak janin dalam rahim maksudnya pada letaksungsang dan
letak lintang. Letak janin dalam uterusbergantung pada proses adaptasi janin
terhadap ruangandalam uterus. Pada kehamilan <32 minggu, jumlah air
ketubanrelatif lebih banyak sehingga memungkinkan janin bergerakdengan
bebas, dan demikian janin dapat menempatkan diridalam letak sungsang atau
letak lintang (Fadlun dkk, 2011). 6
Pada kehamilan trimester akhir janin tumbuh dengancepat dan jumlah
air ketuban relatif berkurang. Karena bokongdengan kedua tungkai yang
terlipat lebih besar daripada kepalamaka bokong dipaksa untuk menempati
ruang yang lebih luasdifundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruangan
yanglebih kecil disegmen bawah uterus. Letak sungsang dapatmemungkinkan
16

ketegangan rahim meningkat, sehinggamembuat selaput ketuban pecah


sebelum waktunya (Manuaba,2010). 6
E. Cara Persalinan
Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin
turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban
di dorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah
proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42
minggu) lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung
dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin14
Macam macam persalinanMenurut Baety (2011), persalinan dapat di
bedakan menjadi3 berdasarkan cara pengeluarannya yaitu :6
1. Persalinan spontan atau partus biasa (normal)
Yaitu proses lahirnya bayi pada letak belakang kepalamelalui jalan
lahir yang berlangsung dengan kekuatan ibusendiri tanpa bantuan alat-
alat dan tidak melukai ibu maupunbayinya, umumnya berlangsung
kurang dari 24 jam.6
2. Persalinan buatan atau partus luar biasa (abnormal)
Persalinan pervaginam atau persalinan melalui dindingperut ibu
dengan bantuan alat-alat dan tenaga dari luar,misalnya sectio caesarea
(SC), forcep, dan vakum.6
3. Persalinan anjuran
Persalinan dengan kekuatan yang diperlukanditimbulkan dari luar
dengan pemberian obat-obatan ataurangsangan baik disertai pemecahan
ketuban atau tanpapemecahan ketuban atau tanpa pemecahan ketuban.6
Pada ibu dengan Ketuban pecah Diniyang Kehamilan >37 minggu,
lakukan induksi dengan oksitosin. bila gagal, lakukan sectio caesarea.
Dapat pula diberikan misoprostol 25 g - 50g. Intravaginal tiap 6 jam
maksimal 4 kali. Bila ada tanda tanda infeksi berikan antibiotik dosis
tinggi dan terminasi persalinan. 7

Tabel2.1
Skor Pelvik
17

1. Bila skor pelvik <5, lakukan pematangan serviks,kemudian


induksi. Jika tidak berhasil, akhiri persalinan dengan sectio
caesarea
2. Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan.7

BerdasarkanhasilpenelitianEndangSusilowatidan Lisa DwiAstuti,


dari 129ibubersalin, sebanyak 86 ibubersalin
(66,7%)mengakhirikehamilannyadenganSectio Caesarea.Sedangkan 43
ibu (33,3%) mengakhirikehamilannyadenganpersalinan pervaginam.14
18

F. KerangkaTeori

Skema 2.1
Kerangka Tori

keadaan kandungan
yang masih
Paritas, terkesan baru sekali
PersalinanPrim digunakan untuk
ipara mengandung janin,
sehingga
penyesuaian
dibutuhkan pada
kandungan wanita

penyulit persalinan
merupakan
persalinan yang
abnormal
.Persalinan menjadi
lebih panjang, lebih
Penyulit nyeri/ sulit dan
Persalinan abnormal karena KetubanP
masalah persalinan
berupa power, ecahDini
passageway,
passenger, position,
atau psychologic

Usia seseorang akan


mempengaruhi
Umuribu, < 20 sistem reproduksi,
tahunatau> 35 karena organ-organ
tahun reproduksinya
sudah mulai
berkurang
kemampuan dan
keelastisannya
dalam menerima
kehamilan

86 dari 129
Cara Persalinan ibudengan KPD,
mengakhirikehamil
annyamelaluiBedah
Sectio Caesarea
19

G. Kerangka konsep
Skema 2.2
KerangkaKonsep

KetubanPecahDini

Karakteristik IbuBersalin:

1. Paritas
2. Umur
3. Penyulit Persalinan
4. Cara Persalinan

H. Definiisi Operasional

Tabel 2.2
Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Cara Hasil Skala


Pengukuran
Umur Usia ibu bersalin yang Berdasarkan Dikelompokkan Ordinal
terhitung mulai saat catatan yang menajdi :
dilahirkan sampai saat ada di data 0. Umur <20 dan
berulang tahun terakhir register >35
ibu bersalin 1. Umur 20 35
Paritas Paritas adalah jumlah Berdasarkan DikelompokkanMenj Ordinal
kehamilan yang menghasilkan catatan yang adi :
janin yang mampu hidup ada di data 0. Primipara
diluar rahim (28 minggu) register 1. Multipara
Manuaba (2002), paritas ibu bersalin 2. Grandemultipara
adalah wanita yang pernah
melahirkan bayi aterm.10
, Paritas dapat dibagi menjadi
3 yaitu
a. Primipara.
Primipara adalah wanita
yang telah melahirkan
seorang anak, yang cukup
besar untuk hidup di dunia
luar. 10
b. Multipara.
Multipara adalah wanita yang
telah melahirkan seorang anak
lebih dari satu kali
(Prawiroharjo, 2001).
c. Grandemultipara.
20

Grandemultipara adalah
wanita yang telah melahirkan
5 orang anak atau lebih dan
biasanya mengalami penyulit
dalam kehamilan dan
persalinan (Manuaba, 2002).
10

Penyulit penyulit persalinan merupakan Berdasarkan Dikelompokkan Nominal


Persalinan persalinan yang abnormal diagnosa yang menjadi :
Persalinan menjadi lebih ada di dalam 0. Dengan penyulit
panjang, lebih nyeri/ sulit dan data register persalinan
abnormal karena masalah ibu bersalin 1. Tanpa penyulit
persalinan berupa power, persalinan
passageway, passenger,
position, atau psychologic.

Cara Persalinan adalah proses Berdasarkan Dikelompokkan Nominal


Persalinan membuka dan menipisnya catatan yang menjadi :
serviks, dan janin turun ke ada di data 0. Persalinan
dalam jalan lahir register spontan
persalinan dapat di bedakan ibu bersalin 1. Persalinan buatan
menjadi 3 berdasarkan cara 2. Persalinan
pengeluarannya yaitu :6 anjuran
1. Persalinan spontan Yaitu
proses lahirnya bayi pada
letak belakang kepala
melalui jalan lahir yang
berlangsung dengan
kekuatan ibu sendiri tanpa
bantuan alat-alat dan tidak
melukai ibu maupun
bayinya, umumnya
berlangsung kurang dari
24 jam.6
2. Persalinan buatan
Persalinan pervaginam
atau persalinan melalui
dinding perut ibu dengan
bantuan alat-alat dan
tenaga dari luar, misalnya
sectio caesarea (SC),
forcep, dan vakum.6
3. Persalinan anjuran
Persalinan dengan
kekuatan yang diperlukan
ditimbulkan dari luar
dengan pemberian obat-
obatan atau rangsangan
baik disertai pemecahan
ketuban atau tanpa
pemecahan ketuban atau
tanpa pemecahan
ketuban.6
21

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yaitu
penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau memaparkan peristiwa yang
penting terjadi pada masa kini dan lebih menekankan pada data aktual
daripada penyimpulan. Dalam penelitian ini variabel yang diteliti adalah
paritas, umur, penyulit persalinan, dan cara persalinan.

B. Tempat dan WaktuPenelitian


Penelitian ini dilakukan di RSUD Leuwiliang jl. Cibeber leuwiliang
Kabupaten Bogor karena dari data yang diperoleh pada wilayah tersebut
kasus ini cukup banyak terjadi.Penelitian ini direncanakan dilaksanakan
mulai bulan Februari Mei 2017.

C. Populasi Dan Sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah hasil studi dokumentasi yang
diambil dari rekam medik tentang data ibu bersalin di RSUD Leuwiliang
tahun 2016 yaitu sejumlah 2.376 orang.
2. Sampel
Teknik yang digunakan yaitu Systematic Random sampling.
Penentuan besar sampel pada penelitian ini digunakan rumus perhitungan
menurut Lincoin tahun 2006 penelitian yang menggunakan studi tentang
proporsi dari suatu kejadian dengan menggunakan rumus survey berikut:
2
(Z1 ) .(1)
2
n = 2

n = jumlah sampel
2
(Z1 2 ) = tingkat kemaknaan ( 1,96 )

P = proporsi keadaan yang akan dicari (dari kepustakaan)


22

d = derajat kesalahan yang masih dapat diterima 10% ( 0.1)

Karena proporsi keadaan yang akan dicari tidak diketahui, maka


ditetapkan proporsi keadaan terhadap kasus adalah 50% (0,5). Derajat
kesalahan yang masih dapat diterima (d) yang digunakan adalah 10%
(0,1), sehingga perhitungan sampel adalah sebagai berikut:

2
(Z1 ) .(1)
2
n = 2

1,96 2 . 0,5(1 0,5)


=
(0,1)2
3,84 . 0,25
= = 96
0,01

Sehingga dengan menggunakan perhitungan rumus di atas


didapatkan jumlah n sebesar 96. Maka, jumlah sampel minimal dari
penelitian ini adalah 96 sampel.

D. Cara pengumpulan data


Pengumpulan data pada penelitian ini berupa data sekunder,
didapatkan dari register ibu bersalin RSUD Leuwiliang tahun 2016. Metode
yang digunakan untuk pengumpulan data adalah metode dokumentasi

E. PengolahanData
Data yang di peroleh melalui beberapa tahap pengolahan yaitu editing,
coding, entry data, dan cleaning data.
1. Editing
Adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh
untukdikumpulkan. Dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah
dataterkumpul.
23

2. Coding
Merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data
yang terdiriatas beberapa kategori.
3. Entry Data
Adalah kegiatan memasukan data yang telah dikumpulkan ke dalam
master tabel,kemudian membuat distribusi frekuensi.
4. Cleaning data
Adalah proses untuk meyakinkan bahwa data yang telah dientry atau
dimasukkanbenar-benar bersih dari kesalahan.

F. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini adalah univariat. Variabel yang diteliti
berupa paritas, umur, penyulit persalinan, dan cara persalinan. Hasil analisa
penelitian ini berupa peritungan proporsi dari variabel yang disajikan dalam
bentuk tabel.

G. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini instrumn penelitian yng digunakn berupa Daftar
tilik (Checklist).Daftar tilik yang digunakan yaitu untuk mengetahui
karaktristik Ibu Bersalin dengan Ketuban Pecah Dini , daftar tilik ini terdiri
dari empat poin, yaitu paritas, umur, penyulit persalinan, dan cara persalinan.
Daftar tilik terlampir.
24

BAB IV

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

A. Biaya Peneliti
Table 4.1
Biaya peneliti

Ringkasan Anggaran & Justifikasi


Jenis Pengeluaran Nominal Rp
1. Bahan habis pakai Rp. 739850
2. Perjalanan Rp. 96000
3. Seminar dan laporan Rp. 417500
4. Pengambilan Data Rp. 150000
TOTAL Rp.1403350

B. Jadwal Penelitian
Tabel 4.2
Jadwal penelitian

Waktu pelaksanaan
No
Jenis kegiatan Februari Maret April Mei
.
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Identifikasi masalah
2. 1Pengembangan topik dan
pemilihan judul
3. 2Penyusunan proposal
4. 3Revisi proposal
5. 4Pembuatan Daftar Tilik
6. Revisi Daftar Tilik
7. Pengumpulan proposal
8. 5Presentasi Proposal
9. 6Pengumpulan data melalui Daftar
Tilik
10. 7Pengolahan dan analisis data
11. 8Hasil laporan sementara
12. Penyempurnaan isi laporan
13. 9Pengumpulan laporan Penelitian
14. Penggandaan laporan
25

BAB V
PEMBAHASAN
A. Paritas

PARITAS
PRIMIPARA 53 55.21%
MULTIPARA 37 38.54%
GRANDEMULTIPARA 6 6.25%
TOTAL SAMPEL 96 100%
Tabel 5.1
Tabeldistribusifrekuensiparitasibubersalindengan KPD

Dari 96 sampel, ibu yang mengalami KPD berparitasPrimiparasebanyak 53


orang (55,21%). Sedangkan, Ibu yang berparitas multipara sebanyak37 orang
(38,54%). Dan ,Ibu yang berparitasGrandemultiparasebanyak 6 orang
(6,25%). Dari tabledistribusifrekuensi, dapatdibuat diagram sepertidibawahini
:

PARITAS
PRIMIPARA MULTIPARA GRANDEMULTIPARA

6%

39%
55%

Dalampenelitianini, ibu yang berparitasprimipara paling


banyakmengalami KPD.Hal inisesuaidenganpenelitianyang
dilakukanolehrofiahfirdausyadanYuniPurwatiyang memberikan gambaran
26

bahwa ibu yang mengalami ketuban pecah dini mayoritas berstatus paritas
primipara. Hal tersebut memberikan arti bahwa wanita yang baru sekali
mengalami persalinan akan lebih beresiko mengalami ketuban pecah dini
daripada wanita yang berstatus paritas multipara dikarenakan keadaan Uterus
yang masih terkesan baru sekali digunakan untuk mengandung janin, sehingga
penyesuaian dibutuhkan pada Uterus.4

B. Umur

UMUR
20 - 35 TAHUN 65 67.71%
<20 ATAU >35 TAHUN 31 32.29%
TOTAL 96 100%
Tabel 5.2
TabeldistribusifrekuensiUmuribubersalindengan KPD

Dari 96 sampel, ibu yang mengalami KPD berumur 20-35 tahunsebanyak65


orang (67,71%). Sedangkan, Ibu yang berumur<20 atau>35 tahunsebanyak31
orang (32,29%). Dari tabledistribusifrekuensi, dapatdibuat diagram
sepertidibawahini :

UMUR
20 - 35 TAHUN <20 ATAU >35 TAHUN

32%

68%
27

Dalampenelitianini, ibu yang mengalami KPD paling banyakberumur 20-


35 tahun. Hal initidaksesuaidenganpenelitianRuth Br. SihotangCanaya, yang
menyatakanUmuribu yang < 20 tahun,
termasukumurterlalumudadengankeadaan uterus yang
kurangmaturuntukmelahirkansehinggarentanmengalamiketubanpecahdini.
Sedangkanumur> 35 tahuntergolongumur yang
terlalutuauntukmelahirkankhusunyapadaibuprimi (tua)
danberisikotinggimengalamiketubanpecah dini3

C. PenyulitPersalinan

PENYULIT PERSALINAN
TANPA PENYULIT 87 90.63%
DENGAN PENYULIT 9 9.38%
TOTAL 96 100%
Tabel 5.3
TabeldistribusifrekuensiPenyulitPersalinanibubersalindengan KPD

Dari 96sampel, ibu yang mengalami KPD


tanpapenyulitpersalinansebanyak87 orang (90,63%). Sedangkan, Ibuyang
mengalami KPD denganpenyulitpersalinansebanyak9 orang (9,38%). Dari
tabledistribusifrekuensi, dapatdibuat diagram sepertidibawahini :
28

PENYULIT PERSALINAN
TANPA PENYULIT DENGAN PENYULIT

9%

91%

Dalampenelitianini, ibu yang mengalami KPD


mayoritastanpapenyulitpersalinan. Hal initidaksesuaidenganpenelitianyang
dilakukanoleh

D. Cara persalinan

CARA PERSALINAN
SPONTAN 29 30.21%
BUATAN 30 31.25%
ANJURAN 37 38.54%
TOTAL 96 100%
Tabel 5.4
TabeldistribusifrekuensiCara persalinanibubersalindengan KPD

Dari 96sampel, ibu yang mengalami KPD bersalinspontansebanyak29


orang (30,21%). Sedangkan, bersalinsecarabuatansebanyak30 orang (31,25%).
Dan yang terbayakyaitubersalindenganpersalinananjuransebanyak 37 orang
(38,54%).Dari tabledistribusifrekuensi, dapatdibuat diagram
sepertidibawahini :
29

CARA PERSALINAN
SPONTAN BUATAN ANJURAN

30%
39%

31%