Anda di halaman 1dari 21

ORDO DIPTERA DAN ORDO HYMENOPTERA

KLIPING

OLEH :
KELOMPOK 4
WINDI PRATIWI 150301135
ASIMA AGUSTINA SAGALA 150301074
M. ARIF AJBAH 150301017
PARLINDUNGAN TAIHORAN 150301045
HPT A

LABORATORIUM ILMU HAMA TANAMAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2017
ISI

ORDO DIPTERA

Diptera merupakan salah satu ordo serangga yang mempunyai banyak

anggota, terdapat dimana-mana dalam jumlah yang besar. Jenis serangga ini dapat

dengan mudah dibedakan dengan serangga lain karena mereka hanya mempunyai

satu pasang sayap yang bersifat membranus. Sayap belalang sangat kecil,

membentuk suatu embelan kecil yang disebut halter. Alat-alat mulutnya

bervariasi, ada yang bertipe menusuk dan menghisap (piercing-sucking),

memotong dan menyerap (cutting-sponging) dan membasahi dan menyerap

(spoging) serta tanpa palpus labial. Mata majemuk besar, mesotoraks besar, tarsi

bersegmen 5 dan tanpa sersi.

Sebagian besar Diptera mempunyai ukuran tubuh yang kecil dan lembut.

Metamorfosisnya sempurna. Larva pada umumnya tidak mempunyai tungkai.

Anggota dari sub-ordo Nematocera mempunyai kepala yang berkembang dengan

baik dan mandibelnya berbentuk lateral. Pada famili-famili yang lebih tinggi

(modern), yaitu pada sub-ordo Brachycera dan Cyclorrharpa, kepala larva lebih

kecil dan alat-alat mulut bergerak secara vertikal. Bentuk larva ini disebut

manggot. Larva Diptera ini hidup dalam berbagai habitat yang berair atau basah.

A. CIRI-CIRI ORDO DIPTERA

Ciri-ciri Ordo Diptera antara lain adalah :

Bersayap dua ( Sepasang ) tipis

Termasuk dalam devisi Endopterygota

Serangga anggota ordo Diptera meliputi serangga pemakan tumbuhan

Pengisap darah, predator dan parasitoid.


Serangga dewasa hanya memiliki satu pasang sayap di depan, sedang

sayap belakang mereduksi menjadi alat keseimbangan berbentuk gada

dan disebut halter.

Pada kepalanya juga dijumpai adanya antene dan mata facet.

Tipe alat mulut bervariasi, tergantung sub ordonya, tetapi umumnya

memiliki tipe penjilat-pengisap, pengisap, atau pencucuk pengisap.

Pada tipe penjilat pengisap alat mulutnya terdiri dari tiga bagian yaitu :

- bagian pangkal yang berbentuk kerucut disebut rostum

- bagian tengah yang berbentuk silindris disebut haustellum

- bagian ujung yang berupa spon disebut labellum atau oral disc.

Metamorfosenya sempurna (holometabola)

Metamorfosisnya melalui stadia : telur > larva > kepompong >

dewasa.

Larva tidak berkaki

Biasanya hidup di sampah atau sebagai pemakan daging, namun ada pula

yang bertindak sebagai hama, parasitoid dan predator.

Pupa bertipe coartacta.

B. FAMILI-FAMILI PENTING

1) Famili Phoridae

Anggota dari famili ini memiliki ciri sebagai berikut :

Memiliki sekitar 3000 spesies dan tersebar terutama di daerah tropis.

Antena pendek

2 segmen dasar kecil, segmen ketiga globular


Sayap memiliki bentuk segitiga yang sarat dengan vena pada bagian

humeral

Toraks diperbesar, memiliki rambut kasar (bristle), pada bagian

punggung mengembung, tubuh kecil sampai sedang

Kebanyakan phorid adalah serangga skavenger pada bahan-bahan yang

sudah membusuk dan bahan-bahan sayuran.

Sebagian berkembang sebagai predator telur laba-labadan acridida

Berbentuk parasit primer, soliter, endoparasitoid dan sering ada yang

bersifat gregarious.

Banyak parasitoid memarasit pupa dan imago semut, seperti :

Megaselia sembeli

Spesies lain yang memarasit pupa coccinelid serta larva dan pupa

Lepidoptera dan Diptera serta imago lebah.

Megaselia scalaris Apocephalus borealis

2) Famili Agromyzida

Anggota dari famili ini memiliki ciri sebagai berikut :

Memiliki sekitar 1000 spesies yang sudah diuraikan

Bersifat kosmopolit, tetapi sangat bervariasi di daerah paleartik

Femora sering memiliki rambut kasar yang kurang jelas


Abdomen sering tertekan, ovipositor betina sering panjang dan

bersklerotisasi

Kebanyakan larva agromyzid adalah fitofagus dan sebagai penggorok

daun, seperti Liriomyza sativae dan Liriomyza brassicae pada tanaman

sayuran.

Liriomyza sativae Liriomyza brassicae

Semua agromyzid yang bersifat entomofagus adalah parasitoid primer,

soliter atau gregarious endoparasitoid pada nimfa dan imago serangga

sisik

Contohnya : Cryptochaetum iceryae yang memarasit hama sisik Icerya

purchasi pada tanaman jeruk.

Cryptochaetum iceryae
3) Famili Tachnidae (tachinid flies)

Anggota dari famili ini memiliki ciri sebagai berikut :

Memiliki sekitar 12000 spesies, bersifat kosmopolit dan lebih banyak di

daerah tropis

Kebanyakan larva bersifat endoparasit pada endopterygota lain

terutama Lepidoptera dan Coleoptera dan beberapa berguna sebagai

musuh alami

Imago bersifat fitofag, makan nektar

Imago mencari inang dan tempat yang sesuai untuk peletakkan telur

Dapat memarasit banyak jenis serangga dan biasa dipergunakan untuk

pengendalian hayati, diantaranya adalah Argyrophylax fumipennis yang

memarasit hama Artona sp. Pada tanaman kelapa.

Argyrophylax fumipennis

Beberapa spesies mempunyai strategi peletakkan telur dan larva yang

aneh, mereka mempunyai telur mikro yang diletakkan pada dedaunan,

telur tersebut akan menetas jika mereka tertelan oleh inang, kemudian

larva melanjutkan makan organ-organ bagian dalam inangnya.


4) Famili Cecidomyiidae

Anggota dari famili ini memiliki ciri sebagai berikut :

Memiliki sekitar 4500 spesies, tersebar luas dimana-mana

Antena panjang (6-30 segmen) verticulate

Tubuh kecil sampai sangat kecil

Venasi sayap diperkecil menjadi 3-5 vena longitudinal tanpa vena

melintang

Warna tidak mengkilap, abdomen sering berwarna orange, sayap lebar.

Kebanyakan famili ini adalah fitofagus sebagai saprofagus

Bentuk yang entomofagus bersifat predator

Sebagian spesies adalah parasitoid primer, soliter, ekto atau

endoparasitoid yang memarasit kutu daun, Coccidae dan Aleyrodidae.

Dasineura brassicae Contarinia nasturtii

5) Family Syrphidae (flowerflies, hoverflies)

Anggota dari famili ini memiliki ciri sebagai berikut :

Memiliki sekitar 4000 spesies dimana-mana

Larva sebagian besar bersifat predator pada aphid atau kutu tanaman.
Serangga dewasa umum pada bunga, makan nektara, mereka penerbang

yang berpengalaman, untuk menghindari serangan predator beberapa

meniru (mimic) tabuhan atau lebah.

Beberapa spesies memarasit larva Lepidoptera. Ischiodon scutellaris

merupakan predator penting pada hama tanaman.

Ischiodon scutellaris

6) Family Pipunculidae

Anggota dari famili ini memiliki ciri sebagai berikut :

Terdapat sekitar 400 spesies yang sudah diuraikan

Kepala sangat besar, hemisperikal, mata majemuknya sangat besar dan

tersambung satu sama lain

Tubuh berukuran kecil (3-8 mm)

Semua spesies adalah endoparasitoid, primer, soliter dan memarasit

nimfa dan imago Homoptera, terutama cicadelid, fulgorid, membracid

dan cercopid.
7) Family Dolichopodidae

Anggota dari famili ini memiliki ciri sebagai berikut :

Ciri khas famili ini hampir sama dengan Pipunculidae, tetapi bentuk

kepalanya biasa (tidak besar)

Memiliki kaki panjang (lalat dansa)

Biasanya berwarna terang metalik hijau atau kuning

Chrysomya sp. Adalah lalat predator pada serangga kecil, terutama

anggota dari Aleurodidae.

Chrysomya megacephala

8) Family Asilidae (robber flies)

Anggota dari famili ini memiliki ciri sebagai berikut :

Antena lebih pendek dari toraks

Empodium seperti rambut tidak ada

Sayap memiliki 2 atau lebih sel submarginal

Fron di antara mata majemuk berlubang

Memiliki 3 oseli

Palpus jelas dan probosis untuk merusak.


Larva hidup pada tanah dan kayu yang membusuk, sebagian besar

bersifat predator atau saprofag dan hanya sebagian kecil yang bersifat

fitofag

Mereka bersifat predator, dan mengeluarkan enzym proteolitik

Untuk menghindari predator, ada yang mimic (meniru) lebah besar

(bumble bees), dan pada beberapa spesies ada yang mukanya

berjanggut (sensory organ) untuk menghindari kepala dari mangsa.

Psilonyx annulatus Leptogaster flavipes

C. GEJALA SERANGAN APABILA MENJADI HAMA

Daun muda berubah bentuk seperti tabung mirip daun bawang merah

dengan warna putih ungu pada tanaman padi.

Jaringan daun membesar, timbul bisulbisul bulat berwarna hijau, hijau

kecokelatan atau keunguan. Di dalamnya sering terdapat tempayak pada

mangga.

Terdapat bintik-bintik putih dan alur lengkung pada kotiledon, daun

pertama atau daun kedua, akhirnya tanaman layu dan mati pada tanaman

kacang-kacangan, jagung, dan padi.

Terdapat bintik-bintik putih dan alur lengkung pada daun muda. Bila

batang dibelah terdapat bekas gerekan hama berwarna cokelat, tanaman


kerdil. Pucuk tampak layu kemudian mati (2-3 ruas). Bila bagian pucuk

dibelah, terdapat bekas gerekan hama berwarna cokelat pada tanaman

kedelai.

Bentuk buah kurang baik, benjol-benjol, busuk dan mudah rontok; di

dalamnya terdapat tempayak pada tanaman mangga, pisang, pepaya,

jambu biji, jeruk, dan lain-lain

D. TEKNIK PENGENDALIAN

Strategi pengendalian yang diterapkan antara lain kontrol fisik,

kontrol budidaya, kontrol biologi, kontrol perilaku hama, kontrol genetika

dan kontrol kimia serta kombinasi pengendalian yang dikenal dengan

Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT).

Kontrol Fisik

Prinsip dari kontrol fisik adalah menyediakan barrier (penghalang)

antara buah inang dan lalat buah betina yang siap meletakkan telurnya ke

buah inang. Metode yang paling banyak digunakan adalah pembungkusan

buah (fruit wrapping) atau pengantongan buah (fruit bagging) sebelum buah

mencapai tahap kematangan yang menjadi target infestasi lalat buah.

Bungkus atau kantong biasanya terbuat dari kertas koran/surat kabar atau

kertas semen dibuat rangkap. Sekali lagi, menurut Vijaysegaran (1997, Fruit

fly research and development in Tropical Asia) pembungkusan ini ditujukan

untuk mencegah lalat buah betina yang hendak meletakkan telurnya ke buah.

Di Indonesia, teknik ini terbukti cukup ampuh untuk mencegah infestasi lalat

buah betina pada buah belimbing. Metode ini juga sangat ramah lingkungan,

cukup efektif dipakai pada beberapa tanaman seperti mangga, jambu air dan
jambu biji. Bahkan sebenarnya metode ini telah lama dipakai oleh masyarakat

Indonesia dalam melindungi buah di kebunnya dari serangan hama dan

mencegahnya dari tangan usil.

Kontrol Budidaya

Kontrol budidaya mencakup kegiatan produksi di lapang namun tidak

termasuk aplikasi penyemprotan insektisida. Kegiatan produksi di lapang

antara lain (1) meningkatkan kapasitas produksi saat populasi lalat buah

masih rendah; (2) menanam tanaman yang tidak menjadi inang bagi lalat

buah; (3) sanitasi lapang yang teratur; dan (4) memanen lebih awal sebelum

terjadi infestasi lalat buah.

Kontrol Biologi

Termasuk dalam metode ini yaitu penggunaan agen kontrol biologi

seperti preadator dan parasitoid. Penggunaan musuh alami dirasakan mampu

menekan populasi lalat buah secara aman, permanen dan ekonomis. Namun

sayangnya, teknik ini belum digunakan secara luas di Indonesia. Beberapa

predator lalat buah antara lain laba-laba, semut, kumbang carabid, kepik

pengisap atau assassin bugs, kumbang penjelajah atau staphylinid beetles

(misalnya tomcat), lygaeid bugs dll.

Kontrol Perilaku Hama

Kontrol ini mencakup (1) teknik penggunaan warna, bentuk dan

bebauan untuk merangsang atau menarik lalat buah, misalnya dengan

pemasangan perangkap lalat buah yang dilengkapi atraktan berupa Methyl

Eugenol (ME) ataupun Cue-lure; (2) male annihilation, yaitu dimaksudkan

untuk mengurangi populasi lalat buah jantan hingga level terendah sehingga
dapat mencegah lebih banyak perkawinan lalat buah jantan dengan lalat buah

betina. Di Indonesia teknik ini diterapkan melalui pembuatan wooden block

berukuran 5 cm x 5 cm x 1 cm yang direndam dengan campuran methyl

eugenol dan pestisida yang mengandung fipronil dengan perbandingan 4:1;

dan (3) penyemprotan protein bait. Protein bait mengandung campuran

atraktan dan racun yang digunakan untuk membunuh lalat buah betina

sehingga bisa menekan populasi lalat buah secara efektif. Protein bait

berperan sebagai food attractant bagi lalat buah betina yang berguna untuk

mematangkan telur.

Kontrol Genetika

Metode yang dipakai adalah Sterile Insect Release Method (SIRM)

yaitu eradikasi lalat buah dengan membuat jantan mandul dengan teknik

sterilisasi menggunakan Cobalt-60 atau Cesium-137. Jantan yang telah dibuat

mandul tersebut dilepas lalu dipantau perkembangan populasinya. Meskipun

efektif, metode ini sangat mahal dan memerlukan penanganan para ahli.

Metode ini telah diterapkan di Kume Island Okinawa, Jepang dan berhasil

mengeradikasi Melon Fly.

Kontrol Kimia

Pemakaian insektisida semestinya dikurangi mengingat dampaknya

yang sangat berbahaya bagi lingkungan, begitu pula dengan residunya. Oleh

karena itu penggunaan insektisida hanya bersifat darurat dan sementara serta

sesuai rekomendasi berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian mengenai

pestisida.
ORDO HYMENOPTERA

Hymenoptera adalah salah satu ordo biologi serangga, yang antara lain

terdiri atas tawon atau tabuhan, lebah, dan semut. Nama ini merujuk ke sayap

bermembran dari serangga, dan diturunkan dari bahasa Yunani Kuno

(humn): membran dan (pteron): sayap. Sayap belakang terhubung ke

sayap depan oleh sejumlah kait disebut hamuli.

A. CIRI-CIRI ORDO HYMENOPTERA

Ciri-ciri ordo hymenoptera adalah :

Mengalami metamorfosis sempurna.

Tipe alat mulut penggigit atau penggigit-pengisap yang dilengkapi

flabellum sebagai alat pengisapnya.

Metamorfose sempurna (Holometabola) yang melalui stadia : telur->

larva> kepompong > dewasa.

Sayap terdiri dari dua pasang dan membranus. Sayap depan umumnya

lebih besar daripada sayap belakang. Pada kepala dijumpai adanya antene

(sepasang), mata facet dan occelli.

Larva dari ordo ini ada yang hidup di pertanaman atau di dalam tubuh

serangga lain. Imago atau dewasa dari ordo ini hidup di berbagai tempat

seperti di pertanaman, tanah maupun reruntuhan. Beberapa jenis serangga

dalam ordo ini membangun sarang dalam tanah, di pohon ataupun sekitar

rumah.

Jenis serangga yang larvanya menjadi herbivora, induknya akan

meletakkan telur di tanaman, sedangkan pada tipe parasit telur diletakkan


pada tubuh inang. Beberapa jenis juga diketahui meletakkan telur di

sarang.

Pada umumnya serangga dalam ordo ini berperan sebagai predator ataupun

parasitoid, beberapa membantu penyerbukan dan menghasilkan madu.

B. FAMILI-FAMILI PENTING

1) Famili Diapriidae

Panjang tubuh umumnya 2 sampai 4 mm. Antena kurang lebih

menyiku. Ruas skapus memanjang terletak pada bagian seperti lekukan

pada kepala. Sayap depan tanpa stigma tetapi kadang dengan vena

marginal yang menebal. Metasoma dengan petiol yang jelas, tergum ke-

dua metasoma paling panjang. Ovipositor hampir seluruhnya

tersembunyi.

Trichopria keralensis

2) Famili Scelionidae

Panjang tubuh umumnya berkisar antara 1-2,5 mm, biasanya

berwarna hitam, kadang kuning. Antena umumnya mempunyai 9 atau 10

ruas flagelomer. Pada sayap depan, vena submarginal biasanya mencapai

ujung anterior sayap. Terdapat vena stigma dan seringkali mempunyai

vena post marginal. Sayap belakang umumnya dengan vena submarginal


mencapai hamuli. Metasoma umumnya pipih dorsoventral. Tergum ruas

ke-dua atau ke-tiga lebih panjang dari pada ruas lainnya.

Scelionid wasp (parasitoid)

3) Famili Ceraphronidae

Panjang tubuh sekitar 1-3 mm,umumnya berwarna hitam atau

coklat, kadang kuning, orange atau kemerahan. Antena pada betina 7-8

ruas flagelomer, sedangkan jantan 8-9 ruas. Terdapat bentuk makroptera,

brakhiptera, atau hampir tanpa sayap. Bila mempunyai sayap, maka sayap

depan dengan vena stigma yang sempit dan linear, serta pangkal

metasoma lebar. Bagian anterior metasoma bila dilihat dari dorsal

terdapat penyempitan seperti leher.

Paramblynotus vannoorti
4) Famili Encyrtidae

Tubuh dengan pronotum yang terlihat jelas dari arah dorsal.

Mesoscutum biasanya tanpa notauli, namun bila notauli ada maka

berbentuk linear. Aksila hampir lurus dan bertemu di bagian tengah. Sersi

terletak pada ujung anterior metasoma. Pada bagian tergum metasoma

terdapat bentukan seperti huruf M di antara sersi.

5) Famili Eulophidae

Tubuh berwarna metalik atau tidak, biasanya tidak terlalu

tersklerotisasi. Antena dengan 5-10 ruas flagelomer. Antena betina

biasanya dengan funikel 2-4 ruas dan dengan ruas gada tiga atau kurang.

Antena jantan dengan 6 atau kurang ruas flagelomer, seringkali tanpa ruas

gada yang jelas. Skutelum kadang-kadang dengan sepasang garis

submedian yang memanjang. Tarsi dengan empat tarsomer. Mesosoma

dan metasoma dipisahkan dengan penggentingan yang jelas.

6) Famili Eucoilidae

Skutellum pada famili ini mempunyai karakteristik yang khusus,

yaitu berbentuk seperti tetes air mata. Ruas tergum metasoma ke-dua atau

ke-tiga terlihat lebih besar daripada ruas lainnya


Eulophus larvarum

7) Famili Mymaridae

Umumnya panjang tubuh kurang dari 1,5 mm. Letak antena lebih

dekat pada mata dari pada antara antena. Betina mempunyai antena

menggada yang jelas, antena jantan tidak menggada. Terdapat garis

seperti huruf H pada kepala bagian verteks. Pangkal sayap belakang

biasanya berbentuk seperti tangkai dengan membran pada bagian apikal

sayap. Taji pada tibia depan relatif panjang dan melengkung. Tarsi

dengan 4 atau 5 tarsomer

Stephanodes similis
8) Famili Braconidae

Venasi 2m-cu pada sayap depan tidak ada. Terdapat vena 1/Rs+M

pada sayap depan. Venasi 1r-m pada sayap belakang biasanya terpisah

menjadi R1 dan Rs. Metasoma tergum ruas ke-dua bersatu dengan tergum

ruas ke-tiga.

Atanycolus sp

9) Famili Trichogrammatidae

Ukuran tubuh umumnya 1 mm atau kurang dan kurang

tersklerotisasi. Tubuh tidak metalik. Antena lebih pendek dari pada

panjang kepala dan metasoma, mempunyai 3-7 ruas flagelomer, ruas gada

1-3 flagelomer. Sayap depan bervariasi dari lebar sampai sempit.

Sebagian seta sayap sering membentuk barisan. Tarsi dengan tiga ruas

tarsomer. Metasoma menempel pada mesosoma tanpa ada penggentingan.

Trichogramma sp.
C. PERANAN ORDO HYMENOPTERA

Ordo serangga yang mempunyai kemampuan sebagai parasitoid

adalah Ordo Hymenoptera dan Diptera (Godfray 1994). Baru-baru ini

serangga dari Ordo Lepidoptera pun ada yang bersifat sebagai parasitoid

(Buchori, Komunikasi pribadi 2009). Penggunaan parasitoid dalam proses

bercocok tanam dan pada aplikasi pengendalian hama terpadu sangat penting.

Penggunaan parasitoid sebagai musuh alami dilakukan untuk menekan

pengendalian hama secara kimiawi, yang menimbulkan banyak kerugian

seperti residu pestisida (Godfray 1994).

Menurut Greathead (1987 dalam La Salle 1993), parasitoid mampu

bertahan dua kali lipat dari predator dan lebih efektif pada rasio populasi yang

sama. Sebanyak 393 spesies parasitoid telah dijadikan sebagai agens

pengendali hayati, dan diantaranya sebanyak 343 spesies (87%) telah berhasil

mengendalikan dan menurunkan populasi hama. Parasitoid merupakan agens

pengendali hayati yang sangat potensial, yang mempunyai keunggulan

dibandingkan teknik pengendalian dan musuh alami jenis lainnya. Parasitoid

mampu menyerang inang secara spesifik, berukuran kecil, jumlah populasi di

lapang yang melimpah, dan mampu menekan populasi serangga hama secara

signifikan (Godfray 1994).


REFERENSI

http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/27605/7/Bab%20II%20Tinp

us%20A10tap-4.pdf

https://jhr.pensoft.net/article/8546/

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_diapriid_genera

http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/27605/6/Bab%20I%20Penda

huluan%20A10tap-3.pdf

https://id.wikipedia.org/wiki/Hymenoptera