Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

POST PARTUM

Untuk Memenuhi Tugas Profesi Ners Departemen Maternitas di Puskesmas Kepanjen Kabupaten Malang

Departemen Maternitas di Puskesmas Kepanjen Kabupaten Malang Oleh: Puput Lifvaria Panta A. NIM: 1700703011111048 PROGRAM

Oleh:

Puput Lifvaria Panta A. NIM: 1700703011111048

PROGRAM STUDI PROFESI NERS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

2017

A. Pengertian Post partum adalah masa sesudah persalinan dapat juga disebut masa nifas (puerperium) yaitu masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan yang lamanya 6 minggu. Post partum adalah masa 6 minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi sampai kembali ke keadaan normal sebelum hamil (Bobak, 2010). Partus di anggap spontan atau normal jika wanita berada dalam masa aterm, tidak terjadi komplikasi, terdapat satu janin presentasi puncak kepala dan persalinana selesai dalam 24 jam (Bobak, 2005). Partus spontan adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan dengan ketentuan ibu atau tanpa anjuran atau obatobatan (Prawiroharjo,

2000).

Post partum adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan kembali sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6 8

minggu (Mochtar, 1998). Akan tetapi seluruh alat genital akan kembali dalam waktu 3 bulan (Hanifa, 2002). Selain itu masa nifas / purperium adalah masa partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu (Mansjoer et.All. 2001). Post portum / masa nifas dibagi dalam 3 periode (Mochtar, 1998):

1. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan- jalan.

2. Purperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya mencapainya 6 8 minggu.

3. Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil / waktu persalinan mempunyai komplikasi.

B. Tujuan Perawatan Masa Nifas

Dalam masa nifas ini penderita memerlukan perawatan dan pengawasan yang dilakukan selama ibu tinggal di rumah sakit maupun setelah nanti keluar dari rumah sakit. Adapun tujuan dari perawatan masa nifas adalah:

Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologi.

Melaksanakan skrining yang komprehrnsif, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.

Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi pada bayi dan perawatan bayi sehat.

Untuk mendapatkan kesehatan emosi (Bari Abdul, 2000)

C.

Perubahan Fisiologis Periode Postpartum

1. Infolusi Uterus Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan, proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilikus. Fundus turun kira-kira 1 smpai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari pasca partum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara umbilikus dan simpisis pubis. Uterus, pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350 gr 2 minggu setelah lahir. Satu minggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul. Pada minggu keenam, beratnya menjadi 50-60 gr. Peningkatan esterogen dan progesteron bertabggung jawab untuk pertumbuhan masif uterus selama hamil. Pada masa pasca partum penurunan kadar hormon menyebapkan terjadinya autolisis, perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah penyebap ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.

2. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. homeostasis pasca partum dicapai terutama akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium, bukan oleh agregasi trombosit dan pembentukan bekuan. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengopresi pembuluh darah dan membantu hemostasis. Salama 1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Untuk mempertahankan kontraksi uterus, suntikan oksitosin secara intravena atau intramuskuler diberikan segera setelah plasenta lahir. Ibu yang merencanakan menyusui bayinya, dianjurkan membiarkan bayinya di payudara segera setelah lahir karena isapan bayi pada payudara merangsang pelepasan oksitosin.

D. Adaptasi Psikologi Masa Postpartum Proses adaptasi psikologis pada seorang ibu telah dimulai sejak ibu hamil. Perubahan mood seperti sering marah, menangis, dan sering sedih atau cepat berubah perasaan menjadi senang merupakan manifestasi dari emosi yang labil (Suherni, dkk,

2008).

Menurut Rubin (1977) dalam Palupi (2013),pada masa postpartum seorang ibu

akan melalui tiga periode adaptasi psikologis yang disebut “Rubin Maternal Phases”,yaitu sebagai berikut:

1. Periode Taking In Fase ini disebut juga fase ketergantungan. Dimulai setelah persalinan, pada ibu masih berfokus dengan dirinya sendiri, bersikap pasif dan masih sangat tergantung pada orang lain di sekitarnya.

2. Periode Taking Hold Fase ini disebut juga fase transisi antara ketergantungan dan kemandirian. Terjadi antara hari kedua dan ketiga postpartum, ibu mulai menunjukkan perhatian pada bayinya dan berminat untuk belajar memenuhi kebutuhan bayinya. Dalam tenaga ibu pulih kembali secara bertahap, ibu merasa lebih nyaman, fokus perhatian mulai beralih pada bayi, ibu sangat antusias dalam merawat bayinya, ibu mulai mandiri dalam perawatan diri dan terbuka pada pengajaran perawatan. Saat ini merupakan saat yang tepat untuk memberi informasi tentang perawatan bayi dan diri sendiri. Pada fase ini juga terdapat kemungkinan terjadinya postpartum blues.

3. Periode Letting Go Fase ini disebut juga fase mandiri. Pada fase ini berlangsung antara dua sampai empat minggu setelah persalinan ketika ibu mulai menerima peran barunya. Ibu melepas bayangan persalinan dengan harapan yang tidak terpenuhi serta mampu menerima kenyataan. Pada fase ini tidak semua ibu postpartum mampu beradaptasi secara psikologis sehingga muncul gangguan mood yang berkepanjangan ditandai dengan adanya perasaan sedih, murung, cemas, panik, mudah marah, kelelahan,

disertai gejala depresi seperti gangguan tidur dan selera makan, sulit berkonsentrasi, perasan tidak berharga, menyalahkan diri dan tidak mempunyai harapan untuk masa depan. Hal ini juga merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan, hingga ketingkat gangguan jiwa yang berat.

E. Manifestasi klinik Periode post partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang-kadang disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan (Bobak, 2004).

1. Sistem Reproduksi

a. Proses Involusi Proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil setelah melahirkan, proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Uterus, pada waktu hamil penuh baratnya 11 kali berat sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 gr 1 minggu setelah melahirkan dan 350 gr dua

minggu setelah lahir. Seminggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul. Pada minggu keenam, beratnya menjadi 50-60gr. Pada masa pasca partum penurunan kadar hormon menyebapkan terjadinya autolisis, perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Sel-sel tambahan yang terbentuk selama masa hamil menetap. Inilah penyebap ukuran uterus sedikit lebih besar setelah hamil.

b. Kontraksi Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna segera setelah bayi lahir, hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus, mengopresi pembuluh darah dan membantu hemostasis. Salama 1-2 jam pertama pasca partum intensitas kontraksi uterus bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. Untuk mempertahankan kontraksi uterus, suntikan oksitosin secara intravena atau intramuskuler diberikan segera setelah plasenta lahir.

c. Tempat Plasenta Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan, kontraksi vaskular dan trombus menurunkan tempat plasenta ke suatu area yang meninggi dan bernodul tidak teratur. Pertumbuhan endometrium ke atas menyebapkan pelepasan jaringan nekrotik dan mencegah pembentukan jaringan parut yang menjadi karakteristik penyembuha luka. Regenerasi endometrum, selesai pada akhir minggu ketiga masa pasca partum, kecuali pada bekas tempat plasenta.

d. Lochea Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir, mula-mula berwarna merah, kemudian menjadi merah tua atau merah coklat. Lochea rubra terutama mengandung darah dan debris desidua dan debris trofoblastik. Aliran menyembur menjadi merah setelah 2-4 hari. Lochea serosa terdiri dari darah lama, serum, leukosit dan denrus jaringan. Sekitar 10 hari setelah bayi lahir, cairan berwarna kuning atau putih. Lochea alba mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mukus, serum dan bakteri. Lochea alba bisa bertahan 2-6 minggu setelah bayi lahir.

e. Serviks Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. 18 jam pasca partum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali ke bentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan.

f. Vagina dan Perineum

Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap ke ukuran

sebelum hami, 6-8 minggu setelah bayi lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan semenonjol pada wanita nulipara.

2. Sistem Endokrin

a. Hormon Plasenta Penurunan hormon human plasental lactogen, esterogen dan kortisol, serta placental enzyme insulinase membalik efek diabetagenik kehamilan. Sehingga kadar gula darah menurun secara yang bermakna pada masa puerperium. Kadar esterogen dan progesteron menurun secara mencolok setelah plasenta keluar, penurunan kadar esterogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstra seluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil.

b. Hormon Hipofisis Waktu dimulainya ovulasi dan menstruasi pada wanita menyusui dan tidak

menyusui berbeda. Kadar prolaktin serum yang tinggi pada wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan ovulasi. Karena kadar follikel-stimulating hormone terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui disimpulkan ovarium tidak berespon terhadap stimulasi FSH ketika kadar prolaktin meningkat (Bowes, 1991).

3. Abdomen Apabila wanita berdiri di hari pertama setelah melahirkan, abdomenya akan menonjol dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil. Diperlukan sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hami.

4. Sistem Urinarius Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Diperlukan kira-kira dua smpai 8 minggu supaya hipotonia pada kehamilan dan dilatasi ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil (Cunningham, dkk ; 1993).

5. Sistem Cerna

a. Nafsu Makan Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anestesia, dan keletihan, ibu merasa sangat lapar.

b. Mortilitas Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selam waktu yang singkat setelah bayi lahir.

Buang air besar secara spontan bias tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan.

6. Payudara Konsentrasi hormon yang menstimulasai perkembangan payudara selama wanita hamil (esterogen, progesteron, human chorionik gonadotropin, prolaktin, krotison, dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir.

a. Ibu tidak menyusui Kadar prolaktin akan menurun dengan cepat pada wanita yang tidak menyusui. Pada jaringan payudara beberapa wanita, saat palpasi dailakukan pada hari kedua dan ketiga. Pada hari ketiga atau keempat pasca partum bisa terjadi pembengkakan. Payudara teregang keras, nyeri bila ditekan, dan hangat jika di raba.

b. Ibu yang menyusui Sebelum laktasi dimulai, payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan, yakni kolostrum. Setelah laktasi dimula, payudara teraba hangat dan keras ketika disentuh. Rasa nyeri akan menetap selama sekitar 48 jam. Susu putih kebiruan dapat dikeluarkan dari puting susu.

7. Sistem Kardiovaskuler

a. Volume Darah Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler. Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat tetapi terbatas. Setelah itu terjadi perpindahan normal cairan

tubuh yang menyebapkan volume darah menurun dengan lambat. Pada minggu ketiga dan keempat setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum lahir.

b. Curah Jantung Denyut jantung volume sekuncup dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 menit karena darah yang biasanya melintasi sirkuit utero plasenta tibatiba kembali ke sirkulasi umum (Bowes, 1991).

c. Tanda-Tanda Vital

Beberapa perubahan tanda-tanda vital bisa terlihat, jika wanita dalam keadaan normal. Peningkatan kecil sementara, baik peningkatan tekanan darah sistol maupun diastol dapat timbul dan berlangsung selama sekitar empat hari setelah wanita melahirkan (Bowes, 1991).

Perubahan neurologis selama puerperium merupakan kebalikan adaptasi neurologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebapkan trauma yang dialami wanita saat bersalin dan melahirkan.

9. Sistem Muskuluskeletal Adaptasi sistem muskuluskeletal ibu yang terjadi selama masa hamil berlangsung

secara terbalik pada masa pascapartum. Adaptasi ini mencakup hal-hal yang membantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pemsaran rahim.

10. Sistem Integumen Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Pada beberapa wanita, pigmentasi pada daerah tersebut akan menutap. Kulit kulit yang meregang pada payudara, abdomen, paha, dan panggul mungkin memudar, tapi tidak hilang seluruhnya.

F. Komplikasi Post Partum

1. Perdarahan Perdarahan adalah penyebap kematian terbanyak pada wanita selama periode post partum. Perdarahan post partum adalah : kehilangan darah lebih dari

500 cc setelah kelahiran kriteria perdarahan didasarkan pada satu atau lebih tanda- tanda sebagai berikut:

a. Kehilangan darah lebih dai 500 cc

b. Sistolik atau diastolik tekanan darah menurun sekitar 30 mmHg

c. Hb turun sampai 3 gram % (novak, 1998) Perdarahan post partum dapat diklasifikasi menurut kapan terjadinya

perdarahan dini terjadi 24 jam setelah melahirkan. Perdarahan lanjut lebih dari 24 jam setelah melahirkan, syok hemoragik dapat berkembang cepat dan menadi kasus lainnya, tiga penyebap utama perdarahan antara lain:

a. Atonia uteri Pada atonia uteri uterus tidak mengadakan kontraksi dengan baik dan ini merupakan sebap utama dari perdarahan post partum. Uterus yang sangat teregang (hidramnion, kehamilan ganda, dengan kehamilan dengan janin besar), partus lama dan pemberian narkosis merupakan predisposisi untuk terjadinya atonia uteri.

b. Laserasi jalan lahir Perlukan serviks, vagina dan perineum dapat menimbulkan perdarahan yang banyak bila tidak direparasi dengan segera.

d.

Hampir sebagian besar gangguan pelepasan plasenta disebapkan oleh gangguan kontraksi uterus.retensio plasenta adalah : tertahannya atau belum lahirnya plasenta atau 30 menit selelah bayi lahir. Lain-lain 1) Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus sehingga masih ada pembuluh darah yang tetap terbuka.

2)

Ruptur uteri, robeknya otot uterus yang utuh atau bekas jaringan parut pada

3)

uterus setelah jalan lahir hidup. Inversio uteri (Wikenjosastro, 2000).

2. Infeksi Puerperalis Didefinisikan sebagai; inveksi saluran reproduksi selama masa post partum. Insiden infeksi puerperalis ini 1 % - 8 %, ditandai adanya kenaikan suhu > 38 0 dalam 2 hari selama 10 hari pertama post partum. Penyebap klasik adalah : streptococus dan staphylococus aureus dan organisasi lainnya.

3. Endometritis Adalah infeksi dalam uterus paling banyak disebapkan oleh infeksi puerperalis. Bakteri vagina, pembedahan caesaria, ruptur membran memiliki resiko tinggi terjadinya endometritis (Novak, 1999).

4. Mastitis Yaitu infeksi pada payudara. Bakteri masuk melalui fisura atau pecahnya puting susu akibat kesalahan tehnik menyusui, di awali dengan pembengkakan, mastitis umumnya di awali pada bulan pertamapost partum (Novak, 1999).

5. Infeksi Saluran Kemih Insiden mencapai 2-4 % wanita post partum, pembedahan meningkatkan resiko infeksi saluran kemih. Organisme terbanyak adalah Entamoba coli dan bakterigram negatif lainnya.

6. Tromboplebitis dan trombosis Semasa hamil dan masa awal post partum, faktor koagulasi dan meningkatnya status vena menyebapkan relaksasi sistem vaskuler, akibatnya terjadi tromboplebitis (pembentukan trombus di pembuluh darah dihasilkan dari dinding pembuluh darah) dan trombosis (pembentukan trombus) tromboplebitis superfisial terjadi 1 kasus dari 500 750 kelahiran pada 3 hari pertama post partum.

7. Emboli Yaitu : partikel berbahaya karena masuk ke pembuluh darah kecil menyebapkan kematian terbanyak di Amerika (Novak. 1999).

G. TandaTanda Bahaya Post Partum

1. Demam Suhu tubuh ibu yang baru saja melahirkan biasanya sedikit lebih tinggi dibanding suhu normal, khususnya jika cuaca sangat panas, namun jika suhu ibu lebih dari 38 0 C dalam 2 hari lebih itu kemungkinan terjadi infeksi. Penanganan awal yaitu (Prawirohardjo, 2002) :

a. Istirahat, berbaring

b. Perbanyak minum

c. Kompres atau kipas untuk menurunkan suhu

d. Jika ada syok, segera beri pengobatan, sekalipun tidak jelas gejala syok, harus waspada untuk menilai berkala karena kondisi ini dapat memburuk dengan cepat.

2. Perdarahan Aktif Setelah melahirkan, normal bagi wanita untuk mengalami perdarahan yang

sama banyaknya seperti ketika menstruasi. Darah yang keluar seharusnya tampak seperti darah menstruasi, berwarna tua dan gelap. Darah merembes sedikit-sedikit saat rahim berkontraksi atau ketika ibu batuk, bergerak atau berdiri. Perdarahan setelah persalinan dibagi menjadi 2, yaitu sebagai berikut :

a. Perdarahan primer, yaitu terjadinya dalam 24 jam pertama pasca persalinan

b. Perdarahan sekunder, yaitu terjadinya setelah 24 jam pertama pasca persalinan Perdarahan yang perlahan dan berlanjut atau perdarahan tiba-tiba

merupakan suatu kegawatdaruratan, segeralah bawa ibu ke fasilitas kesehatan.

3. Keluar banyak bekuan darah Jika ibu mengalami perdarahan lebih dari gumpalan dalam satu jam, ibu bisa mengalami perdarahan yang hebat. Ingatkan ibu untuk menggosok rahimnya untuk membantu berkontraksi dan segera bawa ibu ke rumah sakit.

4. Bau busuk dari vagina Bau busuk dari vagina dapat disebabkan karena infeksi vagina. Tanda- tanda awal adalah :

a. Ibu akan merasa sakit di daerah vagina,

b. Keluar nanah dan bau tidak sedap,

c. Kulit vagina yang membengkak dan memerah.

d. Keluarnya cairan dari vagina

e. Disertai dengan demam hingga 38 0 C

Penanganan awalnya yaitu jagalah selalu kebersihan vagina dengan baik, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan anjurkan ibu untuk memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.

5. Pusing yang terus-menerus

6. Lemas luar biasa Lemas yang berlebihan juga merupakan tanda-tanda bahaya, di mana keadaan lemas disebabkan oleh kurangnya istirahat dan kurangnya asupan kalori sehingga ibu kelihatan pucat, tekanan darah rendah. Kurang istirahat akan mempengaruhi produksi ASI. Penanganan awalnya yaitu :

a. Makan dengan diit berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.

b. Istirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.

7. Keadaan Abnormal Pada Payudara

Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah:

a. Bendungan ASI Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. Keluhan mamae bengkak, keras, dan terasa panas sampai suhu badan meningkat.

b. Mastitis dan Abses Mamae

Infeksi ini menimbulkan demam, nyeri lokal pada mamae, pemadatan mamae dan terjadi perubahan warna kulit mamae.

8. Nyeri panggul atau perut yang lebih hebat dari nyeri kontraksi biasa.

9. Keadaan Abnormal Pada Psikologis

a. Psikologi Pada Masa Nifas Perubahan emosi selama masa nifas memiliki berbagai bentuk dan variasi. Kondisi ini akan berangsur-angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah melahirkan. Pada 0-3 hari setelah melahirkan, ibu nifas berada pada puncak kegelisahan setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang berakibat ibu sulit beristirahat, sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat pada siang hari dan sulit tidur di malam hari.

Pada 3-10 hari setelah melahirkan, Postnatal blues biasanya muncul biasanya disebut dengan 3th day blues. Tapi pada kenyataanya berdasarkan riset yang dilakukan paling banyak muncul pada hari ke lima. Postnatal blues adalah suatu kondisi di mana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap kondisinya dan kondisi bayinya sehingga

ibu mudah panik dengan sedikit saja perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya. Pada 1-12 minggu setelah melahirkan, kondisi ibu mulai membaik dan menuju pada tahap normal. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat. Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali pada keadaan normal.

b. Depresi Pada Masa Nifas

Riset menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10%-nya saja yang tidak mengalami perubahan emosi. Keadaan ini berlangsung antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus terjadi selama 1 tahun pertama kehidupan bayi. Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan menunjukan faktor-faktor penyebab depresi adalah terhambatnya karir ibu karena harus melahirkan, kurangnya perhatian orang orang terdekat terutama suami dan perubahan struktur keluarga karena hadirnya bayi, terutama pada ibu primipara.

H. Penatalaksanaan atau Perawatan Post Partum

Penanganan ruptur perineum diantaranya dapat dilakukan dengan cara melakukan penjahitan luka lapis demi lapis, dan memperhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka kearah vagina yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka. Selain itu dapat dilakukan dengan cara memberikan antibiotik yang cukup (Moctar, 1998). Prinsip yang harus diperhatikan dalam menangani ruptur perineum adalah:

1. Bila seorang ibu bersalin mengalami perdarahan setelah anak lahir, segera

memeriksa perdarahan tersebut berasal dari retensio plasenta atau plasenta lahir tidak lengkap.

2. Bila plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi uterus baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan pada jalan lahir, selanjutnya dilakukan penjahitan. Prinsip melakukan jahitan pada robekan perineum:

a. Reparasi mula-mula dari titik pangkal robekan sebelah dalam/proksimal ke arah luar/distal. Jahitan dilakukan lapis demi lapis, dari lapis dalam kemudian lapis luar.

b. Robekan perineum tingkat I : tidak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi luka baik, namun jika terjadi perdarahan segera dijahit dengan menggunakan benang catgut secara jelujur atau dengan cara angka delapan.

c. Robekan perineum tingkat II : untuk laserasi derajat I atau II jika ditemukan robekan tidak rata atau bergerigi harus diratakan terlebih dahulu sebelum dilakukan penjahitan. Pertama otot dijahit dengan catgut kemudian selaput lendir. Vagina dijahit denga catgut secara terputus-putus atau jelujur. Penjahitan mukosa vagina dimulai dari puncak robekan. Kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara jelujur.

d. Robekan perineum tingkat III : penjahitan yang pertama pada dinding depan rektum yang robek, kemudian fasia perirektal dan fasia septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik sehingga bertemu kembali.

e. Robekan perineum tingkat IV : ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah karena robekan diklem dengan klem pean lurus, kemudian dijahit antara 2-3 jahitan catgut kromik sehingga bertemu kembali. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat I.

f. Meminimalkan Derajat Ruptur Perineum Menurut Mochtar (1998) persalinan yang salah merupakan salah satu sebab terjadinya ruptur perineum. Menurut Buku Acuan Asuhan Persalinan Normal (2008) kerjasama dengan ibu dan penggunaan perasat manual yang tepat dapat mengatur ekspulsi kepala, bahu, dan seluruh tubuh bayi untuk mencegah laserasi atau meminimalkan robekan pada perineum. Dalam menangani asuhan keperawatan pada ibu post partum spontan, dilakukan berbagai macam penatalaksanaan, diantaranya:

1)

Monitor TTV

2)

Tekanan darah meningkat lebih dari 140/90 mungkin menandakan preeklamsi suhu tubuh meningkat menandakan terjadinya infeksi, stress, atau dehidrasi. Pemberian cairan intravena

3)

Untuk mencegah dehidrasi dan meningkatkan kemampuan perdarahan darah dan menjaga agar jangan jatuh dalam keadaan syok, maka cairan pengganti merupakan tindakan yang vital, seperti Dextrose atau Ringer. Pemberian oksitosin

4)

Segera setelah plasenta dilahirkan oksitosin (10 unit) ditambahkan dengan cairan infuse atau diberikan secara intramuskuler untuk membantu kontraksi uterus dan mengurangi perdarahan post partum. Obat nyeri Obat-obatan yang mengontrol rasa sakit termasuk sedative, alaraktik, narkotik dan antagonis narkotik. Anastesi hilangnya sensori, obat ini diberikan secara regional/ umum (Hamilton, 1995).

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Data umum klien

b. Riwayat kehamilan sekarang

c. Riwayat persalinan sekarang

d. Riwayat Ginekologi

e. Keadaan Bayi Saat Lahir

f. Nilai Apgar

2. Masalah Keperawatan

a. Nyeri akut

b. Gangguan rasa nyaman

c. Defisiensi pengetahuan

d. Gangguan eliminasi urine

e. Intoleransi aktivitas

f. Kesiapan meningkatkan pemberian ASI

g. Resiko konstipasi

h. Resiko infeksi

3. Intervensi

Nyeri akut

 

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan

 

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Nyeri akut berhubungan dengan:

NOC :

NIC :

Pain Level,

Pain Management

Agen injuri (biologi, kimia, fisik, psikologis), kerusakan jaringan

DS:

pain control,

1. Lakukan pengkajian nyeri

comfort level

secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam klien tidak mengalami

-

Laporan secara verbal

nyeri, dengan kriteria hasil:

DO:

- Posisi untuk menahan nyeri

Mampu mengontrol nyeri

(tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan

2. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan

3. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan

4. Kontrol lingkungan yang

- Tingkah laku berhati-hati

tehnik nonfarmakologi

- Gangguan tidur (mata sayu, tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai)

untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

bahwa

Melaporkan

nyeri

dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

berkurang

dengan

- Terfokus pada diri sendiri

menggunakan manajemen

- Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan)

nyeri

5. Kurangi faktor presipitasi

Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

nyeri

6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi

Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

7. Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dalam,

- Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain

Tanda vital dalam rentang normal

relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin

mengalami

Tidak

gangguan tidur

8. Tingkatkan istirahat

9. Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur

dan/atau aktivitas, aktivitas berulang-ulang)

- Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil)

- Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin

dalam rentang dari lemah ke kaku)

- Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah)

- Perubahan dalam nafsu makan dan minum

10. Kolabrasi dalam pemberian

analgetik untuk mengurangi nyeri

11. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali

Kurang Pengetahuan

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

Rencana keperawatan

 

Tujuan dan Kriteria Hasil

 

Intervensi

Kurang Pengetahuan Berhubungan dengan :

NOC:

NIC :

Kowlwdge : infant care

Parent education: Infant

 

keterbatasan kognitif, interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.

Maternal status:

1. Tentukanpengetahuanorang

postpartum Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. pasien menunjukkan pengetahuan tentang proses penyakit dengan kriteria hasil:

tuadan

kesiapandan

kemampuan

untuk

belajartentang

perawatanbayi

2. Monitorkebutuhan

belajarkeluarga

 

3. Berikan

Pasien menyatakan pemahaman tentang perawatan bayi baru lahir

bimbinganantisipatiftentang

DS: Menyatakan secara verbal adanya masalah DO: ketidakakuratan mengikuti instruksi, perilaku tidak sesuai

perubahanperkembangansel

ama

tahunpertama

kehidupan

 

Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar

4. Bantuorang

tuadalam

mengartikulasikancarauntuk mengintegrasikanbayike dalam sistemkeluarga

 

Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan lainnya

5. Ajarkan keterampilanorangtuauntuk merawatbayi baru lahir

6. Berikaninformasikepada orang tua tentangdot

 

7. Berikaninformasitentang menambahkanmakanan

padatuntuk

dietibu

selama

tahun pertama

8. Bahasalternatif

terhadapdotmenjelang tiduruntuk mencegahtimbulnya karies

9. Ajarkan

orang

tua tentang

cara

untuk

mengobati dan

mencegah ruam popok

10. Tunjukkan cara

di

mana

orang tua dapat merangsang

perkembangan bayi

 

11. Dorong

orang

tua

untuk

berpelukan,

memijat,

danmemberikan

sentuhan

bayi

12. orang tua untuk dan membaca

Dorong

berbicara

untuk bayinya, memberikan pendengaran menyenangkan dan stimulasi

visual seta bermain dengan bayinya

13. Perkuat

kemampuan orang

tua untuk menerapkan ajaran

keterampilan

perawatan

anak

14. Berikan dukungan orang tua

denganketika

belajar

keterampilanperawatan bayi

15. Bantu

orang

tua

dalam

menafsirkan

isyarat

bayi,

isyarat nonverbal, menangis

dan vokalisasi

16. Berikan

informasi

tentangkarakteristikperilakub

ayi baru lahir dan bantuorang tuauntuk

mengidentifikasikarakteristik

perilakubayi

17. dantunjukkan

Jelaskan

teknikmenenangkan bayi

18. Monitorketerampilanorang tuadalam

mengenalikebutuhan fisiologisbayi

19. Berikanorang tuainformasitentang membuatlingkungan yang amanuntukbayi.

rumah

Kesiapan meningkatkan pemberian ASI

Diagnosa Keperawatan/ Masalah Kolaborasi

 

Rencana keperawatan

 

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Kesiapan meningkatkan pemberian ASI

NOC :

 

NIC :

Postpartum

maternal

Lactation counseling

   

health behavior

1. Berikan informasi tentang

Batasan karakteristik :

Knowledge:

 

manfaat psikologis menyusui

- Pola eliminasi bayi adekuat sesuai usia

 

breastfeeding

2. Tentukan keinginandan

Infant nutritional status

motivasi ibu untuk menyusui serta persepsi menyusui

- Pola berat badan bayi tepat sesuai usia

Setelah dilakukan tindakan

keperawatan

selama

1x24

3. Koreksi dengan benar kesalahpahaman, informasi

- Pola komunikasi ibu dan bayi efektif

jampasien

mempunyai

kesiapan

untuk

yang salah,

dan

- Bayi kenyang setelah menyusui

meningkatkan

pemberian

ketidakakuratan tentang menyusui

ASI dengan kriteria hasil:

- Ibu mampu memposisikan bayi pada payudara untuk meningkatkan respon keberhasilan latch on

asupan

4. Berikan materi pendidikan

Pertahankan cairan dan nutrisi

 

5. Berikan ibu kesempatan

Supply ASI yang adekuat

untuk menyusui setelah

Vital sign dalam

batas

melahirkan

- Ibu melaporkan kepuasan dengan proses menyusi

 

normal

6. Bantu dalam memastikan

kelembutan

Monitor

posisi yang tepat bagi bayi ke payudara (keselarasanyang tepat, pegang areolar dan

- Pengisapan reguler pada payudara

 

puting susu

- Menelan reguler pada payudara

Monitor

pembengkakan

kompresi, dan suara menelan)

payudara

   

7. Instruksikan pada berbagai posisi menyusui

8. Pantau kemampuan bayi untuk menghisap

9. Instruksikan ibu agar menyusui bayi untuk menyelesaikan pada payudara pertama terlebih dahulu sebelum menawarkan payudara kedua

10. Instruksikan tentang cara bayi untuk menghisap pada saat menyusui, jika perlu

11. Instruksikan ibu tentang perawatan putting susu

12. Pantau nyeri puting dan integritas kulit gangguan puting

13. Diskusikan teknik untuk menghindari atau meminimalkan pembengkakan dan ketidaknyamanan payudara

14. Diskusikan kebutuhan untuk istirahat yang cukup, hidrasi dan diet seimbang

15. Dorong ibu untuk memakai bra yang pas

16. Instruksikan penanganan yang tepat dari ASI perah

17. Anjurkan pasien untuk menghubungi konsultan laktasi untuk membantu dalam menentukan status pasokan susu

18. Diskusikan strategi yang bertujuan untuk mengoptimalkan pasokan susu

DAFTAR PUSTAKA

Bobak , L. 2004. Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC Bobak, L. 2005. Keperawatan Maternitas, Edisi 4. Jakarta: EGC Bobak. 2010. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC Mansjoer, Arif. et al. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Pertama. Jakarta:

Media Aesculapius. Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetry Jilid I. Jakarta: EGC Novak & Broom. 1999. Ingall and Salerno’s Maternal and Child Health Nursing, Edisi 9 Vol 2, Mosby: St. Louis Prawirohardjo, Sarwono. 2000. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:

Yayasan Bina Pustaka Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:

Yayasan Bina Pustaka Saifudin, Abdul Bari Dkk. 2000.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Suherni, dkk. 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya Wiknjosastro, Hanifa. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo