Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pembangunan nasional di bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan

bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan

masyarakat yang maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. di

Taman Kanak-kanak, anak mulai diberi pendidikan yang lebih bermakna. Namun

demikian Taman Kanak-kanak harus tetap merupakan tempat yang menyenangkan

bagi anak. Tempat tersebut sebaiknya memberikan rasa aman, nyaman dan

menarik serta mendorong keberanian dan merangsang untuk berekspresi atau

menyelidiki dan mencari pengalaman demi perkembangan kepribadian secara

optimal.

Usia dini merupakan usia yang sangat penting bagi perkembangan anak

sehingga disebut masa emas (golden age) atau masa peka. Anak usia dini adalah

individu yang sedang mengalami proses petumbuhan dan perkembangan yang

sangat pesat juga fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Dalam pasal 28

Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 ayat 1, yang

termasuk dalam anak usia dini adalah anak dalam rentang usia 0-6 tahun.

Anak usia dini memiliki kemampuan yang luar biasa khususnya pada masa

anak-anak awal. Keinginan anak untuk belajar menjadikan mereka aktif dan

eksploratif. Anak belajar dengan seluruh panca inderanya untuk memahami

sesuatu dalam waktu singkat, mereka akan beralih ke hal lain untuk dipelajari.

1
2

Lingkungan kadang menjadikan anak terhambat dalam mengembangkan

kemampuan belajarnya. Lingkungan yang tidak kondusif dapat menghambat

keinginan anak untuk bereksplorasi.

Anak usia dini memiliki karakter yang khas baik secara fisik maupun

mental. Strategi dan metode pembelajaran yang diterapkan pada anak usia dini

perlu disesuaikan dengan karakteristik yang dimiliki oleh anak. Metode yang

diterapkan seorang pendidik kepada anak akan berpengaruh terhadap keberhasilan

proses pengajaran. Penggunaan metode pengajaran yang tepat dan sesuai dengan

karakter anak akan dapat memfasilitasi perkembangan anak secara optimal dan

membantu menumbuhkan sikap dan perilaku positif pada anak.

Didalam kehidupan manusia berbagai bentuk angka atau bilangan sering

ditemui, misalnya pada kalender, mata uang, telepon, jam dinding dan beberapa

benda lainnya. Oleh karena itu dapat dikatakan angka atau bilangan telah menjadi

bagian dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Russefendi (1992:70), tahapan-

tahapan pengenalan lambang bilangan pada anak usia dini adalah sebagai berikut:

a). Membilang secara berurutan 1- 5, b). Membilang dengan benda konkrit, c).

Membilang 1-10 dengan benda-benda konkrit, d). Menyebut nama bilangan dari

sejumlah benda, e). Membaca lambang bilangan sesuai jumlah benda, f).

Memasangkan lambang bilangan dan gambarannya (bendanya), g). Membaca

lambang bilangan tanpa bantuan gambar (benda).

Matematika atau berhitung sangat penting dalam kehidupan kita. Setiap

hari, bahkan setiap menit kita menggunakan matematika. Pada saat belanja,

menghitung benda, waktu, tempat, jarak dan kecepatan merupakan fungsi


3

matematis. Pengukuran panjang, berat dan volume juga merupakan fungsi

matematika, dengan kata lain matematika sangat penting bagi kehidupan kita,

termasuk anak usia dini (Suyanto, 2005: 56).

Pengajaran berhitung permulaan pada anak harus dikemas menjadi suatu hal

yang menyenangkan. Dunia anak adalah dunia bermain. Mulai dari mandi, makan,

sampai anak mau tidur semuanya menjadi aktivitas bermain sehingga bermain

menjadi salah satu kunci sukses untuk mengembangkan berbagai kemampuan

anak termasuk berhitung permulaan namun fenomena yang terjadi dilapangan

banyak pendidik yang mengajarkan berhitung permulaan dengan cara yang

abstrak. Perlu ada media pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan

berhitung permulaan anak dengan media yang nyata dan dilakukan sambil

bermain.

Menyimak pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa pengenalan konsep

bilangan penting dikembangkan sejak dini, di seluruh lembaga pendidikan anak

usia dini (PAUD). Namun fenomena yang terjadi saat ini, pembelajaran tentang

pengenalan konsep bilangan di PAUD tidak sesuai dengan tahapan perkembangan

kognitif anak. Menurut hasil penelitian yang diungkapkan oleh Sriningsih

(2009:1) bahwa beberapa lembaga PAUD menggunakan praktik-praktik paper

pencil test dalam mengajarkan konsep-konsep matematika kepada anak.

Berdasarkan observasi peneliti, pembelajaran mengenal konsep bilangan

telah diimplementasikan di TK Perwari Cijulang. Metode pembelajaran yang

dilakukan berupa pemberian tugas menggunakan LKS/majalah atau alat tulis

(buku dan pensil), pengenalan bilangan hanya melalui gambar seadanya. Sehingga
4

dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) guru dan anak didik kurang begitu

semangat juga anak cenderung bosan. Hal ini disebabkan pengetahuan guru yang

kurang optimal mengenai pendidikan anak usia dini terutama mengenai metode

yang harus dilakukan untuk menyampaikan kegiatan pembelajaran yang aktif,

kreatif dan menyenangkan. Begitu pula dalam persiapan menyusun model

pembelajaran pengenalan konsep bilangan tidak disesuaikan dengan karakteristik,

perkembangan fisik dan psikologis anak usia dini, sehingga pembelajaran kurang

optimal. Terlihat delapan dari lima belas anak belum dapat mencapai kemampuan

yang optimal dalam hal membilang banyak benda dari 1-10 secara berurutan,

membilang dengan menunjuk benda (mengenal konsep bilangan dengan benda-

benda) 1-10, menunjuk urutan benda untuk bilangan 1-10, membuat urutan

bilangan 1-10 dengan benda, menunjuk lambang bilangan 1-10, meniru tulisan

lambang bilangan 1-10, menyebutkan urutan bilangan secara mundur dari 10-1.

Mengamati hal tersebut, maka diperlukan cara yang tepat untuk

menumbuhkembangkan kemampuan mengenal konsep bilangan yang merupakan

dasar bagi pengembangan kemampuan matematika maupun kesiapan untuk

mengikuti pendidikan dasar. Berdasarkan obsevasi awal yang dilakukan oleh

peneliti terdapat informasi mengenai kondisi rendahnya kemampuan memahami

bilangan 1-10 anak usia 4-5 tahun di TK Perwari salah satunya diakibatkan oleh

faktor media yang ada sangat membosankan anak, guru kurang mampu

menerapkan pendekatan dan terkesan monoton dalam pembelajaran, sikap guru

dalam mengajar anak usia dini terkesan sangat serius sehingga sedikit membebani

anak.
5

Mengarah pada alternative pemecahan masalah yang ada pada anak usia 4-5

tahun di TK Perwari yaitu meningkatkan kemampuan mengenal bilangan 1-10.

Menuntut guru untuk mampu menciptakan pembelajaran yang efektif dan tidak

membosankan dengan menerapkan pembelajaran melalui permainan kotak angka.

Anak memerlukan alat permainan yang beragam dengan tujuan mengoptimalkan

proses pembelajarannya sehingga anak tidak merasa cepat bosan dan

permainannya terarah juga menghasilkan sesuatu pengetahuan yang positif,

karena pada hakikatnya pembelajaran di pendidikan anak usia dini mengacu pada

proses belajar sambil bermain, dengan bermain anak akan merasa nyaman dalam

mengikuti aktivitas pembelajaran yang ada. Salah satu model pembelajaran dapat

menggunakan teknik permainan kotak angka.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan sebelum peneliti menggunakan

permainan kotak angka untuk mengenal bilangan, kemampuan mengenal bilangan

1-10 kelompok A di TK Perwari di Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran

termasuk kategori rendah dengan tingkat keberhasilan sekitar 50% dari 15 anak.

Hal ini karena kurangnya ketertarikan dan kurang pahamnya dalam mengenal

bilangan. Berdasarkan penjelasan latar belakang permasalahan di atas, maka

penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Upaya Meningkatkan

Kemampuan Mengenal Bilangan Pada Anak Usia Dini Melalui Permainan Kotak

Angka Dengan Menggunakan Biji Salak di TK Perwari Kelompok A Tahun

Pelajaran 2016-2017 Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran.


6

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, terdapat beberapa masalah sebagai

berikut:
1. Terdapat 8 Anak yang masih sulit mengenal dan memahami tentang

konsep angka sedangkan yang mampu menyebutkan lambang bilangan

hanya 7 anak.
2. Kurangnya penggunaan media pembelajaran yang sesuai dengan

kebutuhan dalam meningkatkan kemampuan berhitung anak.


3. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengembangkan

kemampuan mengenal lambang bilangan kurang memasukkan unsur

bermain.

1.3 Pemecahan Masalah


Dari ketiga masalah yang teridenfikasi maka masalah yang akan dipecahkan

adalah kurangnya kemampuan mengenal bilangan pada anak usia dini melalui

permainan kotak angka. Karena hal ini sangat penting bagi semua perkembangan

kemampuan dasar anak usia dini. Penelitian ini dilakukan untuk mengatasi

masalah di atas dengan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang

dapat dikembangkan dari potensi anak melalui peningkatan kemampuan mengenal

bilangan pada anak dengan memberikan rangsangan melalui permainan kotak

angka, tanpa menjadikan anak tertekan ataupun tidak merasa nyaman.

1.4 Batasan Masalah

Berdasarkan masalah-masalah yang telah diuraikan di atas, Agar penelitian

ini lebih terarah penulis membatasi masalah pada penggunaan permainan kotak

angka untuk meningkatkan kemampuan mengenal bilangan anak kelompok A di


7

TK Perwari Tahun Pelajaran 2016-2017 Kecamatan Cijulang Kabupaten

Pangandaran.

1.5 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan masalah

dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah perencanaan pembelajaran menggunakan permainan kotak

angka dengan alat tradisional biji salak untuk meningkatkan kemampuan

mengenal bilangan pada anak usia dini di TK Perwari Kelompok A Tahun

Pelajaran 2016/2017 Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran?


2. Bagaimanakah proses pembelajaran menggunakan permainan kotak angka

dengan alat tradisional biji salak untuk meningkatkan kemampuan

mengenal bilangan pada anak usia dini di TK Perwari Kelompok A Tahun

Pelajaran 2016/2017 Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran?


3. Bagaimanakah hasil pembelajaran menggunakan permainan kotak angka

dengan alat tradisional biji salak untuk meningkatkan kemampuan

mengenal bilangan pada anak usia dini di TK Perwari Kelompok A Tahun

Pelajaran 2016/2017 Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran?

1.6 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui perencanaan pembelajaran menggunakan permainan

kotak angka dengan alat tradisional biji salak untuk meningkatkan

kemampuan mengenal bilangan pada anak usia dini di TK Perwari


8

Kelompok A Tahun Pelajaran 2016/2017 Kecamatan Cijulang Kabupaten

Pangandaran.
2. Untuk mengetahui proses pembelajaran menggunakan permainan kotak

angka dengan alat tradisional biji salak untuk meningkatkan kemampuan

mengenal bilangan pada anak usia dini di TK Perwari Kelompok A Tahun

Pelajaran 2016/2017 Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran.


3. Untuk mengetahui hasil pembelajaran menggunakan permainan kotak

angka dengan alat tradisional biji salak untuk meningkatkan kemampuan

mengenal bilangan pada anak usia dini di TK Perwari Kelompok A Tahun

Pelajaran 2016/2017 Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran.

1.7 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak

terutama bagi pendidik dan yang terlibat dalam dunia pendidikan diantaranya:

1. Manfaat teoritis

Manfaat teoritis dalam penelitian ini diharapkan dapat memperluas

pengetahuan penulis dan dapat berguna bagi perkembangan ilmu

pengetahuan dalam bidang pendidikan

2. Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis dari penelitian ini untuk lebih jelasnya adalah

sebagai berikut:

1) Bagi anak
a. Untuk meningkatkan kognitif anak dalam pengenalan bilangan

dengan menggunakan alat tradisional biji salak


9

b. Anak dapat mengenal bilangan melalui penggunaan alat

tradisional biji salak.


2) Bagi guru

Untuk menambah wawasan dan kreativitas dalam melaksanakan

proses pembelajaran dengan menggunakan alat tradisional biji salak.

3) Bagi peneliti

Manfaat yang dapat diambil oleh peneliti merupakan pengalaman

dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) serta perbaikan

mutu pendidikan dan pengajaran di TK khususnya dalam

mengenalkan bilangan melalui permainan kotak angka dengan alat

tradisional biji salak.

1.8 Devinisi Operasional

Dalam penelitian ini terdapat istilah yang menjadi variabel penelitian dan

muncul dalam penulisan. Istilah tersebut adalah:

1. Kemampuan Mengenal Lambang Bilangan

Pembelajaran matematika adalah suatu ilmu pengetahuan tentang

penalaran logis dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan.

Pada prinsipnya pengerjaan (operasi) hitung pada jenjang pendidikan

permulaan atau taman kanak-kanak meliputi pengenalan tentang berhitung,

pengenalan angka, pengenalan berhitung dan pengenalan penjumlahan dan

pengurangan.

Kemampuan mengenal lambang bilangan merupakan kesanggupan

untuk mengetahui simbol yang melambangkan banyaknya benda. Anak yang


10

memiliki kemampuan mengenal lambang bilangan tidak hanya mengenal

simbol dari bilangan akan tetapi anak memiliki kesanggupan untuk mengenal

makna dari bilangan tersebut. Kemampuan anak mengenal lambang bilangan

pada usia dini terutama usia 4-5 tahun adalah mampu mengenal lambang

bilangan 1-10.

2 Permainan Kotak Angka


Permainan kotak angka yaitu media bermain yang dilakukan dengan

menggunakan biji salak yang dimasukkan ke dalam kotak angka yang

bergambar angka 1-10. Bermain kotak angka adalah permainan yang

dilakukan dengan memasukkan biji salak kedalam kotak angka yang

jumlahnya harus sesuai dengan yang tertera dalam kotak angka.


Kotak-kotak angka merupakan media sumber belajar yang bahannya

terbuat dari bahan bambu, berbentuk tabung, bertuliskan angka 1 sampai

dengan 10 pada tiap sisinya. Bermain kotak-kotak angka memiliki beberapa

fungsi yang penting, yaitu: 1) Memacu kreativitas dalam kemampuan

bermain menggunakan simbol-simbol; 2) Bermanfaat mencerdaskan otak; 3)

Bermanfaat untuk melatih empati; 4) Bermanfaat mengasah pancaindera; 5)

Sebagai media terapi.