Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan FALTL Universitas Trisakti


Gasal 2017/2018

KELOMPOK 9
1. Mala Oktaviyana Lussa (082001500035)
2. Septyn Anggun Lestari (082001500054)

Asisten : Fildza Khumeira

KEBISINGAN LALU LINTAS

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebisingan merupakan masalah yang sering dijumpai oleh perusahaan besar
saat ini. Penggunaan mesin dan alat kerja yang mendukung proses produksi
berpotensi menimbulkan suara kebisingan. Kebisingan adalah terjadinya bunyi
yang tidak di kehendaki sehingga mengganggu atau membahayakan kesehatan
Kebisingan menimbulkan beberapa dampak pada kesehatan.Selain berdampak
pada gangguan pendengaran intensitas bising yang tinggi juga dapat
mengakibatkan hilangnya konsentrasi, hilangnya keseimbangan dan disorientasi,
kelelahan, gangguan komunikasi, gangguan tidur, gangguan pelaksanaan tugas,
gangguan faal tubuh, serta adanya efek visceral, seperti perubahan frekuensi
jantung/peningkatan denyut nadi, perubahan tekanan darah dan tingkat
pengeluaran keringat (Harrington & Gill, 2003).
Peningkatan jumlah kendaraan bermotor menyebabkan bertambahnya tingkat
kebisingan di jalan raya. Dampak dari kebisingan ini menimbulkan ketidaknyamanan
baik oleh para pengguna jalan maupun masyarakat disekitarnya. Jalan dengan volume
kendaraan berat maupun kendaraan ringan yang cukup banyak semakin beresiko
menghasilkan suara bising.
Dari latar belakang tersebut dapat diketahui bahwa pengaruh kebisingan lalu
lintas dengan intensitas tinggi merupakan salah satu faktor lingkungan fisik yang
dapat mengganggu kondisi kesehatan manusia. Oleh karena itu, dilakukan
praktikum Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas di Lingkungan Kampus A
Universitas Trisatki.

1.2 Tujuan
Tujuan Praktikum Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas dengan
menggunakan Sound Level Meter di Kampus A Universitas Trisakti, Grogol,
Jakarta Barat adalah :
1. Untuk mengetahui Tingkat Kebisingan Lalu Lintas dengan lokasi
sampling Pintu II , Jl. Lejten S. Parman, Kampus A Universitas Trisakti,
Grogol, Jakarta Barat.
2. Untuk membandingkan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas dengan Baku
Mutu Tingkat Kebisingan yang telah ditetapkan pada lokasi sampling
Pintu II , Jl. Lejten S. Parman, Kampus A Universitas Trisakti, Grogol,
Jakarta Barat.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Definisi
Kebisingan adalah bentuk suara yang tidak diinginkan atau bentuk suara yang
tidak sesuai dengan tempat dan waktunya (Suratmo, 2002). Suara tersebut tidak
diinginkan karena mengganggu pembicaraan dan telinga manusia, yang dapat
merusak pendengaran atau kenyamanan manusia, kebisingan adalah bunyi yang
tidak dikehendaki karena tidak sesuai dengan konsep ruang dan waktu sehingga
menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan dan kesehatan manusia
(Sasongko, dkk, 2000).
Jenis kebisingan yang bersumber dari lalu lintas jalan raya umumnya
termasuk fluctuating noise, kecuali pada saat kepadatan lalu lintas yang rendah
dan pada waktu tertentu dilewati oleh kendaraan berat, dimana jenis kebisingan 7
seperti ini termasuk intermitten noise seperti kebisingan yang ditimbulkan oleh
kereta api.

2.2. Sumber dan Jenis


Menurut Sumamur (1995) sumber bising utama dapat diklasifikasikan
dalam 2 kelompok, yaitu :
a. Bising interior, berasal dari manusia, alat rumah tangga, atau mesin-mesin
gedung, misalnya radio, televisi, bantingan pintu, kipas angin, komputer,
pembuka kaleng, pengkilap lantai, dan pengkondisi udara.
b. Bising eksterior, berasal dari kendaraan, mesin-mesin diesel, transportasi.Dari
kedua sumber bising tersebut di atas, tingkat bising yang sangat tinggi
diproduksi dalam beberapa bangunan industri oleh proses pabrik atau
produksi. Tingkat bunyi sumber-sumber bising tertentu, yang diukur dengan
meter tingkat bunyi.
Kebisingan menurut Sumamur (1995) dapat dibagi menjadi empat jenis,
yaitu:
a. Kebisingan yang kontinu dengan spektrum frekuensi yang luas (steady state,
wide band noise), misalnya mesin-mesin, kipas angin, dapur pijar, dan lain-
lain.
b. Kebisingan kontinu dengan spektrum frekuensi sempit (steady state, narrow
band noise), misalnya gergaji sirkuler, katup gas, dan lain-lain.
c. Kebisingan terputus-putus (intermitten), misalnya lalu lintas, suara kapal
terbang di lapangan udara.
d. Kebisingan impulsive (impact or impulsive noise), seperti pukulan, tembakan
atau meriam, ledakan, dan lain-lain.

2.3. Dampak
Menurut Buchari (2007), Pengaruh kebisingan terhadap manusia tergantung
pada karakteristik fisik, waktu berlangsung dan waktu kejadian, ada beberapa
gangguan yang diakibatkan oleh kebisingan diantaranya :
a. Gangguan Pendengaran
Pendengaran manusia merupakan salah satu indera yang berhubungan dengan
komunikasi audio/suara. Alat pendengaran yang berbentuk telinga berfungsi
sebagai fonoreseptor yang mampu merespon tanpa menimbulkan rasa
sakit.Sensitifitas pendengaran pada manusia yang dikaitkan dengan suara
paling lemah yang masih dapat didengar disebut ambang pendengaran,
sedangkan suara yang paling tinggi yang masih dapat didengar tanpa
menimbulkan rasa sakit disebut ambang rasa sakit. Kerusakan pendengaran
(dalam bentuk ketulian) merupakan penurunan sensitifitas yang berlangsung
secara terus-menerus.
b. Gangguan Kesehatan
Kebisingan berpotensi untuk mengganggu kesehatan manusia apabila
manusia terpapar aras suara dalam suatu perioda yang lama dan terusmenerus.
Aras suara 75 dB untuk 8 jam kerja per hari jika hanya terpapar satu hari saja
pengaruhnya tidak signifikan terhadap kesehatan, tetapi apabila berlangsung
setiap hari, maka suatu saat akan melewati suatu batas dimana paparan
kebisingan tersebut akan menyebabkan hilangnya pendengaran seseorang
(tuli).

2.4. Baku Mutu


Dalam Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas menggunakan Sound
Level Meter, baku mutu yang digunakan adalah Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup No. 48 Tahun 1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan.

2.5. Upaya Pengendalian


a. Pengurangan kebisingan pada sumbernya
Hal ini bisa dilakukan dengan menempelkan alat peredam suara pada alat
yang bersangkutan. Pada waktu sekarang penelitian dan perencanaan yang disertai
teknologi modern, mesin-mesin baru yang mutakhir tidak lagi banyak
menimbulkan kebisingan. Suara yang ditimbulkan juga suda tidak lagi
mengganggu dan membahayakan lingkungan.
b. Penembatan penghalang pada jalan transmisi
Usaha ini dilakukan dengan jalan mengadakan isolasi ruangan atau alat-alat
penyebab kebisingan dengan jalan menempatkan bahan-bahan yang mampu
menyerap suara sehingga suaara-suara yang keluar tidak lagi merupakan
gangguan bagi ligkungan.
c. Pemakaian sumbat atau tutup telinga
Cara ini terutama dianjurkan kepaa orang yang berada di sekitar sumber
kebisingan yang tidak dapat dikendalikan, seperti ledakan. Alat penyumbat telinga
ini bisa mengurangi intensitas kebisingan kurang lebih 24 dB.
Selain itu, bagi orang yang bekerja di ruangan dengan kebisingan di atas 100
dB diharuskan memakai tutup telinga.
III. ALAT
3.1 Alat
Tabel 3.1 Alat yang Digunakan
No Nama Alat Ukuran Jumlah Gambar

Sound Lever Mater


1. TM-103 - 1
S/N150101270

2. Kalibrasi SLM - 1

Sound Lever Mater


(Jarak 25 m)
3. - 1
SL 4102
G 15445

Alat Hitung
4. - 1
Kendaraan
IV. CARA KERJA
4.1. Diagram Sampling

Siapkan Alat Sound Catat Data Meteorologi Nyalakan Alat SLM (10
Level Meter dan (Suhu, Kecepatan angin, meter) dan tekan tombol
kalibrasi Kelembapan, Tekanan ) Reg, Ukur Tingkat
Kebisingan setiap 5 detik
selama 10 menit dan
catat nilai max dan min

V. HASIL PENGAMATAN
Praktikum Pengkuran Tingkat Kebisingan dilakukan pada :
Hari, Tanggal : Kamis, 16 November 2017
Pukul : 10.00 WIB
Titik Sampling :C
Lokasi Sampling : Pintu II , Jl. Lejten S. Parman, Kampus A Universitas
Trisakti, Grogol, Jakarta Barat

Gambar 5.1 Lokasi SumberTingkat Kebsingan Lalu Lintas


Pintu II , Jl. Lejten S. Parman, Kampus A Universitas Trisakti, Grogol

5.1. Data Meteorologi


Tabel 5.1 Data Meteorologi
No Keterangan Data Pengamatan Gambar

1. Kelembapan udara 35 % RH

2. Tekanan udara 760 mmHg

No Keterangan Data Pengamatan Gambar

3. Kecepatan angin 0,23 m/dt


4. Suhu

300C

5. Titik Koordinat
S 601006,8
E 10604723,8

5.2. Data Sampling


Tabel 5.2 Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas
Jarak 10 meter dari Sumber
Leq
Jam Menit Detik Ke-
[dB(A)]
ke- ke-
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 1 Menit
1 1 69.9 78.5 70.7 70.9 66.9 73.9 69.1 73.3 72.5 68.2 68.7 67.0 72.23
2 77.1 65.7 67.5 70.8 70.5 67.5 69.0 72.4 69.7 72.7 71.9 67.3 71.35
3 72.1 70.7 69.0 70.4 68.0 67.2 67.9 71.5 69.6 67.8 71.4 72.5 70.19
4 58.2 68.6 67.5 68.2 67.5 67.2 65.4 78.6 67.9 70.4 69.8 73.0 71.07
5 67.1 69.0 68.9 68.7 65.9 77.9 66.0 69.8 77.3 68.5 72.0 71.6 72.18
6 66.8 67.7 69.1 67.7 67.0 70.6 69.6 66.2 66.4 66.4 68.7 69.4 68.20
7 70.3 69.6 73.8 73.0 69.0 68.6 68.9 71.1 76.1 70.4 69.6 73.1 71.78
8 74.3 70.3 67.3 74.5 72.0 70.6 69.9 71.3 67.2 66.9 67.5 68.3 70.80
9 67.9 70.3 73.5 69.4 69.5 71.7 69.7 70.0 72.8 71.3 71.1 68.7 70.79
10 67.6 70.7 71.6 69.0 70.5 68.2 70.5 71.9 69.2 74.9 77.0 68.5 71.78
Leq 10 Menit [dB(A)] 71.17
L2 [dB(A)] 65.15

Tabel 5.3 Hasil Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas


Jarak 25 meter dari Sumber
Leq
Detik Ke-
Jam Menit [dB(A)]
ke- ke- 1
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
Menit
1 1 68.6 70.7 64.8 66 66.8 65.0 64.7 66.2 64.7 64.8 63.6 65.0 66.41
2 69.5 68.2 63.9 63.5 64.6 62.7 63.8 68.3 65.4 65.0 64.1 63.7 65.80
3 65.3 63.4 65.4 68.1 71.9 64.9 63.4 66.6 64.0 66.5 65.2 66.9 66.69
4 70.4 76.4 69 65 67.1 63.0 63.4 67.5 64.8 65.6 65.4 72.9 69.63
5 65.8 70 65 64.5 62.3 64.0 75.0 62.6 62.4 65.9 66.7 68.9 67.99
6 65.7 68.6 68.3 63.8 62.1 66.1 63.7 63.9 75.9 62.2 63.3 64.8 68.04
7 64.7 63.8 71.7 65.6 63.3 62.9 64.8 63.1 62.8 75.0 64.1 61.7 67.69
8 64.8 69.6 63.3 64.3 67 69.9 70.3 64.4 63.7 63.6 75.0 68.5 68.68
9 66 64.7 70.3 67.2 66.2 65.1 69.8 73.1 74.8 63.6 64.8 66.3 69.21
10 63.2 63 66.4 64 63.7 70.9 65.0 63.6 68.8 65.9 67.7 67.1 66.50
Leq 10 Menit [dB(A)] 67.84
L2 [dB(A)] 65.34

Tabel 5.4 Data Jumlah Kendaraan Total dan Kecepatan


Jenis Kecepatan (km/jam)
No Jumlah
Kendaraan 30 35 40 50
1 Sepeda motor 11421 57
2 Sedan 320 63
3 Mikro bus 1832 72
4 Bus 87 79
5 Truck 365 81

Tabel 5.5 Hasil Perhitungan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas


Jenis Kecepatan Leq 10 Leq 25
No Jumlah Loe
Kendaraan (km/jam) Meter Meter
1 Sepeda motor 921 35 57 68.62 62.66
2 Sedan 98 50 63 63.35 57.38
3 Mikro bus 527 40 72 80.62 74.65
4 Bus 22 40 79 73.83 67.86
5 Truck 86 30 81 83.00 77.03
Leq Total [dB(A)] 85.42 79.45

5.3. Data Perbandingan


Tabel 5.6 Perbandingan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas Jarak
Kelompok Besar

Jarak 10 meter Jarak 25 meter


Kel. Lokasi Sampling Leq 10 menit Leq 10
L2 (dBA) L2 (dBA)
(dBA) menit (dBA)
A
B
C Pintu II, Jl. Letjen S.
71.17 65.15 67.84 65.34
Parman

Tabel 5.7 Perbandingan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas


Jarak 10 meter dari Sumber

Jenis Leq 10 meter (dBA)


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Kendaraan
Sepeda Motor 68.62
Sedan 63.35
Mikro bus 80.62
Bus 73.83
Truck 83
Leq Total
85.42
(dBA)

Keterangan :
1. Lokasi Pengukuran A :
Kelompok
2. Lokasi Pengukuran B :

3. Lokasi Pengukuran C :

Tabel 5.7 Perbandingan Tingkat Kebisingan Lalu Lintas


Jarak 25 meter dari Sumber

Jenis Leq 10 meter (dBA)


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Kendaraan
Sepeda Motor 62.66
Sedan 57.38
Mikro bus 74.65
Bus 67.86
Truck 77.03
Leq Total
79.45
(dBA)

Keterangan :
4. Lokasi Pengukuran A :
Kelompok
5. Lokasi Pengukuran B :

6. Lokasi Pengukuran C :

VI. RUMUS DAN PERHITUNGAN


6.1 Rumus
6.1.1 Leq 1 Menit

Leq 1 menit = 10 Log (100,1.L1 + .. + 100,1.L12) . 5 dB(A)


dimana:
L1 - L12 = 5 detik ke (dB)
60 = waktu selama 1 menit yaitu 60 detik
5 dB (A) = pengukuran setiap 5 detik mode fast yang dapat didengar manusia

6.1.2 Leq 10 menit

Leq 10 menit = 10 Log (100,1.L1 + .. + 100,1.L10) . 1 dB(A)


dimana:
L1 L10 = Leq 1 menit, menit ke 1 sampai menit ke 10
10 = waktu selama 10 menit
1 dB (A) = pengukuran setiap 10 menit di perwakilan waktu

6.1.3 L2 mewakili Pk 09.00 11.00

dimana:
L2 = Leq 10 menit yang mewakili Pk 09.00-11.00
2 = 2 data

6.1.4 Leq Siang (Ls)

Ls = 10 Log (T1 . 100,1.L1 + .. + T4 .100,1.L4) dB(A)

dimana:
L1 L4 = Leq 10 menit setiap perwakilan waktu siang
16 = waktu siang selama 16 jam
6.1.5 Leq Malam (Lm)

Lm = 10 Log (T5 . 100,1.L5 + .. + T7 . 100,1.L7) dB(A)

dimana:
L5 L7 = Leq 10 menit setiap perwakilan waktu malam
8 = waktu malam selama 8 jam

6.1.6 Leq Siang Malam (Lsm)

Lsm = 10 Log (16 . 100,1.Ls + 8 . 100,1.(Lm+5)) dB(A)

dimana:
24 = waktu sampling 24 jam
16 = jumlah jam sampling siang hari
8 = jumlah jam sampling malam hari

6.2 Perhitungan
6.2.1 Leq 1 Menit
a) Data 1

Leq 1 menit = 10 Log (10 0,1 L1 + .. + 10 0,1 L12) 5 dB(A)

Leq 1 menit = 10 Log (10 0,1 62,3 + 100,1 61,9 + 10 0,1 63,4 + 10 0,1 63,4 +

10 0,1 62,2 + 10 0,1 63 + 10 0,1 64,3 + 10 0,1 63,7 + 10 0,1 72,9 +


10 0,1 63 + 10 0,1 64,5 + 10 0,1 62,4) 5 dB(A)
Leq 1 menit = 65,48 dB(A)

b) Data 2

Leq 1 menit = 10 Log (10 0,1 L1 + .. + 10 0,1 L12) 5 dB(A)

Leq 1 menit = 10 Log (10 0,1 65,4 + 100,1 66,2 + 10 0,1 66 + 10 0,1 64,5 +

10 0,1 64,1 + 10 0,1 65,5+ 10 0,1 65,4 + 10 0,1 65,1 + 10 0,1 64,8 +
10 0,1 64 + 10 0,1 64,8 + 10 0,1 66,1 ) 5 dB(A)
Leq 1 menit = 65,22 dB(A)

6.2.2 Leq 10 menit


a) Data 1

Leq 10 menit = 10 Log (10 0,1 L1 + .. + 10 0,1 L10) 1 dB(A)


Leq 10 menit = 10 Log (10 0,1 65,48 + 10 0,1 64,48 + 10 0,1 63,31 + 10 0,1

63,94
+ 10 0,1 62,91 + 10 0,1 63,35 + 10 0,1 63,64 +10 0,1 66,56 + 10 0,1 64,1 +
10 0,1 63,34) 1 dB(A)
Leq 10 menit = 64,28 dB(A)

b) Data 2

Leq 10 menit = 10 Log (10 0,1 L1 + .. + 10 0,1 L10) 1 dB(A)

Leq 10 menit = 10 Log (10 0,1 65,22 + 10 0,1 69,22 + 10 0,1 65,84 + 10 0,1

75,12
+ 10 0,1 66,94 + 10 0,1 65,59 + 10 0,1 67,59 +10 0,1 66,66 +
10 0,1 65,33 + 10 0,1 65,11) 1 dB(A)
Leq 10 menit = 68,67 dB(A)

6.2.3 L2 mewakili Pk 09.00 11.00

L2 = 10 Log (10 0,1 Leq 10 mnt data 1 + 10 0,1 Leq 10 menit data 2 ) dB(A)

L2 = 10 Log (10 0,1 64,28 +10 0,1 68,67 ) dB(A)

L2 = 67 dB(A)

6.2.4 Leq Siang (Ls)

Ls = 10 Log (T1 . 100,1.L1 + .. + T4 .100,1.L4) dB(A)

Ls = 10 Log (3.10 0,1 64+ 2.10 0,1 67 + 6.10 0,1 68 + 5.10 0,1 62) dB(A)

Ls = 66 dB(A)
6.2.5 Leq Malam (Lm)

Lm = 10 Log (T5 . 100,1.L5 + .. + T7 . 100,1.L7) dB(A)

Lm = 10 Log (2 . 100,1 x 58 + 3 . 100,1 x 56 + 3 . 100,1 x 60 )dB(A)

Lm = 58 dB(A)

6.1.6 Leq Siang Malam (Lsm)

Lsm = 10 Log (16 . 10 0,1 Ls + 8 . 10 0,1 (Lm+5)) dB(A)

Lsm = 10 Log (16 . 10 0,1 66 + 8 . 10 0,1 (58 + 5)) dB(A)

Lsm = 65 dB(A)
Lsm = 65 dB(A) + 3 dB(A)
Lsm = 68 dB(A)

VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini mengenai Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas di
Jalan Raya, dimana pengukuran dilakukan pada lokasi sampling titik C yang berada di
Pintu II , Jl. Lejten S. Parman, Kampus A Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat.
Pada Pengukuran Tongkat Kebisingan ini menggunakan alat yang bernama Sound Level
Meter dengan tipe TM-103 S/N150101270 untuk pengukuran pada jarak 10 meter dari
sumber dan Sound Level Meter dengan Tipe SL 4102 G 15445 untuk pengukuran pada
jarak 25 meter dari sumber. Pengukuran tingkat kebisingan dilakukan pada koordinat S
601006,8 E 10604723,8 dengan kecepatan angin 0,23 m/s, tekanan udara 760 mmHg,
kelembapan udara 35% RH dan suhu 30 0C.
Sebelum melakukan pengukuran tingkat kebisingan, terlebih dahulu alat dikalibrasi
menggunakan kalibrator SLM, dimana hasil kalibrasi menunjukkan angka 94 dB(A).
Setelah alat terkalibrasi dilakukan pengukuran tingkat kebisingan selama 10 menit dengan
pencatatan setiap 5 detik. Sebelum dilakukan pengukuran terlebih dahulu menekan
tombol Rec pada alat ukur Sound Level Meter. Dalam pengkuran ini dilakukan 2 kali
pengukuran, dimana dalam melakukan pengukuran, pengukur maupun pencatat tidak
boleh menimbulkan suara. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya bunyi yang dapat
mempengaruhi hasil pengukuran. Selain itu alat ukur Sound Level Meter ini dilengkapi
dengan busa yang berfungsi sebagai peredam suara .
Pada saat dilakukan pengukuran Tingkat Kebisingan di belakang Kantin Gedung L,
Kampus A Universitas Trisakti kondisi sekitar cukup ramai dimana terdapat banyak
kendaraan yang berlalu lalangg, serta suara memasak.
Dari hasil data pengukuran yang telah dilakukan maka akan didapatkan nilai Leq 1
menit dari masing masing data seperti yang tercantum pada tabel. Sehingga didapatkan
nilai Leq 10 menit pada data 1 sebesar 64,28 dB(A) sedangkan data ke 2 nilai Leq 10 menit
sebesar 68,67 dB(A). Dari hasil Leq 10 menit terlihat pada data ke 2 lebih besar daripada
data 1, hal ini dikarenakan pada saat pengukuran tingkat kebisingan di data ke 2 saat
tersebut banyak kendaraan yang berlalu lalang serta adanya mobil yang parkir didepan
pengukur dan menyalakan mesinnya serta melakukan klakson sehingga menimbulkan
angka tingkat kebisingan yang tinggi.
Pengukuran tingkat kebisingan dilakukan pada pukul 09.00 10.00, sehingga
didapatkan nilai L2 yang mewakili pengukuran pada pukul 09.00-11.00 sebesar 67 dB (A).
Dalam melakukan pengukuran Tingkat Kebisingan perlu dihitung nilai Ls dan Lm
sehingga didapatkan nilai Lsm. Nilai Ls ini merupakan nilai tingkat kebisingan pada
siang hari dengan waktu selama 16 jam, dimana didapatkan angka sebesar 66 dB (A).
Sedangkan nilai Lm merupakan angka tingkat kebisingan yang mewakili pada malam hari
dengan waktu 8 jam, dimana didapatkan angka sebesar 58 dB(A).
Dari hasil perhitungan Ls dan Lm maka didapatkan nilai Lsm dimana nilai ini
merupakan nilai Tingkat Kebisingan. Pada lokasi belakang kantin Gedung L, Kampus A
Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat menunjukkan nilai Tingkat Kebisingan (Lsm)
sebesar 65 dB(A).
Menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 Tentang Baku
Tingkat Kebisingan, Baku Tingkat Kebisingan Universitas dikategorikan dalam sekolah
dan sejenisnya dengan batas baku tingkat kebisingan sebesar 55 dB(A). Sehingga tingkat
kebisingan pada lokasi belakang kantin Gedung L, Kampus A Universitas Trisakti,
Grogol, Jakarta Barat melebihi baku tingkat kebisingan. Meskipun terdapat toleransi + 3
dB(A). Hal ini menunjukkan bahwa pada lokasi belakang kantin Gedung L, Kampus A
Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat tergolong bising atau ramai, hal ini
dikarenakan pada lokasi tersebut banyak dilalui kendaraan yang berlalu lalang serta
adanya kegiatan memasak. Apabila nilai tingkat kebisingan jauh melenihi batas tingkat
kebisingan yang telah ditentukan akan mengakibatkan gangguan pendengaran pada
manusia. Pada angka yang didapatkan dari lokasi pengukuran tingkat kebisingan,
gangguan pendengaran yang dirasakan masih tergolong rendah.
Apabila dibandingkan dengan lokasi pengukuran tingkat kebisingan di lingkungan
Kampus A Universitas Trisakti, lokasi yang memiliki tingkat kebisingan tertinggi pada
lokasi pengukuran di Plaza, dimana hasil pengukuran tingkat kebisingannya sebesar 73
dB(A). Untuk mengurangi dan mengatasi tingkat kebisingan yang tinggi dapat
menggunakan ear plug.

VIII. KESIMPULAN
Berdasarkan Praktikum Pengukuran Tingkat Kebisingan dengan menggunakan
Sound Level Meter pada lokasi pengukuran belakang kantin Gedung L, Kampus A
Universitas Trisakti, Grogol, Jakarta Barat dapat disimpulkan bahwa :
1. Nilai Leq 10 menit data 1 pada lokasi belakang kantin Gedung L, Kampus A
Universitas Trisakti sebesar 64, 28 dB(A).
2. Nilai Leq 10 menit data 2 pada lokasi belakang kantin Gedung L, Kampus A
Universitas Trisakti sebesar 68, 67 dB(A).
3. Nilai L2 yang mewakili pukul 09.00 11.00 pada lokasi belakang kantin
Gedung L, Kampus A Universitas Trisakti sebesar 67 dB(A).
4. Nilai Ls pada lokasi belakang kantin Gedung L, Kampus A Universitas
Trisakti sebesar 66 dB(A).
5. Nilai Lm pada lokasi belakang kantin Gedung L, Kampus A Universitas
Trisakti sebesar 58 dB(A).
6. Nilai Lsm pada lokasi belakang kantin Gedung L, Kampus A Universitas
Trisakti sebesar 65 dB(A).
7. Tingkat kebisingan pada lokasi pengukuran belakang kantin Gedung L,
Kampus A Universitas Trisakti melebihi batas tingkat kebisingan Menurut
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 Tahun 1996 Tentang Baku
Tingkat Kebisingan.
DAFTAR PUSTAKA

Babba, Jennie. 2007. Hubungan Antara Intensitas Kebisingan di Lingkungan Kerja


Dengan Peningkatan Tekanan Darah (Penelitian Pada Karyawan PT. Semen
Tonasa di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan). Tesis, Program Pasca Sarjana
Magister Kesehatan Lingkungan Universitas Diponegoro.
Buchari, 2007. Kebisingan Industri dan Hearing Conservation Program. USU
Repository. Medan.
Griefahn, B. 2000. Noise effects not only the ears, but can damage to health be
objectively evaluated. MMW-Fortschr-Medicine 142 (14): 26-29
Harrington, J.M., dan Gill, F.S., 2003. Buku Saku Kesehatan Kerja. EGC : Jakarta.
Republik Indonesia. 1996. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48 Tahun
1996 Tentang Baku Tingkat Kebisingan. Jakarta.
Sumamur P.K,1995. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan Kerja. Jakarta: PT
Toko Gunung Agung.

LAMPIRAN

Sumber Kebisingan

Gambar Peta Lokasi Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas


Pintu II, Jalan Letjen S. Parman, Kampus A Universitas Trisakti Grogol
Gambar Lokasi Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas
Pada jarak 10 meter dari Sumber
Gambar Lokasi Pengukuran Tingkat Kebisingan Lalu Lintas
Pada jarak 25 meter dari Sumber