Anda di halaman 1dari 8

TEORI SEKTORAL

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perekonomian yang sebenarnya corak kegiatan ekonomi adalah jauh lebih rumit
dari yang kita bayangkan. Untuk memberikan gambaran yang lebih mendekati dari keadaan
yang sebenarnya dalam makalah ini akan di bahas tentang perekonomian tiga sektor. Sistem
Perekonomian tiga sektor merupakanperekonomian yg terdiri dari sektor-sektor rumah tangga,
perusahaan dan pemerintah. Terdapat kelemahan pada sistem persaingan
sempurna pada tahun 1930 terjadi Depresi besar, sehingga campur tangan pemerintah
dibutuhkan untuk mengatur kegiatan ekonomi agar sistem pasar bebas dapat berjalan secara
efisien. Kelemahan tersebut antara lain keadaan yang diasumsikan jauh dari kenyataan, adanya
perbedaan yang mencolok antara keuntungan yang diperoleh masyarakat dengan yang
diperoleh perusahaan, distribusi pendapatan tidak merata, dan tingkat penggunaan tenaga kerja
yang tidak penuh sehingga terjadi pengangguran besar - besaran. Terdapat dua perubahan
penting dalam perekonomian yaitu pungutan pajak akan mengurangi agregat melalui
pengurangan konsumsi rumah tangga dan pajak memungkinkan pemerintah melakukan
pembelanjaan dan ini akan menaikkan pembelanjaan agregat. Peranan pemerintah dalam
perekonomian tiga sektor diantarannya membuat peraturan - peraturan untuk mempertinggi
efisiensi kegiatan ekonomi antara lain yaitu menciptakan suasana ekonomi dan sosial yang
mendorong kearah terciptannya kegiatan ekonomi yang efisien, menciptakan persaingan bebas,
menghapus kekuatan monopoli, menyelenggarakan sendiri berbagai kegiatan ekonomi dan
menjalankan kebijaksanaan moneter dan fiskal
.
B. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah untuk melengkapi bahan dan sekaligus
penambahan nilai, juga memberikan pengetahuan kepada pembaca agar dapat
mengetahui tentang teori sektor dalam ilmu ekonomi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Teori Sektor Ekonomi
Munculnya ide untuk mempertimbangkan variabel sector pertama kali dikemukakan
oleh Hoyt (1939) mengenai pola-pola sewa rumah tinggal pada kota-kota di Amerika Serikat.
Pola kosentris dikemukakan oleh Burges ternyata pola sewa tempat tinggal pada kota-kota di
Amerika cenderung berbentuki pola sector. Menurut Hoyt kunci terhadap perletakan sector ini
terlihat pada lokasi daripada high quality areas (daerah-daerah yang berkualitas tinggi untuk
tempat tinggal). Kecenderungan penduduk untuk bertempat tinggal adalah pada daerah-daerah
yang dianggap nyaman dalam arti luas.
Secara konseptual model teori sector yang dikembangkan oleh Hoyt, dalam beberapa
hal masih menunjukan persebaran zona-zona kosentris. Dalam teori sektor ini, terjadi proses
penyaringan dari penduduk yang tinggal pada sektor-sektor yang ada filtering process sendiri
hanya berjalan dengan baik bila private housing market berperan besar dalam proses
pengadaan rumah bagi warga kota, Namun ternyata distribusi umum bangunan cenderung
menunjukan pola persebaran kosentris(Johnson dalam Hadi Sabari Yunus, 2010). Teori
Hoyt dalam model diagramnya yang dikemukakan jelas terlihat adanya dua unsur yaitu
persebaran penggunaan lahan secara sektoral dan persebaran penggunaan lahan secara
kosentris di lain pihak.
Dalam pengertian ekonomi regional dikenal adanya pengertian sector basis dan sektor
non basis. Pengertian sektor basis (sektor unggulan) pada dasarnya harus dikaitkan dengan
suatu bentuk perbandingan, baik itu perbandingan berskala internasional, regional maupun
nasional. Dalam kaitannya dengan lingkup internasional, suatu sektor dikatakan unggul jika
sektor tersebut mampu bersaing dengan sektor yang sama dengan negara lain. Sedangkan
dengan lingkup nasional, suatu sektor dapat dikategorikan sebagai sektor unggulan apabila
sektor di wilayah tertentu mampu bersaing dengan sektor yang sama yang dihasilkan oleh
wilayah lain di pasar nasional atau domestik (Wijaya, 1996). Inti dari teori basis ekonomi
menurut Arsyad, dalam Sadau (2002) menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan
ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan barang dan jasa dari
luar daerah. Pertumbuhan industri yang menggunakan sumber daya lokal, termasuk tenaga
kerja dan bahan baku untuk diekspor akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan
peluang kerja (job creation).
Adapun dalam teori sektor dibedakan dalam beberapa zona, yaitu sebagai berikut
Zona 1: Daerah Pusat Bisnis
Deskripsi anatomisnya sama dengan zona 1 dalam teori konsentris, merupakan pusat
kota dan pusat bisnis.

Zona 2: Daerah Industri Kecil dan Perdagangan


Terdiri dari kegiatan pabrik ringan, terletak diujung kota dan jauh dari kota menjari ke
arah luar. Persebaran zona ini dipengaruhi oleh peranan jalur transportasi dan komunikasi yang
berfungsi menghubungkan zona ini dengan pusat bisnis.

Zona 3: Daerah pemukiman kelas rendah


Dihuni oleh penduduk yang mempunyai kemampuan ekonomi lemah. Sebagian zona
ini membentuk persebaran yang memanjang di mana biasanya sangat dipengaruhi oleh adanya
rute transportasi dan komunikasi. Walaupun begitu faktor penentu langsung terhadap
persebaran pada zona ini bukanlah jalur transportasi dan komunikasi melainkan keberadaan
pabrik-pabrik dan industri-industri yang memberikan harapan banyaknya lapangan pekerjaan.

Zona 4: Daerah pemukiman kelas menengah


Kemapanan Ekonomi penghuni yang berasal dari zona 3 memungkinkanya tidak perlu
lagi bertempat tinggal dekat dengan tempat kerja. Golongan ini dalam taraf kondisi
kemampuan ekonomi yang menanjak dan semakin baik.

Zona 5: Daerah pemukiman kelas tinggi


Daerah ini dihuni penduduk dengan penghasilan yang tinggi. Kelompok ini disebut
sebagai status seekers, yaitu orang-orang yang sangat kuat status ekonominya dan berusaha
mencari pengakuan orang lain dalam hal ketinggian status sosialnya.

B. Pendekatan Teori Sektor


Pendekatan basis ekonomi sebenarnya dilandasi pada pendapat bahwa yang perlu
dikembangkan di sebuah wilayah adalah kemampuan berproduksi dan menjual hasil produksi
tersebut secara efisien dan efektif. Secara umum, analisis ini digunakan untuk menentukan
sector basis/pemusatan dan non basis, dengan tujuan untuk melihat keunggulan komparatif
suatu daerah dalam menentukan sektor andalannya. Pentingnya ditetapkan komoditas unggulan
di suatu wilayah (nasional, provinsi dan kabupaten) dengan metode LQ, didasarkan pada
pertimbangan bahwa ketersediaan dan kapabilitas sumberdaya (alam, modal dan manusia)
untuk menghasilkan dan memasarkan semua komoditas yang dapat diproduksi di suatu wilayah
secara simultan relatif terbatas. Selain itu hanya komoditas-komoditas yang diusahakan secara
efisien yang mampu bersaing secara berkelanjutan, sehingga penetapan komoditas unggulan
menjadi keharusan agar sumberdaya pembangunan di suatu wilayah lebih effisien dan terfokus
(Handewi, 2003).
Lebih lanjut model ini menjelaskan struktur perekonomian suatu daerah atas dua
sektor, yaitu:
1. Sektor basis, yaitu sektor atau kegiatan ekonomi yang melayani baik pasar domestik maupun
pasar luar daerah itu sendiri. Sektor basis mampu menghasilkan produk/jasa yang
mendatangkan uang dari luar wilayah. Itu berarti daerah secara tidak langsung mempunyai
kemampuan untuk mengekspor barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor tersebut ke daerah
lain. Artinya sektor ini dalam aktivitasnya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri
maupun daerah lain dan dapat dijadikan sektor unggulan.
2. Sektor non basis, yaitu sektor atau kegiatan yang hanya mampu melayani pasar daerah itu
sendiri sehingga permintaannya sangat dipengaruhi kondisi ekonomi setempat dan tidak bisa
berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi wilayah. Sektor seperti ini dikenal sebagai sektor
non unggulan. Menurut Tarigan (2007), metode untuk memilah kegiatan basis dan kegiatan
non basis adalah sebagai berikut :
a. Metode Langsung dilakukan dengan survei langsung kepada pelaku saha kemana mereka
memasarkan barang yang diproduksi dan dari mana mereka membeli bahan-bahan kebutuhan
untuk menghasilkanproduk tersebut. Kelemahan metode ini yaitu : pertanyaan yang
berhubungan dengan pendapatan data akuratnya sulit diperoleh, dalam kegiatan usaha sering
tercampur kegiatan basis dan non basis.
b. Metode Tidak Langsung Metode ini dipakai karena rumitnya melakukan survei langsung
ditinjau dari sudut waktu dan biaya. Metode ini menggunakan asumsi, kegiatan tertentu
diasumsikan sebagai kegiatan basis dan kegiatan lain yang bukan dikategorikan basis adalah
otomatis menjadi kegiatan basis.
c. Metode Campuran Metode ini dipakai pada suatu wilayah yang sudah berkembang, cukup
banyak usaha yang tercampur antara kegiatan basis dan kegiatan non basis. Apabila dipakai
metode asumsi murni maka akan memberikan kesalahan yang besar, jika dipakai metode
langsung yang murni maka akan cukup berat. Oleh karena itu orang melakukan gabungan
antara metode langsung dan metode tidak langsung yang disebut metode campuran.
Pelaksanaan metode campuran dengan melakukan survei pendahuluan yaitu pengumpulan data
sekunder, kemudian dianalisis mana kegiatan basis dan non basis. Asumsinya apabila 70 persen
atau lebih produknya diperkirakan dijual ke luar wilayah maka maka kegiatan itu langsung
dianggap basis. Sebaliknya apabila 70 persen atau lebih produknya dipasarkan ditingkat lokal
maka langsung dianggap non basis. Apabila porsi basis dan non basis tidak begitu kontras maka
porsi itu harus ditaksir. Untuk menentukan porsi tersebut harus dilakukan survei lagi dan harus
ditentukan sektor mana yang surveinya cukup dengan pengumpulan data sekunder dan sektor
mana yang membutuhkan sampling pengumpulan data langsung dari pelaku usaha.
d. Metode Location Quotient Metode LQ membandingkan porsi lapangan kerja/nilai tambah
untuk sector tertentu untuk lingkup wilayah yang lebih kecil dibandingkan dengan porsi
lapangan kerja/nilai tambah untuk sektor yang sama untuk lingkup wilayah yang lebih besar.

Ket :
li = Banyaknya lapangan kerja sector i di wilayah analisis
e = Banyaknya lapangan kerja di wilayah analisis
Li = Banyaknya lapangan kerja sector i secara nasional
E = Banyaknya lapangan kerja secara nasional

Teknik LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum digunakan dalam model
ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sector kegiatan yang menjadi pemacu
pertumbuhan. LQ mengukur konsentrasi relatif atau derajat spesialisasi kegiatan ekonomi
melalui pendekatan perbandingan. Dari rumus diatas, apabila LQ > 1 berarti porsi lapangan
kerja atau nilai tambah sektor i di wilayah analisis terhadap total lapangan kerja atau nilai
tambah wilayah adalah lebih besar dibandingkan dengan porsi lapangan kerja atau nilai tambah
untuk sektor yang sama secara nasional. LQ > 1 memberikan indikasi bahwa sektor tersebut
adalah basis sedangkan apabila LQ < 1 berarti sektor tersebut adalah non basis.

Location Quotient adalah suatu alat pengembangan ekonomi yang sederhana dengan
segala kelebihan dan keterbatasannya. Menurut Hendayana (2000), kelebihan metode LQ
dalam mengidentifikasi komoditas unggulan antara lain penerapannya sederhana, mudah dan
tidak memerlukan program pengolahan data yang rumit. Penyelesaian analisis cukup
dengan spread sheet dari Excel bahkan jika datanya tidak terlalu banyak kalkulator pun bisa
digunakan. Keterbatasannya adalah karena demikian sederhananya pendekatan LQ ini, maka
yang dituntut adalah akurasi data. Sebaik apapun hasil olahan LQ tidak akan banyak
manfaatnya jika data yang digunakan tidak valid. Oleh karena itu sebelum memutuskan
menggunakan analisis ini maka validitas data sangat diperlukan. Disamping itu untuk
menghindari bias diperlukan nilai rata-rata dari data series yang cukup panjang, sebaiknya tidak
kurang dari 5 tahun. Sementara itu di lapangan, mengumpulkan data yang panjang ini sering
mengalami hambatan. Keterbatasan lainnya dalam deliniasi wilayah kajian. Untuk menetapkan
batasan wilayah yang dikaji dan ruang lingkup aktivitas, acuannya sering tidak jelas. Akibatnya
hasil hitungan LQ terkadang aneh, tidak sama dengan apa yang kita duga. Misalnya suatu
wilayah provinsi yang diduga memiliki keunggulan di sektor non pangan, yang muncul malah
pangan dan sebaliknya. Oleh karena itu data yang dijadikan sumber bahasan sebelum
digunakan perlu diklarifikasi terlebih dahulu dengan beberapa sumber data lainnya, sehingga
mendapatkan gambaran tingkat konsistensi data yang mantap dan akurat . Inti dari model
ekonomi basis menerangkan bahwa arah dan pertumbuhan suatu wilayah ditentukan oleh
ekspor wilayah. Ekspor itu sendiri tidak terbatas pada bentuk barang-barang dan jasa, akan
tetapi dapat juga berupa pengeluaran orang asing yang berada di wilayah tersebut terhadap
barang-barang tidak bergerak (Budiharsono, 2001).
Teori basis ini selanjutnya menyatakan bahwa karena sektor basis menghasilkan barang
dan jasa yang dapat dijual keluar daerah yang meningkatkan pendapatan daerah tersebut, maka
secara berantai akan meningkatkan investasi yang berarti menciptakan lapangan kerja baru.
Peningkatan pendapatan tersebut tidak hanya meningkatkan permintaan terhadap industriy
basic, tetapi juga menaikkan permintaan akanindustry non basic. Dengan dasar teori ini maka
identifikasi sektor unggulan/sektor basis sangat penting terutama dalam rangka menentukan
prioritas dan perencanaan pembangunan ekonomi didaerah. Oleh karena itu perlu
diprioritaskan untuk dikembangkan dalam rangka memacu pertumbuhan ekonomi daerah.
Manfaat mengetahui sektor unggulan yaitu mampu memberikan indikasi bagi perekonomian
secara nasional dan regional. Sektor unggulan dipastikan memiliki potensi lebih besar untuk
tumbuh lebih cepat dibandingkan sector lainnya dalam suatu daerah terutama adanya faktor
pendukung terhadap sector unggulan tersebut yaitu akumulasi modal, pertumbuhan tenaga
kerja yang terserap, dan kemajuan teknologi (technological progress). Penciptaan peluang
investasi juga dapat dilakukan dengan memberdayakan potensi sektor unggulan yang dimiliki
oleh daerah yang bersangkutan (Bank Indonesia, 2005).

Asumsi-asumsi dalam model Von Thunen:


1. Wilayah analisis bersifat terisolir sehingga tidak terdapat pengaruh pasar dari kota lain.
2. Tipe pemukiman adalah padat di pusat wilayah (pusat pasar) dan makin
berkurang kepadatannya apabila menjauhi pusat wilayah.
3. Seluruh fasilitas model memiliki iklim, tanah dan topografi yang seragam.
4. Fasilitas pengangkutan adalah primitif (sesuai pada zamannya) dan relatif seragam.
5. Ongkos ditentukan oleh berat barang yang dibawa kecuali perbedaan jarak ke pasar, semua
faktor alamiah yang mempengaruhi penggunaan tanah adalah seragam dan konstan.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Munculnya ide untuk mempertimbangkan variabel sector pertama kali dikemukakan
oleh Hoyt (1939) mengenai pola-pola sewa rumah tinggal pada kota-kota di Amerika Serikat.
Pola kosentris dikemukakan oleh Burges ternyata pola sewa tempat tinggal pada kota-kota di
Amerika cenderung berbentuki pola sector. Menurut Hoyt kunci terhadap perletakan sector ini
terlihat pada lokasi daripada high quality areas (daerah-daerah yang berkualitas tinggi untuk
tempat tinggal). Kecenderungan penduduk untuk bertempat tinggal adalah pada daerah-daerah
yang dianggap nyaman dalam arti luas.
Secara konseptual model teori sector yang dikembangkan oleh Hoyt, dalam beberapa
hal masih menunjukan persebaran zona-zona kosentris. Dalam teori sektor ini, terjadi proses
penyaringan dari penduduk yang tinggal pada sektor-sektor yang ada filtering process sendiri
hanya berjalan dengan baik bila private housing market berperan besar dalam proses
pengadaan rumah bagi warga kota, Namun ternyata distribusi umum bangunan cenderung
menunjukan pola persebaran kosentris(Johnson dalam Hadi Sabari Yunus, 2010). Teori
Hoyt dalam model diagramnya yang dikemukakan jelas terlihat adanya dua unsur yaitu
persebaran penggunaan lahan secara sektoral dan persebaran penggunaan lahan secara
kosentris di lain pihak.
B. Saran
Kunci terhadap perletakan sector ini terlihat pada lokasi daripada high quality areas
(daerah-daerah yang berkualitas tinggi untuk tempat tinggal). Kecenderungan penduduk untuk
bertempat tinggal adalah pada daerah-daerah yang dianggap nyaman dalam arti luas.

DAFTAR PUSTAKA

Rahardja, Manurung. Pengantar Ilmu Ekonomi(Microekonomi dan macroekonomi) edisi revisi.


Jakarta : FEUI.

Armstrong, H and J. Taylor (1993) Regional Economics and Policy , Harvester Wheatsheaf, New
York.

Barro, R.J. and X. Sal-Martin (1995) Economic Growth, McGraw -Hill, Inc., New York.