Anda di halaman 1dari 32

Laporan Praktikum Dosen Pembimbing

Teknik Reaksi Kimia Zuchra Helwani, ST.MT.PhD

TEKNOLOGI PENGOLAHAN SAWIT

Kelompok : II (Dua)
Nama : Rita P. Mendrova (1107035609)
Ryan Tito (1107021186)
Yakub J. Silaen (1107036648)

LABORATORIUM DASAR-DASAR PROSES KIMIA


PROGRAM STUDI D-III TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
2013
Abstrak
Metode ekstraksi artisanal merupakan pengembangan dari metode
tradisional. Proses pada ekstraksi artisanal dilakukan dengan menambahkan
beberapa peralatan dan alur proses sebagai cara untuk meningkatkan yield.
Tujuan percobaan ini adalah mengolah, menentukan yield dan karakteristik dari
sawit off-grade berupa kadar asam lemak bebas (ALB), kadar air dan kadar
kotoran minyak menggunakan metode artisanal. Alat yang digunakan pada
percobaan ini adalah unit sterilizer dan spindle hydraulic press. Parameter
utama yang dipelajari adalah dengan menvariasikan penambahan air panas yaitu
sebesar 10%, 20% dan 30% dari berat sawit umpan. Sterilisasi dilakukan selama
80 menit dengan tekanan press sebesar 20 barr. Yield minimum didapat pada
penambahan air panas 10% yaitu sebesar 2,54%, sedangkan yield maksimum
didapat pada penambahan air panas 30% yaitu sebesar 5,75%. Kadar ALB
minimum didapat pada penambahan air panas 10% yaitu sebesar 11,6%,
sedangkan kadar ALB maksimum didapat pada penambahan air panas 30% yaitu
sebesar 16,37%. Kadar air minimum didapat pada penambahan air panas 10%
yaitu sebesar 0,336%, sedangkan kadar air maksimum didapat pada penambahan
air panas 30% yaitu sebesar 0,961%. Kadar kotoran minimum didapat pada
penambahan air panas 10% yaitu sebesar 0,052%, sedangkan kadar kotoran
maksimum didapat pada penambahan air panas 30% yaitu sebesar 0,108%.
Secara keseluruhan, peningkatan penambahan air panas akan meningkatkan
yield, kadar ALB, kadar air dan kadar kotoran minyak dari sawit offgrade.

Kata Kunci : Artisanal, sawit offgrade, sterilisasi, yield, asam lemak bebas,
kadar air, kadar kotoran.
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Tujuan Percobaan


Tujuan percobaan teknologi pengolahan sawit antara lain:
1. Mengolah sawit off-grade menggunakan metode artisanal.
2. Menentukan yield dan karakteristik minyak dari sawit off-grade
menggunakan metode artisanal.

1.2. Dasar Teori


Sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang mempunyai peran
penting bagi subsektor perkebunan. Hilirisasi sawit antara lain memberikan
manfaat dalam peningkatan pendapatan petani dan masyarakat, menciptakan nilai
tambah di dalam negeri, penyerapan tenaga kerja, pengembangan wisata industri,
proses alih teknologi, dan untuk ekspor sebagai penghasil devisa. Diluar itu, dari
sisi pelestarian lingkungan hidup, tanaman sawit merupakan tanaman tahunan
berbentuk pohon dapat berperan dalam penyerapan efek gas rumah kaca seperti
CO2, dan mampu menghasilkan O2 atau jasa lingkungan hidup lainnya seperti
konservasi biodiversity atau ekowisata. Tanaman sawit juga menjadi sumber
pangan dan gizi utama penduduk dalam negeri, sehingga keberadaannya
berpengaruh sangat nyata dalam perkembangan ekonomi dan kesejahteraan
masyarakat. Bagian terpenting dari tumbuhan kelapa sawit yang diperlukan untuk
memperoleh minyak sawit dan minyak inti sawit adalah buah. Buah yang baik
adalah buah yang berasal dari tandan buah yang sudah matang sempurna.
Minyak yang diperoleh dari daging buah disebut minyak sawit mentah atau
Crude Palm Oil (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut
minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO). Minyak sawit yang terkandung
dalam sel sel serat adalah sekitar 20% 24% dari berat tandan sawit sedangkan
minyak inti sawit sekitar 2% - 4%.
1.2.1 Sawit off-grade
Sawit off-grade merupakan buah sawit yang berada diluar grade
kematangan buah sehingga tidak layak untuk diolah di pabrik minyak sawit CPO.
Pengklasifikasian sawit grade berdasarkan tingkat kematangan buah yaitu
mentah, kurang matang, lewat matang dan terlalu matang (busuk). Pengolahan
sawit off-grade di pabrik sawit hanya akan merusak kualitas minyak yang
dihasilkan dan berakibat pada rendahnya harga jual minyak sehingga merugikan
pihak manajemen PKS dan petani [Tim Penyusun, 2013]. Kriteria kematangan
buah sawit dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Kriteria kematangan buah sawit


Fraksi buah Sifat fraksi Jumlah brondolan
Fraksi 00 (F-00) Sangat mentah Tidak ada
Fraksi 0 (F-0) Mentah 1 12,5% buah luar
Fraksi 1 (F-1) Kurang matang 12,5 25% buah luar
Fraksi 2 (F-2) Matang 25 50% buah luar
Fraksi 3 (F-3) Matang 50 75% buah luar
Fraksi 4 (F-4) Lewat matang 75 100% buah luar
Fraksi 5 (F-5) Terlalu matang Buah dalam ikut membrondol
Sumber : Pahan, 2012

Sawit off-grade dapat terjadi karena beberapa faktor antara lain terlalu cepat
dan terlambatnya waktu pemanenan, lamanya waktu tinggal di tempat
pengumpulan hasil, maupun dipabrik serta keterlambatan sistem pengangkutan
menuju pabrik. Jika TBS yang telah dipanen tidak langsung diproses, maka akan
menyebabkan peningkatan kadar ALB ketika buah di ektraksi menjadi minyak
[Orji, 2006]. Poku [2002] menyatakan sebaiknya TBS diolah tidak lebih dari 48
jam setelah panen untuk menghambat perkembangan enzim lipase yang
meningkatkan kadar ALB.
Pemanenan buah sebaiknya dilakukan tepat pada waktu buah telah
mencapai tingkat kematangan. Pemanenan buah dalam keadaan lewat matang
akan meningkatkan kadar ALB, sebaliknya jika buah dipanen terlalu cepat akan
berakibat pada kuantitas minyak yang dihasilkan karena buah memiliki kadar air
yang tinggi [Pahan, 2012].

1.2.3 Proses Ekstraksi Buah Sawit


Proses ekstraksi buah sawit yang telah digunakan hingga saat ini yaitu
dengan menggunakan metode tradisional, artisanal, da, modern (conventional).
Perbedaan dari ketiga proses tersebut terletak pada teknologi yang digunakan serta
sumber bahan baku [Tim Penyusun, 2013].

1. Metode Tradisional

Metode pengolahan tradisional merupakan proses ekstraksi buah sawit yang


paling praktis dan sederhana namun membosankan dan tidak tepat guna [Ekine
dan Onu, 2008], prinsip pengolahan tidak begitu sulit namun kurang efisien [Altes
dan Wiemer, 1989]. Secara umum metode ini hanya mengandalkan tenaga
manusia (dilakukan secara manual) untuk mengolah buah kelapa sawit dengan
menggunakan media air panas untuk proses ekstraksi buah. Oleh karena itu
diperlukan tenaga kerja yang tidak sedikit dalam proses pengolahannya. Sumber
bahan baku yang digunakan berasal dari pekarangan rumah masyarakat. Metode
pengolahan secara tradisional merupakan metode pengolahan yang dilakukan
ditempat pemanen maupun disekitar masyarakat namun proses pengolahannya
berjalan lambat [Hyman, 1990].

Metode pengolahan tradisional hanya menghasilkan presentasi minyak


yang sedikit serta kualitas minyak yang rendah. Faktor utama penyebabnya adalah
tahapan proses dan peralatan yang digunakan. Secara umum tahapan proses yang
digunakan terdiri dari pelumatan buah, pemisahan fiber dan nut, dan
mengekstraksi minyak dengan cara merendam hasil buah pelumatan (digester)
menggunakan air panas. Minyak yang diperoleh memiliki kualitas yang buruk
(kadar ALB, kadar kotoran dan kadar air tinggi ) karena menggunakan teknologi
yang sederhana (low technology) [Zu dkk, 2012]. Minyak yang dihasilkan
memiliki dua type yaitu soft oil dan hard oil. Soft oil memiliki kadar ALB 7
12% dan hard oil pada umumnya 20% namun dapat mencapai 30 50% [Hyman,
1990].

Adzimah dan seckley [2009] menyatakan untuk melumat buah pada


bagian digester pengolahan dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia.
Pelumatan buah dapat dilakukan dengan dengan secara loaked/pounding dan foot
tramping. Motede pounding dilakukan dengan cara menumbuk buah didalam
lumpang (lesung) menggunakan alat penumbuk (mortar) dan foot tramping
merupakan metode pelumatan dengan cara menginjak injak buah.

2. Metode Artisanal

Metode ekstraksi artisanal merupakan pengembangan metode tradisional.


Pada ekstraksi artisanal proses produksi dilakukan dengan menambah beberapa
peralatan dan alur proses sebagai cara untuk meningkatkan yield (rendemen).
penambahan peralatan berupa alat pengepres merupakan langkah untuk
meningkatkan yield (rendemen). Pengepres yang digunakan ada dioperasikan
secara manual dan menggunakan motor sebagai pengerak alat. Keuntungan
metode ekstraksi artisanal yaitu mudah digunakan, biaya produksi murah, bisa
dilakukan oleh pekerja yang tidak memiliki keterampilan, dan kerja yang
digunakan tidak banyak [Hyman, 1990]. Sumber bahan baku diproduksi berasal
dari petani.

Pada umumnya pengepresan yang digunakan pada metode artisanal yaitu


hydraulic press. Beberapa jenis pengepresan lain yang dapat digunakan yaitu
spindle press, dan UNATA press. Pertimbangan pemilihan alat press berdasarkan
kemampuan pengepresan untuk mengeluarkan minyak dan berdasarkan
pertimbangan ekonomis. Untuk pengepresan yang menggunakan motor memiliki
konversi yang tinggi namun tidak ekonomis [Hyman, 1990].
3. Metode Modern (conventional)

Metode ekstraksi modern merupakan proses pengolahan sawit yang


mementingkan yield (rendemen) dan kualitas minyak. Peralatan yang digunakan
dan proses pengolahan menjadi prioritas untuk menghasilkan yield (rendemen)
yang diinginkan dan kualitas sesuai dengan standar. Yield (rendemen) dan mutu
minyak sangat mempengaruhi nilai jual sehingga memiliki faktor penting agar
tidak terjadi kerugian pihak menajemen pabrik [Hyman, 1990].

Teknologi proses yang digunakan pada metode ini full mechanized dan
sistem pengolahannya dilakukan secermat mungkin agar sasaran produk yang
diinginkan dapat tercapai. Bahan baku yang digunakan berupa TBS yang berasal
dari kebun inti, plasma, maupun pihak ketiga.

1.2.4 Minyak Kelapa Sawit


Minyak kelapa sawit dapat dihasilkan dari inti kelapa sawit yang dinamakan
minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil) dan bungkil inti kelapa sawit (palm
kernel meal atau pellet). Minyak kelapa sawit mengandung beberapa asam lemak
yaitu asam kaprilat, asam kaproat, asam laurat, asam miristat, asam palmitat, asam
stearat, asam oleat, dan asam linoleat. Sifat fisiko-kimia minyak kelapa sawit
meliputi warna, bau dan flavor, kelarutan, titik cair dan polimorphism, titik didih
(boiling point), titik pelunakan (slipping point), shot melting point, bobot jenis,
indeks bias, titik kekeruhan (turbidity point), titik asap, titik nyala, dan titik api.
Standar mutu merupakan hal yang penting untuk menentukan minyak yang
bermutu baik. Ada beberapa faktor yang menentukan standar mutu yaitu:
kandungan air dan kotoran dalam minyak, kandungan asam lemak bebas, warna,
dan bilangan peroksida.
Faktor lain yang mempengaruhi standar mutu adalah titik cair dan
kandungan gliserida, refining loss, plastisitas dan spreadability, kejernihan
kandungan logam berat dan bilangan penyabunan. Mutu minyak kelapa sawit
yang baik mempunyai kadar air kurang dari 0,1 persen dan kadar kotoran lebih
kecil dari 0,01 persen, kandungan asam lemak bebas serendah mungkin (kurang
lebih 2 persen atau kurang), bilangan peroksida di bawah 2, bebas dari warna
merah dan kuning.

1.2.5 Komposisi Minyak Kelapa Sawit


Komposisi yang terdapat dalam minyak sawit terdiri dari trigliserida-
trigliserida asam lemak (mempunyai kadar terbanyak dalam minyak nabati,
mencapai sekitar 95%), asam lemak bebas (Free Fatty Acid atau biasa disingkat
dengan FFA), mono- dan digliserida, serta beberapa komponen-komponen lain
seperti phosphoglycerides, vitamin, mineral, atau sulfur. Bahan-bahan mentah
pembuatan CPO adalah:
a. trigliserida-trigliserida, yaitu komponen utama aneka lemak dan minyak-
lemak.
b. asam-asam lemak, yaitu produk samping industri pemulusan (refining)
lemak dan minyak-lemak.
Komponen komponen lemak yang terdeteksi pada minyak sawit terdiri
dari trigliserida (trilaurin, trimiristin, tripalmitin, tristsearin); digliserida
(distearin); monogliserida (laurat, palmitat, oleat); serta fosfolipid dan karotenoid.
Pada setiap tahapan proses jumlah komponen lemak ini menurun, komponen yang
masih tinggi pada minyak sawit kasar (CPO dari screw press), setelah melalui
pemisahan air dengan vacuum drying dan proses klarifikasi terjadi penurunan,
bahkan beberapa komponen tidak terdeteksi lagi.
Asam lemak dalam minyak sawit terdiri dari asam laurat, asam miristat,
asam palmitat, asam stearat, dan asam oleat. Dalam minyak inti sawit terdiri dari
asam kaprat, asam kaprilat, asam laurat, asam miristat, asam palmitat, asam
stearat dan asam oleat, yang meningkat konsentrasinya searah dengan peningkatan
umurnya. Pada umumnya minyak sawit mengandung lebih banyak asam-asam
palmitat, oleat dan linoleat jika dibandingkan dengan minyak inti sawit. Minyak
sawit merupakan gliserida yang terdiri dari berbagai asam lemak, sehingga titik
lebur dari gliserida tersebut tergantung pada kejenuhan asam lemaknya. Semakin
jenuh asam lemaknya semakin tinggi titik lebur dari minyak sawit tersebut.
Minyak sawit dan minyak inti sawit dari buah tua (13 minggu)
kecerahannya lebih rendah daripada yang berumur 16 dan 20 minggu. Titik cair
yang tertinggi ditemukan pada minyak dari mesokarp yang berumur 10 dan 16
minggu (45 - 85oC), sedangkan titik cair minyak inti sawit hampir sama, baik
yang dewasa ataupun yang tua, (15,5 - 16,3oC). Bilangan iod minyak inti sawit
sekitar 20,4 - 23,5 sedangkan bilangan iod minyak sawit 50,6 59. Masing-
masing setiap umurnya, tidak berubah. Pada minyak sawit tidak terjadi perubahan
yang nyata terhadap bilangan peroksidanya yang sangat rendah (0,9-1,4 meq/1000
gr), tetapi pada minyak inti sawit meningkat sejalan dengan peningkatan umur
panen, bahkan pada saat lewat matang ditemukan bilangan peroksida yang sangat
tinggi (16,4 meq/1000 gr), meskipun pada umur 16 minggu masih berada pada
batas yang masih dapat ditolerir (3,5 meq/1000 gr). Komponen penyusun minyak
sawit terdiri dari trigliserida dan nontrigliserida. Asam-asam lemak penyusun
trigliserida terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.

1.2.6 Parameter Mutu Minyak


Standar mutu sangat penting untuk menentukan minyak memiliki mutu yang
bagus atau tidak. Penentuan mutu minyak perlu dilakukan karena berpengaruh
pada daya jual minyak sawit. Apabila minyak sawit memiliki mutu yang kurang
bagus, maka nilai jual minyak menjadi rendah. Oleh karena itu pengendalian mutu
minyak memiliki faktor terpenting dalam proses pengolahan TBS. Parameter
mutu minyak sawit diantaranya kadar ALB, kadar kotoran, dan kadar air. Standar
mutu yang digunakan untuk minyak sawit di Indonesia diperlihatkan pada Tabel
1.2.
Tabel 1.2 Syarat mutu minyak sawit mentah
Kriteria Uji Satuan Persyaratan mutu
Warna - Jingga kemerah-merahan
Kadar air dan kotoran %, fraksi massa 0,5 maks
Asam lemak bebas
%, fraksi massa 5 maks
(sebagai asam palmitat)
Sumber : SNI 01-29-2006
a) Kadar asam lemak bebas
Asam lemak bebas (ALB) merupakan asam yang tidak terikat dengan
gliserida disebabkan karena terjadinya reaksi hidrolisa maupun oksidase. Reaksi
hidrolisa akan dipercepat dengan adanya faktor panas, air, keasaman, dan katalis
(enzim lipase). Semakin lama reaksi hidrolisa berlangsung, maka semakin banyak
kadar ALB yang terbentuk. Reaksi oksidasi minyak sawit akan menghasilkan
senyawa aldehid dan keton yang menyebabkan bau tengik. Pengaruh lain yang
disebabkan dari reaksi oksidasi yaitu perubahan warna, penurunan vitamin dalam
minyak, dan dapat menyebabkan keracunan [Ketaren, 1986]. Kadar ALB
maksimal pada CPO yang diolah yaitu 5% [SNI 01-29-2006].

b) Kadar air
Kadar air yang terdapat dalam minyak tergantung pada efektivitas
pengolahan buah serta tingkat kematangan buah. Proses pengolahan di pabrik
tidak terlepas dari air karena merupakan bahan penunjang proses ekstraksi.
Tingkat kematangan buah juga mempengaruhi kadar air dalam minyak. Buah
sawit yang terlalu matang akan memiliki kadar air lebih banyak sedangkan buah
mentah memiliki sedikit kadar minyak. Untuk itu diperlukan sistem pemanenan
tepat waktu dan pengolahan yang efektif agar minyak yang diperoleh memiliki
mutu yang berkualitas. Kadar air maksimal pada CPO yang diolah yaitu 0,1%
[Ketaren, 1986].

c) Kadar kotoran
Kadar kotoran adalah keseluruhan bahan-bahan asing yang tidak larut dalam
minyak dan dinyatakan dengan persen (%) zat pengotor terhadap minyak atau
lemak. Pada umumnya penyaringan minyak dilakukan dengan rangkaian proses
pengendapan yaitu sentrifugasi. Metode sentrifugasi hanya dapat menyaring
kotoran yang berukuran besar, tetapi kotoran yang berupa serabut dan yang
berukuran kecil sulit disaring karena tidak ada perbedaan berat jenis dengan
minyak. Kadar kotoran maksimal pada CPO yang diolah yaitu 0,01% [Ketaren,
1986]

1.2.7 Karakteristik Minyak Kelapa Sawit


Adapun karakteristik minyak sawit yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel
1.3.

Tabel 1.3 Karakteristik Minyak Sawit


No. Karakteristik Nilai

1 Specific gravity pada 37,8 oC 0,898-0,901

2 Iodine Value 44-58

3 Saponification Value 195-205

4 Unsaponification Value, % < 0,8

6 Titer, oC 40-47
BAB II

PERCOBAAN

2.1 Alat dan bahan


Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan teknologi pengolahan sawit
menjadi CPO adalah sawit off-grade dan air, sedangkan untuk pengujian
karakteristik CPO, bahan-bahan yang digunakan adalah KOH 0,1 N, asam oksalat
0,1 N, pelarut etanol 95%, pelarut heksan, indikator fenolftalein dan aquadest.
Peralatan utama yang digunakan terdiri dari unit sterilisasi (pengukusan) dan
pengepres. Sistem pengukusan yang digunakan yaitu menggunakan steam basah
dimana steam dihasilkan di dalam tempat yang sama dengan brondolan yang akan
dikukus. Pengepres yang akan digunakan adalah jenis spindle hydraulic press.
Sedangkan peralatan yang digunakan untuk menganalisa karakteristik adalah
erlenmeyer 250 ml, gelas ukur 50 ml, labu ukur 1 L, penangas air, buret 50 ml,
statif, neraca digital, desikator, wadah, oven, kertas saring whatman, pompa
vakum, corong pisah, dan pipet tetes. Rangkaian peralatan yang digunakan dapat
dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1 Peralatan percobaan teknologi pengolahan sawit offgrade dengan


metode artisanal.
2.2 Prosedur Percobaan
2.2.1 Pengolahan Kelapa Sawit
Prosedur atau langkah kerja dalam percobaan pengolahan sawit off-grade
menggunakan metode artisanal adalah sebagai berikut :
1. Mencuci sawit off-grade untuk menghilangkan kotoran-kotoran berupa
pasir dan kelopak buah.
2. Memanaskan air di dalam dandang (sterillizer) hingga suhu steam yang
terbentuk kurang lebih 100oC.
3. Menimbang brondolan seberat 3 kg kemudian memasukkannya kedalam
dandang untuk dikukus selama 80 menit.
4. Setelah waktu pengukusan tercapai, kemudian mengepress brondolan
menggunakan spindle hydraulic press dengan tekanan 20 bar dan variasi
penambahan air panas sebanyak 10%, 20% dan 30% dari berat umpan
sawit.
5. Mendiamkan minyak dalam corong pisah sampai terbentuk dua lapisan
yaitu minyak dan air, kemudian memisahkannya.
6. Menimbang hasil minyak yang diperoleh untuk menghitung yield
minyak.
7. Menganalisa minyak untuk mengetahui karakteristik minyak, berupa
kadar asam lemak bebas, kadar air dan kadar kotoran.

2.2.2 Perhitungan Yield Minyak


Yield minyak dihitung dengan menggunakan persamaan:

= 100% (Owolarafe, 2008)

Keterangan :
Y : Yield
Moe : Mass of oil extracted
Mm : Mass of the mash
2.2.3 Uji Kadar Asam Lemak Bebas
Kadar asam lemak bebas dihitung sebagai persentase berat asam
palmitat dan dilakukan dengan metode titrasi. Larutan titar yang digunakan yaitu
larutan kalium hidroksida (KOH) 0,1 N yang dibuat dengan cara melarutkan 5,6
gram KOH dalam 1 liter air suling, kemudian distandarisasi dengan larutan asam
oksalat 0,1 N dengan cara :
1. Menimbang 6,3 gram asam oksalat lalu menambahkan aquades pada labu
ukur 1 L hingga tapal batas.
2. Memasukkan larutan kedalam erlenmeyer sebanyak 25 ml
3. Menambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein
4. Menitrasi dengan larutan titar hingga timbul warna merah muda (merah
jambu) yang stabil.
. .
=

Uji kadar asam lemak bebas dilakukan dengan cara:


1. Memanaskan minyak hasil percobaan pada suhu 60oC sampai 70oC
kemudian diaduk hingga homogen.
2. Menimbang contoh uji sebanyak 2,5; 5 dan 10 gram dalam erlenmeyer
250 ml.
3. Menambahkan 50 ml pelarut etanol 95%.
4. Memanaskan diatas penangas air dan mengatur suhunya pada 40oC
sampai contoh minyak larut semuanya.
5. Menambahkan larutan indikator fenolftalein sebanyak 1-2 tetes.
6. Mentitrasi dengan larutan titar KOH 0,1 N sambil digoyang-goyang
hingga mencapai titik akhir yang ditandai dengan perubahan warna
menjadi merah muda yang stabil untuk minimal 30 detik.
7. Mencatat penggunaan ml larutan titar.
8. Melakukan analisa sekurang-kurangnya duplo, dengan perbedaan antara
kedua hasil uji tidak boleh melebihi 0,05%.
Persentase asam lemak bebas dihitung sebagai asam palmitat dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
25,6
% =

Keterangan :
V = volume larutan titar yang digunakan (ml)
N = normalitas larutan titar
W = berat contoh uji (gr)
25,6 = konstanta untuk menghitung kadar ALB sebagai asam palmitat

2.2.4 Uji Kadar Air


1. Mengeringkan wadah yang akan dipakai di dalam oven pada suhu 103oC
untuk sedikitnya 15 menit, kemudian didingankan dalam desikator
selama 15 menit lalu ditimbang.
2. Melelehkan contoh minyak dengan pemanasan pada suhu 20oC sampai
50oC dan kemudian diaduk rata.
3. Menimbang 10 gram contoh uji minyak, kemudian dimasukkan ke dalam
wadah dan didinginkan di dalam desikator hingga suhu minyak mencapai
suhu ruang, kemudian ditimbang.
4. Memanaskan dalam oven pada suhu 130oC 2oC selama 30 menit,
kemudian segera dimasukkan kedalam desikator untuk didinginkan
selama 15 menit, lalu ditimbang.
5. Mengulangi pemanasan dalam oven selama 30 menit, mendinginkan
dalam desikator dan menimbang beberapa kali sampai selisih berat antara
dua penimbangan berturut-turut tidak melebihi 0,02% dari berat contoh
uji.

Kadar air dihitung berdasarkan rumus di bawah ini dan dinyatakan dalam tiga
desimal :

% = 100%

Keterangan :
Initial weight : berat wadah + berat minyak sebelum dioven (gr)
Final weight : berat wadah + berat minyak setelah dioven (gr)

2.2.5 Uji Kadar Kotoran


1. Menggunakan contoh uji hasil penentuan kadar air yang sudah diketahui
beratnya.
2. Mencuci alat penyaring yang akan dipakai dengan pelarut, dikeringkan
dalam oven pada suhu 103oC selama 30 menit, dan didinginkan dalam
desikator selama 15 menit dan kemudian ditimbang.
3. Menambahkan 50 ml pelarut heksan kedalam contoh tersebut dan
memanaskan pada penangas air sampai minyak larut semua dan
kemudian menyaring melalui alat penyaring.
4. Melakukan pencucian beberapa kali dengan menggunakan pelarut setiap
kalinya 10 ml sampai penyaring bersih dari minyak.
5. Mengeringkan alat penyaring dengan seluruh isinya dalam oven pada
suhu 103oC 2oC selama 30 menit.
6. Mendinginkan dalam desikator selama 15 menit kemudian ditimbang.

Kadar kotoran dihitung berdasarkan rumus di bawah ini dan dinyatakan dalam
tiga desimal :

% = 100%

Keterangan :
Weight of dirty = berat kotoran (gr)
Weight of oil = berat minyak (gr)
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Percobaan


Hasil percobaan teknologi pengolahan sawit untuk menentukan yield dan
karakteristik minyak dari sawit offgrade menggunakan metode artisanal dengan
memvariasikan penambahan air panas (10, 20 dan 30%) disajikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Hasil percobaan
Penambahan
Yield Kadar ALB Kadar air Kadar kotoran
air panas
(%) (%) (%) (%)
(%)
10 2,54 11,6 0,336 0,052
20 3,23 15,79 0,682 0,086
30 5,75 16,37 0,961 0,108

3.2 Pembahasan
Tahapan proses dari percobaan teknologi pengolahan sawit yaitu dimulai
dengan pencucian sawit offgrade untuk menghilangkan kotoran berupa pasir dan
kelopak bunga. Pencucian juga bertujuan untuk memilih atau menyortir kembali
buah sawit yang akan digunakan. Buah sawit yang telah busuk, luka, maupun
terlalu kecil dipisahkan dan tidak digunakan. Langkah selanjutnya yaitu
memanaskan air di dalam dandang (sterilizer) hingga suhu steam yang terbentuk
kurang lebih 100oC. Steam digunakan untuk mengukus brondolan sawit.
Brondolan sawit ditimbang sebanyak 3 kg dan dimasukkan ke dalam
dandang kemudian ditutup rapat. Pengukusan dilakukan selama 80 menit dengan
menggunakan api kecil. Pengukusan bertujuan untuk menonaktifkan enzim lipase
dan oksidase yang terdapat di dalam sawit serta mengurangi kadar air yang
terkandung di dalam sawit. Setelah dilakukan proses pengukusan, brondolan sawit
dikeluarkan dari dandang dan di masukkan ke dalam spindle hydraulic press.
Brondolan sawit kemudian dikempa dengan tekanan sebesar 20 barr. Selama
proses pengempaan, dilakukan penambahan air panas secara bertahap. Percobaan
teknologi pengolahan sawit dilakukan dengan memvariasikan penambahan air
panas yaitu 10%, 20% dan 30% dari berat sawit umpan. Volume air panas yang
digunakan pada penambahan air panas 10%, 20% dan 30% secara berturut-turut
sebanyak 300 ml, 600 ml, dan 900 ml. Minyak sawit yang keluar dari alat press
ditampung dengan menggunakan wadah. Proses pengempaan dihentikan jika
sudah tidak ada lagi minyak yang keluar dari spindle hydraulic press.
Minyak sawit kemudian dimasukkan ke dalam corong pisah dan di diamkan
sampai terbentuk dua lapisan. Lapisan atas merupakan minyak sedangkan lapisan
bawah adalah air dan pengotor-pengotor lainnya. Lapisan bawah dibuang,
sedangkan lapisan atas (minyak) dimasukkan ke dalam wadah. Minyak yang
didapat di timbang untuk menghitung yieldnya, kemudian dianalisa untuk
mengetahui karakteristik minyak sawit berupa kadar asam lemak bebas, kadar air
dan kadar kotoran.

3.2.1 Pengaruh Penambahan Air Panas terhadap Yield


Percobaan teknologi pengolahan sawit dilakukan dengan memvariasikan
penambahan air panas yaitu 10%, 20%, dan 30% dari berat umpan sawit. Minyak
sawit yang didapat pada penambahan air panas 10% yaitu sebanyak 76,19 gram,
pada penambahan air panas 20% didapat sebanyak 96,86 gram, sedangkan pada
penambahan air panas 30% didapat sebanyak 172,5 gram.

6
5.75
5

4
Yield (%)

3 3.23
2 2.54

0
0 10 20 30
Penambahan air panas (%)
Gambar 3.1 Kurva hubungan antara penambahan air panas terhadap yield minyak
dari sawit offgrade.
Yield merupakan perbandingan antara berat hasil dengan berat umpan (Tim
Penyusun, 2013). Hasil yield yang didapat pada variasi penambahan air panas
disajikan pada Gambar 3.1. Berdasarkan Gambar 3.1 dapat dilihat bahwa yield
semakin meningkat seiring bertambahnya persen penambahan air panas. Yield
minimum didapat pada penambahan air panas 10% yaitu sebesar 2,54%,
sedangkan yield maksimum didapat pada penambahan air panas 30% yaitu
sebesar 5,75%.
Minyak sawit akan terperas keluar karena adanya tekanan dari piston ketika
dilakukan proses pengempaan. Pada awal pengempaan, minyak sawit yang
terperas cukup banyak, kemudian kuantitasnya berkurang sedikit demi sedikit.
Minyak sawit yang terperas tidak seluruhnya keluar dari alat pengempa, namun
ada juga yang tertinggal di dalam silinder maupun dicelah antarbuah sawit. Ketika
ditambahkan air panas, minyak akan terbawa oleh air keluar dari silinder.
Semakin banyak volume air panas yang ditambahkan, maka semakin banyak
minyak yang terbawa dan terperas sehingga meningkatkan yieldnya.

3.2.2 Pengaruh Penambahan Air Panas terhadap Kadar Asam Lemak Bebas

20

15 15.79 16.37
Kadar ALB (%)

11.6
10
Berat Minyak
Uji 2,5 gram

0
0 10 20 30

Penambahan air panas (%)

Gambar 3.2 Kurva hubungan antara penambahan air panas terhadap kadar ALB
minyak dari sawit offgrade.
Penentuan kadar asam lemak bebas (ALB) dilakukan dengan
memvariasikan berat contoh uji, yaitu 2,5 gram, 5 gram dan 10 gram. Pada
percobaan ini, contoh uji yang dibahas yaitu contoh uji dengan berat 2,5 gram
saja. Hasil penentuan kadar ALB yang didapat pada variasi penambahan air panas
disajikan pada Gambar 3.2.
Berdasarkan Gambar 3.2 dapat dilihat bahwa kadar ALB semakin
meningkat seiring bertambahnya persen penambahan air panas. Kadar ALB
minimum didapat pada penambahan air panas 10% yaitu sebesar 11,6%,
sedangkan kadar ALB maksimum didapat pada penambahan air panas 30% yaitu
sebesar 16,37%.
Salah satu penyebab tingginya kadar ALB sawit yaitu karena terjadinya
reaksi hidrolisa antara minyak dengan air. Proses pengempaan akan menyebabkan
daging buah menjadi pecah, sehingga minyak dapat keluar dari sawit. Ketika
ditambahkan air panas, terjadi kontak antara minyak dalam buah sawit dengan air,
sehingga terjadi reaksi hidrolisa. Semakin lama reaksi hidrolisa berlangsung
(kontak antara minyak dan air semakin banyak), maka semakin tinggi kadar ALB
yang terbentuk [Ketaren, 1986]. Oleh karena itu, penambahan air panas 30%
menghasilkan minyak dengan kadar ALB yang lebih tinggi dibandingkan dengan
penambahan air panas 10% dan 20%.

3.2.3 Pengaruh Penambahan Air Panas terhadap Kadar Air


Pengaruh penambahan air panas terhadap kadar air dari minyak sawit
offgrade disajikan pada Gambar 3.3. Berdasarkan Gambar 3.3 dapat dilihat bahwa
kadar air semakin meningkat seiring bertambahnya persen penambahan air panas.
Kadar air minimum didapat pada penambahan air panas 10% yaitu sebesar
0,336%, sedangkan kadar air maksimum didapat pada penambahan air panas 30%
yaitu sebesar 0,961%.
1
0,961

Kadar Air (%) 0.8


0,682
0.6

0.4
0,336

0.2

0
0 10 20 30

Penambahan air panas (%)

Gambar 3.3 Kurva hubungan antara penambahan air panas terhadap kadar air
dari minyak sawit offgrade.

Minyak sawit yang terperas tidak seluruhnya keluar dari alat pengempa,
namun ada juga yang tertinggal di dalam silinder maupun dicelah antarbuah sawit.
Ketika ditambahkan air panas, minyak akan terbawa oleh air keluar dari silinder.
Semakin banyak volume air panas yang ditambahkan, maka semakin banyak
minyak yang berkontakan langsung dengan air sehingga meningkatkan kadar
airnya.

3.2.4 Pengaruh Penambahan Air Panas terhadap Kadar Kotoran


Pengaruh penambahan air panas terhadap kadar kotoran minyak dari sawit
offgrade disajikan pada Gambar 3.4. Berdasarkan Gambar 3.4 dapat dilihat bahwa
kadar kotoran minyak semakin meningkat seiring bertambahnya persen
penambahan air panas. Kadar kotoran minimum didapat pada penambahan air
panas 10% yaitu sebesar 0,052%, sedangkan kadar kotoran maksimum didapat
pada penambahan air panas 30% yaitu sebesar 0,108%.
0.15

Kadar kotoran (%)


0.1 0.108

0.086

0.05 0.052

0
0 10 20 30

Penambahan air panas (%)

Gambar 3.4 Kurva hubungan antara penambahan air panas terhadap kadar
kotoran minyak dari sawit offgrade.

Minyak sawit yang terperas tidak seluruhnya keluar dari alat pengempa,
namun ada juga yang tertinggal di dalam silinder maupun dicelah antarbuah sawit.
Selain minyak, juga terdapat kotoran-kotoran yang berukuran kecil. Kotoran ini
bisa jadi berasal dari sawit yang kurang bersih ketika dilakukan pencucian
maupun dari silinder (silinder tidak dibersihkan terlebih dahulu). Ketika
ditambahkan air panas, kotoran akan terbawa oleh air keluar dari silinder.
Semakin banyak volume air panas yang ditambahkan, maka semakin banyak
kotoran yang terbawa oleh air sehingga meningkatkan kadar kotorannya.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan
1. Yield semakin meningkat seiring bertambahnya persen penambahan air
panas. Yield minimum didapat pada penambahan air panas 10% yaitu
sebesar 2,54%, sedangkan yield maksimum didapat pada penambahan air
panas 30% yaitu sebesar 5,75%.
2. Kadar asam lemak bebas (ALB) semakin meningkat seiring bertambahnya
persen penambahan air panas. Kadar ALB minimum didapat pada
penambahan air panas 10% yaitu sebesar 11,6%, sedangkan kadar ALB
maksimum didapat pada penambahan air panas 30% yaitu sebesar 16,37%.
3. Kadar air semakin meningkat seiring bertambahnya persen penambahan air
panas. Kadar air minimum didapat pada penambahan air panas 10% yaitu
sebesar 0,336%, sedangkan kadar air maksimum didapat pada penambahan
air panas 30% yaitu sebesar 0,961%.
4. Kadar kotoran minyak semakin meningkat seiring bertambahnya persen
penambahan air panas. Kadar kotoran minimum didapat pada penambahan
air panas 10% yaitu sebesar 0,052%, sedangkan kadar kotoran maksimum
didapat pada penambahan air panas 30% yaitu sebesar 0,108%.

4.2. Saran
Pada percobaan ini, praktikan menghabiskan banyak waktu hanya untuk
melakukan penimbangan dan pengovenan bahan maupun minyak hasil percobaan
dari satu laboratorium ke laboratorium lainnya. Seharusnya peralatan percobaan
teknologi pengolahan kelapa sawit, seperti misalnya neraca digital dan oven,
tersedia dengan lengkap di dalam laboratorium dasar-dasar proses kimia.
DAFTAR PUSTAKA

Ekine, D.I., dan Onu, M. E. 2008. Economic of small-scale palm iol processing in
Ikwerre and Etche local government areas of river state, Nigeria. Jurnal of
agricultural and social research, 8(2), 150 158.
Hyman, E. L. 1990. An economic analysis of small-scale technologies for palm oil
extraction in central and west africa. World development, 18(3), 455 476.
Ketaren, S. 1986. Pengantar teknologi minyak dan lemak pangan. UI Press.
Jakarta.
Orji, M.U., dan Mbata. T. I. 2008. Effect of extraction methods on the quality and
spoilage of Nigerian palm oil. African journal of biochemistry research, 2 (9),
192 196.
Owolarafe, O. K., Taiwo, E. A., dan Oke, O. O. 2008. Effect of processing
condition on yield and quality of hydraulically expressed palm oil.
International agrophysics, 22, 349 352.
Pahan, I. 2012. Panduan Lengkap : Kelapa sawit. Cetakan Xi. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Poku, K. 2002. Small-scale palm processing in africa. FAO Agricultural service
bulletin, 148, Rome, Italy, 3 30.
Tim Penyusun. 2013. Penuntun Praktikum Teknik Reaksi Kimia. Pekanbaru :
Program Studi D-III Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau.
Wiemer, H. J., dan Altes, F. W. K. 1989. Small scale processing of oilfruit and
oilseeds. Deutsches Zentrum fur entwicklungstrechnologien. Deutsche
Gesellschaft fur technische zummenarbeit.
Zu, K. S. A., Nsiah. A., dan Bani, R. J. 2012. Effect of processing equipment and
duration of storage of palm fruit on palm oil yield and quality in the
Kwaebibrem District, Ghana. Agricultural research and reviews, 1(1), 1825.
LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

A.1. Menghitung Yield Minyak


Penambahan air panas 10% (300 ml)

= 100 %

76,19
= 100%
3000

= 2,54%

Penambahan air panas 20% (600 ml)



= 100 %

96,86
= 100%
3000

= 3,23%

Penambahan air panas 30% (900 ml)



= 100 %

172,5
= 100%
3000

= 5,75%

A.2. Uji Kadar Asam Lemak Bebas (ALB)


Penambahan air panas 10% (300 ml)
Volume KOH yang digunakan (V) = 10,1 ml
Normalitas larutan KOH (N) = 0,1126 N
Berat sampel minyak uji (W) = 2,5 gr

25,6
= 100%

25,6 0,1126 10,1
= 100%
2,5
= 11,6 %

Penambahan air panas 20% (600 ml)


Volume KOH yang digunakan (V) = 13,7 ml
Normalitas larutan KOH (N) = 0,1126 N
Berat sampel minyak uji (W) = 2,5 gr

25,6
= 100%

25,6 0,1126 13,7
= 100%
2,5
= 15,79 %

Penambahan air panas 30% (900 ml)


Volume KOH yang digunakan (V) = 14,2 ml
Normalitas larutan KOH (N) = 0,1126 N
Berat sampel minyak uji (W) = 2,5 gr

25,6
= 100%

25,6 0,1126 14,2
= 100%
2,5
= 16,37 %
A.3. Uji Kadar Air
Penambahan air panas 10% (300 ml)
Initial weight = 71,76 gr
Final weight = 71,52 gr


% = 100

(71,76 71,52)
= 100
71,52
= 0,336

Penambahan air panas 20% (600 ml)


Initial weight = 69,40 gr
Final weight = 68,93 gr


% = 100

(69,40 68,93)
= 100
68,93
= 0,682

Penambahan air panas 30% (900 ml)


Initial weight = 30,157 gr
Final weight = 29,87 gr


% = 100

(30,157 29,87)
= 100
29,87
= 0,961
A.4. Uji Kadar Kotoran
Penambahan air panas 10% (300 ml)
Final weight = 71,52 gr
Berat wadah kosong = 61,26 gr
Berat minyak = Final weight berat wadah kosong
= (71,52 61,26) gr
= 10,26 gr
Berat awal penyaring = 0,958 gr
Berat akhir penyaring = 1,492 gr
Berat kotoran = Berat akhir berat awal
= (1,492 0,958) gr
= 0,534 gr


% = 100

0,534
= 100
10,26
= 0,052

Penambahan air panas 20% (600 ml)


Final weight = 68,93 gr
Berat wadah kosong = 59,40 gr
Berat minyak = Final weight berat wadah kosong
= (68,93 59,40) gr
= 9,53 gr
Berat awal penyaring = 0,963 gr
Berat akhir penyaring = 1,783 gr
Berat kotoran = Berat akhir berat awal
= (1,783 0,963) gr
= 0,82 gr

% = 100

0,82
= 100
9,53
= 0,086

Penambahan air panas 30% (900 ml)


Final weight = 29,87 gr
Berat wadah kosong = 20,097 gr
Berat minyak = Final weight berat wadah kosong
= (29,87 20,097) gr
= 9,773 gr
Berat awal penyaring = 0,969 gr
Berat akhir penyaring = 2,024 gr
Berat kotoran = Berat akhir berat awal
= (2,024 0,969) gr
= 1,055 gr


% = 100

1,055
= 100
9,773
= 0,108
LAMPIRAN B

LAPORAN SEMENTARA

Judul Praktikum : Teknologi Pengolahan Sawit


Hari/Tanggal Praktikum : Selasa/26 November 2013
Pembimbing : Zuchra Helwani, ST., MT., PhD
Asisten Laboratorium : Romie Zulfadli
Nama Kelompok III : Rita Puriani Mendrova (1107035609)
Ryan Tito (1107021186)
Yakub Jeffery Silaen (1107036648)
Hasil Percobaan :

Berat umpan : 3.000 gram


Waktu sterilisasi : 80 menit
Tekanan Hydraulic spindle press : 20 barr
Penambahan air panas : 10%, 20% dan 30% dari berat umpan.
Penambahan air panas 10%
10
= 3.000 = 300 = 300
100
Penambahan air panas 20%
20
= 3.000 = 600 = 600
100
Penambahan air panas 30%
30
= 3.000 = 900 = 900
100
Asumsi bahwa air = 1 gr/ml

Standarisasi larutan KOH dengan menggunakan larutan Asam oksalat 0,1 N


- Volume KOH yang digunakan (VKOH) = 22,2 ml
- Normalitas larutan Asam oksalat (N) = 0,1 N
- Volume Asam oksalat (V C2H2O4.2H2O) = 25 ml

=

0,1 25
=
22,2
= 0,1126 N

Tabel B.1 Data hasil yield yang diperoleh pada berbagai variasi penambahan air
panas (10, 20 dan 30%)
Penambahan air panas Berat umpan Berat minyak Berat ampas Yield
(%) (gram) (gram) (gram) (%)
10 3.000 76,19 2.300 2,54
20 3.000 96,86 2.550 3,23
30 3.000 172,5 2.700 5,75

Tabel B.2 Data hasil uji kadar asam lemak bebas dari minyak sawit offgrade pada
berbagai variasi penambahan air panas (10, 20 dan 30%)
Penambahan air panas Berat minyak uji Volume KOH Asam lemak bebas
(%) (gram) (ml) (%)
2,5 10,1 11,6
10 5 14,4 8,3
10 9,8 2,8
2,5 13,7 15,79
20 5 13,2 7,6
10 11,4 3,2
2,5 14,2 16,37
30 5 18,2 10,5
10 15,7 4,5
Tabel B.3 Data hasil uji kadar air minyak dari sawit offgrade pada berbagai
variasi penambahan air panas (10, 20 dan 30%)
Berat
Penambahan Berat Berat
wadah Berat akhir Kadar air
air panas minyak uji awal
kosong (gram) (%)
(%) (gram) (gram)
(gram)
10 61,26 10,5 71,76 71,52 0,336
20 59,40 10 69,40 68,93 0,682
30 20,097 10,06 30,157 29,87 0,961

Tabel B.4 Data hasil uji kadar kotoran minyak dari sawit offgrade pada berbagai
variasi penambahan air panas (10, 20 dan 30%)
Berat Berat
Penambahan Berat Berat Kadar
penyaring penyaring
air panas minyak Kotoran kotoran
awal akhir
(%) (gram) (gram) (%)
(gram) (gram)
10 10,26 0,958 1,492 0,534 0,052
20 9,53 0,963 1,783 0,82 0,086
30 9,773 0,969 2,024 1,055 0,108

Pekanbaru, 29 November 2013


Asisten Laboratorium,

Romie Zulfadli