Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIS YANG


MENJALANI HEMODIALISA DENGAN KOMPLIKASI HIPOTENSI
DI RUANG HEMODIALISA DR.SOETOMO SURABAYA

DISUSUN OLEH MAHASISWA:

FENIKA NIKMATUL RIZKI

NIM.P27820714026

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI DIV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

TAHUN AKADEMIK 2017/2018


LAPORAN PENDAHULUAN
Asuhan Keperawatan Pasien Penyakit Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa Dengan
Komplikasi Hipotensi

1. PENYAKIT GINJAL KRONIK


1.1 Definisi
Chronic kindey disease atau disebut juga gagal ginjal kronis. Penyakit ginjal kronik
adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan
fungsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Gagal ginjal
adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang irreversibel,
pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau
transplantasi ginjal (Suwitra, 2009).
Menurut Brunner & Suddarth (2001), gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap
akhir merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversibel. Dimana kemampuan
tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,
menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah)
1.2 Etiologi Penyakit Ginjal Kronik
a. Diabetes Melitus
b. Sistemik
c. Kongenital/bawaan
d. Batu ginjal
e. Hipertensi
f. Infeksi
g. Glomerulonephritis
1.3 Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik
Pada penderita chronic kindey disease, klasifikasi stadium ditentukan dua hal, yaitu
atas dasar derajat (stage) penyakit dan atas dasar diagnosis etiologi. Klasifikasi atas asar
derajat penyakit, dibuat atas dasar LFG, yang dihitung dengan menggunakan rumus
Kockcroft-Gault (Suwitra, 2009). Stadium yang lebih tinggi menunjukkan nilai laju filtrasi
glomerulus yang lebih rendah (K/DOQI, 2002).
LFG ((ml/mnt/ 1,73m2) = (140 umur) X berat badan *)
72 X kreatinin plasma (mg/dl)

*) pada perempuan dikalikan 0,85


Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronikberdasarkan tingkat LFG, yaitu :
a. Stadium I
Kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminuria persisten dan LFG nya yang masih
normal yaitu > 90 ml/menit/1,72 m3
b. Stadium II
Kelainan ginjal dengan albuminuria persisten dan LFG antara 60-89 ml/menit/1,73 m3
c. Stadium III
Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 ml/menit/1,73 m3
d. Stadium IV
Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29 ml/menit/1,73 m3
e. Stadium V
Kelainan ginjal dengan LFG < 15 ml/menit/1,73 m3
1.4 Manifestasi Klinis Penyakit Ginjal Kronik
a. Nausea/mual
b. Dispneau
c. Anemia
d. Hipertensi
e. Edema
f. Gatal-gatal
1.5 Patofisiologi
Pada gagal ginjal kronik fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang
normalnya diekskresikan ke dalam urin tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, maka gejala
akan semakin berat. Penurunan jumlah glomeruli yang normal menyebabkan penurunan
klirens substansi darah yang seharusnya dibersihkan oleh ginjal. Dengan menurunnya
glomerulo filtrat rate (GFR) mengakibatkan penurunan klirens kreatinin dan peningkatan
kadar kreatinin serum. Hal ini menimbulkan gangguan metabolisme protein dalam usus yang
menyebabkan anoreksia, nausea maupan vomitus yang menimbulkan perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh. Peningkatan ureum kreatinin sampai ke otak mempengaruhi
fungsi kerja, mengakibatkan gangguan pada saraf, terutama pada neurosensori. Selain itu
Blood Ureum Nitrogen (BUN) biasanya juga meningkat. Pada penyakit ginjal tahap akhir
urin tidak dapat dikonsentrasikan atau diencerkan secara normal sehingga terjadi
ketidakseimbangan cairan elektrolit. Natrium dan cairan tertahan meningkatkan resiko gagal
jantung kongestif. Penderita dapat menjadi sesak nafas, akibat ketidakseimbangan suplai
oksigen dengan kebutuhan. Dengan tertahannya natrium dan cairan bisa terjadi edema dan
ascites. Hal ini menimbulkan resiko kelebihan volume cairan dalam tubuh, sehingga perlu
dimonitor balance cairannya. Semakin menurunnya fungsi renal terjadi asidosis metabolik
akibat ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Terjadi penurunan
produksi eritropoetin yang mengakibatkan terjadinya anemia. Sehingga pada penderita dapat
timbul keluhan adanya kelemahan dan kulit terlihat pucat menyebabkan tubuh tidak toleran
terhadap aktifitas. Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal terjadi peningkatan
kadar fosfat serum dan penurunan kadar serum kalsium. Penurunan kadar kalsium serum
menyebabkan sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid. Laju penurunan fungsi ginjal dan
perkembangan gagal ginjal kronis berkaitan dengan gangguan yang mendasari, ekskresi
protein dalam urin, dan adanya hipertensi (Brunner dan Suddarth, 2001).
1.6 Pemeriksaan Penunjang
Menurut Suhardjono (2001), pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien gagal
ginjal kronik yaitu:
1. Pemeriksaan laboratorium. Untuk menentukan ada tidaknya kegawatan, menentukan
derajat GGK, menentukan gangguan sistem, dan membantu menetapkan etiologi. Blood
ureum nitrogen (BUN)/kreatinin meningkat, kalium meningkat, magnesium meningkat,
kalsium menurun, protein menurun.
2. Pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG). Untuk melihat kemungkinan hipertrofi ventrikel
kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia, hipokalsemia).
Kemungkinan abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam/basa.
3. Ultrasonografi (USG). Untuk mencari adanya faktor yang reversibel seperti obstruksi
oleh karena batu atau massa tumor, dan untuk menilai apakah proses sudah lanjut.
4. Foto Polos Abdomen. Sebaiknya tanpa puasa, karena dehidrasi akan memperburuk fungsi
ginjal. Menilai bentuk dan besar ginjal dan apakah ada batu atau obstruksi lain.
5. Pieolografi Intra-Vena (PIV). Dapat dilakukan dengan cara intravenous infusion
pyelography, untuk menilai sistem pelviokalises dan ureter.
6. Pemeriksaan Pielografi Retrograd. Dilakukan bila dicurigai ada obstruksi yang reversibel.
7. Pemeriksaan Foto Dada. Dapat terlihat tanda-tanda bendungan paru akibat kelebihan air
(fluid overload), efusi pleura, kardiomegali dan efusi perikadial.
8. Pemeriksaan Radiologi Tulang. Mencari osteodistrofi dan kalsifikasi metastatik.
1.7 Terapi Penyakit Gagal Ginjal Kronik
Tujuan penatalaksanaan pada penyakit gagal ginjal kronis adalah untuk mempertahankan
fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin (Smeltzer & Barre, 2008). Penatalaksanaan gagal
ginjal kronis dapat digolongkan menjadi dua yaitu:
1. Terapi konservatif
a. Pengaturan diet protein, kalium, natrium dan cairan
1) Pembatasan protein
Pembatasan protein tidak hanya mengurangi kadar BUN, tetapi juga mengurangi asupan
kalium dan fosfat serta mengurangi produksi ion hidrogen yang berasal dari protein.
Pembatasan asupan protein telah terbukti menormalkan kembali kelainan ini dan
memperlambat terjadinya gagal ginjal. Jumlah kebutuhan protein biasanya dilonggarkan
sampai 60-80 g/hari, apabila penderita mendapatkan pengobatan dialisis teratur.
2) Diet rendah kalium
Hiperkalemia biasanya merupakan masalah pada gagal ginjal lanjut. Asupan kalium
dikurangi. Diet yang dianjurkan adalah 40-80 mEg/hari. Penggunaan makanan dan
obat-obatan yang tinggi kaliumnya dapat menyebabkan hiperkalemia.
3) Diet rendah natrium
Diet rendah natrium yang dianjurkan adalah 40-90 mEq/hari (1-2 g Na). Asupan
natrium yang terlalu longgar dapat mengakibatkan retensi cairan, edema perifer,
edema paru, hipertensi dan gagal jantung kongestif.
4) Pengaturan cairan
Cairan yang diminum penderita gagal ginjal tahap lanjut harus diawasi dengan
seksama. Parameter yang tepat untuk diikuti selain data asupan dan pengelurana cairan
yang dicatat dengan tepat adalah pengukuran berat badan harian. Asupan yang bebas
dapat menyebabkan beban sirkulasi menjadi berlebihan dan edema. Sedangkan asupan
yang terlalu rendah mengakibatkan dehidrasi, hipotensi dan gangguan fungsi ginjal.
Aturan yang dipakai untuk menentukan banyaknya asupan cairan adalah jumlah urin
yang dikeluarkan selama 24 jam terakhir + 500 ml (IWL). Asupan cairan
membutuhkan regulasi yang hati-hati dalam gagal ginjal kronik, karena rasa haus
pasien merupakan panduan yang tidak dapat diyakini mengenai keadaan hidrasi pasien
(Wilson, 2006).

2. Terapi penggantian ginjal atau Renal Replacement Teraphy (RRT)


Terapi penggantian ginjal dilakukan pada seseorang yang mengidap penyakit gagal ginjal
kronik atau ginjal tahap akhir, yang bertujuan untuk menghindari komplikasi dan
memperpanjang umur pasien. Terapi pengganti ginjal dibagi menjadi dua, antara lain dialisis
(hemodialisis dan peritoneal dialisis) dan transplantasi ginjal (Shahgholian et.al, 2008).

a. Dialisis
Dialisis merupakan suatu proses yang digunakan untuk mengeluarkan cairan dan
produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan fungsi tersebut.
Tujuan dialisis adalah untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien
sampai fungsi ginjal pulih kembali. Dialisis dilakukan dalam penanganan pasien dengan
edema yang tidak responsif terhadap terapi, koma hepatikum, hiperkalemia,
hiperkalsemia, hipertensi dan uremia. Dialisis akut diperlukan bila terdapat kadar kalium
yang tinggi dan meningkat, kelebihan muatan cairan atau edema pulmoner yang
mengancam, asidosis yang meningkat, perikarditis dan konfusi yang berat. Dialisis kronis
atau pemeliharaan dibutuhkan pada gagal ginjal kronis dalam keadaan berikut : (1) terjadi
tanda dan gejala uremia yang mengenai seluruh sistem tubuh (mual muntah, anoreksia
berat, letargi, dan konfusi mental) ; (2) kadar kalium serum yang meningkat ; (3) muatan
cairan berlebih yang tidak responsif terhadap terapi diuretik serta pembatasan cairan ; dan
(4) penurunan status kesehatan yang umum. Selain itu, terdengarnya suara gesekan
perikardium (pericardial friction rub) merupakan hasil aukultasi yang merupakan indikasi
yang mendesak untuk dilakukan dialisis untuk pasien gagal ginjal kronis (Brunner &
Suddarth, 2002).
1) Hemodialisa
Hemodialisa adalah suatu proses terapi pengganti ginjal dengan
menggunakan selaput membran semi permeabel (dialiser). Dialiser ini memiliki
fungsi seperti nefron yang dapat mengeluarkan produk sisa metabolisme dan
mengoreksi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pasien gagal ginjal
(Black, 2005; Ignatavicius, 2006 dalam Septiwi, 2011).
Prinsip dari pelaksanaan hemodialisis adalah darah dikeluarkan dari tubuh
melalui sebuah kateter arteri, kemudian masuk ke dalam sebuah mesin besar, di
dalam mesin tersebut terdapat dua ruang yang dipisahkan oleh sebuah membran
semipermeabel. Darah dimasukkan ke salah satu ruang, sedangkan ruang yang lain
diisi oleh cairan perdialisis dan diantara keduanya akan terjadi difusi. Darah
dikembalikan ke tubuh melalui sebuah pirau vena (Corwin, 2009).
2) Dialisis peritoneal
Dialisis peritoneal dilakukan dengan cara menanamkan sampai 2 L larutan
glukosa isotonik atau hipertonik dalam rongga peritoneal pasien melalui pemasangan
kateter Silastic permanen. Terjadi ekuilibrium cairan, melalui membran peritoneal
seluas 2 m2 dengan darah di kapiler peritoneum. Setelah beberapa jam cairan yang
mengandung sisa buangan toksik ditarik keluar. Prosedur ini diulangi tiga atau empat
kali sehari. Kelebihan cairan diambil oleh larutan hipertonik. Komplikasi utama
adalah peritonitis, biasanya akibat Staphylococcus epidermidis atau S.aureus
(Rubenstein et.al, 2007).
b. Transplantasi ginjal
Penatalaksanaan transplantasi atau cangkok ginjal sebenarnya adalah suatu terapi definitif
yang paling tepat dan ideal untuk penatalaksanaan suatu keadaan gagal ginjal yang sangat
berat. Prinsip dari pelaksanaan terapi cangkok ginjal ini adalah pencangkokan ginjal sehat ke
dalam tunuh pasien. ginjal sehat tersebut bisa didapatkan dari donor manusia yang sehat dan
masih hidup atau bisa juga dari donor yang baru saja meninggal. Permasalahan yang paling
sering dihadapi dalam cangkok ginjal adalah adanya reaksi penolakan dari tubuh pasien
sebagai resepien terhadap ginjal baru yang dicangkokkan ke dalam tubuhnya. Oleh karena itu,
dalam pelaksanaannya harus dipilih ginjal yang paling cocok sehingga memberikan reaksi
penolakan yang paling minimal. Setelah pelaksanaan transplantasipun, resepien juga masih
harus minum obat imunosupresan seumur hidupnya untuk menekan reaksi penolakan oleh
tubuhnya terhadap ginjal baru dalam tubuhnya (Aziz, 2008).

2. PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN KOMPLIKASI HIPOTENSI


Pada beberapa literatur, pengertian intradialytic hypotension (IDH) tidak memiliki
standardisasi dan beberapa studi memiliki definisi yang berbeda. Namun kebanyakan
mendefinisikan sebagai penurunan tekanan darah dengan disertai munculnya gejala spesifik.
Penurunan tekanan darah bisa relatif atau absolut. Sampai saat ini, belum ada evidence based
yang merekomendasikan pengertian IDH. Manifestasi dari IDH bervariasi mulai dari
asimptomatik sampai dengan syok. The EBPG working group menekankan bahwa
menurunnya tekanan darah, disertai dengan munculnya gejala klinis yang membutuhkan
intervensi medis harus dipikirkan kemungkinan munculnya IDH. Beberapa literature
mengemukakan bahwa IDH ditandai dengan penurunan tekanan darah sistolik 30 atau
tekanan darah sistolik absolut dibawah 90 mmHg. Hipotensi pada dialisis bisa muncul dengan
beberapa gambaran klinis: (i) akut (episodik) hipotensi, didefinisikan sebagai penurunan
tekanan darah sistolik secara tiba-tiba dibawah 90 mmHg atau paling tidak 20 mmHg diikuti
dengan gejala klinis, (ii) Rekuren (berulang), secara definisi sama seperti yang sebelumnya,
namun hipotensi terjadi pada 50% dari sesi dialisis, dan (iii) kronik, yaitu hipotensi persisten
yang didefinisikan sebagai tekanan darah interdialisis tetap dalam kisaran 90-100 mmHg.
Pedoman dari NKF KDOQI, mendefiniskan hipotensi intradialisis (Intradialytic hypotension)
sebagai suatu penurunan tekanan darah sistolik 20 mmHg atau penurunan Mean arterial
pressure (MAP) >10 mmHg dan menyebabkan munculnya gejalagejala seperti: perasaan tidak
nyaman pada perut (abdominal discomfort); menguap (yawning); sighing; mual; muntah; otot
terasa kram (muscle cramps), gelisah, pusing, dan kecemasan. Hal ini mengganggu
kenyamanan pasien, dan dapat mencetuskan aritmia jantung, dan sebagai faktor predisposisi
untuk penyakit jantung koroner, infark miokard (Burton et al., 2009) dan/atau kejadian
iskemia otak (Mizumasa et al., 2004). Selain itu, IDH menyebabkan terhalangnya dosis
dialisis yang adequat (adequate dose of dialysis), dimana episode hipotensi menyebabkan efek
kompartemen dan menghasilkan Kt/Vurea suboptimal.1,2,3,4
Komplikasi kardiovaskular dari IDH termasuk: kejadian iskemia (kardiak atau
neurologis); trombosis vaskular; disritmia; dan infark vena mesenterika. Efek IDH jangka
panjang termasuk; kelebihan cairan dikarenakan ultrafiltrasi yang suboptimal dan pemberian
bolus cairan resusitasi, pembesaran ventrikel jantung kanan, yang berhubungan dengan
morbiditas dan mortalitas; serta hipertensi interdialisis.

2.1 Faktor Resiko Hipotensi Intra Dialisa


a. Pasien dengan diabetes CKD stadium 5
b. Pasien dengan Penyakit kardiovaskular: LVH dan disfungsi diastolik dengan atau tanpa
CHF; Pasien dengan penyakit katup jantung; Pasien dengan penyakit perikardium
(perikarditisi konstriktif atau efusi perikardium)
c. Pasien dengan status nutrisi yang buruk, dan hipoalbuminemia
d. Pasien dengan uremic neuropathy atau disfungsi autonomik dikarenakan penyebab lain
e. Pasien dengan anemia yang berat
f. Pasien yang membutuhkan volume ultrafiltrasi yang lebih besar; misal pada pasien
dengan berat badan yang melebihi interdialytic weight gain
g. Pasien dengan usia 65 tahun atau usia yang lebih tua
h. Pasien dengan tekanan darah sistolik predialisis < 100 mmHg

3. HEMODIALISIS
3.1 Definisi
Hemodialisis (HD) merupakan tindakan untuk membuang sisa metabolisme tubuh dan
menggantikan fungsi ginja yang rusak dengan ginjal bauatan (dialyzer)
3.2 Indikasi
a. PGA
- PGA dengan komplikasi oedema paru berat- kelebihan volume cairan berat
- PGA dengan hiperkalemia berat aritmia
- PGA dengan asidosis metabolic berat
- PGA dengan toksik uremia berat
b. PGK
- PGK Stadium V dengan GFR <15
3.3 Proses Hemodialisa
Darah dari arteri pasien Arterial Blood Line (Merah) Dializer terjadi proses
pencucian (Difusi dan Ultrafiltrasi) Venous Blood Line (Biru) kembali ke vena
pasien
Difusi: Perpindahan dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melewati membrane
semipermeable
Ultrafiltrasi: Perpindahan cairan dari tekanan tinggi ke tekanan rendah melewati membrane
semi permiable

3.4 Prinsip Hemodialisa


Prinsip dan cara kerja hemodialisis
Hemodialisis terdiri dari 3 kompartemen : 1. Kompartemen darah, 2.kompartemen cairan
pencuci (dialisat) 3.ginjal buatan (dialyzer). Darah dikeluarkan dari pembuluh draah vcena
dengan kecepatan tertentu, kemudian masuk kedalam mesin dengan proses pemompaan
setelah terjadi proses dialysis, darah yang telah bersih masuk ke pembuluh balik, selanjutnya
beredar kedalam tubuh. Proses dialysis (pemurnian) darah terjadi dalam dialyzer.
Prinsip kerja hemodialisis adalah komposisi solute (bahan terlarut) suatu larutan
(kompartemen darah) akan berubah dengan cara memaparkan larutan ini dengan larutan lain
(kompoartemen dialisat) melalui membrane semi permiabel (dialyzer).
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
1. Pengkajian
1) Demografi.
Penderita Penyakit Ginjal Kronik kebanyakan berusia diantara 30 tahun, namun ada juga yang
mengalami Penyakit Ginjal Kronik dibawah umur tersebut yang diakibatkan oleh berbagai hal
seperti proses pengobatan, penggunaan obat-obatan dan sebagainya.
2) Riwayat penyakit yang diderita pasien sebelum Penyakit Ginjal Kronik seperti DM,
glomerulo nefritis, hipertensi, rematik, hiperparatiroidisme, obstruksi saluran kemih, dan
traktus urinarius bagian bawah juga dapat memicu kemungkinan terjadinya Penyakit Ginjal
Kronis.
3) Pola nutrisi dan metabolik.
Gejalanya adalah pasien tampak lemah, terdapat penurunan BB dalam kurun waktu 6 bulan.
Tandanya adalah anoreksia, mual, muntah, asupan nutrisi dan air naik atau turun.
4) Pola eliminasi
Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input. Tandanya adalah
penurunan BAK, pasien terjadi konstipasi, terjadi peningkatan suhu dan tekanan darah atau
tidak singkronnya antara tekanan darah dan suhu.
5) Pengkajian pola fungsional Gordon
a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan pasien
Gejalanya adalah pasien mengungkapkan kalau dirinya saat ini sedang sakit parah. Pasien
juga mengungkapkan telah menghindari larangan dari dokter. Tandanya adalah pasien
terlihat lesu dan khawatir, pasien terlihat bingung kenapa kondisinya seprti ini meski segala
hal yang telah dilarang telah dihindari.
b. Pola nutrisi dan metabolic
Gejalanya adalah pasien tampak lemah, terdapat penurunan BB dalam kurun waktu 6
bulan. Tandanya adalah anoreksia, mual, muntah, asupan nutrisi dan air naik atau turun.
c. Pola eliminasi
Gejalanya adalah terjadi ketidak seimbangan antara output dan input. Tandanya adalah
penurunan BAK, pasien terjadi konstipasi, terjadi peningkatan suhu dan tekanan darah atau
tidak singkronnya antara tekanan darah dan suhu.
d. Aktifitas dan latian.
Gejalanya adalah pasien mengatakan lemas dan tampak lemah, serta pasien tidak dapat
menolong diri sendiri. Tandanya adalah aktivitas dibantu.
e. Pola istirahat dan tidur.
Gejalanya adalah pasien terliat mengantuk, letih dan terdapat kantung mata. Tandanya
adalah pasien terliat sering menguap.
f. Pola persepsi dan koknitif.
Gejalanya penurunan sensori dan rangsang. Tandanya adalah penurunan kesadaran seperti
ngomong nglantur dan tidak dapat berkomunikasi dengan jelas.
g. Pola hubungan dengan orang lain.
Gejalanya pasien sering menghindari pergaulan, penurunan harga diri sampai terjadinya
HDR (Harga Diri Rendah). Tandanya lebih menyendiri, tertutup, komunikasi tidak jelas.
h. Pola reproduksi
Gejalanya penurunan keharmonisan pasien, dan adanya penurunan kepuasan dalam
hubungan. Tandanya terjadi penurunan libido, keletihan saat berhubungan, penurunan
kualitas hubungan.
i. Pola persepsi diri.
Gejalanya konsep diri pasien tidak terpenuhi. Tandanya kaki menjadi edema, citra diri
jauh dari keinginan, terjadinya perubahan fisik, perubahan peran, dan percaya diri.
j. Pola mekanisme koping.
Gejalanya emosi pasien labil. Tandanya tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat,
mudah terpancing emosi.
k. Pola kepercayaan.
Gejalanya pasien tampak gelisah, pasien mengatakan merasa bersalah meninggalkan
perintah agama. Tandanya pasien tidak dapat melakukan kegiatan agama seperti biasanya.
6) Pengkajian fisik
a. Penampilan / keadaan umum.
Lemah, aktifitas dibantu, terjadi penurunan sensifitas nyeri. Kesadaran pasien dari compos
mentis sampai coma.
b. Tanda-tanda vital.
Tekanan darah naik, respirasi naik, dan terjadi dispnea, nadi meningkat dan reguler.
c. Antropometri
Penurunan berat badan selama 6 bulan terahir karena kekurangan nutrisi, atau terjadi
peningkatan berat badan karena kelebian cairan.
d. Kepala.
Rambut kotor, mata kuning / kotor, telinga kotor dan terdapat kotoran telinga, hidung kotor
dan terdapat kotoran hidung, mulut bau ureum, bibir kering dan pecah-pecah, mukosa
mulut pucat dan lidah kotor.
e. Leher dan tenggorok.
Peningkatan kelenjar tiroid, terdapat pembesaran tiroid pada leher.
f. Dada
Dispnea sampai pada edema pulmonal, dada berdebar-debar. Terdapat otot bantu napas,
pergerakan dada tidak simetris, terdengar suara tambahan pada paru (rongkhi basah),
terdapat pembesaran jantung, terdapat suara tambahan pada jantung.
g. Abdomen.
Terjadi peningkatan nyeri, penurunan pristaltik, turgor jelek, perut buncit.
h. Genital
Kelemahan dalam libido, genetalia kotor, ejakulasi dini, impotensi, terdapat ulkus.
i. Ekstremitas.
Kelemahan fisik, aktifitas pasien dibantu, terjadi edema, pengeroposan tulang, dan
Capillary Refil lebih dari 1 detik.
j. Kulit.
Turgor jelek, terjadi edema, kulit jadi hitam, kulit bersisik dan mengkilat / uremia, dan
terjadi perikarditis.
7) Pemeriksaan penunjang.
a. Pemeriksaan Laboratorium :
1. Urin
a) Volume : Biasanya kurang dari 400 ml/jam (oliguria), atau urine tidak ada (anuria).
b) Warna : Secara normal perubahan urine mungkin disebabkan oleh pus / nanah, bakteri,
lemak, partikel koloid, fosfat, sedimen kotor, warna kecoklatan menunjukkan adanya
darah, miglobin, dan porfirin.
c) Berat Jenis : Kurang dari 1,015 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal
berat).
d) Osmolalitas : Kurang dari 350 mOsm/kg menunjukkan kerusakan tubular, amrasio
urine / ureum sering 1:1.
2. Kliren kreatinin mungkin agak menurun.
3. Natrium : Lebih besar dari 40 Emq/L karena ginjal tidak mampu mereabsorbsi natrium.
4. Protein : Derajat tinggi proteinuria ( 3-4+ ), secara kuat menunjukkan kerusakan
glomerulus bila sel darah merah (SDM) dan fregmen juga ada.
5. Darah
a) Kreatinin : Biasanya meningkat dalam proporsi. Kadar kreatinin 10 mg/dL diduga
tahap akhir (mungkin rendah yaitu 5).
b) Hitung darah lengkap : Hematokrit menurun pada adanya anemia. Hb biasanya
kurang dari 7-8 g/dL.
c) SDM (Sel Darah Merah) : Waktu hidup menurun pada defisiensi eritropoetin seperti
pada azotemia.
d) GDA (Gas Darah Analisa) : pH, penurunan asidosis metabolik (kurang dari 7,2)
terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengeksekresi hidrogen dan
amonia atau hasil akhir katabolisme protein. Bikarbonat menurun PCO2 menurun.
e) Natrium serum : Mungkin rendah, bila ginjal kehabisan natrium atau normal
(menunjukkan status dilusi hipernatremia).
f) Kalium : Peningkatan sehubungan dengan retensi sesuai dengan perpindahan selular
(asidosis), atau pengeluaran jaringan (hemolisis SDM). Pada tahap akhir , perubahan
EKG mungkin tidak terjadi sampai kalium 6,5 mEq atau lebih besar. Magnesium
terjadi peningkatan fosfat, kalsium menurun. Protein (khuusnya albumin), kadar
serum menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine, perpindahan
cairan, penurunan pemasukan, atau penurunan sintesis karena kurang asam amino
esensial. Osmolalitas serum lebih besar dari 285 mosm/kg, sering sama dengan urine.
b. Pemeriksaan Radiologi
1. Ultrasono grafi ginjal digunakan untuk menentukan ukuran ginjal dan adanya masa ,
kista, obtruksi pada saluran perkemihan bagian atas.
2. Biopsi Ginjal dilakukan secara endoskopik untuk menentukan sel jaringan untuk
diagnosis histologis.
3. Endoskopi ginjal dilakukan untuk menentukan pelvis ginjal.
4. EKG mungkin abnormal menunjukkan ketidakseimbangan elektrolit dan asam basa.
5. KUB foto digunakan untuk menunjukkan ukuran ginjal / ureter / kandung kemih dan
adanya obtruksi (batu).
6. Arteriogram ginjal adalah mengkaji sirkulasi ginjal dan megidentifikasi ekstravaskuler,
massa.
7. Pielogram retrograd untuk menunjukkan abormalitas pelvis ginjal.
8. Sistouretrogram adalah berkemih untuk menunjukkan ukuran kandung kemih, refluk
kedalam ureter, dan retensi.
9. Pada pasien CKD pasien mendapat batasan diit yang sangat ketat dengan diit tinggi
kalori dan rendah karbohidrat. Serta dilakukan pembatasan yang sangat ketat pula pada
asupan cairan yaitu antara 500-800 ml/hari.
10. Pada terapi medis untuk tingkat awal dapat diberikan terapi obat anti hipertensi, obat
diuretik, dan atrapit yang berguna sebagai pengontol pada penyakit DM, sampai
selanjutnya nanti akan dilakukan dialisis dan transplantasi.

2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan


Diagnosa Keperawatan dan Rencana Tindakan yang mungkin timbul pada klien dengan
perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan glomerulus
filtration rate (GFR) adalah sebagai berikut :
1) Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan penurunan glomerulo
filtration rate.
Tujuan : Keseimbangan cairan dan elektrolit
Kriteria :
1. Rasio intake dan output pada batas normal
2. Berat badan normal
3. Tekanan darah dalam batas ketentuan (140/90 mmHg) dan elektrolit K, Ca, Mg, Fosfat,
Na pada batas normal.
INTERVENSI RASIONAL
2)
a. Kaji adanya edema a. Merupakan tanda-tanda lethargi cairan yang menambah kerja
G
dengan distensi vena dari jantung dan menuju edema pulmoner dan gagal jantung.
jugolaris, dispnea,
tachikardi, peningkatan
tekanan darah crakles
b. Tanda-tanda hipernatremia dihasilkan dari tanda fungsi tubular
pada auskultasi.
b. Kaji kelemahan otot tidak ginjal.
adanya reflek tendon
dalam, kram abdomen
c. Tanda-tanda hipertermia dihasilkan dari ketidakmampuan
dengan diare, tidak
nefron untuk memfiltrasi keluar Na.
teraturnya nadi. d. Tanda-tanda hipokalsemia dihasilkan dari ketidakmampuan
c. Kaji kelemahan,
ginjal untuk memetabolisme vitamin D diperlukan aibsorps Ca
kelelahan, penurunan
dari intestinum.
reflek tendon
d. Kaji kram otot, kaku ataue. Tanda-tanda hipokalsemia dihasilkan dari ketidakmampuan
gatal-gatal jari, ibu jari, ginjal untuk mengeluarkan fosfat.
perubahan dalam 10 hari. Tanda-tanda dari hipermagnesia di hasilkan dari
e. Kaji kram otot parastesia ketidakmampuan untuk mengeluarkan magnesium.

f. Kaji nausea, muntah, g. Ketentuan batas cairan jika terjadi oliguri.


hipotensi, bradikardi dan
perubahan reflek tendon
dalam h. Tanda-tanda peningkatan elektrolit
g. Monitor intake dan output
setiap 4-8 jam dengan
memperhatikan output di Fungsi ginjal diketahui dan peningkatan BUN lebih dari 25
bawah 30 ml/jam mg/dl dan kreatiniin lebih dari 1,5 mg/dl.
h. Monitor tanda-tanda vital Ketentuan kemampuan ginjal untuk mengkonsentrasi urine
setiap 4 jam untuk ekskresi elekrolit dan kerusakan pada ginjal.
meningkatkan tekanan
darah
i. Monitor BUN, kreatinin,
asam urat
j. Monitor urinalisasi
k. Evaluasi untuk kalium 5.0 mEq/dl Ca dibawah 6.0 mEq/dl P
sampai hematuria,
lebih dari 2.0 mEq/dl Mg lebih dari 3.0 mEq/dl.
penurunan kreatinin Bekerja sebagai obat diuresis (untuk mengeluarkan kelebihan
clerence, ekskesi cairan dalam tubuh)
elektrolit, penurunan gaya
berat khas dan ketidak
normalan lainnya.
k. Monitor elektrolit untuk
K, Na, Ca, Mg dan P
tingkatkan.
b. l. Kolaborasi pemberian
obat diuretik, HCT
angguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan ureum pada saliva
mulut/peningkatan asam gastrin
Tujuan : Kebutuhan nutrisi adekuat dalam batas normal
Kriteria :
1. Hilangnya anoreksia
2. Hilangnya mual dan muntah
3. Intake 2000 kalori perhari
4. Porsi makan di habiskan
5. Berat Badan
INTERVENSI RASIONAL
a. Kaji anoreksia, nausea dan muntah Merupakan tanda dan gejala dari
b. Kaji penerimaan ketidaksukaan
peningkatan azotemia.
diet pembatasan protein. Penurunan intake nutrisi akan mengubah
c. Kolaborasi pemberian obat anti
kebutuhan nutrisi
emetik (metociropmid) Bertugas untuk mengurangi muntah dengan
d. Kolaborasi pemberian multivitamin
menambah asam gastrin
Melengkapi dukungan pembatasan diet

Protein ditentukan dengan kegagalan ginjal


e. Batasi protein 20-60 gram perhari, dan tingkat BUN: karbohidrat untuk
intake karbohidrat 100 gram mencegah lemak untuk menghancurkan
perhari 2000 kalori perhari katabolisme jaringan
Peningkatan merupakan indikasi
keseluruhan intake.
f. Kaji berat badan perhari dengan ketidakadekutan intake nutrisi.
Informasi peningkatan keluhan, makan
(pakaian, waktu skala yang sama)
g. Beri informasi alasan untuk sedikit tapi sering mengurangi nausea
pembatasan protein dan bagaimana
Iritasi stomatistik meningkatkan nausea
memantang makanan selama 24 Protein komplek mengandung seluruh asam
jam. amino
h. Hindari minum berkafein, juice
makanan panas/berbau
b. i. Berikan intake ayam, ikan
sebagai sumber protein.
3) Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan produksi eritrosit menurun
Tujuan : Kebutuhan aktivitas sehari-hari dapat terpenuhi
Kriteria :kontinuitas partisipasi ADL, mengemukakan kemampuan untuk memelihara tingkat
energi, hilangnya komplikasi.

INTERVENSI RASIONAL
a. Kaji tingkat aktivitas dan toleransi, Merupakan data dasar terhadap kemampuan
pola aktivitas kemampuan dalam beraktivitas dan untuk tindakan berikutnya.
Peningkatan yang cepat indikasi terhadap
ADL keadaan bedrest
b. Kaji perubahan tekanan darah dan aktivitas
Tanda dan gejala anemia dengan penurunan
pola selama aktivitas
c. Kaji kelemahan dyspnoe, pucat dan produksi eritropoetin yang menstimulasi
pusing produksi.
d. Kaji perdarahan dari gusi, luapan Hasil dan penurunan fungsi penurunan
menstruasi berat saluran
Penurunan merupakan indikasi suspek
gastrointestinal.
anemia, kehilangan darah.
e. Monitor jumlah darah merah,
hematokrit, hemoglobin, jumlah
platelet RBC kurang dari 6 juta Hct
Tekanan darah menurun dengan kehilangan
kurang dari 20% Hgb kurang dari 10
darah, pols meningkat, peningkatan
g/dl
berhubungan dengan aktivitas
f. Kaji tanda-tanda vital setiap 4 jam
Bertugas untuk memelihara eritpoesis normal
dan stimulasi produksi sel darah merah,
pembekuan (folic acid atau sebagai pengganti

g. Obat parrous sulpat (feosl, folic besi/farros sulfat)


Menyimpan energi dan mengurangi tuntutan
acid/flovite) Membangun dan memelihara ketahanan
Izinkan untuk mengontrol pasien ketika
mencapai perkembangan dan menghindari
kelelahan
h. Bantu klien ketika diperlukan dalam
pemenuhan ADL Kecenderungan berdarah menyebabkan
i. Tingkatan aktivitas bila
hilangnya darah terutama jaringan
memungkinkan dan mendukung
j. Ajari klien bagaimana untuk
Cegah komplikasi serius berkembang.
merencanakan pembatasan untu
memodifikasi atau meningkatkan
aktivitas yang disetujui pada tingkat
toleransi dan tujuan realistis
k. Hindari aktivitas atau mengunakan
alat (sikat gigi, pisau cukur) yang
mungkin menyebabkan trauma pada
jaringan: catat setiap perdarahan dari
mukosa memar berlebih
b. l. Kontrol dan catat tekanan darah
meningkat atau menurun

4) Gangguan integrasi kulit berhubungan dengan garukan akiba gatal-gatal


Tujuan : kulit tetap utuh
Kriteria :
1. Kemerahan tidak ada
2. Pecah dan erosi kulit tidak ada akibat garukan
3. Tidak terjadi mucosa mulut
INTERVENSI RASIONAL
a. Kaji gatal-gatal, pecah dalam kulit, a. Gatal-gatal hasil dari kekeringan kulit,
kemerahan pada titik tekanan. kristalisasi urea pada kulit (embun beku
urine) tkanan konstan pada kulit
menunjukkan penurunan pada jaringan dan
pecahan.
b. Kaji mukosa oral ada stomatitis dan b. Hasil dari peningkatan urea dan amonia
pernafasan bau ammonia dari pecahan bakteri dan urea.
c. Dyspnea, krakles sputrum tebal c. Indikasi dan infeksio pulmonal
kekuning-kuningan d. Hasil dari retensi urine dan
d. Kering, rambut mudah rusak dan kuku penurunan/peningkatan
pucat, warna pada kulit.
e. Dyspnea, frekuensi, urgency urin baue. Indikasi infeksi blas urine
atau kotor. Peningkatan adanya indikasi-indikasi dari
f. Monitor suhu setiap 4 jam
CRF
g. Jumlah bakteri indikasi infeksi
h. Bertugas untuk menahan dingin sel,
g. Monitor sputum dan kultur urine
membentuk mikro organisme.
h. Kolaborasi pemberian obat anti biotik
Mencegah kontaminasi yang predisposisi
(ampicilin). Pergerakan lembut beku uremi dan
i. Jaga tekhnik aseptik pada seluruh
memenangkan gatal-gatal.
teknik keperawatan catatan, pakaian.
j. Kesungguhan obat yang lembut yang
k. Meningkatkan ketenangan dan kenyamanan
seperti baking soda/jagung kaji pada
gatal-gatal.
bak mandi gunakan sabun dan kering
Menurunkan gatal-gatal
rambut.
k. Suhu ruangan dingin, kompres dinginim. Menurunkan kecenderungan gatal-gatal
n. Mengurangi gatal-gatal.
pada daerah gatal-gatal
l. Anjurkan klien untuk menghindari
pemakaian dari bahan kapas
m. Ajari klien untuk menekan area yang
gatal
n. Ajari klien gunakan aktivitas
penyimpanan/ hiburan untuk
menghindari garukan.
5) Gangguan pada eliminasi defekasi : konstipasi berhubungan dengan pembatasan makanan
yang berserat dan cairan
Tujuan : Eliminasi menjadi lancer
Kriteria :
1. Klien menyatakan dapat buang air besar
2. Feaces lembek
3. Tidak terdapat benjolan pada saat palpasi di bagian epigastrium bawah kiri.
INTERVENSI RASIONAL
a. Lakukan aktivitas yang cukup Membantu dalam melancarkan bolus dan
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
feacese untuk keluar
pemberian nutrisi yang tinggi seratb. Dapat membant dalam usus dan dapat
c. Kolaborasi dengan dokter
melembabakan feacese yang keras
pemberian laksative Dapat membantu melembabkan feacese
DAFTAR PUSTAKA

Blackwell, Wiley. 2014. Nursing Diagnoses definitions and classification 2015-2017. United Ki
ngdom: Blackwell.

Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarta : EGC

Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines for planning
and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa,I.M. Jakarta: EGC; 2000

Dochterman, J. M. & Bulecheck, G. N. 2004. Nursing Intervention Classification (NIC) fourth e


dition. Missouri: Mosby
Jevuska. 2012. Gagal Ginjal Kronik atau CKD: Pengertian dan klasifikasi, diakses pada 29 Okto
ber 2017, (Online), http://www.jevuska.com/2017/10/29/gagal-ginjal-kronik-atau-ckd/.
http://bandungsehat.blogspot.co.id/2009/04/konsep-dasar-gagal-ginjal-kronik.html
http://mudiarsa.blogspot.co.id/2010/06/askep-kelebihan-volume-cairan.html
Rindiastuti, Yuyun. 2006. Deteksi Dini Dan Pencegahan Penyakit Gagal Ginjal Kronik

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth
volume 2. Jakarta: EGC.

Wilkinson, Judith M. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC.