Anda di halaman 1dari 18

Menurut Parseno dan Yulaikhah (2008), Pengukuran beda tinggi dapat diperoleh dengan dua

pendekatan yaitu dengan metode sipatdatar menggunakan alat Waterpass (WP) dan metode

trigonometris menggunakan alat Total Station (TS) atau Theodolit. Kedua metode ini masing-

masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Metode sipatdatar menghasilkan ketelitian lebih

tinggi namun kurang praktis dan kurang ekonomis digunakan pada area yang tidak datar,

dibandingkan dengan pengukuran beda tinggi secara trigonometris. Prinsip trigonometris

menghasilkan ketelitian yang lebih rendah namun memiliki kelebihan karena alat TS sangat

praktis digunakan di lapangan baik pada kondisi daerah pengukuran yang datar maupun yang

bervariasi sehingga waktu dan biaya yang dibutuhkan menjadi lebih efisien dan ekonomis.

Wibowo PW (1987) melakukan penelitian pengukuran beda tinggi secara trigonometric dengan

EDM pada jalur terbuka. Dalam penelitian tersebut pengukuran beda tinggi dengan cara

trigonometris dilakukan sekali sedangkan dengan sipat datar dilakukan pengukuran pergi pulang.

Jalur pengukuran beda tinggi dengan cara trigonometric berbeda dengan jalur pengukuran sipat

datar. Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa pengukuran beda tinggi cara trigonometric

dapat menggantikan cara sipatdatar. Bahkan dapat menggantikan pengukuran beda tinggi sipat

datar orde 1 bila pengukuran beda tinggi metode trigonometric dilakukan dalam kondisi tertentu

dan dengan ketelitian yang cukup baik (Zhenglu Z, et all, 2005).

Secara fisik alat ukur Total Station merupakan perpaduan antara alat ukur jarak dan sudut

elektronik yang dilengkapi dengan sistem memori dan micro komputer untuk melakukan

hitungan-hitungan sederhana. Kesalahan data ukuran menggunakan Total Station terutama yang

bersumber dari faktor manusia dapat diminimalkan. Waktu pengukuran menggunakan alat Total

Station dapat lebih cepat dibandingkan dengan Theodolite. Salah satu data ukuran yang bisa

diperoleh dengan melakukan pegukuran menggunakan Total Station adalah beda tinggi. Beda
tinggi yang diperoleh menggunakan prinsip metode trigonometric yaitu salah satu metode

penentuan beda tinggi yang didasarkan pada hasil ukuran sudut vertikal dan jarak antara dua titik

yang akan ditentukan beda tingginya.

Panduan Singkat TS NIKON DTM 352


Parseno, Yulaikhah, 2008, Pola Penyimpangan Antara Beda Tinggi Hasil Ukuran Metode
Trigonometris dan Sipatdatar, Laporan Penelitian, Fakultas Teknik, Yogyakarta.
Wibowo, PW,1987, Uji Metode Penentuan Tinggi Secara Trigonometris dengan EDM, Skripsi,
Jurusan Teknik Geodesi FT UGM, Yogyakarta
Xiau Fuhe and Zan Dezheng, 1996, Improving The Accuracy of Vertical Angle Observations, J.
Cent. South Univ. Technol., Vol. 3 No.2 November 1996,
Zhenglu Z., Kun Z., Yong D., Changlin L., 2005, Research on Precise Trigonometric Leveling in
Place of First Order Leveling, Geo-Spatial Information Science, Volume 8, Issue 4,
December 2005.
http://civilweb.newcastle.edu.au/cyclops/ObsTips.htm#Part1-6, diunduh tanggal 17 juli 2017.
Suyono S dan M Takasaki, 1983, Pengukuran
Topografi dan Teknik Pemetaan, Pradnya
Paramita, Jakarta.

Perhitungan volume sumberdaya memiliki kelemahan dan kelebihan. Diusahakan dalam

penentuan metode penaksiran sumberdaya harus melihat penyebaran endapan secara utuh,

sehingga metode yang dipilih dapat mewakili sifat dan bentuk endapan tersebut. Semakin tepat

penentuan metode maka hasil yang diperoleh akan semakin akurat dan representative.

Perhitungan volume pada sumberdaya pada daerah penelitian menggunakan metode cross

section dan contour dengan pedoman perubahan bertahap (rule of gradual change) dengan

menggunakan rumus mean area dan frustum adalah pembuatan sayatan pada badan endapan

mineral, kemudian dihitung luas masing-masing endapan mineral dan untuk menentukan volume
dengan menggunakan jarak antar sayatan. Perhitungan volume dengan menggunakan rumus

sebagai berikut:

Rumus Mean Area

Gambar 3. Rumus Mean Area

Rumus Kerucut Terpancung

Gambar 4. Rumus Kerucut Terpancung


Prinsip dari metode ini adalah pembuatan sayatan pada badan endapan mineral, kemudian di

hitung luas masing-masing endapan mineral dan untuk menentukan volume dengan

menggunakan jarak antar sayatan.

Sketsa Perhitungan Volume Rumus Kerucut Terpancung (Sumber : Seimahura, 1998)

Kelebihan dari metode cross section berada pada perhitungan areanya. Dengan menggunakan

metode simpson 1/3 dan 3/8, yang berdasarkan jarak antar segmen, sehingga jarak antar section

dan spasi segmen berbading lurus, semakin kecil jarak spasi maka akan lebih detail perhitungan

luasan area, sedangkan analisis perhitungan metode kontur berdasarkan pada tingkat elevasi

kontur, jadi dengan elevasi yang semakin rapat maka perhitungan area akan semakin detail.

Kekurangan dari metode cross section adalah tidak memperhitungkan perubahan topografi yang

berada diantara penampang yang satu dengan penampang yang lain, sedangkan kekurangan

metode kontur adalah metode ini tidak memperhitungkan perubahan topografi yang berada

diantara interval kontur.

AutoCad merupakan software yang paling sering digunakan oleh seorang perencana

(engineer)/penggambar (drafter) dikarenakan software tersebut paling mudah dipahami dan

paling pesat perkembangannya diantara software-software lainnya. Disamping itu juga, AutoCad
dapat disisipi dengan plugin atau script tambahan yang berfungsi untuk mempercepat pekerjaan

seorang engineer/drafter [1]. Penggunaan plugin atau script didalam AutoCad bukan suatu

keharusan akan tetapi lebih bersifat opsional dengan tujuan untuk mengefisiensikan waktu

seorang engineer/drafter guna meyelesaikan pekerjaannya. Contohnya dalam penggambaran

permukaan tanah asli (Original Ground Land). Dengan atau tanpa bantuan plugin atau script

penggambaran OGL tetap dapat dilakukan karena AutoCad telah menyediakan tools untuk

membuat garis, tipe garis,

4.2. Pengukuran beda tinggi dengan Cara Sipatdatar.

Secara teoritis pengertian sipatdatar adalah penentuan beda tinggi antara dua titik atau lebih

dengan garis bidik horisontal yang diarahkan pada rambu yang berdiri vertikal. Jika jarak antar

rambu jauh atau tidak bisa dalam satu kali kedudukan ( satu slag ), maka antar titik tersebut

perlu dibuat beberapa slag pengukuran yang dapat diukur pergi dan pulang ( PP ) dalam waktu

satu hari. Cara pengukuran beda tinggi tersebut dinamakan pengukuran sipat datar berantai atau

diferensial levelling. Pengukuran beda tinggi antar titik yang cukup jauh ( antar titik kontrol
pemetaan ) dengan cara sipat datar berantai ( 6 ) secara grafis dapat dilihat

pada gambar 2 dibawah ini.

Berdasarkan gambar 2 tersebut, beda tinggi antara titik A dan B (hAB) dapat dihitung dengan
persamaan-persamaan berikut :
h AB = h = b - a

HB = HA + hAB

Dalam hal ini ;

h = beda tinggi tiap slag

b = jumlah bacaan rambu belakang

a = jumlah bacaan rambu muka

Keterangan gambar 2 :

A dan B : Titik kontrol pemetaan yang akan ditentukan beda tingginya.

1, 2, 3 : Titik titik Bantu

a1, a2, a3, a4 : Bacaan rambu muka

b1, b2, b3, b4 : Bacaan rambu belakang

4.3. Desain bentuk geometris pengukuran di AB lapangan. Agar hasil masing-masing ukuran
yaitu cara sipatdatar dan trigonometris dapat dikontrol berdasarkan pendekatan matematis yaitu
dari titik awal kembali ke titik awal lagi, maka route pengukuran dibuat tertutup dan masing-
masing slag diukur dua kali. Secara umum bentuk geometris yang digunakan seperti gambar 3:

b4 a4

Poligon berasal dari kata polygon yang berarti poly : banyak dan gon(gone) : titik.Yang diaksud

disini adalah poligon yang digunakan sebagai kerangka dasar pemetaan yang memiliki titik titik

dimana titik tersebut mempunyai sebuah koordinat XdanY. Polygon adalah serangkaian garis

lurus yang menghubungkan titik titik yang ada di permukaan bumi.Pada jarak tersebut

diperlukan jarak mendatar dan sudut mendatar yang digunakan untuk menetukan posisi

horizontal relative terhadap titik titik polygon.artinya letak satu titik terhadap titik lainnya
dalam satu system koordinat.Pada ilmu teknik sipil terutama untuk perencanaan jalan,polygon

digunakan sebagai dasar perencanaan

jalan,poligon digunakan sebagai dasar perencanaan geometri lengkung horizontal.

Menurut (Wongsotjitro,1977) Poligon berasal dari kata poli yang berarti banyak dan gonos yang

berarti sudut. Secara harfiahnya, poligon berarti sudut banyak, namun arti yang sebenarnya

adalah rangkaian titik-titik secara berurutan sebagai kerangka dasar pemetaan. Sebagai kerangka

dasar, posisi atau koordinat titik-titik poligon harus diketahui atau ditentukan secara teliti, karena

akan digunakan sebagai ikatan detil pengukuran poligon harus memenuhi kriteria atau

persyaratan tertentu. Pengukuran dengan metode poligon ini terbagi menjadi dua bentuk yaitu

poligon tertutup dan poligon terbuka.

Poligon tertutup adalah poligon dengan titik awal sama dengan titik akhir, jadi dimulai dan

diakhiri dengan titik yang sama, berikut adalah gambar poligon tertutup.

Gambar 2.1. Poligon tertutup sudut dalam / beta dalam (sumber : Wongsotjitro,1977)
Poligon tertutup sudut dalam ini mempunyai rumus : ( n 2 ) x 180

Keterangan gambar : b = besarnya sudut


a12 = azimuth awal
X1;Y1 = koordinat titik A
N = jumlah titik sudut

d23 = jarak antara titik 2 dan titik 3

Gambar 2.1. Poligon tertutup sudut luar / beta luar

Poligon tertutup sudut luar ini mempunyai rumus : (n + 2 ) x 180

Keterangan gambar : b = besarnya sudut.

a12 = azimut awal.

n = jumlah titik sudut.

d23 = jarak antara titik 2 dan titik 3.

Karena bentuknya tertutup, maka akan terbentuk segi banyak atau segi n, dengan n adalah

banyaknya titik poligon. Oleh karenanya syarat-syarat geometris dari poligon tertutup adalah:

1. Syarat sudut:

= (n-2) . 180O, apabila sudut dalam / beta dalam


= (n+2) . 180O, apabila sudut luar / beta luar

Poligon terbuka adalah poligon dimana titik awal dan titik akhir tidak berimpit

atau titik awal tidak bertemu dengan titik akhir. Poligon terbuka ditinjau dari

sistem pengukuran dan cara perhitungannya dibedakan menjadi 4 macam, yaitu :

a) Poligon Terikat sempurna

Poligon terbuka terikat sempurna adalah poligon yang titik awal dan titik akhir terikat oleh

koordinat dan azimuth atau terikat oleh dua koordinat pada awal dan akhir pengukuran. Poligon

jenis ini memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan poligon lainnya. Pada poligon ini

kesalahan sudut serta kesalahan jaraknya dapat dikoreksi dengan diketahuinya azimuth dan

koordinat awal serta azimuth dan koordinat akhir. Berikut adalah gambar poligon Terikat

sempurna

Gambar 1.3 Poligon Terbuka Terikat sempurna (sumber : Wongsotjitro,1977)

Dalam poligon terbuka terikat sempurna, besaran - besaran yang harus diukur :

1. Semua sisi jarak = dB-1, d1-2 , .., d3-P

2. Semua sudut horizontal = dB, d1, d2, , dP


Syarat-syarat geometris poligon terbuka terikat sempurna :

S d = ( a P-Q - a A-B ) + n . 180 ( untuk sudut kanan )


S d = ( a A-B - a P-Q ) + n . 180 ( untuk sudut kiri )
S ( D . sin a ) = SX = XP - XB.(5)
S ( D . cos a ) = SY = YP - YB ...(6)
Dalam hal ini : Sd = jumlah sudut ukuran

n = jumlah titik pengukuran

d = kesalahan penutup sudut ukuran

SX = jumlah selisih absis (X)

SY = jumlah selisih ordinat (Y)

X = kesalahan absis (X)

Y = kesalahan ordinat (Y)

a P-Q = azimuth / sudut jurusan akhir titik ikat

a A-B = azimuth / sudut jurusan awal titik ikat

XP dan YP = koordinat titik ikat akhir

XB dan YB = koordinat titik ikat awal

D = jarak / sisi poligon

= azimuth

Langkah - langkah perhitungan koordinat ( X , Y ) poligon terbuka terikat

sempurna :

menghitung azimuth titik ikat awal dan titik ikat akhir ( a A-B dan a P-Q )

a A-B = Arc tan [ (XB XA) / (YB YA) ]..(7)

a P-Q = arc tan [ (XQ XP) / (YQ YP) ](8)

jumlah sudut horizontal hasil pengukuran ( Sd )


Sd = dB + d1 + d2 + d3 + dP .(9)

jumlah ukuran jarak (SD)

SD = DB-1 + D1-2 + D2-3 + D3-P ..(10)

menghitung kesalahan penutup sudut

Sd d = ( a P-Q a A-B ) n . 180...(11)

menghitung koreksi pada tiap-tiap sudut ukuran ( kdi )

kdi = d / n ( jika kesalahan penutup sudut bertanda negatif (-) maka

koreksinya positif (+), begiti pula sebaliknya )

menghitung sudut terkoreksi

dB = dB + kdi.(12)

d1 = d1 + kdi.....................(13)

dP = dP + kdi (14)

menghitung azimuth ( a ) titik titik polygon

Diketahui azimuth awal ( a A-B ) maka :

a B-1 = a A-B - 180 + dB ( untuk sudut luar )

a B-1 = a A-B + 180 - dB ( untuk saudut dalam )

dengan catatan, apabila azimuth lebih dari 360 maka:

a B-1 = ( a A-B 180 + dB ) 360(15)

apabila azimuth kurang dari 0 maka:

a B-1 = ( a A-B 180 + dB ) + 360...(16)

perhitungan ini dilanjutkan hingga :

a 3-P = a 2-3 180 + d3 ( untuk sudut luar )

a 3-P = a 2-3 + 180 - d3 ( untuk sudut dalam )


menghitung selisih absis dan selisih ordinat ( X dan Y )

X B-1 = d B-1 . sin a B-1...(17)

Y B-1 = d 3-P . cos a B-1...(18)

perhitungan ini dilanjutkan hingga :

X 3-P = d 3-P . sin a 3-P.(19)

Y 3-P = d 3-P . cos a 3-P ...(20)

menghitung kesalahan penutup absis dan ordinat dengan rumus :

X = SX ( XP XB )...(21)

Y = SY ( YP YB )...(22)

menghitung koreksi pada tiap kesalahan absis dan ordinat (X dan Y)

kX B-1 = ( dB-1 / Sd ) . X(23)

kY B-1 = ( dB-1 / Sd ) . Y.(24)

perhitungan ini dilanjutkan hingga :

kX 3-P = ( d3-P / Sd ) . X...(25)

kY 3-P = ( d3-P / Sd ) . Y..(26)

jika kesalahan absis dan ordinat bertanda negative (-) maka koreksinya positif

(+) begitu pula sebaliknya.

menghitung selisih absis ( X ) dan ordinat ( Y ) terkoreksi

X B-1 = X B-1 + kX B-1(27)

Y B-1 = Y B-1 + kY B-1(28)

perhitungan dilanjutkan hingga :

X 3-P = X 3-P + kX 3-P..(29)

Y 3-P = Y 3-P + kY 3-P


perhitungan Koordinat ( X, Y )

diketahui koordinat awal ( XB,YB ) maka:

X1 = XB + X B-1 (30)

Y1 = YB + Y B-1(31)

perhitungan ini dilanjutkan hingga :

X3 = X2 + X 2-3..(32)

Y3 = Y2 + Y 2-3..(33)

Jika nilai koordinat titik akhir ( XP,YP ) yang dihitung sama dengan koordinat titik ikat akhir,

maka perhitungannya dinyatakan memenuhi toleransi serta dapat dilanjutkan pada pekerjaan

lainnya.

b) Poligon Terbuka Terikat Koordinat

Poligon terikat koordinat adalah poligon yang titik awal dan titik akhirnya terikat oleh koordinat,

nilai azimuth awal dan akhir tidak diketahui, misal poligon terbuka terikat koordinat. Berikut

adalah gambar poligon terbuja terikat koordinat.

Gambar 1.4 Poligon Terbuka Terikat Kordinat (sumber : Wongsotjitro,1977)

Dalam poligon terbuka terikat koordinat, besaran-besaran yang harus diukur :

1. Semua sisi/jarak = d A-1 , d 1-2 , .., d 3-B

2. Semua sudut horizontal = d1, d2, d3


Langkah perhitungan poligon terbuka terikat koordinat adalah :

menentukan azimuth pendekatan yang besarnya sembarang, misal :a A-1

menentukan azimuth sementara menggunakan azimuth pendekatan

a 1-2 = a A-1 - 180 + d1.....(34)

a 2-3 = a 1-2 - 180 + d2..(35)

a 3-B = a 2-3 - 180 + d3. ...(36)

menghitung koordinat sementara 1,2,3 dan B.

X1= XA + d A-1 . sin a A-1....(37)

Y1 = YA + d A-1 . cos a A-1.(38)

X2 = X1 + d 1-2 . sin a 1-2..(39)

Y2 = Y1 + d 1-2 . cos a 1-2...(40)

X3 = X2 + d 2-3 . sin a 2-3.(41)

Y3 = Y2 + d 2-3 . cos a 2-3.(42)

XB = X3 + d 3-B . sin a 3-B...(43)

YB = Y3 + d 3-B . cos a 3-B .(44)

menghitung azimuth ( a A-B ) yang diketahui

a A-B = Arc tan [ ( XB-XA ) / ( YB-YA ) ](45)

menghitung azimuth ( a A-B ) dari perhitungan pendekatan

a A-B = Arc tan [ ( XB-XA ) / ( YB-YA ) ] .(46)

hitungan selisih azimuth ( a A-B )

a A-B = a A-B - a A-B ..(47)

hitungan azimuth terkoreksi


a A-1 = a A-1 + a A-B..(48)

a 1-2 = a A-1 + a A-B - 180 + d1.(49)

a 2-3 = a 1-2 + a A-B - 180 + d2..(50)

a 3-B = a 2-3 + a A-B - 180 + d3..(51)

Dengan catatan apabila azimuth lebih dari 360 maka :

a 1-2 = ( a A-1 + a A-B - 180 + d1 ) - 360....(52)

apabila azimuth kurang dari 0 maka :

a 1-2 = ( a A-1 + a A-B - 180 + d1 ) + 360 .......(53)

Hitungan selisih absis dan selisih ordinat ( X dan Y )

SX A-1 = D A-1 . sin a A-1......(54)

SY A-1 = D A-1 . cos a A-1.(55)

Perhitungan ini dilanjutkan hingga :

SX 3-B = D 3-B . sin a 3-B..(56)

SY 3-B = D 3-B . cos a 3-B.(57)

menghitung koreksi pada tiap-tiap kesalahan absis dan ordinat ( KX dan

KY ).

kX A-1 = ( DA-1 / Sd ) . X.(58)

kY A-1 = ( DA-1 / Sd ) . Y.(59)

Perhitungan dilanjutkan hingga :

kX 3-B = ( D3-B / Sd ) . SX(60)

kY 3-B = ( D3-B / Sd ) . SY(61)

jika kesalahan absis dan ordinat bertanda negatif (-) maka koreksinya positif

(+) begitu pula sebaliknya.


menghitung koordinat sesungguhnya ( X,Y )

Diketahui koordinat ( XA,YA) maka :

X1 = XA + X A-1 KX A-1.(62)

Y1 = YA + Y A-1 KY A-1.(63)

Perhitungan ini dilanjutkan hingga :

XB = X3 + X 3-B KX 3-B.(64)

YB = Y3 + Y 3-B KY 3-B.(65)

Jika nilai koordinat titik B yang dihitung sama dengan koordinat titik B yang diketahui maka

perhitungannya dinyatakan benar. Poligon ini sering dipakai dilapangan karena tidak menutup

kemungkinan banyak dijumpai hambatanhambatan misalnya hanya ada dua titik pengikat yang

diketahui sehingga azimuth awal dan akhir belum diketahui sehingga memakai azimuth

pendekatan.

c) Poligon Terbuka Terikat Sepihak

Poligon terbuka terikat sepihak adalah poligon yang hanya terikat salah satu titiknya saja, bisa

terikat pada titik awalnya atau titik akhirnya saja. Misal poligon terbuka terikat sepihak

Gambar 1.5 Poligon Terbuka Terikat Sepihak

Langkah-langkah perhitungannya:

menghitung Azimuth (a)

misal diketahui azimuth ( a A-1 ) maka :

a 1-2 = a A-1 - 180 + d1.(66)


menghitung koordinat ( X,Y )

Diketahui koordinat awal ( Xa,YA ) maka :

X1 = XA + d A-1 . Sin a A-1...(67)

Y1 = YA + d A-1 . Cos a A-1..(68)

Perhitungan ini dilanjutkan hingga:

X3 = X2 + d 2-3 . Sin a 2-3..(69)

Y3 = Y2 + d 2-3 . Cos a 2-3 (70)

Pada poligon jenis ini kurang baik untuk kerangka dasar sebab cara perhitungannya sangat

sederhana karena tidak ada hitungan koreksi baik koreksi sudut maupun jarak, hanya koordinat

titik ikat atau koordinat yang diketahui digunakan sebagai acuan dalam perhitungan koordinat

lainnya.

d) Poligon Terbuka Bebas

Poligon terbuka bebas adalah poligon lepas atau poligon yang tidak terikat kedua ujungnya.

Untuk menghitung koordinat masing-masing titiknya maka harus ditentukan terlebih dahulu

koordinat salah satu titik sebagai acuann menghitung koordinat titik lainnya. Pada poligon ini

tidak ada koreksi sudut maupun koreksi

jarak.

Gambar 1.6 Poligon Terbuka Bebas


Proses perhitungannya :

hitungan azimuth ( a )

misal diketahui azimuth ( a 1-2 ) maka :itungan koordinat ( X,Y )

misal ditentukan koordinat titik awal ( X1,Y1 ) maka :

X2 = X1 + d 1-2 . Sin a 1-2(70)

Y2 = Y1 + d 1-2 . Cos a 1-2...(71)