Anda di halaman 1dari 12

STRUKTUR

MEMBRAN DALAM
BANGUNAN
TUGAS STRUKTUR & KONTRUKSI V

JURUSAN ARSITEKTEKTUR FAKULTAS


TEKNIK UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
SEMARANG

PENYUSUN :
Agusta Dicky Ferlanda
Reski Aji Priono
Rifky Lukman Nul Hakim
Muhammad Alba Maulana
PENDAHULUAN

Struktur membran merupakan salah satu alternatif yang banyak digunakan dalam
bangunan bentang lebar, terutama berfungsi sebagai penutup atap. Struktur membran sangat
peka terhadap efek aerodinamika dari angin. Efek angin menyebabkan terjadinya getaran.
Dengan demikian, membran yang digunakan pada gedung harus distabilkan dengan cara
tertentu, hingga bentuknya dapat tetap dipertahankan pada saat memikul berbagai kondisi
pembebanan.
Akibat dari karakteristiknya yang tidak kaku dan kepekaannya terhadap angin, maka
struktur membran biasanya tidak dapat berdiri sendiri. Pada praktiknya dalam bangunan
bentang lebar, membran banyak digunakan berdampingan dengan struktur kabel dan space
frame sehingga menjadi lebih kuat terhadap guncangan.
Struktur membran memiliki berbagai jenis dilihat dari tipe kelengkungan permukaan
dan sistem pengakunya. Jenis-jenis tersebut berpengaruh terhadap bangunan yang akan
dibentuk sehingga perlu diperhatikan bentuk dan sistem pengaku apa yang seharusnya dipilih
dalam pengaplikasiannya pada bangunan bentang lebar.
Material membran yang digunakan untuk membentuk struktur membran pun
bermacam-macam, semua memiliki ciri khasnya masing-masing yang harus disesuaikan
dengan fungsi. Perkembangan teknologi pun mengakibatkan material membran menjadi kian
beragam dan semakin kuat digunakan sebagai struktur bangunan.
Membran dapat kita jumpai pada bangunan stadion, gedung konser, dan lain-lain.
Struktur ini memiliki kelebihan dari segi estetika, sehingga struktur membran seringkali
diekspos bisa terlihat dari sisi eksterior, sehingga struktur tersebut menjadi suatu daya tarik
dan aksen dari suatu bangunan bentang lebar.
Karena itulah tenda lebih banyak digunakan sebagai struktur sementara, bukan
sebagai struktur permanen.
Menstabilkan membran dengan menggunakan tekanan internal dapat dilakukan
apabila membran mempunyai volume tertutup. Kelompok membran demikian biasa disebut
struktur pneumatis, sebutan yang sesuai dengan cara struktur mendapat kestabilan.

PENGERTIAN

Membran adalah suatu struktur permukaan fleksibel tipis yang memikul beban
terutama melalui poses tegangan tarik. Struktur membran cenderung dapat menyesuaikan diri
dengan cara struktur tersebut dibebani.
Struktur membran sangat peka terhadap efek aerodinamika dari angin. Efek angin
menyebabkan terjadinya fluttering (getaran). Dengan demikian, membran yang digunakan
pada gedung harus distabilkan dengan cara tertentu, hingga bentuknya dapat tetap
dipertahankan pada saat memikul berbagai kondisi pembebanan (Schodek,1980).
Ada beberapa cara dasar untuk menstabilkan membran. Rangka penumpu dalam
kaku misalnya dapat digunakan. Penstabilan dapat dilakukan dengan menggunakan prategang
pada permukaan membran. Hal tersebut dapat dilakukan baik dengan memberikan gaya
eksternal yang menarik membran maupun dengan menggunakan tekanan internal apabila
membrannya berbentuk volume tertutup (pneumatic).
Contoh pemberian prategang yang menggunakan gaya eksternal adalah struktur tenda.
Akan tetapi ada pula tenda yang tidak mempunyai permukaan yang benar-benar ditarik oleh
kabel sehingga dapat bergerak apabila dibebani. Sekalipun dapat memikul beban angin
normal, misalnya banyak permukaaan tenda yang dapat bergetar sebagai akibat dari efek
aerodinamika dari angin kencang.

2.1 Tipe Kelengkungan Permukaan Struktur Membran


Berdasarkan bentuk kelengkungannya, struktur membran dibagi menjadi 2 jenis, yaitu
bentuk anticlastic dan synclastic.
a. Anticlastic / negative surface curvature. Bentuk ini memiliki kelengkungan 2 arah
yang berlawanan, sehingga bentuk tenda yang dihasilkan menjadi cekung. Bentuk yang
umum digunakan adalah bentuk hyperbolic paraboloid, kerucut, dan bentuk lengkung.

Gambar 1: Bentuk membran anticlastic, hyperbolic paraboloid dan kerucut.

b. Synclastic / positive surface curvature. Bentuk yang memiliki 2 arah kelengkungan


yang searah, sehingga bentuk yang dihasilkan menjadi cembung.

Gambar 2: Bentuk membran synclastic.


2.2 Tipe Sistem Pengaku Struktur Membran
Berdasarkan sistem pengakunya, struktur membran terbagi menjadi 2, mechanically
prestressed dan pneumatically prestressed.
a. Mechanically prestressed. Dalam tipe ini terdapat tiga konsep bentuk dasar dari
struktur membran, yaitu: Saddle Shapes, Ridge Valley Shapes dan Point-supported Shapes.
Saddle Shapes. Saddle Shapes terbentuk ketika tepian membran terhubung ke poin
pendukung yang tinggi dan rendah secara bergantian. Pada bentuk ini tepian membran berupa
kabel (cable edges). Saddle shapes juga dapat terbentuk ketika salah satu tepian membran
didukung oleh elemen melengkung yang kaku.

Gambar 3: Bentuk dasar saddle shapes.

Ridge and Valley Shapes. Bentuk ini didukung oleh kabel yang disusun secara pararel
atau radial pada puncak dan lembahnya. Kabel puncak ditarik ke bawah oleh membran.
Kabel pada lembah berfungsi sebagai penahan gaya angin. Kabel ini juga dapat diganti
dengan elemen kaku tanpa merubah bentuk geometri dari membran.

Gambar 4: Macam-macam bentuk ridge and valley shapes.

Point supported shapes. Bentuk ini adalah bentuk tenda pada umumnya, memiliki 1
titik puncak, atau dapat juga berbentuk tenda terbalik (memiliki 1 titik rendah). Strategi untuk
mendukung titik puncak dan rendah bervariasi. Titik rendah dapat dihubungkan langsung ke
pondasi. Titik puncak dapat digantung dari tiang-tiang penyangga yang ditempatkan di
tengah, melalui cincin yang ditarik sehingga akan lebih mengakukan membran.
Gambar 5: Struktur membran berbentuk kerucut, tergolong dalam jenis point supported
shapes yang memiliki 1 titik puncak.

b. Pneumatically prestressed. Pada jenis struktur pnemumatik, membran memperoleh


tegangan permukaan melalui tekanan udara, sehingga dapat termasuk ke dalam struktur
membran yang dapat berdiri sendiri. Tetapi pada jenis struktur ini, memungkinkan diberi
penguatan dengan penulangan. Pada Pneumatic, gaya tarik terjadi karena adanya perbedaan
tekanan udara di dalam struktur pneumatic dengan tekanan udara diluar struktur.
Pneumatic Structure dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Air Supported Structure
dan Air-Inflated Structure. Struktur yang ditumpu udara (Air Supported Structure) terdiri atas
satu membran (menutup ruang yang berguna secara fungsional) yang ditumpu oleh perbedaan
tekanan internal kecil. Dengan demikian, volume internal udara dalam gedung ini
mempunyai tekanan lebih besar dari pada tekanan udara biasa.

Gambar 6: Air Supported Structure. (Schodek: 1980).

Struktur yang digelembungkan udara (Air-Inflated Structure) ditumpu oleh kandungan


udara bertekanan yang menggelembungkan elemenelemen gedung. Volume internal udara
gedung tetap sebesar tekanan udara.

Gambar 7: Air-Inflated Structure. (Schodek: 1980).


Namun secara praktik di lapangan, struktur membran dengan pendekatan
pneumatik jarang digunakan karena mudah terjadi kebocoran. Ketika terjadi kebocoran
membran, maka tekanan udara akan menurun, yang menyebabkan struktur atap tidak
berfungsi sebagaimana mestinya.

Kelemahan lain yakni rentannya struktur terhadap terjadinya kebakaran. Bahan


pelapis yang dipakai merupakan bahan yang memiliki titik lebur rendah sehingga mudah
terbakar.

3. Material

Ada beberpa faktor yang harus diperhitungkan dalam memilih material struktur
membran yang akan digunakan, faktor tersebut antara lain: anggaran, jangka waktu,
fungsi bangunan, faktor kebakaran, persyaratan pencahayaan dan estetika.

Terdapat 4 jenis material yang seringdigunakan dalam penerapan struktur


membran pada bangunan bentang lebar modern, yaitu:

a.PVC Coated Polyester. Material ini mudah ditangani dan dilas dengan
menggunakan las frekuensi tinggi. Para insinyur proyek biasanya menentukan jenis
membran setelah melakukan analisis bentuk. Ada beberapa jenis PVC diklasifikasikan
menurut lapisan permukaan, yaitu:

Acrylic - Biasanya digunakan jika kain yang diinginkan berwarna. Jenis


kain ini tidak memiliki kemampuan untuk membersihkan diri dan usia pemakaian yang
lebih pendek dibandingkan dengan PVDF atau PTFE. Akrilik yang dilapis dapat dilas
secara konvensional tanpa perawatan permukaan.

PVDF (Polyvinyl DeneFlouride) - Lapisan ini memiliki sifat yang sangat baik dan
memiliki kemampuan untuk pemakaian jangka panjang. Bahan ini juga memiliki
kemampuan untuk membersihkan diri dan melindungi PVC dan poliester. Tipe kain ini
memiliki kemampuan antiwick. Wicking adalah masalah internal di mana air mengalir
sepanjang garis benang kain menyebabkan perubahan warna dari kain dan memungkinkan
terjadinya delaminasi.

Gambar 8: Membran tipe PVC.


b. PTFE Coated Fiberglass. PTFE (Polytetrafluoroethylene) menawarkan sifat
membersihkan diri yang tinggi, ketahanan api dan masa pemakaian melebihi dua puluh
lima tahun.

PTFE yang dilapisi fiberglass sangat mahal tetapi kompetitif dengan kaca.
Masalah utama dengan PTFE adalah bahwa ia memerlukan penanganan yang sangat hati-
hati selama fase konstruksi.

Instalasi PTFE yang dilapisi fiberglass membutuhkan perawatan lebih banyak dan
detail yang lebih kompleks daripada PVC dilapisi kain poliester. Kain ini tidak dapat dilas
dengan peralatan frekuensi tinggi konvensional tetapi menggunakan besi khusus. Sifat
khusus dari PTFE memungkinkan untuk dilas dan unwelded menggunakan mesin yang sama.
Hal ini memungkinkan panel yang rusak untuk diperbaiki di tempat.

Gambar 9: Membran Tipe PTFE.

c. ETFE (ethylene-tetra-fluoro-ethylene). ETFE membran jenis terdiri dari lapisan


tipis etilena - tetra-fluoro-ethylena. Karena kehalusan nya, membran ETFE jauh lebih
transparan (tranparancy tingkat 90%) dibandingkan dengan jenis membran lainnya
sehingga dalam batas tertentu dapat menggantikan kaca sebagai bahan atap transparan.

Tipe membran ini biasanya tidak digunakan untuk struktur membran


pratarik tetapi lebih digunakan sebagai penutup atap (non- struktural) atau struktur
pneumatic.

d. ePTFE. ePTFE merupakan pengembangan material membran PTFE. ePTFE


ini lebih fleksibel dan memiliki perilaku yang lebih baik dari bahan membran lainnya dan
lebih transparan daripada membran PTFE biasa (tingkat tranparancy 40%). Selain itu,
material ini mungkin untuk didaur ulang sehingga dapat dilirik sebagai bahan dengan
tingkat keberlanjutan yang tinggi.
4. Studi Kasus: DCost Seafood Semarang

Gambar 10 : Tampilan eksterior DCost Seafood Semarang

Lokasi : Jl. Pemuda No.94-96, Kembangsari, Semarang Tengah,


Kota Semarang, Jawa Tengah 50133, Indonesia

Gambar 11: DCost Seafood Semarang terletak di tengah kota

DCost Seafood Semarang merupakan outlet yang ke 56 dari DCost yang telah
hadir di 17 Kota di Indonesia. Rumah makan ini menghadirkan menu makanan terutama
hidangan laut yang segar, hangat dan lezat dengan harga sangat terjangkau.

DCost merupakan bangunan resto seafood yang berlantai dua, lantai satu
merupakan ruang makan yang seluruhnya indoor sedangkan lantai dua terdapat ruang
makan untuk indoor dan outdoor. Bangunan ini menggunakan atap membran yang
berbentuk kerucut.Dengan menggunakan atap membran memberikan bentuk yang sangat
estetis, terlebih keunggulan atap membran dengan bahan PVC yang transparan. Pada
malam hari cahaya dari dalam ruangan akan tembus memancarkan keluar sehingga
menambah keindahan bangunan.
Gambar 12 : Tampilan eksterior DCost Seafood Semarang pada malam hari

Pada lantai dua denah ruang makan outdoor terletak di pinggir-pinggir ruang makan
indoor yang ditengah. Ruang makan indoor pada bagian atas di tutup dengan plafon karena
menggunakan pendingin ruangan. Sedangkan ruang makan outdoor dibiarkan terlihat rangka-
rangka yang penopang struktur membran, yang di sangga dengan kolom-kolom yang
berbahan besi. Keuntungan struktur membran ini juga mudah dibongkar karena tidak
permanen.

Gambar 13 : Kolom-kolom besi pada lantai dua

Ruang indoor lantai dua terdapat kolom yang bebahan beton sebagai penopang tiang
struktur rangka membran yang memberikan bentuk kerucut dan kemudian rangka-rangka di
sambungkan ke kolom besi yang ada di sekelilingnya.

Gambar 14 : Kolom-kolom beton pada latai dua untuk menopang struktur rangka besi di
tengah
Gambar 15 : Tiang stuktur yang berada ditengah

Sambungan pada rangka disambungkan dengan baut dan las yang mudah bila ingin
dibongkar namun tetap kuat dengan perhitungan yang telah ditentukan.

Gambar 16 & 17 : Detail sambungan

Kolom beton pada lantai satu disusun secara grid dengan bentuk kolom yang unik pada
dasar kolom berbentuk kotak biasa namun pada bagian atas yang menopang lantai dua kolom
kotak yang bercabang empat, memberikan struktur yang kuat dan bentuk yang estetis.

Gambar 18 & 19 : Kolom struktur pada lantai satu


5. Kesimpulan

Penggunaan membran sebagai struktur pada bangunan merupakan salah satu


alternatif yang dapat digunakan. Penggunaannya dapat dikondisikan dengan fungsi yang
dinaunginya, sesuai dengan kebutuhan, terutama untuk menciptakan bangunan bentang
lebar tanpa kolom penyangga di tengah-tengah bangunan.

Bentuk-bentuk pengaplikasian struktur membran terbagi menjadi 2, yakni


anticlastic dan syncalstic, namun penggunaan bentuk anticlastic lebih banyak dijumpai
pada bangunan-bangunan jaman sekarang yang menggunakan struktur membran.

Sistem pengaku pada struktur membran

pun terbagi menjadi 2, yakni dengan di-prestressed secara mekanik maupun secara
pneumatik. Namun, sistem pengaku secara pneumatik jarang digunakan karena rentan
terhadap bahaya kebocoran dan kebakaran.

Material yang digunakan sebagai struktur pun bermacam-macam, mulai dari


PVC, PTFE, ETFE, dan ePTFE. Penggunaan PTFE lebih banyak digunakan karena dapat
bertahan lama, sedangkan material seperti ETFE lebih banyak digunakan sebagai penutup
bangunan yang bersifat non-struktural karena sifatnya yang kurang kuat dalam menahan
beban.
Daftar Pustaka

Bechthold, Martin. 2008. Innovatieve Surface Structure: Technology and Applications. New
York: Taylor & Francis.

Scheuermann, Rudi. 1996. Tensile Architecture in the Urban Context. Oxford:


Butterworth Architecture.