Anda di halaman 1dari 9

PENGHAMBATAN PROTEASE OLEH ZAT ANTI NUTRISI

Nama : Lydya Setya Permatasari


NIM : B1A015037
Kelompok :3
Rombongan : II
Asisten : Koni Okthalina

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI NUTRISI

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Vries (1997) menjelaskan bahwa, senyawa yang terdapat dalam bahan


makanan yang dapat menyebabkan keracunan walaupun tidak menjadi media atau
senyawa aktif. Jurgens (1997) menyatakan bahwa, didalam tanaman terkandung
ribuan macam senyawa, tergantung dari situasi mereka, yang dapat menguntungkan
atau mengurangi pengaruh dari organisma yang mengkonsumsi mereka. Senyawa-
senyawa ini, kecuali zat makanan, diartikan sebagai allelochemicals atau senyawa
yang menyebabkan kematian. Peneliti lain menyatakan hal yang senada bahwa
didalam tanaman terdapat senyawa yang merupakan produksi sekunder dari proses
metabolisme zat makanan.
Senyawa-senyawa anti nutrisi tersebut untuk tanaman itu sendiri berfungsi
sebagai pencegah dari serangan predator. Akan tetapi, bila terkonsumsi maka akan
mengganggu proses metabolisme zat makanan di dalam tubuh hewan, ternak atau
manusia yang mengkonsumsinya. Senyawa metabolit sekunder juga merupakan
kelompok senyawa antinutrisi, akan tetapi sampai saat ini belum begitu dimengerti
bagaimana mekanisme dari senyawa metabolit sekunder dalam tanaman yang
sebenarnya. Menurut beberapa ahli terdahulu yang dipahami sampai saat ini adalah
bahwa senyawa metabolit sekunder yang terdapat di dalam tanaman dapat mencegah
atau membatasi serangan dari herbivore (Jurgens, 1997).
Anti nutrisi dapat mempengaruhi komponen pakan sebelum dikonsumsi,
selama proses pencernaan di dalam saluran pencernaan dan setelah penyerapan di
dalam tubuh dengan cara menghambat proses pemanfaatan atau fungsi dari zat
makanan, khususnya protein, mineral dan vitamin. Pengaruh negatif dari antinutrisi
biasanya tidak mencerminkan senyawa antinutrisi itu sendiri sebagaimana pengaruh
langsung dari racun dalam bahan makanan. Dampak dari adanya anti nutrisi di dalam
bahan makanan atau pakan adalah terjadinya malnutrisi atau kekurangan gizi atau
kondisi gizi yang berada pada batas bawah kebutuhan (Jurgens, 1997).
1.2 Tujuan

Tujuan acara praktikum kali ini adalah mengetahui efek menggunakan zat
antinutrisi yang berasal dari biji kedelai (crude anti tripsin) terhadap perubahan
aktivitas protease ikan.
II. MATERI DAN CARA KERJA

2.1 Materi

Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan nila (Oreochromis
niloticus), ekstrak enzim, substrat kasein, buffer fosfat, reagen TCA, crude anti
tripsin, dan akuabides.
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah tabung reaksi, inkubator,
mikropipet, vortex, spektrofotometer, kamera dan alat tulis.

2.2 Cara Kerja

Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:


A. Preparasi jaringan
1. Organ pencernaan ikan diisolasi dengan cara ikan dibedah.
2. Organ perncernaan ikan ditampung dalam botol sampel.
3. Organ pencernaan ikan dibersihkan dari kotorannya lalu ditimbang
menggunakan timbangan analitik.
4. Ditambahkan Tris-HCl dingin dengan rasio 1:8 (w/v).
5. Usus ikan dihancurkan menggunakan homogenizer elektrik.
6. Usus ikan yang telah dihancurkan dimasukkan ke dalam tabung eppendorf
1,5 mL.
7. Disentrifugasi dengan kecepatan 12.000 rpm selama 15 menit pada suhu
4C.
8. Ekstrak enzim diambil dan disimpan pada suhu -80C.
B. Pengukuran Kapasitas Pencernaan Makanan Pada Ikan (Aktivitas
Protease)
1. Tabung disiapkan sebanyak enam buah dan tiga tabung diberi 100 l
crude anti tripsin.
2. Tabung sampel dan blanko yang diberi crude anti tripsin masing-masing
diberi buffer fosfat sebanyak 250 l.
3. Tabung sampel dan blanko yang tidak diberi crude anti tripsin masing-
masing diberi buffer fosfat sebanyak 350 l.
4. Ekstrak enzim ditambahkan sebanyak 50 l pada tabung sampel.
5. Tabung sampel dan blanko diinkubasi selama 10 menit pada suhu 37C.
6. Lalu ditambahkan substrat kasein 1% sebanyak 350 l pada masing-
masing tabung.
7. Kedua tabung diinkubasi kembali selama 20 menit pada suhu 37C.
8. Reagen TCA ditambahkan sebanyak 750 l pada masing-masing tabung.
9. Ditambahkan 50 l ekstrak enzim pada tabung blanko.
10. Kedua tabung diletakkan pada refrigerator selama kurang lebih 10 menit.
11. Sampel dipipet ke dalam tabung eppendorf menggunakan mikro pipet.
12. Kemudian disentrifugasi pada kecepatan 6000 rpm selama 10 menit.
13. Supernatan diambil sebanyak 1000 l dan dituangkan dalam tabung
reaksi yang berisi 1500 l akuabides lalu dihomogenkan menggunakan
vortex.
14. Nilai absorbansi diukur pada panjang gelombang 280 nm.
3.2 Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh hasil yaitu aktivitas


protease pada ikan nila yang diberi crude yaitu 2,102 g/menit, dan aktivitas
protease ikan nila tanpa pemberian crude yaitu 6,052 g/menit. Keberadaan senyawa
antinutrisi dalam bahan pangan dapat mengakibatkan penurunan nilai gizinya secara
biologis. Seringkali nilai gizi protein secara biologis tidak selalu berkorelasi positif
dengan skor kimia protein yang dihitung berdasarkan kandungan asam-asam amino
esensialnya. Hal ini disebabkan karena adanya faktor antinutrisi yang dapat berikatan
dengan protein sehingga menyebabkan daya cerna protein tersebut berkurang. Bahan
pangan yang banyak mengandung senyawa antinutrisi adalah kacang-kacangan dan
serealia. Daya cerna pada tubuh kita bisa baik atau tidak tergantung dari komponen
zatzat atau senyawa yang ada di dalamnya (Berdanier, 2002). Antinutrisi bisa
mengganggu penyerapan nutrisi makanan serta menimbulkan efek toksik secara tidak
langsung. Antinutrisi adalah komponen makanan yang bisa menyebabkan efek racun
tanpa menjadi agen penyebab efek racun itu sendiri (Pesti, 2003). Fermentasi dapat
dilakukan untuk mengurangi zat anti nutrisi, karena fermentasi menghilangkan
senyawa bercaun, menghilangkan bau pada makanan mentah, dan menambah flavour
(Koni et al., 2013).
Kedelai merupakan salah satu tanaman polong-polongan yang menjadi bahan
dasar banyak makanan dari Asia Timur seperti kecap, tahu, dan tempe. Berdasarkan
peninggalan arkeologi, tanaman ini telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu
di Asia Timur. Kedelai putih diperkenalkan ke Nusantara oleh pendatang dari Cina
sejak maraknya perdagangan dengan Tiongkok, sementara kedelai hitam sudah
dikenal lama orang penduduk setempat. Kedelai merupakan sumber utama protein
nabati dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika
Serikat meskipun kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar (Berdanier,
2002).
Kedelai yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies:
Glycine max (disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih,
atau hijau) dan Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). Glycine max merupakan
tanaman asli daerah Asia subtropik seperti RRC (Republic Rakyat Cina) dan Jepang
selatan, sementara Glycine soja merupakan tanaman asli Asia tropis di Asia
Tenggara. Tanaman ini telah menyebar ke Jepang, Korea, Asia Tenggara dan
Indonesia (Clemente et al., 2015).
Anti nutrisi sebagai senyawa yang dihasilkan di dalam bahan pakan alami
oleh proses metabolisme normal dan oleh perbedaan mekanisme seperti
pengtidakaktifan beberapa zat makanan, interfensi dalam proses pencernaan atau
pemanfaatan produk dari proses metabolisme bahan makanan tersebut dengan
memberikan pengaruh yang bertentangan terhadap zat makanan secara optimum.
Menjadi faktor anti nutrisi bukanlah sesuatu yang hakiki dari senyawa-senyawa
tersebut melainkan tergantung kepada proses pencernaan zat makanan yang
dikonsumsi oleh ternak. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata antinutrisi
terdiri dari dua kata dasar yaitu anti dan nutrisi. Anti berarti tidak setuju; tidak suka;
tidak senang. Nutrisi memiliki 3 pengertian yaitu (1) proses pemasukan dan
pengolahan zat makanan oleh tubuh; (2) makanan bergizi; (3) ilmu tentang gizi. Oleh
karena itu, antinutrisi dapat diartikan sebagai senyawa bersifat racun yang dapat
menghambat proses pemasukan dan pengolahan zat makanan yang ada di dalam
tubuh. Antinutrisi tidak memberikan pengaruh keracunan tersebut secara langsung
melainkan dengan cara mengakibatkan defisiensi zat makanan atau dengan cara
mengganggu fungsi dan pemanfaatan zat makanan di dalam tubuh (Anggorodi,
1985).
Mekanisme penghambatan enzim proteolitik (tripsin dan kimotripsin) oleh
senyawa antitripsin terjadi karena pembentukan ikatan kompleks antara enzim
proteolitik dan senyawa antitripsin, jadi karena adanya interaksi protein-protein.
Pertama, akan terjadi pemutusan ikatan disulfida antara arginin-isoleusin pada
senyawa inhibitor oleh enzim tripsin untuk membentuk senyawa inhibitor
modifikasi. Selanjutnya terjadi ikatan antara gugus hidroksil serin yang terdapat pada
sisi aktif enzim tripsin dan gugus karbonil arginin yang terdapat pada senyawa
inhibitor modifikasi yang baru dibebaskan. Senyawa kompleks tripsin-inhibitor yang
terbentuk menyebabkan enzim proteolitik tersebut kehilangan aktivitasnya sehingga
tidak mampu memecah protein dan menyebabkan daya cerna protein akan menurun.
Daya hambat suatu senyawa inhibitor terhadap aktivitas enzim tripsin berbanding
lurus dengan jumlah senyawa inhibitornya (Almatsier, 2003). Faktor anti nutrisi
dapat menyebabkan efek merugikan bagi pertumbuhan manusia dan hewan yang
kinerjanya dengan merusak asupan, serapan atau pemanfaatan makanan lain dan
komponen pakan atau dengan menyebabkan ketidaknyamanan dan stres bagi
manusia dan hewan (Bora, 2014).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa


aktivitas protease pada ikan nila makan yang diberi crude yaitu 2,102 g/menit dan
ikan nila makan tanpa diberi crude yaitu 6,052 g/menit. aktivitas protease pada ikan
nila makan yang diberi crude lebih rendah dibandingkan ikan nila makan tanpa
diberi crude. Hal tersebut disebabkan karena adanya zat anti nutrisi (anti tripsin).
DAFTAR REFERENSI

Almatsier, S. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia.


Anggorodi, R. 1985. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Berdanier, C. D. 2002. Handbook of Nutrition and Food. USA: CRC Press.
Bora, P. 2014. Anti-Nutritional Factors in Foods and their Effects. Journal of
Academia and Industrial Research (JAIR). 3(6), pp. 285-290.
Clemente A., Maria C. A., Marion, D., Christine, L. S., Catherine, C., Raquel, O.,
Tracey, R., Peter, G. I., David, M. L., Abdelhafid, B., & Claire D. 2015.
Eliminating Anti-Nutritional Plant Food Proteins: The Case of Seed Protease
Inhibitors in Pea. PLOS ONE. 10, pp.1-24.
Jurgens, M. H., 1997. Animal feeding and Nutrition. 8th edition. USA: Kendall/Hunt
Publishing Company. Dubuque, Iowa.
Koni, T. N. I., Agustinus, P., & Anonius, J. Performa Produksi Broiler yang diberi
Ransum Mengandung Biji Asam Hasil Fermentasi dengan Ragi Tempe
(Rhyzopus oligosporus). Jurnal Ilmu Ternak. 13(1), pp. 13-16.
Pesti, G. M. 2003. Comparison Of Peanut Meal And Soynean Meal As Protein
Suplements For Laying Hens. Poultry Science. 82, pp. 1274-1280.
Vries, J. de. 1997. Food Safety and Toxicity. USA: CRC Press.