Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengorganisasian masyarakat adalah pekerjaan yang terjadi pada pengaturan lokal
untuk memberdayakan individu, membangun hubungan, dan membuat tindakan untuk
perubahan sosial. Sekarang ini menata diri dan memberdayakan masyarakat nampaknya
masih menjadi pilihan yang patut kita pertimbangkan untuk terus kita lakukan. Yang
diharapkan dapat mendorong kesadaran dan pemahaman kritis masyarakat
tentang berbagai aspek yang senantiasa berkembang dalam kehidupan masyarakat.
Mendorong digunakannya kearifan-kearifan budaya sebagai alat dalam mewujudkan
tatanan kehidupan masyarakat dan negara yang lebih demokratis maupun dalam
menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi di masyarakat.
Organisasi masyarakat merupakan kekuatan yang memperjuangkan kepentingan
masyarakat secara keseluruhan. Dalam melakukan perjuangan kepentingan masyarakat,
organisasi masyarakat tidak akan henti hentinya sampai kapanpun. Sebab, musuh
musuh masyarakat juga tidak akan henti hentinya dalam melakukan penindasan
terhadap masyarakat.
Landasan filosofis dari kebutuhan untuk melakukan pengorganisasian
masyarakat adalah pemberdayaan. Karena pada dasarnya masyarakat sendiri yang
seharusnya berdaya dan menjadi penentu dalam melakukan perubahan sosial. Perubahan
sosial yang dimaksud adalah perubahan yang mendasar dari kondisi ekonomi, sosial,
politik dan kebudayaan. Dalam konteks masyarakat, perubahan sosial juga menyangkut
multidemensional. Dalam demensi ekonomi seringkali dimimpikan terbentuknya
kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh warga masyarakat.
Model pemberdayaan masyarakat dikembangkan untuk memfasilitasi
terwujudnya kedaulatan rakyat yang mampu mengatasi permasalahan-permasalahan
masyarakat secara partisipatif, aspiratif dan berkelanjutan untuk kepentingan masyarakat.
Meskipun demikian, dalam kenyataannya upaya tersebut belum begitu menggembirakan.
Program pemberdayaan, belum sepenuhnya diikuti dengan menguatkan kelompok atau
institusi yang benar-benar dapat menyalurkan aspirasi dan mengembangkan inisiatif dan

1
keikutsertaan masyarakat dalam proses kebijakan masih belum jelas dan masih
ditempatkan sebagai sasaran program yang kadang-kadang tersisihkan oleh desakan
kepentingan kelompok tertentu yang berorientasi pada suatu tujuan.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Dapat memberi gambaran tentang pengorganisasian dan peengembangan
masyarakat serta pemberdayaan komunitas.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui masalah kesehatan yang berkaitan dengan kebidanan di
puskesmas.
b. Untuk mengetahui potensi masyarakat untuk mengenal masalahnya.
c. Untuk mengetahui upaya atau pendekatan yang dilakukan puskesmas untuk
meningkatkan partisipasi masyarakat dan bagaimana bentuk pertisipasi
masyarakat tersebut.
d. Untuk mengetahui masalah dan kendala yang dihadapi dalam upaya
partisipasi.
e. Untuk mengetahui upaya pemecahan masalah untukmeningkatkan partisipasi.
f. Untuk mengetahui karakteristik masyarakat di wilayah kerja Puskesmas.
g. Untuk mengetahui alasan menjadi kader.
h. Untuk mengetahui alasan bertahan menjadi kader.
i. Untuk mengetahui masalah yang dihadapi menjadi seorang kader?
j. Untuk mengetahui perhatian tenaga kesehatan terhadap kader?
k. Untuk mengetahui harapan dan keinginan sebagai kader untuk kader yang
baru?

2
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa masalah kesehatan yang berkaitan dengan kebidanan di Puskesmas?
2. Bagaimana potensi masyarakat untuk mengenal masalahnya?
3. Bagaimana upaya atau pendekatan yang dilakukan puskesmas untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat dan bagaimana bentuk pertisipasi masyarakat tersebut?
4. Apa masalah dan kendala yang dihadapi dalam upaya partisipasi?
5. Bagaimana upaya pemecahan masalah untukmeningkatkan partisipasi?
6. Bagaimana karakteristik masyarakat di wilayah kerja Puskesmas?
7. Apa alasan menjadi kader?
8. Mengapa bertahan menjadi kader?
9. Apa masalah yang dihadapi menjadi seorang kader?
10. Bagaimana perhatian tenaga kesehatan terhadap kader?
11. Apa harapan dan keinginan sebagai kader untuk kader yang baru?

3
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Konsep Persiapan Sosial
Tujuan persiapan sosial adalah mengajak berpartisipasi atau peran serta masyarakat
sejak awal kegiatan, sampai dengan perencanaan program, pelaksanaan hingga
pengembangan program kesehatan masyarakat. Kegiatan-kegiatan dalam persiapan sosial ini
lebih ditekankan kepada persiapan-persiapan yang harus dilakukan baik aspek teknis,
administratif dan program-program kesehatan yang akan dilakukan.

a. Tahap Pengenalan Masyarakat.


Dalam tahap awal ini kita harus datang ketengah-tengah masyarakat dengan hati
yang terbuka dan kemauan untuk mengenal sebagaimana adanya, tanpa disertai
prasangka buruk sambil menyampaikan maksud dan tujuan kegiatan yang akan
dilaksanakan.

b. Tahap Pengenalan Masalah.


Dalam tahap ini dituntut suatu kemampuan untuk dapat mengenal masalah-
masalah yang memang benar-benar menjadi kebutuhan masyarakat. Beberapa
pertimbangan yang dapat digunakan untuk menyusun skala prioritas penanggulangan
masalah adalah :
1. Beratnya Masalah. Seberapa jauh masalah tersebut menimbulkan gangguan terhadap
masyarakat.
2. Mudahnya Mengatasi.
3. Pentingnya Masalah bagi Masyarakat, yang paling berperan disini adalah
subyektivitas masyarakat sendiri dan sangat dipengaruhi oleh kultur budaya setempat.
4. Banyaknya Masyarakat yang Merasakan Masalah,misalnya perbaikan gizi, akan lebih
mudah dilaksanakan diwilayah yang banyak balitanya.

c. Tahap Penyadaran Masyarakat.


Tujuan tahap ini adalah menyadarkan masyarakat agar mereka tentang tahu dan
mengerti masalah-masalah kesehatan yang mereka hadapi sehingga dapat berpartisipasi

4
dalam penanggulangannya serta tahu cara memenuhi kebutuhan akan upaya pelayanan
kesehatan sesuai dengan potensi dan sumber daya yang ada.
Agar masyarakat dapat menyadari masalah dan kebutuhan mereka akan pelayanan kesehatan,
diperlukan suatu mekanisme yang terencana dan terorganisasi dengan baik, untuk itu
beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka menyadarkan masyarakat:
a. Lokakarya Mini Kesehatan.
b. Musyawarah Masyarakat Desa. (MMD).
c. Rembuk Desa.

2.2 Konsep Partisipasi


Menurut Keith Davis, partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang
kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya. Dalam defenisi tersebut
kunci pemikirannya adalah keterlibatan mental dan emosi. Sebenarnya partisipasi adalah
suatu gejala demokrasi dimana orang diikutsertakan dalam suatu perencanaan serta dalam
pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan
tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang
mental serta penentuan kebijaksanaan.
Jadi dari beberapa pengertian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa partisipasi
adalah suatu keterlibatan mental dan emosi serta fisik peserta dalam
memberikan respon terhadap kegiatan yang melaksanakan dalam proses belajar mengajar
serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya.
Bentuk partisipasi yang nyata yaitu :
1. Partisipasi uang adalah bentuk partisipasi untuk memperlancar usaha-usaha bagi
pencapaian kebutuhan masyarakat yang memerlukan bantuan
2. Partisipasi harta benda adalah partisipasi dalam bentuk menyumbang harta benda,
biasanya berupa alat-alat kerja atau perkakas
3. Partisipasi tenaga adalah partisipasi yang diberikan dalam bentuk tenaga untuk
pelaksanaan usaha-usaha yang dapat menunjang keberhasilan suatu program
4. Partisipasi keterampilan, yaitu memberikan dorongan melalui keterampilan yang
dimilikinya kepada anggota masyarakat lain yang membutuhkannya

5
Partisipasi buah pikiran lebih merupakan partisipasi berupa sumbangan ide, pendapat
atau buah pikiran konstruktif, baik untuk menyusun program maupun untuk memperlancar
pelaksanaan program dan juga untuk mewujudkannya dengan memberikan pengalaman dan
pengetahuan guna mengembangkan kegiatan yang diikutinya.
Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa dalam partisipasi terdapat unsur-unsur
sebagai berikut :
1. Keterlibatan peserta didik dalam segala kegiatan yang dilaksanakan dalam proses belajar
mengajar.
2. Kemauan peserta didik untuk merespon dan berkreasi dalam kegiatan yang dilaksanakan
dalam proses belajar mengajar.

Partisipasi siswa dalam pembelajaran sangat penting untuk menciptakan pembelajaran


yang aktif, kreatif, dan menyenangkan. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah
direncakan bisa dicapai semaksimal mungkin.
Tidak ada proses belajar tanpa partisipasi dan keaktifan anak didik yang belajar. Setiap
anak didik pasti aktif dalam belajar, hanya yang membedakannya adalah kadar/bobot
keaktifan anak didik dalam belajar. Ada keaktifan itu dengan kategori rendah, sedang dan
tinggi. Disini perlu kreatifitas guru dalam mengajar agar siswa berpartisipasi aktif dalam
pembelajaran. Penggunaan strategi dan metode yang tepat akan menentukan keberhasilan
kegiatan belajar mengajar. Metode belajar mengajar yang bersifat partisipatoris yang
dilakukan guru akan mampu membawa siswa dalam situasi yang lebih kondusif karena siswa
lebih berperan serta lebih terbuka dan sensitif dalam kegiatan belajar mengajar.

a. Bentuk - Bentuk Partisipasi


Menurut Effendi, partisipasi ada dua bentuk, yaitu partisipasi vertikal dan
partisipasi horizontal.
1. Partisipasi vertikal adalah suatu bentuk kondisi tertentu dalam masyarakat yang
terlibat di dalamnya atau mengambil bagian dalam suatu program pihak lain, dalam
hubungan mana masyarakat berada sebagai posisi bawahan.
2. Partisipasi horizontal adalah dimana masyarakatnya tidak mustahil untuk mempunyai
prakarsa dimana setiap anggota / kelompok masyarakat berpartisipasi secara

6
horizontal antara satu dengan yang lainnya, baik dalam melakukan usaha bersama,
maupun dalam rangka melakukan kegiatan dengan pihak lain. menurut Effendi
sendiri, tentu saja partisipasi seperti ini merupakan tanda permulaan tumbuhnya
masyarakat yang mampu berkembang secara mandiri

b. Prinsip-prinsip partisipasi
Sebagaimana tertuang dalam Panduan Pelaksanaan Pendekatan Partisipati yang
disusun oleh Department for International Development (DFID) (dalam Monique
Sumampouw, 2004: 106-107) adalah:
1. Cakupan : Semua orang atau wakil-wakil dari semua kelompok yang terkena dampak
dari hasil-hasil suatu keputusan atau proses proyek pembangunan.
2. Kesetaraan dan kemitraan (Equal Partnership) : Pada dasarnya
setiap orang mempunyai keterampilan, kemampuan dan prakarsa serta mempunyai
hak untuk menggunakan prakarsa tersebut terlibat dalam setiap proses guna
membangun dialog tanpa memperhitungkan jenjang dan struktur masing-masing
pihak.
3. Transparansi :Semua pihak harus dapat menumbuhkembangkan komunikasi dan
iklim berkomunikasi terbuka dan kondusif sehingga menimbulkan dialog.
4. Kesetaraan kewenangan (Sharing Power/Equal Powership) : Berbagai pihak yang
terlibat harus dapat menyeimbangkan distribusi kewenangan dan kekuasaan untuk
menghindari terjadinya dominasi.
5. Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility : Berbagai pihak mempunyai
tanggung jawab yang jelas dalam setiap proses karena adanya kesetaraan kewenangan
(sharing power) dan keterlibatannya dalam proses pengambilan keputusan dan
langkah-langkah selanjutnya.
6. Pemberdayaan (Empowerment : Keterlibatan berbagai pihak tidak lepas dari segala
kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap pihak, sehingga melalui keterlibatan
aktif dalam setiap proses kegiatan, terjadi suatu proses saling belajar dan saling
memberdayakan satu sama lain.

7
7. Kerjasama : Diperlukan adanya kerja sama berbagai pihak yang terlibat untuk saling
berbagi kelebihan guna mengurangi berbagai kelemahan yang ada, khususnya yang
berkaitan dengan kemampuan sumber daya manusia.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi


Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi partisipasi masyarakat dalam suatu
program, sifat faktor-faktor tersebut dapat mendukung suatu keberhasilan program
namun ada juga yang sifatnya dapat menghambat keberhasilan program. Misalnya
saja faktor usia, terbatasnya harta benda, pendidikan, pekerjaan dan penghasilan. Angell
(dalam Ross, 1967: 130) mengatakan partisipasi yangtumbuh dalam masyarakat
dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan
seseorang dalam berpartisipasi, yaitu:
1. Usia
Faktor usia merupakan faktor yang memengaruhi sikap seseorang terhadap
kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia menengah ke
atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat yang lebih mantap,
cenderung lebih banyak yang berpartisipasi daripada mereka yang dari kelompok usia
lainnya.
2. Jenis kelamin
Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa
pada dasarnya tempat perempuan[ adalah di dapur yang berarti bahwa dalam banyak
masyarakat peranan perempuan yang terutama adalah mengurus rumah tangga, akan
tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser dengan adanya
gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin baik.
3. Pendidikan
Dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk
berpartisipasi. Pendidikan dianggap dapat memengaruhi sikap hidup seseorang
terhadap lingkungannya, suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan
seluruh masyarakat.
4. Pekerjaan dan penghasilan

8
Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan
menentukan berapa penghasilan yang akan diperolehnya. Pekerjaan dan penghasilan
yang baik dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong seseorang untuk
berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Pengertiannya bahwa untuk
berpartisipasi dalam suatu kegiatan, harus didukung oleh suasana yang mapan
perekonomian.
5. Lamanya tinggal
Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya
berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi seseorang.
Semakin lama ia tinggal dalamlingkungan tertentu, maka rasa memiliki terhadap
lingkungan cenderung lebih terlihat dalam partisipasinya yang besar dalam setiap
kegiatan lingkungan tersebut.

2.3 Kaderisasi
Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari
kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit
dibayangkan sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas
keorganisasiannya dengan baik dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak
membangun struktur kerja yang mandiri dan berkelanjutan.

Fungsi kaderisasi antara lain :


1. Melakukan rekrutmen anggota baru. Penanaman awal nilai organisasi agar anggota baru
bisa paham dan bergerak menuju tujuan organisasi.
2. Menjalankan proses pembinaan, penjagaan, dan pengembangan anggota. Membina
anggota dalam setiap pergerakkannya. Menjaga anggota dalam nilai-nilai organisasi dan
memastikan anggota tersebut masih sepaham dan setujuan. Mengembangkan skill dan
knowledge anggota agar semakin kontributif.
3. Menyediakan sarana untuk pemberdayaan potensi anggota sekaligus sebagai pembinaan
dan pengembangan aktif. Kaderisasi akan gagal ketika potensi anggota mati dan anggota
tidak terberdayakan.

9
4. Mengevaluasi dan melakukan mekanisme kontrol organisasi. Kaderisasi bisa menjadi
evaluator organisasi terhadap anggota. Sejauh mana nilai-nilai itu terterima anggota,
bagaimana dampaknya, dan sebagainya.(untuk itu semua, diperlukan perencanaan sumber
daya anggota sebelumnya).

Peran kaderisasi:
1. Pewarisan nilai-nilai organisasi yang baik
Proses transfer nilai adalah suatu proses untuk memindahkan sesuatu (nilai) dari
satu orang keorang lain (definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia). Nilai-nilai ini bisa
berupa hal-hal yang tertulis atau yang sudah tercantum dalam aturan-aturan organisasi
(seperti Konsepsi, AD ART, dan aturan-aturan lainnya) maupun nilai yang tidak tertulis
atau budaya-budaya baik yang terdapat dalam organisasi (misalnya budaya diskusi)
maupun kondisi-kondisi terbaru yang menjadi kebutuhan dan keharusan untuk
ditransfer.
2. Penjamin keberlangsungan organisasi
Organisasi yang baik adalah organisasi yang mengalir, yang berarti dalam setiap
keberjalanan waktu ada generasi yang pergi dan ada generasi yang datang (ga itu-itu aja,
ga ngandelin figuritas). Nah, keberlangsungan organisasi dapat dijamin dengan adanya
sumber daya manusia yang menggerakan, jika sumber daya manusia tersebut hilang
maka dapat dipastikan bahwa organisasinya pun akan mati. Regenerasi berarti proses
pergantian dari generasi lama ke generasi baru, yang termasuk di dalamnya adanya
pembaruan semangat.
3. Sarana belajar bagi anggota
Tempat di mana anggota mendapat pendidikan yang tidak didapat di bangku
pendidikan formal.Pendidikan itu sendiri berarti proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau sekelompok orang dalam proses mendewasakan manusia melalui proses
pengajaran dan pelatihan.
Pendidikan di sini mencakup dua hal yaitu pembentukan dan pengembangan.
Pembentukan karena dalam kaderisasi terdapat output-output yang ingin dicapai,
sehingga setiap individu yang terlibat di dalam dibentuk karakternya sesuai dengan
output. Pengembangan karena setiap individu yang terlibat di dalam tidak berangkat

10
dari nol tetapi sudah memiliki karakter dan skill sendiri-sendiri yang terbentuk sejak
kecil, kaderisasi memfasilitasi adanya proses pengembangan itu.
Pendidikan yang dimaksudkan di sini terbagi dua yaitu dengan pengajaran (yang
dalam lingkup kaderisasi lebih mengacu pada karakter) dan pelatihan (yang dalam
lingkup kaderisasi lebih mengacu pada skill).
Dengan menggunakan kata pendidikan, kaderisasi mengandung konsekuensi
adanya pengubahan sikap dan tata laku serta proses mendewasakan. Hal ini sangat
terkait erat dengan proses yang akan dijalankan di tataran lapangan, bagaimana
menciptakan kaderisasi yang intelek untuk mendekati kesempurnaan pengubahan sikap
dan tata laku serta pendewasaan.

11
BAB III
PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN MASALAH

3.1 Wawancara Kapus dan Kader Puskesmas Medan Area Selatan

3.1a Wawancara Pegawai Puskesmas

Fitri : Masalah apa yang berkaitan dengan kebidanan di puskesmas ini buk?

CI : Yang pertama itu adalah cakupan penanganan K4 yang masih rendah,


cakupan persalinan itu juga masih rendah, permasalahan ASI eksklusif,
kemudian juga ada permasalahan di kunjungan. Yang dimana ada
kunjungan bayi balita, petugas yang turun kelapangan, kita tahu puskesmas
yang sebesar ini kita punya bidan hanya 4, padahal 4 itu tidak bisa keluar
semuanya, pasti harus ada yang memegang poli, harus ada yang stay disini
minimal 1, harus ada juga yang ke posyandu sehingga kita harus membagi
itu sangan susah. Itulah permasalahan dalam hal kebidanan, pencapaian
yang rendah masih seperti itu 2016, 2017

Fitri : Bagaimana potensi masyarakat untuk mengenal masalahnya buk?

CI : Kalau masyarakat mengenal masalah itu kita mengadakan pertanyaan la ya,


pertanyaan kepada masayarakat dalam bentuk survey, ada namanya survey
mawas diri. Di situ masyarakat bilang Buk kami itu kurang sarana atau
informasi gitukan, jadi informasi apa yang ibu mau? kita bilang,
contohnya tentang kesehatan Kami mau lah buk di kasih spanduk, stiker,
leaflet biar kami tau gitu informasinya yang jelas tentang kesehatan untuk
kebidana gitukan seperti itulah. Jadi akhirnya kita melakukanlah survai itu
kemaren, di tahun ini memang dilakukan survey di bulan 2 ini dan dapatlah
hasilnya yang di butuhkkan masyarkat itu seperti permasalahan posyandu,

12
jadi kitalah yang melakukan pembenahan di situ, posyandunya mau kita
apakan, oh berarti makan tambahan yang kurang, mungkin sarana prasarana,
oke mungkin kita kasih leaflet, spanduk, kita coba kasih semua kemudian
kita evaluasilah, maka yang dibutuhkan dia itu uda kita kasih, apakah ada
perubahan, posyandunya semakin banyak dan dating.

Gusti : Bagaimana upaya atau pendekatan yang dilakukan puskesmas untuk


meningkatkan partisipasi masyarakat dan bagaimana bentuk partisipasi
masyarakat tersebut buk?

CI : Selain yang kita bilang tadi, kita kan ada gotongroyong setiap hari jumat, kita
coba berbaur dengan masyarakat, terus orang kelurahan juga punya acara
gotongroyong setiap hari sabtu, kitakan punya WA mereka, jadi ketika kita
tanyak Pak/buk dimana posnya untuk gotongroyong? disitulah kita coba
datang kesana. Kemudian di PSN, kan ada Pemberantasan Sarang Nyamuk,
kita turun ke rumah-rumah kita kasih tau jadwal hari jumat kita turun
kelapangan, jadi kita bersama-sama kita berpartisipasilah kita liat jentik
nyamuk itu dimana aja yang ada, kan masyarakat cuma tau nyamuk itu
adanya di paret, jadi disitu kita beritahu bahwa nyamuk itu tinggalnya di air
yang tidak bergerak, misalnya di belakang kulkas, dispenser, jadi partisipasi
masyarakat nampaknya di situ.

Gusti : Apa masalah dan kendala yang dihadapi dalam upaya partisipasi buk?

CI : Pasti biaya ya, kalau kita gotongroyong ya masyarakat juga pingin ada
minum, ada snack, jadi kita harus siap-siapkan 50-60 ribu untuk itu. Kalau
sekali gak papa, tapi kalau 4 kali dalam sebulan,nah itu lah planning harus
kita siap-siapkan dana puskesmas untuk kesitu, karna kita mau merangkul
mereka, meraka mau bekerja, kenapa kita gak usahakan gituloh,
sebenernya tenaga mereka yang lebih banyak yakan, jadi kalau mereka
nyangkul-nyangkul gitu ya kita kasih lah sedikit makanan. Kemudian yang

13
kedua masalah waktu, kan banyak juga orang pekerja, tidak semua bisa,
tapi kita selalu mencoba untuk menghalo halokan.

Lidia : Bagaimana upaya pemecahan masalah untuk meningkatkan partisipasi


buk?

CI : Nah seperti yang saya bilang tadi, kita harus adakan feedback seperti kalau
gotongroyong kita buat makanannya,. Agar masyarakat semakin mau ikut
serta dengan program puskesmas.

Lidia : Bagaimana karakterristik Masyarakat di wilayah kerja puskesmas buk

CI : Kalau karakteristik itu ada 4 kelurahan, 3 kelurahan chinesse itu juga


mempersulit kita untuk mendatangkkan perubahan, satu kelurahan yang
memang domisialnya di suka ramai satu ini itulah memang tumpuan kita ,
di sini lah kita banyak bergerak tapi ya tetap yang tiga kelurahan itu kalau
tidak datang ke posyandu ya kita datang kerumah-rumahnya, tapi memang
kalau kita datang harus pakaian seragam lah lengkap dengan atribut,
dengan harus di dampingi kader ya, kalau gak kita akan sulit untuk
melakukan tindakan.

3.1b Wawancara Kader 1

Jessia : Buk saya mau nanya nama, usia, alamat, pekerjaan, jumlah anak ibu?

Bu Iin : Nama : Iin Mutiara Sari, Usia : 35 tahun, Alamat : Jln. Medan Area
Selatan, Gg. Buana No.4, Pekerjaan : Ibu rumah tangga, Jumlah anak: 2

Jessia : Alasan ibu menjadi kader?

14
Bu Iin : Agar mendapat ilmu juga lebih dekat dengan masyarakat kan kalo kader
ini perwakilan dari puskesmas untuk bisa merangkul ibu-ibu yang sedang
hamil, yang mempunyai batita dan balita agar mendapat penyuluhan biar
bertambah pengetahuan mereka

Jessia : Mengapa ibu bertahan menjadi kader?

Bu Iin : Supaya anak-anak di daerah sini lebih sehat dan mendapat imunisasi

Jessia : Masalah apa yang ibu hadapi selama menjadi kader?

Bu Iin : Kendala nya disini kalau sudah lewat dari 9 bulan tidak ada yang mau
posyandu bahkan untung menimbang saja malas kecuali ada vit A, baru
kami panggil mereka datang

Jessia : Perhatian tenaga kesehatan terhadap kader bagaimana bu?

Bu Iin : Ya, perhatian

Jessia : Harapan dan keinginan ibu sebagai kader untuk kader yang baru?

Bu Iin : Lebih dekat dengan masyarakat harus tau masyarakat

3.1c Wawancara Kader 2

Marisa : Saya mau nanya nama, usia, alamat, pekerjaan, jumlah anak ibu?

Bu Ea sartia : Nama : Ea sartia, Usia : 50 tahun, Alamat : Jln. Medan Area Selatan, Gg.
Buana No.4, Pekerjaan : Ibu rumah tangga, Jumlah anak : 3

Marisa : Alasan ibu menjadi kader?

15
Bu Ea : Agar mendapat ilmu juga lebih dekat dengan masyarakat kan kalo kader
ini perwakilan dari puskesmas untuk bisa merangkul ibu-ibu yang
sedang hamil, yang mempunyai batita dan balita agar mendapat
penyuluhan biar bertambah pengetahuan mereka

Marisa : Mengapa ibu bertahan menjadi kader?

Bu Ea : Karena tidak mempunyai kesibukan lainnya

Marisa : Masalah apa yang ibu hadapi selama menjadi kader?

Bu Ea : Kendala nya disini kalau sudah lewat dari 9 bulan tidak ada yang mau
posyandu bahkan untung menimbang saja malas kecuali ada vit A, baru
kami panggil mereka datang

Marisa : Perhatian tenaga kesehatan terhadap kader bagaimana bu?

Bu Ea : Ya, perhatian

Marisa : Harapan dan keinginan ibu sebagai kader untuk kader yang baru?

Bu Ea : Lebih dekat dengan masyarakat dan makin kompak dengan masyarakat

16
3.2 Wawancara Kapus dan Kader Puskesmas Sukaramai

3.2a Wawancara CI Kebidanan

Melisa : bagaimana karakteristik yang berkaitan dengan kesehatan ?

CI : maksudnya karakteristiknya ?

Melisa : sikap masyarakat kak apakah mereka peduli dengan kesehatannya kak
gitu kak.

CI : Ada yang peduli ada yang tidak peduli.

Melisa : Yang peduli itu yang bagaimana kak?

CI : Kalo yang peduli terlalu sering berobat, walaupun tidak sakit, datang
dia berobat

Melisa : Ada yang sama sekali ga mau berobat kak?

CI : Ada yang ga mau, walaupun dia tau dia sakit ga datang dia berobat,
bahkan kita sampai kunjungan rumah ke rumahnya , dan sampai kita
bilang itu efek samping dari misalkan dia hipertensi kan efek samping
dari kita tidak minum obat jika hipertensi tetap ga datang.

Melisa : Kira kira lebih besar yang mana kak?

CI : Lebih besar yang peduli lah.

Melisa : Lebih banyak yang peduli kak?

CI : Iya

Melisa : Permasalahan kesehatan yang berkaitan dengan kebidanan?

CI : Contohnya?

Melisa : Contohnya ga mau kunjungan gitu kak.

17
CI : Semua ibu hamil dan ibu bersalin kalau di wilayah kerja kita ini masih
tetap di bawah kontrol oleh tenaga kesehatan, walaupun tidak ke
puskesmas tapi mereka berkunjungnya ke klinik dan ke bidan praktek
swasta

Melisa : Maksdunya masalah apa yang sering kak di dalam kebidanan. Misalnya
ibunya banyak yang datang anemia ibu hamil atau banyak yang letak nya
ga bagus biasanya yang paling sering masalah yang dihadapai ibu hamil
apa kak?

CI : Kayaknya sepanjang ini ga ada masalah yang kita hadapi, ANC yang
normal aja semua kayaknya. Kalo masalah hb nya, kitakan setiap datang
ibu hamil kita lakukan pemeriksaan masih batas-batas normal lah 10,8 gitu
dia kan 11.

Melisa : Jadi masalah kesehatan biasanya ga ada ya kak normal semua untuk
tahun ini kak?

CI : Iyaaaa

Melisa : Kalo yang ibu hamil sering datang ke puskesmas ini kak?

CI : Sering, banyak, 1 bulan mencapai 60 70 kunjungan.

Melisa : Potensi masyarakat untuk mengenal masalah kak? Bagaimana kak ?


Apakah mereka tau kalau mereka sakit itu sebuah masalah kesehatan kak?

CI : Tau, itu yang saya bilang tadi bahkan yang tidak perlu minum obat dia ke
puskesmas

Melisa :Yang ga peduli itu kak biasanya yang dari mungkin dari keluarga
bagaiman kak? Mungkin karna taraf pendidikannya yang rendah makanya
di ga peduli

CI : Iyaa, taraf pendidikannya rendah dan yang tidak mempunyai pekerjaan

18
Melisa : Kirakira selain berobat, mereka punya potensi lain ga kak? Misalnya
ngebantu puskesmas atau mungkin melakukan kegiatan penyuluhan atau
gmna.

CI : Itukan kerjaan kader, Kalo kader mau

Melisa : Mungkin dibagian pelayanan ada penyuluhan masalah kebidanan ?

CI : Maksdunya? Kader yang menyuluh atau saya yang menyuluh atau


masyarakat yang menyuluh?

Melisa : Penyuluhan tentang masalah kehamilan kan biasanya ada terjun ke


lapangan , dari situ ibu hamilnya kira kira potensinya dia peduli ga?
Mksdnya setelah mendapat arahan dari bidan apakah lebih mendengar
keluarganya kalo misalnya disuruh mertuanya gini ga boleh kak, misalnya
suntik TT kan kak potensinya gmna kak?

CI : Setelah kita jelaskan mereka mau

Melisa : Ternyata mau ya kak

CI : Makanya banyak sekarang kunjungan ibu hamil kan,padahal kalo


sebulan itu sasaran kita minimal 50 sampai 60 sasaran yang harus setiap
bulan, ini melebihi kayaknya, kadang kadang ada pasien ini terlalu rajin
sebulan bisa dia 3 kali berkunjung

Melisa : Mungkin anak pertama itu kak?

CI : Enggak, bukan Cuma anak pertama, anak kedua anak ketiga bisa dia
berkunjung seperti itu . ceritanya kayaknya orang itu suka dengan kami.

CI dan Mahasiswa : hehehe

Melisa : Baru ini kayak gitu ya kak?

CI : Iyaaa, memang udah banyak kali,apa karna ada pembagian roti itu kan,
setiap datang kan saya kasih roti, roti ibu hamil.

19
Melisa : Upaya atau pendekatan yang dilakukan puskesmas untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat? Dan apa bentuk partisipasinya kak?

CI : Kunjungan rumah,penyuluhan,perawatan kesehatan masyarakat kita


langsung terjun

Melisa : Perawatan kesehatannya biasanya dalam bentuk apa kak?

CI : Misalnya pasiennya sakit, tidak bisa datang ke puskesmas kami yang


merawat kerumah

Melisa : Itu biasanya laporan ada yang sakit darimana kak?

CI : Biasanya keluarganya yang melaporkan, kadang juga kepling yang


melaporkan

Melisa : Berarti itu setiap hari ya kak? Pelayanan perawatan kesehatnnya ?

CI : iyaa

Melisa : Masalah dan kendala yang dihadapi dalam upaya partisipasi apakah ada
kak?

CI : Maksudnya?

Melisa : Tadi yang dari upaya yang tadikan kan kak, seperti kunjungan rumah,
penyuluhan itu kak apakah ada masalah kak?

CI : Oh, Tidak ada

Melisa : Mungkin ada rumahnya yang kejauhan kak?

CI : Jauh pun harus kita jangkau, uang nya pun tak ada, uang jalannya,
kewajiban dilakukan

Melisa : Atau mereka tidak mau ikut berpartisipasi kak?

CI :Mauu

20
Melisa : Berarti ga ada yang ga mau ya kak?

CI : Iyaa

Melisa : Mungkin banyak yang mau berobat kan tadi kak, sedangkan jumlah
obatnya di puskesmas habis stocknya bulan itu kak mungkin ada masalah
kayak gitu ya kak?

CI : Tidak ada. Obat selalu ada walaupun dari pemerintah kurang, puskesmas
selalu membeli, dibeli sendiri, dengan uang kami yang di..

Melisa : Itu kan berarti masalah kak?

CI : Itu kan ga jadi masalah.

Melisa : Engga, maksudnya kendala kak.

CI : Kendala misalnya kalau kami tidak menyediakan itu itukan masalah


kami kepada pasien, tapi ini kan kami menyediakan sendiri, inisiatif
sendiri.

Melisa : Berarti ada bantuan materi dari petugas?

CI : Iyaa

Melisa : Kalau upaya pemecahan masalah untuk meningkatkan partisipasi itu


kak?

CI : Kalau tidak ada masalah berarti tidak ada pemecahan.

Melisa : Dari awal dilakukan program pemerintah misalnya home visit, germas
kan baru baru aja ini kak , itu partisipasi masyarakat memang langsung
berpartisipasi kak?

CI : Karna kita sudah dari dulu kita home visit, bukan karna germas yang
baru ini,bukan, sudah dari dulu, udah memang itu kegiatan kita rutinitas,
jadi bukan hal baru bagi kami.

21
Melisa : Makanya masyarakat udah dekat dengan petugasnya ya kak?

CI : Iyaa

3.2b Wawancara Kader 1

Ika &Mei : Selamat siang bu.

Ika :Nama ibu siapa ya bu ?

Kader : Bu Indri

Ika :Umurnya bu?

Bu Indri :Umurnya 44 tahun

Ika :Ibu Sukunya apa bu?

Bu Indri :Kalo suku, suku banten

Ika :Agama Islam ya kan bu

Ika :Pekerjaan ibu selain jadi kader bu?

Bu Indri :EeIbu rumah tangga

Ika :Anak ibu berapa bu?

Bu Indri :Anak 1

Ika :Alamat ibu ?

Bu Indri :Jalan denai gang 1 no 23. Suami ibu ga ditanya? Hehe. Engga bu ibu ajaa
hehehe

Ika :Alasan ibu mau jadi kader bu?

Bu Indri :Memang udah dari dulu gitu, menyenangi aja.

Meiarti :Ibu senang sama pekerjaan ini gitu?

22
Bu Indri :He eh

Meiarti :Apakah karena ada keluarga ibu pernah jadi kader, misalnya mama ibu?

Bu Indri :Iyaa dulu mama pernah jadi kader, udah itu udah tamat ibu sekolah SMA
,ibu lanjutii.

Ika :Ibu betah ga dengan dengan pekerjaan ini?

Bu Indri :Ya betah lah, dari yang ga ada uangnya sampai jadi ada, udah itu banyak
pengalaman, tau tentang kesehatan, apalagi ya macem macem lah.

Meiarti :Masalah apa bu yang ibu alami selama menjadi kader? Misalnya kalo dari
masyarakatnya itu sendiri bu.

Bu Indri :Kalo dari masyarakat, kalo sekarang udah ngerti gitu yak an. Udah mau
bawa anaknya ke posyandu. Kalo jaman dulu kita buju bujuk.

Ika :Caranya gimana bu?

Bu Indri :Ya kita ajak lah, kita kasitau tentang tujuan imunisaasi , melakukan
penyuluhan .tentang kesehatan.Sekarangkan udah ada jadwalnya untuk posyandu , jadi
masyarakatnya udah mengetahui kapan jadwal imunisasi .

Meiarti : Ada juga yang masyarakat yang ga hadir bu?

Bu Indri : Ada juga , kalo anaknya sakit atau lagi bepergian kan ga mungkin
mereka pada datang ke posyandu

Ika : Ada ga bu masyarakat yang sama sekali ga mau ikut posyandu ?

Bu Indri : Ada,ya karna anaknya waktu pertama kali disuntik demam , mereka ga
mau lagi dan ga dikasi suaminya kalo anaknya disuntik lagi

Meiarti : Bagaimana solusi untuk kader menghadapi masalah tersebut bu?

23
Bu Indri : Udah dikasi penyuluhan ,udah dikasi informasikan . Kadang ada juga
suaminya yang mau melabrak karena anaknya demam , rewel . Kadang kan setelah disuntik
itu bengkak

Ika : Padahal itu fisiologiskan bu ?

Bu Indri : Hmm

Meiarti : Terus kalo ada masalah seperti itu gimana para kader menanggulanginya ?

Bu Indri : Ya kami ga terlalu perduli kami, dijelaskan ga terima , yaudah

Meiarti : Jadi untuk selanjutnya ga ke posyandu lagilah ya bu?

Bu Indri : Enggak , kadang mau datang cuma timbang aja gamau suntik

Ika :Kalo anak itu ga disuntik ga jadi masalahitu bu?

Bu Indri : Yang rugikan dia sendiri kan, kita udah jelasin apa kegunaan imunisasi ,
namun dia gamau kan dia juga yang merasakan . Kalo ada apa-apa ya kita tinggal bilang
salah siapa gitu kami udah ngasih penyuluhan , ga datang kami panggil

Meiarti : Perhatian tenaga kesehatan terhadap kader itu gimana bu ?

Bu Indri : Ya ikut juga mereka penyuluhan , berpartisipasi

Ika : Kalo posyandu mereka ada ?

Bu Indri : Ya adalah , kan ga mungkin kami yang nyuntik , kalo pelayanan kan
mereka

Meiarti : Selain mereka memberikan pelayanan , apa perhatian yang diberikan


mereka lagi bu?Kayak menghalo-halokan ibu agar lebih giat lagi memberitahu masyarakat

Bu Indri : Ya iya itu pastilah , karna kalo duduk aja gaada kerjaan kan gaenak juga
gaada yang dikerjain .

Ika : Ada perhatian khusus ga bu dari Puskesmas ke ibu selain yang tadi? mungkin
karna ngebantu tenaga kesehatan ?

24
Bu Indri :Kalo saya karna kader , mereka sangat menyenangi saya,kalo ada apa-apa
saya yang disuruh kayak PSN ( Pemberantasan sarang nyamuk). Perhatian Puskesmas
terhadap kader banyak juga , kayak tiap tahun kami diajak jalan-jalan .Perhatian mereka ada

Meiarti :Dari segi materi bu?

Bu Indri :Kalo materi itu uang posyandu kan dari Pemko tapi kalo uang pribadi dari
mereka kan kita ga tau . Pokoknya kalo ada uang keluar ini ini ,mereka berikan

Ika : Selain jalan-jalan , mungkin ada lagi bu?

Bu Indri : Ya orang itu sering buat sosialisasi sama kader, nambah pengetahuan .
Kalo misalnyaada yang baru mereka terus ngundang semua kader . Misalnya disini satu
puskesmas ada 4 kelurahan

Meiarti : Kader yang baru itu siapa yang mengajak bu ?

Bu Indri :Kita , kader yang lama

Ika : Inikan ibu kader yang lama , misalnya ada kader yang baru harapan dan
keinginan ibu untuk kader yang baru ini gimana bu?

Bu Indri : Ya lebih bagus dari kitalah , pertama kita ajari kayak mana caranya ,kita
ajaklah kalo ada sosialisasi

Meiarti : Ada kriteria khusus ga bu untuk jadi kader?

Bu Indri :Gaada , pokoknya kalo dia mau , dia mampu

Ika : Mampu itu bu dalam hal gimana bu ?

Bu Indri : Ya ada waktunya kan gitu ,bisa kerja sama Karena kalo kader kan ga
mengharapkan uang , belum tentu uang itu dikeluarkan orang itu . Harus selalu ada disetiap
dibutuhkan

Ika : Kalo pemilihan kader , ada tahap-tahapnya gab u?

25
Bu Indri : Gaada tahap-tahap pemilihan kader , siapa yang mau ayok. Misalnya ada
yang mau dan kebutulan kita masih ada yang kosong kita masukkan aja . Mau jadi kader
PKK ,posyandu kita selipkan lah mereka

Meiarti : Ada data khusus ga bu yang dibuat kader?Misalnya absen

Bu Indri : Ada tiap lingkungan itu ada 5 kader. Disini 12 jadi 60

Meiarti :Jadi yang baru dilaporkan ke kader yang lama ya bu ?

Bu Indri : Iya, gaada kriteria untuk jadi kader , pokoknya dia mau , mampu karna
kan gaada honornya

Ika : Kegiatan apa aja yang dilakukan diposyandu bu ?

Bu Indri : Diposyandu itu , pendaftaran , penimbangan , 5 meja itu , pencatatan


,penyuluhan , pelayanan .

Ika : Ada ga bu kegiatan tambahan yang dilakukan di posyandu ?

Bu Indri : Gaada ,paling kalo ada perintah dari puskesmas gini , ayok kaya tadi
PSN , kayak ada kasus DBD gitu kan perlu dilaporkan

Meiarti : Ada gab u ibu menemukan masalah atau kendala didalam posyandu itu ?

Bu Indri : Banyak jugalah ,karna sekarang balita berkurang karna KB kan , misalnya mesti
100 sementara tiap lingkungan ga sampek 50 pun gaada . Karna gaada balita nya Karna
sukses KB itu

Meiarti : Jadi masalah juga kan bu ?Heeh

Bu Indri : Iyalah , misalnya harus sekian tapi balitanya gaada kan jadi masalah
juga

Ika : Biasanya bu setiap melakukan kegiatan kana da sasaran nya bu . Kira-kira


berapa persen bu , misalnya dari 100 kira kira berapa bu ?

26
Bu Indri : Kalo persennya 80 % adaa , tapikan permintaan mereka 100 setiap
posyandu , sementara di lingkungan 30 , 40 ada yang 17 .

Meiarti : Kader kalo diposyandu itu ngapain aja bu , kana da 5 meja , misalnya 4
meja kader 1 meja bidan. Itu kayakmana bu?

Bu Indri : 5 kader , satukan petugas puskesmas . Tapi kan yang megang bayi kan kader .
Jadi 6 kadernya . Si ibu kadang takut megangnya

Ika :Selain itu bu , mungkin kader ada menyampaikan info ?

Bu Indri :Ada ,itulah penyuluhan , misalnya anaknya kurang sehatn kita kasilah
penyuluhan ,misalnya gizinya kurang dikasi lah informasi . langsung konseling pokoknya

Meiarti : Bu kalo posyandu wajib kader ada 5 orang atau gimana bu ?

Bu Indri : Dibilang wajib ya wajib , tapikan kadang 1 berhalangan , ya tetap jalan 5


meja itu itu waluoun anggotanya kurang

Meiarti & Ika : Terimakasih ya bu untuk Informasinya

Bu Indri : Sama-sama nak

3.2.c Wawancara Kader 2

Fitria : Selamat pagi buk, perkenalkan Saya Fitria Amelia mahasiswi Poltekkes Jurusan
Kebidanan. Nama ibu ?
Kader 2 : Nama Saya Sri Dewi Wahyuni
Fitria : Usia ibu berapa ?
Kader 2 : 33 tahun
Fitria : Agama ibu?
Kader 2 : Islam
Fitria : Boleh tau pekerjaan ibu atau kegiatan sehari-hari?
Kader 2 : Inilah, saya jualan.
Fitria : Alamat tetap ibu?

27
Kader 2 : Jl. A.R. Hakim Gg. Kantil No. 2
Fitria : Ibu dari suku ?
Kader 2 : Saya suku Banjar
Fitria : Kalau boleh Saya tau kenapa ibu mau menjadi kader? Alasannya?
Kaer 2 : Pertama, hanya diajak saja karena dulu masih sedikit yang berminat menjadi
kader. Kedua, kemarin saya belum bekerja jadi punya waktu luang
Fitria : Sudah berapa lama ibu menjadi kader?
Kader 2 : Dari tahun 2006 (11 tahun)
Fitria : Selama ibu menjadi kader apakah ada masalah yang ibu alami?
Kader 2 : Alhamdulillah, sampai saat ini tidak ada.
Fitria : Mungkin ada pihak keluarga yang marah ke ibu karena bayinya demam setelah
diimunisasi?
Kader 2 : Oh tidak ada
Fitria : Kemudian, bagaimana perhatian pihak puskesmas terhadap ibu?
Kader 2 : Kalau khusus tidak ada, tapi kalau menyeluruh paling kami diajak jalan-jalan ke
Sri Mersing satu puskesmas ini.
Fitria : Sejak kapan bu?
Kader 2 : Baru tahun ini
Fitria : Yang ditanggung pada kegiatan tsb itu biaya makan dan transport semuanya
ditanggung bu?
Kader 2 : Makan tidak, kita bawa makanan masing-masing
Fitria : Kegiatan yang dilakukan disana apa aja bu?
Kader 2 : Ada acara lomba-lomba sekalian pemberian hadiah
Fitria : Lomba apa aja bu?
Kader 2 : Ada lomba nyanyi, ada lomba joget. Sama ada pertanyaan-pertanyaan seputar
posyandu
Fitria : Harapan ibu sendiri untuk kader yang baru apa buk?
Kader 2 : Harapan saya semoga kader-kader yang baru bisa bekerja sama, bukan hanya
datang trus nimbang aja tapi tidak pande buat laporan. Maunya sama-sama gitu, jangan
hanya satu orang aja yang ngerjain laporan

28
Fitria : Ada tidak bu partisipasi pihak puskesmas untuk menangani hal tsb? Sudah pernah
disampaikan keluhannya bu?
Kader 2 : Sebenernya pihak puskesmas uda melatih mereka bagaimana cara membuat
laporan yang benar, Cuma ya kadang gitu, udalah kau aja orang kau uda biasa gitu
Fitria : Nah kalau kader mengalami kendala-kendala seperti itu bagaimana tanggapan pihak
puskesmas bu?
Kader 2 : Karena ga ada laporan khusus jadi Cuma sebatas itu jadi hanya tersirat aja
Fitria : Jadi tidak ada laporan khususnya ya bu?
Kader 2 : Tidak ada, seperti pembuatan laporan tadi, karena tidak ada yang melapor jadi
kegiatan seperti itu terus.
Fitria : Masalah selain itu ada lagi ga kira-kira bu?
Kader 2 : Masalahnya karena kami kan lingkungannya mayoritas Chinese, jadi
kebanyakan dari mereka tidak datang posyandu
Fitria : Jadi penanganan yang dilakukan pihak kader apa bu?
Kader 2 : Kadang kami ke rumahnya bawa timbangan, kadang ada yang sekolah Cuma
minta laporan berapa timbangannya bulan ini? Itu aja. Karena mereka 3 tahun sudah
sekolah
Fitria : Kegiatan yang dilakukan kader saat posyandu apa saja bu?
Kader 2 : Ada yang nimbang, nyatat, kadang kasi penyuluhan kan
Fitria : Hasilnya biasanya bagaimana bu? Misalnya ada ga sasaran dari puskesmas jumlah
bayi yang ikut posyandu?
Kader 2 : Seringnya tidak terpenuhi karena mayoritas Chinese jadi kita sedikit kesulitan.
Jadi banyak balitanya 50, paling yang ikut posyandu Cuma 15-20
Fitria : Kendala-kendala yang iibu hadapi saat home visit apa kira2 bu?
Kader 2 : Kendalanya kalau kita sendiri, cuma kalau ditemani ibu kepling, pihak
puskesmas baru biasanya di persilahkan masuk sama warga
Fitria : Kegiatan ibu selama menjadi kader selain posyandu apa saja bu?
Kader 2 : Kadang ada pelatihan-pelatihan
Fitria : Jadwalnya kapan saja bu ?
Kader 2 : Tidak tentu, tapi kalau akhir tahun ini sebulan sekali
Fitria : Dimana saja biasanya bu?

29
Kader 2 :Dikantor camat pernah, di puskesmas pernah, di kelurahan lain pernah
Fitria : Nah ibu seneng ga menjadi kader?
Kader 2 : Ya seneng, dari tahun 2006 ya kan, walaupun uang transport nya kurang tapi
lumayan terbantu juga la, nambah pengetahuan kesehatan juga

30
3.3 Dokumentasi Pegawai dan Kader
3.3a Dokumentasi Pegawai Puskesmas Medan Area Selatan

31
3.3b Dokumentasi Kader 1 Puskesmas Medan Area Selatan

32
3.3c Dokumentasi Kader 2 Puskesmas Medan Area Selatan

33
3.3d Dokumentasi Pegawai Puskesmas Suka Ramai

34
3.3e Dokumentasi Kader 1 Puskesmas Suka Ramai

35
3.3f Dokumentasi Kader 2 Puskesmas Suka Ramai

36
BAB IV
KESIMPULAN

Tujuan persiapan sosial adalah mengajak berpartisipasi atau peran serta masyarakat sejak
awal kegiatan, sampai dengan perencanaan program, pelaksanaan hingga pengembangan
program kesehatan masyarakat. Kegiatan-kegiatan dalam persiapan sosial ini lebih ditekankan
kepada persiapan-persiapan yang harus dilakukan baik aspek teknis, administratif dan program-
program kesehatan yang akan dilakukan.
Partisipasi
Menurut Keith Davis, partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang
kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya. Dalam defenisi tersebut
kunci pemikirannya adalah keterlibatan mental dan emosi. Sebenarnya partisipasi adalah suatu
gejala demokrasi dimana orang diikutsertakan dalam suatu perencanaan serta dalam
pelaksanaan dan juga ikut memikul tanggung jawab sesuai dengan tingkat kematangan dan
tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang
mental serta penentuan kebijaksanaan.
Kaderisasi
Kaderisasi merupakan hal penting bagi sebuah organisasi, karena merupakan inti dari
kelanjutan perjuangan organisasi ke depan. Tanpa kaderisasi, rasanya sangat sulit dibayangkan
sebuah organisasi dapat bergerak dan melakukan tugas-tugas keorganisasiannya dengan baik
dan dinamis. Kaderisasi adalah sebuah keniscayaan mutlak membangun struktur kerja yang
mandiri dan berkelanjutan.

37
DAFTAR PUSTAKA

Totok Mardikanto, dkk. 2013. Pemberdayaan Masyarakat : Dalam Perspektif Kebijakan Publik.
Bandung : Alfabeta.
Edi Suharto. 2014. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat : Kajian Starategis
Pembangunan Kesejahteraan Sosial & Pekerjaan Sosial. Bandung : PT. Revika Aditama.

38